Piece #7 – The Way Back

Jungkook baru saja keluar dari ruang guru yang berada di lantai dasar. Dengan selembar catatan kecil di tangan kanannya dan pulpen hitam di tangan kirinya, dia melanjutkan langkahnya untuk menuju kelasnya yang berada di lantai dua.

Sesekali bibirnya menyapa atau membalas sapaan beberapa murid tahun kedua dan ketiga yang berpapasan dengannya. Bahkan dia tidak peduli jika sapaannya itu hanya dianggap lalu. Tapi rasanya tidak mungkin, karena rata-rata murid tahun kedua dan ketiga yang ditemuinya adalah murid perempuan yang memang menganggumi seorang Jeon Jungkook.

Ayolah, siapa yang tidak mengenal Jeon Jungkook di sekolah ini? Murid tahun pertama di kelas 10 - 2 dengan senyum manis dan gigi kelinci yang terkenal ramah. Pada awal tahun saja dia berhasil menarik perhatian seluruh penjuru sekolah dengan kemampuan otak dan ototnya. Ditambah lagi wajah tampan dan postur tubuh yang sempurna, suara yang indah serta ramah, berhasil menjadikan Jungkook sebagai salah satu siswa favorit bagi seluruh murid dan guru.

Kembali ke koridor lantai dua yang masih dipenuhi lalu lalang beberapa murid yang tidak memasuki kelas karena memang guru-guru sedang mengadakan rapat, Jungkook menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelasnya. Dia menggeser pintu depan dengan percaya diri dan kembali tersenyum.

"Bagaimana? Guru benar-benar rapatkan?"

"Tidak ada pelajaran, 'kan?"

"Kita boleh keluarkan?"

Jungkook mengangguk sebagai tanggapan dari pertanyaan yang diajukan oleh beberapa teman sekelasnya. Kemudian dia menghela nafas lalu menggerutu kecil seraya mengangkat tangan kanannya yang memegang catatan kecil tadi.

"Memang benar tidak ada pelajaran hari ini," ucapnya kembali menghela nafas dengan ekspresi lesu seperti murid pada umumnya, "tapi kita dapat tugas kelompok hari ini."

Bukan hanya Jungkook tapi seisi kelas ikut melenguh. Mereka menggerutukan nama guru pelajaran pagi ini yang selalu memberikan tugas walaupun mereka dalam keadaan bebas belajar.

"Sudah kuduga seorang Mr. Kang dan kedisiplinannya. Mana mungkin dia akan melepaskan kita begitu saja."

"Ah, apakah kepala sekolah tidak bisa mengganti jadwal rapat? Pindahkan ke besok atau lusa? Kenapa selalu bertepatan dengan mata pelajaran Mr. Kang?!"

"Astaga!" pekik Changbin yang terlihat tidak mau ketinggalan. "Aku rasa Mr. Kang memiliki gejala gatal-gatal jika tidak memberikan tugas kepada kita."

Kini sahutan-sahutan protes bergema di ruang kelas. Seolah tidak peduli lagi pada Jungkook yang ikut menggerutu karena tugas yang mereka dapatkan. Bahkan beberapa dari mereka ikut berteriak kesal.

"Jadi," seru Kim Dahyun yang duduk di bangku paling depan, "apa tugasnya? Lalu kapan dikumpulkannya?"

"Aku harap minggu depan."

"Minimal minggu depan saja."

"Well," ucap Jungkook seraya mengedikkan bahunya lalu membacakan tulisan pada catatan kecil tadi, "bagi delapan kelompok lalu kita diminta untuk membuat makalah dari materi awal sampai minggu ini dan dikumpulkan lusa sebelum pukul sepuluh pagi."

"Heol!"

"Bisa katakan itu kurang banyak?!"

"Sudah kuduga dari seorang Mr. Kang dan segala keajaiban di dunia."

"Astaga!"

Yeonjun mengangkat tangan kanannya lalu berseru, "jadi kita harus mengacak kelompok lagi? Kenapa tidak gunakan sepuluh kelompok saja seperti biasa?"

"Aku sudah mengatakan itu tapi dia bilang terlalu banyak. Jadi begitulah." Jungkook meletakkan catatan kecil tadi ke atas meja Dahyun lalu berjalan ke bangkunya. "Kalian tahu sendiri bagaimana dia. Melawan maka selamat datang dengan tugas tambahan yang akan terus berdatangan."

"Jadi bagaimana pembagian kelompoknya?" tanya Changbin yang sudah mengeluarkan buku catatannya.

"Pilih sendiri saja. Aku terlalu malas membaginya. Atau tidak, bubarkan saja kelompok sembilan dan sepuluh dan masuk ke kelompok satu sampai delapan. Efisien."

"Oke."

"Jadi," seru Hyungi yang mulai membuka suaranya, "siapa yang akan masuk kelompok kita?"

Jungkook mendongakkan kepalanya ke arah Yeonjun yang sudah merangkul Minho dan berjalan menghampiri mereka. "Aku ajak Minho, bagaimana?"

Changbin menoleh ke sumber suara lalu menatap Minho yang hanya terdiam kemudian beralih pada Jungkook. "Well, aku tidak terlalu mempermasalahkan siapapun."

"Aku juga." Hyungi ikut bersuara.

"Kalau begitu, sudah diputuskan." Jungkook berusaha menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Dia cukup bahagia kini sahabatnya kembali dekat.

~.~

Chris segera mendekat saat tiba-tiba saja Taehyung menyerukan nama Hyungi. Pemuda itu segera berpindah posisi dari sofa tunggal menuju sofa panjang dimana Taehyung sedang berbaring.

"Kau pulang terlambat?"

Chris mendekatkan wajahnya ke telinga kiri Taehyung dimana ponsel pemuda itu berada saat ini.

"Aku menyelesaikan tugas di perpustakaan kota. Jadi aku harap kau pergi ke suatu tempat sampai aku pulang."

Taehyung berdecak sebal lalu menyahut, "aku tidak akan membuat masalah. Lagipula aku dari tadi hanya di sofa dan hanya pergi ke kamar mandi. Ke dapur hanya untuk mengambil air minum. Makan saja aku delivery."

"Oh ya? Baguslah jika kau tahu diri. Tae, aku bisa tahu kau melakukan hal apasaja saat aku tidak di rumah."

"Tahu darimana? Aku tidak ingat pernah memasang kamera pengawas disini. Lagipula kau ingin aku ditangkap manajer sialan itu ya?"

"Ya, ya, ya, aku pegang ucapanmu. Aku hanya mengatakan itu saja. Takut-takut kau buat masalah. Oh ya, aku titip dia ya?!"

"Titip siapa?" tanya Taehyung dengan alis yang bertautan.

"Bukan apa-apa. Aku tutup. Ingat, jangan membuat masalah!"

"Iya. Dasar cerewet!"

Taehyung memutuskan panggilannya lalu hendak melempar benda persegi panjang itu namun terurung. Dia harus mengingat kalimat-kalimat ancaman kakak laki-lakinya yang berkunjung kemarin malam.

"Ponsel ini hancur lagi maka aku akan melaporkan keberadaanmu pada si manajer itu."

Dan Taehyung sedang tidak ingin bertemu si manajer itu. Jadi dia meletakkannya ke atas meja secara perlahan lalu memeluk bantal.

Sedangkan Chris hanya menggelengkan kepalanya. Dia ingat kalimat terakhir sebelum panggilan mereka terputus. Kalimat yang berisi kata 'titip' dari Hyungi diperuntukkan kepadanya. Sesuai amanat tiga hari yang lalu, sejak kejadian dapur yang nyaris terbakar, Chris menjadi pengawas Taehyung secara pribadi. Dia harus mengawasi apasaja yang dilakukan kepala biru itu selama Hyungi berada di sekolah.

~.~

Di meja bundar paling sudut ini, Hyungi sedang berkutat pada buku-buku yang dibawakan oleh Yeonjun. Jungkook dan Minho juga tak luput dari kesibukan mereka untuk mengetik sesuatu pada notebook yang sempat diambil Yeonjun dan Changbin sebelum mereka berlima berakhir di tempat ini. Sedangkan Changbin, pemuda itu belum menunjukkan batang hidungnya sejak limabelas menit yang lalu karena harus mengurus masalah perutnya di toilet.

"Jung," panggil Yeonjun tanpa minat untuk melepaskan pandangannya dari buku, "bagaimana jika ambil bagian ini? Aku rasa ini lumayan untuk menambah bagian yang kurang."

Jungkook mendekat, menatap bagian buku yang dimaksud teman sekelasnya itu. Dia membaca beberapa kalimat yang dimaksud lalu berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

"Sebentar, aku akan menyelesaikan yang ini dulu." Ucapnya lalu beralih pada buku yang ada di pangkuannya.

"Aku sudah menyelesaikan bagianku." Minho menyahut lalu menggeser layar notebook yang digunakannya ke arah Hyungi. "Bagaimana menurutmu? Harusnya Changbin yang memeriksa bagian ini karena jujur saja aku tidak terlalu paham."

"Hmm, aku juga." Hyungi menjawab namun tetap memandangi layar notebook yang menampilkan program pengolah kata. "Tapi ini sudah semuakan?"

Minho mengangguk lalu menjawab, "tinggal digabungkan saja."

"Itu bagianku," sahut Yeonjun yang sudah mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum, "aku akan menggabungkannya lalu memeriksa bagian-bagiannya. Besok aku kabari hasilnya."

"Soal Chang~"

Belum sempat Jungkook menyelesaikan kalimatnya, orang yang dicari kini sudah berdiri di belakangnya. Pemuda itu sedikit menggerutu sebelum akhirnya menarik kursi kosong yang berada di antara Minho dan Jungkook lalu duduk disana.

"Aku pikir kau melarikan diri," ucap Hyungi yang kini merapikan buku-buku yang baru selesai dibacanya.

"Aku saja menumpang pada Yeonjun, bagaimana bisa pulang begitu saja?!" balas Changbin yang disusul dengan gerutuannya. "Sepertinya aku terkena diare."

"Salahmu makan~"

Lagi, kalimat Jungkook tidak terealisasikan sepenuhnya karena Changbin kembali berlari meninggalkan mereka. Membuatnya harus berdecak sebal.

"Ya Tuhan, aku rasa akan ada yang menginap di rumah sakit malam ini." Hyungi berucap seraya menatap jail ke arah Yeonjun yang sudah menggerutu. "Tapi tentang tugas psikologi milikku, apa itu sudah selesai? Aku ingin membacanya."

Yeonjun terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum paksa. "Hmm, sudah. Kau tenang saja. Sebenarnya isi tugas kita kurang lebih. Changbin sudah mengaturnya dengan baik."

Hyungi mengangguk paham lalu menghela nafas lega. Dia harus teringat tugas psikologi bulanan mereka yang harus dikumpulkan minggu depan.

"Oh iya, Ho," panggil Jungkook pada Minho yang masih mengetikkan beberapa kalimat, "aku tidak bisa pulang denganmu karena harus~"

"Ya, aku tahu." Minho segera memotong ucapan si ketua kelas tanpa minat untuk menatapnya.

Sedangkan Jungkook harus kembali menggerutu karena untuk ketiga kalinya, ucapannya terpotong. Ingin sekali berteriak marah tapi dia harus menyadari keberadaan mereka.

"Aku juga." Yeonjun ikut menyahut seraya memasukkan notebook-nya ke dalam tas. Pandangannya tertuju pada Hyungi yang kini tengah menatapnya. "Aku harus mengurus si bayi tua yang sedang terkena diare. Tidak apakan?"

"Ya, aku akan pulang sendiri."

"Gunakan jalan memutar. Jangan gunakan jalan utama!"

"Iya, Yeonjunie."

"Jangan lupa pasang earphone dan segera menutup mata jika melihat bus."

"Ya Tuhan, Choi Yeonjun. Aku bukan anak kecil."

Yeonjun menatap iris emerald itu dengan tatapan khawatirnya. Sebenarnya dia yang bertanggungjawab untuk mengantar Hyungi pulang, sesuai kesepakatan mereka dan Changbin akan pulang dengan taksi. Tapi mengingat kembali Changbin yang terlihat kesulitan dengan masalah perutnya, Yeonjun harus menentukan prioritasnya.

"Hyungi akan menggunakan jalan memutar juga?" sahut Jungkook secara tiba-tiba dan Yeonjun mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu, pulang dengan Minho saja."

Merasa terpanggil, Minho segera menoleh ke arah si ketua kelas lalu memandangi pemuda itu dengan tatapan 'apa maksudnya'.

"Oh, benar. Rumah Minho searah dengan kalian, 'kan?" tanya Yeonjun yang terlihat semangat. "Ho, aku titip Hyungi ya? Bolehkan?"

Minho melirik Hyungi yang hendak mengajukkan protes. Dia sebenarnya juga keberatan tapi rasanya tidak sopan jika menolak karena hal itu tidak terlalu merugikan bagi mereka.

"Aku bisa pu~"

"Iya."

Yeonjun menghela nafas lega lalu kembali tersenyum tipis lalu beranjak dari posisinya. "Kabari aku jika sudah tiba! Aku duluan ya?! Ingin menyusul Changbin dulu!" pamitnya dan tidak lupa mengambil ransel miliknya serta Changbin.

"Ayo keluar!"

~.~

Sesuai percakapan sebelumnya, Hyungi dan Minho pulang bersama. Mereka berdua tidak melalui jalan utama, sesuai perintah dari dua teman mereka.

Jalan yang mereka gunakan cukup sepi dari kendaraan. Hanya akan ada dua sampai tiga kendaraan saja yang lewat dalam waktu satu menit. Tidak seperti jalan utama yang akan dilalui banyak kendaraan walaupun waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat ini.

Tidak ada percakapan sejak keduanya berpisah dengan Jungkook. Hanya ada langkah kaki, deru kendaraan dan beberapa percakapan orang-orang yang mereka lalui.

Seperti judulnya, pulang dengan jalan memutar memerlukan waktu yang sedikit lama dari pulang dengan jalan utama. Jika jalan utama hanya memakan waktu sekitar dua sampai tiga puluh menit, maka dengan jalan memutar akan memakan waktu kurang lebih dua kali lipat dari waktu di jalan utama.

"Ho," panggil Hyungi tanpa minat untuk menatap pemilik surai legam yang berjalan di sisi kanannya, "kenapa kau pulang dengan jalan ini?"

Minho melirik gadis di sebelahnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap ke depan mereka. "Hanya terbiasa saja. Kau sendiri?"

Hyungi merapatkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit milik Changbin yang diberikan oleh Yeonjun sebelumnya. Dia sedikit mengedikkan bahunya karena udara malam yang dingin.

"Tidak tahu. Dari awal mereka memintaku untuk tidak melewati jalan utama."

"Mereka?" tanya Minho seolah tidak terlalu menangkap siapa saja yang dimaksud Hyungi selain Yeonjun.

"Mereka," jeda Hyungi lalu menatap Minho yang sedikit tinggi beberapa centi darinya. "Yeonjun, Changbin, Hyunjin dan ketiga temannya, dua sepupuku dan orang tua mereka."

"Alasannya?"

Entah kenapa, Minho sedang masuk ke mode dia ingin tahu lebih dalam. Sadar atau tidak, wajahnya menunjukkan jelas jika pemilik surai legam itu sangat penasaran.

Hyungi kembali menatap jalanan lalu menggeleng. "Mereka hanya melarangnya saja. Mungkin karena sesuatu yang dulu pernah terjadi padaku."

"Sesuatu? Berhubungan dengan jalan utama?"

Hyungi mengangguk lalu menggosok hidungnya yang memerah. Ah, dia tidak suka udara malam yang dingin. Rasanya ingin cepat pulang dan masuk ke bawah selimut hangatnya.

"Aku tidak bisa mengingatnya. Jadi aku sendiri tidak yakin bahkan tidak tahu apa yang terjadi denganku, jalan utama, bus, sirine, hujan dan ledakan. Bagiku, semua itu sangat menakutkan."

"Aku juga." Minho berucap lalu menghentikan langkah kakinya. "Aku benci jalan utama, sirine, hujan, darah dan ledakan. Semua itu benar-benar membuat seluruh tubuhku mati rasa. Bedanya aku tahu kenapa aku bisa takut semua itu."

Hyungi ikut menghentikan langkahnya lalu menatap Minho yang berdiri sedikit di belakangnya. "Aku tidak akan bertanya tapi itu pasti akan sangat tidak menyenangkan."

Minho langsung menatap mata emerald itu. Iris yang berubah hijau karena lampu jalanan. Sangat indah tapi membingungkan. Untuk beberapa saat dia terjebak disana. Dia ingin menyelami lebih jauh, mencari tahu apa saja yang ada di dalam sana.

"Apa itu juga yang membuat Yeonjun dan Changbin selalu mengerjakan tugas psikologimu?"

Hyungi memainkan kaki kirinya, menendang-nendang udara kosong di bawah sana. Bibirnya sedikit mengerucut lalu menjawab, "tidak selalu. Hanya tugas tertentu saja."

Minho nyaris tertawa karena ekspresi lucu itu tapi dengan cepat dia terbatuk lalu kembali menyamakan posisinya dengan Hyungi. "Oh ya?"

"Ya," jawab Hyungi diiringi anggukan kecil lalu kembali melanjutkan langkah mereka, "hanya saat tugas-tugas seperti bulan lalu dan beberapa tugas sebelumnya. Tugas-tugas berkaitan ingatan dan masa lalu."

Perasaan lucu tadi sirna karena Minho merasa telah memberikan pertanyaan yang salah. Namun dia sudah terlanjur tenggelam disana dan hanya bisa melanjutkan pertanyaannya.

"Kenapa?"

"Aku mengalami amnesia permanen. Jadi tidak ada hal yang bisa aku ingat tentang masa laluku. Jangankan masa kecil, apa yang membuat amnesia saja aku tidak tahu. Orang-orang di sekitarku juga meminta untuk tidak membahasnya."

Minho terdiam untuk beberapa saat. Setahunya, Hyungi adalah tipikal gadis yang terlihat santai dan selalu menikmati hari-harinya. Gadis itu juga selalu tersenyum -walaupun bukan pada dirinya. Namun dia tidak tahu jika gadis itu memiliki cerita yang cukup menyesakkan.

"Saat sadar, aku tidak mengingat apapun tapi aku selalu menangis tiba-tiba, berbagai bayangan menakutkan selalu muncul. Aku bahkan nyaris didiagnosa mengalami PTSD tapi untungnya itu tidak terjadi. Tapi aku takut pada beberapa hal yang tidak logis, seperti yang kukatakan tadi. Dokter bilang semua itu adalah bentuk trauma psikologi sebagai dampak dari kejadian yang aku alami."

Hyungi menatap Minho lalu tertawa kecil. "Lucukan? Mereka selalu memintaku terapi tapi tidak pernah memberi penjelasan tentang apa yang pernah terjadi padaku. Soal jalan utama juga. Mereka hanya memintaku tidak melewati jalan itu karena berbahaya."

Minho dapat melihat wajah gadis itu menggigil kecil dan membuatnya harus menatap sekitarnya. Namun hanya ada beberapa toko yang mulai tutup dan sebuah toko aksesoris. Jadi dia memutuskan untuk kembali menatap lurus ke jalanan sambil sesekali melirik Hyungi yang menggosok hidungnya.

"Apa kau pernah melewati jalan utama?"

Hyungi mendongakkan kepalanya lalu sedikit berpikir. "Hmm, pernah sekali. Tapi tidak sampai sepuluh menit, aku pingsan. Setelahnya aku dilarang lagi melewati jalanan itu."

Sejenak dia menatap Minho lalu mencekal lengan yang berbalut sweater hitam itu. Dia sedikit berjinjit untuk membisikkan sesuatu di telinga kiri Minho.

"Sebenarnya aku sempat beberapa kali mendatangi tempat itu. Tapi melihatnya dari kejauhan saja sudah membuat tubuhku mati rasa." Hyungi menghentikan kegiatan berbisiknya tapi tangannya masih mencekal lengan Minho.

"Nafasku sesak. Seluruh tubuhku tidak mau bergerak dan mendadak rasanya menjadi aneh. Kepalaku juga rasanya pening. Ada perasaan ingin menangis dan takut yang luar biasa. Aku juga mengalami hal yang sama jika melihat bus. Ada banyak bayangan yang memasuki kepalaku dan itu sangat mengerikan. Untung saja di setiap acara nekad itu, selalu ada orang yang menarikku untuk pergi."

Minho hanya terdiam saat Hyungi sudah melepaskan lengannya dan menatap gadis itu kembali melangkah. Dia sendiri tidak menduga jika apa yang dialami Hyungi sama seperti apa yang dirinya alami. Gejala-gejala yang timbul saat dia berhadapan dengan pemicu trauma.

Hanya saja, baik Minho maupun Hyungi, keduanya sama-sama tidak pernah mengetahui jika mereka mengalami kejadian yang sama. Kejadian yang berhasil merenggut orang terkasih mereka. Kejadian yang merenggut hampir seluruh hidup mereka. Kejadian yang berhasil membuat mereka harus menghindari hal-hal tertentu yang dapat memicu rasa trauma berlebihan.