(Timeskip ke X784)

Waktu telah berlalu semenjak penaklukan Kerajaan Uchiha oleh Spriggan 13 dan Balam Alliance. Sekarang sudah enam tahun sejak peristiwa yang menyebabkan runtuhnya klan tersebut. Madara dan keluarganya berhasil dikalahkan oleh para musuh mereka. Pendahulu klan Uchiha itu lalu dieksekusi mati bersama dengan anaknya Fugaku dan menantunya Mikoto.

Sementara itu, Itachi dan Shisui memilih untuk menyerah dan tunduk kepada Zeref. Itachi kemudian direkrut oleh Obito ke organisasi bentukannya, Akatsuki. Sementara itu, Shisui direkrut oleh Zeref menjadi bawahan dari anggota Spriggan 13, Irene Belserion.

Sekarang kita tinggalkan sejenak kasus kejatuhan klan Uchiha. Kita beralih ke sebuah guild yang terletak di benua Isghar. Kita mulai opening chapter ini dengan guild yang keadaannya berbanding terbalik 180 derajat dengan keadaan Naruto dan klan Uchiha. Kondisi dari guild tersebut sangatlah ceria dan tidak ada drama...setidaknya untuk saat ini.

Guild tersebut bernama Fairy Tail, terletak di Kota Magnolia, Kerajaan Fiore, Benua Isghar. Para anggota guild tersebut saling melemparkan barang-barang, seperti bangku, meja, hingga gentong anggur. Beberapa dari mereka terlihat minum-minum dan tidak mau ambil pusing dengan kekacauan yang terjadi di sana.

Namun, suasana tiba-tiba menjadi hening ketika seorang pria berambut jingga tiba-tiba mendobrak pintu guild."Ini buruk. Erza telah kembali," kata pria itu.

Setelah mendengar kata-kata tersebut, para anggota guild langsung berhenti berbuat rusuh dan membersihkan seisi guild. Tepat setelah mereka selesai bersih-bersih, seorang wanita berambut merah masuk ke dalam markas guild sambil membawa sebuah tanduk raksasa. Penampilan wanita itu sangat mirip dengan seorang ksatria wanita karena baju zirah besi dan rok biru sepaha yang dikenakannya. Wanita itu adalah Erza Scarlet, penyihir kelas S Fairy Tail.

"Aku telah kembali. Apakah Master ada di sini?" tanya Erza kepada orang-orang yang ada di sana.

"Master sedang pergi untuk menghadiri rapat," jawab wanita berambut putih panjang. Dia adalah Mirajane Straus. Dia juga merupakan penyihir kelas S Fairy Tail.

"Oh begitu..."

Erza lalu menatap tajam ke setiap orang yang ada di guild itu. Tidak ada satupun yang lolos dari tatapan tajamnya. Dia mirip panitia kedisiplinan yang mendapati sekelompok peserta ospek yang membolos. Dia menegur semua anggota guild akan tindakan dan kebiasaan buruk yang mereka lakukan.

"Apakah Natsu dan Gray ada di sini?" tanya Erza setelah dia selesai menegur semua anggota guild.

"Ha-hai, Erza. Kita adalah teman akrab seperti biasa...Be-benar kan?" ucap seorang pria berambut biru dongker. Dia adalah Gray Fullbuster, anggota Fairy Tail. Dia berkata seperti itu sambil merangkul seorang pria berambut pink.

"A-Aye!" sahut pria berambut pink itu. Dia adalah Natsu Dragneel, anggota Fairy Tail.

Erza lalu tersenyum melihat Gray dan Natsu akrab seperti itu, lalu dia berkata, "Aku mendengar hal yang buruk saat aku mengerjakan misi terakhirku. Aku butuh bantuan kalian. Apakah kalian mau ikut denganku?"

Gray dan Natsu menjawab ajakan Erza dengan senyuman yang artinya mereka mau setim dengan Erza. Hal ini membuat semua anggota Fairy Tail terkejut. Bahkan Mirajane pun berpikir kalau tim mereka bisa menjadi tim terkuat di Fairy Tail.

"Lalu, bagaimana dengan Lucy? Aku sudah beberapa kali menjalankan misi bersama dengannya," tanya Natsu sambil menunjuk ke arah wanita berambut kuning panjang yang ada di sebelahnya. Dia adalah Lucy Heartfilia, anggota baru Fairy Tail.

"Kalau kamu mau mengajaknya bergabung dengan kita, silahkan saja, Natsu," jawab Erza.

"Tunggu, kamu serius mau satu tim dengan orang baru sepertiku?" tanya Lucy yang merasa minder.

"Tentu saja Erza akan menerimamu, Lucy. Kau dan aku sudah menjalankan misi bersama-sama. Jika Erza mengajakku satu tim dengannya, maka kau pasti juga akan masuk ke dalam tim tersebut," ucap Natsu menyemangati Lucy.

Lucy pun hanya bisa tersipu malu mendengar ucapan semangat dari Natsu. Sementara Erza dan Gray tersenyum senang dengan tim yang baru saja terbentuk. Kini babak baru dari petualangan mereka sebagai tim akan dimulai.

"Yosh! Dengan ini, Team Natsu telah terbentuk!" seru Erza sambil mengepalkan tangan kanannya ke udara.

"Ayee!" balas anggota team Natsu yang lain sambil melakukan hal yang sama dengan Erza.

Sambil menatap ke langit, Erza tersenyum dan membatin, 'Naruto, sekarang aku sudah memiliki teman, bahkan tim. Aku sekarang bergabung dengan Fairy Tail. Aku yakin kalau aku akan dapat menemukanmu. Aku yakin kalau kamu masih hidup.'


Chapter 04: Desa Ombak


Di sebuah gua yang berada di wilayah Kerajaan Konoha, terlihat tiga orang remaja sedang duduk di sana sambil menyantap makanan mereka. Ketiga orang tersebut adalah Naruto Namikaze-Uzumaki, Sasuke Uchiha, dan Menma Uzumaki.

Alasan mereka tinggal di gua adalah untuk menghindari diri mereka dikenali oleh publik. Takutnya jika mereka ketahuan oleh Zeref, tentu saja si penyihir hitam itu akan langsung menyuruh anak buahnya untuk memburu mereka. Mereka tidak ingin hal itu terjadi, sebab mereka tidak ingin mati demi dapat melaksanakan rencana mereka untuk mendirikan Kerajaan Namikaze-Uchiha.

Saat ini mereka memang harus low profile agar jejak mereka tidak terendus oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Zeref. Di sisi lain, tinggal di lingkungan terbuka seperti gua yang ada di tengah hutan akan memudahkan mereka untuk melatih ilmu sihir mereka secara mandiri.

Kini mereka sudah menjadi lebih kuat dari pada yang sebelumnya. Sudah cukup mereka berlatih selama enam tahun. Sekarang, saatnya mereka beraksi dan menunjukkan kepada dunia hasil dari latihan mereka. Mereka memang harus low profile, tetapi mereka tetaplah harus melangkah. Mereka tidak boleh berhenti sama sekali.

"Hey, Naruto-san. Apakah kita akan terus menerus berada di gua ini?" tanya Menma sambil menyantap makanannya.

"Tentu saja tidak, Menma. Kita sudah enam tahun berlatih di sini. Aku rasa sudah cukup kita bersembunyi. Kita harus segera bertindak," jelas Naruto. "Benar kan, Sasuke?"

"Hn. Itu benar. Sudah saatnya klan kita bangkit dan kembali berjaya di dunia ini," timpal Sasuke.

"Kemana kita akan pergi?" ucap Menma menanyakan tempat tujuan mereka.

"Kita akan pergi ke Kerajaan Konoha. Kerajaan tersebut memiliki benang merah dengan klan kita bertiga secara historis. Pasti akan mudah mencari anggota baru dan menghimpun kekuatan di sana," jelas Naruto.

Mendengar ucapan Naruto, Sasuke menatap kedua mata sahabatnya itu dengan tajam. "Konoha? Apa kau yakin, Naruto? Kerajaan tersebut memiliki sejarah yang buruk dengan klanku, Klan Uchiha."

"Tapi, kerajaan tersebut adalah kerajaan yang paling dekat dari sini. Kita bisa menyusup ke sana dan memulai pergerakan kita," ucap Naruto mencoba mempertahankan pendapatnya.

Sasuke tetap tidak setuju dengan pendapat Naruto. Dirinya berpikiran bahwa ide dari teman dekatnya itu terlalu beresiko untuk dilakukan saat ini. "Tidak. Aku tidak setuju jika kita harus pergi ke sana sekarang. Alangkah baiknya kita mencari anggota baru terlebih dahulu."

"Itu benar, Naruto-san. Jumlah kita saat ini masihlah terlalu sedikit. Jika pergi ke negara yang besar seperti Konoha sekarang, besar resikonya kita akan terkena bahaya. Lebih baik kita mulai bergerak di wilayah-wilayah kecil dulu," usul Menma yang setuju dengan perkataan Sasuke.

"Uhm...baiklah. Aku rasa usulan kalian ada benarnya juga. Lalu, ke daerah mana kita harus pergi?" tanya Naruto.

"Tadi, waktu aku membeli makanan, aku mendengar kabar tentang sebuah daerah bernama Desa Ombak. Letaknya tidak begitu jauh dari sini," jawab Sasuke.

"Lalu, apa yang ada di desa tersebut?"

"Menurut kabar yang beredar, desa tersebut memiliki perekonomian yang makmur, tapi bisa dibilang lemah karena tidak memiliki perlindungan dari kelompok penyihir."

"Uhm, menarik. Baiklah, kita akan pergi ke sana. Siapa tahu kita bisa menemukan anggota baru dan dukungan lainnya di sana."


(Desa Ombak)

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu hari, Naruto, Sasuke, dan Menma pun sampai ke Desa Ombak. Desa tersebut tampak sangat hening karena terletak di sebuah pulau yang terisolasi dari daratan Kerajaan Konoha. Kendati demikian, desa tersebut masih termasuk dalam wilayah kerajaan besar itu.

Terlihat banyak sungai ada di Desa Ombak. Pohon-pohon bakau yang berada di tepi sungai-sungai membuat desa itu terhindar dari abrasi besar-besaran. Seperti yang Sasuke bilang, desa itu terkenal akan perdagangannya. Oleh karena itu, tidak heran jika ada banyak kapal yang berlabuh di sana untuk keperluan logistik.

"Akhirnya sampai juga...Tapi, mengapa suasananya sepi sekali?" ujar Naruto yang bertanya-tanya.

"Hah...Kau pikir saja sendiri, Naruto. Malam-malam begini siapa yang mau berdagang," ujar Sasuke yang kesal dengan perkataan temannya itu.

"Ya barangkali...hehehe. Oh ya, lebih baik kita segera pergi menelusuri desa untuk menemukan tempat penginapan. Kita harus istirahat karena hari sudah malam," usul Naruto.

"Hn/oke," sahut Sasuke dan Menma tanda setuju dengan usulan teman mereka.

Naruto, Sasuke, dan Menma pun berjalan menelusuri desa untuk mencari tempat penginapan. Setelah cukup lama berkeliling desa, mereka pun menemukan satu tempat yang mereka anggap layak untuk ditinggali. Mereka pun melangkah memasuki tempat tersebut dan berbicara dengan pemiliknya untuk memesan kamar.

Setelah membayar biaya untuk satu bulan pertama kepada sang pemilik, Naruto, Sasuke, dan Menma pun masuk ke kamar mereka. Mereka memesan satu kamar yang dapat ditinggali oleh tiga orang.

Jika ditanya darimana ketiga penyihir muda tersebut mendapat uang, tentu saja mereka mendapatkannya dari para bandit. Mereka mempraktekkan hasil latihan mereka selama enam bulan dengan membasmi para bandit yang berkeliaran di sekitaran gua tempat tinggal mereka. Setelah mereka mengembalikan harta yang dirampok kepada pemiliknya, mereka akan diberikan sedikit dari harta tersebut sebagai upah.

Dari sanalah Naruto, Sasuke, dan Menma mendapatkan uang. Tentu saja mereka melakukannya dengan menggunakan penampilan tertutup serta menggunakan nama samaran agar tidak ketahuan oleh publik.

Setelah mendapatkan kamar mereka, ketiga penyihir muda itu langsung membersihkan tubuh mereka di kamar mandi yang letaknya berada di luar kamar. Sesudah itu, mereka kembali ke kamar mereka dan mengistirahatkan tubuh mereka.

Keesokan harinya, tiga sekawan tersebut memulai pencarian informasi guna mendukung sepak terjang mereka. Dengan berpura-pura menjadi pekerja di sebuah rumah makan, mereka mengobrol dengan orang-orang yang dianggap memiliki wawasan yang bisa dipercaya.

Di tengah usaha mereka mencari informasi, tiba-tiba datang segerombolan orang bertubuh kekar. Orang-orang yang berpenampilan seperti mafia pasar itu berbuat onar dan mengacau-balaukan seisi rumah makan. Para pelanggan terlihat ketakutan dan hendak pergi. Tetapi, mereka segera dicegat oleh para mafia tersebut.

"Tidak ada yang keluar dari sini sampai mereka membayar iuran bulanan!" seru salah satu dari mafia itu.

"Iuran bulanan?" gumam Naruto dengan pelan. Dia heran mengapa desa dengan perdagangan yang baik seperti Desa Ombak memberlakukan pajak bulanan. 'Aneh. Bukannya seharusnya para warga di sini sudah membayar upeti ke Kerajaan Konoha? Kenapa masih ditagih iuran bulanan? Pasti ada yang tidak beres.'

Pemilik rumah makan itu langsung bersujud di depan para mafia seperti memohon akan sesuatu. Hal serupa dilakukan oleh orang-orang yang makan di rumah makan tersebut. Hal ini membuat Naruto dan kedua temannya menjadi makin bertanya-tanya.

"Tolonglah...kali ini saja. Tolong jangan tagih aku. Aku masih memerlukan uang untuk biaya pengobatan anakku," ujar sang pemilik rumah makan.

"Saya juga masih memerlukan uang untuk membiayai kebutuhan keluargaku," ujar salah satu pelanggan.

"Cukup! Aku tidak mau mendengar alasan-alasan kalian! Iuran bulanan adalah hal yang mutlak harus kalian bayar! Kalau kalian tidak ingin membayarnya, maka kami akan merampas uang kalian dengan paksa dan membakar habis tempat ini!" seru si mafia itu.

Para mafia itu langsung bersiap untuk memukuli para penduduk Desa Ombak dan merampas uang mereka. Namun, sebelum mereka melakukan aksi brutal mereka, Naruto segera menghentikan mereka.

"Hentikan..." ucap Naruto dengan kalem, namun tegas.

Para mafia itu pun segera menghentikan aksi mereka dan menatap tajam ke arah Naruto. "Kamu pikir siapa kamu sehingga berani menghentikan aksi kita."

Mereka segera berjalan menghampiri Naruto untuk menekannya, namun penyihir muda keturunan Namikaze-Uzumaki itu terlihat sama sekali tidak gentar. Dengan tatapan yang tegas, dia mengamati satu persatu dari para mafia yang sedang mengitarinya saat ini.

"Kamu ini bocah yang lancang. Kamu mau kami memberimu pelajaran?! tantang salah satu dari mafia itu.

"Aku tidak ingin pelajaran darimu. Aku tidak butuh itu. Aku hanya ingin membayar iuran bulan. Tidakkah kamu semua menginginkannya?" ujar Naruto.

"Heh! Dengar perkataanku, bocah! Iuran bulananmu tetap kuterima, tetapi pelajaran akan tetap kami berikan kepadamu karena sikap kurang hormatmu pada kami. Karena kamu telah berani menghalangi kami untuk mengambil uang iuran bulanan dari para penduduk!" seru mafia itu.

"Apakah kalian semua akan tetap memberikanku pelajaran jika aku membayar iuran bulanan untuk diriku dan juga untuk semua orang yang ada di sini?" timpal Naruto dengan santai.

Sontak, para mafia itu membelakakkan mata mereka setelah mereka mendengar ucapan Naruto. Mereka mengira kalau penyihir muda itu sedang mencoba untuk melawak. Tetapi, mereka segera menyingkirkan pikiran tersebut saat melihat Naruto mengeluarkan tiga ikat uang yang bernilai 15.000 ryo dan melemparkannya ke arah mereka.

"Di-dia seriuuus!" teriak para mafia karena kaget. Tak hanya mereka saja, Sasuke, Menma, dan para penduduk desa terkaget-kaget melihat perbuatan Naruto.

'Yang benar saja? Ceroboh sekali kau, Naruto. Setelah ini, kamu mau makan pakai apa?' pikir Sasuke.

'Gi-gila...Naruto-san...' batin Menma.

'Di-diaa se-serius...' batin para penduduk desa.

"Uhm...baiklah uhm anoo..." ucapan mafia itu terjeda karena dia tidak tahu nama Naruto.

"Kurama. Panggil saja aku dengan nama itu," ucap Naruto memperkenalkan dirinya dengan nama samarannya.

"Kau benar-benar hebat, Kurama-san. Sepertinya kau adalah orang kaya ya. Gyahahaha."

"Kau terlalu berlebihan. Aku hanya ingin menolong para penduduk desa. Omong-omong, aku sudah membayar iuran bulanannya. Jadi, kalau kalian tidak keberatan, bisakah kalian pergi dari sini?" ucap Naruto mengusir para mafia tersebut dengan halus.

"Tanpa kau suruh pun kami juga akan pergi, Kurama-san. Gyahaha! Omong-omong, jangan kaget kalau suatu saat kau mendapatkan surat misterius. Itu tandanya Gato-sama mengundangmu untuk menjadi sekutu kami. Beliau senang sekali merekrut orang-orang kaya di desa ini untuk menjadi sekutunya. Gyahaha!"

Setelah mengambil uang iuran senilai 15.000 ryo itu, para mafia itu pun pergi meninggalkan rumah makan tempat Naruto dan kedua temannya bekerja. Sesudah para mafia itu pergi, para penduduk desa termasuk si pemilik rumah makan memuji-muji dirinya sambil sesekali memberi penghormatan kepadanya seakan-akan dia adalah dewa.

"Terima kasih, Kurama-san. Berkat anda, kami semua bisa terbebas para mafia itu," ucap pemilik rumah makan berterima-kasih kepada Naruto

"Terima kasih, Kurama-san."

"Ya, terima kasih, Kurama-san."

Mendengar ucapan-ucapan yang berlebihan itu, Naruto pun merasa tak nyaman. Dia langsung menghentikan mereka untuk memujinya lebih lanjut. Walaupun merupakan seseorang yang cenderung extrovert, penyihir muda berambut kuning jabrik itu bukan tipe orang yang suka menjadi pusat perhatian.

"Baiklah. Terima kasih kembali ya. Tapi, kumohon berhentilah memujiku secara berlebihan," ucap Naruto.

Para penduduk desa pun langsung berhenti memuji-muji Naruto. Melihat mereka telah diam, Naruto segera menggunakan kesempatan ini untuk menggali informasi dari mereka. Dirinya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di desa ini.

"Ano, Paman dan yang lainnya. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Desa ini kan sudah termasuk dalam wilayah Kerajaan Konoha. Tentu kalian seharusnya sudah membayar upeti ke mereka kan? Kenapa orang-orang tadi masih menagih iuran bulanan?" tanya Naruto.

"Mereka bukanlah orang-orang Konoha, Kurama-san. Mereka adalah bawahan Gatou," jawab salah satu dari para penduduk.

"Gatou? Siapa dia?"

"Gatou dan kelompok mafianya datang ke sini 3 tahun yang lalu. Mereka lalu menjajah pulau ini dan memonopoli perdagangan di sini. Mereka memanfaatkan tempat ini untuk dijadikan ladang bisnis gelap bagi mereka. Selain itu, mereka juga selalu menagih iuran tiap bulannya," jelas seorang penduduk yang lain.

"Kalau begitu, kenapa kalian tidak melawan? Tidakkah kalian memiliki keinginan untuk memperjuangkan kebebasan kalian?" tanya Sasuke yang bergabung dengan percakapan.

"Gatou dilindungi oleh dua orang penyihir dari Kerajaan Kiri, yaitu Zabuza dan Haku. Kedua penyihir itu sangatlah kuat. Sangatlah tidak mungkin bagi kami yang merupakan orang biasa untuk mengalahkan kedua orang itu," jawab seorang penduduk.

"Dua penyihir kuat..." gumam Naruto.

"Apakah kamu bisa menyelamatkan kami, Kurama-san?" tanya seorang penduduk.

"Maafkan aku, Semuanya. Aku tidak bisa menyelamatkan kalian. Kalau yang kalian katakan adalah benar, maka tidak akan ada kesempatan bagiku untuk menang melawan Gatou. Aku hanyalah orang biasa, sedangkan dia dikawal oleh dua orang penyihir. Yang bisa kulakukan hanyalah membantu kalian sebisaku," jawab Naruto.

Tentu saja Naruto berbohong. Sudah jelas dia adalah penyihir. Tapi, dia tidak berterus-terang ingin menyelamatkan para penduduk karena dia pikir dia harus terlebih dahulu menganalisis situasi. Bertindak gegabah akan dapat berbuah buruk pada dirinya maupun pada para penduduk.

"Uhm, baiklah. Tidak apa-apa, Kurama-san. Kami tetap berterima-kasih atas bantuanmu barusan. Omong-omong, karena ada beberapa kerusakan yang harus dibenahi akibat ulah para mafia itu, kamu dan kedua temanmu itu bisa pulang sekarang," ucap pemilik rumah makan kepada Naruto.

"Terima-kasih kembali, Bos. Kalau begitu, aku dan kedua temanku akan pulang," ujar Naruto.

Naruto kemudian pulang kembali ke kamarnya bersama dengan Sasuke dan Menma. Sesampainya di sana, ketiga penyihir muda itu segera berdiskusi tentang masalah penduduk Desa Ombak.

"Hn. Tumben kamu menolak menolong orang lain," ucap Sasuke mengawali percakapan.

"Hah? Menolak menolong orang lain? Kan tadi aku sudah membayar uang iuran untuk mereka semua," ucap Naruto membela diri dari pernyataan teman dekatnya itu.

"Bukan yang itu, tapi ketika para penduduk memintamu untuk menyelamatkan mereka dari Gatou," ucap Sasuke.

"Ah yang itu. Aku punya alasan sendiri mengapa aku belum mau menyelamatkan mereka, Sasuke," balas Naruto.

Mendengar balasan dari Naruto, Sasuke pun menatap ke arah teman dekatnya itu sambil mengernyitkan alisnya. "Alasan?"

"Ya, jika aku terburu-buru mengiyakan permintaan para penduduk desa, maka bisa jadi kabar tersebut akan sampai ke telinga Gatou dan dia pasti akan menyiksa mereka lebih lagi," ucap Naruto.

"Huh...kukira kamu orang bodoh yang hanya bisa bertindak berdasarkan keinginan saja, Naruto. Ternyata kamu bisa pintar juga," ejek Sasuke.

Mendengar ejekan dari Sasuke, Naruto pun langsung melotot ke arah teman dekatnya itu dan berkata dengan volume yang cukup keras, "Apa maksudmu, Sasuke?!"

"Terkadang aku kesal dengan kebodohanmu, Naruto. Berapa kali sudah identitas kita hampir dikenali oleh publik karena kamu menolong orang lain tanpa menggunakan perhitungan yang matang. Bodoh..." kesal Sasuke.

"Kurang ajar! Waktu itu berbeda dengan sekarang, Sasuke. Lagipula, aku pikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk menambah anggota kelompok kita. Siapa tahu dua penyihir yang mengawal Gatou itu merupakan penyihir yang kuat," ucap Naruto.

"Hn. Baguslah. Senang melihatmu menjadi sedikit pintar, Naruto."

"Kurang ajar kau, Sasuke!"

Naruto menatap Sasuke dengan tatapan murka. Sasuke lalu membalasnya dengan tatapan sebal. Semakin lama, wajah mereka semakin dekat. Aliran listrik ala anime tercipta di antara mata mereka.

Naruto tiba-tiba merasakan dirinya terdorong dan dia pun tidak sengaja mencium Sasuke. Sasuke yang kaget dan ngeri akan hal itu refleks menendang Naruto hingga teman dekatnya itu terjatuh ke belakang.

"BUAAAH! Sialan! Apa yang kamu lakukan, Naruto?! Dasar bodoh!" umpat Sasuke sambil beberapa kali meludah ke lantai.

"Mana kutahu, Sasuke! Tiba-tiba saja ada yang mendorong tubuhku!" ucap Naruto membela diri. Sama seperti Sasuke, dia juga beberapa kali meludah ke lantai karena merasa jijik.

"Hahahaha"

Mendengar adanya suara orang yang tertawa, Naruto dan Sasuke pun langsung menatap sebal ke arah sumber suara. Tidak lain dan tidak bukan suara tertawa itu berasal dari teman dekat mereka berdua, yaitu Menma. Ternyata dia adalah orang yang mendorong Naruto sehingga dia tidak sengaja berciuman dengan Sasuke.

"Hahahaha kalian ini lucu sekali!" ejek Menma sambil ketawa.

"Jadi ini semua ulahmu ya, Menma," ucap Sasuke dengan nada sebal.

"Hahahaha!"

Menma terus menertawakan tingkah Naruto dan Sasuke hingga dia melihat siluet kedua temannya itu berada di dekatnya. Sontak dia pun langsung berhenti tertawa. "Ha...ha...kenapa..."

Tanpa banyak berkata-kata, Naruto dan Sasuke langsung memberi Menma pelajaran. Suara teriakan minta ampun terdengar dengan keras. Hal ini membuat beberapa tetangga mereka yang sedang lewat di lorong kamar berhenti sejenak dan melihat ke arah kamar Naruto dan kawan-kawannya.

Malam harinya, Menma diberi hukuman untuk mencarikan menu makan malam untuk dirinya dan juga untuk kedua temannya. Sementara itu, Naruto juga bersiap-siap untuk pergi meninggalkan kamarnya.

"Mau pergi ke mana, Naruto?" tanya Sasuke.

"Aku mau mengambil kembali uangku," jawab Naruto.

Mendengar jawaban Naruto, Sasuke pun mengerutkan alisnya dan bertanya lagi, "Bukannya kamu sudah memberikan semua uangmu ke anak buah Gatou itu?"

"Yup. Makanya sekarang aku pergi ke markas mereka dan mengambil kembali uangku," jawab Naruto.

"Memang kamu tahu di mana letak markas mereka, Naruto?"

"Tenang saja. Aku sudah menyisipkan sebuah pelacak di antara tumpukan uangku. Jadi, aku pasti akan dapat menemukan markas mereka."

"Berhati-hatilah, Naruto." Sasuke menghentikan ucapannya sejenak setelah dia melihat topeng Naruto tergeletak di atas tempat tidur temannya itu. Dia memberikan topeng tersebut kepadanya. "Naruto, ini topengmu. Jangan sampai tertinggal."

"Terima kasih, Sasuke."

Naruto memakai topeng kitsune untuk menutupi wajahnya. Tidak lupa dia juga memakai jubah berwarna abu-abu muda dengan tudung di bagian kepala. Semuanya ini dilakukan oleh Naruto untuk menghindari dirinya dikenali oleh publik. Dirinya merasa kalau belum siap bagi dirinya untuk menunjukkan jati dirinya ke publik.

Setelah mengikuti arahan dari alat pelacaknya, Naruto tiba di sebuah tempat yang terletak di sebelah barat Desa Ombak. Tempat tersebut sangat luas. Ada sekiranya 3 bangunan seperti gudang penyimpanan barang di tempat tersebut. Namun, setelah Naruto melihat lebih dekat, betapa terkejutnya dia saat dia melihat bahwa gudang-gudang tersebut berisi banyak karung uang.

'Gila banyak sekali uang di sini. Pasti mereka mendapatkan uang dengan cara menagih iuran bulanan yang nilainya sangat mencekik selama tiga tahun. Tak terbayang seberapa besar penderitaan yang dialami oleh para penduduk,' batin Naruto sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.

Naruto kemudian melihat ke sekeliling tempat itu untuk melihat ada berapa orang yang menjaga tempat itu. Ternyata ada cukup banyak mafia di sana. 'Hmm...sepertinya ini akan mudah. Ada beberapa penyihir, tapi mereka hanyalah penyihir biasa. Energi sihir mereka tidak begitu besar.'

Naruto langsung melompat ke atap salah satu gudang, lalu berselancar menuruni tempat itu dengan sedikit menggunakan sihir airnya. Kemudian, dia melompat tepat di tengah orang-orang yang sedang menjaga tempat itu. Alhasil, mereka semua kaget dan langsung memasang kuda-kuda untuk bertarung.

"Siapa kamu?" ucap salah satu dari penjaga gudang penyimpanan uang itu.

"Aku adalah orang yang akan menghukum kalian, para anak buah Gatou," balas Naruto.

Para anak buah Gatou itu kaget saat mendengar bahwa Naruto bisa mengenali mereka. Mereka segera mencabut pedang mereka. Sementara mereka yang memiliki ilmu sihir segera menciptakan bola-bola di tangan mereka dengan kekuatan sihir mereka. Intinya, mereka semua bersiap untuk menyerang Naruto.

"Sialan kamu, Orang Asing! Kami akan membunuhmu! Kamu sudah mengetahui identitas kami sebagai anak buah Gatou! Sekarang, terima kematianmu! Hyaaah!"

Para anak buah Gatou itu berusaha menyerang Naruto dengan menebaskan pedang mereka ke arah penyihir Namikaze-Uzumaki itu. Tentu saja Naruto dapat menghindari serangan-serangan itu dengan cepat.

"Hmph...Terlalu lamban," ejek Naruto.

Setelah menghindari serangan-serangan tersebut, Naruto berlari dan menebas beberapa anak buah Gatou itu dengan pedang air buatannya. Melihat teman-teman mereka dikalahkan, para anak buah Gatou yang lain segera berniat untuk mengeroyok Naruto.

"Water Release: Water Formation Wall." Naruto membuat serangkaian segel tangan, lalu dia menyemburkan aliran air yang mengitarinya dan membentuk formasi seperti tembok. Aliran air tersebut sangat deras sehingga membuat para anak buah Gatou yang berniat menyerangnya menjadi terhalangi.

"Sialan! Aliran airnya deras sekali!" umpat salah satu dari anak buah Gatou.

Tanpa memperdulikan umpatan tersebut, Naruto kembali membuat serangkaian segel tangan untuk mengeluarkan teknik sihir selanjutnya. Kali ini, dia akan mengeluarkan teknik sihir petir. Percikan petir muncul segera setelah Naruto selesai membuat segel tangannya.

"Lightning Release: Wave of Inspiration." Naruto menciptakan aliran petir dan menghantarkannya ke tembok air yang barusan dia buat. Alhasil, para anak buah Gatou yang sebelumnya berniat menyerang Naruto langsung terjatuh dan pingsan karena kesetrum.

"Kurang ajar kau, Manusia Bertopeng. Kau telah melukai teman-temanku. Sekarang akan kukalahkan kalian dengan kekuatan sihir kami!"

"Itu benar! Kau adalah pengecut! Kau hanya berani menyerang teman-teman kami yang tidak memiliki kekuatan sihir. Sekarang, terimalah kematianmu!"

Para penyihir yang menjaga gudang penyimpanan uang itu langsung menyerang Naruto dengan gelombang sihir secara bersamaan. Melihat hal ini, Naruto segera menghitamkan tangan kanannya dengan busoshoku hakinya, lalu mengarahkannya ke arah mereka.

"Water Release: Water Mirror Technique." Naruto membuat sebuah cermin air yang merefleksikan bayangan dari para penyihir musuh yang menyerang. Setelah itu, Naruto memutar cermin tersebut ke belakang.

Alhasil, bayangan tersebut menjadi nyata dan menyerang ke arah yang sebaliknya, yaitu para penyihir musuh. Serangan Naruto dan serangan para penyihir musuh saling bertabrakan. Namun, karena serangan Naruto sudah diperkuat dengan busoshoku haki, serangan para penyihir musuh pun kalah dan mereka semua terkena oleh serangan Naruto.

Setelah mengalahkan para musuhnya, Naruto memasuki 3 gudang yang ada di sana dan mengambil semua karung uang yang ada di sana. Karena uang yang ada di sana jumlahnya sangat banyak, Naruto pun mengeluarkan enam gulungan dan menyegel semua uang tersebut ke dalam kertas gulungan miliknya.

Naruto sendiri hanya mengambil tiga ikat uang miliknya yang dia tandai dengan pelacak. 'Sisa dari uang ini akan kukembalikan kepada para penduduk desa,' batinnya sebelum dia kembali ke kamarnya dan membawa semua uang yang telah dia simpan di dalam kertas gulungan miliknya.

Sesampainya di kamarnya, Naruto disambut oleh Sasuke dan Menma yang sudah membeli makanan untuk mereka bertiga. Adapun menu makan malam yang dibeli Menma adalah satu porsi onigiri dan dua mie ramen instan.

"Aku pulang, Teman-teman," sahut Naruto.

"Selamat datang kembali, Naruto," sapa Sasuke dan Menma.

"Wah, menu makan malamnya sudah siap. Terima kasih Menma," ucap Naruto setelah melihat menu makan malam sudah tertata rapi dan siap dimakan.

"Sama-sama, Naruto-san," balas Menma. "Omong-omong, bagaimana urusanmu dengan orang-orang Gatou itu? Sasuke bilang kamu pergi ke sana untuk menghajar mereka dan mengambil kembali uangmu."

"Semuanya berjalan dengan lancar, Menma. Aku sudah berhasil mendapatkan kembali semua uangku hehe," jawab Naruto.

"Oh ya, Naruto-san. Tadi ketika aku pergi keluar untuk membeli makan, aku mendapatkan sebuah informasi penting. Ini terkait dengan keadaan desa ini," ucap Menma.

"Katakan, Menma, informasi apa yang telah kau dapat?" tanya Naruto penasaran. Tak hanya dia, Sasuke pun juga penasaran dengan informasi yang didapat oleh Menma.

"Desa ini sekarang sedang dikuasai oleh kelompok mafia yang diketuai oleh Gatou. Mereka berasal dari Kerajaan Kiri. Tapi, bukan itu intinya. Kalian mau tahu apa yang menyebabkan munculnya kelompok mafia Gatou bisa bebas beroperasi tanpa adanya tindakan dari Kerajaan Kiri?" jelas Menma panjang lebar.

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Menma itu tentu saja membuat Naruto dan Sasuke sedikit berpikir. Benar juga, kenapa Gatou dan kelompoknya bisa bergerak dengan bebas tanpa ditindak oleh Kerajaan Kiri.

"Kerajaan Kiri saat ini sedang mengalami krisis internal dimana kubu pemerintah yang tiran berperang melawan kubu pemberontak yang ingin membebaskan Kerajaan Kiri. Konflik internal tersebut membuat para kriminal bisa berbuat onar baik di luar maupun di dalam wilayah kerajaan itu," lanjut Menma menjelaskan informasi yang didapatnya.

"Hmm...pantas saja Kerajaan Kiri tidak menindak kelompok Gatou. Mereka saja sedang ada dalam kesulitan. Teman-teman, aku rasa kondisi yang dialami kerajaan tersebut bisa kita manfaatkan untuk menambah anggota kelompok ini. Kerajaan besar seperti Kerajaan Kiri pasti memiliki banyak penyihir yang hebat," ucap Naruto.

"Hn...Kali ini aku setuju denganmu, Naruto. Kondisi seperti itu bisa kita manfaatkan untuk mencari aliansi juga," ujar Sasuke.

"Benar. Aku setuju dengan usulan Naruto-san," ucap Menma yang juga setuju dengan perkataan Naruto.

"Yosh! Kalau begitu, sudah dipastikan kalau kita akan pergi ke Kerajaan Kiri setelah kita menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh kelompok Gatou!" seru Naruto.

"Sebaiknya kalian jangan terburu-buru pergi ke Kerajaan Kiri."

Tiba-tiba, ada seorang pria dewasa yang masuk ke kamar Naruto dan kawan-kawan melalui jendela dan menyarankan mereka bertiga agar tidak pergi ke Kerajaan Kiri. Sontak, ketiga penyihir muda itu kaget dibuatnya. Mereka bukan kaget karena ada suara orang secara tiba-tiba, tapi mereka kaget karena melihat siapa orang yang masuk ke kamar mereka dan ikut bergabung dalam percakapan mereka.

"K-Kau," ucap Naruto, Sasuke, dan Menma yang masih tidak percaya dengan orang yang mereka lihat.


Bersambung...


Yoo, apa kabar kalian semua? Sudah lama tidak bertemu dengan kalian wkwk

Terima kasih untuk kalian yang sudah dukung + nungguin fic ini.

Pertama, saya mau minta maaf karena baru muncul. Saya menghilang 5 bulan dikarenakan kesibukan saya sbg mahasiswa tingkat akhir (you know lha...). Tapi, tidak apa-apa. Sekarang semuanya sudah beres, jadi saya punya waktu luang utk nerusin fic ini.

Oh ya, soal posisi Naruto di fic ini, dia ga bakalan sampai jadi villain atau penjahat. Dia bakalan ada di tengah2, jahat engga, tapi engga bakalan satu kubu sama hero juga, which is Fairy Tail dan guild2 terang lainnya. Dia bakalan bikin kubu sendiri, tapi ntar sejalan sama kubu hero karena kebetulan ada beberapa goals yg sama dengan goals kubu hero.

Sekian untuk update kali ini. Semoga kalian bisa terhibur dengan chapter ini. Terima kasih dan sampai jumpa di update selanjutnya.


Jawab Review

Rocks d cobek: halo terima kasih sudah bertanya. Di chapter ini kan sudah keliatan kalau elemen Naruto itu air sama petir. Jadi, berdasarkan sistem elemen di Naruto universe, Naruto di fic ini akan lemah terhadap elemen angin dan es. Untuk haki, kelemahannya kalau Narutonya diserang pengguna haki yang lebih kuat dari dia. Naruto di fic ini bukan satu-satunya pengguna haki dan bukan pengguna haki yang paling kuat.