Benda persegi panjang itu terus berdering sejak dua jam yang lalu dan pemiliknya sama sekali terlihat tidak peduli. Bibirnya terus bergumam tentang segala hal dengan kedua tangan yang sibuk mengatur arah pada setir mobil. Tatapannya terlihat antusias dan jengkel disaat bersamaan.
Beruntung saja malam ini jalanan tidak ramai jadi dia dapat melajukan mobilnya sesuka hati. Setidaknya dia berhasil melepaskan diri dari beberapa mobil van yang mengejarnya.
Seandainya dia sadar jika orang yang terus menghubungi dirinya sudah dipenuhi amarah yang tak terkendali. Atau dia sudah tahu sejak awal dan hanya menganggapnya angin lalu? Lagipula ini bukan pertama kalinya dia membangkang dan melakukan hal yang benar, menurutnya.
Mobil sport itu terhenti di basement salah satu gedung apartemen yang menjadi tujuannya sejak awal. Pemilik surai biru cerah itu meraih ponselnya dan mendapati ratusan panggilan tak terjawab bersama ribuan pesan spam. Karena sudah terlanjur membuat masalah, kenapa tidak sekalian saja?
Bibirnya tersenyum miring lalu membanting ponselnya ke lantai basement hingga benda itu mati total. Daripada retak, layar benda itu pecah dan terlepas dari lokasinya. Belum cukup, dia segera melempar benda itu ke dalam mobil lalu mengunci kendaraan kesayangannya itu sebelum akhirnya melenggang pergi.
~.~Kim Taehyung adalah pemuda tampan yang nyaris gila. Begitulah menurut penilaian Hyungi.
Nyatanya, begitu Hyungi membuka pintu apartemennya dan mendapati pemilik surai biru itu sedang tersenyum lebar. Pemuda itu melangkah masuk dan hanya berselang beberapa detik, senyuman itu luntur dan berganti menjadi raungan seperti bayi yang baru saja kehilangan es krimnya.
"Huah, Hyungi! Aku minta maaf karena tidak memenuhi janjiku untuk menemuimu sejak dua minggu yang lalu. Agensi sialan itu memintaku keliling negara hanya untuk pemotretan. Mereka bahkan mengancam akan menuntutku jika aku bertingkah."
Hyungi memijat pelipisnya. Diam-diam dia melirik Chris yang terlihat duduk dengan tenang di sofa seraya menatap Taehyung yang sedang bersimpuh di ujung kakinya.
"Tapi kau sudah bertingkah, Tae."
"Aku tidak bertingkah. Aku hanya pulang karena memang pemotretan telah selesai. Aku lelah dan ingin tidur tapi aku ingat belum memenuhi janjiku. Makanya aku segera pulang dari Busan kesini. Aku menyetir selama dua jam tanpa henti hanya untuk melepaskan diri dari mereka."
Chris memberi isyarat seolah berkata 'apa yang akan kau lakukan' kepada Hyungi namun dengan ekspresi mengejek. Dia sudah cukup hafal dengan kebiasaan sepupu aneh Hyungi yang satu ini.
"Dua jam dari Busan? Kau bodoh atau kelewat gila?" seru Hyungi yang merasa baru saja ditampar oleh sesuatu. "Tae, berapa kecepatan yang kau tempuh? Bus saja perlu waktu empat jam untuk tiba kesana."
Kepala biru itu mendongak dengan wajah yang memerah lalu menggosok hidungnya. "Apa Hyungi marah?"
"Ya Tuhan," erang Hyungi yang tertahan lalu menyentak tubuh itu agar segera berdiri, "bodoh! Aku hanya tidak mau kau kenapa-kenapa, Tae."
Tanpa pikir panjang, Taehyung segera merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Dia sebenarnya hanya mendrama saja karena waspada Hyungi akan melemparnya dengan sesuatu -walaupun itu sungguh tidak akan mungkin terjadi.
"Aku baik-baik saja," bisiknya dengan lembut.
"Jangan diulangi lagi!" Hyungi berucap dengan suara yang teredam oleh dada bidang Taehyung. "Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian."
"Psst, sudahlah. Aku sudah pulang." Taehyung melepaskan pelukannya lalu mencengkeram lembut bahu gadis itu. "Aku akan ada disini sampai surat peringatanku tiba."
Hyungi berdecak lalu menendang tulang kering yang lebih tua. "Hobi sekali menyusahkan Namjoonie. Mandi sana!"
Pemilik senyum kotak itu hanya terkekeh lalu mengusak surai Hyungi sebelum akhirnya melenggang pergi ke kamar mandi.
"Aku ingin tahu, apa dia memiliki sembilan nyawa?" sahut Chris yang masih bertahan di posisinya. "Dia itu sangat nekad dan mendekati gila."
"Kita semua sama-sama tahu soal itu, Chris." Hyungi mendekati Chris lalu duduk di sebelahnya. "Mau bagaimanapun, hanya mereka keluarga yang aku punya. Sisanya aku tidak terlalu tahu."
"Well, setidaknya kau masih bisa menemukan keluargamu lagi." Chris mengubah posisinya menjadi berbaring di pangkuan Hyungi. "Sedangkan aku, jangankan dicari, keberadaanku saja tidak tahu berasal dari mana."
Chris tidak tahu jika di suatu tempat disana, ada seseorang yang terus berharap dia segera membuka matanya. Kembali menjadi orang yang dikenalnya seperti dulu dan membuat rasa bersalahnya berkurang.
~.~Seperti biasa di setiap harinya, Minho akan memasuki gedung bercat putih itu lalu melewati beberapa orang dengan berbagai keadaan. Beberapa perawat akan berlarian, mendorong brangkar menuju ruang gawat darurat yang ada di sisi kiri gedung. Atau beberapa orang yang mengunjungi pasien. Atau mungkin beberapa pasien yang sedang berlalu lalang dengan kondisi fisik mereka yang berbeda.
Minho udah cukup akrab dengan suasana disana. Mungkin lebih daripada itu. Dan lagi, daripada terganggu, Minho hanya merasa harus membiasakan dirinya dengan begitu semuanya tidak akan terasa mengganggu.
Ruang VVIP di lantai lima adalah tempat perhentian terakhirnya saat tiba di gedung ini. Ruangan dengan papan nama 'Pasien : Christopher Bang' yang telah menjadi tempat persinggahan keduanya setelah rumah mereka.
Saat masuk, dia akan menatap sejenak sang kakak tiri kedua yang masih setia berbaring dari ambang pintu ruangan. Sampai hitungan kelimabelas, barulah dirinya akan melangkah masuk ke dalam lalu mendekati pemilik tubuh itu dan menyapanya sejenak. Kemudian dia akan terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya tertidur dengan tangan yang menggenggam erat telapak dingin milik pemuda yang setia berbaring di ranjang.
Namun untuk kali ini, ada orang lain di dalam sana. Bukan Yoongi si kakak tiri pertama, melainkan pemilik surai cokelat gelap yang sedang membaca buku didekat jendela. Kacamata bulat yang dikenakannya menjadi hal yang nyaris membuat Minho tidak mengenalinya.
"Oh, sudah pulang?" sapa pemuda itu lalu menutup bukunya lalu tersenyum.
Minho hanya mengangguk sebagai jawaban seraya melepaskan ranselnya. Kemudian melangkah menuju ranjang dan menatap wajah tenang itu.
"Tidak sekolah?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
"Aku membolos hari ini. Sekolah tidak terasa menyenangkan tanpa Chan."
Minho tersenyum, tipis. Dia meletakkan ranselnya ke lantai lalu menarik sebuah kursi dan duduk di tempat yang sama. Kepalanya terangkat untuk menatap pemuda tadi yang sudah berpindah posisi, duduk di seberangnya dengan ranjang itu sebagai pemisah jarak di antara mereka.
"Seokjin-hyung tahu kau membolos?"
Pemuda itu melepaskan kacamata bulatnya lalu tersenyum, menarik kedua matanya. "Hei, aku akan dilemparnya dari jendela. Lagipula dia sepertinya sedang mengurus sesuatu di kantor ayah."
Minho tertawa kecil lalu kembali memandangi wajah sang kakak. "Younghoon-hyung," jedanya sesaat untuk menatap lawan bicaranya, "apakah Chan-hyung akan bangun?"
Younghoon terdiam. Sejujurnya dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Disatu sisi, dia sangat ingin mata itu terbuka lagi dan tertawa bersamanya. Tapi di sisi lain, dia juga takut jika mata itu akan tertutup selamanya.
"Yoongi-hyung, dia hanya memberi waktu tiga bulan lagi. Jika Chan-hyung tidak menunjukkan perkembangan maka dia akan mencabut seluruh penunjang hidup Chan-hyung dan mengikhlaskannya. Sekarang hanya tinggal dua bulan lagi."
Iris mata hazel itu membulat. Tidak mempercayai apa yang baru saja dikatakan pemuda yang lebih tua darinya itu. Kemudian pandangannya beralih pada objek yang menjadi inti dari pembicaraan mereka. Younghoon tidak ingin mata itu tertutup selamanya tapi dia juga tidak ingin sahabatnya itu menyerah. Dia tidak tahu harus bertindak bagaimana jika apa yang dikatakan Minho akan benar-benar terjadi.
Jadi dari lubuk hati yang terdalam, seorang Kim Younghoon hanya berharap mata itu kembali terbuka. Memberikan kembali cahaya pada mereka, terutama pemuda di depannya itu.
Tuhan, jika memang masih ada kesempatan untuk sahabatku maka tolong buatlah mata itu kembali terbuka. Aku merindukan dia. Kami merindukan dia. Dan juga, tolong jangan buat Minho kembali menderita. Buat dia kembali tersenyum.
~.~Chris meringis saat kedua irisnya mendapati satu adegan kekerasan yang tak terduga antara dua orang dengan jenis kelamin berbeda disana, tepatnya di ruang tengah. Pelaku kekerasan alias Hyungi sedang memukul anarkis pemilik surai biru sebagai korban alias Taehyung. Perkaranya memang parah jika berakhir dengan Hyungi yang terus memukul kepala biru itu dengan benda yang untungnya adalah sebuah bantal sofa.
"Berhenti, Gi! Aku benar-benar minta maaf! Sumpah!"
"Berisik!"
Hyungi semakin anarkis tidak peduli jika pemuda tampan itu sudah tersungkur di lantai. Dia bahkan tanpa enggan menduduki punggung kokoh Taehyung sambil terus memukuli si kepala biru dengan bantal.
"Jika saja," pukulannya terhenti saat merasa satu kalimat akan lolos, "akh, pokoknya itu salahmu!"
Chris sangat ingin tertawa saat Hyungi akan mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi dia sebisa mungkin untuk menahan diri agar gadis itu tidak kembali dikatakan aneh.
"Aku hanya lapar jadi kupikir -aw, sakit!" Taehyung mengerang lalu membalikkan badannya dan membuat Hyungi nyaris telentang. "Aku tidak sengaja, oke?!"
Hyungi berdecih lalu melempar bantal sofa tepat di wajah Taehyung sebagai serangan terakhir. Kemudian dia beranjak dari posisinya dan menghempaskan tubuhnya tepat di samping Chris.
"Coba saja Chris tidak melihatnya, mungkin apartemen ini akan rata dengan tanah."
Taehyung yang baru akan beranjak langsung memandangi Hyungi. Dia tidak mendengar sepenuhnya gumaman Hyungi tapi dia yakin telinganya berhasil menangkap beberapa kata.
"Siapa yang tidak melihatnya?"
Hyungi mendelik lalu mendongakkan kepalanya ke arah Chris yang bergumam bodoh untuk dirinya. Dengan cepat dia memunggungi Taehyung dan memejamkan matanya.
"Melihat apanya? Kau, bersyukurlah aku cepat mencium bau hangusnya. Jika tidak, sampaikan selamat tinggal pada kita berdua."
Taehyung terdiam sebentar sebelum akhirnya beranjak dari posisinya dan duduk di sofa tunggal. Dia mengusap lututnya yang nyeri karena harus tersungkur di lantai dengan tidak elitnya. Untung saja tidak sampai membuat cedera wajah tampannya. Hei, wajahnya adalah aset yang berharga.
"Setidaknya aku tidak benar-benar membakar apartemenmu."
"Tapi semua itu nyaris, Tae." Jika Chris tidak memberitahuku.
Chris hanya bisa bergumam, mengatai gadis yang terus mengomeli Taehyung tanpa suara. Dia sendiri sedikit lega karena menjadi pelapor yang berhasil menyelamatkan dua nyawa itu.
Perkaranya mudah saja. Hyungi sedang berada di kamar mandi, Chris di ruang tengah dan Taehyung di dapur. Semuanya berawal dari Taehyung yang terus bergumam lapar hingga akhirnya memutuskan untuk menggoreng telur. Awalnya tidak ada apapun yang terjadi jika saja Taehyung tidak sibuk dengen teleponnya dan membuat api menyambar tempat penggorengan.
Saat itu juga Chris melihatnya dan terkejut. Dia ingin bertindak tapi tidak ingin terlalu bodoh. Jadi dia segera menghilang dan muncul di dalam kamar mandi. Tepat di depan Hyungi yang baru saja mengelap wajahnya.
"Apa?" seru gadis itu dengan nada marah karena Chris berhasil mengejutkannya lagi.
"Cepat keluar! Taehyung hampir membakar dapurmu!"
Mata Hyungi membulat dan membuat gadis itu segera berlari keluar kamar mandi, menyalakan keran di pencucian piring lalu menyemprotkannya ke arah api yang nyaris menjalar ke beberapa bagian dapur.
Apartemen nyaris terbakar, dua manusia itu nyaris tewas dan berakhirlah dengan adegan kekerasan tadi. Chris sendiri tidak percaya seberapa ajaibnya tangan seorang Kim Taehyung dan saudaranya, Kim Namjoon. Jangankan membakar apartemen, saudara Taehyung hampir membuat Hyunjin dan teman-temannya keracunan karena memberi para remaja itu minuman berbusa. Untung saja, Chris mengetahuinya dan menggunakan Felix agar segera mencegah teman-temannya untuk tidak meneguk minuman berbusa yang menarik itu.
"Aku pikir itu susu karena baunya harum."
"Mana ada susu yang baunya seperti pewangi pakaian, Kim Namjoon!" teriak Hyungi yang sudah membentengi adik sepupu dan ketiga temannya.
"Astaga, hyung! Aku tidak tahu bagaimana kau bisa menjadi dokter."
"Itu sangat berbeda, Jisungie."
"Tapi nyawa pasien menjadi taruhan, hyung!"
"Aku selalu berhati-hati jika berurusan dengan pasien, Lee Felix!"
"Tapi kau hampir membuat kami sekarat di rumah sakit, Namjoon-hyung."
"Aku tidak sengaja, Beomie-ah."
"Aku jadi trauma denganmu, hyung."
"Oke, aku minta maaf. Maafkan aku ya, Hyunjinie?!"
Dan sejak kejadian itu, Hyunjin menolak tawaran Namjoon yang akan mengajak mereka makan bersama. Dia hanya tidak mau mati konyol karena kecerobohan orang yang sialnya adalah saudara sepupunya itu.
~.~Tidak ada orang yang mengetahui soal Beomgyu yang dapat melihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Dia sendiri tidak pernah mengatakan hal ini kepada siapapun. Oh, mungkin pada satu orang yang kini sudah tiada.
Beomgyu takut saat orang-orang mengetahui kekurangannya, dia akan dijauhi oleh orang lain atau bahkan dimanfaatkan untuk sesuatu. Walaupun dia sadar jika sahabat-sahabatnya tidak akan melakukan itu. Tapi berjaga-jaga, tidak masalahkan? Lagipula Beomgyu tidak keberatan jika dia menyimpannya sendirian. Dia sudah terlatih untuk pantang takut pada makhluk-makhluk buruk rupa itu.
Namun daripada makhluk-makhluk menakutkan itu, Beomgyu sendiri lebih menjaga jarak dengan jiwa-jiwa lepas yang tersesat. Terlebih lagi jiwa tersesat yang ditemuinya di apastemen sepupu perempuan sahabatnya.
Beomgyu dapat mengetahui mana jiwa bebas yang selalu berusaha mengganggu manusia dan mana jiwa tersesat yang tak mengetahui tujuan mereka. Daripada hantu, Beomgyu lebih suka menyebutnya dengan jiwa orang yang tersesat. Beda dengan hantu yang jelas sekali jika mereka sudah mati, jiwa orang yang tersesat ini lebih seperti seorang manusia yang berada di ambang kematian ataupun koma. Jiwa mereka berkeliaran tanpa arah sedangkan raganya ada di suatu tempat yang entah kenapa sulit bagi mereka akan kembali.
Fenomena ini sejujurnya jarang ditemuinya dan Beomgyu baru mengalami hal seperti ini selama dua kali dalam satu tahun terakhir. Pertama, satu jiwa yang dikenalnya sedang berkelana di rumah sakit. Kedua, satu jiwa yang sedang berada di tempat kakak sepupu sahabatnya.
Beomgyu juga tahu jika jiwa itu bernama Chris karena dia mendengarnya sendiri saat Felix bercakap dengan jiwa itu. Dia sendiri tidak yakin kenapa kakak sepupu sahabatnya, Kim Hyungi dan sahabatnya, Lee Felix dapat melihat jiwa itu. Padahal dia tahu jika keduanya bukan tipe seseorang seperti dirinya yang dapat melihat makhluk-makhluk itu. Ya, mungkin sedikit berbeda untuk kasus jiwa bernama Chris ini.
Sebenarnya ada rasa penasaran dalam tubuh remaja itu tentang sosok Chris yang saat ini duduk di pagar balkon apartemen Hyungi. Dia ingin bertanya tapi Beomgyu sudah berikrar untuk tidak berurusan pada apapun jenis makhluknya, termasuk jiwa Chris. Jadi sesekali Beomgyu hanya akan mengamati jiwa itu disela-sela kegiatannya saat mengunjungi apartemen ini.
Chris itu terlihat tampan. Proporsi tubuhnya bagus dan berisi. Wajahnya berkulit putih pucat seperti vampire. Surainya sedikit blonde dan berantakan. Kemudian pakaiannya selalu sama. Celana jeans hitam, kaos putih polos yang kebesaran dan dibalut jaket hitam, serta snickers hitam. Sejak awal bertemu sampai detik ini, tidak ada yang berubah dari wajah itu. Kecuali saat dia terlihat sedang mengekspresikan sesuatu.
"Hoi, Choi Beomgyu!"
Satu teriakan dan sebuah tepukan di belakang kepala berhasil menyadarkannya. Nyaris membuat tubuh itu tersungkur dari posisinya. Dia mendelik tajam, ke arah Hyunjin yang menjadi pelaku atas segala hal yang diterimanya.
"Kau dari tadi dipanggil Hyungi-noona!"
Ingin meruntuki sahabatnya itu tapi perhatian Beomgyu segera teralih pada Hyungi yang sedang menatapnya dari arah dapur. Jadi dia akan menyimpan dendamnya untuk nanti dan memilih untuk menghampiri Hyungi.
"Ada apa, noona?"
Hyungi menatap pemilik surai kelabu itu lalu mengernyit bingung. "Ada apa apanya?"
Beomgyu mengusap tengkuknya sebagai pertanda ada yang salah dengan hal ini. "Hyunjin bilang kau memanggilku."
"Hah? Tidak. Aku tidak memanggilmu."
"Ck! Hyunjin sialan!" gerutu Beomgyu yang sudah menggulung lengan seragamnya lalu menatap Hyungi. "Noona, izinkan aku menghajar Hwang Hyunjin hari ini."
"Oh, tentu saja." Hyungi menjawab tenang. Dia sudah bisa menebak apa yang baru saja terjadi dan itu semua karena adik sepupunya.
"HWANG HYUNJIN! KAU BENAR-BENAR MENCARI MATI, YA?!"
Dan Hyungi hanya bisa tertawa kecil seraya mengamati tubuh Beomgyu yang berlari menuju ruang tengah. Terdengar suara-suara memilukan disana. Lagi, Hyungi tidak terlalu peduli bagaimana nasib Hyunjin yang mungkin saja akan disiksa Beomgyu dengan anarkisnya.
