Judul : Reuni

Pairing : Draco Malfoy/Hermione Granger

Disclaimer : Harry Potter JK Rowling

Summary :

Ini baru, dan sangat mengejutkan. Draco Malfoy mendapat surat dari Hogwarts, sekolah yang bertahun-tahun lalu telah di tinggalkan beserta ribuan kenangan di dalamnya. Apa kiranya yang tengah terjadi di sana? Dan ada hubungan apa hal itu dengan dirinya?

1. Kamera

Hari-hari penuh bunga memenuhi pernapasan. Semuanya terlihat mekar, semuanya menyebarkan aroma harum dan menenangkan.

Jika ada yang menyukai alam semesta ini, maka aku berada di barisan teratas dari semuanya. Jika ada yang mengagumi alam semesta ini, maka aku akan ada berdiri di barisan paling depan. Aku, makhluk yang selalu gagal bersosialisasi dengan manusia namun selalu berhasil mengapresiasi makluk sekitar.

Namaku Draco. Malfoy termuda yang kini hidup sendirian di manor hanya bertemankan beberapa peri rumah. Hobiku melayang, terbang di antara langit dan juga daratan. Musim semi adalah musim paling favorit dan juga paling di tunggu-tunggu. Karena di musim satu itu semua yang bernapas akan mulai bertumbuh, karena di musim satu itu semua yang layu mendapat pasokan energinya untuk bernapas lagi.

Aku tidak berteman, tidak ada yang bisa bertahan sekejap saja di sampingku. Bukan karena aku menggigit atau mengancam, tapi mulutku tak pernah bisa merancang kata-kata manis, hanya seringai dan sarkastik yang selalu keluar dari sana. Beberapa nama mungkin bertahan, atau kelihatan seperti itu. Nott, Goyle, Blaise, Pansy. Tapi kenyataannya seorang Malfoy hanya terlahir untuk menjadi manipulatif, di puja, dan bukan untuk berkawan banyak.

Seseorang mungkin akan berkata Draco Malfoy adalah anak yang beruntung, karena dia tampan, di kelilingi para gadis dan pengikut. Tapi itu dulu, ketika Hogwarts masih berdiri kokoh dan santa Potter masih menjadi si laki-laki bermahkotakan emas. Kini siapapun tak akan pernah menyangka, jika Draco Malfoy yang mereka kenal sangat kental darah ular Slytherinnya kini telah membumi dan menjadi manusia biasa. Masih mendiami Malfoy manor tapi berusaha sesedikit mungkin untuk terlibat dalam dunia sihir. Menyukai kesendirian bukan karena pengasingan, tapi karena aku sendiri yang memilih untuk sendiri. Ya, terkadang lepas dari segala hiruk pikuk dunia justru adalah obat terbaik untuk mengobati luka yang mustahil untuk sembuh. Perang merubah segalanya. Perang mengambil Mother dan Father dari dunia ini, dari duniaku. Meski hubunganku dengan Father tidak begitu dekat tapi kehilangannya tetaplah menjadi sebuah pukulan berat bagiku. Terkutuklah Pangeran Kegelapan yang membawa serta kedua orangtuaku ke dalam neraka, meski melewati jalan yang berbeda tentu saja. Pangeran Kegelapan tumbang oleh si tangan emas Santa Potter sedangkan yang membusukkan jiwa hingga perlahan merampas juga raga orangtuaku adalah jeruji azkaban.

Sepuluh tahun berlalu sejak perang Hogwarts. Tak ada yang kembali untuk melanjutkan sekolah ketika perang berakhir. Selain karena Hogwarts perlu waktu untuk kembali membangun diri setelah lebih dari separo bangunannya di luluh lantahkan oleh perang, juga karena alasan traumatik yang menyelimuti jiwa-jiwa patriotik yang tak gentar ikut meramaikan medan peperangan. Aku benar-benar terputus dari dunia sihir semenjak itu. Menghentikan langganan Daily Prophet bukan satu-satunya jalan. Karena kemudian aku mengemas pula segala hal berbau sihir yang menempel pada hidupku. Mulai dari menyimpan tongkat sihir, hingga mencoba hidup sebagai muggle seutuhnya, meski tentu saja tidak mudah, tapi kemudian aku bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Terlebih dunia muggle menghadirkan beraneka "kejutan baru" yang benar-benar bisa mengesampingkan ingatan-ingatan buruk tentang perang dan kehilangan yang sering datang tiba-tiba tanpa di undang. Keseharianku di sibukkan dengan lensa kamera beserta teman-temannya. Adalah Zabini muda yang mengenalkanku pada alat pelepas rana. Kameraku yang pertama kenang-kenangan darinya ketika Father dan Mother di jatuhi vonis dan azkaban menanti mereka.

"Kau perlu melihat dunia lebih luas, Draco." begitu hiburnya dulu.

Semenjak hari itu lensa menjadi teman baikku, alat muggle pertama yang menyita seluruh perhatianku. Memang berbeda dengan kamera sihir yang menghasilkan gambar bergerak, kamera muggle hanya menghasilkan selembar kertas bergambar diam mengilap. Tapi justru di sanalah letak ajaibnya. Melalui selembar kertas kita di tuntut untuk mengenali, menceritakan, memperlihatkan dan juga menyuarakan. Benar-benar sesuatu yang menantang dan aku tergoda seketika olehnya. Alam liar adalah buruan favoritku. Tidak ada unsur uang di dalamnya, peninggalan emas keluarga Malfoy lebih dari sekedar cukup untuk menyokong hidupku hingga tua. Ada sesuatu yang menarikku lebih dari sekedar faktor uang. Yakni kenyataan bahwa aku menyukai alam semesta beserta isinya yang terkadang butuh lebih dari hanya sekedar mengaguminya. Aku mengabadikannya dalam ujud perpaduan kertas dan kaca.

Bepergian menjadi kehidupanku. Aku bahkan bisa menghitung berapa lama berdiam diri di manor dan berapa yang di butuhkan untuk menjelajahi setiap inchi sudut dunia. Kemanapun asalkan bisa lari dan menghindar dari dunia sihir.

Aku pernah ke Eropa, sengaja ingin bertatap muka dengan raja binatang di sana, pernah juga berkeliling Nepal karena sungguh punggung pegunungan yang berbaris rapat seperti gigi gergaji tak hanya menyegarkan tapi sekaligus juga menakjubkan mata. Sihir alami yang di ciptakan oleh semesta. Dan bertahun-tahun hidupku kurelakan di telan oleh mantranya.

"Master.." lamunanku di kejutkan oleh panggilan dari salah satu peri rumah, kuletakkan perlahan deretan kertas bergambarkan aneka pohon Sakura yang tengah tersenyum bahagia dalam rengkuhan musim indahnya.

"hmm.."

"Kemarin burung hantu datang, mengantarkan surat dari Hogwarts.." peri rumah itu meletakkan segulung surat berstempelkan huruf H merah di tengahnya.

Ini baru, dan sangat mengejutkan. Draco Malfoy mendapat surat dari Hogwarts, sekolah yang bertahun-tahun lalu telah di tinggalkan beserta ribuan kenangan di dalamnya. Apa kiranya yang tengah terjadi di sana? Dan ada hubungan apa hal itu dengan dirinya?

Dengan antusias sesedikit mungkin kulepas ikatan yang memeluk erat gulungan putih itu.

Kepada Mr. Draco Malfoy

Di Malfoy Manor

Sehubungan dengan akan di adakannya acara reuni bagi angkatan Hogwarts pasca perang, yang karena berbagai hal harus terputus dan keluar dari Hogwarts tanpa adanya salam perpisahan, maka dari itu besok tanggal 5 juli kami mengharapkan kesudian anda untuk datang dan menghadiri acaranya.

Sekian.

Salam hormat kami,

Kepala Sekolah

Harry Potter

Lelucon apalagi sekarang. Bukankah kita semua sudah terlalu tua untuk sekedar berbagi salam perpisahan layaknya anak tk kehabisan masa bebasnya? Dan sejak kapan santo pitak itu menjadi kepala sekolah? Tidak tahukah ia sudah berapa banyak kejadian dan usaha yang kuperlukan untuk lari dari masa itu? Aku tidak membenci dunia sihir. Tapi perang bukan hanya membuat badan memar tapi juga membuat banyak jiwa terguncang, salah satunya milikku. Di ujung masa dunia itu aku juga kehilangan mereka yang kusayangi, dan meskipun enggan di akui tapi aku tak memiliki teman yang benar-benar layak untuk di hadiahi salam perpisahan. Theodore Nott? yang benar saja, orangtuanya bahkan di vonis sebelum Father dan Mother. Zabini Blaise? Aku masih berkirim surat dengannya beberapa kali, bukan untuk saling menanyakan kabar tentu saja, tapi untuk beberapa hal yang penting yang harus di urus menyangkut kerja sama perusahaa n yang dulu di kelola Father dan Zabini senior. Jangan tanyakan Pansy, atau si Goyle. Mereka benar-benar bukan temanku hanya alat yang melekat dan enggan kulepas selama masa sekolah. Jadi untuk apa reuni ini? Kepada siapa aku harus mengucapkan hallo kembali setelah sekian lama?

Tbc