Season 3 Chapter 5: Deja Vu

DISCLAIMER: -

Tiba-tiba, aku merasakan ada guncangan di seluruh tubuhku. Apakah ada gempa?
Arka: Tidaaak!
Naya: Astaga. Ada apa, Arka.
Arka: Apakah ada gempa tadi?
Naya: Eng.. itu..
Naya menunjuk kepada 2 orang lelaki yang kukenal.
Drogba: Sorry, Arka. Sepertinya kami mendorong-dorongmu terlalu keras.
Gofar: Lagian kamu gak bangun-bangun sih.
Raras: Kebiasaan tiap hari ini mah.
Arka: Kenapa sih kalian?
Gofar: Hei bocah malas, lihat udah jam berapa tuh.
Aku melihat jam di kamar. Hari menunjukkan pukul 9 pagi.
Arka: Jam 9, memangnya kenapa?
Naya: Apa kamu lupa? Hari ini kan kita mau ke rumah Genta. Dia mungkin datang sebentar lagi.
Arka: Oh iya, aku lupa.
Raras: Udah cepet sono mandi dulu. Siap-siap.
Arka: Kalian sudah beres?
Gofar: Sudah 1 jam yang lalu.
Arka: Waduh.
Aku langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap. Tapi aku merasa ada hal yang mengganjal di pikiranku.
(Biar/Telpon Inspektur/Tak jadi pergi)
Aku harus menelpon pak Inspektur. Aku langsung mengambil hpku yang kebetulan masih ada di kantong celanaku. Aku langsung menelpon pak Inspektur. Aku berusaha mengecilkan suaranya.
Arka: Halo, pak.
Inspektur: Ada apa, Arka?
Arka: Hari ini Genta mengajak kami kerumahnya. Bagaimana pak?
Inspektur: Apakah ada tragedi lagi sebelum ini?
Arka: Tragedi tidak ada, tapi fitnah ada.
Inspektur: Fitnah lagi, apa itu?
Arka: Kemarin dia tiba-tiba menunjukkan rekaman palsu tentang aku membicarakan rencana penangkapan kemarin dengan para penjahatnya. Tapi untungnya bisa diselesaikan dengan cara damai.
Inspektur: Cara damai? Gimana?
Arka: Aku pura-pura mengakui kesalahan dan dengan alasan ingin bersama mereka. Dan untungnya itu berhasil.
Inspektur: Hmm.. aku kagum kepadamu. Kamu mau berkorban agar semua rencana kita tidak ketahuan. Kondisipun menjadi normal. Masalah hari ini, kau berkumpul saja dengan yang lain. Jadi tidak akan ada fitnah lagi disana. Tidak mungkin Genta membuat fitnah tentang rekaman yang menunjukkan kamu sedang apa-apa kalau kamu sedang bersama.
Arka: Ide yang bagus, pak.
Inspektur: Dan usahakan dapatkan hp Linka dan cari informasi disana.
Arka: Siap gerak, pak.
Telpon terputus.
Setelah itu aku langsung gerak cepat siap-siap.
Gofar: Lama bener kau mandi. Kau mandi atau tidur sih?
Arka: Tidur.
Drogba: SAHUURRRR! SAHUURRRR! SAHUURRRR! SAHUURRRR!
Arka: Woi woi woi, ini bukan bulan Puasa woi!
Gofar: Ya cepet dong.
Arka: Iya, sabar.
Tak lama setelah aku selesai siap-siap, terdengar ketukan pintu. Tidak menggedor seperti kemarin.
Setelah dibukakan pintunya, ternyata Linka juga ada.
Linka: Hai semuanya.
Naya: Hai, Linka.
Genta: Apakah kalian sudah siap?
Drogba: Pasti lah.
Genta: Ya sudah, ayo masuk mobilku.
Kami langsung keluar menuju rumah Genta. Ingat, aku harus tetap hati-hati dengan serigala berbulu domba ini.
Sekitar 15 menit perjalanan kami sampai.
Gofar: Ternyata rumahmu dekat saja dengan rumah Linka?
Genta: Ya. Betul sekali.
Arka: Tau gitu kau juga akan kutangkap.
Kami tertawa kecuali Linka.
Linka: Ditangkap? Maksudnya apa?
Arka: Genta belum menjelaskan kepadamu?
Linka menggelengkan kepalanya.
Genta: Masalah itu, ayo kita masuk dulu. Kita bicara didalam sana.
Kami masuk rumah Genta.
Hmm.. rumahnya tidak segede yang kukira ya. Kami langsung dihadapkan ke ruang tamu.
Genta: Silahkan duduk.
Drogba: Ini rumahmu?
Genta: Ya.
Drogba: Aku kira kau punya rumah yang sangat besar untuk ditunjukkan kepada kami.
Genta: Masalah itu, jangan pikir aku tidak ada uang. Lebih baik uangnya dipakai untuk yang lain. Kan sama-sama buat tinggal juga.
Arka: Benar kata Genta itu, rumah gede atau rumah kecil sama aja buat berteduh. Jadi lebih baik hemat.
Linka: Jadi apa yang terjadi kemarin?
Genta mulai menjelaskan secara lengkap apa yang terjadi kemarin.
(Diam/Ngobrol/Eksplor)
Meskipun aku agak bosan diam disini, tapi aku harus ingat. Aku gak boleh keliaran kalau gak mau ada masalah.
Genta: Oh, yang lain kalau mau lihat-lihat boleh.
Drogba dan Raras mulai mengeksplor rumah Genta. Untungnya tidak semuanya terprovokasi oleh pendusta ini. Kalau semuanya berpencar, bisa bahaya nasibku.
Genta: Kalian tidak ingin melihat-lihat.
Gofar: Tidak, kami ingin santai disini saja.
Arka: Ya, lagian ini rumah pasti ada WC nya juga kan. Sama aja.
Kami tertawa kecil.
Genta: Kau tak ingin menemani Raras, Nay?
Naya: Eng.. benar juga itu.
Naya pergi menyusul Raras yang arahnya keluar. Drogba pergi kearah dapur. Bagaimana ini, apakah Naya aman?
Arka: Drogba kedapur ngapain ya?
Drogba: *nyam nyam nyam*
Gofar: Woi, Drog! Kau ngambil makanan ya?
Drogba: *Uhuk uhuk*
Drogba: Engga kok.
Arka: Ketahuan bunyi ngunyahnya.
Drogba: Eng..
Genta: Udah, biar aja. Gapapa kok.
Gofar: Serius?
Genta: Ya.
Gofar: Aduh, aku kebelet, WC dimana?
Genta: WC ada didekat dapur.
Gofar langsung pergi dari ruang tamu. Dia mau ke WC atau mau ke dapur ya? Entahlah.
(Diam/Dapur/Keluar)
Aku tidak bisa dibodohi. Aku harus berkumpul dengan yang lain. Aku akan keluar, karena disana lebih banyak orang.
Arka: Aku mau eksplor juga ya?
Genta: Oh, silahkan.
Didepan pintu, aku mendengar sesuatu.
Genta: Bagaimana ini?
Aku langsung cepet-cepet rekam perkataannya.
Genta: Bagaimana kita bisa membuat fitnah lagi tentangnya. Dia selalu berkumpul bersama yang lain.
Linka: Kita ulur waktu, biar mereka lama-lama disini. Jadi saat waktunya tepat, kita jadikan pendukung fitnah ini.
Cut! Ini akan menjadi tambahan bukti.
Naya: Kau sedang nguping ya?
Aku langsung terjatuh ke...
(Depan/Kiri/Belakang/Kanan)
Depan ketahuan, belakang ketabrak, kanan tembok...
...kiri. Aku tidak boleh sampai ketahuan Genta.
Arka: Ini kedua kalinya kamu menjatuhkanku, Nay.
Naya: Hehehe. Memangnya kamu lagi ngapain?
Raras: Iya, kayanya fokus banget.
Arka: Aku cuman pasang sendal doang kok. Baru aja mau nyusul kalian.
Naya: Tapi kami udah mau masuk lagi.
Arka: Ya sudah ayo masuk lagi.
Raras: Loh, gak jadi keluar?
Arka: Aku cuman gak mau sendirian.
Raras: Ciee.. mau ditemenin Naya ya?
Naya: Ih kamu ini, Ras. Bisa aja.
Arka: Eh, bukan. Maksudnya mau ada teman ngobrol. Kan Genta dan Linka udah sibuk. Drogba makan, Gofar lagi ke WC. Jadi sisanya tinggal kalian.
Naya: Drogba lagi makan?
Raras: Pantesan dia kedapur.
Arka: Kalian mau kemana lagi?
Naya: Kami mau lihat-lihat yang lain.
Arka: Ya sudah, aku ikut.
Raras: Kalau liat WC ikut?
Arka: Iii.. Enggak lah.
Raras: Ya udah sono, temenin Drogba aja makan. Ngapain ikutin kami terus.
Arka: Kalian beneran mau cek WC memangnya?
Raras: Enggak sih. Tapi..
Naya: Terserah dia lah, Ras.
Raras: Ya sudah, kau mau APA?
(Drogba/Naya & Raras/Ruang Tamu)
Arka: Aku ikut kalian aja. Lebih banyak orangnya lebih baik.
Raras: Terserahmu lah. Aneh-aneh mu juga.
Perasaan Raras aneh juga deh.
Di ruang tamu terlihat Raras dan Drogba sudah kembali duduk.
Genta: Nah, pas sekali kalian datang.
Kami kembali duduk.
FLASHBACK START
Naya's POV
Naya: Hai, Ras!
Raras: Oh, hai, Nay! Ada apa kamu kesini?
Naya: Nyari udara segar kaya kamu juga.
Setelah berdiri sebentar di halaman itu, menikmati pemandangan hijau, Raras mulai bicara.
Raras: Apa pendapatmu tentang sikap Arka sekarang?
Naya: Kenapa kamu bertanya seperti itu, Ras?
Raras: Kamu tau kan, dulu Arka sama sekali tidak seperti ini.
Naya: Ya, dulu dia selalu kerja keras dan membantu. Bahkan ketika dia tersakiti, dia tetap memaafkan temannya. Bahkan aku dulu tidak bisa mengajarinya, dia tetap belajar sungguh-sungguh. Bahkan dia juga memaafkan Genta yang sering bersalah kepadanya.
Naya: Tapi sekarang, tanpa transisi atau gejala apa-apa, tiba-tiba dia berubah drastis. Dia yang dulu setia, bisa-bisanya mengkhianatiku. Dia yang tidak bisa menyakiti temannya, berencana mengurung kita. Dan anehnya, hanya berselang 1 hari, sikapnya kembali normal.
Naya: Aku merasakan, seperti ada sesuatu yang mengendalikannya saat itu, bahkan hatiku saja tidak dapat menerima dia berbuat jahat kepadaku. Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin Arka bisa bertindak seperti itu, kan?
Raras: Ya, itu benar.
Naya: Bahkan ketika aku marah kepadanya, dia pasti selalu melakukan apapun agar dapat berbicara lagi denganku.
Dia tidak bersalah, Nay.
Itu yang selalu aku dengar di dalam pikiranku. Mengapa? Mengapa semua hal aneh ini bisa terjadi. Aku merasa berada di dalam dunia versi Nightmare. Dimana semuanya serba salah. Dimana semuanya serba menjadi jahat. Tapi disisi lain, aku masih bisa merasakan kehangatan yang berada dalam jiwa Arka. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, tapi aku tidak mengetahuinya.
Raras: Kau mau bahas ini di ruangan lain?
Naya: Boleh juga.
Kami berdua masuk kedalam saat melihat Arka. Dia tidak boleh tau tentang pembicaraan ini. Mungkin karena itu Raras mencoba menjauhkannya.
FLASHBACK END
Arka's POV
Genta: Apakah kalian sudah sarapan tadi?
Arka: Eng.. Drogba aja yang sudah.
Drogba: Apa? Aku juga belum.
Gofar: Yang kamu makan tadi itu apa?
Drogba: Itu snack tambahan.
Kami menggelangkan kepala.
Genta: Ya sudah, kebetulan aku dan Linka juga belum sarapan. Jadi, ayo kita pergi ke kafeku.
Drogba: Ayo!
Kami tertawa.
Kejadian terulang, lagu yang disetel Genta selalu bergenre romantis. Apakah lagu ini sebenarnya untuk Naya?
Aku mulai curiga, apakah dia terus menyerangku agar bisa mendapatkan Naya lagi? Atau untuk balas dendam atas kegagalannya dulu? Entahlah.
Sekitar 30 menit perjalanan, kami sampai di kafe Genta.
Kami masuk dan Genta memesan makanan dan minuman untuk kami.
Tak lama menunggu, makanan sampai.
Drogba: Selamat makan!
Gofar: Pikiranmu makan mulu.
Raras: Padahal tadi kan kamu yang sudah ada makan.
Drogba: Ya kan aku lapar.
Arka: Perutmu akan selalu lapar, Drog.
Kami tertawa, kecuali Drogba.
Drogba: Aku juga pernah kenyang tau.
Arka: Iya, iya. Ayo dimakan.
Yang lain mulai menyantap hidangannya masing-masing. Tapi seingatku sebelum waktu kejadian waktu itu, ada tambahan obat BAK di salah satu diantara ini. Jadi bagaimana?
(Semua/Makan/Minum/Tidak)
Aku mungkin makan saja. Obat itu pasti dilarutkan didalam minuman. Dan kebetulan aku membawa air minum.
Genta: Kenapa kau tak minum itu, Arka?
Arka: Aku lagi hanya ingin air putih saja.
Genta: Oh, kalau begitu akan aku siapkan.
Arka: Tak perlu repot, lagian aku sudah ada air minum sendiri.
Genta: Hmm.. baiklah kalau kau memaksa.
Aku tau dia memaksaku. Tapi aku tak akan tertarik lagi.
Setelah beberapa waktu dia menunggu pancingannya ditangkap namun tak ada reaksi, aku bisa melihat wajah Genta bercampur antara kesal, kecewa, dan pasrah. Rencanaku berhasil.
Genta: Oh ya. Kalian kapan pulang dari pulau ini?
Gofar: Hari minggu.
Genta: Oh ya? Ini kan sudah hari Kamis. Berarti 3 hari lagi ya?
Arka: Ya benar.
Genta: Padahal aku ingin lebih lama bersama kalian.
Berlama-lama ingin membunuh maksudmu? Dasar pendusta!
Raras: Tapi kan masih ada 2 hari buat senang-senang.
Genta: Hari Sabtu aku ada urusan yang sangat penting. Jadi tinggal besok saja lagi.
Urusan penting? Sepertinya dugaanku dan pak Inspektur benar. Genta ikut lomba itu juga. Ini bahaya.
Drogba: Oh, jadi begitu.
Genta: Hmm.. bagaimana kalau besok sebagai jalan-jalan terakhir kita, kita ke tempat hiburan?
Drogba: Nah, ini jalan-jalan yang kutunggu.
Kami tertawa.
Genta: Ya sudah, nanti akan kujemput kalian besok pagi.
Raras: Oke.
Setelah selesai makan, kami langsung diantar pulang. Apakah besok akan menjadi hari yang baik atau buruk?

CHAPTER SELESAI

Author's Note: (Wow, you uploaded this on my birth-) Ssh... (What?) We can talk about that later, I'm busy right now, hsdjhdajsshf. (Hmph. Fine.) Anyway, tinggal 4 chapter aja nih... uploadnya makin cepet, jadi pastikan kalian follow ya! Dadah!