Ini tidak benar.
Aku—maksudku, kami tahu ini salah.
Tapi kami hanyalah manusia biasa, manusia yang kodratnya memiliki perasaan.
Aku- maksudku kami,
Harus dianggap menjijikkan, hanya karena melafalkan kata cinta..
..Dari jenis yang sama
Disclaimer : Masahi Khisimoto
AU
"Aku mencintaimu" Aku mengatakannya lagi. Berulang kali. Seolah itu hanyalah kalimat yang kumiliki saat ini.
"Aku tahu" Gadis itu menjawab. Tersenyum lembut, meluluhkan hatiku yang kacau.
Kami berada di kamar kost ku. Dia duduk diatas ranjang, sementara aku bersandar di jendela. Udara dingin menguar. Hujan baru saja reda. Tapi hatiku masih saja bergemuruh.
"Kita tidak mungkin bersama.." kata kata itu lolos.
Hinata berjalan karah ku, lalu menuntunku untuk duduk di ranjang. "Kita akan tetap bersama" Dan dia memberikan senyum itu lagi.
Aku menarik nafas. Terlalu sesak, paru-paruku terasa kosong "Mereka bilang kita ini menjijikkan, kita tidak bisa hidup terus seperti ini. Aku mencintai mu Hinata, sangat. Tapi.. tapi apa bisa?" Suara ku terdengar putus asa.
Hinata menatap ku kecewa, ada binar-binar kepedihan dimatanya.
Aku tahu ini salah. Aku- maksudku kami, tidak bisa selamanya seperti ini.
Di pandang menjijikkan dan di kutuk oleh masyarakat.
Mungapa cinta begitu menyakitkan?
"Kumohon temuilah ayahku" Suaranya parau, "Aku telah berjanji untuk membawamu, calon pengantinku"
Aku mengacak rambutku, Hinata kembali mengatakan kalimat itu. Membuat keadaanku semakin sarat akan ke-putus asa-an.
".. Aku takut" Aku berujar pelan, menyuarakann isi hati ku yang paling dalam. "Bagaimana jika ayah mu tidak setuju? Bagaimana jika kita di pisahkan? Bagaimana jika—"
Dia menaruh telunjuknya di bibirku. "A-apapun yang terjadi nanti, aku akan tetap di sampingmu." Setelah mengatakan itu dia menunduk dan mencium keningku. Menenangkan ku. Dan membuat ku semakin mencintainya.
Aku tersenyum, "Aku akan bersiap"
Aku menuju meja rias. Memoles bedak dan memakai lipgloss. Aku menguncir rambut coklatku yang panjang, awalnya aku ingin memotongnya. Namun itu akan semakin membuat mereka menatap aneh ke arah kami.
"Selesai" Aku berujar, "Kita berangkat sekarang?" tanyaku yang dibalas anggukan disertai cengiran oleh Hinata.
Biarlah..
Masyarakat mengutuk kami,
Biarlah orang-orang memandang kami menjijikkan.
Karena aku—maksudku, kami tahu bahwa ini memang salah.
Toh biarlah, bahkan dunia sekali pun menusukku.
Karena aku dikenal sebagai perempuan yang mencintainya, perempuanku
