Slowly Become Cold
Blue Exorcist Kazue Kato
Story here By me
Genre: Sad, angst, romance.
Rin meremas rambut kelamnya,mata memejam,merasakan sesuatu yang menyesaki dadanya.Selalu saja begitu,ia tengah merasakan rindu pada seseorang.
Rasa yang sama saat yukio,pemuda berkacamata yang biasanya dekat dengan dirinya kini berada jauh,pria itu menjalankan misinya sebagai exorcist.
Sebenarnya bila menghitung waktu,seminggu tidaklah begitu lama,tapi tidak untuk Rin yang tengah merindu,ia merasakannya seperti berbulan-bulan.bagaimana tidak,ia dan yukio jarang menghabiskan waktu bersama.
Ketika Rin bangun tidur di dapati sisi ranjang sebelah kanan sudah di tinggalkan oleh penghuninya,yaa yukio selalu pergi saat masih dini dan pulang larut malam di saat Rin terlelap.
Bibirnya melengkung saat ia menerima kabar,hari ini yukio akan pulang dari misi yang sudah di jalankannya,pemuda itu memberi tahu Rin lewat pesan singkat,ada deburan ombak halus yang menerpa dada Rin.
Taksi terhenti tepat di depan toko yang sudah mereka sepakati,buru-buru Rin menyodorkan uang pada sang supir,ia tidak ingin yukio menunggunya terlalu lama,tapi seperti Rin duga yukio belum menampakan batang hidung nya di sana.
Dengan nafas terengah Rin mengatur posisinya dan berdiri mulai menunggu,meski tidak tenang berulang kali kepalanya di tenggokkan kearah mana kira-kira orang yang di tunggunya akan muncul.
Sesekali Rin celingukan barangkali yukio berada di antara orang yang beralu lalang dan ia tidak menyadarinya.Tapi tentu saja hal itu sia-sia yukio tidak ada di antara mereka.
Ini sudah bisa untuk Rin, saat ini pasti ada semacam halangan bagi Yukio yang sibuk dalam menjalankan tugasnya dalam hati Rin kecewa tapi dia tidak bisa memaksakan diri pada Yukio.
Waktu berlalu tempat itu akan tutup akhirnya Rin berjalan keluar dari sana dan hendak menelpon Yukio namun sayangnya Yukio tidak menjawabnya.
Malam sudah terlalu larut kendaraan sulit didapatkan Rin memutuskan pulang ke asramanya dengan mengirim pesan pada adiknya, dia hampir pulang berjalan kaki kalau bukan ada bis terakhir malam itu. Sambil menatap jendela dia teringat kembali beberapa tahun lalu, Yukio selalu menepati janjinya saat dulu dan bagaimana Yukio menangis kepadanya saat kecil, tapi saat ini semakin Yukio dewasa dia semakin terlarut dalam kehidupannya.
Ketika dia sampai di asrama dia memilih langsung tidur tanpa menunggu Yukio pulang mungkin besok pagi dia juga akan melihatnya.
Esoknya Rin tidak mendapati Yukio di asrama jadi dia pasti hanya akan menemukan Yukio di kelas.
Benar saja Yukio hadir dikelas itu dan Rin hanya menatapnya datar dan Yukio tidak menyadari bahwa saat ini Rin sedang kecewa padanya..
Rin duduk sendirian di bangkunya sebelumnya Shiemi yang sebangku tapi sejak rahasianya terbongkar dia memilih duduk secara terpisah. Rin tidak peduli dengan itu dia sudah terbiasa di abaikan sejak kecil, tapi kali ini sangat berbeda.
Disaat seperti ini rasanya benar-benar tidak enak saat Rin tidak memiliki siapapun disisinya. Yukio yang dulu dia kenal selalu menyambutnya dan mengobati lukanya, kini dia hanya sibuk dengan urusannya dan terkesan terbebani dengan keberadaanya. Faktanya saat ini Rin bergantung kepadanya secara financial dan oleh karena itu karir Yukio terancam dengan statusnya.
Hari ini Yukio akhirnya bisa pulang cepat dan Rin menyiapkan makanannya untuknya.
"Yukio kau ingin makan apa." Kata Rin.
"Terserah saja." Kata Yukio.
Rin memutuskan memasak kare untuk makan mereka. Saat Rin mengaduk kare yang hampir matang Yukio secara tiba-tiba memeluknya sambil mengecupi lehernya dan saat itu Rin membalik wajahnya mencium Yukio tepat di bibir namun setelah itu Rin melihat tanda ungu di bahu Yukio yang sedikit terbuka, melihat itu Rin hanya bungkam seolah dia tidak tahu.
"Bisakah kau menunggu ini sebentar lagi ini hampir matang." Kata Rin.
Selama ini Rin tahu apa saja yang Yukio lakukan dibelakangnya, ini bukan yang pertama dan tentu dia tahu dengan siapa Yukio melakukannya.
Rin masih ingat bagaimana Yukio menembaknya dulu mengingatnya terasa lucu, pada saat itu dia pikir Yukio bercanda dan akhirnya hubungan mereka dimulai tanpa diketahui oleh Shiro. Rin melakukan itu dengan Yukio pertama kalinya di biara tanpa diketahui beruntung saat itu Shiro tidak curiga dengan Rin yang saat itu mendadak sakit.
Kini itu hanya sekedar kenangan. Dari semua orang hanya Shura yang menyadari hubungan mereka dan dia memperingatkan bahwa hubungan mereka tidak akan bisa bertahan lama apalagi dengan urusan vatikan. Hubungan sedarah sudah jelas dilarang dalam alkitab dan itu akan mempersulit keadaan Rin nantinya dan Yukio akan terseret.
Yukio mungkin akan hidup lebih baik dari nya. Yukio tampan, Jenius dan juga terkenal tidak sulit baginya untuk mendapatkan hidup yang baik sedangkan Rin dia bahkan tidak punya teman, nilainya rendah, kacau dalam bekerja dan selalu menjadi keonaran.
kadang dia merindukan masalalunya, tapi itu tidak berguna Rin harusnya sudah siap dengan banyaknya kemungkinan jika nanti hubungan mereka pecah. Rin sering mendengar hubungan incest di jepang sering terjadi tapi hanya sementara sebatas rasa penasaran masa Pubertas.
Malam ini Yukio tidur seranjang dengan Rin, kini dia atas Rin tapi jujur Rin sedang malas malam ini tapi dia tidak menolak Yukio melakukannya.
Kau anggap apa aku
Terkadang Rin dan Yukio sama-sama lelah dengan hubungan mereka terkadang suatu hubungan bisa menjadi hambar karena sudah terbiasa.
Gadis itu Shiemi Moriyama di kenal oleh Yukio sejak 14 tahun merupakan seorang gadis pemalu yang manis, cantik dan juga pintar sangat serasi dengan Yukio dibandingkan dirinya sendiri.
Pada awalnya Shiemi sangat antusias dengan keberadaan Rin sampai pada saat dia tahu siapa Rin.
waktu berlalu dengan cepat pada akhirnya orang-orang mulai menerima keberadaan Rin serta Rin akhirnya memiliki teman dan Yukio semakin lebih jarang bersamanya. sesekali Rin melihat Yukio yang sibuk atau dia sedang dikelilingi gadis-gadis dan Rin hanya mengabaikan.
Dari hari ke hari hubungan Yukio dan Shiemi semakin dekat dan Rin selalu berpura-pura tidak menyadarinya karena dia juga tidak punya alasan untuk menghentikan hubungan mereka, Rin hanya saudara kandung dia tidak punya hak menghalangi Yukio dengan siapa dia ingin hidup.
Shura yang tahu itu selalu menghiburnya, dia bilang akan lebih baik kalau Rin terbiasa jika suatu hari Yukio benar-benar akan memilih orang lain dia tidak akan terluka dan saat ini Rin harus memulai hal baru dan mencari seseorang yang lebih baik yang tidak akan menjadi masalah di masa depan. Mau bagaimanapun Yukio adalah adik sedarahnya, ketika nanti orang tahu akan menjadi aib dan berimbas pada biara tempat mereka tinggal.
Rin menatap langit malam sambil memegang cangkir teh panas matanya menerawang. Dia merasa sangat menyesal bukan karena dia menjalin hubungan dengan adiknya tapi dia menyesal kenapa dia dulu tidak berusaha mendapatkan teman dengan baik, dia menyesal karena dulu dia terlalu baik pada orang lain, dia menyesal karena dia tidak menempatkan dirinya bagaimana caranya menolong orang tanpa menyakiti dan pada akhirnya orang hanya membencinya. Tidak peduli seberapa banyak Rin menolong seseorang tidak pernah menjadi kebaikan untuk Rin sendiri, meskipun Rin terlihat berandalan hatinya benar-benar murni. Dia berpikir andai saja dia dulu dulu bisa berpikir bagaimana caranya menolong seseorang dengan benar dan mau berusaha mencari teman dia tidak akan terjatuh pada adiknya sendiri tanpa memikirkan konsekuensinya.
Dulu saat Yukio kecil dia ingat ketika Yukio demam, saat itu dia mencari bahan untuk membuat ojiya untuk Yukio di tengah salju, saat itu Rin pergi ke beberapa tempat mencari bahan untuk membuatkan Yukio makanan yang biasa ayahnya buat saat sakit, Yukio yang cemas mencari kakaknya dalam keadaan demam. Mengingat itu membuat Rin menangis tidak menyangka orang yang akan paling melukai perasaannya adalah adiknya sendiri.
Rin kadang rindu saat Yukio masih cengeng dan menangis didepannya meskipun lama-lama dia mendorongnya menjauh.
Yukio akhirnya pulang ke asrama pemandangan yang dia lihat adalah Rin duduk didekat jendela dengan teh yang hampir dingin ditangannya.
"Nii-san kau belum tidur." Kata Yukio.
"Belum aku tidak bisa tidur." Kata Rin.
Yukio memeluk Rin dan memberinya ciuman di dahi dan tercium aroma yang Rin kenal dari tubuh Yukio. Rin berpikir mungkin memang membiarkannya adalah cara yang baik untuk saling melepaskan.
Saat Rin ingin tidur Rin mencoba tidur terpisah dari Yukio jadi dia tidur di ranjangnya sendiri dan Yukio diranjangnya, saat hendak menutup mata Yukio berpindah dari ranjangnya memeluknya dari belakang tanpa membalik tubuhnya Rin meneteskan air mata tanpa suara.
Sampai kapan begini
Hubungan Rin dengan yang lain menjadi dekat dia sudah berhasil akrab dengan semua orang di cram kalau bukan karena insiden impure king dia saat ini pasti masih menyendiri dalam beberapa kesempatanan dia akrab dengan Noriko Paku berbicara dengan akrab tanpa dan Izumo terlihat mempercayainya, Ryuji sering mengajaknya cuntuk melakukan olahraga untuk sesaat rasa sakitnya bisa berkurang dan tanpa dia sadari Yukio meliriknya.
Rin mulai merasakan kalau mungkin semuanya akan berakhir saja tanpa perdebatan tapi saat dia pulang ke asrama Yukio mencecarnya.
"Nii-san! apa saja yang kau lakukan dengan mereka." Kata Yukio dia terlihat sedikit marah.
"Seperti biasa menghabis waktu bersama, belajar, berolahraga dan membicarakan banyak hal." Kata Rin.
"Nii-san sudah kubilang kau harusnya membatasi diri dalam hal semacam itu." Kata Yukio.
"Memangnya kenapa itu hanya hal biasa orang-orang juga begitu." Kata Rin.
"Bukan itu kau itu jangan terlalu terbuka pada orang kau itu kan_". Kata Yukio.
"Iya aku tahu aku ini apa, jadi menurutmu aku tidak boleh berteman." Rin berkata sambil menunduk.
"Bukan maksudku..." Kata Yukio.
"Kau lah yang bilang padaku sejak dulu kalau aku harus memiliki teman dan sekarang tidak boleh apa yang salah." Kata Rin.
"Sudah lah kalau lebih baik tidak perlu memperpanjangnya." Kata Yukio.
Siapa yang mulai duluan
Dia tidak tega saat melihat Rin hampir menangis, itu tidak pernah terjadi sebelumnya jadi dia menghentikan pembicaraannya jujur saja yang dia katakan terdapat dasar cemburu pada Rin jadi dia memilih meneruskan pekerjaannya diatas
Pada akhirnya Rin memilih memasak makan malam meskipun sebenarnya dia sangat malas karena mood hancur dengan pertanyaan Yukio. Tapi dia memilih memasak makanan kesukaan Yukio dan memanggilnya saat makanannya sudah siap.
Tidak terjadi obrolan saat makan dan Yukio memecah keheningan dengan memuji masakan Rin.
"Masakanmu selalu enak Niisan." Kata Yukio tersenyum.
Rin hanya membalas dengan tersenyum saja.
"Lain kali cobalah memasak makanan untuk dirimu sendiri." Kata Rin berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa aku harus memasak kan ada Nii-san." Kata Yukio.
Jika nanti kau sudah bersama dengannya cobalah untuk lebih pengertian padanya mungkin masakannya tidak seenak masakanku.
Entah sampai kapan Rin akan bisa menghidangkan masakannya untuk Yukio sekarang saja Yukio lebih sering makan diluar karena kerjaannya. Mungkin Yukio suatu hari akan menikah dan memiliki anak dan itu tidak akan terjadi jika dia masih bersama Yukio jauh lebih baik dia dan Yukio berpisah sebelum terlambat.
Malam harinya Rin terbangun karena Yukio tiba-tiba mengusiknya.
"Nii-san." Yukio berbisik padanya.
"Apa." Rin terlalu mengantuk saat ini.
"Tidak, aku hanya rindu kita jarang bertemu akhir ini besok aku sibuk misi lagi dalam beberapa hari." Kata Yukio.
"Iya." Kata Rin.
Hanya kata-kata itu mereka tertidur kembali.
Esok harinya Rin bangun lebih awal dari biasanya saat Yukio bangun dia terkejut mendapati Rin sudah memasak dan membersihkan asrama.
"Nii-san tumben sekali." Kata Yukio.
"Ini adalah hari libur kita selalu tinggal di gedung tua ini, kupikir tempat ini harus ku bersihkan demi kenyamanan." Kata Rin.
"Oh ya kau juga mau pergi bukan." Kata Rin.
"Aku akan bersiap-siap." Kata Yukio.
Rin menyiapkan bekal untuk Yukio dan dia berpikir kenapa dia melakukannya seolah dia tidak bisa lepas dari pemuda itu.
Saat Yukio siap sarapan juga sudah siap dan Rin menunggunya.
"Aku senang Nii-san aku akan kembali cepat." Kata Yukio.
"Iya pulang cepat ya setelah urusanmu selesai hubungi aku supaya saat kau datang aku akan memasak untuk kepulangamu." Kata Rin.
"Lain kali bagaimana kalau kita makan bersama kudengar ada restoran yang lezat." Kata Yukio.
Rin bosan dengan itu dan dia tidak mau harus menunggu sampai tutup lagi dengan dia yang tidak datang tanpa kabar.
"Perlu kau tahu masakanku lebih enak dari masakan restoran. Aku tidak mau." Kata Rin.
"Baiklah Nii-san aku akan berangkat." Kata Yukio mengecup keningnya.
Rin sangat ingin memberi sikap dingin pada Yukio tapi sangat sulit baginya karena sifatnya sendiri, sekarang dia malah memberi perilaku hangat pada Yukio.
Dalam tiga hari Rin sama sekali tidak melihat Yukio di asramanya seperti yang dikatakan Yukio dia akan pergi dalam beberapa hari dan Rin melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Kebetulan hari itu Rin diminta Shura ke toko keluarga Moriyama membeli beberapa barang dan persediaan Exorcistnya soalnya dia mabuk saat ini.
Dalam hati Rin merasa enggan kesana dia ingin pulang saja atau melanjutkan latihannya.
Saat dia masuk kedalam toko dan mendapat semua pesanan Shura, ibu Shiemi memberi tahunya Yukio juga ada disana tapi dia malas untuk menemui mereka jadi Rin pergi dengan bawaannya.
Malamnya Yukio memberinya pesan untuk menunggunya di dekat menara jam tapi dia tidak datang, sialnya tanpa dia tahu malam itu hujan deras Rin tidak membawa payung jadi dia berlari ke dalam gedung sekolah. Rin sudah tahu Yukio sering mengingkari janjinya tapi dia masih bodoh mengkuti kata-katanya.
Dalam keadaan basah kuyup dia hendak memberi pesan pada Yukio dan kekamar mandi untuk mengeringkan dirinya, saat berjalan di koridor Rin melihat dua orang yang dia kenal. Yukio dan Shiemi sedang berciuman.
Mereka terkejut saat melihat Rin. Rin yang tidak ingin melukai Shiemi hanya berpura-pura kalau dia tidak sengaja melihat mereka bukan tanpa sengaja melihat orang selingkuh karena Rin pikir tidak ada yang tahu hubungannya dengan Yukio kecuali Shura.
"Maaf aku mengganggu kalian." Kata Rin menunduk dan berlari menembus hujan.
"NII-SAN, NII-SAN, NII-SAN". Yukio berteriak tapi Rin tetap berlari tanpa melihat kebelakang.
Tidak perlu mengundangku untuk menunjukkan hal itu.
--
Yukio benar-benar kacau saat ini, dia meminta saudaranya menunggu di dekat menara jam tapi dia malah bersama Shiemi. Itu diluar rencananya dia tidak berniat untuk bersama Shiemi hari ini dia ingi memberi kejutan pada kakaknya sayangnya Mephisto memintanya dan Shiemi mengerjakan beberapa hal jadi dia bersama Shiemi sepanjang hari. Memang benar dia menjalin hubungan cukup jauh dengan Shiemi tapi siapa sangka kalau Shiemi menciumnya dikoridor dan Rin melihatnya.
Yukio mengejar Rin hingga ke asrama dan saat dia melihat Rin sudah berpakaian tidur seolah tidak terjadi apa-apa tapi matanya terlihat merah dan bengkak.
"Nii-san uh." Yukio bingung harus memulai.
"Ada apa, pergi mandi sana kau basah itu." Kata Rin dia seolah tidak peduli dengan kejadian tadi.
Saat Yukio masuk ke kamarnya semua barang Rin tidak ada dan dia melihat kamar diseberang menyala.
Rin hampir akan tidur dikamar barunya, Yukio masuk dan ingin menjelaskan.
"Nii-san bisakah kau dengarkan aku, aku...". Kata Yukio terbata.
"Apa yang harus kudengar." Kata Rin.
"Soal tadi." Kata Yukio.
"Tidak apa-apa aku tidak ingin memikirkannya." Kata Rin.
"Bisakah Nii-san kembali ke kamar kita." Kata Yukio.
"Tidak, aku bosan dari kecil kita sudah sekamar aku pikir aku ingin punya kamarku sendiri." Kata Rin.
Yukio merasa khawatir dan cemas dengan sikap kakaknya saat ini, mungkin kah dia akan bosan denganya dan mungkin sudah memiliki yang lain penggantinya hingga saat dia melihat dia berciuman dengan orang lain dia tidak mempermasalahkan apapun.
"Nii-san, kenapa kau begitu pasif apa kau ada orang lain dibelakang ku." Kata Yukio dengan nada penuh penekanan.
Rin terhenyak dia merasakan kemarahan dan kesakitan yang menumpuk di dadanya.
"APA! AKU, coba kau pikirkan sendiri siapa yang dibelakang melakukan itu." Kata Rin.
Plak
Sebuah tamparan mengenai wajah Rin, Rin tidak menyangka jika Yukio akan menamparnya, sebelumnya Yukio juga pernah memukulnya saat dia baru berhasil mengatasi Impure King karena membahayakan dirinya sendiri atau melakukan tindakan sembrono Rin anggap itu hal wajar selebihnya dia tidak pernah melukainya. Tapi kali ini dia menamparnya karena perbuatan yang dia lakukan sendiri seharusnya Rin yang menamparnya bukan dia.
"Nii-san aku." Yukio merasa menyesal.
Rin berlari dari sana tanpa memerdulikan Yukio hujan masih deras malam ini angin begitu dingin tapi tidak sesakit hatinya saat ini.
Dia menyesal dulu saat ayahnya masih hidup saat dia berkhotbah dan menafsirkan alkitab dia tidak mendengarnya dengan baik jika saja dia mau mendengar dengan baik dia akan faham dulu resiko apa dari hubungan incest. Rin harusnya menolak Yukio dulu dan hal ini tidak akan terjadi.
orang awam pun mengerti kalau hubungan sedarah adalah tabu dan dia yang dibesarkan di biara malah melakukan itu yang menodai biaranya dan menodai pengabdian ayah angkatnya sebagai pelayan Tuhan.
Berjalan tanpa tujuan Rin hingga dia tiba di sebuah gereja entah apa yang membuat kakinya melangkah kesana.
Apa aku harus membuat pengampunan.
Rin memasuki Gereja kosong itu hanya beberapa lampu redup menerangi altar dia melangkah ke bilik pengakuan dan mengakui dosa-dosanya
Bilik pengakuan lihat season 1 Rin disuruh ngakuin dosanya sama Shiro tempat itu namanya bilik pengakuan
Jujur dia ingin mengakui dosa-dosanya tapi dia tidak tahu apa yang akan di katakan. Akhirnya Rin berdoa didepan altar.
beberapa jam Rin terdiam digereja hujan masih deras diluar dia bahkan membiarkan dirinya kedinginan dengan pakaian basah tanpa ada niatan mengeringkan dirinya dengan apinya.
Seseorang berdiri didekat Rin entah sejak kapan. Rin mulanya berpikir mungkinkah dia seorang pastur tapi penampilannya juga tidak seperti pastur.
"Maaf tuan, anda ingin berdoa juga." Kata Rin.
Rin tidak tahu apa yang harus ditanyakan, dia ragu dengan orang ini, jika orang ini adalah adalah salah satu anggota gereja ini maka dia menanyakan hal yang bodoh.
orang itu hanya tersenyum tipis pada Rin, penampilannya terlihat sekitar 30 an, rambutnya pirang dengan gaya rambut yang sedikit lucu, wajahnya sangat tampan, dari penampilannya dia seperti bangsawan.
"Aku tidak ingin berdoa." Katanya.
keheningan terjadi disana selama beberapa jam tiba-tiba orang ini terbatuk darah Rin sangat kaget saat orang ini ambruk.
"Anda tidak apa-apa." Kata Rin.
Orang itu pingsan.
Lucifer bukan tipe orang yang akan berjalan bebas dia harus menyembunyikan diri serta organisasinya tapi hari ini tanpa penjagaan dia turun dari kapal nya sendirian melihat banyak manusia yang dibencinya. Lucifer membenci manusia bukan tanpa alasan baginya manusia itu licik, manusia itu pembohong terutama soal cinta dan dia melihat sendiri bagaimana manusia dapat memanipulasi iblis paling kuat dengan menggunakan cinta sungguh itu menjijikan.
Pada hari ini dia melihat Rin anak satan yang lahir dari manusia bernama Yuri Egin yang namanya tidak akan pernah dia lupakan selamanya, wanita yang dengan berani melakukan tipu muslihat pada 'Ayah'. Dia melihat sendiri bagaimana sehari-hari Rin Okumura dalam beberapa hari dan ini adalah kali pertama dia melihatnya begitu dekat dia tidak menyangka akan bertemu anak ini tanpa rencana. Awalnya dia tertarik pada adiknya Yukio Okumura dan akan membiarkan Rin dengan informasi dari Shima sebagai mata-mata tapi melihat Rin dari dekat dia mulai merasakan bahwa yang membuatnya tertarik dari Yukio berasal dari Rin.
Lucifer diberitahu Todo ada yang istimewa dengan mata Yukio dia bilang itu mungkin bukan miliknya jadi dia ingin tahu hingga dia fokus pada Okumura Yukio dan melupakan kalau saudaranya lah yang paling sempurna untuk ayahnya.
Waktu berjalan hingga shubuh Lucifer pingsan hingga satu jam dan Rin menatapnya khawatir. Jujur Rin merasa aneh didekat Lucifer dia juga menduga Lucifer bukan manusia jadi dia tidak mencari bantuan.
"Anda baik-baik saja." Kata Rin.
Lucifer menatap mata Rin Okumura, dia mengenali mata itu mirip seperti wanita itu, dan mata di itulah Lucifer merasakan kekuatan besar setara ayahnya, kenapa mata ini harus terlihat seperti wanita itu. Tapi dari hal ini Lucifer menyadari mata yang ada pada Yukio berasal dari mata biru Rin Okumura.
"Aku baik-baik saja." Apa aku merepotkan mu.
"Tidak." Kata Rin polos.
Melihat Rin dia teringat Satan yang merasuki tubuh kloningan bernama Goro secara fisik dia sangat mirip hanya matanya yang terlihat mirip wanita itu.
"Maaf tuan apa sakit?." Kata Rin.
Rin yakin dia bukan manusia tapi dia ragu mengatakannya karena dia tidak pernah mendengar kalau iblis bisa sakit.
"Aku punya masalah kesehatan." Kata Lucifer.
Lucifer bisa melihat kalau Rin Okumura memiliki sifat yang mirip dengan wanita itu dan dia hampir ingin tertawa.
"Maaf anda kenapa malam-malam seperti ini ada disini." Tanya Rin.
orang itu tidak menjawab dan balik bertanya.
"Kau sendiri kenapa di malam hujan seperti ini ada disini." Tanya Lucifer.
"Aku ingin berdoa." Kata Rin singkat.
Lucifer tahu Rin berbohong jadi dia tertawa kecil.
"Kalau kau hanya mau berdoa kenapa harus sampai berlari dengan basah kuyup karena hujan." Kata Lucifer
Rin menjadi malu karena ketahuan kalau dia sedang kabur.
"Baiklah sebentar lagi pagi kau harus bergegas sebelum orang tua mu tahu kau tidak ada di rumah." Kata Lucifer pura-pura tidak kenal Rin.
Rin tersenyum mengangguk dan pergi dari sana dan lupa menanyakan siapa nama orang itu. Dia kembali ke asrama dan dia tidak melihat Yukio dimananpun. Ponsel yang dia tinggalkan penuh dengan pesan, Yukio ternyata mencarinya.
Akhirnya mereka bertemu dan Yukio meminta maaf pada Rin akan tetapi Rin tidak memberinya toleransi dalam hubungan mereka, dia memaafkannya tapi dia meminta putus.
"Nii-san bisakah kau pikirkan lagi." Kata Yukio.
"Tidak, harusnya hubungan ini tidak ada." Kata Rin.
"Kumohon Nii-san kau marah karena aku semalam dan soal Shiemi aku..." Kata Yukio.
Rin yang baik hati tidak ingin Shiemi menjadi korban.
"Tidak ada yang salah denganmu dan Shiemi, yang salah adalah kau dan aku. Jadi kupikir tidak ada pengkhiatan memang kita harus berakhir." Kata Rin.
"Nii-san baiklah untuk saat ini aku akan mengalah, aku tidak ingin kita berpisah, hanya sementara saja Nii-san."
Rin memang tidak punya alasan untuk memprotes dia dengan Shiemi karena dia hanya seorang kakak kembar mendengar perkataan Yukio membuat Rin geram.
"Tapi hubungan kita tidak sama dengan pasangan pada umumnya yang kadang bisa selesai setelah mendinginkan kepala satu sama lain kita adalah saudara itu tidak boleh terjadi."
Yukio akhirnya bungkam dia tidak ingin menyanggah kakaknya saat ini, dia takut akan semakin runyam, berdebat bisa menyebabkan hubungan mereka semakin retak. Yukio harap Rin akan kembali menerimanya nanti jadi dia akan membiarkan Rin tenang dulu.
Baik Yukio atau Rin mereka menjadi dingin satu sama lain cinta mereka tidak sehangat dulu lagi. Saling mengharapkan tapi tidak ada yang terjadi. Mereka tidur dikamar terpisah dan bicara seadanya.
Rin beberapa kali bertemu orang itu tanpa sengaja dan sempat mendapat satu surat tanpa alamat pengirim di kotak pos tanpa orang tahu, Rin tidak pernah membalas suratnya karena tidak tercantum alamat. Surat dan serta tulisan tangannya begitu indah hingga Rin menyimpannya dengan hati-hati, orang itu hanya mengirim satu surat saja dan dari situ tidak pernah bertemu lagi atau mendapat surat lainnya. Rin rindu orang ini jadi dia suka membuka surat satu-satunya itu saat dia rindu.
--
Di Markas Illuminati
"Batalkan soal penangkapan Izumo Kamiki." Kata Lucifer.
"Kenapa Komandan." Kata Homare.
"Kita tidak butuh itu." Kata Lucifer.
"Anda punya rencana lain." Kata Homare.
"Aku hampir melakukan kesalahan besar." Kata Lucifer.
Lucifer tadinya ingin bertemu dengan Yukio mungkin dia akan tertipu soal mata Yukio yang dilaporkan Todo, jika saja tidak menemui Rin Okumura dulu dia tidak akan menyadarinya.
Sekarang tinggal menunggu permainan berjalan Lucifer sudah menyimpan kartu Truf nya tinggal dia melihat bagaimana Samael melakukan permainannya tidak masalah sebaik apa Samael membuat taktik untuk menghentikan rencananya yang penting dia sudah mengetahuinya.
Author Note
ini inspirasi dari temanku, dia memberiku beberapa potongan naskah dan sisanya aku yang mengerjakan. Terima kasih teman karena idemu aku dapat inspirasi.
Disini aku menekankan angst bukan romance. Terima Kasih Buat Kalian yang menunggu fanfic saya yang kini menumpuk hutang up date.
See You Later
