Piece #15 – One Way Ticket

Minho terdiam. Pandangannya fokus pada kalender meja yang ada di tangannya. Sepasang angka yang dilingkari spidol merah. Angka yang akan menjadi akhir semuanya. Angka yang akan menentukan kesempatan terakhir untuk kakak tiri keduanya. Angka yang akan terjadi pada esok hari.

Hari ini dia sengaja membolos hanya untuk menggantikan Yoongi yang sedang menyelesaikan pekerjaannya. Dia juga menggantikan Younghoon yang harus mengurus dokumen kepindahannya ke Australia demi melanjutkan pendidikan yang tertunda selama setahun ini.

Minho sedikit tidak menduga kesetiakawanan Younghoon yang sangat besar. Pemuda yang lebih tua dua tahun darinya itu rela menghentikan pendidikannya selama setahun ini hanya untuk menemani Bangchan. Harusnya Younghoon sudah duduk di bangku tahun ketiga dan sedang mempersiapkan ujian kelulusan. Tapi dia berkeinginan kuat untuk melanjutkan sekolahnya bersama Bangchan, seperti dulu. Tidak peduli jika mereka harus tertunda selama satu tahun.

Kalender tadi kembali ke tempat semula dan fokus Minho tertuju pada Bangchan yang masih tertidur dalam damai. Deru nafasnya sangat teratur seolah dia hanya tertidur seperti biasa, bukan tertidur lama.

Kedua tangannya terulur untuk menggenggam tangan kanan Bangchan yang pucat dan dingin. Tangan yang biasa menarik dirinya untuk bermain atau sekedar duduk di kolam renang di samping rumah mereka.

"Hyung, bangun ya? Aku merindukanmu. Sangat."

Airmata yang terus ditahannya kini mengalir begitu saja. Dibiarkannya begitu saja, mengalir mulus di pipinya. Bahkan tidak peduli lagi jika tangannya yang menggenggam itu ikut terkena tetesan airmata. Minho tidak peduli lagi. Dia sudah tidak tahan. Dia tidak ingin kehilangan orang-orang kesayangannya. Cukup ayah dan ibu, serta ayah tirinya saja yang pergi, jangan Bangchan juga.

"Eomma, katakan pada hyung untuk membuka matanya! Apa dia tidak lelah tidur terus? Aku rindu dia. Yoongi-hyung juga rindu dia."

Tangisan itu tertahan bersamaan dengan nafasnya. Sebuah pergerakan berhasil menggelitik kedua tangannya. Jari-jari pucat itu bergerak pelan namun tetap sangat terasa di permukaan kulit Minho.

"Hyung?!" lirihnya pelan.

Iris hazelnya membulat sempurna. Dengan gerakan cepat, Minho segera menyeka airmatanya dan beranjak berdiri.

"Hyung?! Kau mendengar aku? Hyung?"

Saat yang sama, Seokjin tiba dengan satu paper bag cokelat di tangan kanannya. Dia sedikit bersenandung kecil seraya mendekati Minho.

"Min~"

"Jin-hyung!" panggil Minho dengan cukup nyaring. "Jarinya bergerak! Chan-hyung, jarinya bergerak."

Maka tanpa mengeluarkan suara, Seokjin segera berlari ke sumber suara. Perlahan mengeluarkan stetoskop-nya lalu memeriksa denyut jantung Bangchan.

"Chan-hyung, dengar aku, 'kan?!" lirih Minho kembali terdengar. Kedua tangannya terus menggenggam erat tangan pucat yang masih bergerak pelan itu.

"Ho," panggil Seokjin yang sudah melepaskan stetoskop-nya, "kemungkinan besar dia akan sadar semakin besar. Jangan paksa dia membuka matanya dulu. Aku rasa dia perlu penyesuaian."

Minho tersenyum haru lalu terus menggenggam erat tangan itu. "Perlahan saja, hyung. Aku akan menunggumu disini."

Seokjin segera memberikan paper bag yang dibawanya ke arah Minho lalu merogoh saku snelli-nya dan mengambil ponselnya. "Makanlah! Aku akan menghubungi Yoongi lalu memeriksa keadaan Bangchan lebih lanjut. Teruslah berdoa untuk kesadarannya."

~.~

Di sisi lain, Hyungi sedang menatap aneh ke arah Chris yang sedang duduk di pagar balkon seperti biasa. Dia sedang memandangi pemilik pakaian serba hitam itu dari ruang tengah tanpa minat mengganggunya. Bahkan sudah nyaris dua jam berlalu sejak makan malam berakhir.

"Noona?!" tegur Beomgyu yang sedari ikut memperhatikannya dalam diam. "Kenapa?"

Hyungi melirik yang lebih muda yang kini sudah duduk di atas karpet sedang menatap ke arahnya yang duduk di sofa. "Bukan apa-apa. Kau bilang akan menginap ke rumah Jisung. Tidak jadi?"

Beomgyu mengangguk lalu meraih bantal sofa yang ada dan memeluknya. "Jisung sudah dengan Soobin. Mereka jadi sering berdua akhir-akhir ini. Noona sedang memikirkan sesuatu?"

Pandangan Hyungi kembali teralih pada Chris yang masih pada posisi yang sama. "Gyu," panggilnya pelan, "bagaimana jika kau mengenal seseorang cukup lama tapi setelah itu temanmu itu pergi?"

Bukannya menjawab, Beomgyu malah membalikkan badannya lalu ikut menatap ke arah Chris. Namun dia bertingkah seolah tidak memandangi objek yang sama.

"Pergi bagaimana? Maksudku pergi sementara atau selamanya?"

"Hyungi," panggil Chris dengan suara yang sedikit parau, "apa yang kau lakukan jika aku pergi? Maksudku pergi, benar-benar pergi dari kehidupanmu."

Hyungi sendiri terdiam karena dia juga tidak tahu jawaban apa yang tepat. Jadi dia memilih untuk mengubahnya menjadi pertanyaan."Kau akan pergi?"

"Jika sudah waktunya, aku akan pergi. Tapi aku masih menunggu waktu itu karena aku sendiri tidak tahu akan pergi yang seperti apa dan bagaimana." Chris mengusak surai kecokelatan Hyungi lalu tersenyum. "Kau juga tahukan jika setiap saat ada yang datang dan pergi? Itu juga berlaku padaku. Aku hanya jiwa tanpa arah, bukan makhluk abadi. Ada beberapa hari aku berpikir seperti itu sampai seseorang menyadarkanku."

"Aku tidak tahu." Hyungi menundukkan kepalanya karena dia sendiri berusaha untuk mencari jawaban yang tepat. "Aku tidak tahu harus bagaimana," ucapnya lalu mendongak untuk menatap Chris, "apa mungkin kita akan bertemu lagi?"

"Jika aku pulang ke tempat yang seharusnya maka kemungkinan kita bertemu mungkin sedikit besar." Chris menjeda ucapannya untuk mengingat beberapa hal yang ada diingatannya. "Tapi jika aku pergi untuk selamanya, maka aku ragu untuk hal itu. Aku mengatakan hal ini bukan karena aku benar-benar ingin pergi. Hanya sebagai pengantar saja jika tiba-tiba aku pergi."

Dan percakapan itu berhasil membuat Hyungi kembali terdiam dalam pikirannya. Terlalu dalam sampai dia tidak sadar jika Chris sedang bersitatap dengan Beomgyu, bertanya melalui tatapan.

Beomgyu menggeleng lalu melirik Hyungi dan menyikut lutut yang lebih tua. "Noona?"

Hyungi sedikit tersentak lalu menjawab, "ya?"

"Ayolah, kau yang bertanya padaku!" runtuk Beomgyu yang berusaha menjadi dirinya yang menyebalkan. "Kenapa diam saja?"

"Ah itu," ucap Hyungi menggantung lalu melirik Chris yang kini sudah bergabung dengan mereka, "bukan apa-apa. Aku lupa harus mengerjakan tugas."

Tanpa pikir panjang, Beomgyu segera mencekal lengan yang lebih tua lalu tersenyum. "Siapapun yang noona maksud, aku hanya akan mengatakan jika siapapun atau apapun makhluk yang ada di bumi, suatu saat akan pergi. Begitupula teman noona. Lagipula dia tidak akan pergi selamanya." Karena Chris tidak akan pergi selamanya.

"Apa maksudmu?" bisik Chris saat Hyungi sudah pergi ke kamarnya.

Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum seraya naik ke atas sofa dan memainkan ponsel Hyungi. Dia sedikit turut bahagia karena tahu jika jiwa bebas itu tidak akan benar-benar pergi. Mungkin lebih tepatnya, dia hanya akan kembali ke tempat asalnya.

~.~

Hyukai kecil merengek, di sampingnya ada Taehyung yang sedang memijat pelipisnya. Kemudian ada Taehyun yang tampak asik dengan buku mewarnainya, dengan posisi tiarap di atas lantai berkarpet. Ditambah lagi si kecil Jeongin yang terlihat menangis di lantai dengan botol susu yang sudah kosong di tangannya.

"Taehyunie, bisa tolong hyung?" tanya yang lebih tua pada adik kecilnya. Kepalanya sedikit berdenyut apalagi saat adik bungsunya itu tidak mempedulikannya sama sekali. "Taehyunie?!"

Bukannya menjawab, si kecil malah beranjak dari posisinya lalu meraih buku mewarnainya. Sejenak dia menatap yang lebih tua dengan datar lalu beralih pada Hyukai yang sudah memanjati tubuh sang kakak. Wajahnya tampak datar saat melihat bagaimana tampak lelah sang kakak menatap kakak sepupunya lalu adik angkatnya. Setelah beberapa detik, si kecil Taehyun malah melangkah pergi dengan tidak pedulinya.

Taehyung kembali meringis saat kakinya dipukul anarkis oleh adik sepupunya dengan botol susu. Namun beiringan dengan rengekan Hyukai yang kian memelan. Bahkan kepala si kecil sudah terjatuh di ceruk lehernya dan disusul deru nafas yang perlahan teratur.

Kembali pada pelaku pemukulan, Hwang Jeongin masih merengek. Si kecil menuntut isi ulang pada botol susunya yang sudah kosong. Wajahnya memerah karena terlalu lama menangis.

"Aduh, Jeonginie! Sebentar ya, Hyukai baru tertidur."

Namun karena dasarnya anak kecil, Jeongin kembali memukul Taehyung. Lokasi pemukulan sedikit berubah dan nyaris mengenai masa depan yang lebih tua.

Taehyung meringis lalu menarik kerah baju si kecil yang memberontak layaknya anak kucing. Kemudian menyeret si kecil untuk duduk di samping kirinya dan membuat Jeongin kembali menangis. Seketika dia kembali meruntuki kedua orang tuanya dan orang tua Hwang bersaudara. Bisa-bisanya keempat orang dewasa itu meninggalkan anak-anak kecil ini pada dirinya, padahal dia baru saja mendapatkan libur kemarin malam. Sedangkan keempat orang dewasa itu malah berkata ingin melakukan rapat alias honeymoon bersama selama dua hari ke depan. Apa mereka tidak takut jika Taehyung bisa saja mencelupkan ketiganya ke dalam bak mandi?

"…yung! Hyunie, Inie-yung, Yukai, mo umah Gi-unna. Mo ain ma Kis-yung." (Hyung! Taehyunie, Jeonginie-hyung, Hyukai, mau ke rumah Hyungi-noona. Mau bermain sama Chris-hyung.)

Perhatian Taehyung kembali teralih pada adik bungsunya yang sudah kembali dengan beberapa hal di kedua tangannya. Si kecil Kim itu tampak membawa, lebih tepatnya menyeret sebuah tas bayi berukuran besar -yang entah dari mana. Kemudian sebuah botol susu berisi yang terkalung di lehernya.

Si kecil meninggalkan tasnya lalu berjalan menghampiri Taehyung. Kedua tangannya meraih botol susu yang terkalung di lehernya, berusaha melepaskan tali botol yang melingkar di lehernya itu. Sampai akhirnya terlepas berkat bantuan Taehyung.

"…nya Inie-yung." (Punya Jeonginie-hyung.)

Kelebihan seorang Kim Taehyung adalah dia tidak membutuhkan translate untuk meneterjemahkan ucapan bayi-bayi di rumahnya. Dia akan selalu paham apa maksud si kecil, tidak seperti orang tuanya yang harus memperkirakan apa maksud perkataan Taehyun, terutama.

Jadi setelah berucap terima kasih, Taehyung segera menyumpal mulut Jeongin dengan botol susu yang berisi, serta membuat si kecil Hwang segera melempar botol susu kosongnya dan bungkam seraya berbaring di pangkuannya dengan tenang.

Setelah memastikan Hyukai tidur dengan nyenyak dan Jeongin yang tenang dengan botol susunya, Taehyung menatap adik bungsunya yang masih berdiri mematung di depannya. Tidak mengatakan apapun tapi si kecil hanya menatapnya dengan iris bulatnya.

"Taehyunie ingin ke rumah Hyungi-noona?"

Si kecil mengangguk kecil tanpa niat memutuskan tatapannya pada sang kakak.

"Mom mengatakan apa saja pada Taehyunie? Mom tidak mengatakan apapun pada hyung."

Taehyun tampak terdiam. Tatapannya beralih pada ujung kakinya yang tak beralas. Dia sedang berpikir, ngomong-ngomong.

"Mom yang, Hyunie leh gi ke umah Gi-unna ma Taetae-yung. Mom yang dah pon Gi-unna dan Gyu-yung. Mom ga yang Hyunie leh nap di mah Gi-unna ma Inie-yung dan Yukai." (Mom bilang, Taehyunie boleh pergi ke rumah Hyungi-noona sama Taetae-hyung. Mom bilang sudah telepon Hyungi-noona dan Beomgyu-hyung. Mom juga bilang Taehyunie boleh menginap di rumah Hyungi-noona sama Jeonginie-hyung dan Hyukai.)

Taehyung mengangguk paham seraya mengelus punggung Hyukai yang masih terlelap. "Apa itu tas yang sudah dikemas Mom untuk kalian?" tanyanya seraya melirik tas bayi yang sebelumnya diseret oleh Taehyun.

Taehyun mengangguk lalu menatap sang kakak dengan tatapan yang seolah berarti 'jadi bagaimana' dan tampaknya sang kakak sangat paham maksud tatapan itu.

"Okay." Taehyung menjawab dan mengundang senyum lebar dari adik kecilnya. Dia juga ikut tersenyum saat melihat senyuman sang adik. "Taehyunie ambil bantal Hyukai, bisakan? Hyung mandi dulu lalu kita ke rumah Hyungi-noona, okay?"

Si kecil mengangguk antusias lalu membalikkan badannya dan berlari kecil untuk melaksanakan tugas dari sang kakak.

"Jangan berlari! Nanti jatuh lagi!"

"Yung!" tegur Jeongin yang kini sudah beranjak dari posisinya. Susunya sudah kembali habis dan meninggalkan botol yang kosong. "Ke rumah Yugi-noona?"

Taehyung menghela nafas. Dia sedikit pasrah saat si kecil Hwang ini kembali mengubah nama Hyungi. "Hyungi-noona, Jeonginie, bukan Yugi-noona."

"Oh," seru si kecil seolah tersadar dengan kesalahannya, "Yugi-noona!"

Sekali lagi, Taehyung menghela nafas. Percuma saja, Jeongin tidak bisa menyebut semua kata Hyu dan sejenisnya pada setiap percakapan. Nama Hyungi berubah menjadi Yugi, lalu Hyunjin menjadi Yujin, Taehyun menjadi Teyun dan sebagainya.

"Jeongin simpan botol kosongnya di dapur lalu ganti baju. Kita akan berangkat ke rumah Hyungi-noona siang ini."

"Okay!" seru si kecil dengan antusias, berhasil mengejutkan Hyukai. Tapi karena tidak peduli, Jeongin malah turun dari sofa, memunguti kedua botolnya lalu melangkah pergi ke dapur.

~.~

Hyungi baru saja memasuki lobi sekolah saat dua buah tangan merangkulnya dari dua arah yang berbeda. Tanpa perlu menebak, dia sudah tahu jika pemilik kedua tangan itu adalah Choi Yeonjun dan Seo Changbin.

"Tidak berangkat dengan Minho?" tanya Yeonjun yang sudah menarik munduk lengannya lalu menjejalkan kedua tangannya ke saku celana hitamnya.

"Apa Minho meninggalkanmu? Wah, parah sekali! Padahal dia sendiri yang berjanji akan menjemputmu setiap hari."

Hyungi langsung menatap Changbin yang berjalan di sisi kirinya lalu bertanya, "dia berkata seperti itu?"

Bukannya menjawab, Changbin malah mempererat rangkulannya dan membuat Hyungi semakin merapat ke arahnya. "Bukan apa-apa. Ayo masuk!"

Saat yang sama, ketiga remaja itu berpapasan dengan sang ketua kelas yang juga terlihat baru datang. Keempatnya saling sapa lalu tertawa untuk beberapa hal yang sempat mereka diskusikan.

"Minho absen lagi?"

Jungkook menoleh ke arah Yeonjun lalu mengangguk. "Aku dengar kakaknya sudah menunjukkan perkembangan."

"Kakaknya?" sahut Changbin yang sudah duduk di bangkunya. "Minho punya kakak?"

"Dua saudara tiri," ucap Jungkook seraya meletakkan ranselnya ke atas meja lalu menatap Changbin, "kakak tiri keduanya sedang koma tapi kemarin hampir sadar."

"Oh, syukurlah." Yeonjun berlalu menuju kursinya lalu duduk disana. "Aku akan mengunjunginya nanti malam. Kau ikut?"

Merasa terpanggil, Changbin segera menggeleng lalu menarik Hyungi untuk segera duduk di sebelahnya. "Aku janji pada Jimin-hyung untuk menemaninya makan malam dengannya."

"Oh, Jimin sudah kembali ke Korea?" sahut Hyungi yang tampak tertarik. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir bertemu Jimin yang sekaligus adalah sepupu Changbin.

"Kemarin malam," jawab Changbin lalu menghela nafas, "bagaimana denganmu? Kau tidak ingin menjenguk calon kakak iparmu?"

Hyungi menatap heran saat tatapan ketiga temannya tertuju pada dirinya. Dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan yang ada dan berusaha mencari celah jawaban di antara ketiga remaja itu.

"Apa?" tanyanya.

"Bukan apa-apa."

"Kembali saja ke tempatmu!" suruh Jungkook yang seolah paham jika otak Hyungi sedang memproses pertanyaan Changbin sebelumnya.