Yeonjun dan Changbin segera beranjak dari posisi mereka saat indera pendengaran mereka berhasil menangkap suara dari arah pintu utama. Keduanya segera berlari dan berdiri di depan pintu yang perlahan terbuka lalu menampilkan dua orang di depan sana.
"HYUNGI!" teriak Changbin yang langsung berhamburan memeluk sahabat perempuannya. Tidak peduli jika Beomgyu nyaris terlentang karena didorongnya.
"Changbin kenapa?" tanya Hyungi yang tidak mengerti. Dia melirik Yeonjun yang masih memasang wajah datarnya. "Kenapa kalian ada disini?"
Changbin langsung melepaskan pelukannya lalu memegang pundak Hyungi. "Harusnya kita yang tanya, kemana saja sampai membolos sekolah? Bahkan sampai tidak bisa dihubungi."
Beomgyu mencibir lalu mendorong tubuh Changbin karena terlalu menghalangi pintu. Remaja itu menatap tajam yang lebih tua lalu membuang muka.
"Berisik, hyung!"
Hyungi menghela nafas kemudian menyusul masuk ke dalam apartemennya. Dibiarkannya Changbin menutup pintu lalu mengekorinya menuju ruang tengah. Dia bahkan tidak peduli pada Yeonjun yang masih berdiam diri pada posisi yang sama.
"Kalian darimana?" tanya Changbin lagi. Dia masih setia menatap Hyungi dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Tadi pagi Minho menjemputmu tapi kau tidak keluar."
"Aku," ucap Hyungi yang hendak menjawab lalu melirik Chris yang berdiri di depan pintu kamarnya. Tidak tahu harus menjawab apa. Dia juga tidak mungkin mengatakan jika dirinya baru saja kecelakaan.
"Noona menemaniku ke pemakaman." Beomgyu menyahut dari arah dapur. Dia baru saja meneguk air mineral yang diambilnya dari lemari pendingin. "Pagi tadi dia juga pergi dengan Namjoon-hyung ke suatu tempat. Makanya dia tidak ada di rumah."
Yeonjun masih setia di posisinya, menatap ke arah Hyungi dari kejauhan lalu menghela nafas. Dia tidak yakin tapi indera penciumannya menangkap sesuatu. Aroma-aroma khas dari rumah sakit yang berhasil ditangkapnya.
"Pemakaman siapa?" sahut Changbin yang kini sudah duduk di sofa. Dia menarik Hyungi agar duduk di sampingnya.
"Orang tuaku." Beomgyu kembali menjawab, dengan berbohong tentu saja.
Changbin menatap Beomgyu sejenak lalu beralih pada Hyungi yang terlihat tidak ada niat untuk menjawab. Dia sendiri tahu tentang orang tua Beomgyu yang meninggal sejak 10 tahun yang lalu dan membuat remaja bersurai silver itu diambil alih oleh orang tua Hyungi sampai setahun yang lalu.
"Gyu, kau bersih-bersihlah lalu makan malam. Setelah itu istirahat. Aku dan Changbin akan menginap disini."
Beomgyu menatap Yeonjun yang berlalu begitu saja. Melintas di hadapannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Noona juga istirahat." Beomgyu bersuara lalu melirik Chris yang masih pada posisinya. Aku harus memikirkan cara untuk berbicara dengannya.
Minho menatap kalender yang berada di atas meja, tepat di samping ranjang sang kakak. Dia mengamati setiap angka yang tertera disana dan terhenti pada sepasang angka yang dilingkari dengan spidol merah. Kurang dari empat hari lagi sebelum hari tersebut.
Kemudian manik hazelnya bergerak untuk menatap sang kakak yang masih setia menutup manik emeraldnya. Seolah masih betah untuk terus berada di mimpinya, walaupun Minho sendiri tidak yakin mimpi indah seperti apa yang menahan sang kakak untuk kembali.
"Tidak apa-apa. Walaupun tak bisa menyelamatkan keluargaku, setidaknya aku baru saja menyelamatkan satu nyawa hari ini."
Kalimat itu tiba-tiba saja terngiang di kepalanya. Sebuah kalimat terakhir dari seorang pria paruh baya yang baik. Wajahnya cukup tampan. Padahal hari itu menjadi awal dan akhir baginya melihat pria itu. Seandainya hari itu Minho tidak bertemu dengan pria itu, dia tidak yakin masih berdiri disini. Atau jika saja mereka tidak menaiki bus pada hari itu, mungkin Bangchan akan terus membuka matanya. Orang tua mereka masih berada di dunia ini.
Berhenti, Lee Minho. Dia menampar pelan pipi kirinya lalu meringis. Ingatan masa lalu selalu berhasil membuatnya hilang kendali.
Ah, Minho baru teringat. Sejak kemarin dia tidak melihat kakak tiri pertamanya. Bahkan pemuda itu sama sekali tidak mengiriminya pesan. Padahal ini adalah hari libur jadi bukan sebuah kebiasaan bagi seorang Bang Yoongi untuk terus berada di kantornya. Minho juga tidak menemui tanda-tanda Yoongi pulang ke rumah saat dia pulang untuk mengganti pakaian kemarin malam.
Ingin sekali jari-jarinya mengirimi pemuda itu sebuah pesan, hanya sekedar menanyakan dimana keberadaannya. Namun rasa takut lebih besar. Dia enggan menanyakannya dan lebih memilih untuk tetap menunggu.
"Hei, Minho-ya!"
Minho tersentak saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Dia segera berbalik dan mendapati Seokjin berdiri di belakangnya dengan tatapan heran.
"Aku memanggilmu sejak tadi tapi," ucap Seokjin lalu beralih pada kalender yang berada di atas meja, "tidak jadi. Kenapa kau melamun?"
"Hmm, sedang memikirkan Yoongi-hyung. Apa hyung tahu dimana dia?"
Seokjin tak langsung menjawab. Dia hanya mengedikkan bahunya lalu berjalan menuju monitor bed yang menjadi sumber penopang kehidupan Bangchan saat ini. Dia sendiri enggan memberitahu keberadaan Yoongi karena hanya akan menambah beban pikiran Minho. Dan juga, Yoongi pasti akan marah kepadanya.
"Memangnya dia belum kembali?"
Minho mengangguk lalu menarik kursi dan duduk dibalik punggung Seokjin. Dia hanya bingung dan tidak tahu harus bagaimana soal Yoongi yang entah kenapa menghilang tanpa kabar. Minimal akan ada sebuah pesan berisi keterangan apa yang dia lakukan atau dimana dia berada.
"Tunggu saja. Mungkin dia akan kembali sore ini."
"Baik, hyung."
~.~Beomgyu terdiam di posisinya sejak dua jam yang lalu. Dia masih betah memandangi keluar pintu balkon yang terbuka. Tepatnya pada sosok Chris yang duduk diluar sana.
Jiwa bebas itu tampak sedang memikirkan sesuatu yang Beomgyu tidak ketahui. Walaupun begitu, Beomgyu sendiri cukup yakin jika ini pasti ada hubungannya dengan orang yang bernama Yoongi kemarin.
Remaja itu sendiri sedang bingung bagaimana caranya membawa Chris ke tubuhnya yang berada di rumah sakit. Bisa saja dia meminta bantuan Felix tapi itu sama saja membongkar rahasia yang ada. Resikonya lebih besar daripada pilihan keduanya. Pilihan yang sejak kemarin malam menghantuinya. Dia sendiri sudah memikirkannya matang-matang dan tetap akan melakukannya tanpa pilihan lain. Walaupun tetap beresiko tapi ini hanya menimbulkan sedikit dampak saja.
Setelah memastikan jika hanya dirinya saja yang berada disini, karena Hyungi dan kedua sahabatnya sedang keluar, Beomgyu segera beranjak dari posisinya. Tidak lupa dia mengambil selembar kertas yang sudah terlipat rapi di atas meja lalu melangkah ke arah balkon, mendekati Chris.
Kembali pada Chris yang masih merasakan ada hal aneh pada tubuhnya. Dia tidak tahu apa yang salah pada dirinya tapi Chris cukup yakin jika ini terjadi sejak kecelakaan dua hari yang lalu. Chris merasa ada kekosongan pada hatinya, sesuatu yang baru saja hilang dari tubuhnya. Terasa menyesakkan tapi tidak menyakitkan.
Dia tersentak saat tiba-tiba saja Beomgyu berdiri di sampingnya. Remaja itu tampak menarik nafas sedalam mungkin lalu melepaskannya begitu saja. Hal itu berlangsung sebanyak tiga kali sebelum akhirnya Beomgyu meletakkan kedua telapak tangannya di atas pagar.
Chris hendak pergi saat tiba-tiba saja Beomgyu membuka telapak tangan kanannya dan memperlihatkan sebuah kertas terlipat. Ukurannya hanya sebesar telapak tangan Beomgyu dan itu berhasil mencuri perhatiannya.
Beomgyu tiba-tiba saja berbalik ke arahnya, menatap lurus ke arahnya. Awalnya Chris ingin bertindak tidak peduli karena dia cukup tahu Beomgyu tidak dapat melihatnya. Namun semuanya berubah saat Beomgyu mengulurkan kertas itu ke arahnya. Berhasil membuat manik mereka saling bertabrakan.
"Temui aku di tempat itu sore ini."
Chris tidak yakin kepada siapa kalimat itu tertuju. Dia menatap sekitarnya dan sangat sadar jika hanya ada mereka berdua disana. Atau Beomgyu sedang berlatih drama?
Tiba-tiba saja Beomgyu menghela nafas kasar lalu mengusap wajahnya. "Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu tentangku. Tapi ini benar-benar untukmu."
"Aku? Aku yang saat ini ada di depanmu?"
"Ambil saja!"
Bukannya menjawab, Beomgyu malah terus menyodorkan lipatan kertas itu ke arah Chris. Dia tidak punya banyak waktu sebelum ketiga orang lainnya pulang.
Chris benar-benar mengambil kertas itu dari tangan Beomgyu. Dia sedikit bingung saat Beomgyu tak menunjukkan reaksi apapun. Jadi dia menyempatkan untuk membaca isi lipatan kertas tersebut dalam diam.
Rumah Sakit Pusat. Pukul 4 sore di ruang VVIP nomor 3.
"Kau bisa melihatku?"
Beomgyu kembali tidak menjawab dan malah membalikkan badannya lalu melangkah masuk. Sebelum benar-benar masuk, Beomgyu sedikit membuka suara dan menyampaikan satu hal yang membuat Chris semakin bingung.
"Pastikan tidak ada yang tahu soal ini, termasuk noona dan Felix. Waktumu tidak banyak lagi."
Sepeninggalan Beomgyu, Chris hanya bisa terdiam. Berusaha mencerna segala hal yang baru saja terjadi dan kembali menatap lipatan kertas tersebut. Jika sudah begitu, dia tetap harus pergikan? Lagipula dia ingin tahu, apakah Beomgyu benar-benar bisa melihatnya.
~.~Chris tiba di depan gedung rumah sakit. Dia terdiam selama beberapa saat untuk mengamati seluruh aktivitas orang-orang yang terlihat sibuk disana. Cukup lama hingga matanya menangkap satu objek tak asing yang baru saja melangkah keluar gedung rumah sakit.
Lee Minho. Langkahnya sedikit tergesa-gesa dan membuat Chris ingin sekali mengikuti remaja itu. Namun harus teringat permintaan Beomgyu untuk bertemu di salah satu ruangan VVIP yang ada.
Maka setelah memastikan Minho benar-benar pergi bersama motornya, Chris juga memutusakn untuk menghilang dari posisinya.
~.~"Tidak Masalah?"
Beomgyu mengangguk lalu tersenyum tipis. "Tidak apa, hyung. Lagipula ini bukan pertama kalinya aku melihat Chan-hyung."
Younghoon menggigit bibir bawahnya, terkesan ragu atas tawaran teman sekolah adiknya itu. Ya, Beomgyu baru saja menawarkan diri untuk menggantikan Younghoon menjaga Bangchan karena dia harus pulang untuk mengurus sesuatu. Ditambah lagi Minho sedang pergi untuk menyelesaikan tugas kelompoknya.
"Tapi," ucapnya lagi saat teringat pertama kali Beomgyu datang, "kau yakin tidak apa-apa?"
"Ah, hyung pasti kepikiran tentang hari pertamaku, ya?" timpal Beomgyu dengan nada bercandanya lal menghela nafas. "Waktu itu aku sedikit shock saja karena Chan-hyung mengingatkanku pada seseorang. Tapi, hyung, buktinya beberapa hari ini aku santai saja, 'kan?"
Younghoon mengakui hal iyu. Selama beberapa hari terakhir, Beomgyu sering datang berkunjung bersama Seungmin sepulang sekolah. Tidak jarang juga dia datang sendiri untuk menemani Younghoon yang mendapat giliran jaga.
"Hyung juga tidak akan lama, 'kan?"
Younghoon mengangguk lalu meraih ranselnya yang tergeletak di salah satu kursi tunggu yang menjadi tempat mereka berada saat ini.
"Soal kakakmu, apa kabar? Bukannya dia masuk rumah sakit?"
"Hmm, ya. Dia sudah sangat membaik. Bahkan tadi pergi keluyuran dengan teman-temannya. Terakhir kali dia pamitan pergi untuk menyelesaikan tugas kelompoknya."
Younghoon beranjak dari posisinya lalu kembali menatap Beomgyu. "Yakin tidak masalah? Aku bisa menundanya sebentar sampai adiknya Chan tiba."
Beomgyu menggelengkan kepalanya lalu ikut beranjak. Pandangannya tertuju pada Younghoon, tidak, tepatnya pada Chris yang berdiri di ujung lorong dan membuatnya tersenyum.
"Semakin cepat hyung pergi maka semakin cepat juga hyung kembali. Lagipula disini banyak dokter jika memang terjadi sesuatu."
"Kau benar." Younghoon menghela nafas lalu menatap pintu dimana Bangchan dirawat. "Aku hanya khawatir karena tidak ada orang lain yang menjaganya. Ini pertama kalinya aku membiarkan orang lain."
"Aku paham. Hati-hati di jalan, hyung. Jika Yoongi-hyung tiba nanti, aku akan segera pulang. Tenang saja."
Younghoon mengangguk lalu berpamitan. Tubuhnya berbalik lalu melangkah dengan sedikit tergesa. Semakin dekat ke arah Chris yang masih terdiam hingga akhirnya mereka berpapasan.
Mata Chris membulat saat merasa ada udara aneh yang menyapa tubuhnya, tepat saat pemuda tadi melewatinya. Dia pernah merasakan hal seperti ini beberapa kali. Kapan detailnya, Chris tidak bisa mengingatnya. Yang jelas, semua hal itu terjadi saat dia berpapasan dengan Seungmin dan juga Minho. Sampai sebuah nama terlintas di kepalanya.
Kim Younghoon?!
Suara pintu yang dibuka berhasil mengembalikan fokus Chris pada Beomgyu. Remaja itu belum melangkah sebagai tanda dia masih menunggu Chris. Entah darimana tapi Chris dapat mendengar suara pemilik surai silver itu walaupun tahu Beomgyu sama sekali tidak membuka mulutnya.
"Apalagi yang kau tunggu? Seluruh jawabannya ada di ruangan ini."
Jadi tanpa pikir panjang, Chris segera menghilang bersamaan dengan Beomgyu yang sudah melangkah masuk dan menutup pintu ruangan.
~.~Yeonjun menyesap ice americano yang dipesannya lalu menatap sepasang remaja yang duduk di depannya. Cukup lama dia memandangi kedua orang temannya itu sampai Changbin menyikut pelan dan berbisik.
"Kenapa?"
Yeonjun hanya melirik lalu mengedikkan bahunya. Fokusnya hanya tertuju pada sepasang remaja yang sama. Sepasang remaja yang sibuk mendiskusikan sesuatu tentang tugas kelompok mereka kali ini.
"Kau lihat mereka?" balasnya pada Changbin tanpa memutuskan pandangannya. "Bagaimana jika mereka berpacaran?"
Changbin juga masih menatap sepasang sahabat mereka yang, hmm, terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang mengerjakan tugas. Sesekali mereka tertawa, sesekali juga Hyungi memukul pelan bahu Minho, atau sesekali, entahlah.
"Aku setuju saja. Tapi hati Jungkook akan remuk."
Yeonjun langsung menatap Changbin. Mata mereka saling bertemu dan seolah sedang melakukan sesi tanya jawab disana. Entah seberapa banyak pertanyaan dan jawaban yang dilontarkan keduanya sampai akhirnya Yeonjun tersentak dan menutup mulutnya.
"Kau serius?" tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
Changbin hanya bisa memejamkan matanya lalu melirik sepasang sahabat mereka yang kini sedang memperhatikan Yeonjun. Dia tidak terlalu menduga jika Yeonjun akan seterkejut itu akan fakta tidak verbal yang dikeluarkannya.
"Kalian kenapa? Yeonjun?" tanya Hyungi dengan seraya menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Bukan apa-apa. Kau tahu, sahabatmu ini tipikal drama king." Changbin mengedikkan bahunya lalu kembali fokus pada buku yang sempat dibacanya tadi.
"Oh iya, Jungkook belum kembali?" sahut Minho seraya membalikkan badannya, mengamati seisi café yang tampak ramai.
Yeonjun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban lalu meletakkan gelas ice americano yang sedari dipegangnya. Dia menarik buku yang dibaca Hyungi lalu memberikan tatapan yang sulit dideksripsikan.
"Apa?" tanya Hyungi yang tampak tidak mengerti.
Yeonjun hanya menghela nafas lalu menggeleng. "Lupakan saja." Kemudian melambaikan tangan kirinya ke arah toilet dimana Jungkook baru saja keluar. "Kenapa lama sekali?"
Jungkook menarik kursinya lalu duduk di antara Minho dan Changbin seraya menjawab, "harus mengantri. Sudah sampai mana?"
"Sampai Yeonjun tersentak dan berteriak 'kau serius' lalu mempertanyakan kau yang belum kembali." Hyungi yang menjawab lalu kembali menatap layar notebook yang digunakannya sedari tadi.
"Kau berteriak kenapa?" tanya Jungkook yang kini menatap Yeonjun.
Sedangkan yang ditatap hanya mendengus dan ingin menjawab 'ini karenamu' tapi tertahan saat Changbin memukul kepalanya dengan buku.
"Cepat ringkas ini! Masih banyak tugas yang harus kita selesaikan."
