Asap rokok, udara dingin, sebotol bir dan sebuah pematik adalah beberapa hal yang menjadi temannya malam ini. Ditambah ingatan lama yang tak kunjung pergi dari bagian memorinya.
Dia tidak terlalu mengingat bagaimana seluruh hal itu menjadi bagian dalam hidupnya. Hal paling jelas dan terekam di seluruh kepalanya adalah semua hal yang pergi dari kehidupannya. Walaupun tidak semua, karena ada dua hal yang saat ini berada di suatu tempat dengan keadaan yang berbeda.
"Kau mau kan kembali tinggal dengan ayah? Kita mulai semuanya bersama, bertiga dengan adik kecilmu. Ayah akan selalu ada di sampingmu."
"Aku juga."
Kepalanya yang tertunduk segera mendongak untuk menatap pria dewasa yang kini sedang duduk di depannya seraya mengusap puncak kepalanya. Sedangkan kedua tangannya sedang sibuk menahan tubuh kecil yang sedang bergelayut manja di punggungnya.
"Bagaimana? Apa kau mau?"
Dia terlihat berpikir sejenak sambil sesekali terkekeh saat jari-jari itu menggelitiki permukaan tubuhnya.
"Hyung harus mau! Chan tidak mau tahu! Chan merindukan hyung. Sangat merindukan hyung. Chan tidak mau hyung sedih lagi. Walaupun ibu sudah tidak ada tapi hyung masih punya ayah dan Chan disini. Jadi hyung tidak boleh sedih lagi atau Chan akan marah pada hyung untuk selamanya."
Dia dan pria dewasa itu malah tertawa begitu mendapati si kecil mereka sudah merengut. Berhenti menganggu sang kakak dan malah membalikkan tubuhnya untuk merajuk.
"Iya, iya. Hyung akan tinggal dengan Chan dan ayah."
Bibirnya tersenyum namun miris. Penggalan memori terindah dimana seluruh keluarganya kembali utuh walaupun tanpa sang ibu. Seluruh hidupnya nyaris sempurna selama bertahun-tahun dan itu sudah cukup baginya. Dia tidak akan meminta lebih.
"Selamat ulang tahun ya, Chan."
"Ah, ya. Terima kasih."
Dia menatap wanita dewasa yang baru saja memberikan sebuah kotak hadiah kepada adiknya. Satu wajah asing yang awalnya disimpulkan sebagai salah satu rekan kerja ayahnya. Hanya awal sampai sang ayah kembali dan menghampiri mereka bersama satu anak laki-laki lain asing bergandengan dengan ayahnya. Dia menjadi ragu padahal acara ulang tahun adiknya hanya akan diadakan oleh mereka saja, maksudnya keluarga kecil mereka tanpa mengundang orang lain apalagi orang asing.
"Bagaimana ulang tahunnya? Chan senang?"
Adik kecilnya hanya mengangguk ragu seraya menatap kotak berukuran sedang hasil pemberian wanita tadi. Dia senang saat mendapatkan hadiah tapi dia juga ragu karena pemberinya adalah orang asing.
"Ayah ingin memperkenalkan dia salah satu karyawan di tempat ayah bekerja. Namanya Lee Narae dan sekaligus calon ibu kalian."
Chan bungkam apalagi dirinya. Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat lalu menatap sang ayah kemudian beralih pada wanita yang masih tersenyum ramah dan terakhir pada anak laki-laki yang bersembunyi di belakang ayah mereka.
"Oh ya, namanya Lee Minho. Dia juga akan menjadi adik kecil kalian."
Setidaknya keluarga mereka lengkap pada hari itu. Dia hidup dalam satu keluarga utuh walaupun dirinya sedikit sulit menerima fakta tentang memiliki satu adik lain. Dia masih beranggapan jika dia hanya memiliki satu adik laki-laki dan itu adalah adik kandungnya. Walaupun lima tahun berlalu tapi tetap saja perasaan sulit menerima adik baru masih membatu di hatinya.
"Ayah harus datang ke acara kelulusanku. Jangan lupa bawa Chan! Awas saja tidak datang."
Di seberang sana, sang ayah hanya terkekeh kecil mendengar sungutan putra sulungnya. Dia dapat membayangkan bagaimana wajah pucat itu merengut dalam ekspresi datar dan dingin.
"Baiklah, ayah akan datang bersama ibu dan adik-adikmu. Jadi pastikan kau menyiapkan kursi lebih untuk kami berempat ya."
Sejenak ada helaan nafas dari sana sebelum akhirnya menyahut, "terserah saja. Intinya aku ingin ada makan malam hanya untuk kita bertiga setelahnya. Hanya aku, ayah dan Chan tanpa orang lain."
"Tap~"
"Aku harus pergi! Sampai jumpa di acara kelulusanku!"
Satu batang rokoknya sudah habis dan kini berganti pada batang lainnya yang sudah tersemat di antara kedua bibir pucatnya. Pematik yang menyala siap membakar ujung benda itu. Namun matanya terfokus pada nyala api kecil itu hingga padam karena hembusan angin. Dia sedang memikirkan sesuatu yang bodoh lagi.
Maaf, ayah. Tapi aku tidak bisa bertahan tanpa Chan lagi. Aku tidak mau kehilangan dia seperti aku kehilanganmu. Aku, akan menyusul kalian saja.
~.~Pelajaran tambahan setiap akhir bulan adalah hal yang paling dihindari keempatpuluh murid di kelas 10 - 2 selama setengah tahun mereka ini. Selain karena sulit dan terlalu banyak ocehan yang tak dimengerti, mereka juga akan selalu berakhir dengan satu tugas menyebalkan dan aneh.
"Jadi tugas kalian bulan ini adalah menulis ingatan masa kecil kalian mulai dari umur kalian saat itu, apa saja yang kalian lakukan sampai siapa saja yang ada diingatan kalian. Buat daftar sejauh mana kenangan yang masih kalian ingat, baik penting atau tidak sampai senang atau sedih."
Terdengar suara lenguhan di beberapa penjuru kelas. Tugas psikologi bulanan ini sangat memberatkan bagi mereka. Selain karena terlalu banyak tugas menyebalkan dan aneh, mereka sendiri berpikir untuk apa seluruh cerita mereka dikumpulkan setiap satu bulan sekali ini.
"Kumpulkan di pertemuan selanjutnya. Kalau begitu, cukup sampai disini dan terima kasih atas perhatiannya. Jangan lupakan tugas kalian."
"Baik, ssaem."
Begitu wanita anggun itu melangkah keluar, erangan dan lenguhan menjadi satu. Sorakan ketidaksukaan juga turut ambil andil dalam penyampaian protes tidak langsung ini. Beberapa dari mereka juga tampak tidak peduli dan malah beranjak dari posisi, melangkah keluar dan memilih menikmati waktu istirahat mereka tanpa terlalu peduli dengan tugas ini.
"Aku tidak memiliki banyak ingatan masa kecil." Changbin membuka suara seraya memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. Pandangannya beralih pada Yeonjun yang saat ini sedang membicarakan sesuatu pada orang di belakangnya. "Ingatan masa kecilku, astaga, hampir seluruh hidupku bersama anak itu setiap saatnya."
Jungkook yang duduk di depannya langsung menoleh lalu tertawa kecil saat mendapatkan temannya itu mengerang frustasi. Beberapa kali juga Changbin terlihat mengacak-acak surai kemerahannya.
"Aku curiga kalian memiliki kenangan sejak dalam kandungan."
Changbin menatap Jungkook lalu menghela nafas. Seolah yang dikatakan si ketua kelas itu memang benar adanya.
"Bahkan ibu kami membelikan pakaian yang sama padahal Yeonjun keluar sebulan kemudian. Untung saja wajah kami tidak mirip karena pakaian yang sama dan nyaris dikatakan kembar tak identik."
Jungkook tertawa keras nyaris terpingkal begitu mendengar cerita kecil dari salah satu temannya yang cukup ditakuti itu. Dia jadi membayangkan bagaimana rupa sahabat karib itu saat mengenakan pakaian yang sama, pasti sangat lucu. Apalagi tinggi mereka yang tidak sinkron. Yeonjun yang ibaratnya tiang listrik sedangkan Changbin yang malah mirip tongkat penyapu.
"Ck! Tertawa saja terus sampai kau puas!" decak Changbin yang lalu memukul kepala si ketua kelas dengan ranselnya tanpa peduli jika si korban tetap saja tertawa. "Bagaimana denganmu? Apa kau tidak punya sahabat?"
Tawa Jungkook terhenti dalam hitungan detik. Pandangannya kini tertuju pada penghuni kursi paling sudut yang baru saja tertawa bersama Yeonjun. Bibir bawahnya digigit pelan lalu menatap Changbin sambil tersenyum tipis.
"Sebenarnya dulu aku sedikit sulit untuk berteman dengan orang lain jadi rasanya temanku tidak sebanyak kalian. Apalagi aku cukup sering berpindah-pindah karena pekerjaan orang tua dan baru menetap di tempat yang sama selama tujuh tahun ini."
Sejujurnya dia sedikit iri dengan persahabatan antara Changbin, Yeonjun dan juga Hyungi. Mereka bertiga selalu bersama saat kemanapun. Walaupun dirinya ikut tergabung ke dalam kelompok hangat itu tapi tetap saja rasanya tidak layak. Mereka sudah saling mengenal selama lebih dari sepuluh tahun sedangkan dirinya baru mengenal mereka sekitar enam bulan terakhir.
"Tapi aku mendapat satu teman. Dia baik. Kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Dia tinggal di seberang rumahku. Dia pindah karena ibunya menikah lagi."
"Astaga, Jung, kenapa kau tidak mengenalkannya pada kami? Temanmu adalah teman kami juga. Bagaimana rupanya? Apa dia berwujud manusia?"
Demi apapun yang ada di bumi, Jungkook bersumpah jika Changbin yang di depannya itu sangat berbeda dengan sisi menyeramkannya. Lihatlah, wajah itu sangat antusias sampai dirinya gemas untuk melempar wajah itu dengan sepatu.
"Kau pikir temanku makhluk halus, begitu?"
"Dia nyata, mungkin seperti kelinci?!"
Jungkook berdecak lalu kembali melirik ke arah Minho yang terlihat beranjak meninggalkan Yeonjun. Pemuda itu melangkah keluar kelas dan membuat Yeonjun menghampiri mereka.
"Lanjutkan ceritamu, Jung! Aku ingin -akh!"
Setidaknya perlakuan Yeonjun barusan sudah mewakili keinginannya. Pemuda bermarga Choi itu baru saja melakukan adegan kekerasan berupa memukul belakang kepala Changbin dengan tangan kosong.
"Berisik!"
"Ya Tuhan, kenapa kau selalu memukul kepalaku? Kau ingin aku bodoh ya?"
Yeonjun menarik kursi lalu duduk di sebelah Changbin dan berucap, "tanpa dilakukan kau memang bodoh."
"Aku lebih tua darimu, Choi Yeonjun!"
"Aku lebih tinggi darimu, Tuan Seo!"
Menonton perdebatan kedua sahabat itu adalah salah satu hobi baru Jungkook apalagi dibumbui adegan kekerasan dimana Changbin adalah korbannya. Detik berikutnya dia mengalihkan pandangan ke arah Hyungi yang sedari terdiam dengan menatap mejanya.
"Bagaimana denganmu, Hyun? Apa kau punya ingatan masa kecil yang sangat berkesan?"
Hyungi mengangkat kepalanya lalu menatap Jungkook. Bibirnya tersenyum tipis lalu disusul helaan nafas pendek.
"Ada tapi aku tidak yakin dapat mengingatnya atau tidak."
"Tugasmu bulan ini biarkan aku dan Changbin yang mengerjakannya. Kau tidak perlu memaksakan diri." Yeonjun menyahut lalu menyikut lengan Changbin.
"Yeonjun benar. Aku tidak mau kau sakit hanya karena berusaha mengingatnya. Cukup diam dan biarkan kami bekerja."
Hyungi tertawa lalu mengangguk pelan. "Terima kasih atas pengertiannya."
Tidak tahu saja ada satu orang yang menaruh rasa penasaran di tengah mereka. Ya, dia tidak terlalu menuntut banyak karena Jungkook sangat tahu diri akan batas pertemanan yang harus diketahui. Lagipula dia sedang memikirkan cara untuk merajut kembali hubungannya dengan seseorang.
~.~Minho menatap lurus jalanan yang dilaluinya saat ini. Di pinggir jalan ini, dia sedang menatap salah satu perempatan yang akan ditemuinya jika kedua kakinya melangkah lurus kesana. Seluruh tubuhnya bergetar. Pupilnya bergerak gelisah. Padahal tidak ada apapun disana selain perempatan yang dipenuhi kesibukan penghuni kota tapi seluruh tungkai kakinya bergetar. Tubuhnya nyaris ambruk saat tiba-tiba dua tangan dingin menutup kedua matanya.
"Jangan dilihat lagi! Berhenti melakukan sesuatu yang bodoh!"
Daripada menjawab, Minho malah terdiam. Dia enggan melepaskan kedua tangan itu dan malah mengikuti pergerakkan si penutup mata. Memutar tubuhnya dan memunggungi perempatan yang ada disana. Kedua tangan itu berhenti menutupi matanya dan kini pemiliknya sudah berpindah posisi untuk berdiri di hadapannya. Dia adalah Jeon Jungkook, ketua kelasnya.
"Puas? Astaga, Ho! Kau ingin pingsan lagi di tempat ini?!"
Omelan Jungkook membuat kepalanya kembali teringat pada beberapa kejadian yang lalu. Dimana dirinya melakukan hal yang sama lalu jatuh tak sadarkan di tempat ini.
"Untung saja aku melihatmu lebih dulu! Ya Tuhan, seragammu sudah basah seperti orang yang baru saja disiram air."
Jungkook tidak bohong karena memang seragam yang dikenakan Minho sudah nyaris basah sepenuhnya. Dibanding keringat, cairan bening itu lebih seperti air biasa yang mengguyur tubuhnya.
"Ayo pulang!" lanjutnya lalu mencekal lengan kiri Minho. "Kita putar arah daripada kau mati ketakutan disini."
"Aku memang selalu putar arah, Kook."
Jungkook hanya memutar pupil matanya, jengah. Dia mempercepat langkahnya menuju arah kembali ke sekolah. Tidak peduli jika Minho mengajukan protes untuk memperlambat langkah mereka. Setidaknya Jungkook harus memastikan Minho dalam jarak yang aman dari perempatan itu. Jauh dan sangat jauh sampai perempatan itu tak akan ditemuinya lagi.
~.~Chris hanya bisa menatap Felix yang terus menceritakan segala hal yang terjadi di sekolahnya dengan antusias. Remaja itu sepertinya terlihat sangat antusias hari ini. Dia mengunjungi apartemen Hyungi hanya untuk menemui Chris dan menariknya ke atap gedung apartemen.
"Hyunjin saja hampir menangis karena terharu. Dia bersembunyi di toilet hampir satu jam dan membuat Beomgyu mengatainya dengan bahasa kasar khas gaya Choi Beomgyu. Jadi aku dan Jisung turun tangan untuk memisahkan mereka. Kalau tidak, mungkin hari ini akan berakhir buruk."
"Tapi hyung tahukan? Kami mulai memasuki ujian kelulusan jadi mulai sibuk mengurus beberapa hal, termasuk sekolah yang akan kami inginkan. Kami berempat sepakat akan masuk ke sekolah Hyungi-noona dan yang lain. Jadi kami juga sedang menghujani Hyunjin dengan berbagai soal tes toefl. Tapi hyung tidak perlu khawatir karena kami sudah mendapat persetujuan dari Hyungi-noona dan yang lain."
Chris sama sekali tidak berniat untuk memotong cerita remaja itu. Dia akan tertawa pada bagian tertentu lalu berkomentar kecil soal beberapa hal. Sisanya hanya untuk mendengarkan cerita si remaja Aussie itu saja.
"Oh ya," ucap Felix yang kini sudah mengganti topik ceritanya, "hyung pernah tinggal diluar negeri ya?"
"Hmm, entahlah." Chris mengedikkan bahunya sebagai bantuan untuk jawabannya. "Aku tidak ingat."
"Keluarga hyung juga?"
Chris mengangguk lalu menatap langit biru di atas kepala mereka. "Aku bahkan tidak tahu apakah aku sudah mati atau bagaimana."
"Hmm, aku juga penasaran kenapa aku bisa melihat hyung padahal sebelumnya aku tidak bisa melihatnya. Tapi aku tidak pernah menemukan hantu-hantu lain, selain hyung sendiri. Ini aneh tapi aku bersyukur juga tidak melihat hantu-hantu menyeramkan seperti di buku dan film. Jadi aku bingung, hyung ini hantu atau bukan."
Chris juga mengingat cerita itu tapi dengan orang yang berbeda. Tepatnya Hyungi. Gadis pertama yang mengetahui keberadaannya tanpa takut. Padahal di tempat umum tapi gadis itu terus mengoceh kepadanya tanpa peduli tatapan aneh dari orang-orang.
"Aku heran, kau ini hantu atau bukan. Setahuku hantu itu terlihat menyeramkan tapi kau terlalu keren untuk menjadi hantu."
"Aku saja terkejut saat tahu orang lain tidak bisa tapi aku bisa melihatmu. Hyung tahu tidak? Aku hampir tidak bisa tidur selama beberapa malam sampai Hyungi-noona mengatakan hyung bukan orang jahat."
Ah, Chris ingat saat itu. Mungkin dua bulan setelah dirinya menetap di apartemen Hyungi. Hyunjin datang seperti biasa tapi kali ini bersama tiga temannya, termasuk Felix. Tidak tahu kenapa, remaja itu langsung menghampirinya dan bertanya tentang apa yang dirinya lakukan di balkon. Saat itu juga Jisung menegurkannya dan bertanya soal dengan siapa Felix berbicara.
"Ini, temannya Hyungi-noona."
Jisung mengernyit heran lalu mendekati pintu balkon yang terbuka dan kembali bertanya, "temannya siapa? Hanya kau sendiri disitu, Lee Felix."
Felix menatap Chris yang masih menatap dirinya dan Jisung secara bergantian. Kemudian dirinya ikut menatap Jisung yang sedang menatapnya aneh.
"Tapi disini ada~"
Belum sempat kalimatnya diselesaikan, Jisung segera mencekal tangannya lalu menariknya ke dalam. Pemuda bermarga Han itu memandangi sahabatnya dengan khawatir, nyaris menangis.
"Felix, lihat aku! Apapun yang kau lihat tadi, itu hanya halusinasi. Benturan di kepalamu sepertinya keras sekali ya? Apakah sakit?"
Felix menatap bingung lalu pandangannya tertuju ke balkon, dimana Chris sebelumnya berada tapi kini sudah menghilang. Hanya balkon kosong dengan hembusan angin dingin.
"Sebaiknya kau istirahat saja sambil menunggu Hyunjin dan noona membuat makanan."
"Astaga, hyung! Kau tidak tahu berapa kali Jisung menangis hanya karena aku menanyakan hal yang sama?!"
Chris terkekeh menangkap ekspresi yang lebih muda. Ya, dia cukup bisa membayangkan bagaimana ekspresi si tupai saat tahu Felix meracaukan hal-hal aneh secara tak terduga. Namun dengan cepat, pikirannya teralihkan dengan sebuah pertanyaan yang mungkin saja terjadi suatu saat nanti.
"Lix," panggilnya dengan suara parau, "kalau nanti aku pergi, apa kau akan melupakanku?"
Raut sumringah Felix tergantikan dengan ekspresi sedih yang kentara. "Hyung memangnya akan pergi kemana? Dan kapan?"
Chris mengedikkan bahunya acuh lalu mengusak surai Felix. "Entahlah tapi tidak ada yang abadikan? Mungkin aku akan pulang ke tempat asalku atau menghilang begitu saja."
"Hmm, beritahu jika kau akan pergi walapun hanya berkelana." Felix berucap seraya menundukkan kepalanya. "Aku, tidak, maksudku Hyungi-noona, aku senang saat melihat dia tidak banyak melamun. Hyung tahu sendiri bagaimana dia saat baru keluar. Beberapa hari mendekam di kamar dan hanya keluar saat akan melakukan pemeriksaan rutin."
Chris tidak terlalu bodoh untuk tidak memahami arah pembicaraan ini. Jadi otaknya kembali memproses soal pertanyaannya. Jika dia pergi, maka bagaimana keadaan Hyungi selanjutnya? Apakah gadis itu akan kembali ke titik terendahnya lagi? Apakah gadis itu akan baik-baik saja jika ditinggal sendirian? Atau apakah Hyungi akan melupakannya begitu saja? Dan banyak pertanyaan berdominan negatif yang muncul di kepala. Chris hanya berharap satu hal, jika dirinya memang akan menghilang maka izinkan dia untuk mengucapkan kata perpisahan pada Hyungi dan Felix.
