Chris terdiam. Pandangannya menatap lurus ke arah satu-satunya ranjang yang ada di ruangan ini. Ada beberapa alat dengan suara bising yang cukp mengganggu pendengarannya.
Dia masih terdiam apalagi saat Beomgyu melewatinya dan berhenti tepat di samping kanan ranjang itu. Si pemilik surai silver merogoh saku sweater kelabunya lalu mengeluarkan sebuah kalung perak dan mengulurkannya ke arah Chris.
"Pernah lihat benda ini?"
Fokus Chris teralih pada kalung yang ditunjukkan Beomgyu. Ada gemuruh aneh di tubuhnya dan membuat tangannya bergerak tanpa sadar untuk memegang dada kirinya. Percaya atau tidak tapi Beomgyu sedang tersenyum di depan sana dan membuat Chris sedikit takut.
Chris berusaha meremas kerah bajunya karena perasaan aneh yang melanda. Sampai tangan kanannya tak sengaja menyentuh sesuatu dibalik kaosnya. Sebuah kalung perak dengan bandul berbentuk balok keci. Ada namanya disana. Dasar yang membuat Hyungi dan Felix memanggilnya dengan nama Chris.
"Apa ini? Kenapa kau bisa melihatku?
Beomgyu hanya terdiam lalu memasukkan kembali kalung perak tadi ke dalam sakunya. Pandangannya beralih pada objek yang ada di ranjang.
"Kalung itu, kenapa sama dengan milikku? Kenapa kau memiliki kalung itu?"
Chris berjalan mendekat, tertatih. Dia yakin kalung yang dipegang Beomgyu sebelumnya sama dengan kalung yang melingkar di lehernya. Bedanya, kalung di tangan Beomgyu memiliki dua bandul.
"Sejak awal," ucap Beomgyu yang masih fokus pada tubuh Bangchan yang setia berbaring, "aku bisa melihatmu dan makhluk lainnya. Dibanding mereka, kau adalah satu yang harus aku hindari."
"Kenapa?" tanya Chris dengan iris emerald yang masih setia menatap lurus ke arah Beomgyu.
"Karena kau berbeda dengan mereka. Kau bukan hantu ataupun manusia. Kau berada di antara keduanya. Jiwamu tersesat."
Chris mengernyit bingung lalu kembali mengajukan pertanyaan. "Apa maksudmu?"
Beomgyu memberanikan diri untuk membalas tatapan Chris lalu menggerakkan sedikit kepalanya. Sebuah isyarat agar Chris menatap tubuh yang berbaring di ranjang.
"Kau tidak mati dan juga tidak hidup. Kau berada di ambang kematian."
"Itu…aku?"
Chris tidak ingin mempercayainya tapi tubuh itu sama persis dengan fisiknya. Bedanya mata itu tertutup dan enggan terbangun.
"Itu benar-benar aku?"
Beomgyu menghela nafas lalu mengangguk. "Kau hanya punya waktu tiga hari sebelum jiwa dan ragamu menghilang selamanya."
Chris menatap Beomgyu seolah bertanya maksud dari remaja itu. Tatapannya nanar dan rasa sesak tadi semakin mendominasi. Chris tidak tahu kenapa ini sangat menyakitkan daripada serangan yang biasa dialaminya.
"Karena setelah tiga hari dari sekarang, kau akan menghilang dari dunia ini. Tidak tahu berakhir di surga atau neraka, yang jelas kau tidak akan berada di bumi."
Beomgyu kembali menghela nafas lalu mengepalkan kedua tangannya yang masih tersembunyi di saku sweaternya.
"Kau hanya memiliki dua pilihan. Aku hanya akan menjelaskan dan jelas aku tidak mau membantumu karena memang aku tidak bisa." Jeda sejenak untuk mengalihkan pandangan. "Pilihan pertama, lenyap bersama waktu dan tidak akan kembali lagi. Atau, kembali ke tubuhmu dan melupakan semuanya."
Melupakan semuanya? Artinya Chris tidak dapat mengingat kembali kenangannya bersama Hyungi, begitu?
"Aku tidak tahu ada ikatan apa kau dengan Hyungi tapi aku mohon, pergilah demi kebaikan noona. Kau tahu, dia sudah cukup menderita sejak hari itu. Aku berterima kasih karena kau mau setia menemaninya tapi kau tahu apa yang lebih menyakitkan?
Kau bisa saja pergi tiba-tiba saat dia benar-benar sangat bergantung padanya. Traumanya, aku tahu dia sangat mengandalkanmu. Apa kau tahu batas waktu yang kau miliki jika aku tidak memberitahumu? Aku memberitahu ini semua demi Hyungi-noona."
Chris terdiam sejenak. Dia juga hanya memikirkan Hyungi saat ini. Bagaimana jadinya jika Chris benar-benar pergi?
~.~Sepeninggalan Chris, Beomgyu masih setia merenung di samping ranjang Bangchan sekaligus Chris yang dia ketahui. Ada sebuah pertanyaan yang terlintas di kepalanya saat ini, yaitu tentang bagaimana caranya membantu Chris kembali ke tubuhnya. Masalah yang semakin rumit. Dia tidak tahu harus berkata seperti apa dan melakukan bagaimana.
Pintu ruangan terbuka dan menampakkan satu pemuda dengan kepala berbalut perban. Wajah pucatnya sangat mudah dikenali, apalagi Beomgyu sempat melihat pemuda itu di ruangan 217.
Yoongi sendiri mengernyit bingung saat mendapati satu objek asing yang duduk di sebelah tempat tidur adiknya. Dia ingin segera menyergah objek itu dengan rentetan pertanyaan yang siap keluar kapan saja.
"Oh, Yoongi-ssi, benarkan?"
Daripada menjawab, Yoongi hanya memperkecil jaraknya dengan yang lebih muda lalu berdiri tepat di depan Beomgyu dengan ranjang Bangchan yang memisahkan jarak mereka.
"Siapa kau?" Beomgyu merogoh saku sweaternya lalu menatap Yoongi dengan sebuah senyuman tipis. "Bisa aku katakan adik sepupu Namjoon-hyung? Mungkin kau kenal."
Yoongi tak kembali menjawab dan malah memperhatikan sosok adiknya yang masih sama. Terpejam erat dan tidak bergerak. Sekedar memastikan jika remaja asing itu tidak melakukan hal aneh apapun pada adik kesayangannya.
"Yaaaa," desah Beomgyu yang merasa pertanyaannya tak kunjung dijawab, "aku hanya akan mengembalikan ini." Dia mengeluarkan kalung perak dari sakunya lalu mengulurkannya ke arah Yoongi. "Terjatuh saat aku berkunjung ke kamarmu. Aku ingin mengembalikan tapi Namjoon-hyung memintaku untuk segera menemui kakak sepupuku yang juga kecelakaan."
Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya Yoongi mengambil benda itu dan menggenggamnya erat. Pandangannya tertuju pada Beomgyu yang masih setia menatapnya.
"Kenapa kau ada disini?"
Beomgyu hanya mengedikkan bahunya lalu beranjak dari posisinya. "Karena hyung sudah kembali, artinya aku juga harus kembali. Oh ya, Younghoon-hyung pulang sebentar karena harus mengurus sesuatu."
Yoongi kembali tidak merespon dan malah menatap Beomgyu yang mulai melangkah ke arah pintu. Dia tidak terlalu peduli apalagi saat Beomgyu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang setengah terbuka.
"Hyung, aku doakan semoga Chris-hyung cepat bangun!"
~.~"Oh, Jimin-hyung?!" seru Beomgyu saat mendapati satu objek tak asing yang sedang duduk tenang di ruang tengah. Di depannya ada Changbin dan notebook miliknya. Sedangkan pemilik apartemen dan Yeonjun memilih untuk merebahkan diri mereka di lantai.
"Darimana saja?" sahut Changbin yang masih sedikit kesal karena tidak mendapati Beomgyu saat pulang dan malah menemukan Jimin sedang memasak ramyeon di dapur.
"Menyelesaikan satu masalah kecil." Beomgyu menjawab seraya mendekati Jimin yang sudah menepuk bagian kosong di sebelah kanannya. "Hyung tidak sibuk? Tumben sekali berkunjung kesini?"
"Aku dan Taehyung baru selesai menjenguk produserku yang masuk rumah sakit karena kecelakaan. Taehyung pulang dan aku mampir kesini. Mumpung ada waktu libur sampai besok. Jadi aku akan menginap."
"Oh ya? Kenapa kita tidak bertemu ya?" sahut Beomgyu.
"Kau ke rumah sakit juga?" timpal Yeonjun.
Beomgyu mengangguk lalu menjawab, "menjenguk kakak teman sekelasku. Katanya koma sejak setahun terakhir."
"Koma? Setahun?" sahut Changbin yang tidak percaya.
"Produserku juga. Adiknya sedang koma sampai saat ini belum bangun. Aku pernah menjenguknya sekali." Jimin ikut menimpali seraya mengingat beberapa bulan yang lalu dia mampir ke rumah sakit untuk menjenguk adik produsernya itu.
Beomgyu mengernyitkan keningnya lalu menatap Hyungi yang sudah terlelap di samping Yeonjun. Dia menatap Jimin dengan semua kerutan bingung yang tercipta. Hanya satu pasien yang sedang mengalami koma saat ini, apa itu artinya orang yang dimaksud Jimin sama seperti orang yang sedang dipikirkannya saat ini?
"Apa Yoongi-hyung?"
"Hmm? Kau tahu darimana?" tanya Jimin yang agak terkejut saat nama produsernya disebut. "Kau kenal dia?"
Beomgyu menggeleng ragu lalu menghela nafas. "Tidak juga. Tapi aku baru saja bertemu dengannya. Dia sudah kembali ke ruangan adiknya."
"Hah? Kau serius?"
Beomgyu mengangguk. "Kepalanya berbalut perban, 'kan?"
Jimin mengangguk lalu mengeram sebal. "Kenapa dia itu bebal sekali? Dokter bilang dia belum boleh bergerak kemanapun. Luka di kepalanya cukup lebar walaupun tidak berakibat fatal."
"Wajar saja, dia rindu pada adiknya." Apalagi waktu yang dimilikinya tidak lama lagi.
Beomgyu segera menghentikan pergerakan tangan Jimin yang hendak beranjak dari posisinya lalu menggeleng. Bibirnya tersenyum tipis seolah mengatakan jika apa yang dikhawatirkan yang lebih tua tidak akan berakhir. Dan Jimin memutuskan untuk mempercayai yang lebih muda.
"Oh ya," ucapnya pelan lalu merebahkan dirinya di pangkuan Jimin, "aku sudah memutuskan untuk tinggal bersama Hyungi-noona."
Tidak ada janjian atau sejenisnya tapi ketiga orang yang lebih tua disana langsung membulatkan mata mereka dengan tidak percaya. Yeonjun bahkan sudah beranjak dari posisinya dan merapat ke arah Changbin.
"Kau bercanda?" sahut Changbin yang masih merasa jika Beomgyu sedang berbohong. "Gyu, saranku saat ini adalah kau bersih-bersih lalu tidur."
"Ah, aku pasti banyak memikirkan Yoongi-hyung." Jimin menimpali lalu menepuk pelan bagian belakang lehernya.
Beda dengan reaksi dua lainnya, Yeonjun menyipitkan matanya, menatap lekat ke arah Beomgyu. Dia merasa keputusan Beomgyu saat ini cukup mendadak. Bukannya apa-apa, yang lebih muda sama sekali tidak ingin pergi meninggalkan rumahnya sejak kedua orang tuanya meninggal. Bahkan saat orang tua Hyungi masih hidup, Beomgyu sama sekali tidak mau pindah dari sana dan memilih mengisi rumah besar itu sendirian. Mungkin sesekali dia menginap diluar rumah atau lebih sering ketiga sahabatnya menemaninya di rumah hanya untuk memastikan yang lebih muda tidak sendirian. Tidak jarang juga orang tua Hyungi menemani Beomgyu.
Dan sekarang apa? Beomgyu sudah memutuskan untuk tinggal bersama Hyungi? Bukankah itu keputusan yang aneh dan sangat tiba-tiba? Ayolah, Yeonjun cukup ingat berapa banyak orang yang membujuk anak itu untuk tinggal bersama sejak 10 tahun yang lalu? Bahkan mendiang ibunya sudah menyerah dan memilih mengirim putranya untuk menemani adik angkat sahabatnya itu.
"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Yeonjun seolah sangat ingin memastikan keputusan yang lebih muda. "Kau masih memiliki banyak waktu."
Beomgyu mengangguk yakin lalu meringkuk karena suhu yang sedikit dingin. "Aku sudah meyakinkan diri sepanjang hari ini, hyung. Aku juga sudah membicarakan ini kepada Paman Heechul dan dia menyuruhku bertemu dengan Paman Minhyun besok."
"Ya," Yeonjun menghela nafas lalu menumpu dagunya dengan meja, "aku tidak akan memaksa. Artinya kau sudah tahu pada resiko pilihan yang kau ambil."
Beomgyu tahu dan sangat kelewat tahu. Alasannya masih mempertahankan rumah kedua orang tuanya adalah agar semua hal yang ada disana tidak akan diambil alih oleh keluarga ibunya yang sangat serakah. Mereka ingin mengambil seluruh harta kekayaan yang dimiliki orang tua Beomgyu. Bahkan dia sendiri sudah tahu jika kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan yang disengaja. Makanya Beomgyu masih mempertahankan semuanya sampai detik ini.
Soal keputusannya pindah, Beomgyu sudah memikirkanya selama beberapa hari ini. Selain karena Chris yang kemungkinan besar akan pergi, Beomgyu juga sudah cukup paham dengan segala hal yang dilakukan keluarga Hyungi dan seluruh orang yang ada di sekitarnya. Mereka berusaha melindungi Beomgyu dari keluarganya. Beomgyu ingin melepaskan semua belenggung tentang masa lalu bersama orang tuanya dan memilih untuk merelakan seluruh kemewahan rumah berpindah tangan lalu membawa serta beberapa hal yang tidak mungkin bisa diserahkan kepada orang lain. Kenangan bersama orang tuanya.
~.~Chris terdiam sejak tubuhnya tiba di apartemen Hyungi. Pikirannya melayang jauh pada kejadian kemarin. Tentang pertemuannya dengan Beomgyu dan fakta jika tubuhnya masih ada di bumi ini. Sejak kemarin juga dia memutuskan untuk tidak pulang dan berkelana ke segala tempat hanya untuk menenangkan pikirannya.
Namun ada satu titik dia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Rasa penasarannya kembali memuncak. Awalnya langkah yang dihasilkannya terhenti di depan pintu ruangan dimana tubuhnya berada. Sebenarnya bisa saja dia menghilang dan muncul tiba-tiba di dalam sana, tapi entah kenapa tubuhnya agak lelah dan memilih cara ini.
Chris membuka pintu seperti pada umumnya, tidak terlalu peduli jika banyak orang yang akan menyaksikan hal tersebut. Pintu kembali tertutup. Hal yang paling mengejutkan adalah bukan tentang orang-orang di dalam yang sedang menyaksikan pintu yang terbuka sendiri, melainkan ada sebagian besar wajah yang sangat tidak asing disana. Nyaris semuanya. Dia yakin pernah mengenal seluruh orang yang ada disana.
Kenapa mereka ada disini?
Totalnya ada lima orang pemuda di dalam sana. Kim Seokjin, teman akrab Namjoon – sepupu Hyungi yang cukup sering berkunjung ke apartemen Hyungi. Kemudian Kim Seungmin, teman sekolah Hyunjin, Felix, Beomgyu dan Jisung. Kim Younghoon, entah nama itu terlintas begitu saja di kepalanya saat tidak sengaja berpapasan kemarin. Min Yoongi, pemilik kulit pucat yang sempat diselamatkannya beberapa hari yang lalu. Terakhir, Lee Minho, teman sekelas Hyungi yang baru-baru ini dikenalnya.
Sebentar, apa hubungan mereka denganku? Siapa mereka?
Tunggu, kenapa dadanya semakin sesak saat mendapati lima wajah disana? Rasanya ada luapan besar dari dalam tubuhnya yang menyakitkan. Sesuatu yang menyakitkan tapi sedikit terselip rasa hangat. Dia menangis tapi entah dalam artian apa.
"…CHRIS?!"
Tubuhnya tersetak hebat saat suara itu menggema di seluruh penjuru ruang tengah. Dengan cepat, Chris membalikkan tubuhnya dan menoleh ke sumber suara.
Ada Hyungi yang sudah kembali dari sekolah. Gadis itu sedang menatap bingung ke arahnya.
"Kemana saja kemarin?"
Chris berusaha tersenyum lalu mengusap tengkuknya. "Berkeliling. Aku pergi ke beberapa tempat. Sendiri saja?"
"Tadi dengan Minho tapi dia pergi karena ada urusan." Hyungi melepaskan ranselnya lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Oh ya? Bagaimana hubunganmu dengan Minho?"
Hyungi mengernyitkan keningnya lalu menatap bingung ke arah Chris yang berdiri di ujung kepalanya dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke arah wajahnya.
"Apa?"
"Loh, kau suka pada Minho, 'kan?" ulang Chris lagi dengan suara yang cukup nyaring.
Sontak saja Hyungi segera beranjak dari posisinya dan hendak memukul Chris dengan bantal, namun terurung karena sadar wujud Chris yang akan membuat usahanya sia-sia.
"A-apa maksudmu?"
Chris terkekeh lalu menegakkan tubuhnya dan tersenyum. "Pipimu memerah. Kau tahu, aku bisa tahu dengan sekali lihat jika kau sedang suka pada Minho."
"Chris!"
"Tapi sepertinya Minho juga sedang suka seseorang. Apa dia ada dekat pada gadis lain?"
"Mana aku tahu!" sahut Hyungi dengan galak lalu beranjak dari posisinya. "Jangan bicara padaku!"
Chris hanya bisa tertawa begitu menyaksikan adegan malu-malu Hyungi. Dia juga tidak terkejut jika Hyungi menyukai Minho. Bahkan itu sudah terlihat dalam kurun waktu satu bulan ini. Bagaimana Minho yang menawarkan diri utnuk mengantar-jemput Hyungi, perhatiannya pemuda itu saat Hyungi meminta tolong beberapa hal, dan beberapa kejadian lainnya. Padahal biasanya, Hyungi akan menyeret Yeonjun atau Changbin. Kini posisi keduanya telah digantikan oleh Minho.
Hah, soal Minho, Chris kembali terdiam. Dia jadi penasaran apa hubungannya dengan pemuda itu. Kenapa ada Minho disana? Namun pikirannya terpecah. Ucapan Beomgyu sangat mempengaruhi kepalanya saat ini.
Hanya tinggal dua hari lagi.
