Piece #12 – Answer is Near

Namjoon terus berlari menyusuri koridor rumah sakit. Harusnya dia masih berada di sekolah Hyunjin untuk menyelesaikan urusan pendaftaran adik ketiganya, Kim Soobin yang memutuskan untuk pindah sekolah setelah terlalu lama tinggal dan bersekolah di Dallas. Namun, sebuah panggilan dari rekan kerjanya berhasil membuat putra tertua Kim bersaudara ini harus berlari meninggalkan ruang kepala sekolah.

"Joon-hyung!"

Dia mendengar tapi Namjoon tetap tidak menghentikan langkahnya yang tergesa. Dia menatap kesana kemari, memastikan jika lokasi yang ditujunya adalah benar.

"Astaga, Namjoon-hyung!"

Namjoon menghentikan langkahnya saat menyadari jika dirinya hampir menabrak seseorang. Tepatnya teman adik sepupunya, Choi Beomgyu.

"Hyung kenapa?"

"Eh, Beomie? Kenapa kau ada disini? Kau sudah tahu Hyungi ada disini?" tanya Namjoon yang langsung merengkuh pundak yang lebih muda. Suaranya terdengar bergetar karena nafas yang tidak stabil.

"Hyungi-noona? Kenapa?" tanya Beomgyu yang lalu menatap bingung. "Hyung, apa dia kambuh?"

Namjoon menggeleng lalu menarik tangan yang lebih muda tanpa bersuara. Dia menatap setiap pintu bercat putih yang mereka lewati sampai akhirnya menemukan pintu yang dicarinya. Pintu bernomor 218.

Disana, dibalik pintu bernomor 218, ada sebuah ranjang dengan satu pasien di atasnya. Namjoon masih setia memegang lengan Beomgyu dan mendekati siapa yang berbaring di ranjang itu.

"Noona?!" sahut Beomgyu, sedikit memekik.

Benar saja. Disana, Hyungi terbaring dengan lelapnya. Ada nasal kanula yang terpasang di hidungnya dengan selang infus yang terpasang di tangan kiri. Gadis itu tampak menutup erat iris emerald-nya tanpa minat untuk terbangun.

"Hyung, apa yang terjadi?" tanya Beomgyu seraya menatap yang lebih tua. Dia melangkah mundur, sedikit menjauh dari ranjang Hyungi.

"Aku juga tidak tahu. Temanku menghubungiku dan mengatakan sepupu perempuanku masuk ke rumah sakit karena kecelakaan."

"Kecelakaan? Noona?"

"Biarkan aku bernafas dulu, Gyu." Namjoon melepaskan lengan Beomgyu lalu menstabilkan pernafasannya. Pandangannya masih fokus pada wajah pucat Hyungi.

Sedangkan Beomgyu berusaha memfokuskan pandangannya pada sosok cantik yang berada di seberangnya. Di sisi lain ranjang Hyungi, sebelah kanan. Sosok wanita itu benar-benar cantik dengan surai pirang sebahu dan manik emerald yang tak pernah Beomgyu lupakan. Bibir pucatnya tersenyum tipis dan membalas tatapan Beomgyu.

Tatapan mereka bertemu, seolah keduanya sedang berkomunikasi melalui tatapan mata. Beomgyu bahkan segera mengalihkan pandangannya pada Hyungi lalu kembali menatap wanita dengan gaun putih tadi. Namun sosok wanita itu sudah lenyap bersamaan dengan hembusan angin.

Beomgyu sedikit lega. Berkat wanita itu, dia berhasil mengetahui Hyungi melalui aroma tadi. Hanya satu-satunya aroma yang dapat Beomgyu terima, berasal dari sosok yang sama. Wanita bermanik emerald tadi. Kristal Kim. Ibu kandung Hyungi dan sekaligus ibu angkatnya.

"Kau kenapa ada disini?" tanya Namjoon yang kini sedang memeriksa kepala Hyungi. "Kau tahu Hyungi ada disini?"

"Ah, itu," ucap Beomgyu ragu lalu menggeleng, "aku menemani temanku menjenguk teman kakaknya. Dia ada di koridor VVIP."

"Ruang VVIP? Hanya dua orang yang ada disana saat ini. Satunya adik teman hyung dan satunya lagi anak direktur rumah sakit." Namjoon menatap yang muda dengan tatapan penuh tanda tanya.

Beomgyu sendiri tidak terlalu tahu siapa di antara kedua yang dimaksud Namjoon. Dia malah melemparkan ranselnya ke sofa lalu kembali mendekati Namjoon dan mengalihkan pertanyaan.

"Noona kenapa?"

"Dia terlibat kecelakaan tapi beruntungnya tidak ada bekas luka di tubuhnya. Tapi mungkin ini efek dari shock. Hyungi menolong seseorang yang hampir ditabrak bus katanya. Dan orangnya berada di kamar sebelah."

Beomgyu mengamati setiap mili tubuh Hyungi lalu menghela nafas. "Hyung, kau bilang bus? Apa jangan-jangan noona kambuh?"

Namjoon terdiam sejenak sebelum akhirnya memukul keningnya. Dia menyumpahi dirinya sendiri karena tidak menyadari apa yang terjadi. Namjoon terlalu panik sampai dia lupa satu fakta penting soal Hyungi dan bus.

~.~

Minho sedikit terkejut saat tidak mendapati kakak pertamanya duduk di tempat biasa, melainkan adik dari sahabat kakak keduanya. Kim Seungmin, duduk di kursi di sebelah kanan ranjang sang kakak.

"Oh, hyung?! Sudah pulang?"

Minho hanya mengangguk seraya menutup pintu. Kemudian kedua kakinya kembali melangkah ke arah kiri ranjang. Matanya sedikit bergulir ke segala arah, berusaha mencari sosok lain disana. Mungkin Younghoon.

"Hyung-mu dimana?"

Pertanyaan itu berhasil membuat Seungmin menggigit bibir bawahnya. Remaja itu tidak tahu harus menjawab apa seputar pertanyaan yang diberikan Minho. Bisa saja dia akan mengatakan jika saudaranya sedang pergi mencari Yoongi. Namun Seungmin sendiri bingung untuk jawaban selanjutnya, karena dia yakin Minho akan memberikan pertanyaan lebih lanjut.

"Mencari makan?" lanjut Minho kembali.

Seungmin menggaruk kepalanya untuk mengurangi rasa gugup. Dia mengangguk kecil lalu kembali membuka buku yang biasa dibaca Younghoon. Hanya pengalih karena dia tidak tahan jika harus bersitatap terlalu lama dengan pemilik hazel itu.

"Apa Yoongi-hyung belum pulang?" tanya Minho lagi. Kedua tangannya sedang merapikan sedikit posisi selimut sang kakak.

"Ya, hmm, aku rasa. Aku tidak bertemu dengannya sejak tadi."

Minho tidak kembali mengajukan pertanyaan dan berhasil membuat Seungmin sedikit bersyukur karena yang lebih muda tak mengajukan pertanyaan lebih lanjut. Remaja itu hanya memandangi Minho yang berjalan ke arah sofa lalu berbaring disana.

"Aku tidur sebentar ya. Bangunkan aku jika hyung-mu sudah tiba."

Seungmin kembali mengangguk sebagai jawaban. Namun pandangannya masih tertuju pada Minho, mengamati setiap pergerakannya sampai yang lebih tua benar-benar terlelap.

~.~

Beomgyu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu bercat putih dengan nomor 217 yang berada di sebelah kiri kamar rawat Hyungi. Dia mengamati pintu itu sejenak lalu menghela nafas.

"Katanya orang yang diselamatkan Hyungi berada di kamar sebelah. Hyung akan ke ruangan sebentar untuk mengganti pakaian. Kau, temui saja dulu temanmu. Lagipula Hyungi masih tidur."

Dan entah kenapa, Beomgyu sangat yakin jika 'kamar sebelah' yang dimaksud Namjoon adalah kamar ini, bukan kamar 219 yang berada di sebelah kanan kamar rawat Hyungi. Disini, kamar ini lebih menarik perhatiannya dan seorang Choi Beomgyu sedang masuk dalam mode penasaran.

Tangan kirinya hendak menggeser pintu saat tubuhnya sedikit terhentak. Entah karena apa tapi dia hanya merasa harus berhenti melakukannya. Pandangannya menatap ke arah kaca bening yang terpasang di pintu dan membuatnya harus mengintip, memastikan sedikit tentang situasi di dalamnya.

Ada satu ranjang di dalam sana dengan seseorang yang berbaring di atasnya. Tidak terlalu jelas sehingga Beomgyu tidak yakin tentang gender orang yang ada disana. Cukup lama sampai akhirnya suara Namjoon berhasil menginterupsi rungunya.

"Gyu?! Kenapa disini?"

Beomgyu menoleh lalu menggeser tubuhnya. Dia mengamati yang lebih tua. Penampilannya sudah berbeda. Jika sebelumnya Namjoon mengenakan kemeja biru rapi dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan celana kain hitam panjang, serta sepatu pantopel hitam. Poninya disisir ke atas dan terbelah dua. Penampilannya benar-benar seperti pria pembisnis yang keren.

Sedangkan sekarang, Namjoon mengenakan snelli yang membalut kemeja birunya. Sepatunya sudah berganti menjadi sepatu snickers putih. Rambutnya kembali berponi, berantakan. Oh, jangan lupakan kacamata bulat yang dikenakannya serta stetoskop yang melingkar di lehernya. Lebih mirip kutu buku yang gagal berpenampilan seperti berandalan.

"Astaga, Choi Beomgyu! Aku berbicara padamu!"

Beomgyu berdesis lalu mengusap telinganya yang sedikit terganggu karena suara berisik Namjoon. Dia mendongak ke arah yang lebih tinggi lalu kembali berdecih dengan kepala yang menggeleng.

"Apa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Namjoon yang terlihat tidak menyukai tatapan Beomgyu. Oh, dia kembali ke mode normal dimana Choi Beomgyu adalah musuh kecilnya.

"Tidak." Beomgyu menggelengkan kepalanya dengan semangat lalu kembali menatap Namjoon. "Hyung sudah selesai mengurus pindahnya Soobin?"

Namjoon melepaskan stetoskop yang melingkar di lehernya lalu menjejalkannya ke saku snellinya. Tangan kanannya merangkul Beomgyu lalu menggeser pintu dan menyeret yang lebih muda untuk masuk ke dalam.

"Tsk, sakit!" protes Beomgyu yang merasa tubuhnya terbebani karena tangan kekar Namjoon. Dia segera melepaskan dirinya dari rangkulan Namjoon dan hendak menyemprot yang lebih tua. Namun keberadaan Chris di depan sana membuatnya harus bungkam.

Kenapa ada dia disini?

Chris sendiri tampak terkejut atas kehadiran Namjoon dan Beomgyu yang terkesan mendadak. Dia segera melangkah menjauh, berjalan melewati Namjoon lalu agak terhenti di samping Beomgyu. Kepalanya sedikit menoleh ke arah Yoongi lalu menghela nafas.

Beomgyu sendiri berusaha menahan nafas karena keberadaan Chris yang sangat dekat dengan tubuhnya. Dia sedikit bersyukur saat Chris sudah menghilang dan membuatnya segera menghampiri Namjoon yang lebih menarik perhatiannya.

"Bang Yoongi?! Sialan! Kenapa kau ada disini?"

"Hyung kenal?" tanya yang lebih muda.

Namjoon berdecih lalu mengamati pemuda yang saat ini terlelap. Kepalanya dibalut perban. Wajah putihnya terlihat sangat pucat, walaupun dia tahu jika pemuda itu memang memiliki kulit terpucat.

"Sangat kenal." Jawabnya lalu berkecak pinggang, menampilkan wajahnya yang terlihat sangat kesal. "Dia temanku sejak sekolah. Mayat hidup. Ya Tuhan, sepertinya dia berniat melakukannya lagi."

"Maksudnya?"

Beomgyu mengernyit heran lalu menatap wajah pemuda yang masih setia menutup matanya itu. Hanya berselang beberapa detik sampai perhatiannya teralih pada Namjoon yang kini mengangkat lengan kanan pemuda yang berbaring itu. Banyak bekas luka disana.

"Yoongi. Adiknya sedang dirawat di ruang VVIP saat ini. Kalau tidak salah, adiknya juga salah satu korban kecelakaan setahun yang lalu. Sama seperti Hyungi." Namjoon sedikit menjeda penjelasannya seraya mengamati setiap bekas luka yang terdapat di hampir seluruh bagian lengan putih itu. "Orang tuanya meninggal di kecelakaan itu. Semenjak kejadian itu, Yoongi seringkali mencoba untuk menghabisi nyawanya. Syukur saja dia selalu berhasil diselamatkan dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Tapi sepertinya dia sedikit melanggar."

Beomgyu kembali mengalihkan pandangannya pada wajah pucat milik orang yang dia ketahui bernama Yoongi itu. Agak lama sampai sesuatu mengalihkan fokusnya. Sebuah benda berkilap yang terletak di samping bantal. Sebuah kalung perak dengan dua bandul yang memiliki bentuk yang berbeda. Sejenak Beomgyu mengamati Namjoon yang sedang memeriksa keadaan Yoongi dan dia segera memanfaatkannya untuk mengambil kalung itu.

"Yak! Choi Beomgyu!" tegur Namjoon yang berhasil membuat Beomgyu mengutuk pemuda berkamata itu. "Jangan hubungin siapapun soal Hyungi. Terutama Taehyung. Kita harus menunggunya sampai sadar."

"Aku tahu tugasku, hyung." Beomgyu menjejalkan kedua tangannya ke saku jaketnya lalu menghela nafas. "Aku akan menemui temanku dulu. Setelah itu baru menemani noona di ruangan."

"Pergilah!" ucap Namjoon setengah mengusir.

Beomgyu sendiri tak banyak komentar dan dengan sedikit berlari, dia segera keluar dari ruangan dan berniat menemui Seungmin.

Kembali ke Namjoon yang kembali mengumpat pelan. Bibirnya tidak henti-hentinya menggumamkan berbagai kata makian. Dia kesal, kenapa temannya melakukan hal ini lagi. Padahal pemilik kulit pucat itu sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi. Namjoon marah pada dirinya. Harusnya dia juga berada di sisi Yoongi, menemani sahabatnya itu.

"Bang Yoongi sangat bodoh! Kau benar-benar bodoh!"

Suaranya serak, nyaris menangis. Di satu sisi dia menangis karena takut Hyungi kembali pada keadaan awalnya. Sisi lain, Namjoon takut sahabatnya benar-benar meregang nyawa walaupun berdasarkan keterangan rekannya, Yoongi hanya mengalami benturan kecil.

"Berhenti menyumpahiku, Kim!"

Namjoon melepaskan kacamatanya lalu menatap tajam pemilik suara parau itu. Suara Bang Yoongi, sesuai dugaannya tapi pemuda itu tidak kunjung membuka matanya. Namun mulutnya kembali bersuara.

"Tuhan tidak mau menerimaku."

Namjoon berdecih lalu memukul jidat Yoongi tanpa peduli jika pemuda itu meringis. "Akhirnya kau tahu diri juga."

Yoongi membuka pelan matanya lalu menatap sayup ke arah Namjoon. "Aku juga terkejut jika aku masih hidup, padahal rasanya tubuhku sudah terlempar."

"Ck! Tentu saja terlempar." Namjoon mengeram gemas lalu menghela nafas. "Adik sepupuku berhasil menolongmu. Dia ada di ruangan sebelah."

Yoongi mengernyitkan matanya, seraya bangun dari posisinya. "Maksudmu?"

"Orang-orang bilang kau ditarik adik sepupuku. Mereka juga terkejut karena tiba-tiba kalian tidak sadarkan diri."

"Adikmu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Yoongi.

"Tenang saja. Dia baik-baik saja. Bersih tanpa luka. Hanya sedikit shock. Aku rasa." Namjoon berucap ragu karena jujur saja, dia masih khawatir soal keadaan Hyungi. Takut-takut gadis itu akan bangun seperti dulu. Dihantui ketakutan. "Aku akan memberitahu adik tirimu. Dia pasti mencarimu."

"Tidak. Jangan."

Namjoon menatap lengannya yang ditarik Yoongi lalu menatap pemuda itu. "Baiklah. Tidak akan aku beritahu. Tapi pastikan kau diam disini sampai Seokjin kembali."

Tidak ada jawaban yang terdengar namun Namjoon yakin jika sahabat semasa sekolahnya itu akan mendengarkan ucapannya.

~.~

"Hyung yakin?"

Younghoon mengangguk seraya mengusap tengkuknya. "Yoongi-hyung tidak berada di kantor sejak kemarin malam. Aku sudah mencarinya di rumah."

"Lalu," ucap Seungmin yang sesekali menatap pintu ruangan, "bagaimana dengan Minho-hyung?"

"Kita tunggu sampai besok atau sampai Jin-hyung kembali." Younghoon mengusak surai adiknya, berusaha membagi ketenangan. "Oh ya, hyung tadi bertemu Beomgyu."

"Benarkah?" sahut Seungmin dengan pupil yang melebar. "Dimana? Astaga! Dia yang meminta ikut tapi malah menghilang."

"Dia minta maaf tidak bisa menemanimu. Kakaknya masuk rumah sakit jadi dia harus menemani kakaknya."

"Kakaknya yang mana?" tanya Seungmin lagi.

Younghoon hanya mengedikkan bahunya lalu beranjak dari posisinya. "Hyung juga tidak tahu. Diakan temanmu. Kau pulang atau tetap disini?"

Seungmin terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "disini saja." Dia mengikuti langkah sang kakak walaupun terkesan ragu soal Beomgyu. Dia ingin menanyakan dimana keberadaan Beomgyu tapi rasanya sia-sia karena Younghoon terlihat lelah. Jadi dia memilih untuk mengurungkan semuanya dan kembali masuk ke dalam ruangan.

~.~

Seokjin membuka pintu ruangan dengan kasar dan mendapati dua pemuda yang berada pada posisi yang sama di lokasi yang berbeda. Satunya duduk di atas ranjang dan satunya lagi sedang duduk di kursi putar. Pandangannya lurus ke arah pemuda berkulit pucat yang duduk di atas ranjang, menudingnya dengan tatapan tajam.

"Bodoh! Apa yang kau lakukan? Melempar dirimu ke tengah jalan lagi seperti tiga bulan yang lalu?" sergahnya tanpa peduli jika suaranya benar-benar mengejutkan dua pemuda itu.

Namjoon yang duduk di kursi segera beranjak dari posisinya dan berlari menghalangi Seokjin yang bersiap seperti seseorang yang akan menghajar Yoongi. Dia sedikit bisa memprediksi apa yang akan dilakukan rekan seprofesinya itu dan sebelum benar-benar terjadi, Namjoon harus menghentikannya.

"Apa kau punya nyawa lebih dari satu? Sialan! Aku hampir gagal presentasi saat pertemuan tadi."

Seokjin berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Bayangkan saja, dia sedang ada pertemuan diluar kota lalu mendapat kabar dari Namjoon jika sahabat mereka mengalami kecelakaan. Hei, jarak Seoul ke Pulau Jeju cukup memakan waktu. Padahal dia harusnya kembali besok pagi tapi harus memaksa terbang malam ini hanya demi seorang Bang Yoongi.

"Yoon, kau sudah janji tidak akan melakukan hal seperti itu. Kau tahu, orang tuamu tak akan menyukainya. Apalagi Bangchan."

Melihat Seokjin nyaris menangis, membuat Namjoon hanya bisa menghela nafas. Seokjin adalah orang yang jauh mengenal Yoongi lebih dulu, sedangkan Namjoon baru bertemu mereka saat sekolah menengah. Jadi dia sangat mengerti soal eratnya hubungan persahabatan Seokjin dan Yoongi.

"Aku hanya putus asa, Jin." Yoongi berucap dengan kepala tertunduk. "Waktu yang dimiliki Chan tidak lama lagi. Hanya tinggal lima hari lagi sebelum dia benar-benar pergi."

Seokjin mendongakkan kepalanya, berusaha menahan airmatanya. Dia sangat tahu, kelewat malah, seberapa besar rasa sayang seorang Bang Yoongi pada Bangchan, adiknya yang saat ini masih enggan membuka mata sejak setahun terakhir.

"Kau masih memiliki Minho, Yoon! Sadarlah! Dia juga adikmu!"

"BERHENTI MENYEBUT NAMANYA! AKU HANYA MEMILIKI SATU ADIK DAN ITU ADALAH CHRISTOPHER BANG!"

Namjoon mengusap wajahnya. Dia bingung harus bertindak seperti apa saat ini. Yoongi menangis, begitupula Seokjin yang berusaha menahan amarahnya. Lagi, Namjoon tidak mengerti masalah apa yang dimiliki Yoongi pada adik tirinya.

"Ibuku sudah pergi. Ayahku juga. Chan juga, tidak lama lagi akan meninggalkanku. Hanya aku sendirian, Jin. AKU SENDIRIAN!"

"Yoon, cukup!" pinta Namjoon yang kini beralih mendekati Yoongi. "Kau harus istirahat. Keadaanmu belum stabil."

Diluar ruangan, Beomgyu sedang berdiri mematung. Tangan kanannya sedang menggenggam sebuah kalung perak yang diambilnya tadi. Padahal dia hendak mengembalikan benda itu dan menemui Namjoon untuk mengatakan jika Hyungi akan pulang ke rumahnya saat ini. Namun, percakapan di dalam sana membuat niatnya terurung.

Christopher Bang, Bang Yoongi. Pantas saja aku merasa tak asing.

Pandangannya kembali tertuju pada kalung perak dengan dua bandul yang berbeda di tangannya. Satu bandul berbentuk sebuah balok panjang berbahan sama dengan dua sisi yang bertuliskan dua nama. Chris dan Yoongi. Bandul lainnya berbentuk cincin perak dengan ukiran Chan & Suga, pada sisi luar cincin.

Akhirnya Beomgyu paham satu hal saat ini. Pertama, orang yang diselamatkan Hyungi di dalam sana adalah saudara kandung Chris dan juga sahabat dari Namjoon. Kedua, sekaligus fakta yang sedikit mengejutkan adalah Chris tidak memiliki waktu lama sebelum jiwanya menghilang untuk selamanya. Jadi sebelum itu benar-benar terjadi, Chris harus segera mengetahui keberadaan tubuhnya.

Aku harus melakukannya. Dia masih memiliki kesempatan untuk hidup. Beomgyu menggenggam erat kalung yang ada di tangannya lalu melangkah pergi dari sana. Dia tahu, melakukan hal seperti ini akan mengakibatkan beberapa resiko besar. Namun, membiarkannya begitu saja akan mengakibatkan resiko yang lebih besar.