Bungou Stray Dogs hanya milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango.
Author Cylva & nyandyanyan tidak mengambil keuntungan apapun dari fic ini.
Warning Tags : Slash, abusive, kidnapped, dark, hurt, lemon, Dazai is a jerk!
Chapter I
Sabtu malam di perjalanan pulang, satu-satunya hal yang bisa diingat Chuuya. Entahlah sudah berapa hari berlalu atau berapa lama waktu yang dihabiskan dengan napas was-was. Terlebih ketika suara demi suara meneror indranya satu persatu. Saat terdengar nada dari tapak sepatu yang ia hapal mendekat, tubuhnya akan gemetar.
"Pagi, Chuuya." Sapaan itu terdengar setelah suara pintu yang terbuka. Ada gerakan pada jakun yang meneguk liur. Takut, sedikit. Nyatanya dia mulai terbiasa dan menyiapkan nyali serta kekuatan penuh untuk menahan sakit. Napasnya tak selancar tadi, tertahan menyakitkan di tenggorokan. Tapak sepatu yang makin dekat membuatnya secepat mungkin menyeret tubuh, mundur menjauh.
"Siapa yang mengijinkanmu menjauh dariku, tikus kecil?"
BUGH!
"—ugh!" Satu tendangan keras dari pantofel hitam mengkilat menghantam perut. Seperti biasa, tendangan lain akan menyusul sampai tubuh ringkihnya terasa lebih hancur. Seperti biasa juga, tawa menakutkan akan memenuhi pendengaran.
"Ah, membosankan ya?" Tendangan terakhir melayang ke wajah. Kepala terhempas ke belakang, penutup mata yang mengikatnya sejak berhari-hari lalu bergeser. Cahaya minim ruangan yang mengurung segera memenuhi pandangan. Wajah dengan aliran darah dari hidung menoleh secepat yang dia bisa, berharap iris samuderanya menangkap siapa orang gila yang main tangkap dan menyiksanya seenak hati. Dan orang itu adalah dia.
"Dazai—"
"Oh." Sosok itu menoleh, tersenyum samar. "Sial sekali ya, kalau kau sudah melihat wajahku aku harus segera menyingkirkanmu kan?"
"—anda? Kenapa—" Chuuya hilang kesadaran sebelum pertanyaannya tuntas. Membiarkan tubuhnya jatuh, lelaki di ujung pintu tertawa lagi. Pelan dan hambar.
"Harusnya kau sudah tahu jawabannya."
Xxx===xxX
Nyala lampu ruangan yang lebih terang membuatnya terbangun. Chuuya pikir dia berada ditempat lain namun ternyata itu adalah ruangan yang sama, hanya saja seseorang mengganti lampunya. Seminggu hanya berteman dengan cahaya dari ventilasi tidak mengimbangi tumpahan cahaya. Matanya sakit, pun kepala yang berputar.
"Syukurlah, kau masih hidup." Duduk di depannya sosok itu. Brunette dengan anak rambut tersampir di telinga membingkai wajah tampan. Senyum tanpa arti dilihat Chuuya dengan sebelah mata terbuka. Sebelahnya masih tertutup kain penutup, belum ada tanda-tanda sentuhan lain dari terakhir kali mereka berinteraksi. Bahkan darah kering di hidungnya belum dibersihkan.
"Dazai-san—"
"Ya, kau tahu aku."
"Kenapa Anda lakukan ini?"
Benar, kenapa?
Dazai Osamu, dosen sastra modern di kampusnya. Dengan jadwal pertemuan dua kali seminggu. Waktu-waktu yang dihabiskan selama jam-jam pertemuan mereka hanya untuk memperhatikan materi yang diajarkan sang dosen. Saling bicara? Rasanya nyaris tidak pernah. Mungkin hanya sekali dua kali saat dia bertanya mengenai materi, selebihnya tak ada percakapan berarti. Kedua hanya akan saling melewati ketika bertemu. Bertegur sapa dengan batas saling menganggukkan kepala atau bertukar senyum simpul. Jadi sungguh tidak mungkin Dazai berlaku begini pada orang yang tak banyak— bahkan nyaris tak punya interaksi dengannya. Kecuali jika dosennya itu punya sakit kejiwaan. Yah, rasanya Chuuya akan percaya pada opsi itu.
"Untuk mengisi waktu luang," jawab Dazai enteng. Matanya mengarah lurus pada separuh samudera yang ditemani ekspresi terkejut. Dia tertawa kecil. Kakaonya memandang rendah dengan senyum masih setia terukir. "Aku sudah tidak waras jika menjawab begitu."
"Saya tidak mengenal anda. Kita hanya bertemu saat dikelas. Jadi kenapa—"
"Baiklah. Gunakan jawaban tadi." Jelas ia tidak menginginkan sebuah percakapan.
Pria jangkung itu bangkit kemudian, derit kursi disusul langkah mendekat membuat tubuh kesakitan Chuuya reflek mundur. "Aku tidak tahu kalau ternyata ingatanmu sangat buruk. Jadi anggap saja aku memang sedang menghabiskan waktu luang sambil bermain-main dengan salah satu mahasiswa di tempatku mengajar."
"Kau gila."
Tawa terdengar lagi. Matanya terpejam saat Dazai mendekat, dikira akan menyakitinya lagi tapi tidak ada hantaman terjadi. Lelaki itu malah mengangkat tubuh Chuuya pada kursi yang dia duduki tadi. Dazai lalu bergerak ke belakang tubuh Chuuya. Kedua lengannya bertengger pada bahu kecil lelaki yang lebih muda.
"Aku tidak perduli dengan pendapatmu. Dan jujur saja, aku ini orang yang gampang bosan dengan barang-barang milikku." Ada remasan kecil pada bahunya. Pelan, tapi memar membuat Chuuya meringis. "Aku berharap kau tidak jadi salah satu barang yang kubuang karena kurasa sudah membosankan. Jadi, bagaimana kalau kau sedikit menghibur dengan memilih opsi?"
Tawaran itu malah membuat firasat buruk dihatinya makin menjadi. Chuuya lagi-lagi meneguk liur, lalu mengangguk ragu. Menunggu pilihan untuk tetap bertahan, seraya mengharap agar salah satunya memiliki celah untuk melarikan diri.
"Anak baik." Dazai tersenyum senang, kali ini bahu yang menegang dibelai lembut. Kepalanya menunduk, bibirnya menyamai telinga Chuuya untuk berbisik menawarkan pilihan. "Aku memberimu dua pilihan. Satu, menuruti semua perintahku dan tetap diam, lalu akan kulepas semua tali yang mengikatmu. Dua, kau boleh pergi. Tapi aku akan langsung mengikatmu saat kau tertangkap lagi, sampai aku bosan." Lengannya kini bergerak melepas kain hitam yang terpasang longgar di sebelah mata Chuuya.
"P-Pilihan pertama." Jawaban itu lebih cepat didengar dari dugaan. Senyum Dazai melebar lagi.
"Pilihan bagus." Tali yang mengikat kedua lengan di belakang tubuh dilepaskan, menyusul kemudian yang menyatukan kedua kaki. Baiklah. Dengan begini dia akan jadi anak baik dan menuruti semua perkataan dosen penculiknya.
Menurutmu begitu?
"JANGAN BODOH! KAU PIKIR AKU AKAN MENURUT?! DASAR PSIKOPAT!" Chuuya bangkit dengan cepat setelah satu tendangan kearah wajah Dazai. Langkahnya dibawa secepat mungkin walau terseok kearah satu-satunya pintu. Chuuya harap bisa segera keluar dari sana. Setengah berlari, dia kini berhasil menggapai gagang perak. Bergerak membuka kenop sekuat tenaga.
BUGH!
Tubuh kecil ambruk setelah pukulan keras di kepala belakang. Dazai menyeka darah mengalir di hidungnya, sebelah tangan masih menggenggam tongkat baseball. Merasa beruntung karena meletakkan benda itu disana. Dilihatnya genangan kecil merah pekat, mengalir dari kepala yang tergeletak.
"Dia ini bodoh atau apa?" Tongkat baseball dilempar sembarangan. Dazai membopong tubuh itu, menjatuhkannya diatas ranjang d ipusat ruangan. "Lihat? Dia membuatku harus repot-repot mengobati kepalanya. Dasar bodoh— agh, kepalaku sakit." Dazai memijat pelipisnya, beruntung darah yang keluar dari hidung sudah berhenti mengalir. Dia terkejut Chuuya bisa menendang sekeras itu walau berhasil sedikit menghindar dan tidak meninggalkan luka parah. Sedetik saja telat, mungkin lebih dari sekedar mimisan yang akan dia alamii.
"Bagaimana bisa aku mengurus dia?" Masih heran dengan tingkah nekat Chuuya, Dazai membuka laci nakas dan mengambil kotak p3k dari sana. Pelan-pelan mengobati kepala Chuuya. "Aku harus mengikatnya lagi nanti."
Dazai hanya tidak ingin kehilangan 'barang'nya lagi.
To Be Continued
Kolaborasi antara saya dan Nyan. Idenya dia, yang ngetik juga dia saya mah numpang nama.. XD Gak deng. ahaha...
Fic ini akan dipublish juga di AO3 dengan judul yang sama. Baca sana, biar dua kali. /dihantam
Silahkan review dan menunggu..
Salam
Cylva & nyandyanyan
