Season 3 Chapter 9 Finale: Kebenaran

DISCLAIMER: Udah ready, belum? (No!) Tapi kan ini ceritanya udah mau selesai? (Ok, next chapter)

Inspektur: Pertama kita harus cari tempat CCTV dulu.
Arka: Sudah saya duga. Saya sudah menemukan tempatnya.
Inspektur: Oh ya, bagus. Ayo kita kesana, kita harus cepat.
Aku dan pak Inspektur langsung berlari kearah kearah ruangan CCTV.
Pak Inspektur langsung membuka pintu ruangan itu.
Satpam: Aaaah! Tolong!
Inspektur: Tidak, tidak. Kami ini bukan hantu.
Satpam: Ugh.. kalian mengejutkanku saja. Siapa kalian? Ada apa masuk sini?
Satpam itu langsung melihat pak Inspektur.
Satpam: Pa-pa-pa-pak Inspektur?! Maaf pak. Saya terlalu lancang kepada bapak.
Inspektur: Tidak perlu minta maaf.
Satpam: Bapak ada urusan apa kesini?
Inspektur: Pertama saya mau nanya. Saat lomba melukis dilaksanakan, apakah anda sedang menjaga disini?
Satpam: Eng.. Eng..
Inspektur: Tidak apa-apa, kami tidak akan marah jika kau jujur kepada kami.
Satpam: Eng.. Enggak pak. Saya lagi makan siang saat itu.
Inspektur: Dugaanku benar. Sekarang apakah saya bisa ambil alih sebentar ruangan ini?
Satpam: Oh, silahkan pak.
Pak Satpam itu langsung kucar-kacir keluar ruangan.
Inspektur: Kalau dugaanku benar, saat tidak ada yang menjaga inilah Genta berbuat suatu kejahatan. Kita harus menyelidikinya.
Kami langsung membuka rekaman CCTV setelah lomba. Terlihat Genta sedang keluar ruangan. Awalnya memang tak ada yang salah.
Tapi tepat dititik kami bertemu, saat itu Genta malah masuk keruangan bertuliskan "Ruangan Juri".
Arka: Apa yang dia lakukan disana?
Inspektur: Kita lihat saja kelanjutannya.
Terlihat juri-juri disana yang sedang menilai, kaget dengan kedatangan Genta.
Juri 1: Hei, anak muda. Kenapa kau masuk sini. Ini ruangan khusus juri. Cepat keluar.
Genta: Tenang dulu, aku hanya ingin berbicara singkat dengan kalian.
Juri 1: Apa itu?
Genta: Aku hanya minta dikabulkan 1 permintaan. Menangkan aku dalam lomba ini.
Juri 2: Apa? Berani-beraninya kau. Akan kulaporkan dengan panitia.
Genta: Apakah kalian yakin? Lihat ini.
Genta langsung meletakkan koper diatas meja juri. Setelah dibuka ternyata isinya uang yang sangat banyak.
Genta: Kalau kalian memenuhi permintaanku, kalian akan kuperbolehkan mengambil uang tunai 60 juta ini.
Juri 3: Apa? Apakah ini beneran 60 juta?
Genta: Cek saja kalau tidak percaya.
Juri-juri itu langsung mencek jumlah uang dalam koper itu.
Juri 3: Wah, bener. 60 juta rupiah.
Juri 1: Kenapa kau membayar lebih banyak dari hadiah juara 1? Bukannya kau akan rugi?
Genta: Karena aku ingin meminta 2 orang juga yang harus jadi juara 2 dan 3nya.
Juri 2: Oh, pantesan. Kalau gitu mah kamu untung. Gak mau. Kecuali kami dibayar lebih dari jumlah yang kau minta.
Genta: Kalian memangnya digaji setara dengan itu? Kalau tidak mau ya sudah, aku ambil lagi koper emas ini.
Juri 3: Eh, eh, eh. Nggak kok. Kami cuman bercanda.
Juri 1: Baiklah, siapa saja orang yang kau minta itu?
Genta langsung menunjukkan 2 orang lain yang tidak kukenal.
Inspektur: Ini pasti sewaannya. Setelah mendapatkan itu, sewaannya akan menyerahkannya kepada Genta.
Arka: Hmm, benar juga.
Setelah selesai kejadiannya tepat adalah aku bertemu dengan Genta. Jadi feelingku memang benar. Ada kejahatan yang dilakukannya dibalik semua ini.
Inspektur: Ok, bukti ini cukup. Oh iya, sekarang tinggal bukti-bukti yang kamu kumpulkan, Arka. Berikan itu kepada bapak sekarang.
Oh iya, tentang itu. Aku langsung mencari simpanan data itu.
Arka: Ini, pak.
Pak Inspektur langsung memindahkan data dari hpku ke cip bukti itu.
Inspektur: Sempurna. Sekarang kita tinggal pergi keruangan display layar untuk menunjukkan semua ini.
Kami berdua langsung berlari menuju ruang display yang persis ada di backstage konser.
MC: Sekarang waktunya pengumuman pemenang. Juara 3!
Arka: Apa?! Sudah pengumuman, kita harus lebih cepat lagi, pak.
Kami mempercepat lari kami hingga kami langsung masuk menerobos ruang display.
Petugas: Hey, siapa kalian? Beraninya kalian kesini.
Inspektur: Aku adalah Inspektur, kami perlu meminjam ruangan display ini sekarang juga.
Petugas: Apa? Tidak bisa. Jangan mentang-mentang kau Inspektur, jadi bisa mengacaukan acara kami. Ini adalah momen acara terpenting. Tidak boleh sampai terganggu.
MC: Juara 2!
Inspektur: Kami mohon, untuk sebentar saja.
Petugas: Akan ku perbolehkan setelah acara selesai. Lagian kalian pengen ngapain sih?
MC: Juara 1, Genta!
Apa?! Sudah sampai juara 1? Tidak bisa kubiarkan, cip ini harus ditampilkan sebelum penyerahan hadiah.
(Diam/Terobos/Naik panggung)
Inspektur: Kami ada kasus penting sekali. Mohon dimengerti.
Petugas: Tidak bi..
Petugas: Hey, apa yang kau lakukan?!
Aku langsung lari ke tempat mengatur display layar.
Petugas: Berhenti!
Inspektur langsung menahan tubuh petugas.
Inspektur: Biarkan kami menyelesaikan ini!
Petugas yang lain mulai mengincarku. Dengan skill tawuranku, aku jadi handal mengelak dari segala serangan.
Sedikit lagi, masukkan... Yes! Akhirnya.
Inspektur: Bagus, Arka!
Petugas: Tidaak..
Dari kamera didalam ruangan itu, kami bisa melihat langsung apa yang sedang terjadi di panggung.
Tiba-tiba display layar langsung berubah drastis. Semua pengunjung kaget melihat tiba-tiba layar berubah.
Bagian pertama dimulai dengan kejadian kami di hutan Palelo beberapa hari yang lalu.
Disitu terlihat saat aku pergi meninggalkan Naya, tiba-tiba Genta dan Linka datang. Lalu Naya dihipnotis oleh Genta dan melakukan aksinya.
Genta: Mari sini, cium dan peluk aku, Nay.
Naya: Baik, tuan.
Mereka pun berciuman dan berpelukan, lalu Linka memfotonya.
Para pengunjung terlihat masih bingung dengan kejadiannya. Tapi teman-temanku terutama Naya sangat syok. Linka terlihat menundukkan kepalanya.
Kejadian berlanjut, mereka bertiga mendekatiku. Genta dan Naya bersembunyi disemak-semak, Linka mendatangiku dan memulai skenarionya. Saat kami berpelukan, Genta memfoto kami. Linka juga terlihat memasukkan kunci mobil dan sebuah kertas kedalam kantong celanaku saat itu. Itu pasti yang ditemukan setelah ini. Teman-temanku mulai merasa bersalah kalau kulihat. Sepertinya mereka mulai mengerti.
Setelah itu barulah Genta dan Naya menjauh dan Genta menyadarkan Naya. Sedangkan Linka tetap ditempat. Lalu Genta menghasut Naya dengan fotoku dengan Linka. Aku juga mendatangi sisa temanku, dengan foto Naya dan Genta.
Genta: Nay, Arka telah mengkhianatimu.
Naya: Apa? Apa maksudmu?
Genta: Aku juga tak percaya ini, tapi coba lihat ini.
Naya memegang foto itu. Lalu foto itu terlepas dari tangannya. Disinilah Naya akhirnya terhasut.
Lalu setelah Naya datang kepadaku dengan amarah, terjadilah konflik dan fitnah itu. Karena kertas dan kunci mobil laknat itulah aku kalah didepan mereka. Dan akhirnya aku terjerat. Ekspresi teman-temanku masih sama. Namun ekspresi pengunjung sepertinya sudah paham dengan kejadian itu. Mereka menatap Genta dengan amarah. Genta hanya bisa terdiam.
Setelah itu masuk ke bagian kedua. Ini adalah bagian di Lereng Ekstrem Palelo. Terlihat Genta sedang berbicara dengan beberapa penculik disana. Isinya persis seperti video yang ditunjukkan Genta untuk menghancurkanku lagi. Tapi kali ini video yang asli, Genta lah yang berbicara seperti itu, bukan aku.
Teman-temanku langsung ditambah syok dengan kejadian itu, Raras nampaknya sudah tidak tahan lagi, dia memalingkan wajahnya. Namun Drogba menahannya agar tetap melihatnya.
Setelah ekspresi Raras tadi, orang-orang langsung sadar bahwa yang ada di layar itu adalah teman-temanku. Mereka tampak tertunduk malu karena dilihat sinis oleh orang-orang.
Mereka pantas mendapat itu, karena mereka sudah main hakim sendiri kepadaku. Biarlah sesekali mereka merasakan dihakimi orang lain.
Setelah itu, masuk kebagian ketiga, disini adalah percakapan Genta dan Linka dirumah Genta tentang kegagalannya menciptakan fitnah lagi. Genta dan Linka sontak terkejut. Genta tampak jengkel seperti berkata "Siapa yang merekam kejadian ini?". Itu adalah aku Genta. Tak akan kubiarkan kejahatanmu terus tertutupi. Teman-temanku langsung memperhatikan Linka. Linka hanya bisa menundukkan kepalanya. Orang-orang sudah mulai kesal bahkan ada yang sudah marah dengan kejadian-kejadian ini. Bahkan ada yang memutuskan untuk pulang.
Lalu masuk kebagian keempat. Kejadian-kejadian tadi adalah aksi dalam skala kelompok. Dan sekarang sudah mulai dijelaskan aksi skala daerah. Ini adalah aksi Genta menghancurkan ekosistem di hutan Palelo untuk kesenangan dia sendiri. Teman-temanku juga syok melihat Genta yang mengingatkan agar tidak merusak kehidupan dihutan itu, malah Gentanya sendiri yang ternyata begitu. Teman-temanku agak bingung melihat aksi Genta menangkap hewan juga masuk. Seakan berkata "Bukannya hewan memang boleh ya? Apakah mereka lupa memotong bagian itu?". Gofar memberanikan diri bertanya kepada orang disekitarnya. Sepertinya orang itu menjelaskan hukum hutan yang sebenarnya. Sontak teman-temanku langsung kaget dan menatap Genta dengan penuh amarah. Genta masih jengkel dengan semua ini.
Pengunjung: Hey, manusia biadab! Pantas saja kami kekurangan kayu dan daging, ternyata semua ulahmu!
Genta ingin menyerang, tapi menahan diri.
Setelah itu, kini masuk bagian kelima. Disini diperlihatkan kejahatan Genta yang paling meresahkan warga, yaitu menghipnotis warga-warga disana. Salah satunya adalah klip di restoran Jepang tadi. Dan bagian terpentingnya adalah menunjukkan kalau Linka sudah terhipnotis dan menjadi budaknya lama sekali. Sebenarnya masih banyak aksi hipnotis Genta, tapi sayangnya tidak terekam. Linka terlihat tidak percaya dengan kejadian ini.
(Diam/Memori ke layar/Naik panggung/Datangi Linka)
Dia harus sadar sekarang juga. Aku mulai beranjak dari tempatku berdiri.
Inspektur: Kau mau apa, Arka?
Arka: Aku akan mengembalikan memori yang sudah hilang.
Inspektur mengangguk.
Dengan berani aku keluar ruangan display dan mendatangi Linka. Ribuan mata langsung tertuju kepadaku.
Melihatku mendekat, teman-temanku kembali menjadi malu.
Arka: Linka, lihat ini.
Aku langsung menunjukkan memori-memori Linka. Memorinya pun juga ditunjukkan dilayar sebagai bukti.
Linka langsung duduk tersungkur ketanah.
Linka: Sekarang... sekarang... sekarang aku ingat semuanya. Ternyata selama ini, aku dalam pengaruh seseorang.
Tiba-tiba Linka langsung menerobos pembatas dan mengincar Genta layaknya seekor banteng.
Linka: GENTAA! BERANINYA KAU!
Genta langsung mencoba menghindar dari pukulan maut Linka, tapi tidak sempat.
BRUUUUK!
Genta langsung terjatuh kelantai. Linka ingin menyerang lagi tapi langsung ditahan polisi yang tiba-tiba naik kepanggung.
Tiba-tiba Genta ingin menyerang balik, tapi dua kakinya ditendang oleh 2 polisi hingga Genta terjatuh lagi.
Sebagian pengunjung tertawa melihat itu. Sebagian lagi senang dan puas.
Genta: Hiyaaa-
Genta bangun lagi, targetnya sudah penuh kepada Linka. Tapi ingin meluncurkan serangan, tubuh Genta ditahan oleh 10 polisi. Genta berusaha meronta-ronta. Tapi melawan 10 polisi, tidak mungkin bisa.
Sementara Linka dibawa kembali ketempat asalnya. Dan aku ingin kembali ke ruangan display.
Raras: Arka..
Arka: Nanti saja. Aku masih ada urusan penting.
Aku langsung menjauhkan diri dari mereka dan memasuki ruangan display.
Inspektur: Kerja yang bagus, Arka. Genta sudah mulai kesakitan karenanya. Tapi ini belum selesai. Ini baru permulaan.
Sekarang masuk kebagian terakhir. Bagian inilah yang menjadi inti penjelasan kenapa cip ini ditampilkan sekarang, bukan diwaktu lain.
Terlihat Genta sedang berbicara dengan juri-juri di ruang juri.
Inspektur: Polisi, tangkap juri-juri itu dan bawa kedekat panggung.
Polisi: Siap, pak.
Setelah melihat bagian 60 juta rupiah, sontak seluruh pengunjung terkaget-kaget. Ada yang menggelengkan kepalanya, ada yang takjub. Ada juga yang pemikirannya seperti juri.
Pengunjung: Kenapa lebih besar uang sogokannya dari uang hadiah juara 1nya?
Lalu berlanjut kebagian pendaftaran pemenang. Rasa penasaran itu pun akhirnya terbayar.
Pengunjung: Oh, pantesan. Jadi kalian berdua suruhan Genta juga?!
Sekarang mata-mata terfokus kepada orang juara 2 dan 3.
Tak lupa pak Inspektur menambahkan rekaman lukisan apa yang digambar oleh juara 1, 2, dan 3 palsu itu. Ternyata yang digambar oleh mereka adalah.. kosong! Ya, kosong.
Pengunjung: Heh, pas sekali itu rencananya. Gak usah lukis, sogok aja, menang.
Juara 2 dan 3 itu tertunduk malu. Genta terlihat sangat marah dan jengkel.
Lalu terlihat 3 juri tadi dibawa oleh polisi-polis kedekat panggung.
Pengunjung: Nah, ini dia juri-juri tak adil itu.
Juri 1: Ada apa, ini? Mengapa kami dibawa seperti ini?
Pengunjung: Kau gak lihat ya, tuh layar lagi nunjukin apa.
Juri-juri itu melihat layar display, dan langsung terkejut, lalu tertunduk malu.
Juri 3: Eng.. eng..
Pengunjung: Ah, sudah. Juri-juri seperti kalian tidak pantas dibiarkan keliaran. Masuk penjara aja sana.
Juri 2: Tolong, jangan. Kami tidak ingin masuk penjara.
Polisi: Diam, banyak omong saja kalian ini.
Semua juri itu terdiam. Tak lama kemudian, video cip itu berakhir.
Aku dan pak Inspektur dengan beraninya keluar dari ruangan display dan menaiki panggung.
Inspektur: Halo semuanya. Maaf mengganggu acara hari ini dengan hal seperti ini. Tapi saya tak bisa biarkan orang ini mengambil hadiah yang harusnya untuk orang yang memang pantas. Dan kita tidak bisa biarkan dia membuat lebih banyak kerusakan dipulau ini. Baik secara lingkungan ataupun sosial.
Inspektur: Kalian tentu tidak mau kalau kehabisan stok makanan, atau menjadi salah satu korban hipnotisnya kan?
Pengunjung menggelengkan kepala.
Inspektur: Oleh karena itu, kami ingin menyelesaikan semuanya sekarang. Dan ya, satu lagi. Perkenalkan, ini Arka.
Orang-orang langsung sadar bahwa orang yang dirugikan di video bagian pertama sampai ketiga itu adalah aku.
Inspektur: Tanpa orang ini, kami tidak akan bisa menangkap penjahat bersejarah ini. Berikan tepuk tangan dulu!
Semua orang bertepuk tangan. Kulihat teman-temanku juga sudah tersenyum terharu.
Inspektur: Untuk lebih lanjut, biar Arka saja yang menjelaskan.
Pak Inspektur memberikan mikropon kepadaku.
Arka: Hai semuanya, selamat sore. Namaku Arka Raya. Pada kejadian di hutan, lereng, dan rumah itu, semuanya sebenarnya adalah temanku. Ya, Genta itu sebenarnya teman kami. Dia sudah mengajak berteman saat beberapa hari yang lalu kami kesini. Aku kira dia memang ingin berteman, tapi ternyata tidak. Semuanya berakhir saat insiden di hutan Palelo. Aku yang tak bersalah, terkalahkan oleh bukti pembayaran palsu dan kunci mobil milik Genta. Yang sebenarnya yang memasukkannya adalah Linka. Tapi aku tau, sebenarnya Linka ini tidak jahat, hanya saja Genta yang mempermainkannya. Untungnya setelah aku dijerat itu, aku dibawa oleh polisi, dan setelah proses panjang, akhirnya aku bisa bekerjasama dengan pak Inspektur untuk menangkap Genta.
Arka: Saat aku kembali ke penginapanku, kudapati bahwa ternyata teman-temanku tidak ada. Ternyata mereka diculik, kecuali Genta. Akupun menyelamatkan mereka, dan kami kembali bersama. Tapi ternyata, Genta lagi-lagi menyusun perangkap bagiku. Video bagian Genta berbicara dengan para penculik itu digantinya dengan aku yang berbicara, sehingga muncul fitnah lagi. Mungkin kalau kalian sudah memberontak menghadapi fitnah berkali-kali. Tapi aku sudah berjanji kepada pak Inspektur, bahwa rencana ini akan berjalan dengan lancar. Caranya adalah menjaga kerahasiaan misi ini dan mencoba mencari bukti sebanyak-banyaknya. Yang akhirnya ditampilkan pada hari ini. Akhirnya aku..
(Mengalah/Diam/Marah/Berontak)
Arka: ..Mengalah dan membiarkan diriku dianggap seperti yang bersalah. Tetapi aku tetap berpikir cerdas. Aku bisa memikirkan jalan tetap bisa bersama mereka. Aku pura-pura mengaku, tapi dengan alasan ingin bersama mereka. Dan akhirnya posisiku disana aman kembali.
Arka: Setelah itu aku belajar dari kesalahanku.
(Menelusuri/Traktir/Bersama/Berontak)
Arka: Aku sepertinya selalu memisahkan diri dan akhirnya mereka berhasil membuat fitnah dari waktu kosongku itu. Jadi setelah itu di rumah Genta, aku selalu bersama dengan yang lain, agar tidak tercipta fitnah baru tentang diriku. Kalau ada saksi mata yang lain, mana mungkin Genta berani membuat fitnah, kecuali aku sedang sendiri, tak ada saksi mata lain. Dan disitu aku beruntung, menemukan bukti percakapan baru antara Genta dan Linka. Dan keesokan harinya aku juga beruntung bisa mendapatkan memori lama dari Linka, sehingga ingatannya yang sudah terhapus bisa kembali lagi.
Arka: Aku memang marah sekali setelah tau bahwa ternyata Genta ini adalah penjahat besar. Tapi aku menghadapinya tetap dengan tenang, tapi mematikan. Dan ini semua tak akan bisa sampai disini kalau pak Inspektur tidak mempunyai feeling yang baik atas segala keanehan yang terjadi.
Arka: Genta juga hanya memberitahu setengah-setengah tentang kejadian yang ada disini. Dia mengatakan pohon dilindungi tapi katanya boleh masuk dan hewan boleh diburu. Aneh kan? Dia mengatakan penduduk bertambah drastis, tapi tak mengatakan apa sebabnya. Dan juga untuk teman-temanku agar tahu tentang itu, Genta melakukan itu agar kita tidak tahu bahwa dia ikut lomba. Dan sebenarnya Genta tak pernah ingin kita tahu, hanya saja kita datang kesini dan bertemu dengannya.
Teman-temanku menganggukkan kepalanya.
Arka: Dan masalah kenapa Genta tidak ingin kita tahu, itu karena Genta takut aku ikut lomba melukis. Karena dia takut aku menang, karena aku bisa melukis. Tapi aku minta maaf membohongi kalian, demi kerahasiaan misi, aku memberitahu kalian aku tak ikut lomba, tapi aku ikut lombanya.
Teman-temanku dan Genta sontak terkejut mendengarnya.
Arka: Dan ya, hanya itu yang ingin kusampaikan. Sisanya kuserahkan kepada pak Inspektur.
Aku mengembalikan mikropon kepada pak Inspektur.
Inspektur: Ya, jadi kalian pasti sudah paham seberapa besar kejahatan Genta. Oleh karena itu kami akan memvonisnya mati tingkat teratas.
Para pengunjung terkejut.
Pengunjug: Apa? Mati tingkat teratas? Itukan hukuman terberat.
Inspektur: Ya, dia pantas mendapatkannya.
Genta: Apa? Tak mung..
Inspektur: DIIIIIIIIIIIIIIIIIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMMMMMMMMMMM!
Pak Inspektur berteriak kencang sampai kami semua menutup telinga kami. Genta sontak langsung terdiam.
Inspektur: Aku tidak pernah berteriak sekencang ini. Tapi karena aku sudah terlalu muak dengan ulahmu, dan kau malah ngeyel, terjadilah suara ini.
Inspektur: Sudahlah. Kalian cepat bawa dia kepenjara sekarang bersama juri-juri itu.
Juri 3: Apa? Tidaak.
Semua polisi langsung berjaga ketat membawa tawanan-tawanan mereka, khususnya Genta. Agar dia tidak kabur tiba-tiba.
Setelah semua mobil polisi pergi, terlihat pak Inspektur mengambil suatu kertas yang tidak kuketahui.
Inspektur: Dari tadi kita sudah tegang-tegang. Sekarang ayo kita santai. Saya akan umumkan pemenang lomba melukis yang sebenarnya.
Semua orang bertepuk tangan. Mendengar itu, kami semua turun dari panggung, kecuali pak Inspektur.
Inspektur: Oh ya. Saya bisa dapat ini karena juri sebenarnya sudah selesai menilai sebelum Genta menyogok. Jadi ini kertas yang asli.
Semua pengunjung, juka aku sudah paham sekarang maksud kertas itu.
Inspektur: Untuk juara 3!
Pak Inspektur menyebut nama yang tidak kukenal. Duh, bagaimana ini nasibku ya? Semoga saja penyebutan nama selanjutnya.
Inspektur: Selamat ya, nak. Sekarang, juara 2!
Lagi-lagi pak Inspektur menyebut nama yang tidak kukenal. Aku mulai khawatir. Apakah aku tidak menang? Biarlah, yang penting aku sudah berusaha.
Inspektur: Dan inilah saat yang paling ditunggu-tunggu. Juara 1nya adalah..
Semua pengunjung terlihat sangat antuasias.
Inspektur: ..Genta!
Pengunjung: Apa?! Seriusan?
Kami semua terkaget-kaget mendengarnya.
Inspektur: Tidak, tidak. Saya bercanda.
Semua orang kembali lega.
Inspektur: Juara 1 jatuh kepada..
Inspektur: ..Arka Raya!
Apa?! Aku? Beneran?
Inspektur: Dipersilahkan untuk naik lagi keatas panggung.
Wow, aku tidak menyangka bisa menjadi juara 1.
Inspektur: Selamat ya, Arka.
Pengunjung: Hmm.. kenapa aku jadi agak curiga ya?
Inspektur: Oh iya, ini adalah hasil lukisan para juara kita pada hari ini!
Layar display terganti oleh 3 lukisan yang sangat bagus. Salah satunya lukisanku.
Pengunjung: Hmm.. lukisannya bagus, perangainya pun juga bagus sekali.
Pengunjung: Hmm.. hey, Arka. Apakah makna lukisan itu orang bermuka dua?
Arka: Hmm.. cepat juga kau menangkapnya, bagus.
Inspektur: Beri tepuk tangan dulu untuk para pemenang.
Semua orang bertepuk tangan.
Inspektur: Terimakasih semuanya sudah menghadiri acaranya, sekarang acara ini resmi dinyatakan selesai. Selamat sore.
Kami semua turun dari panggung. Aku dan pak Inspektur langsung mendatangi teman-temanku.
Drogba: Wah, tak kukira kau bisa melukis sebagus itu, Arka.
Naya: Semenjak kamu mengatakan bahwa kamu ikut lomba ini. Aku sudah bisa merasakan kemenanganmu, Arka.
Arka: Lho, bagaimana bisa?
Naya: Karena aku sudah tau bagaimana skill lukisanmu, luar biasa.
Arka: Terimakasih, Nay.
Linka: Aku sangat berterimakasih, Arka. Karenamu, semua ini dapat kembali menjadi normal. Kebenaran berkibar, pikiranku pun sudah kembali.
Yang lain mulai merasa menyesal.
Gofar: Kami juga minta maaf atas kesalahan besar kami pada waktu itu, Arka. Kami salah besar, kami tidak pantas dipanggil sebagai teman.
Raras: Harusnya kami dihukum juga.
Drogba: Rasa menyesal tidak cukup untuk bisa menebus kesalahan kami, kan?
(Maaf/Diam/Marah/Hukum)
Arka: Tidak, ini semua bukan salah kalian. Ini semua salah si pengkhianat itu. Tanpanya, tak mungkin kalian melakukan semua ini kepadaku.
Naya langsung menangis memelukku. Diikuti oleh Raras, Linka, Drogba, dan Gofar.
Arka: Jangan menangis seperti ini, tenang saja. Aku memaafkan kalian.
Akhirnya mereka melepas pelukannya secara perlahan.
Naya: Tidak sia-sia aku berteman denganmu, Arka. Walaupun kami sudah menusuk hatimu sangat dalam, ruang maafmu masih terbuka lebar kepada kami.
Arka: Ah, kau bisa saja, Nay.
Naya: Tidak, aku serius.
Inspektur: Jadi semua sudah kembali normal?
Teman-temanku mengangguk.
Inspektur: Baiklah, ini saatnya waktu bapak berterimakasih kepadamu, Arka.
Arka: Terimakasih kepada saya? Harusnya saya yang berterimakasih karena tanpa bapak, kedok Genta tak akan pernah ketahuan.
Inspektur: Justru karena bertemu denganmu saya bisa tau lebih jauh tentang Genta. Ambillah ini, sebagai ucapan terimakasihku. Sekali ini saja.
Pak Inspektur memberikan suatu amplop kepadaku.
Arka: Apa ini, pak?
Inspektur: Buka saja.
Langsung kubuka saja amplop itu. Ternyata berisi uang tunai bernilai 10 juta rupiah!
Arka: A-A-A-Apa? Bapak bercanda? 10 juta?!
Yang lain juga sangat kaget mendengarnya.
Inspektur: Ya, itu adalah hadiah kecil dari kami atas bantuanmu.
Arka: Yakin nih, pak? Gak keberatan?
Inspektur: Sama sekali tidak. Malah kalau gak berterimakasih yang buat saya jadi agak keberatan. Makanya saya memberikan ini sebagai ucapan terimakasih.
Arka: Wah, makasih banyak pak.
Drogba: Asik, nanti traktir ya.
Kami tertawa.
Inspektur: Akhirnya, semua kembali menjadi damai. Dengan ini pulau Palelo akan lebih terasa aman. Dan akan lebih banyak lagi orang yang datang kesini.
Aku langsung terpikir ide terakhirku.
Arka: Nay, kata bapak semua sudah kembali normal. Tapi tidak, masih ada satu yang belum kembali.
Naya: Apa itu?
Arka: Hubungan kita. Maukah kamu kembali berpacaran denganku?
Naya tersenyum terharu.
Naya: Tentu, aku sudah menunggu momen ini dari lama.
Naya perlahan mulai mendekatiku. Parfumnya sudah mulai memasuki rongga hidungku. Aku juga melakukan hal yang sama seperti Naya.
Setelah jarak kami tinggal sejempol jari tangan, Naya memejamkan matanya. Aku juga melakukan hal yang sama.
Aku merasakan nafas Naya yang sangat lembut, bau parfumnya juga sudah menyelimuti hidungku.
Beberapa saat kemudian, aku merasakan sesuatu yang bahkan lebih lembut dari sutra, dan sangat segar dimulutku.
Bibir kami saling bersentuhan, setelah sekian lama, akhirnya kami berciuman.
Aku dan Naya juga perlahan saling memeluk. Aku bisa merasakan tubuh belakang Naya dengan kedua tanganku. Aku pun juga merasakan tangan Naya yang sangat lembut mengelilingi tubuhku bagian belakang.
Perlahan tubuh bagian depan kami juga mulai bertemu. Aku sekarang bisa merasakan seluruh tubuh Naya yang sangat lembut.
Pada akhirnya sekarang terjadi seperti di foto insiden itu, bedanya kini antara aku dan Naya.
Rasanya aku sangat senang bisa seperti ini dengannya.
Setelah beberapa menit, perlahan kami melepaskan pelukan masing-masing. Hingga akhirnya posisi kami seperti semula.
Kami akhiri dengan saling tersenyum.
Setelah kulihat kesekitar, ternyata semua orang melihat kami dari tadi.
Kami berdua mulai malu dengan itu. Dan tiba-tiba semua orang bertepuk tangan.
Pengunjung: Wow, akhirnya semua diakhiri dengan momen yang sangat bahagia.
Setelah itu, kami akhirnya pulang. Sambil menjaga isi koper uangku hehehe. Dan Naya tampak memanfaatkan momen ini, selama dijalan dia terus memegang erat tanganku yang lain.
Setelah hari bersejarah melelahkan ini, kami langsung beres-beres lalu tidur.

CHAPTER SELESAI

Author's Note: Eits. Jangan pergi dulu! Masih ada Chapter Epilogue yang akan dirilis dihari yang sama dengan hari chapter ini dirilis! The Grand Finale Chapter – Epilogue. Dan ya... kalau kalian ingat, Aasjhg akan menunjukkan diri di The Real Finale Chapter fanfic ini. Stay tune, and stay safe!