Sesaat Hyungi terdiam saat mendapati seorang pria dengan setelan rapi menyambutnya dibalik pintu. Pria itu menatapnya sambil tersenyum ramah sambil mengangkat dua paper bag cokelat yang ada di kedua tangannya.
"Paman Heechul, bukan?" tanya ragu.
Pria manis itu menganggukkan kepalanya dengan semangat lalu menjawab, "aku baru kembali dari luar negeri dan sengaja mengunjungimu. Bagaimana? Keadaanmu baik-baik saja, 'kan?"
Hyungi mengangguk yakin lalu mempersilahkan pria itu masuk ke dalam dan menutup pintu apartemennya. Dibiarkannya pria bernama lengkap Kim Heechul itu menjelajahi dapurnya, meletakkan dua paper bag yang dibawanya dia atas meja makan lalu kembali menghampiri Hyungi yang sudah duduk di ruang tengah.
"Bukannya paman menyuruh Taehyung pulang ke rumah ya kemarin?"
Hyungi bertanya ragu lantaran teringat jika pria yang kini duduk di sofa tunggalnya itu adalah orang yang mencerca Taehyung agar pemuda itu pulang ke rumahnya sejak kemarin sore. Bahkan dia mengeluarkan ancaman-ancaman ampuh yang berhasil membawa putra keduanya itu meninggalkan apartemen Hyungi saat tengah malam.
"Ya," ucap Heechul yang terbilang tenang, "paman lelah diteror manajernya karena anak itu menghilang hampir dua minggu. Untung saja Namjoon mengatakannya pada paman."
"Ah." Hyungi merespon maklum. Dia kembali teringat bagaimana Taehyung menggerutu disela pemuda itu bangun dari posisinya, mengeluhkan berbagai hal tentang ayahnya dan menyumpahi Namjoon yang membongkar tempat persembunyiannya.
"Apa dia banyak merepotkanmu?" tanya Heechul dengan tatapan yang berubah menjadi sebuah intimidasi.
"Hmm, tidak."
"Tidak salah lagi. Dia bahkan hampir membakar dapurmu."
Hyungi sedikit tersentak saat Chris menghantarkan tubuh besar itu tepat di samping dirinya. Dia mendelik sebal sebelum akhirnya mendapati Heechul sedang menatap aneh dirinya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik. Hanya sedikit terkejut saja karena paman datang tiba-tiba."
Heechul hanya menggangguk paham lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang tengah. Tidak ada perubahan sejak kunjungannya terakhir kali.
"Lalu," ucapnya seraya memandangi Hyungi yang bersiap mendengarkan kalimatnya, "bagaimana dengan kondisimu selama tinggal sendiri?"
Hyungi memiringkan kepalanya untuk menatap Chris yang juga menatap dirinya. Mereka bersitatap untuk beberapa detik sebelum akhirnya suara Heechul kembali terdengar.
"Namjoon bilang kau selama ini tinggal sendirian saja. Padahal baru tiga bulan kau, hmm, sendiri tahukan?!"
"Ya," sebenarnya karena ada Chris disini.
Kini tatapan Hyungi tertuju pada iris mata sayup milik pamannya, terlihat jelas raut khawatir dan penuh penyesalan pada iris cokelat itu. Dia sadar apa yang ditakuti oleh Heechul, sepupu-sepupunya, serta teman-temannya. Tentang segala traumatik yang berdampak pada keadaan psikologinya, membuat gadis itu takut pada beberapa hal umum yang ada di sekitarnya. Serta membuat seluruh orang-orang di sekitarnya merasa harus mengambil andil dalam memperbaiki keadaannya.
Heechul menatap jam tangannya lalu beranjak secara tiba-tiba dan berucap, "paman lupa harus menghadiri rapat tigapuluh menit lagi."
Hyungi ikut berdiri lalu mengantar pamannya ke pintu utama, meninggalkan Chris yang masih duduk di posisinya. Kedua orang itu terlihat membicarakan beberapa hal sebelum akhirnya Heechul berpamitan pergi dan Hyungi menutup pintu.
Chris menatap kedua kakinya yang menatak di atas keramik walnut dingin. Kedua kakinya berbalut sepasang snicker hitam dipadu garis putih di beberapa bagiannya. Bibirnya tersenyum tipis kala telinganya menangkap gerutuan Hyungi yang berada di dapur tentang Taehyung.
Kalau aku benar-benar pergi, apa Hyungi akan baik-baik saja?
~.~Minho kembali menatap layar ponselnya. Entah untuk yang keberapa kalinya dia melakukan hal yang sama selama satu jam ini. Saat layar itu mati, dia akan kembali menyalakannya lalu mati lagi dan menyalakannya kembali. Begitu seterusnya.
Dia bahkan menceritakan hal ini pada sang kakak laki-laki yang masih setia terbaring di ranjang. Soal sebuah pesan masuk yang dikirim oleh Yoongi benar-benar membuatnya terkejut. Karena untuk pertama kalinya dia mengirimi pesan langsung ke nomornya hanya sekedar mengabari jika dia akan datang terlambat.
Minho tidak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui perihal Yoongi yang masih membencinya perihal malapetaka yang merenggut kedua orang tua mereka dan komanya sang adik laki-laki kesayangan Yoongi. Minho cukup tahu diri untuk memposisikan dirinya jika berhadapan dengan yang lebih tua. Alasan mereka sering berdiam diri dan akan sedikit beradu argumen lalu kembali terdiam.
Hampir dua jam berlalu saat pintu ruangan terbuka dan menghadirkan pemuda berkulit putih pucat. Surai blonde-nya sudah berganti menjadi warna cokelat madu. Dia sama sekali tidak berbicara lalu meletakkan sebuah kunci motor di atas meja dan melangkah untuk mendekati ranjang.
Mata mereka saling bertemu, tidak ada yang berbicara. Seolah dari tatapan itu, mereka sedang mendiskusikan sesuatu. Karena detik berikutnya Minho menjadi orang yang menghela nafas lalu beranjak dari posisinya. Dia melangkah menuju sofa untuk mengambil ranselnya dan kembali melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan ruangan.
"Bawa itu!"
Minho menghentikan gerakan membuka pintu lalu menatap yang lebih tua dengan tatapan tidak mengerti. Dia menatap ke arah yang dimaksud Yoongi, tepatnya kunci motor yang terletak di atas meja tadi.
"Aku kembalikan motormu."
Ada pikiran ragu dalam otaknya dan membuat Minho kembali menatap Yoongi yang kini sudah duduk di kursi yang diduduki dirinya sebelumnya. Pandangannya kembali bergulir pada kunci motor lalu mengambilnya.
"Terima kasih."
Dua kata yang menjadi akhir percakapan malam itu dan meninggalkan Yoongi yang memilih memejamkan matanya. Dia masih tidak dapat memaafkan Minho tapi di lain sisi, dirinya tidak mungkin membiarkan Minho berlarut dalam rasa bersalah. Yoongi hanya berusaha untuk melupakan malapetaka itu dan fokus pada adik kesayangannya yang masih tidur dengan nyenyak saat ini.
~.~Namjoon dan Taehyung hanya pasrah saat keduanya harus berakhir di salah satu meja VIP di salah satu restoran ternama. Harusnya saat ini mereka berada di tempat yang seharusnya. Namjoon dan papan klip miliknya sedang berjelajah di penjuru rumah sakit serta Taehyung dan kasurnya yang sedang menjelajahi dunia mimpi. Bukannya berakhir disini, bersama dua pria yang sedang tertawa di kiri dan kanan mereka.
"Hyung, mereka seperti tidak bertemu selama ratusan tahun."
Kedua pemuda itu menoleh ke sumber suara, tepat di tengah mereka ada satu lagi yang bernasib sama seperti mereka. Hwang Hyunjin atau putra sulung dari paman mereka yang bernama Hwang Minhyun yang saat ini duduk di sebelah kanan mereka, berhadapan dengan Kim Heechul yang duduk di sebelah kiri mereka.
"Aku setuju." Taehyung membalas bisikkan Hyunjin lalu menggigiti ujung garpunya dengan tatapan sebal. "Ini semua salah hyung!"
Namjoon mendelik tidak terima saat adiknya itu menyalahkan dirinya. Coba saja tidak ada Hyunjin di tengah mereka, mungkin Taehyung akan tersungkur di lantai.
"Harusnya hyung tidak memberitahu ayah soal keberadaanku."
"Ck! Ayah diteror oleh manajermu itu!"
"Bilang saja tidak tahu!"
"Aku keceplosan!"
"Alasan!"
Merasa risih, Hyunjin segera membungkam mulut kedua pemuda itu dengan selada yang ada di depannya lalu bersuara, "berisik, hyung!"
"Kenapa?" tanya Minhyun yang kini beralih untuk menatap tiga orang yang lebih muda. "Apa kalian ingin membicarakan sesuatu?"
Ketiganya menggeleng lalu menjawab, "tidak ada."
"Kalau begitu," sahut Heechul yang ikut menatap ke arah tiga yang lebih muda, "aku ingin bertanya sesuatu kepada kalian selama kami pergi."
Namjoon menjadi orang pertama yang menyahut, "soal apa?"
"Sepupu kalian, Hyungi." Minhyun menjawab.
Seketika ada sedikit perubahan ekspresi dari ketiga pemuda itu. Mereka saling bertatapan sebelum akhirnya menatap yang lebih tua secara bergantian. Mulai dari Namjoon yang terlihat sedikit ragu lalu Hyunjin yang jelas terlihat takut-takut dan Taehyung yang memilih untuk menyibukkan mulutnya dengan makanan.
"Kalian tidak tinggal dengan Hyungi lagi, itu benar?" tanya Heechul dengan suara yang jelas tengah menginvestigasi ketiganya.
"Bukannya kami bilang pada kalian untuk tidak meninggalkan Hyungi sendirian?!" tambah Minhyun yang tak ingin ketinggalan.
Melihat ekspresi dingin sang ayah, Hyunjin sebisa mungkin merapatkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memiringkan kepalanya ke punggung Taehyung. Mungkin dia memang sering mengatai ayahnya tapi tidak dengan ekspresi itu. Hyunjin juga masih tahu batasan dimana dirinya harus bercanda dan serius, apalagi pada sang ayah dan pamannya saat ini.
"Kenapa Hyungi jadi tinggal sendirian? Apa kalian tidak khawatir gejalanya akan kambuh saat sendirian di rumah?" sambung Heechul.
"Ayah~"
"Bukannya kami meminta kalian untuk terus mengawasi Hyungi?"
"Kami~"
"Apa sulitnya hanya mengawasi Hyungi?"
"Aku~"
"Tidakkah kalian mengkhawatirkan Hyungi?"
"Astaga, ayah!" sahut Namjoon yang merasa kesal saat ayahnya terus memotong ucapannya. "Dengarkan aku dulu, oke?"
Heechul hanya menghela nafas lalu mengangguk. Dia mengambil cangkir kopinya lalu menatap lurus ke arah Namjoon.
"Pertama, aku dan yang lain minta maaf karena tidak bisa menjalankan amanat ayah dengan baik." Namjoon berucap lalu melirik Taehyung yang sepertinya tidak berniat untuk membantunya berbicara karena sang adik tampak sibuk dengan makanannya. "Kedua, kami ada alasan kenapa tidak melakukan semuanya dan itu semua karena Hyungi sendiri."
"Hyungi? Kenapa?" tanya Minhyun yang sudah mengernyit heran.
Namjoon menghela nafas lalu menatap pamannya. "Dia sendiri yang meminta kami untuk berhenti menemaninya karena dia sudah merasa baik."
"Apa kalian tahu dia baik darimana?" selidik Heechul yang terlihat masih tidak mempercayai perkataan putra sulungnya.
"Aku melihatnya sendiri," ucap Taehyung tiba-tiba. Dia sudah menghabiskan beberapa potong kue lalu menatap sang ayah. "Aku tinggal dengannya hampir sebulan dan Hyungi sudah dapat mengatasi traumanya sendiri tanpa obat-obatan. Saat hujan, dia selalu tidur. Di sekolah juga, Yeonjun dan Changbin mengatakan jika Hyungi sudah bisa mengatasi rasa takutnya saat hujan, pada sirine dan gemuruh langit."
"Kami tidak benar-benar meninggalkannya sendiri," lanjut Hyunjin yang sudah mulai terlihat memberanikan dirinya, "setiap seminggu sekali kami bergantian menginap disana. Kalaupun tidak menginap, minimal berkunjung seminggu penuh."
Minhyun menatap yang lebih tua lalu bertanya, "apa trauma psikologi bisa sembuh hanya dalam waktu tiga bulan?"
Heechul terdiam lalu menatap tiga orang yang lebih muda dari mereka. Ketiganya terlihat meributkan sesuatu dan terlihat tidak menanggapi tatapan dua yang lebih tua.
~.~Sejak kerja kelompok minggu lalu, Minho menjadi semakin sering menghabiskan waktunya bersama Hyungi, Yeonjun, Jungkook dan Changbin. Kelimanya menjadi semakin sering mendapat tugas bersama, seperti malam ini. Mereka kembali menghabiskan waktu di perputakaan kota.
"Mana Hyungi?" tanya Jungkook pada Minho yang sedang memejamkan matanya dengan posisi terduduk. Dia baru saja kembali dari mengembalikan beberapa buku yang digunakan mereka sebelumnya.
Minho sedikit mendongak lalu melirik ke sebuah kursi sisi kanannya. Dia hanya menunjuk dengan dagunya, menyuruh Jungkook untuk melihat sendiri apa yang dimaksudnya.
Jungkook menatap bingung lalu berjalan ke arah yang dimaksud Minho dan melihat ke bawah. Ada Hyungi yang tidur disana dengan tumpuan kursi. Ada dua buku yang menemaninya dan satu pulpen yang masih setia digenggaman tangan kirinya.
"Dari tadi?"
Minho hanya mengangguk lalu menopang dagu dengan tangan kanannya lalu ikut menatap Hyungi. "Yeonjun dan Changbin, mana mereka?"
"Kami disini!" sahut Changbin dengan suara antusias. Dia terlihat semangat karena langkahnya terkesan riang. "Kenapa? Mana Hyungi?"
"Tidur," jawab Jungkook seraya mengkode untuk menatap Hyungi.
Yeonjun menjadi orang pertama yang mendekat lalu menghela nafas. Dia menatap Changbin yang berdiri tepat di belakangnya.
"Kau pulang sendiri!"
Changbin hanya mengangguk sebagai respon lalu beralih untuk mengemaskan buku-bukunya. Dia sendiri sudah memaklumi saat-saat Yeonjun akan menyuruhnya pulang sendirian berarti sahabatnya itu akan mengantar Hyungi pulang.
"Kau pulang dengan Changbin saja," sahut Minho yang terlihat sudah ikut memasukkan alat tulisnya, "biar aku pulang dengan dia."
Yeonjun menoleh, bukannya ke arah Minho melainkan Jungkook yang tampak membulatkan matanya. Mereka bersitatap untuk beberapa saat seolah bertanya 'kenapa dia' dan kalimat 'tidak biasanya' sebelum akhirnya kembali menatap Yeonjun.
"Kau yakin?" tanya Jungkook yang terdengar ragu dengan penawaran temannya itu. "Atau biar aku mengantar Hyungi saja."
"Bukannya kau harus berangkat ke Busan malam ini?" sahut Changbin yang tampak tidak mengetahui topik apa yang dibahas oleh kedua temannya saat ini.
"Aku bisa menundanya. Lagipula aku harus mengambil beberapa barang di rumah." Jungkook menyampirkan ranselnya ke bahu kanan lalu menatap Yeonjun.
Minho tampak beranjak lalu menatap sang ketua kelas dengan datar. "Memangnya barang seperti apa yang ingin kau ambil, Kook? Semuanya sudah ada di rumah kakak sepupumu, 'kan?"
Jungkook bungkam seketika. Jujur saja, tidak ada hal yang diperlukannya lagi. Dia hanya ingin memastikan Minho salah mengelola perkataannya.
"Motorku sudah dikembalikan. Lagipula kami searah. Jadi kalian jangan khawatir."
Minho menggeser kursinya lalu berjongkok di sebelah Hyungi yang masih tertidur. Perlahan dia menepuk pundak gadis itu sambil berbisik untuk mengajaknya pulang.
Sedangkan Jungkook dan Yeonjun kembali bertatapan. Mereka tidak yakin dengan penawaran tiba-tiba dari seorang Lee Minho. Changbin sendiri tampak tidak menyadari keraguan kedua temannya dan malah sibuk membereskan ransel Hyungi.
Minho kembali berdiri, diikuti Hyungi yang sudah bangun. Gadis itu sudah menggosok matanya.
"Sudah mau pulang, ya?"
"Kau pulang dengan Minho, ya? Dia yang menawarkan diri." Changbin menyahut seraya melempar ransel milik sahabatnya.
"Oke."
~.~Walaupun dengan kendaraan, Minho tetap melewati jalan memutar yang biasa digunakannya. Benar-benar tidak ingin mengambil resiko untuk melewati jalan utama. Padahal dia tidak tahu jika di depan sana, ada satu bahaya yang akan menantinya.
"Hei, kau jangan tidur! Bagaimana jika kau jatuh nanti?"
Hyungi menguap lalu mengusap wajahnya agar tetap sadar. "Aku tidak tidur."
Minho menatap pinggang kiri dan kanannya, sesuai amanat, Hyungi memasih memeluk pinggangnya. Dia cukup khawatir jika gadis itu mendadak tidur dan jatuh ke jalanan. Sejujurnya ada degup aneh di dadanya dan Minho yakin ini pertama kalinya dia merasakan itu. Apalagi saat merasa kepala Hyungi bersandar di punggungnya.
"H-hei, jangan tidur!"
"Aku tidak tidur, Ho."
Belum sempat kembali merespon ucapan Hyungi, Minho segera menarik pedal remnya secara tiba-tiba. Dia meringis saat gesekkan ban motor dan aspal menimbulkan decitan yang memekakkan telinga.
"Ho, apa tidak bisa pelan-pelan?" protes Hyungi saat merasa tubuhnya tersentak karena perbuatan Minho.
"Diam, Gi!" perintah Minho dengan suara tegas. Pandangannya kini tertuju ke arah depan, dimana beberapa orang sedang berkumpul seperti sedang menyambut sesuatu.
Ada belasan orang di depan sana dengan beberapa tongkat yang berbagai bentuk dan bahan. Beberapa dari mereka tertawa lalu melangkah maju untuk mendekati motor Minho.
Minho hendak memutar motornya namun sia-sia karena di belakangnya juga ada belasan orang disana. Berpenampilan yang sama dan tertawa.
"Ho, tunggu! Mereka siapa?" tanya Hyungi seolah baru tersadar sepenuhnya. "Apa mereka sedang tawuran?"
Minho tidak menjawab dan malah turun dari motornya. Dia melepaskan helm lalu menatap lekat iris emerald milik Hyungi.
"Dengar," ucapnya seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar, "tetap di belakangku dan jangan jauh-jauh!"
Hyungi hanya terdiam dalam kebingungan, apalagi saat Minho menarik tangannya untuk turun dari motor dan melangkah mundur. Tepat ke halaman bangunan toko tak terpakai yang ada disana. Dia berusaha mencerna situasi yang saat ini. Tentang Minho dan puluhan orang-orang itu. Dia sedikit berharap ada orang-orang yang melintas di tempat ini tapi hanya sekedar harapan karena mereka sama-sama tahu, jalanan ini jarang dilalui pada waktu-waktu seperti ini.
Gadis itu juga dapat merasakan lengan kanannya dicengkeram erat oleh Minho. Sangat erat dan cukup menyakitkan. Namun Hyungi tidak ingin mengajukan protes karena dia sadar Minho berusaha mencari aman untuk mereka, tidak, tapi untuknya.
Kini mereka terpojok. Puluhan orang bersenjata tumpul itu sudah membentuk setengah lingkaran dengan tawa remehnya yang lain. Namun tidak lama, barisan itu sedikit membelah, membuat satu ruang tepat di tengahnya dan menghadirkan satu orang bertubuh tegap dengan pakaian yang sedikit berbeda dari kawanannya yang lain.
"Apa maumu?" sergah Minho.
"Oh, oh, hold up!" ucap pemuda itu santai lalu menyeringai. "Kau tahukan, aku tidak suka pembatalan janji. Rasanya seperti dikhianati."
Minho meruntuk pelan. Dia harusnya sadar dari awal untuk tidak berurusan dengan orang di depannya itu. Sayangnya, orang di depannya ini yang memulai masalah duluan hingga akhirnya dia ikut terlibat.
"Kau harusnya tidak mengingkari janji, Lee Minho. Aku tidak suka itu dan aku harus menyingkirkanmu sampai akhirnya tidak tersisa. Sudah lama aku menunggumu tapi sepertinya kau sedang rajin belajar."
Pandangan pemuda itu beralih pada tangan Minho yang menggenggam lengan Hyungi dengan erat lalu tersenyum. "Apa sekarang karena kau sudah memiliki kekasih? Apa aku boleh mencicipinya? Dia sangat cantik dan sepertinya manis."
Minho menggeser tubuh Hyungi agar berlindung di belakangnya. "Jangan ganggu dia! Dia tidak ada urusannya dengan semua ini."
"Oh ya? Tapi dia sudah berada disini, benarkan, manis?"
"Moonbin, bisa kita selesaikan masalah ini lain kali saja? Aku akan menemuimu sendiri." Minho berucap setengah memohon.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya lalu menatap puluhan anak buahnya. "Kau pikir mereka tidak sibuk? Mereka sudah meluangkan waktu yang spesial untukmu dan waktu spesial itu adalah sekarang. Serang mereka!"
Perintah terakhir dari pemuda bernama Moonbin itu langsung membuat seluruh anak buahnya bergerak. Sedangkan dia, melangkah mundur dan menonton dari kejauhan.
"Maaf karena sudah melibatkanmu." Minho melepaskan genggamannya lalu melepaskan ransel serta jaketnya. "Tetap disini!"
Hyungi tidak menjawab dan hanya menerima ransel dan jaket. Kemudian matanya tertuju pada Minho yang sudah melangkah maju dan memulai perkelahian. Rasanya sedikit tidak adil melihat Minho yang sendirian melawan puluhan orang bersenjata tumpul.
Baru saja dia meletakkan ransel dan jaket milik Minho ke lantai, tangan kirinya sudah dicekal oleh seseorang. Pria itu menyeringai lalu menyentak kasar Hyungi. Entah refleks yang dimiliki atau memang naluri, Hyungi malah menjambak rambut pria itu lalu menariknya hingga sedikit membungkuk dan memberikannya tendangan tepat di perut. Belum cukup, dia menyikut punggung pria itu dengan cepat hingga ambruk.
"Woah," gumam Hyungi seraya menatap kedua telapak tangannya, "aku tidak tahu bisa berkelahi."
Bibirnya tersenyum tipis lalu beralih pada beberapa orang yang sudah menatapnya lapar. Seolah bersiap menghabisi gadis itu. Dan sekarang, Hyungi tahu apa yang harus dilakukannya. Instingnya adalah membantu Lee Minho untuk menghabisi seluruh orang-orang yang ada disana.
