Beomgyu terdiam di sepanjang kerja kelompoknya. Dia tidak memukul kepala Hyunjin saat sahabatnya itu membuat keributan. Dia juga tidak menyahut sarkastik saat Jisung mengomentari berbagai hal. Bahkan dia juga tidak menyadari jika Hyungi terus memanggilnya sejak tadi.
"Ya ampun, Choi Beomgyu!"
Panggilan dan tepukan berhasil membuat remaja itu tersentak. Dia segera menatap Hyungi yang sudah duduk bersila di hadapannya.
"Kau kenapa? Aku sudah memanggilmu dari tadi. Apa kau sakit?"
Beomgyu berusaha keras untuk tersenyum walaupun akhirnya sia-sia. Dia sedikit lelah hari ini. Lebih lelah daripada mengamati sosok-sosok mengerikan di setiap harinya.
"Yang lain dimana?"
Bahkan dia tidak sadar jika keempat temannya sudah tidak berada di ruang tengah sejak tadi dan meninggalkan dirinya sendirian.
Hyungi menatap curiga ke arah yang lebih muda lalu menjawab, "mereka sedang makan di dapur. Kau sepertinya benar-benar butuh istirahat. Ayo makan lalu tidur!"
Beomgyu segera mencekal lengan Hyungi lalu menggeleng pelan. "Boleh aku tidur dulu? Rasanya tidak nyaman sekali sekarang."
Hyungi tidak mengerti tidak nyaman seperti apa yang dimaksud Beomgyu. Jadi dia mengulurkan punggung tangannya untuk memeriksa suhu tubuh yang lebih muda. Sedikit panas.
"Tidurlah di kamar. Disini akan terlalu ribut untukmu beristirahat. Aku tinggal ke dapur ya?"
Beomgyu hanya mengangguk seraya beranjak dari posisinya. Dia memandangi Hyungi sampai gadis itu menghilang dari pandangannya. Kemudian pandangannya beralih pada balkon. Tidak ada Chris disana. Mungkin sedang berkelana seperti biasa.
Inilah yang Beomgyu tidak suka. Saat dia berusaha sekeras mungkin tidak ikut campur akan sesuatu, saat itu pula dia menyadari jika dirinya semakin tertarik ke dalamnya. Harusnya dia diam saja tanpa peduli soal Chris dan yang lainnya. Namun saat mengetahui jika sosok Chris dan tubuh di ruang VVIP itu, Beomgyu jadi merasa ada sesuatu yang perlu diluruskannya. Minimal dia harus menunjukkan soal keberadaan tubuh Chris pada sosok itu langsung. Ya, Beomgyu sadar jika hal ini sedikit bertentangan dengan prinsipnya tapi dia juga tidak tega dengan jiwa bebas itu. Berkelana tanpa tujuan dan menghabiskan waktunya disini, padahal Chris masih harus berjuang hidup sebelum akhirnya lenyap.
~.~Satu minggu adalah waktu yang tersisa bagi seorang Min Yoongi sebelum akhirnya melepaskan sang adik. Dia frustasi. Keadaan emosionalnya sedang tidak stabil. Ditambah lagi pekerjaannya sedikit bermasalah karena rekan kerjanya yang berhasil melarikan jutaan uang perusahaan. Sebenarnya uang bukanlah masalah bagi seorang Min Yoongi, namun semua ini menyangkut masalah tanggung jawab yang menyeret dirinya.
"Sial!"
Sekali lagi, Yoongi melempar kaleng bir kosong itu ke jalanan. Entah sudah berapa total kaleng bir yang diminumnya malam ini sebagai pelampiasan amarahnya. Yoongi bahkan sudah tidak peduli jika dia bisa saja mati karena seluruh bir itu. Dia sudah rela jika nyawanya menghilang dari muka bumi ini.
Lagipula ini bukan pertama kalinya Min Yoongi berusaha menghilangkan nyawanya. Hampir di setiap waktu, dia menyempatkan diri untuk melukai dirinya. Entah dengan sengaja meminum obat penenang miliknya, melukai pergelangan tangannya bahkan sampai nyaris menabrakan dirinya. Tapi semua itu selalu berakhir dengan Yoongi yang membuka mata di ruangan yang sama dan aroma yang sama. Dia belum mati.
"Chan, jika kau tidak bangun maka jangan salahkan aku jika kita bertemu disana."
Terakhir, dia meneguk habis bir pada kaleng terakhirnya. Dia melemparkan kaleng itu ke tengah jalan lalu beranjak dari sana. Tubuhnya berdiri tegak, menatap ke arah bangunan rumah sakit yang hanya berjarak kurang lebih 500 meter di depannya.
"Hyung akan mencobanya malam ini, lagi!"
Tubuhnya berbalik, melangkah lunglai ke arah yang berlawanan dengan rumah sakit. Pandangannya juga ikut mengabur seolah tidak peduli jika bisa saja dia menempuh bahaya di depannya. Isi kepalanya saat ini hanya satu, saat matanya terbuka nanti, dia sudah berada di tempat yang bukan berada di bumi ini.
Dari tempatnya, Yoongi dapat melihat cahaya menyilaukan dari arah jalanan. Lalu lalang kendaraan masih memenuhi jalan hari ini dan membuat bibirnya tersenyum tipis. Keputusannya sudah membulat kali ini.
~.~Hyungi terus memasukkan setiap potongan churos ke dalam mulutnya di seepanjang langkah mereka. Bibirnya sibuk mengunyah saat Chris terus mengoceh jika tubuhnya akan semakin gemuk jika terus makan makanan itu. Walaupun akan selalu berakhir dengan Hyungi mencibir lalu kembali mengunyah makanannya.
"Akhir-akhir ini," ucap Chris yang menatap bangunan tinggi yang menjadi tempat tinggalnya sekarang, "kau benar-benar sering pulang dengan Minho ya?"
Hyungi menyelesaikan kunyahan terakhirnya lalu menatap Chris dengan bingung. "Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?"
Chris menggelengkan kepalanya kemudian menghentikan langkahnya dan diikuti Hyungi. "Aku sering melihatnya pergi ke arah rumah sakit disana setelah mengantarmu."
Hyungi menoleh ke arah yang dimaksud Chris, dimana bangunan rumah sakit yang memang tidak jauh dari tempat tinggalnya berada. Dia kembali menatap ke arah Chris.
"Hmm, walaupun kami sering pulang bersama, bukan berarti dia menceritakan berbagai hal padaku."
Ya, Hyungi akui selama hampir sebulan terakhir dia sering pulang bersama Minho. Selain karena searah, Yeonjun dan Changbin juga sering menitipkan dirinya kepada Minho. Atau seringnya untuk dua minggu ini, Minho sendiri yang menawarinya tumpangan.
"Apa aku boleh mengikuti Minho sekali-sekali?"
Hyungi menyipitkan matanya. Apa ini? Kenapa Chris mendadak meminta izin untuk melakukan sesuatu? Hei, biasa saja jiwa itu akan menghilang dengan sendirinya.
"Aku hanya takut kau salah paham saja," ucap Chris yang seolah sudah dapat membaca ekspresi Hyungi. "Dia sering menatapmu diam-diam. Dia juga terlihat sering salah tingkah saat berada didekatmu."
"Oh ya? Hmm, aku tidak ingat soal itu."
Chris memukul jidat Hyungi lalu kembali berucap, "dari pandangannya, aku rasa dia suka padamu. Apa dia tidak mengatakan sesuatu?"
Hyungi tersedak. Chris tertawa.
"M-mana mungkin! Kau jangan mengada-ada!"
"Oh, atau kau juga suka padanya? Atau lebih dulu?" tanya Chris kembali dengan nada mengejeknya. Dia hendak kembali bersuara saat sebuah dengungan menyapa rungunya. Singkat tapi menyakitkan.
Hyungi segera menghentikan langkahnya saat menyadari Chris meringis secara tiba-tiba. Kedua tangannya segera terulur untuk menahan tubuh Chris yang nyaris limbung, tidak peduli jika beberapa orang sedang menatapnya aneh.
"Kau kenapa? Hei! Chris!?"
Bukannya menjawab, Chris segera mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mengamati setiap meter sekililing mereka. Beberapa kali matanya harus menyipit karena cahaya jalan yang menyilaukan. Cukup lama dia mengedarkan pandangannya tanpa peduli jika Hyungi terus menyerukan namanya.
"Chris! Kau baik-baik saja? Hei, lihat aku!" pinta Hyungi yang lalu menangkup wajah si jiwa bebas tapi tidak berhasil membuat pemilik manik emerald itu menatap wajahnya.
Chris malah menatap lurus ke depannya, ke seberang jalan dari posisi mereka. Agak gelap disana tapi dia sangat yakin jika ada seseorang yang berjalan disana. Tubuh itu sesekali hilang keseimbangan tapi kakinya tetap melangkah, menyeberangi jalan ke arah mereka.
Sedangkan di arah jalanan, banyak kendaraan yang sibuk berlalu lalang. Beberapa kali klakson terdengar saat tubuh itu mulai menapaki jalan raya, terus melangkah sampai berhenti tepat di tengah jalan. Sengaja, seolah menyerahkan dirinya pada penguasa jalanan saat ini.
Hyungi agak tersentak saat Chris melepaskan tubuhnya, berlari ke depan lalu menghilang. Kemudian kembali muncul di samping seseorang yang berhenti di tengah jalan. Kakinya hendak kembali melangkah saat orang-orang mulai menaruh perhatian pada orang yang berdiri di samping Chris. Namun jantungnya bergemuruh hebat, kedua kakinya bergetar. Dia yakin jika yang dilihatnya saat ini adalah nyata. Sebuah bus akan menabrak orang itu.
Kedua kakinya semakin lemas. Namun sebisa mungkin dia membuat langkah. Mulai dari langkah yang terseok, langkah kecil hingga berlari. Tubuh mungilnya menerobos kerumunan manusia yang ada, menabrak siapa saja yang menghalanginya.
Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Ada bayangan bagaimana tubuh itu hancur saat bus menghantamnya. Genangan darah, mata yang tertutup rapat, kerumunan orang-orang dan sirine. Semua itu memenuhi kepala Hyungi dengan sempurna.
"HYUNGI! TOLONG!"
Namun suara Chris tetap berhasil menembus rungunya. Bahkan Hyungi tersadar jika tubuhnya sudah terhenti di pinggir jalan dan bus hanya tinggal berjarak beberapa meter dari lokasi Chris berdiri dengan seorang pemuda asing. Kedua kakinya terpaku sempurna. Tidak bisa bergerak kemanapun saat ini. Pasokan oksigennya menipis. Padahal jaraknya dan Chris, serta pemuda asing itu hanya sekitar tiga meter lebih tapi Hyungi benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Hal terakhir yang terjadi adalah bus itu berhenti mendadak, Chris jatuh terduduk dan Hyungi yang sudah terlentang dengan sebuah beban di atas tubuhnya. Seluruh orang sudah mengerumuninya dengan sempurna.
Hyungi tidak merasakan sakit tapi pupilnya bergerak gelisah. Dia menatap Chris yang terlihat sudah beranjak dari posisinya, melangkah mendekat lalu menghilang dan muncul tepat di hadapan Hyungi. Wajahnya sedikit tak terbaca. Gurat aneh terpancar dari pemilik kulit putih pucat itu.
"Kau baik-baik saja?"
Nada datar tanpa emosi dan Hyungi bersumpah, dia semakin takut. Apalagi saat menyadari jika tubuh pemuda asing tadi terbaring di lengannya. Dia bahkan tidak menyadari jika beberapa lecet memenuhi tubuhnya. Ditambah lagi ada cairan merah yang mulai menodai sweater putih yang dikenakannya.
"Hyungi?!"
Suara Chris menghilang bersamaan dengan suara orang-orang yang ada disana. Dan Hyungi yakin, sebelum matanya benar-benar terpejam sempurna, dia melihat Chris menangis tanpa sebab.
"KIM HYUNGI!"
~.~Kedua tangan Seungmin terletak di atas meja dengan ponsel yang ada di antara keduanya. Jari-jarinya sibuk mengetuk ujung meja seraya menatap layar ponsel yang terus menampilkan sebuah roomchat antara dirinya dan kakak keduanya. Bibir bawahnya terus dibasahi, sesekali digigit untuk melampiaskan rasa gelisah yang menyerangnya saat ini.
Di sisi lain, Beomgyu baru saja masuk ke kelas bersama Jisung. Sedikit di belakang, ada Felix dan Hyunjin yang sedang bertengkar karena suatu hal. Keempatnya segera duduk di bangku masing-masing, begitu juga dengan Beomgyu yang tanpa sengaja membuat teman sebangkunya berlonjak kaget.
"Oh, sorry." Ucapnya seraya meletakkan salah satu botol susu stroberi yang dibawanya lalu meletakkannya di samping ponsel Seungmin. "Younghoon-hyung?"
Seungmin mendongakkan kepalanya lalu menyadari jika pemilik surai silver itu sedang menatap ponselnya. Dia terlihat tidak berniat untuk menutupi isi chat tersebut dan malah mendorong ponselnya ke arah Beomgyu yang sudah duduk di sampingnya.
"Younghoon-hyung bilang, Yoongi-hyung menghilang dari kemarin malam. Harusnya dia berada di rumah sakit pagi ini tapi dia belum tiba sampai detik ini juga."
"Yoongi-hyung?" tanya Beomgyu yang terdengar tidak asing dengan nama yang disebut Seungmin.
"Kau ingat Chan-hyung? Orang yang ditunggu Younghoon-hyung saat di rumah sakit?"
Jangan dipertanyakan, Beomgyu bahkan masih mengingatnya tanpa perlu disebutkan. Dia hanya mengangguk dengan tetap memasang ekspresi penasaran, berusaha tidak memperlihatkan ekspresinya.
"Ya, aku ingat. Sahabat Younghoon-hyung, 'kan?"
Seungmin mengangguk lalu kembali menggigit bibir bawahnya pelan. "Yoongi-hyung itu saudaranya Chan-hyung. Harusnya dia sudah berada di rumah sakit pagi tadi, sebelum adiknya berangkat ke sekolah. Tapi Yoongi-hyung tidak ada sampai Younghoon-hyung datang. Bahkan ponselnya tidak dapat dihubungi."
"Mungkin dia masih tertidur atau, hmm, apa dia bekerja?"
"Dia bekerja sebagai produser di salah satu agensi tapi Yoongi-hyung tidak pernah menghilang tanpa kabar seperti ini. Seokjin-hyung juga sedang pergi untuk pertemuan diluar kota jadi aku belum mengabarinya. Aku tidak ingin dia terlalu khawatir."
Beomgyu dapat melihat bagaimana raut gelisah yang terpancar dari Seungmin. Dia sendiri tidak terlalu peduli tentang siapapun pemilik nama Yoongi ini, selain sosok Chris atau Chan yang harus dia cari tahu.
"Kau harus tenang, okay? Pulang sekolah nanti, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Mungkin dia sedang menyelesaikan pekerjaannya, pikir saja begitu."
Seungmin menatap Beomgyu, manik hazel yang keruh itu terlihat seperti biasa. Tatapannya menunjukkan tidak ada ketertarikan disana tapi Seungmin cukup yakin, Beomgyu sangat tulus pada ucapannya. Walaupun tidak yakin jika ada maksud tertentu disana.
Chris menatap dua pintu bercat putih yang ada di depannya. Kedua pintu itu tertutup rapat untuk beberapa saat. Hanya berselang beberapa menit sampai akhirnya pintu sebelah kanan terbuka dan menampakkan seorang perawat serta seorang dokter berjalan keluar dari sana.
"Apa kau yakin?" tanya si dokter berkacamata yang menatap tidak percaya ke arah si perawat.
Perawat itu mengangguk yakin lalu sedikit berbisik ke arah si dokter. "Aku sangat ingat. Dia salah satu korban kecelakaan setahun yang lalu."
Korban kecelakaan setahun yang lalu? Gumam Chris yang sengaja menguping percakapan antara dua orang itu.
"Aku yakin. Dia mengalami amnesia permanen. Kecelakaan yang hampir menewaskan seluruh korbannya."
Dokter itu mengernyit bingung, pertanda dia berusaha mengingat sesuatu atas setiap kalimat yang disampaikan si perawat. "Tunggu! Apa kecelakaan yang membuat pasien di ruangan VVIP itu koma? Maksudku, pasien yang menjadi tanggung jawab Seokjin?"
Perawat itu mengangguk lalu tersentak karena teringat sesuatu. "Aku lupa. Jika benar artinya gadis itu sepupunya Dokter Kim Namjoon, bukan?"
Ah, benar. Namjoon. Chris merasa bodoh karena baru mengingat fakta jika Namjoon, saudara tertua Taehyung sekaligus sepupunya Hyungi adalah salah satu dokter di tempat ini.
"Kalau begitu, cepat hubungi Namjoon!" sahut dokter tersebut dan berhasil membuat si perawat segera berlari dari posisinya.
Chris hanya memperhatikan keduanya sampai mereka menghilang dari pandangannya. Kemudian pandangannya tertuju pada pintu sebelah kirinya, tepat di sebelah ruangan dimana dokter dan perawat tadi keluar. Harusnya Chris masuk kesana tapi langkahnya sedikit enggan. Sesuatu menariknya untuk masuk ke ruangan yang berada di balik pintu sebelah kiri.
Hyungi, maaf! Aku tidak tahu kenapa tapi aku harus melihatnya.
~.~"Kau tidak membuka pintunya?"
Minho kembali menggeleng. Entah sudah keberapa kalinya dia harus merespon pertanyaan yang terus diajukan oleh teman sekelasnya itu. Bahkan sahabat kecilnya, Jungkook, tampak ikut-ikutan melemparkan pertanyaan yang serupa.
"Kenapa kau tidak buka? Tinggal masukkan saja password-nya!"
Minho yang ditanya, Yeonjun yang pusing. Remaja bermarga Choi itu terlihat mengusap kasar wajahnya. Dia bahkan gemas ingin menyumpal mulut Changbin dan Jungkook dengan botol minuman yang dipegangnya.
"Masalahnya Minho tidak tahu password apartemen Hyungi!" sahut Yeonjun, setengah memekik gemas. Dia bahkan sudah mengeram sebal saat menyadari jika dua orang itu akan kembali menanyainya.
"Dia bahkan tidak membalas pesanku." Changbin kembali menyahut, seraya menatap layar ponselnya.
"Aku dan Changbin akan ke apartemennya sepulang sekolah." Yeonjun menepuk pundak Minho lalu merangkulnya. "Ayo! Kepalaku sedikit sakit karena mendengarkan ocehan mereka."
Jungkook menatap Changbin yang mencibir lalu merangkul yang lebih pendek. "Aku akui, kita terlalu cerewet sejak tadi. Cukup berpikir positif saja jika Hyungi baik-baik saja."
~.~Beomgyu menepati janjinya untuk menemai Seungmin ke rumah sakit sepulang sekolah. Dia bahkan tidak terlalu mempedulikan pertanyaan ketiga sahabatnya dan malah menarik teman sebangkunya menjauh dari halaman sekolah.
Alasannya saat ini hanya satu, yaitu menemui kembali pemilik wajah yang sangat mirip dengan Chris. Atau dia katakan tubuh itu adalah memang milik Chris? Beomgyu tidak yakin tapi dia penasaran dan benar-benar ingin membuktikannya sendiri.
"Kau yakin tidak keberatan?" tanya Seungmin sekali lagi, bahkan saat langkah mereka sudah memasuki areal lobi rumah sakit. "Sepertinya Jisung sedikit kecewa karena kau tidak ikut mereka."
Beomgyu hanya menggeleng lalu tersenyum tipis. Kedua tangannya dijejalkan ke saku sweater abu-abu yang dikenakannya.
"Tidak. Aku juga bosan ke game center. Bangunan di sebelahnya benar-benar berbau busuk."
"Bau busuk?" tanya Seungmin yang kini memberikan tatapan bingung.
Ah, seketika perutnya mual. Beomgyu sangat ingat bagaimana Jisung terus merengek, memaksanya untuk ikut ke game center yang berada tak jauh dari sekolah mereka. Letak game center yang masuk gang kecil, membuat Beomgyu harus menahan diri sekali dia berada disana. Di sebelah game center, ada sebuah bangunan tak terpakai yang biasa digunakan beberapa preman saat malam harinya. Disana selalu tercium busuk makhluk-makhluk menyebalkan dan Beomgyu hampir berakhir muntah jika mengunjungi tempat itu. Dan lagi, hanya dia yang dapat menghirup aroma busuk itu.
"Bukan apa-apa. Jadi dimana Younghoon-hyung?" tanyanya yang lalu mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, sebisa mungkin menghindari tatapan mata dengan makhluk disana.
"Sepertinya ada di ruangan Chan-hyung. Kau mau masuk atau tunggu diluar saja?" tanya Seungmin lagi, seraya menatap pintu yang menjadi tujuan mereka.
"Ikut sa~" ucapan Beomgyu terhenti saat merasa indera penciumannya menangkap suatu bau yang tidak asing. Kepalanya menoleh kesana kemari hanya untuk memastikan arah dari aroma itu.
"Gyu?!" tegur Seungmin yang kembali menutup pintu saat menyadari Beomgyu tak menyahut. "Ayo!"
Beomgyu menoleh ke arah Seungmin lalu berjalan mundur dan berkata, "aku harus memastikan sesuatu. Nanti aku akan menyusulmu." Setelahnya dia berlari ke arah mereka tiba, tanpa peduli jika Seungmin memanggil namanya.
