Season 3 Chapter 4: Penuduhan

DISCLAIMER: No one... literally no one

Arka's POV
Aku bangun, lalu melakukan kegiatan pagi rutin seperti biasa.
Tunggu, eh kenapa perlu dimasukkan juga sih bagian itu? Penting bangetkah? Dasar narator..
Gofar: Setelah banyak tragedi, sekarang kita mau ngapain lagi nih?
Arka: Entahlah, aku tidak yakin kita akan keluar lagi.
Drogba: Gimana sih? Kan kamu yang mau jalan-jalan kesini. Masa gak ada rencana sih?
Oh iya, kan mereka masih belum tau tujuan utamaku kesini. Tapi mereka masih gak boleh tau alasanku kesini.
Arka: Aku juga mau jalan-jalan disini. Tapi setelah kejadian-kejadian kemarin, aku jadi agak trauma untuk menjalankan itu.
Gofar: Selama kita bersama, kita pasti akan aman-aman saja.
Raras: Lagian kalau kita pandang satu sama lain, tidak akan ada yang mengkhianati lagi.
Naya: Tapi sepertinya yang dikatakan Arka benar. Sebaiknya kita bertahan dulu. Setidaknya hari ini saja. Mungkin masih ada dendam dibalik ketua penculik yang kalah kemarin. Dan itu bisa memperparah kondisi.
Raras: Hmm.. benar juga sih.
Drogba: Tapi kita juga harus ada hiburan disini.
(Tes/Masak/Nobar)
Arka: Bagaimana kalau kita nobar film? Kan kita ada tv disini.
Gofar: Bagus juga idemu.
Raras: Mau nonton film apa?
(Romantis/Horor/Action)
Arka: Gimana kalau kita pacu adrenalin lagi, kita nonton film horor.
Naya: Film horor? Ya, aku setuju.
Gofar: Aku tak takut dengan film horor. Tapi itu kurang menantang bagiku.
Drogba: Ya, itu benar.
Raras: Kalau kamu mah karena takut.
Drogba: Eh, bukan. Aku berani kok.
Arka: Kalau kita nonton action tambah kejadian kemarin, bisa-bisa kita pingsan.
Raras: Pingsan? Kenapa?
Arka: Kalau nonton film action nanti malah kebayang kejadian kemarin, malah jadi makin buruk nanti.
Raras: Bener juga sih. Lagian aku juga gak suka film action. Ya sudah.
Gofar: Bagus juga jalan tengahnya, baiklah.
Arka: Kalau kamu bagaimana, Drogba?
Drogba: Eng..
Raras: Kau takut?
Drogba: Gak lah. Ayo!
Kami semua setuju menonton film horor. Sebenarnya tujuanku memilih ini, karena aku tau Naya suka film horor. Aku ingin membuatnya bahagia. Aku harus bisa balikan sama Naya.
Film sedang berlangsung..
Aku dan Gofar tampak biasa saja.
Tapi yang lain mulai terlihat berubah.
Diam-diam Naya memegang erat lenganku. Aku gak tau dia takut atau sengaja. Tapi biarlah.
Beberapa waktu kemudian tiba-tiba jumpscare muncul. Naya langsung mengencangkan pegangannya.
Raras terlihat menutup matanya sambil mengalihkan pemandangannya.
Drogba: Aaaah!
Gofar: Kenapa, Drog?
Drogba: Eng.. Gapapa.
Arka: Kamu takut ya?
Drogba: Coba liat yang lain, bahkan Naya sampai pegang tanganmu. Bukan cuman aku yang takut, Arka.
Naya langsung melepas pegangannya sambil tersipu malu.
Gofar: Tapi kamu sebagai lelaki masa sama kaya perempuan?
Arka: Kami aja berani. Masa kamu takut?
Drogba: Aku gak takut. Aku cuman buat yang lain biar takut hahaha.
Aku menggelengkan kepala. Aku tau dia bohong. Tapi aku tak mau mengganggu suasana. Kami kembali fokus kedalam film.
Suasananya memang semakin horor, Naya juga kembali memegang erat tanganku. Tapi menurutku, ini tidak ada apa-apanya dengan ketakutan hidupku.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba hpku berdering. Aku langsung menjauhkan diri.
Setelah kulihat, ternyata berasal dari pak Inspektur. Aku langsung jauh-jauh dari mereka, agar tidak dapat terdengar.
Arka: Ada apa, pak?
Inspektur: Kau ingat kejadian kemarin malam?
Arka: Ya pasti ingat lah pak. Memangnya kenapa?
Inspektur: Kamu pasti juga curiga kalau dibalik itu semua adalah Genta.
Arka: Iya, pak. Tapi, juga? Berarti bapak curiga juga?
Inspektur: Ya, oleh karena itu bapak menelponmu. Bapak telah menyelidiki semua yang terjadi disana. Dan benar saja, Genta lah dibalik semua ini.
Arka: Apa? Jadi benar firasat kita?
Inspektur: Ya, bukti itu sudah digabungkan dengan bukti yang kita kumpulkan kemarin.
Arka: Jadi, bapak mau apa menelpon saya?
Inspektur: Kemarin Genta tidak ada disana. Kalau dia memang tak ada rencana lain, pasti dia juga ikut berpura-pura ditangkap penculik. Tapi dia tidak ada. Dia tak mungkin sebodoh itu, kalau memang tak ada, dia pasti sedang melakukan sesuatu saat itu.
Inspektur: Jadi kau harus berhati-hati sekarang. Dia mungkin akan melakukan sesuatu yang buruk lagi sebentar lagi.
Arka: Baiklah, pak. Aku akan jaga diri disini.
Telpon terputus.
Setiap pak Inspektur berfirasat, kebanyakan pasti benar, entah bagaimana caranya (Karena authornya baik hati). Aku harus berhati-hati.
Aku kembali ke ruang tamu, tampaknya filmnya di pause.
Arka: Apakah aku ketinggalan sesuatu?
Gofar: Aku sengaja menghentikannya. Aku tak sanggup dengan keadaannya.
Arka: Apa? Kau takut?
Naya: Yakin kau berpikir seperti itu, Arka?
Mereka semua tampak tertawa, kecuali Drogba dan Raras. Mereka terlihat malu. Apa yang terjadi selama aku tidak ada?
Arka: Sepertinya ada sesuatu yang lucu, apa itu?
Gofar: Jadi tadi ada jumpscare terus..
Drogba: Diam, Gofar.
Sepertinya aku tau apa masalahnya. Ini pasti melibatkan Raras. Mungkin setelah jumpscare..
Arka: Terus Drogba reflek memeluk Raras?
Gofar: Tepat sekali.
Drogba: Ah, jangan bicara seperti itu.
Arka: Sudahlah, tidak apa-apa. Wajar saja, itu reflek. Kan kamu juga pernah reflek tutupin mata Raras dulu.
Drogba makin terlihat malu.
Arka: Sudahlah, ayo kita lanjut nonton..
*BRUK BRUK BRUK*
Gofar: Suara menggedor siapa itu?
Aku langsung membuka pintu depan.
Setelah itu tiba-tiba seseorang yang katanya mencari ketenangan bagaikan awan itu langsung berubah menjadi singa ganas. Dia langsung mencekikku.
Genta: Berani sekali kau, Arka?
Gofar: Ada apa ini?
Genta: Kalian tidak sadar tentang sesuatu?
Gofar: Apa itu?
Naya: Dan kenapa kau mencekik Arka?
Genta: Aku sangat beralasan melakukan itu, Nay. Dialah dalang dibalik penculikan kalian kemarin!
Apa?! Fitnah apa lagi ini?
Drogba: Kenapa jadi begitu?
Naya: Kau tidak boleh menyalahkan orang hanya karena dia sempat bersalah.
Hah?! Naya... aku pasti akan mengembalikan semuanya seperti semula. Aku berjanji.
Raras: Dan dimana kau kemarin? Arka lah yang menolong kami.
Genta: Aku datang bukan hanya dengan firasat. Aku punya bukti.
Genta langsung menunjukkan hpnya. Terlihat video aku sedang berbicara dengan penculik-penculik.
Arka: Kalian ingat tugas kalian?
Penculik 1: Tentu. Tugas kami adalah menangkap mereka.
Arka: Ya, bagus. Sekarang aku pergi dulu.
Rekaman terhenti. Bagaimana bisa ada rekaman palsu seperti itu?
Naya: Arka, apakah kau melakukan ini lagi? 2 kejahatan pada hari yang sama?
(Bantah/Biar/Diam)
Arka: Tidak, itu tidak...
Gofar: Diam!
Semua terlihat tertunduk kecewa kecuali Genta. Dia memasang ekspresi marah. Dasar pendusta!
(Jelaskan/Biar/Diam)
Tapi apapun yang terjadi, mereka tak boleh tau rencanaku sebenarnya. Aku harus berkorban demi kerahasiaan ini. Mengapa jadi aku selalu disalahkan? Padahal ini baru 2 hari kami berjumpa dengan Genta lagi, tapi semuanya sudah berputar hampir 180 derajat, hampir.
Aku mencoba menghayati fitnah ini, mencoba seakan aku yang bersalah.
Aku berhasil mengeluarkan tetesan air mata.
Arka: Ya benar, aku melakukan itu.
Genta berubah ekspresi menjadi terkejut.
Arka: Tapi.. sebenarnya semua itu.. hanya kulakukan.. agar aku bisa..
Aku semakin meneteskan air mata. Aku harus bisa membayangkan ini. Demi semuanya!
Arka: ..kembali bersama kalian lagi.
Semuanya menatapku.
Arka: Aku tau kejadian 2 hari yang lalu sangat menyedihkan. Aku sangat menyesal akan kejadian itu. Bagaimana aku bisa bertindak sebodoh itu.
Arka: Aku tak tau harus berbuat apa. Yang kuharapkan saat itu hanyalah.. kesempatan kedua.
Semuanya mulai memasang ekspresi yang berbeda. Mereka saling menatap.
Tiba-tiba Genta memelukku.
Genta: Aku bangga denganmu.
Dia bangga denganku?! Kenapa aku merasa ada makna tersirat dibalik katanya itu ya?
Semuanya memasang ekspresi senyum terharu.
Gofar: Ternyata begitu alasannya. Pantesan kau mengajak kami nonton film. Apakah itu untuk mengeratkan persahabatan?
Aku mengangguk.
Naya: Aku sangat senang mendengarnya. Tapi kenapa harus dengan cara begitu kamu kembali?
Raras: Ya, harusnya kamu langsung bilang kepada kami aja.
Arka: Saat itu pikiranku sangat hancur. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi.
Raras: Sampai melibatkan polisi?
Gofar: Kalau begitu, bagaimana nasib para penculik bohongan yang kau penjarakan itu?
Apa? Dia berpikir sampai kesana? Niat bohong kok jadi dipergok kaya gini ya?
(Biar/Bebas/Jujur)
Arka: Tentang itu, semuanya sudah kubebaskan. Aku sudah memohon kepada polisi untuk memberikan kesempatan kedua kepada mereka.
Raras: Apakah polisi langsung menuruti permintaanmu?
Arka: Tentu. Apalagi karena aku yang berhasil menumbangkan mereka pada bagian akhir. Maka aku juga berhak mengurus kelanjutan mereka.
Genta: Cerdik juga kau, Arka.
Drogba: Kau bisa mengembalikan semuanya tanpa merugikan korban lain.
Gofar: Itu mengingatkanku pada momen drama saat kita mau UN dulu.
Genta tampak menjauhkan wajahnya dari Gofar.
Gofar: Tapi kenapa harus sampai kami luka sih?!
Drogba: Iya, sakit tau.
Arka: Aku tak ada memerintahkan mereka melukai kalian. Aku hanya minta mereka menangkap kalian.
Arka: Mungkin kalian terlalu agresif melawan mereka. Akhirnya mereka tak sengaja melukai kalian.
Genta: Tapi kenapa kau tidak memerintahkan mereka menangkapku?
Karena kau dalangnya, Genta.
Arka: Aku bahkan tidak tau rumahmu dimana. Aku hanya tau rumah Linka.
Genta: Oh iya ya. Kalian kan masih gak tau rumahku dimana. Bagaimana kalau kalian semua main kerumahku.
Drogba: Boleh juga. Kami memang lagi gak ngapa-ngapain.
Genta: Ya sudah, ayo!
Arka: Tapi bagaimana kalau besok saja, sepertinya kami masih kelelahan akibat skenario kemarin.
Raras: Iya sih, aku juga masih agak lelah.
Gofar: Tapi kan..
Genta: Ya sudah, bagaimana kalau besok saja?
Arka: Itu ide bagus.
Naya: Ya, nanti kamu datang kesini aja lagi besok.
Genta: Siap, besok aku datang lagi ya.
Drogba: Ya sudah.
Genta: Aku pergi dulu ya.
Genta meninggalkan kami. Kenapa aku merasakan akan ada hal buruk di rumah Genta nanti ya? Entahlah.

CHAPTER SELESAI

Author's Note: Sorry ya update nya terlambat satu hari, soalnya akhir-akhir ini sibuk banget, sampe-sampe kelupaan mengupdate fanfiction ini... kok kaya familiar ya? Anyway, chapter selanjutnya bakalan dirilis bulan ini juga loh! Mau tau kapan? Follow fanfic ini supaya dapat notifikasinya kalau aku update ya hehehe.