"Sebaiknya kalian jangan terburu-buru pergi ke Kerajaan Kiri."
Tiba-tiba, ada seorang pria dewasa yang masuk ke kamar Naruto dan kawan-kawan melalui jendela dan menyarankan mereka bertiga agar tidak pergi ke Kerajaan Kiri. Sontak, ketiga penyihir muda itu kaget dibuatnya. Mereka bukan kaget karena ada suara orang secara tiba-tiba, tapi mereka kaget karena melihat siapa orang yang masuk ke kamar mereka dan ikut bergabung dalam percakapan mereka.
"K-Kau," ucap Naruto, Sasuke, dan Menma yang masih tidak percaya dengan orang yang mereka lihat. "Shisui?!"
"Lama tidak ketemu, Naruto, Sasuke, dan Menma," sapa Shisui.
Tentu ketiga penyihir muda itu terkejut saat mereka melihat Shisui. Raut muka benci langsung timbul di wajah mereka. Naruto bangkit dari antara mereka. Dengan begitu marah, dia berteriak ke arah Shisui, "Kau! Setelah kau mengkhianati kami, kau masih berani untuk menampilkan diri di depan kami?! Kami tahu kau sekarang adalah anggota Sprigan 13!"
Dikuasai amarah, Naruto langsung menyerang Shisui, melayangkan tinjuan cepat ke arah wajah penyihir Uchiha. Tanpa banyak usaha, Shisui menahan tinjuan tersebut, lalu secepat kilat mendorong Naruto ke lantai dan mengunci pergerakannya.
"Naruto, Kumohon dengarkan aku!" pinta Shisui.
"Dengarkan apa lagi, Shisui? Kami semua sudah mendengar kabar kalau kau bergabung dengan Spriggan 13. Kami semua tahu kalau kau adalah pengkhianat!" tegas Sasuke yang kini berdiri di samping Shisui dan mengancamnya dengan sebuah pedang.
"Aku kira ada kesalahpahaman di sini. Kalian harus memberiku kesempatan untuk menjelaskannya," ucap Shisui membela diri. Dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari tas ransel miliknya, lalu memberikannya ke Sasuke. "Ini adalah surat dari Karasu. Dia ingin aku memberikan surat ini kepada kalian."
Penasaran, Sasuke mengambil gulungan kertas tersebut, lalu membacanya. Alangkah kagetnya dia saat menyadari bahwa apa yang diucapkan Shisui benar adanya. "Syukurlah, kukira kamu beneran berniat bergabung dengan mereka."
"Tentu saja tidak, Sasuke. Aku bergabung mereka atas arahannya," kata Shisui.
"Arahannya?" gumam Sasuke kebingungan.
"Arahan Karasu..." Shisui menjeda ucapannya sebentar. Dia menyelimuti kamar Naruto dkk dengan jurus Silent-nya. Dengan tatapan serius, dia melihat ke arah Sasuke. "Dia adalah kakakmu."
"Seperti yang kamu baca di surat itu, setelah peristiwa jatuhnya Kerajaan Uchiha, aku dan Itachi memutuskan untuk berpura-pura bergabung dengan mereka. Diam-diam kami mempersiapkan langkah untuk membalas mereka," ucap Shisui melanjutkan perkataan sebelumnya.
"Kalau begitu, kenapa Itachi-san tidak pernah memberitahu kami tentang dirimu?" tanya Naruto yang masih curiga pada Shisui. "Itachi-san setidaknya merupakan orang yang membimbing kami secara sembunyi-sembunyi. Walaupun dia tidak pernah mengunjungi kami, tapi dia selalu mengirimi kami surat. Berkebalikian dengannya, kamu tidak pernah mengabari kami, Shisui."
Tidak ingin situasi bertambah tegang, Shisui melepaskan Naruto dan membiarkannya untuk duduk. Melihat hal ini, Sasuke segera menyarungkan pedangnya kembali dan duduk. Baik dirinya dan Naruto memberi Shisui kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"6 tahun yang lalu, setelah Klan Uchiha terbantai, Madara-sama, Fugaku-san, dan Mikoto-san dieksekusi mati oleh Spriggan 13. Sebenarnya baik Zeref ataupun Spriggan 13 tidak terlalu peduli dengan nasib para pendahulu klan Uchiha tersebut. Tapi, Obito yang merupakan sekutu baru mereka terus menerus meminta agar mereka dieksekusi mati. Alhasil, para anggota Spriggan 13 pun mengiyakan permintaan Obito itu," jelas Shisui.
Mendengar penjelasan Shisui, Naruto pun marah bukan main. Walaupun Madara dan yang lainnya bukan siapa-siapanya dia secara biologis, tetapi mereka telah memperhatikan, merawat, dan melatih Naruto hingga menjadi seperti ini.
"Sialan si Obito itu," geram Naruto sambil mengepalkan tangan kanannya.
Sama halnya dengan Naruto, Sasuke dan Menma juga merasa marah dengan Obito. "Dasar si pengkhianat itu," gumam mereka.
"Aku mengerti kalian semua terbawa emosi dengan ceritaku. Tapi, izinkan aku untuk menyelesaikan ceritaku. Waktuku tidak banyak," tegur Shisui.
Naruto dan kawan kawan pun mengangguk tanda mereka paham dengan teguran Shisui barusan. Mereka pun kembali fokus untuk mendengarkan cerita darinya.
"Setelah Madara-sama dan para pendahulu klan Uchiha dieksekusi mati, aku direkrut oleh Irene dari Spriggan 13. Sementara itu, Itachi-san direkrut oleh Obito untuk menjadi anggota Akatsuki. Melihat bahwa peluang untuk membalas mereka masih ada, kami berdua pun diam-diam menjalankan operasi bawah tanah untuk mengumpulkan kekuatan. Itulah alasan mengapa diriku berada di sini sekarang," jelas Shisui.
"Alasan berada di sini sekarang?" beo Naruto dan kawan-kawan.
"Benar. Aku datang kemari untuk memberitahumu tentang rencana rahasia ini, yaitu rencana rahasia untuk menjatuhkan Zeref dan para sekutunya, termasuk Obito dan Akatsuki. Aku dan Itachi-san memang tidak bisa terang-terangan mencari penyihir-penyihir kuat untuk kami rekrut. Tapi, kamu bisa melakukannya, Naruto," ucap Shisui.
Naruto mengangguk pelan tanda dia paham dengan ucapan Shisui. Penyihir muda keturunan Namikaze-Uzumaki itu melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Memang itu yang ingin kami bertiga ingin lakukan. Kami ingin merekrut penyihir hebat sebanyak-banyaknya demi mengalahkan Zeref beserta antek-anteknya. Sebelum kamu datang, Itachi-san telah mengabarkan pada kami tentang rencana rahasia tersebut. Hanya saja dia tidak menyebut namamu. Jadi, kami bertiga tidak tahu jika dirimu berada di pihak kami juga, Shisui-san," ucap Naruto.
"Hehe wajar sih, jarak antara markas Spriggan 13 dan markas Akatsuki tergolong jauh. Hal itu membuat kami tidak bisa berkomunikasi dengan sering," ucap Shisui sambil tertawa pelan.
"Saat ini kami sedang memantau dua orang penyihir yang mengawal seorang mafia bernama Gatou," ucap Sasuke bergabung dengan percakapan.
"Oh, Zabuza Momochi dan Haku Yuki ya. Mereka terkenal sebagai duo iblis dari Kirigakure. Aku sudah pernah bertarung dengan mereka sekali. Menurutku, kekuatan mereka lumayan hebat," ucap Shisui.
"Oh ya, Shisui-san. Mengapa tadi kamu melarang kami untuk pergi ke Kerajaan Kiri? Apakah di sana sedang terjadi sesuatu yang berbahaya?" tanya Menma yang juga bergabung dengan percakapan.
"Raja dari Kerajaan Kiri saat ini, Yagura Karatachi entah bagaimana caranya jatuh dalam pengaruh Obito dan Akatsuki. Pergi ke Kerajaan Kiri sekarang sama saja dengan menyerahkan diri kepada musuh," ucap Shisui memperingatkan Naruto dan kawan-kawan.
"Begitu ya...Uhm kalau begitu, kita mungkin bisa mulai dari Kerajaan Konoha atau Kerajaan Suna," ucap Naruto.
"Dari informasi yang kudapat, Kerajaan Konoha sedang mengalami krisis akibat perang berkepanjangan dengan Kerajaan Oto. Situasinya cukup beresiko. Aku menyarankan agar kalian pergi ke Kerajaan Suna saja terlebih dahulu. Kondisinya relatif stabil," saran Shisui.
"Baiklah kalau begitu. Sudah kami bertiga akan pergi ke Kerajaan Suna setelah kami berhasil merekrut Zabuza dan Haku," ucap Naruto.
Sasuke dan Menma tersenyum, lalu mengangguk tanda mereka setuju dengan keputusan Naruto. Bagaimanapun Narutolah orang yang ditunjuk oleh Madara untuk memimpin mereka semua. Mereka haruslah menghormati semua keputusan penyihir Namikaze-Uzumaki itu.
"Baiklah kalau begitu. Aku rasa aku sudah menyampaikan semua yang perlu kusampaikan. Aku akan pergi sekarang. Sebagai hadiah perpisahan, ini aku beri data tentang para anggota Spriggan 13 beserta dengan kekuatan mereka. Kuharap data ini bisa berguna bagi kalian," ucap Shisui sambil menyerahkan sebuah buku kepada Naruto.
Naruto menerima buku tersebut dan membuka beberapa lembar untuk melihat isinya. Seperti yang Shisui katakan, buku itu berisi data-data tentang para anggota Spriggan 13. Penyihir Namikaze-Uzumaki pun tersenyum puas karena dia merasa kalau informasi tentang mereka sangatlah berguna.
"Terima kasih banyak atas informasi yang kau berikan, Shisui-san. Kami minta maaf atas perbuatan kami sebelumnya yang tidak sopan," ucap Naruto sambil membungkukkan tubuhnya. Sikap tubuhnya juga dilakukan oleh Sasuke dan Menma.
"Kalian tidak perlu meminta maaf padaku. Yang tadi itu wajar terjadi karena kesalahpahaman," ucap Shisui sambil tersenyum. "Karena tidak ada yang perlu kusampaikan lagi, maka aku akan pergi sekarang."
"Baiklah. Sampai jumpa di lain waktu, Shisui-san," ucap Naruto.
Shisui tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda dia merespon ucapan Naruto. Setelah itu, dia menghilang dari hadapan mereka. Hal itu membuat mereka kagum dengan kecepatan Shisui.
"Cepat sekali dia," ucap Naruto.
"Kecepatan Soru Shisui-san memang tiada tandingannya," ucap Menma.
"Hn," gumam singkat Sasuke.
(Keesokan Harinya)
Naruto, Sasuke, dan Menma sedang berada dalam perjalanan untuk pergi ke markas Gatou. Mereka berhasil mengetahui lokasi markas mafia tersebut dengan menguping pembicaraan para warga Desa Ombak.
"Kata orang-orang, markas Gatou berada di sebelah utara desa ini," ucap Menma.
"Kalau begitu kita akan pergi ke sana sekarang," ucap Naruto.
"Baiklah/Hn," respon singkat Menma dan Sasuke.
"TOLONG! TOLONG AK- UMMPH!"
Naruto dan kawan-kawan terkejut karena dia mendengar suara teriakan minta tolong. Mereka menghentikan perjalanan mereka ke markas Gatou dan berusaha mencari sumber dari suara yang mereka dengar itu.
"Kau mendengar suara itu, Sasuke?" tanya Naruto.
"Hn. Itu suara teriakan seorang wanita," jawab Sasuke.
"Kita harus menolong wanita itu," ucap Naruto yang bersiap untuk berjalan mengikuti asal suara teriakan yang didengarnya.
Sasuke segera menghentikan langkah Naruto. Dengan tangan kanannya, penyihir Uchiha itu mencengkram erat pundak sebelah kanan sahabatnya itu. Wajahnya tampak kesal dengan sikap Naruto yang menurutnya gampang sekali untuk berubah, alias plin plan.
"Tunggu, Naruto! Kita di sini tidak untuk menjadi pahlawan bagi desa ini! Kita punya tujuan yang harus dicapai!" seru Sasuke memperingatkan Naruto.
"Ingat, Sasuke. Selain menghimpun kekuatan, kita juga ingin mencari dukungan sebanyak-banyaknya di benua Elemental Nation ini. Kita bisa mendapatkannya jika kita membela orang-orang yang baik di sini," ucap Naruto yang masih bersikeras pada pemikirannya.
"Tapi, kita harus menemukan dua penyihir Kerajaan Kiri itu secepatnya. Setelah itu kita harus pergi ke Kerajaan Suna seperti yang disarankan oleh Shisui-san," ucap Sasuke yang bersikeras enggan menolong wanita itu.
"Ano... Sasuke. Sebenarnya aku juga setuju dengan Naruto," ucap Menma.
Sasuke terkejut ketika dirinya mendengar bahwa Menma juga setuju dengan Naruto. Dirinya tak habis pikir kenapa rekan seakademinya itu bisa setuju untuk bermain 'superhero-superhero-an.'
"Apa yang kau pikirkan, Menma?! Kita tidak sedang bermain role play superhero di sini. Mengapa kita harus menolong seorang wanita yang kita tidak kenal?!" kesal Sasuke yang menaikkan sedikit volume suaranya.
"Kalau begitu, biarkan aku saja yang menolong wanita tersebut. Sementara kau dan Naruto-san bisa melanjutkan perjalanan ke markas Gatou. Nanti aku akan menyusul," ucap Menma.
Sasuke menghela nafas setelah dia mendengarkan ucapan Menma. Dia merasa tidak ada gunanya lagi untuk beradu mulut dengan kedua temannya. Alhasil dia pun menyetujui ucapan Menma walaupun dia sebenarnya berkeluh resah di dalam hatinya.
"Hah...Baiklah...Aku setuju denganmu dan juga Naruto, Menma," ucap Sasuke yang kemudian diikuti oleh desahan pelan tanda dia tengah mengeluh.
"Hehe. Kalau begitu, aku memutuskan bahwa kita akan berpisah untuk sementara waktu. Aku dan Sasuke akan melanjutkan perjalanan ke markas Gatou. Sementara itu, Menma akan menolong wanita yang meminta berteriak minta tolong tadi," ucap Naruto menetapkan keputusannya.
"Baiklah, Naruto-san, Sasuke. Kalau begitu aku akan pergi ke arah sumber suara teriakan tadi sekarang. Kalian berdua berhati-hatilah," ucap Menma.
"Kau juga Menma. Jaga dirimu baik-baik," ucap Naruto.
"Hn. Jangan sampai dirimu terluka atau tertangkap oleh musuh," ucap Sasuke memperingatan Menma.
Menma tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dan peringatan dari Naruto dan Sasuke. Setelah itu, dia menghilang dari hadapan kedua temannya dengan menggunakan teknik Soru-nya.
WUUUSH!
Dengan menggunakan teknik Soru mereka, Naruto dan Sasuke melesat menuju ke markas Gatou dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua tidak mengobrol sama sekali dalam perjalanan. Mereka berdua tampak terburu-buru.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di markas Gatou. Bangunan di mana mafia dan para bawahannya itu tinggal terlihat sangat megah. Kondisinya berbanding terbalik dengan kondisi rumah para warga yang pas pasan, bahkan beberapa di antaranya tidak layak huni. Naruto memandang markas mafia itu dengan tatapan datar dan tenang. Namun, Sasuke bisa menyadari adanya sebuah kebencian yang tersirat dalam tatapan temannya itu.
"Ada apa, Naruto? Sepertinya kau sangat benci dengan Gatou?" tanya Sasuke.
"Aku benci segala macam bentuk perbudakkan," jawab Naruto. "Aku akan membebaskan desa ini dari cengkraman Gatou."
Sasuke menatap sebentar ke arah Naruto. Dia jadi teringat akan masa lalu dari temannya yang merupakan mantan budak itu. Meskipun dia tidak pernah merasakan hidup sebagai budak, tapi dia tahu bahwa kehidupan budak sangatlah amat menyedihkan. Jadi, sangat normal jika Naruto membenci perbudakan karena dirinya mantan budak.
"Aku tahu itu, Naruto. Aku benci menjadi superhero. Tapi, kalau kau ingin membebaskan desa ini, aku akan membantumu," ucap Sasuke.
"Terima kasih, Sasuke. Kalau tempat ini adalah markas Gatou, aku yakin dua penyihir Kiri yang kita cari juga berada di sini. Ayo kita masuk," ajak Naruto.
"Hn," gumam singkat Sasuke.
Naruto dan Sasuke melangkah masuk ke markas Gatou. Tentu saja mereka telah menutupi penampilan mereka dengan topeng dan jubah seperti biasa. Mereka berdua lalu dihentikan oleh seorang petugas keamanan. Orang itu memeriksa mereka dengan menggunakan semacam alat pendeteksi. Alat pendeteksi itu berbunyi tanda bahwa ada sesuatu yang salah.
"Tuan-tuan sekalian. Alat pendeteksi ini mendeteksi adanya energi sihir dalam diri kalian. Penyihir yang hendak masuk ke bangunan ini harus di-"
Belum sempat si petugas keamanan itu menyelesaikan ucapannya, Naruto sudah meninju orang itu hingga dia terpental menabrak pintu masuk, membuatnya sedikit retak. Hal ini pun dilihat oleh para petugas keamanan yang lainnya. Mereka langsung mengepung Naruto dan Sasuke.
"Jadi, kita harus berurusan dengan mereka ya, Kurama?" tanya Sasuke dengan nada meremehkan.
"Aku rasa begitu, Taka" jawab Naruto.
Sasuke menghunus pedang yang dia bawa dan memasang kuda-kuda untuk bertarung. Naruto mengeluarkan dua buah kunai bercabang tiga dari tasnya, lalu melakukan hal yang sama. Para petugas keamanan tidak mau kalah. Mereka terlihat percaya diri untuk bertarung dengan Naruto dan Sasuke.
HYAAH!
Para petugas keamanan menyerang Naruto dan Sasuke secara bersamaan. Namun kedua penyihir muda tersebut terlihat bisa mengatasi mereka dengan mudah. Dengan serangkaian teknik bela diri ala ninja, Naruto dan Sasuke bisa mengalahkan para petugas keamanan.
Seorang petugas keamanan mencoba untuk memukul Naruto dengan menggunakan tongkat batonnya. Naruto sedikit bergeser ke samping untuk menghindari serangan tersebut. Dengan cepat, dia kemudian menusuk paha dari petugas keamanan itu dengan kunainya. Kemudian dia berputar ke arah belakang petugas keamanan itu dan menyayat leher samping orang itu, membuatnya tewas seketika.
Tiga orang petugas keamanan lainnya terlihat marah dan menyerang Naruto secara bersamaan, berpikir bahwa mereka akan bisa mengeroyoknya. Dengan cepat, Naruto melemparkan kunai yang dia pegang ke arah salah satu petugas keamanan hingga menembus dada kiri orang itu.
Tidak memegang senjata apapun, Naruto dengan tanpa takut menghadapi dua petugas keamanan lainnya. Petugas keamanan kedua berniat untuk menusukkan tongkat batonnya ke arah Naruto. Tapi, dia berhasil menghindari serangan itu, lalu menendang perut petugas keamanan kedua. Setelah itu, dia memukul wajah orang itu dan melemparnya hingga orang itu menabrak tembok yang ada di belakangnya.
Petugas keamanan ketiga yang hendak memukulkan tongkat batonnya ke kepala Naruto. Tetapi, penyihir muda itu dapat dengan mudah menghindari serangan tersebut dengan menundukkan kepalanya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah kunai lagi dari tasnya dan menusukkannya ke kaki orang itu. Tanpa menghiraukan teriakannya, Naruto memukul kedua sisi kepala orang itu dengan telapak tangannya. Setelah melayangkan beberapa tinjuan ke badan petugas keamanan ketiga, Naruto mencabut kembali kunainya dan menggunakannya untuk menyayat leher orang itu.
Sama seperti Naruto, Sasuke kini juga sedang berhadapan dengan para petugas keamanan markas Gatou. Seorang petugas keamanan melangkah maju ke arah Sasuke dan berniat untuk memukulnya dengan tongkat baton miliknya. Sasuke sedikit menggeser tubuhnya ke kanan untuk menghindari serangan tersebut. Kemudian, dia menyabetkan pedangnya tepat di dada orang itu, membuatnya ambruk seketika.
Empat orang petugas keamanan lainnya mencoba mengeroyok Sasuke. Dua orang pertama menyabetkan tongkat baton mereka ke arahnya. Dia berhasil menghindari serangan kedua musuhnya itu dengan sedikit menundukkan badannya. Setelah itu, dia menyabetkan pedangnya ke arah mereka dengan secepat kilat untuk menyerang balas, membuat mereka terjatuh dengan luka sayat di kaki mereka.
Melihat teman-teman mereka dibantai, dua orang petugas keamanan yang lain berniat untuk kabur. Tetapi, baru saja mereka membalikkan tubuh mereka, Sasuke telah melompat dan mendarat di hadapan mereka terlebih dahulu. Dia memegang perut mereka dengan kedua tangannya.
"Chidori Current!" seru Sasuke sambil mengaktifkan jurusnya.
Sasuke mengalirkan energi petir ke dua orang petugas keamanan yang dipegangnya. Dua orang malang itu pun tak kuasa menahan kekuatan Sasuke dan mereka pun takluk. Setelah melumpuhkan mereka, sang penyihir Uchiha itu menginterogasi mereka.
"Di mana Gatou dan yang lainnya berada?" tanya Sasuke.
"Ya-yang lain siapa?" tanya balik salah satu petugas keamanan.
"Zabuza Momochi dan Haku Yuki. Di mana mereka semua? Tempat ini terlihat sepi," tanya Sasuke sekali lagi.
SRIING!
Sasuke melepaskan sedikit aura intimidasi dengan menggunakan Haoushoku Haki-nya untuk menakut-nakuti petugas keamanan yang diinterogasinya. Kedua orang itu merasa terintimidasi dan gemetaran segera setelah Sasuke melepas aura intimidasinya.
"Ba-baiklah. Gatou-sama dan semua penyihir bawahannya sedang menyerang jembatan yang dibangun Tazuna dan para warga desa. Jembatan tersebut dibangun dengan maksud untuk mempermudah Desa Ombak menjalin hubungan dengan Kerajaan Konoha. Jika hal itu sampai terjadi, maka kami akan kesulitan menindas desa ini lagi. Oleh karena itu, kami menyerang jembatan itu dan berencana untuk menghancurkannya bersama dengan Tazuna dan para penduduk desa yang terlibat dengan pembangunan jembatan tersebut," jawab salah satu petugas keamanan markas Gatou.
"Menjijikkan. Kalian membawa banyak penyihir untuk mengintimidasi para penduduk desa yang notabene merupakan manusia biasa," ucap Naruto dengan ketus.
"I-itu semua merupakan Gatou-sama. Ka-kami tidak bisa-AARGH!"
Ucapan si petugas keamanan markas Gatou itu terpotong karena Sasuke tiba-tiba menghunus pedangnya dan menusukkannya di paha orang itu. Sontak, orang itu pun tambah ketakutan lagi. Tapi penyihir muda Uchiha itu tampak tak peduli dan kembali menginterogasinya.
"Di mana letak jembatan tersebut? Kami berdua ingin segera menemui Gatou, Zabuza, dan Haku," ancam Sasuke.
"Ba-baik. Akan kujawab. Jembatan itu terletak di sebelah timur desa ini. Letaknya agak jauh dari tempat ini. Mungkin akan makan waktu satu jam-an untuk sampai ke sana," jawab si petugas keamanan markas Gatou itu.
"Baiklah. Terima kasih atas kerjasamanya. Aku serahkan sisanya kepada temanku," ucap Sasuke sambil mencabut pedangnya dari paha orang yang baru dia interogasi. Dia kemudian menatap ke arah Naruto dan berkata, "Jadi, mau kau apakan orang-orang ini, Kurama?"
"Gatou dan kalian para anak buahnya merupakan orang jahat yang telah memperbudak desa ini secara finansial. Kalian membuat desa ini tercekik, sementara kalian semua menikmati uang yang kalian dapatkan melalui monopoli perdagangan desa dan iuran bulanan yang jumlahnya tidak masuk akal. Kalian harus diberi pelajaran," ucap Naruto.
Mendengar ucapan Naruto, kedua orang petugas keamanan markas Gatou itu pun langsung ketakutan. Memang ucapan dari penyihir Namikaze-Uzumaki itu bernada datar. Tapi, mereka tahu kalau ucapannya tidak main-main. Mereka tahu bahwa dia serius ingin memberi mereka pelajaran.
"Tu-Tung-gu, Tuan. Ja-"
BUAGH!
Tanpa ampun, Naruto meninju salah satu dari petugas keamanan markas Gatou itu hingga terpental jauh menembus beberapa lapis tembok di belakangnya. Melihat temannya diperlakukan seperti itu, petugas keamanan kedua pun marah. Dia mengeluarkan sebuah pisau dan berniat untuk menikam Naruto. Tapi, sebelum dia berhasil melakukannya, Naruto terlebih dahulu menendang tubuh si petugas keamanan kedua itu hingga dia terpental cukup jauh dan tak berkutik lagi.
"Sudah puas, Kurama?" tanya Sasuke.
"Aku tidak akan puas kalau aku belum menghajar Gatou dengan tanganku sendiri," jawab Naruto.
"Kalau begitu mari kita pergi menemui dia sekarang," ajak Sasuke.
"Tunggu. Sebelum kita pergi, biarkan aku melakukan satu hal terlebih dahulu," ucap Naruto.
"Apa itu?" tanya Sasuke penasaran.
"Aku akan menghancurkan markas Gatou ini. Gedung ini merupakan simbol dari perbudakan yang sudah terjadi di desa ini. Jika gedung ini dibiarkan berdiri tegak, maka sama saja kita setuju dengan simbol perbudakan," jawab Naruto.
BZZT! CIP! CIP!
Naruto mengumpulkan energi sihir petir di kedua tangannya. Kemudian dia berjalan dengan santai menuju ke pintu masuk gedung markas Gatou. Dengan jurusnya itu, dia merusak pintu masuknya. Setelah itu, dia masuk ke dalam dan menghancurkan gedung itu dari dalam.
"Purple Lightning Release: Lightning Current!" seru Naruto.
Naruto mengangkat kedua tangannya dan mengalirkan petir ungunya ke semua sudut markas Gatou itu. Alhasil dalam waktu kurang dari dua menit, bangunan tersebut hancur menjadi puing-puing. Melihat hal ini, Naruto tersenyum puas dan berjalan mendekati Sasuke.
"Heh, kau meniru jurusku, Kurama," ucap Sasuke dengan nada mengejek.
"Hehe, maaf maaf. Habisnya tadi aku bingung mau menggunakan jurus apa, Taka," ucap Naruto.
"Kenapa bingung, bukannya kau menguasai banyak sekali jurus elemen petir?!" ucap Sasuke yang heran dengan penyataan Naruto.
"Kebanyakan dari jurus yang kukuasai memiliki ruang lingkup yang sangat besar. Aku khawatir kalau beberapa rumah warga akan ikut hancur kalau aku menggunakan jurus-jurus tersebut. Markas Gatou ini letaknya dekat dengan permukiman penduduk desa," jelas Naruto.
"Begitu ya," gumam singkat Sasuke sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia paham dengan penjelasan Naruto.
"Ya kurang lebih seperti itu, Taka," ucap Naruto. "Oh ya, omong-omong kita harus segera pergi ke jembatan yang sedang dibangun Tazuna. Aku tidak ingin membiarkan Gatou berbuat seenaknya pada para penduduk desa yang sedang membangun jembatan tersebut. Plus, aku ingin cepat-cepat merekrut Zabuza dan Haku untuk menjadi anggota kelompok kita."
"Hn," respon Sasuke dengan singkat, padat, dan ga jelas.
Naruto dan Sasuke segera bergegas untuk pergi ke jembatan yang sedang dibangun Tazuna. Setelah berlari dan melompati dahan-dahan pohon selama satu jam, kedua penyihir muda itu pun sampai di tempat tujuan mereka. Mereka melihat seorang pria tua yang memakai topi jerami sedang dikawal oleh seorang wanita berambut pink pendek. Mereka juga melihat adanya pertempuran yang sedang terjadi di sana.
"Kurama, kau lihat itu? Sepertinya sedang terjadi sebuah pertempuran," ucap Sasuke.
"Kau benar, Taka. Ayo kita bergabung dengan pertempuran tersebut. Kita cari Zabuza dan Haku," timpal Naruto.
"Hn," gumam singkat Sasuke.
Naruto dan Sasuke melompat keluar dari tempat persembunyian mereka dan segera bergabung dengan pertempuran. Hal ini pun membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan langsung memasang kuda-kuda untuk bertarung melawan Naruto dan Sasuke. Sasuke melihat ke arah simbol yang ada pada hitae ate yang dipakai oleh beberapa orang di sana. Dia pun langsung mengenali simbol yang mewakili kerajaan asal mereka semua. [A/N: Hitae ate adalah ikat kepala yang dipakai oleh para shinobi di serial Naruto. Pada ikat kepala tersebut, terdapat simbol desa asal mereka]
"Sepertinya sedang ada pertempuran antara penyihir Konoha dan penyihir Kiri," ucap Sasuke sambil menghunus pedangnya.
"Siapa kau?" tanya seorang penyihir Konoha yang memakai masker. Dia adalah Kakashi Hatake. Dia menatap tajam ke arah Naruto dan Sasuke, mencurigai mereka sebagai bantuan musuh.
"Kau tidak perlu siapa kami, Penyihir Konoha. Kami tidak ada urusan apa-apa dengan Konoha," ucap Naruto.
Naruto mengalihkan pandangannya ke arah dua penyihir Kiri yang baru saja bertarung dengan para penyihir Konoha. Penyihir muda Namikaze-Uzumaki itu menyipitkan matanya ketika dia melihat simbol Kerajaan Kiri di hitae ate mereka.
"Penyihir Kiri...Kalian berdua pasti Zabuza Momochi dan Haku Yuki," ucap Naruto.
"Siapa kau?!" seru penyihir Kiri yang wajah dan tubuhnya ditutupi perban. Dia adalah Zabuza Momochi. Dia tampak geram melihat pria bertopeng itu bisa mengetahui identitasnya.
"Kau bisa memanggilku dengan nama Kurama," jawab Naruto.
"Apa yang kau inginkan dariku? Tidakkah kau melihat kalau aku bertarung?!" ucap Zabuza yang sedikit kesal dengan Naruto karena telah mengganggu pertarungannya dengan Kakashi.
Naruto melihat sebentar ke arah Kakashi. Diamatinya tubuh penyihir Konoha itu terluka di sana-sini. Bahkan, penyihir muda Namikaze-Uzumaki itu bisa melihat ada sebuah tebasan di tubuh bagian depan Kakashi. Dia pun sedikit merasa kasihan dengan pria berambut perak itu.
Naruto lalu kembali menatap Zabuza. Diamatinya kondisi tubuh penyihir Kirigakure itu tidak lebih baik dari kondisi tubuh Kakashi. Beberapa luka tusuk terlihat pada tubuh pria yang wajah bagian bawahnya ditutupi perban itu. Timbullah rasa kasihan di hati Naruto untuk Zabuza.
"Perkenalkan namaku adalah Kurama. Zabuza Momochi, aku datang kemari dengan niat untuk merekrutmu dan juga Haku ke dalam kelompokku. Aku tidak ingin bertarung denganmu karena kondisi tubuhmu yang seperti itu. Oleh karena itu, bergabunglah denganku," ucap Naruto.
"Kelompok? Kelompok apa? Lalu apa tujuannya?" tanya Zabuza.
"Aku mendirikan sebuah kelompok yang bertujuan untuk memberantas kejahatan, perbudakan, dan guild gelap yang ada di dunia ini. Tenang saja, kami bukanlah penjahat," jawab Naruto.
"Memberantas kejahatan? Terdengar seperti kelompok superhero buatan anak kecil. Aku tidak tertarik untuk bergabung," ucap Zabuza meremehkan Naruto.
"Tidak tahukah kalau kau dan partnermu, Haku Yuki sedang diperbudak oleh Gatou. Kalian memang dianggap sebagai bawahannya. Tapi, apakah kau tahu kalau mafia jahat itu menjadikan kalian sebagai bawahannya karena dia ingin mencapai keinginan pribadinya. Dia sama sekali tidak memikirkan kalian," ucap Naruto yang masih berusaha untuk mempengaruhi Zabuza. Sebisa mungkin dia tidak ingin bertarung dengan penyihir Kiri.
"Aku tidak peduli dengan tujuan apa yang hendak dicapai oleh mafia bodoh itu. Yang aku inginkan hanyalah bebas dari Raja Kiri dan membunuh siapapun yang aku mau. Sebaiknya kau cepat minggir dari sini atau kau akan kubunuh, Kurama," ancam Zabuza yang kesal dengan Naruto.
"Aku rasa aku tidak ingin pilihan, Zabuza," ucap Naruto. "Tidak ada jalan lain selain pertarungan."
"Pertarungan? Kau mau bertarung denganku? Apakah kau sedang memberikan nyawamu kepadaku?" ejek Zabuza.
"Terserah kau mau bilang apa, Zabuza. Bagaimanapun juga aku harus mengalahkanmu." Naruto menjeda ucapannya sebentar, lalu melihat ke arah Kakashi yang sudah terluka cukup parah. Kemudian dia melihat ke arah tiga penyihir Konoha lainnya yang mengalami keadaan serupa. Setelah itu, dia kembali menatap Zabuza dan berkata, "Selama kau masih bekerja pada Gatou, maka kau adalah penjahat yang harus dihentikan."
"Heh! Sombong sekali kau! Kau pikir kau bisa menghentikanku hah?!" gertak Zabuza sambil memasang kuda-kuda untuk bertarung.
Mendengar kalau partnernya ditantang bertarung oleh orang asing, Haku pun segera berjalan ke arah Zabuza. Dengan tatapan tajam, pria berpenampilan androgini itu melihat ke arah Naruto. Dia tampak sedikit tidak senang dengan sikap Naruto yang menantang Zabuza. Tapi, di sisi lain, pria itu juga tertarik dengan ajakan penyihir Namikaze-Uzumaki untuk bergabung dalam kelompoknya. [A/N: Androgini adalah istilah untuk menyebut orang yang berpenampilan maskulin dan feminim secara bersamaan]
"Kurama...itu namamu kan?" tanya Haku.
"Benar, Haku Yuki," sahut Naruto.
"Aku secara pribadi tertarik dengan ajakanmu. Tapi, jika kau mau tahu, aku saat ini sedang bekerja untuk Zabuza-sama dan Gatou-sama. Jika kau bersikeras untuk merekrutku, maka kau harus mengalahkanku," tantang Haku. Dia menatap ke arah Zabuza dan bertanya, "Bagaimana denganmu, Zabuza-sama?"
"Heh! Aku juga tertarik dengan manusia bertopeng ini. Sepertinya dia terlihat meyakinkan. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita mengujinya," ucap Zabuza.
Naruto tersenyum di balik topengnya. Dia senang karena mendengar jika Zabuza dan Haku tertarik dengan dirinya. Itu berarti ada kesempatan baginya untuk merekrut mereka berdua. Sebenarnya sosok Hakulah yang membuat Naruto tertarik. Kekuatan sihir es yang dimiliki oleh pria androgini itu membuat penyihir Namikaze-Uzumaki itu berhasrat untuk membawanya ke kelompoknya..
"Baguslah kalau kalian tertarik kepadaku." Naruto menjeda ucapannya sebentar. Dia memasang kuda-kuda untuk bertarung melawan Zabuza dan Haku sekaligus mengetes sejauh mana kekuatan Haku, calon anggota timnya. "Aku tidak akan membunuh kalian. Walaupun kalian berdua adalah anggota kelompok Gatou. Tapi, aku juga tidak akan bersikap lembut."
Bersambung...
Yo! Kembali lagi bersama saya di fic ini. Bagaimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja.
Kelompok Black Dawn sudah mulai menunjukkan aksinya. Walaupun masih pakai penampilan yang tertutup, chapter ini menunjukkan bahwa mereka sudah mulai berani bertindak. Kini, mereka berupaya untuk merekrut Zabuza dan Haku ke kelompok mereka. Di chapter ini, terungkap juga bahwa Itachi dan Shisui merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Zeref, Spriggan 13, dan para sekutu-sekutunya.
Sekian dulu untuk update chapter ini. Sampai jumpa di chapter berikutnya. Semoga chapter ini bisa menghibur kalian. See you next time
