ONE SHOT.
Rate : M
Pairing : MattxMello
Enjoy!
1. Girls and Nicotine
Tangan kanan Mello melayang di udara ketika hampir meraih knop pintu apartemennya. Kedua matanya mengerjap perlahan seperti menyadari sesuatu yang menahan dirinya. Ia menyelipkan beberapa helai rambut pirangnya yang panjang ke belakang telinganya kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan telinga kanannya ke daun pintu.
"Aku seperti mendengar suara lagu klasik," gumam Mello pada dirinya sendiri. Samar-samar ia mendengarkan suara lagu yang mendayu begitu tenang di dalam. Mendengar nada lagunya seperti sebuah lagu dari seorang musisi legendaris tahun 90'an. Lagu itu sempat berhenti kemudian kembali terdengar dari awal.
Mello memutuskan untuk memutar knop pintu apartemennya dan mendorong pelan pintu tersebut.
Wise men say
Only fools rush in
But I can't help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
If I can't help falling in love with you?
Kernyitan di dahi Mello tercetak semakin jelas. "Matt?"
Dari balik tembok yang membatasi ruang makan dan ruang kerja sekaligus tempat tidur mereka, muncul kepala berambut merah yang menyumbul dari baliknya. Sebatang rokok yang masih menyala masih terapit di bibirnya, goggles jingga yang biasanya menutupi iris emerald-nya dinaikkan ke atas memamerkan dahinya.
"Yo," sapa Matt ketika melihat Mello datang dengan membawa satu kantung plastik penuh berisi coklat kesukaannya.
Mello meletakkan kantung kreseknya di atas meja sebelum melepaskan jaket kulit yang membalut tubuh berkeringatnya. Punggung tangannya yang berbalut gloves hitam mengusap keringat yang membanjiri lehernya. Menggunakan pakaian berbahan dasar kulit dan berwarna hitam adalah sebuah kesalahan yang ia lakukan untuk pergi berbelanja di cuaca panas dan sangat terik.
Beberapa helai rambut pirangnya menempel di lehernya, poninya terlihat basah, dan entah mengapa Matt harus merona melihat pemandangan seperti itu.
Take my hand
Take my whole life too
For I can't help falling in love with you
Mello melirik ke arah sahabatnya yang tengah memperhatikan gerak-geriknya. Sebuah dengusan geli keluar dari bibir Mello, sesaat ia berjalan mendekati Matt yang tengah memangku sebuah DS dan laptop. Mello berdiri beberapa meter di hadapan Matt sambil berkacak pinggang, melemparkan tatapan geli sekaligus penasaran.
"Elvis Presley?" Mello menaikkan satu alisnya ke atas.
Matt tertawa disela-sela kegiatan merokoknya. "Yeah," jawabnya cepat sebelum kembali berkutat pada laptopnya.
Mello menyandarkan bahunya ke tembok di sebelahnya, matanya tidak lepas dari pemuda berambut merah itu. "Sejak kapan kau menyukai lagu klasik dan romantis seperti ini, Matt?"
"He? Apa?" Kepala Matt menoleh dengan cepat, jika tengah malu kedua telinganya akan memerah seperti warna rambutnya.
Mello mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya dengan punggung tangannya. 'He's so cute.' Kepala Mello tertunduk ke bawah, menyembunyikan suara tawa gelinya agar tidak terdengar oleh Matt.
Tawa Mello terhenti sesaat merasakan sebuah tangan terulur mengangkat wajahnya. Sejenak Mello merasa tertegun melihat wajah Matt dari jarak sedekat ini. Seperti sebuah sihir yang mengunci pandangannya untuk tidak teralihkan, Mello merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.
"My beautiful Mello."
Mello merasakan kedua pupil matanya melebar terkejut mendengar penggalan kalimat sederhana yang keluar dari bibir Matt.
"Apa-apaan kau, idiot?!" Mello berteriak dengan wajah sedikit memerah, napasnya mulai tersenggal, pasokan udara di sekelilingnya terasa seperti ditarik oleh sang Pencipta.
Mello dibuat terpana melihat wajah Matt yang terukir begitu sempurna, sepasang mata emerald yang menatapnya lembut, bibir merahnya yang sedikit menggelap, hidungnya yang mancung, dan rahang yang terpahat begitu tegas. Wajah Matt sunggu tampan dengan kelembutan yang selalu terpancar dari bola matanya ketika menatap Mello.
"Hei, Mello. I wonder if you feel the same," bisik Matt pelan, memberikan perasaan aneh yang menggetarkan perasaannya.
Ibu jari Matt bergerak mengusap belah bibir ranum Mello, dengan cepat si pirang segera menahan tangan pemuda itu. "Kau bau rokok, asshole!" Wajah manisnya bersemu merah, mengundang gerlingan menggoda dari Matt. Mello mengibaskan asap putih yang menyesakkan paru-parunya itu.
"You're so cute when you're blushing."
"Matt!"
Pemuda berambut merah itu meringis pelan mendengar jeritan Mello tiba-tiba. Lantas, Matt terkekeh pelan, mengusap kepala Mello perlahan. "You drive me crazy."
"Apa yang kau bicarakan, bastard?! Kau ini mabuk?" Mello tidak mencium bau alkohol yang menguar dari celah bibir Matt, jika tidak mabuk sepertinya syaraf di kepala pemuda itu telah terputus dan membuatnya menjadi gila seperti ini.
"You look so sexy when you're cursing, babe."
"Fuck you, Matt!" Pemuda bernama Mihael itu mengumpat kasar, mendorong tubuh Matt agar menjauh darinya.
"Perempuan tidak boleh mengumpat, Mells," ucap Matt sembari nyengir, kemudian kembali menghisap rokoknya.
"Ku bunuh kau, bedebah!" Mello melemparkan tatapan tajam yang mengerikan. "Aku ini laki-laki, bodoh!"
"Tapi kau cantik seperti mereka." Matt meraih ujung rambut pirang Mello dan menempelkan bibirnya di sana selama beberapa detik.
Mello refleks menepis tangan Matt. "Kau mengencani gadis-gadis jalang itu lagi?"
Matt mengangkat kedua tangannya ke atas, memberikan senyuman jenaka di bibirnya saat melihat tatapaan tajam yang dilayangkan ke arahnya. "Tapi tidak ada yang seseksi dirimu," ucap Matt dengan jujur.
Mello mendengus sinis, baginya hal itu bukan sesuatu yang mengejutkan mengetahui Matt suka mengencani bahkan tidur dengan gadis-gadis di Paris. Mereka mudah sekali jatuh dalam pesona playboy berambut merah itu hanya dengan satu kedipan disertai senyuman. Oh, yang benar saja...
"I don't give a fuck, Matt."
Mello mengibaskan tangannya di depan wajah Matt, lalu berjalan menjauhi Matt. Tiba-tiba pergelangan tangannya di tahan dan membuatnya menoleh kesal ke arah sahabatnya. "What?!"
Matt menarik tubuh ramping itu sembari melingkarkan tangannya di sekitar pinggang si pirang, menggoyangkan rokoknya ke bawah untuk menjatuhkan abu rokok tersebut. "Oh my sexy blonde babe, are you jealous, hum?"
"Shut the fuck up!"
"Jangan cemburu, aku bisa menghabiskan waktuku lebih banyak denganmu dibandingkan dengan mereka."
"I don't fucking care, Matt! If you want to have sex with them, then just do it!"
"Really?"
Mello tersenyum sinis, ia berusaha melepaskan dirinya namun kekuatan Matt terlalu besar. "Bahkan sepertinya kau tidak keberatan kalau bibirmu menghitam karena rokok. Menikah saja dengan rokok bodoh mu itu, sialan!" seru Mello dengan kejam, ia berusaha memberontak dalam dekapan Matt sembari melayangkan tatapan 'Lepaskan aku, keparat!'.
Hei Mello, kenapa tiba-tiba menyebutkan rokok di sela-sela pembicaraan kalian?
"Kenapa jadi membicara kan rokokku?"
Mello mendesis tajam melihat Matt menghisap ujung batang beracun itu dengan cuek lalu membuka bibirnya untuk mengeluarkan asap berwarna putih itu.
"Ahh... aku mengerti... kau cemburu pada rokok." Matt menyungging seringaian licik di wajahnya melihat rona merah menghiasi kedua pipi Mello. Melihat ekspresi penuh keterjutan lawan bicaranya membuat gemuruh hebat mendobrak dadanya.
Mello menggertakkan giginya kesal, berusaha menetralkan debaran gila jantungnya. "Screw you, Matt!" umpatnya kemudian.
"Jadi kau cemburu dengan gadis-gadis dan rokok. I get it, Mels."
"Ew.. apa-apaan kau?!" Mello sedikit menjauhkan wajahnya saat Matt memiringkan wajahnya dan membuang puntung rokoknya yang masih setengah.
"I won't date with those sexy blonde girls anymore." Matt mengapit dagu Mello, menatap dalam iris biru yang menjadi candunya. "Sebagai gantinya kau harus menggantikan peran gadis-gadis itu."
Mello terdiam kaku, melemparkan tatapan datarnya ke arah sahabatnya. "You're starting to sound creepy."
"Kedua, aku tidak akan merokok lagi." Matt mengabaikan ucapan Mello barusan, ibu jarinya berpindah menekan bibir bawah milik Mello. "Lalu, sebagai gantinya aku harus mencium bibirmu sebanyak aku menghisap rokok setiap harinya."
"Sinting!" Mello menepis tangan Matt kasar dan memberikan pelototan tajam.
"Aku serius."
Ini gila! Matt dalam mode serius sangat menyeramkan.
"Aku lebih menyukai aroma coklat di tubuhmu daripada bau nikotin," lanjut pemuda berambut merah yang berumur satu tahun lebih muda darinya.
"Verrückt!" Ribuan macam umpatan dalam berbagai bahasa mengalir cepat dari bibir ranum Mello, seolah mulutnya adalah pabrik berbagai macam seruan kasar.
*Verrückt : gila
Matt tentu paham semua bahasa yang digunakan Mello, memiliki peringkat intelejensi ketiga di Wammy's House membuktikan dirinya mampu bersanding dengan dua penerus L.
Jika orang yang tidak mengenal Mello, maka mendengar segala cacian dan umpatan kasar tentu akan membuat mereka sakit hati. Namun, sejak tinggal di Wammy's House, Matt benar-benar terbiasa mendengar dirinya menjadi sasaran makian kasar pemuda manis berdarah Jerman itu.
"You can curse on me while we're having sex. It's a deal!" Tanpa persetujuan dari yang lebih tua, Matt segera mengangkat tubuh Mello dengan bridal style, membawanya berjalan ke kamar.
Matt membanting tubuh Mello ke atas kasur yang membuat sang empu mengumpat keras. Sungguh, bukan Matt bermaksud menyakiti Mello, hanya saja berat badan mereka hampir sama, meskipun Matt lebih tinggi.
"Scheisse!" Ringisan kesakitan terdengar dari mulut Mello. Hei, salahkan ranjang tua sialan milik Matt, bagian penyangga besinya mencuat ke atas membuat punggung Mello membenturnya dengan sangat keras.
*Scheisse : shit!
Mello mendesis kesakitan sembari melemparkan tatapan tajamnya ke arah Matt yang tengah naik ke atas ranjang, mengukungnya di bawah.
"You hurt me, bastard!" Mello berteriak tepat di wajah Matt. Tangannya terulur ke atas untuk mengambil goggles kesayangan Matt dan membantingkan ke tembok.
Mello mengharapkan seruan marah dari lawan bicaranya, namun Matt justru diam dan tidak menoleh ke arah goggles kesayangannya.
"Damn, kau benar-benar sinting rupanya. Apa bekerja denganku membuatmu depresi, he?"
Matt mendengus pelan, tidak ada niatan sedikit pun untuk membalas perkataan sarkastis pemuda berambut pirang itu. Lantas, Matt menurunkan kepalanya, menurukan resleting baju kulit milik Mello dengan giginya, diliriknya ekspresi wajah manis itu yang terlihat terkejut.
"Wha- akh!" Kedua tangan Mello refleks meremas rambut merah Matt saat merasakan bibir basah itu menciumi lehernya.
Matt menggigit keras ceruk leher si maniak coklat itu. Terdengar lenguh kesakitan disusul pergerakan tangan Mello menjambak rambutnya pelan. Hembusan napas hangat Matt menerpa kulit sensitif Mello, membuatnya merinding setengah mati.
Mello mengangkat kepalanya ke atas, memberikan Matt akses sepenuhnya untuk memberikan tanda kepemilikannya di sana. Sentuhannya begitu halus, Matt hanya mengecupinya kemudian menyesapnya lembut dan menggigitnya hingga muncul warna kemerahan sebagai sentuhan terakhir.
"Ahhh... nnhh..."
Mendengar desahan pasrah Mello membuat Matt menyeringai penuh kepuasaan. Tatapan arogansi yang selalu dilayangkan oleh Mello, sepasang mata tajam yang menyiratkan keinginannya untuk membunuh terpejam erat begitu menikmati setiap sentuhan Matt. Bibir yang selalu mengeluarkan makian kasar itu kini sibuk mengeluarkan desahan sensual.
Seorang consigliere muda yang mampu membunuh bos mafia yang bahkan tidak dapat disentuh oleh kira. Seseorang yang memiliki ambisi yang tinggi, tergeletak tak berdaya atas segala sentuhan Matt. Lidah Matt bergerak menelusuri colar bone dan dada Mello, meninggalkan bekas gigitan merah di bahu Mello dengan bekas darah melintang. Gigi taring Matt merobek kulit leher Mello membuat mantan mafia itu memekik kesakitan.
"Akh! Matt!" Mello menjitak kepala Matt dengan sangat keras. "Kau ingin bercinta denganku atau menggigitku?!"
Matt meringis pelan sembari mengusap kepalanya yang sedikit benjol. Pukulan Mello tidak main-main.
"Aku suka sekali menggigit sampai berdarah kalau aku sedang bercinta."
"Jangan samakan aku dengan jalang-jalang keparat itu!"
"Baik... baik." Matt memberikan cengiran menyebalkan di wajahnya membuat Mello mendengus kesal dan membuang wajahnya asal. "Boleh aku lanjut kan?"
Mendengar pertanyaan Matt penuh harap membuat Mello melemparkan lirikan sinisnya.
"Hmph!"
Matt tersenyum tipis. Tsundere sekali...
Perlahan, Matt kembali mendaratkan kecupan ringan di area dada Mello, membangkitkan mood Mello yang rusak dalam hitungan detik karena perbuatannya. Melihat wajah cemberut Mello dengan dahinya yang berkerut sembari menutup rapat bibirnya untuk tidak mengeluarkan suara desahan.
'Play hard to get?'
Sekali lagi, Matt tersenyum miring, pemuda berdarah Rusia itu membuka mulutnya kemudian mengulum puting Mello. Matt dapat merasakan tubuh ramping itu tersentak dan menegang, kedua tangan Mello meremat erat seprei, melampiaskan seluruh kenikmatan yang membuat darahnya berdesir cepat.
Tubuh Mello menggelinjang merasakan jemari dingin Matt mengusap puting kirinya.
"Goddamit, Matt!" Mello mengerang frustasi.
Matt melepaskan puting kanan Mello yang menegang dan beralih pada puting kiri yang sempat ia abaikan. Ia memperdalam hisapannya, merangsang suara Mello mengeluarkan desahan tak tertahankan.
Setelah puas melihat Mello terengah-engah, Matt langsung beralih pada kegiatan inti. Mengusap lembut paha yang sejak tadi melingkar di pinggangnya, ia melepaskan sabuk hitam yang menempel di pinggul Mello. Menurunkan celana kulit hitam ketat itu, kemudian ia melucuti pakaiannya sendiri hingga mereka berdua benar-benar telanjang.
"Che, aku tidak sudi membiarkan benda bekas itu memasuki ku." Mello memberikan tatapan sinis pada Matt saat pemuda itu mengocok genitalnya.
Mendengar sindiran tajam itu dengan suara napas terputus-putus mengundang tawa kecil Matt, ia memandang geli wajah manis bak malaikat bertanduk iblis itu.
"Jadi, aku tidak boleh masuk?"
"Sudah berapa gadis yang kau masuki, hm?" Ia mengabaikan pertanyaan menggoda Matt dan sibuk mendahulukan egonya.
Matt terdiam sejenak, ia menatap langit-langit. "Tidak ingat," jawabnya berkelakar. "I'm so hard right now, aku benar-benar tidak boleh memasuki mu, Mello?"
"Yeah, di otakmu hanya ada tubuh telanjang wanita-wanita murahan itu kan?"
Mello... kau cemburu kepada mereka.
Matt sekali lagi hanya bisa terdiam, tangannya sejak tadi merambat naik untuk mengusap permukaan kulit paha Mello tanpa proteksi apapun. Memberikan kecupan di bagian paha sang submissive, menggigit kulit paha bagian dalam, terdengar suara lenguhan mengalun merdu mengikuti irama sentuhan sensual itu.
Kedua mata Mello yang terpejam mendadak terbelalak lebar merasakan genital Matt mencoba masuk dengan paksaan.
"Ouch! Fuck! Get it out, idiot!" Mello berteriak kasar, tubuhnya mengejang kesakitan. Rasa sakit luar biasa membuat cairan bening mulai membasahi pelipisnya. Dengan susah payah Mello berusaha bangkit, menatap ke arah Matt yang tengah berusaha memasukkan genitalnya ke dalam lubangnya.
Darah merembes keluar menciptakan luka perih yang berdenyut nyeri, Mello menggertakkan giginya kasar, wajahnya memerah dan penuh peluh menahan rasa sakit yang mengoyak tubuh bagian bawahnya.
"I loathe you, bastard!" Mello mengadahkan wajahnya ke atas, keringat dingin bercucuran menuruni lehernya.
Matt terkekeh pelan setelah memasukkan seluruh genitalnya ke dalam lubang sempit Mello dengan sekali hentakan. "I love you too, Mells."
Suara rintihan kesakitan itu berubah menjadi melodi desahan lembut yang mengalun indah di telinga Matt seirama dengan hentakan tubuhnya.
"Oh shit! Hnggg... ahhh!"
Matt semakin mempercepat hentakan pinggulnya. Iris emerald hijaunya menatap lembut wajah Mello. "I really love you, Mihael. Definitely more than women and nicotine."
Setelah mengucapkan kata-kata manis yang sepertinya didengar oleh Mello, pemuda itu mendaratkan bibirnya untuk melumat bibir Mello. Ciuman mereka bergerak lembut, seiring desahan yang keluar dari bibir keduanya di sela-sela ciuman panas itu.
Matt memaksakan lidahnya masuk ke dalam mulut Mello, memberikan sentuhan yang menggelitik di langit-langit mulut Mello, mengabsen deretan gigi putih itu. Matt meremas pinggang Mello saat merasakan lubang sempit milik Mello menjepit genitalnya.
Nikotin. Mello dapat mengecap rasa nikotin dari lidah Matt. Ia juga bisa mencium aroma nikotin dari tubuh pemuda berambut merah itu.
Ia begitu menikmati rasa aneh yang menggelitik mulutnya. Ternyata, nikotin tidak terasa seburuk itu. Setidaknya tidak seburuk saat ia menghirup asap rokok milik idiot ini.
FIN.
Gonna up another chapter from this OS.
