Piece #9 – Come Back Home

Chris menatap lurus ke arah pintu apartemen. Dia terus melakukan hal yang sama sejak dua jam yang lalu. Padahal harusnya dia berada diluar saat ini. Berkeliling mencari soal dirinya. Namun kegiatan rutinnya harus tertahan karena dirinya belum mendapati Hyungi pulang. Harusnya gadis itu sudah tiba sejak dua jam yang lalu tapi sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih limabelas menit dan Hyungi belum menampakkan dirinya. Dia hanya tahu Hyungi akan pulang terlambat karena harus ke perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas.

Saat yang sama, Chris dapat mendengar suara password apartemen yang digunakan. Dia tidak terlalu banyak berharap karena bisa saja password tersebut berasal dari pintu sebelah apartemen ini. Namun nyatanya pintu apartemen Hyungi yang terbuka dan mendapati gadis itu masuk bersama seseorang lainnya. Mereka saling membopong atau tepatnya orang itu membopong Hyungi.

"Ya Tuhan! Apa yang terjadi pada kalian?" teriak Chris.

Bukannya tanpa alasan, tapi Chris benar-benar teriak karena terkejut begitu melihat Hyungi dan yang tepatnya adalah Minho, masuk dalam keadaan terpincang, wajah penuh luka dan seragam yang berantakan.

"Sudah-sudah, sampai disini saja!" pinta Hyungi yang kemudian melepaskan dirinya dari Minho. Kemudian dia melangkah dengan kaki yang terpincang lalu menuju sofanya.

Minho hanya mengekori gadis itu lalu meletakkan ransel miliknya dan Hyungi di sisi lain sofa yang diduduki gadis itu. Tubuhnya hendak berbalik menuju pintu, berniat menutup pintu apartemen tapi pintu tersebut sudah tertutup rapat. Jadi dia memutuskan untuk duduk di samping Hyungi.

Sedangkan Chris, pelaku penutupan pintu segera mendekati Hyungi. Dia mengamati wajah Minho yang terdapat beberapa luka disana, kurang lebih seperti pertemuan pertama mereka sekitar dua bulan yang lalu.

"Gi, kenapa? Penampilan kalian kacau sekali!" serunya lagi seraya meraba sudut luka yang ada di pelipis Hyungi. "Apa perlu aku kabari Felix?"

"Jangan!" pekik Hyungi yang berhasil membuat Minho terkejut.

"Kenapa?"

Hyungi mendorong Chris lalu berbaring dan menjawab, "bukan apa-apa." Pandangannya beralih menatap Chris yang sudah kembali berdiri seraya menggerakan bibirnya untuk membentuk kalimat 'jangan beritahu siapapun'.

"Dimana kotak obatmu? Biar aku obati dulu!" sahut Minho yang sudah beranjak dari posisinya.

"Hmm," Hyungi tampak berpikir lalu menatap Chris untuk meminta jawaban, "di kamarku?" jawabnya ragu.

"Kamarmu?" tanya Minho sekali lagi. Dia tidak mungkin masuk ke kamar seorang gadis, 'kan? Tolong, Minho cukup tahu diri untuk memposisikan dirinya. "Kau yakin tidak di suatu tempat disini?"

Hyungi sendiri ragu. Dia tidak mungkin membiarkan Minho masuk ke kamarnya. Dan lebih tidak mungkin lagi menyuruh Chris mengambilnya. Dia lebih tidak nyaman lagi saat Minho meringis pelan pada luka di wajahnya.

"Ambil saja di kamarku. Tidak masalah. Ada di laci paling bawah, meja di samping tempat tidurku."

"Yakin?"

Hyungi beranjak dari posisinya lalu mengangguk. Dia berusaha meyakinkan dirinya. Minho itu orang baik dan tidak mungkin akan membuat masalah. Hanya kalimat itu yang terus diulangnya sampai dia yakin akan membiarkan Minho masuk ke kamarnya. Lagipula tidak ada apapun di dalam sana.

Kembali ke Minho yang tampak ragu namun tetap membalikkan tubuhnya, menuju ke kamar Hyungi.

"Jadi, apa yang terjadi pada kalian?" ulang Chris.

"Kami dicegat oleh orang-orang suruhan musuh Minho. Aku tidak terlalu tahu detailnya tapi," ucapan Hyungi terhenti lalu menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka, "sepertinya karena Minho melanggar janjinya. Untung saja kami selamat."

"Selamat dengan luka-luka seperti ini? Kakimu juga." Chris menatap tak suka ke arah kaki kanan Hyungi yang sepertinya terkilir.

"Oh ini," Hyungi menggerakkan kaki kanannya, "aku jatuh dari motornya Minho tadi, saat akan turun."

"Dasar, ceroboh!" seru Chris sambil mengusak surai Hyungi. "Suruh dia menginap disini!"

Hyungi mengernyit heran, "kenapa?"

Chris menggeleng lalu menghilang begitu saja. Bersamaan dengan Minho yang sudah kembali dengan kotak obat di tangannya.

"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Minho.

"Bukan siapa-siapa. Dapat?"

Minho hanya mengangkat kotak obat yang ada di tangan kirinya lalu duduk di lantai, menghadap ke arah Hyungi. Kembali ada degupan aneh di dadanya. Ada perasaan lucu dan juga menyesal. Entahlah, Minho hanya merasa aneh malam ini. Dia merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya.

~.~

Changbin cukup ingat jika ketua kelas mereka sedang izin ke Busan untuk tiga hari ke depan mulai hari ini. Namun dia tidak menyangka jika dua orang temannya juga ikut menghilang hari ini. Hyungi dan Minho menghilang tanpa kabar. Parahnya, mereka berdua tidak bisa dihubungi sejak kemarin malam.

Yeonjun juga tak kalah khawatir. Sahabatnya itu terus berdiri di ambang pintu tanpa peduli jika bell sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Tetap saja, tidak ada tanda-tanda kehadiran dari keduanya.

"Jun, aku jadi ingin bolos saja hari ini." Changbin berbisik, nada suaranya tidak tenang. "Mereka berdua sama sekali tidak ada kabar."

Yeonjun menatap Changbin lalu menangguk. Dia melangkah masuk untuk mengambil ranselnya, begitupula Changbin. Mereka melangkah pergi dan hanya mengatakan izin tidak mengikuti pelajaran hari ini kepada Dahyun selaku sekretaris kelas.

Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari ketidakhadiran dua orang itu jika mereka memberi kabar. Namun rasanya sedikit berbeda. Saat Hyungi menghilang tanpa kabar, artinya ada sesuatu. Ditambah lagi tidak ada Jeon Jungkook bersama mereka.

Untung saja parkiran sekolah sedang sepi dan Yeonjun memarkirkan motornya sedikit jauh dari gedung utama. Jadi mereka bisa melarikan diri tanpa diketahui siapapun. Bahkan gerbang sekolah tidak dijaga untuk pagi ini. Entah kemana petugas keamanan yang biasa berdiri disana.

~.~

Sesampai di gedung apartemen, kedua remaja itu segera berlari menyusuri lorong. Memasuki lift, menekan tombol dengan angka sembilan lalu menunggu dengan tidak sabaran. Pintu lift terbuka, keduanya segera berlari ke arah kanan, menuju sebuah ruangan dengan angka tujuh satu delapan yang menjadi papan nama di pintunya.

Yeonjun segera memasukkan enam digit angka pada password pintu hingga bunyi bip terdengar dan pintu terbuka. Changbin yang mendorong pintu hingga terbuka lebar dan memperlihatkan situasi tenang dengan pintu balkon yang terbuka. Mereka tidak tahu jika Chris berada disana seraya menatap aneh.

"HYUNGI!" pekik Changbin tanpa peduli jika orang-orang akan mendengar suaranya. "Kau dimana?"

Yeonjun segera berjalan ke ruang tengah. Hendak mengamati seseorang yang didapatinya berbaring disana. Namun wajahnya tampak terkejut saat mendapati satu wajah tak asing sedang terlelap dengan earphone yang menyumbat telinganya. Lee Minho tidur disana.

Saat yang sama, Hyungi keluar dari kamarnya dan menatap aneh ke arah Changbin yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Sahabatnya itu terlihat mengamatinya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Apa?" tanya Hyungi yang berusaha mencerna situasi yang ada.

"Kau baik-baik saja, 'kan?" sahut Changbin yang memegang bahu gadis di depannya itu lalu memutarnya secara paksa. "Wajahmu kenapa? Kenapa nomormu tidak bisa dihubungi? Kenapa kau tidak mengabari sejak kemarin malam? Lalu kenapa wajahmu banyak luka?"

Hyungi meringis karena kakinya mendadak sakit akibat perlakuan Changbin. Tanpa ragu, dia mendorong pemuda di depannya lalu menuju ruang tengah. Mata emerald-nya bersitatap dengan Yeonjun yang jelas sedang bingung.

"Kenapa ada Minho?" tanya Yeonjun.

"Minho? Minho yang mana?" timpal Changbin tanpa minat pindah dari posisinya.

"Kalian berdua kenapa? Tidak sekolah? Membolos?" sahut Hyungi yang kembali merasa aneh dengan kedua sahabatnya.

"Dasar!" runtuk Changbin dari belakang. "Kami mengkhawatirkanmu! Kau tidak bisa dihubungi dari kemarin malam. Lalu tidak ke sekolah pagi ini. Dan, apa-apaan dengan luka di wajahmu?"

Hyungi meraba pelipisnya yang perih lalu menjawab, "aku dan Minho dicegat preman saat pulang kemarin."

"HAH? SERIUS? KENAPA TIDAK MENGHUBUNGI KAMI?"

Jangankan Hyungi, Yeonjun yang berada agak jauh saja harus mengusap telinganya karena terkejut akibat suara cempreng Changbin.

"Berisik!" protes Hyungi yang lalu duduk di sofa tunggal. "Ceritanya sedikit panjang tapi untung saja kami selamat."

"Selamat? Luka-luka itu kau bilang selamat?" sergah Changbin lagi.

"Bersyukurlah karena aku tidak mati konyol karena dikeroyok."

"Engh…"

Terdengar lenguhan kecil dari Minho yang berbaring di sofa panjang. Dia meregangkan tubuhnya lalu perlahan beranjak dari sana. Iris sayup hazel-nya jatuh pada Hyungi yang tengah mendesah kesal.

"Kenapa ada Minho?" sahut Changbin lagi.

Yeonjun menggerutu. Dia mendadak kesal pada Changbin yang tiba-tiba menjadi bodoh mencerna keadaan.

"Kalian? Kenapa disini? Tidak sekolah?" tanya Minho seolah sudah tersadar dari tidurnya.

"Sudah kubilang, ceritanya panjang."

Changbin menatap Hyungi dan Minho lalu beralih pada Yeonjun yang sudah mengambil posisi di samping Minho.

"Kalau begitu, jelaskan!"

~.~

Hyungi dan Minho menceritakan seluruh kronologinya tanpa terkecuali. Mulai dari mereka dicegat oleh puluhan orang, Hyungi yang tidak diduga-duga dapat berkelahi, hingga mereka berdua menghajar Moonbin dan berakhir dengan Hyungi yang terjatuh dari motor saat akan turun.

"Jangankan Minho, aku saja terkejut karena bisa berkelahi."

"Kau mungkin lupa," komentar Changbin seraya menyilangkan kakinya di atas sofa, "tapi kau pemegang sabuk hitam olahraga beladiri."

"Ah, oh. Begitu ya? Sorry, I don't really remember about that."

Yeonjun beralih pada Minho yang sudah berpindah posisi duduk di lantai, "jadi intinya si Moonbin ini tidak terima?"

Minho mengangguk lalu menyandarkan punggungnya dan kembali berucap, "hanya karena aku tidak memenuhi permintaannya untuk ikut balapan. Aku juga tidak menyangka akan separah ini."

"Bahkan sampai melibatkan Hyungi," timpal Changbin lalu menatap tajam ke arah Minho.

"Maafkan aku."

Tidak ada yang menyadari, jika disana, di balik pintu kamar Hyungi yang setengah terbuka, Chris sedang mendengarkan semuanya. Jiwa itu sedang menepuk dada kirinya yang sedikit sesak. Sesak ini tidak seperti biasanya, seperti saat tubuhnya mengejang sakit dan tidak sadarkan diri. Ini seperti kau sedang menyaksikan sesuatu yang sangat menyakitkan. Sangat sakit, bahkan hingga jiwa bebas seperti Chris tidak tahu harus melakukan apa. Dan tanpa dirinya sadari, ini adalah kali keduanya Chris mengalami hal seperti ini. Tepatnya sejak pertemuan pertama dirinya dan Minho.

Kenapa banyak hal yang menyakitkan padaku?

~.~

"Kau yakin tidak ingin dijemput?"

Hyungi mengangguk lalu menatap Chris yang sedang mengulurkan sepasang sepatu converse hitam-putih ke arahnya. "Aku akan berangkat sendiri."

"Hei, kau tahu sesuatu?" Terdengar helaan nafas pendek di seberang telepon. "Harusnya kau datang lebih awal karena pamanmu baru saja memberi pelajaran pada Taehyung."

"Huh?" Alis Hyungi bertautan seraya melepaskan handuk yang menutupi kepalanya. "Kenapa lagi? Taehyung tidak kenapa-kenapa, 'kan?"

"Harusnya," ada jedasejenak dari penelpon sebelum melanjutkan teleponnya, "ayah memaksanya pulang hari ini padahal Taehyung baru saja tiba di Jepang untuk pemotretan. Kau tahu sendiri bagaimana seorang Kim Heechul dan keputusannya!? Aku saja sampai harus mengajukan cuti dadakan karenanya."

"Ya Tuhan," gumam Hyungi yang sedikit terkejut mendengar pernyataan penelpon, "jadi dia benar-benar berangkat?"

"Tentu saja. Dia harus membatalkan pemotretan hari ini. Ya, kau tahu sendiri anak itu akan senang saja saat harus meninggalkan lokasi pemotretan. Apalagi hari ini mommy dan bibi Hwang dan membawa perangkat kecil."

"Perangkat kecil?!" Hyungi nyaris tertawa mendengarnya lalu menatap Chris yang juga menatapnya bingung. "Mereka itu adik-adik kalian, bukannya perangkat komputer."

"Haha, iya aku tahu. By the way, mom said she brought something spesial for us. Something new, I guess."

"Wow, what was that? Apa perangkat kecil lainnya?"

"YAK!" pekik seberang telepon tanpa peduli jika Hyungi baru saja meringis karenanya. "Cukup saja aku punya tiga bocah menyebalkan itu. Aku tidak bisa membayangkan jika mom membawa satu perangkat kecil baru."

"Ya, mungkin saja versi baru ini," jeda Hyungi sejenak lalu menatap ke posisi dimana Chris berada sebelumnya tapi dia sudah menghilang dari sana, "kau akan sedikit menyukainya."

"Sepertinya kau senang sekali," ucap penelpon yang terhenti karena suara keributan dari arahnya, "aku tutup dulu, sampai jumpa nanti sore."

Bukannya menjawab, Hyungi langsung memutuskan panggilan dan berlari masuk ke kamarnya. Dia dapat mendengar suara berisik di dalam sana. Langkahnya panik dan tidak peduli dengan apapun yang ditabraknya.

"CHRIS!" teriaknya dengan nyaring.

Sedangkan yang diteriakkan sedang menyusun beberapa tumpukan kotak sepatu yang bertaburan di lantai. Dia hanya tersenyum kecil saat Hyungi tampak menghela nafas lega dari ambang pintu.

"Kau," panggil Hyungi yang kembali menghela nafas, "kenapa semuanya bisa bertaburan?" tanyanya seraya menatap ke sisi kanan lemari, dimana kotak-kotak sepatunya tersimpan rapi. Biasanya, sebelum kejadian bertaburan ini terjadi.

"Maaf," balas Chris seraya tertawa kecil. Kedua tangannya sibuk menata kembali susunan kotak yang ada. "Aku tadi seperti melihat tikus disini."

"Tikus?" ulang Hyungi yang merasa tidak yakin dengan ucapan Chris.

"Ya, tikus." Chris mengedikkan bahunya acuh lalu beranjak setelah meletakkan satu kotak terakhir. "Kau akan berangkat sendiri atau bagaimana?"

Hyungi berjalan menuju lemarinya lalu membuka dua pintunya. Dia menatap ke dalam lemari dalam diam. Sebenarnya gadis itu masih dalam keadaan panik karena harus berlari menuju kamar dan mengkhawatirkan sesuatu mungkin terjadi pada Chris. Seperti kejadian terakhir di balkon.

"Sendiri. Namjoon juga masih harus menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit. Jadi dia akan datang sedikit telat."

Chris yang sudah berdiri di belakang Hyungi tampak menghela nafas. Bukan karena jawaban gadis itu, melainkan isi lemari Hyungi yang sangat monoton. Hanya didominasi warna hitam dan putih dengan sedikit warna gelap selain hitam, juga beberapa pakaian berwarna cerah. Intinya hanya hitam dan putih.

"Woah, walaupun sudah satu tahun aku tinggal disini tapi aku tetap terkejut dengan isi lemarimu." Ucapnya seraya bertepuk tangan lalu beralih untuk menatap lemari yang berada di sudut kiri dari pintu. "Bahkan lemari mereka lebih banyak warna."

Lemari mereka yang dimaksud Chris adalah lemari dimana pakaian Hyunjin, Taehyung, Namjoon, Beomgyu dan yang lain berada. Sejauh yang pemuda pucat itu ingat, lemari disana lebih memiliki banyak warna dan tidak monoton seperti lemari penghuni apartemen ini. Mungkin terkecuali untuk pakaian milik Taehyung.

Hyungi membalikkan badannya lalu menatap lantang ke arah Chris dan berucap, "kau yang harusnya sadar diri! Sejak awal muncul, kau tidak pernah mengganti pakaianmu! Hitam-putih juga."

"Wajar saja. Aku hanya makhluk gentayangan yang tidak memiliki tujuan. Ah, jika aku masih hidup, aku janji akan membelikanmu pakaian berwarna lain."

Hyungi terdiam. Dia hanya terdiam saat Chris terus mengocehkan tentang hidup mereka. Dia jadi teringat jika pemuda pucat di depannya itu bukanlah manusia, melainkan sosok hantu yang kebetulan bertemu dengan dirinya. Hyungi jadi tersadar, Chris bisa saja pergi saat waktunya tiba. Jika itu terjadi, apa yang harus dilakukannya?

"Kau dengar aku bicara apakan?"

Kalimat tanya itu berhasil mencapai rungu Hyungi dan menyadarkannya. Dia segera tersenyum lalu mengangguk. Kedua tangannya langsung terulur untuk mengambil pakaian dari lemari lalu menutup kembali pintunya dan melangkah pergi.

"Kau harus ikut, ya?!"

Terakhir, kalimat itu menjadi hal terakhir yang dapat didengar Chris sebelum akhirnya tubuh itu jatuh ke lantai. Seluruh tubuhnya sakit sekali, seperti yang sebelumnya. Padahal dia sudah berusaha sebisa mungkin untuk meredam rasa sakitnya saat Hyungi berada disini. Chris hanya tidak ingin mempersulit Hyungi.

~.~

Yoongi hanya bisa berdiri dalam diam. Pandangannya menatap lurus ke arah pintu putih yang ada di hadapannya. Lagi, dia benci saat harus berdiri disini dengan segala ketakutannya. Mata hazel-nya kian sayup. Kantong matanya kembali menghitam sebagai tanda jika dirinya lagi-lagi tidak dapat beristirahat dengan tenang. Kulit putihnya juga semakin memucat, seperti sebuah mayat hidup.

"Aku tidak tahu ini sudah keberapa kalinya Chan mengalami henti jantung. Tapi jika terus seperti ini, aku jadi tidak yakin dia akan bertahan seberapa lama lagi. Keadaan seperti ini juga sangat berbahaya baginya, Yoon."

Kalimat itu terus berputar di kepala Yoongi. Perkataan Seokjin tentang keadaan adiknya yang mungkin saja akan menyerah pada waktunya. Yoongi hanya ingin meminta satu keajaiban untuk adik kesayangannya. Hanya satu dan setelahnya Yoongi tidak akan meminta apapun lagi.

Jauh dari tempatnya berdiri, seorang Lee Minho sedang menatap lurus ke arah yang lebih tua. Rasa bersalah dan ketakutannya kian membesar. Mungkin Yoongi sudah berhenti menyalahkannya dirinya walaupun tidak menutup kemungkinan jika hal itu masih teredam di dalam hati. Minho hanya takut pada dua hal saat ini. Tatapan Yoongi dan keadaan orang yang ada di balik pintu putih itu.

"Berikan aku waktu dua minggu lagi. Setelahnya, aku akan menyerahkan semua keadaannya. Biarkan aku menepati waktu tiga bulan yang aku berikan. Setelah itu, tugasmu selesai."

Percakapan minggu lalu antara Seokjin dan Yoongi adalah hal yang paling tidak bisa Minho lupakan. Dia tidak ingin kakaknya menyerah tapi dia kembali teringat bagaimana perjuangan Chan untuk bertahan hidup. Berapa kali sang kakak tengah harus melewati masa kritisnya. Lagi, Chan hanya memiliki waktu selama dua minggu sebelum akhirnya seluruh penopang hidupnya dilepas sesuai keinginan Yoongi. Sama seperti Yoongi, Minho hanya meminta satu keajaiban.

Tuhan, jika kau mendengarku, tolong berikan satu keajaiban untuk Chan-hyung.