Seluruh anggota keluarga besar Kim sudah berkumpul di rumah besar ini. Tidak ketinggalan seorang Kim Taehyung yang baru saja tiba dari Jepang karena paksaan sang ayah. Dia sih senang saja jika harus berlibur dari pekerjaannya. Walaupun dia yakin, sang manajer sedang menyumpahinya dari suatu tempat di Jepang.
Di pangkuan Hyunjin, ada dua anak laki-laki dengan umur yang berselisih satu tahun. Di sebelah kirinya, ada Hwang Jeongin selaku adik bungsunya yang berusia genap tiga tahun. Sedangkan di kanannya, ada Kim Taehyun selaku adik bungsu dari Kim bersaudara, umurnya baru dua tahun. Keduanya sedang sibuk membaca buku bergambar yang dipegang Hyunjin walaupun yakin mereka tidak tahu apa saja maksud gambar disana, selain meneriakkan warna dan bentuk gambar yang mereka ketahui.
Sedikit jauh dari sana, terlihat pergulatan antara Taehyung dan adik pertamanya, Kim Soobin. Mereka sedang bertengkar hanya karena Soobin yang tidak sengaja menendang kaki yang lebih tua dan berakhir dengan perdebatan yang tidak elit. Dan memang pada dasarnya kedua saudara itu tidak pernah akur.
Agak jauh lagi, di halaman samping terlihat Namjoon, Felix dan Beomgyu sedang menyiapkan pemanggang. Mereka berniat untuk membakar daging malam ini. Jadi dengan pengetahuan terbatas soal memasang alat pemanggang, ketiganya terlihat sibuk dengan urusan masing-masing.
Berbanding terbalik dengan Hyungi -serta Chris yang harus rela terperangkap di dapur bersama Kim Seolra, istri dari Hwang Minhyun yang saat ini terus memberikannya berbagai pertanyaan. Mereka sedang menyiapkan beberapa makanan untuk makan malam.
"Jadi mereka sama sekali tidak menemanimu di apartemen?" ulang Seolra lagi yang entah sudah keberapa kalinya.
Hyungi hanya tersenyum tipis seraya mengangguk. Tangan-tangannya sedang sibuk mengiris wortel yang akan menjadi bahan untuk membuat sop.
"Selama tinggal sendiri, kau tidak ada masalah? Misalnya saat hujan?" tanya Seolra yang sedang memunggungi Hyungi dan Chris untuk mencuci beberapa bahan makanan.
Hyungi dan Chris saling bertatapan lalu melemparkan tatapan bingung melalui iris emerald mereka.
"Ya, tidak. Aku baik-baik saja saat hujan." Hyungi menjawab dengan nada ragu lalu melirik Chris yang membantunya memindahkan potongan wortel ke wadah.
"Syukurlah." Seolra segera membalikkan badannya dan berhasil membuat Chris menghentikan pergerakannya. "Setahuku, dampak trauma itu sulit hilang dalam waktu singkat."
"Hmm, ya."
"MOMMY! ITU SIAPA?!"
Tubuh Seolra nyaris terlentang dan melempar wadah berisi bahan makanan karena teriakan keponakannya. Ah, jika saja Chris tidak menahan punggungnya. Wanita itu terlihat terkejut, padahal dia yakin tubuhnya akan jatuh terlentang tapi sepertinya ada sesuatu yang menahan tubuhnya.
Hyungi dengan cepat memegang bahu adik ayahnya itu, seolah jika dirinyalah yang menahan tubuh sang bibi. Masih dengan Chris yang menahan punggung Seolra.
"Bibi tidak apa-apa?" tanyanya dengan cepat.
"Ah, ya." Seolra tampak masih terlihat bingung dengan posisinya. Dia segera berdiri dan menatap Hyungi, "kau menahanku?"
"Hmm, ya. Aku rasa begitu. Tubuhku refleks begitu saja." Hyungi membalas dengan senyuman seraya mengambil wadah berisi bahan makanan yang masih dipegang Seolra. "Suara Taehyung, dia kenapa?"
Seolra segera mengalihkan pandangannya ke arah ruang tengah yang terbatas dengan sebuah lemari panjang lalu menatap Hyungi dan tersenyum. "Mungkin something new untuk kalian."
Hyungi mengerjapkan matanya lalu beralih pada Chris yang harusnya masih berdiri di belakangnya kini sudah menghilang terlebih dahulu.
"Oh my God! Hyungi, you have to see this right now!"
Berkat teriakan Chris yang hanya dapat didengarnya, Hyungi segera meletakkan wadah bahan makanan ke atas meja lalu berlari ke arah ruang tengah. Tanpa peduli jika Seolra sudah meneriakinya kalimat-kalimat peringatan.
~.~"Mom, seriously? Say this is just a lie!"
Taehyung ikut mengangguk atas permintaan sang kakak. Dia, juga Hyunjin yang sedang berdiri di balik punggung Namjoon sedang menatap tajam ke arah seorang wanita yang sedang menggendong seorang bayi mungil. Wanita itu bahkan hanya tertawa karena si kecil di kedua tangannya terlihat antusias.
"Ayah!" rengek Taehyung yang terlihat tidak terima. Dia menatap sang ayah yang terlihat santai saja seraya memangku adik bungsunya. "Bilang mommy untuk jangan main-main!"
"Tanya saja mommy-mu sendiri." Heechul berucap tenang seraya melanjutkan kegiatannya bersama si bungsu.
"Auntie?" panggil Hyungi yang terdengar ragu. Kakinya melangkah cepat untuk berdiri di belakang Soobin yang berdiri tak jauh dari Namjoon. Disana juga ada Beomgyu serta Jisung dan Felix, serta Chris yang duduk bersebelahan.
"Oh, hi, sweety!" panggil wanita tadi dengan antusias. Dia bahkan mengangkat tangan si kecil dan melambaikannya ke arah Hyungi. "How are you?"
"Aku baik," jawab Hyungi lalu menyikut Soobin dan berbisik, "Hyung-mu kenapa?"
Soobin menatap dua orang yang dimaksud, tepatnya ke arah dua saudara tertuanya. Namjoon dan Taehyung. Kemudian dia mengedikkan bahu acuh lalu menatap jengkel ke arah keduanya.
"Mereka mendrama soal mommy dan si kecil." Balasnya dengan berbisik.
"So, tell me, mom! Who is that kid? Dia bukan anak baru mommy yang diam-diam mommy simpan dari kami, 'kan?"
"Namjoon!" tegur Minhyun yang duduk di samping keponakannya itu. "Biarkan mommy-mu yang menjelaskannya."
"Ayah juga tahu soal ini?" sahut Hyunjin yang tanpa ragu untuk bertanya. Dia juga penasaran soal siapa bayi kecil yang ada di tangan bibinya itu.
"Okay, mommy akan jelaskan semuanya. Jadi, kenapa tidak duduk saja dulu? Mommy pegal tahu!"
Wanita itu mendudukkan dirinya di samping kiri sang suami, memperbaiki posisi si kecil yang setia di pangkuannya. Tangan kanannya terulur untuk mengusak surai hitam putra bungsunya. Dia -Jessica Jung, istri sah dari Kim Heechul, ibu dari empat Kim bersaudara. Wanita berkewarganegaraan Amerika-Korea.
"So, namanya adalah Hueningkai Kamal."
"Anak dari selingkuhan mommy?!" celetuk Taehyung yang segera dihadiahi satu pukulan kecil dari adiknya, Soobin.
"Kim Taehyung!" tegur Heechul yang tampak jengah dengan putra keduanya itu. "Dengarkan mommy-mu berbicara! Atau mau ayah kirim kembali ke Jepang?"
"Maaf," gumam yang lebih muda.
Jessica hanya menghela nafas, seolah sudah hafal dengan seluruh anggota keluarganya. "Hyukai, umurnya akan sepuluh bulan minggu depan. Mommy menemukannya sekitar enam bulan yang lalu."
"Mom, dia adalah bayi, bukan barang." Namjoon mengoreksi.
"Tapi mommy benar-benar menemukannya." Jessica menghela nafas lalu memperbaiki posisi si kecil yang bergerak aktif, menuntut untuk turun dari pangkuannya. "Mommy menemukannya di dalam kotak di tempat pembuangan sampah di pinggiran California."
Seketika situasi hening. Taehyung yang bersiap menyemburkan kalimat tidak terimanya menjadi terurung. Hampir seluruh remaja disana tampak terkejut dan iba saat mengamati si kecil yang sudah turun ke lantai lalu merayap di lantai. Si kecil bergerak bebas melewati kaki-kaki orang dewasa disana.
"Auntie serius?" sahut Beomgyu yang memecah keheningan.
Jessica mengangguk yakin lalu mengambil alih putra bungsunya dari sang suami. "Auntie langsung melaporkannya ke polisi dan merawatnya sampai beberapa hari. Tapi tidak ada yang mencari anak ini. Jadi auntie membicarakan ini pada paman kalian untuk merawatnya. Aku tidak tega mengirimnya ke panti asuhan. Dia lucu sekali."
Tak lama, sebuah tawa lepas si kecil terdengar. Dia sudah berdiri di depan Felix dengan kepala yang mendongak ke arah Chris. Jisung juga terlihat beberapa kali mencubit gemas pipi si kecil. Si kecil tampak mencoba untuk meraba sosok Chris dan terus tertawa. Orang-orang yang lebih tua disana ikut tertawa tanpa mengetahui jika ada sosok lain yang menghibur si kecil. Mungkin terkecuali untuk Felix dan Hyungi, serta Beomgyu.
"Namjoonie, Taehyungie, mommy bolehkan merawat Hyukai?" tanya Jessica pada dua putra tertuanya dengan nada memohon.
"Kenapa hanya tanya kami? Bagaimana dengan Soobin?"' sahut Taehyung seraya memukul belakang kepala adiknya.
"Jangan memukul!" protes Soobin tidak terima.
"Soobinie sudah tahu soal ini. Kalian lupa ya, Soobinie juga ikut mommy ke California kemarin."
Delik tajam diberikan Taehyung kepada sang adik. Padahal dia sangat sadar jika sang adik tidak akan meresponnya sama sekali.
Namjoon mengusap belakang lehernya lalu menghela nafas. "Aku tidak masalah asal tidak mengganggu waktu mommy saja."
"Hyung!" protes Taehyung yang terlihat masih tidak terima. "Aku tidak mau mommy sakit lagi! Mom, Taehyun belum cukup besar dan mommy ingin merawat yang lain? Mom, bukannya Taehyung tidak setuju tapi aku tidak ingin mommy lelah. Mom tahu sendiri masih harus melakukan check up rutin."
Namjoon merangkul adik pertamanya lalu berbisik. Raut wajah sang adik terlihat berubah dan beralih pada Hyukai kecil yang kini berpindah ke pangkuan Beomgyu. Entah apa yang dibisikkan yang lebih tua tapi berhasil membuat Taehyung menghela nafas.
"Okay. Aku setuju. Semuanya, asal mommy janji akan selalu menjaga kesehatan mommy!"
Jessica tampak tersenyum. Dia sudah tahu jika Taehyung adalah tipikal putra pembuat masalah dan sering membuat Heechul naik pitam dalam hitungan detik. Namun Taehyung tetaplah Kim Taehyung. Walaupun selalu bertengkar dengan Soobin, dia adalah putra terbaik. Selalu memberikan perhatian secara tidak langsung kepada kedua adik kecilnya.
"Sudah selesai belum? Aku disini sedang kelaparan!" sahut Seolra yang sedari tadi hanya menonton dari kejauhan. Dia bahkan mengangkat sebuah panci kosong sebagai pembuktian.
"Ya sudah, ayo siapkan makan malamnya!"
~.~Hyungi hanya bisa terdiam di teras rumah seraya memperhatikan seluruh keluarganya berkumpul di halaman. Mereka terlihat sibuk membakar daging dan menata meja makan yang memang tersedia di halaman belakang rumah keluarga Kim.
Dia sebenarnya bisa saja beranjak dari posisinya dan ikut larut dalam kesibukan yang ada. Namun sayangnya harus tertahan karena si kecil Hueningkai sama sekali tidak mau beranjak dari pangkuannya. Si kecil malah tidak ingin melepaskan Hyungi walaupun gadis remaja itu hanya pergi ke kamar mandi. Hueningkai sama sekali tidak mau melepaskan Hyungi walaupun sudah ditawari berbagai hal oleh Jessica dan yang lain. Mungkin terkecuali untuk Chris. Si kecil bahkan berlonjak untuk meminta si jiwa bebas itu untuk menggendongnya.
"Dia lucu sekali," gumam Chris seraya memainkan tangan si kecil dengan gemas. Sesekali dia menatap Hyungi yang terlihat lebih banyak terdiam sejak tadi. "Ingin mengatakan sesuatu?"
Hyungi menoleh ke arah kiri, dimana Chris duduk di sampingnya. Kepalanya menggeleng kecil lalu menatap si kecil yang menggeliat di pangkuannya.
"Atau butuh sesuatu?"
Hyungi kembali menggeleng sebagai jawaban lalu memberanikan dirinya untuk menatap manik emerald milik Chris. Bibir bawahnya digigit seakan menahan diri untuk tidak mengeluarkan apa yang ada di pikirannya saat ini.
Bagaimana jika suatu hari Chris pergi meninggalkannya? Bagaimana jika suatu hari Chris akan menghilang dari pandangannya? Bagaimana jika suatu hari Chris pergi tanpa bisa ditemuinya lagi? Bagaimana jika suatu hari Chris~
Hyungi terlonjak saat sepasang tangan kecil mengalung di lehernya dari belakang. Kemudian satu tangan dan satu kaki kanan mendarat di atas kaki kanannya. Terdengar deru nafas lembut di tengkuknya dan berhasil mengudang senyum tipis dari gadis remaja itu saat menyadari dua tubuh mungil yang berhasil menyentak tubuhnya. Jeongin yang sedari tidur di samping kanannya dan Taehyun kecil yang masih setia bergantung di lehernya.
"Hyunie kenapa?" tanyanya seraya mengelus puncak kepala si kecil Kim.
"…ndi, Hyunie mo andi."
Butuh waktu cukup lama bagi Hyungi untuk mencerna ucapan si kecil Kim. Dia bahkan menatap Chris yang sudah menghela nafas seraya berdiri.
"Dia bilang apa?"
"Ke kamar mandi. Aku akan menemaninya." Chris menepuk puncak kepala Taehyun dan membuat si kecil menoleh. Dia mengulurkan tangan kirinya dan membiarkan si kecil menggenggamnya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Hyungi hanya menatapnya dari kejauhan bagaimana Taehyun beberapa kali hampir terjatuh karena masih mengantuk, serta Chris yang akhirnya menyerah dan segera menggendong si kecil setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka.
Dia sebenarnya sedikit terkejut saat Taehyun menyadari keberadaan Chris untuk pertama kalinya. Si kecil itu terlihat beberapa kali menghindari Chris saat dirasa akan menabraknya. Taehyun penasaran karena dia tidak tahu siapa Chris dan memilih bertanya pada -yang untungnya adalah Felix. Si kecil diajak berjanji untuk tidak membicarakan soal Chris kepada orang lain dan membuatnya bertanya kenapa.
"Karena Chris-hyung sedang dalam misi rahasia jadi Hyunie harus berjanji untuk tidak mengatakan ini kepada siapapun. Okay? Cukup Lix-hyung, Gi-unna saja."
"Yukai!?" sorak si kecil tidak terima saat mendapati Hueningkai sedang tertawa karena kelakukan Chris.
"Okay, Hyukai juga."
"Oh, oh! Lihatlah siapa yang ada disini?!"
Hyungi mendongak dan mendapati pemuda berkacamata bulat sedang berkacak pinggang di hadapannya. Surai blonde-nya ditutupi sebuah beannie hitam. Bibirnya tersenyum ramah.
"Oh? Jiminie?"
Pemuda itu mengangguk seraya menghantarkan bokongnya untuk duduk di hadapan Hyungi. Pandangannya tertuju pada Jeongin yang masih tertidur dengan memeluk kaki kanan Hyungi dan Hueningkai yang tertidur di pangkuan si gadis.
"Oh, apa ini adik barunya Taehyung?"
Hyungi mengangguk lalu tersenyum. Dia cukup senang akan kehadiran pemuda di depannya itu. Karena cukup sulit untuk bertatapan langsung dengan pemilik surai blonde itu, apalagi perannya sebagai public figure.
Park Jimin adalah seorang penyanyi sekaligus model yang bekerja di bawah agensi yang sama dengan Taehyung. Jimin juga merupakan teman Taehyung sedari kecil jadi dia sudah cukup akrab dengan seluruh anggota keluarga Kim, tidak terkecuali Hyungi. Walaupun gadis itu tidak ingat jika dia cukup sering menghabiskan waktu kecilnya bersama Jimin.
"Bagaimana keadaanmu? Maaf aku tidak pernah mengunjungimu sejak enam bulan yang lalu. Kau tahu sendiri, tour keliling dunia benar-benar menguras waktuku."
Hyungi tersenyum lalu berucap, "tidak masalah, Jim. Aku senang melihat kau baik-baik saja sekarang. Bagaimana? Apakah sangat menyenangkan? Pasti sangat menyenangkan karena kau mengelilingi dunia."
"Ugh, tidak juga." Jimin memeluk bantal yang ada di sekitarnya. "Aku senang saat bisa bertemu fans di seluruh dunia tapi tanah kelahiran adalah yang terbaik. Oh iya, dimana Taehyunie?"
Benar juga. Hyungi terdiam lalu menoleh ke belakangnya, tidak ada tanda-tanda kehadiran Taehyun dan Chris disana. Mungkin mereka masih di kamar mandi.
"Kamar mandi. Dia bilang ingin pergi sendiri."
Jimin menatap ke arah dalam lalu kembali menatap Hyungi. "Yakin dia tidak apa-apa?"
Hyungi mengangguk yakin sampai akhirnya dia dapat mendengar suara Chris yang mengomel karena Taehyun hampir tertidur di kamar mandi. Si kecil itu juga tampak berjalan dengan keadaan mata yang tertutup dengan Chris yang menahan kerah bajunya, layaknya seekor kucing.
"Itu dia!"
Jimin segera berdiri lalu menghampiri Taehyun yang sudah siap menghempaskan tubuhnya untuk kembali tidur. Dia merengkuh tubuh si kecil lalu tertawa.
"Dia sama seperti Taehyung. Masih sering tidur sambil berjalan."
Hyungi mengangguk setuju lalu melirik Chris yang masih memasang wajah kesal karena kejadian di kamar mandi.
"Kau tahu, kepalanya hampir masuk ke dalam kloset jika saja tidak kutahan. Astaga, pantas saja Soobin dan Namjoon masih khawatir tentang dia dan Taehyung. Adik yang hampir tenggelam di kloset dan kakak laki-laki yang hampir membakar apartemen sepupunya. Kombinasi yang aneh."
Hyungi menahan diri untuk tidak tertawa apalagi saat Jimin sudah kembali duduk di hadapannya dengan memangku Taehyun. Pemuda itu kembali bercerita tentang pengalaman konsernya yang berjalan lancar.
~.~Beomgyu hanya menggerutu kecil pada setiap langkah kakinya. Dia risih saat sosok-sosok menyeramkan mulai bertebaran di seluruh bagian di gedung ini. Mulai dari parkiran, teras, lobi sampai koridor yang sepi. Dengan berbagai penampilan dan bentuk yang membuatnya hampir mual sendiri.
Harusnya dia sudah berada di rumah Hyungi bersama ketiga temannya untuk mengerjakan tugas kelompok sore ini. Namun dirinya harus berakhir di rumah sakit karena permintaan Seungmin yang ingin menemui sang kakak yang berada disana.
Seungmin sendiri satu kelompok dengan Beomgyu dan tiga lainnya. Saat tahu mereka akan mengerjakan tugas di rumah kakak sepupu Hyunjin yang alamatnya tidak jauh dari rumah sakit, dia meminta untuk mampir kesana sebentar. Ingin menyampaikan sesuatu pada sang kakak sekaligus mampir menjenguk seseorang.
Ruang VVIP adalah perhentian terakhir mereka dan Beomgyu masih setia mengikuti Seungmin yang memasuki ruangan tersebut. Remaja bermarga Choi itu sedikit bersyukur pandangannya tidak mendapati sosok-sosok menyeramkan lagi. Mungkin dia rasa ini adalah tempat teraman di rumah sakit.
Ada seorang pemuda bersurai cokelat disana, tepat di samping ranjang dimana seorang pasien terbaring. Pemuda itu menggunakan kacamata bulat dan terlihat sedang membaca sebuah buku disana.
Beomgyu hanya mengekor Seungmin dari belakang sampai mereka berdiri di samping pemuda itu.
Saat Seungmin berbicara dengan pemuda itu, Beomgyu sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dia pernah memasuki ruang VVIP tapi tidak pernah mendapati ruangan yang sesepi ini. Sepi dalam artian minim pengunjung, tidak ada jenis makanan atau minuman yang biasanya ada untuk orang yg menjenguk atau sejenisnya.
"Oh ya, Hyung. Ini Beomgyu, teman sebangkuku."
Beomgyu segera menoleh ke sumber suara, tepatnya ke arah pemuda yang kini mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dan dia menyambutnya dengan ramah.
"Kim Younghoon, kakak kedua Seungmin."
"Choi Beomgyu."
Pemuda itu tersenyum ramah lalu menutup bukunya. Kemudian pandangannya beralih pada Seungmin yang saat ini sedang menggerutu, entah karena apa.
"Temui saja dulu Jin-hyung di ruangannya."
"Tapi, Hyung tahu sendiri kan dia pasti marah jika aku terlambat pulang semenit saja."
"Makanya," ucap Younghoon seraya menghela nafas, "bilang dulu pada dia."
"Temani aku!" Seungmin merengut lalu mengeluarkan jurus puppy eyes miliknya. "Bantu aku bicara dengan Jin-hyung!"
Younghoon menggeleng malas lalu menatap pasien yang berbaring di ranjang sambil berucap, "Hyung harus menunggu Chan."
Seungmin terdiam lalu ikut menatap objek yang dimaksud sang kakak. Begitu juga Beomgyu yang tertarik pada pasien yang setia berbaring di posisinya.
"Ya sudah, aku titip Beomgyu! Gyu, aku pergi sebentar ya?!"
Beomgyu tidak merespon kalimat Seungmin. Bahkan dia tidak sadar jika temannya itu sudah menghilang dari sana. Fokus Beomgyu saat ini hanya satu, yaitu pemuda yang berbaring di ranjang dengan nasal kanula yang setia mengalirkan oksigen.
Tubuhnya membeku selama beberapa saat. Beomgyu mengenal wajah itu walaupun sedikit berbeda dengan apa yang ada di ingatannya. Wajah itu tampak kurus dengan kulit pucat yang khas. Rambutnya juga gelap sedikit kecokelatan karena cahaya lampu. Mata emerald-nya tersembunyi rapat dibalik kelopak itu. Wajah itu benar-benar mengingatkannya kepada jiwa tersesat yang berada di apartemen Hyungi. Atau apa memang tubuh ini adalah milik Chris yang dia ketahui?
Younghoon agak menyadari ekspresi terkejut dari Beomgyu. Padahal dia hendak kembali membaca buku jika saja dia tidak menyadari Beomgyu mencengkeram erat kedua tangannya. Cukup erat hingga membuat tangan putih itu berubah menjadi kemerahan.
"Hei, apa kau baik-baik saja?"
Namun tak ada jawaban dari yang termuda dan membuat Younghoon harus melihat apa yang membuat Beomgyu tampak sangat terkejut. Nyatanya fokus yang lebih muda tampak setia memandangi wajah sahabatnya yang terbaring di ranjang.
Kemudian pandangan Younghoon kembali teralih pada Beomgyu yang tiba-tiba saja melangkah mundur. Membuat yang tua menjadi semakin bingung. Jadi dia memutuskan untuk menepuk pundak Beomgyu dan membuat remaja itu berhasil tersentak hebat. Tidak lupa keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Apa kau sedang sakit?"
Beomgyu berusaha mengatur nafasnya lalu memejamkan matanya. Tubuhnya sedikit lemas selama beberapa saat dan membuatnya segera berjongkok. Semakin membuat Younghoon panik hingga beranjak dari posisinya.
"Hei, hei! Kau tidak apa-apakan?"
Beomgyu sedikit mendongak ke arah Younghoon yang sedang menatapnya panik lalu menggelengkan kepalanya. Dia terlalu sibuk mengatur nafasnya yang memburu.
"Ayo berdiri! Perlahan saja!"
Younghoon membantu yang lebih muda untuk berdiri lalu menuntunnya untuk duduk di kursi yang tadi diduduki dirinya.
"Apa kau yakin tidak apa-apa? Tanganmu dingin sekali. Wajahmu bahkan pucat."
"Aku baik." Beomgyu menyeka keringat yang mengalir di pipinya lalu tersenyum kaku. "Hanya sedikit terkejut."
Younghoon mengerjapkan matanya untuk beberapa kali lalu menatap sahabatnya yang berbaring. "Terkejut soal Chan?"
"Chan? Bukan Chris?"
"Kau tahu darimana soal Chris?"
Ah, Beomgyu sedikit meruntuki mulutnya lalu berusaha memutar memorinya sampai akhirnya teringat pada papan nama yang ada di depan pintu ruangan tadi.
"Itu, aku baca namanya di depan. Sesuatu dengan kata Chris."
"Ah, ya. Namanya Christopher Bang."
