Disguise on still water
Chapter 1. Peace and War (Naruto's Arm)
Konoha, dua tahun setelah Perang Dunia Shinobi Keempat.
Hari penuh kedamaian yang dinanti-nantikan itu telah tiba. Perang sudah usai, penderitaan dan luka di hati sudah hampir sembuh. Shinobi dan warga sipil terus bahu-membahu untuk membangun desa, sehingga generasi selanjutnya dapat tumbuh tanpa perlu merasa cemas. Terutama ketika Aliansi Shinobi memutuskan untuk melanjutkan kerjasama, rasanya tidak akan ada yang mengusik kedamaian ini.
Setidaknya itulah yang ada di benaknya saat ini.
Ia tersenyum, memandang ke luar jendela ruang praktiknya. Di bawah sana, di halaman rumah sakit, anak-anak yang sedang bermain dengan riang. Melihat itu, perasaannya menghangat.
Namun ternyata, perasaan itu tidak bertahan lama siang ini.
"Sakura-chan! Sakura-chan! SAKURA-CHAN!"
Sakura menghela napas. Itu pasti Naruto, ia mendesah dalam hati. Sepertinya Naruto baru tiba di desa, usai menyelesaikan misi yang diberikan Kakashi kemarin. Dari jendelanya, ia dapat melihat sosok shinobi berambut pirang itu sedang melompati atap, menuju rumah sakit.
Naruto tetaplah Naruto. Sahabat baiknya itu tidak akan pernah berubah. Ia tetap berisik dan tidak bisa diam, tidak peduli dengan titel pahlawan yang ia sandang ataupun sejumlah fangirlsyang memujanya.
Ia juga masih ceroboh dan gegabah, meski telah berkali-kali lipat lebih kuat dari hari pertamanya menjadi shinobi. Dan, saat itu pula Sakura menyadari sesuatu.
Tidak biasanya Naruto langsung menuju rumah sakit setelah menyelesaikan misi. Jangankan untuk check-up rutin, mengunjungi Sakura saja jarang. Ia sangat anti dengan rumah sakit, kecuali ada keperluan yang mendesak.
Ada sesuatu yang terjadi. Sakura berusaha mengenyahkan pikiran buruk tersebut. Ia segera berdiri dan berseru pada Naruto yang semakin mendekati jendela ruangannya.
"Naruto! Sudah kubilang jangan berte—Astaga! Apa yang terjadi dengan lenganmu?"
Sakura terkejut, menatap Naruto yang telah berdiri di atap rumah sakit –di depan jendela—dengan lengan palsunya yang separuh hancur. Perban yang biasa menutupinya terkoyak, meski lengan palsu itu tidak mengeluarkan darah seperti lengan manusia yang asli.
Lelaki berambut pirang itu mencoba tersenyum, mencoba menutupi kegugupannya.
"Hai Sakura—"
"Cepat masuk!"
Tanpa menunggu respon Naruto, Sakura bergegas menyuruh ia masuk dan berbaring di tempat tidur. Secara otomatis, kunoichi itu telah menjalankan mode profesionalnya sebagai dokter.
Begitu Naruto berbaring, Sakura mengambil gunting dan beberapa perlengkapan lain. Dengan cekatan, ia memotong perban di lengan palsu Naruto dan memeriksa kerusakannya. Pada saat itu, keheningan menyelimuti mereka.
"Hehehe. Jadi Sakura-chan—" Naruto mencoba mencairkan aura ketegangan di antara mereka, tetapi Sakura segera memotong kalimatnya.
"Diam. Kau menganggu konsentrasiku," jawab Sakura ketus.
Kini ia mengalirkan chakra hijau, memeriksa adanya kerusakan pada lengan kanan asli Naruto. Beberapa menit kemudian, Naruto mengajak bicara Sakura lagi.
"Maaf merepotkanmu, Sakura-chan. Hehehe. Habisnya, aku tidak tahu akan meminta tolong pada siapa. Kau tahu aku tidak suka ke rumah sakit, walau perawat atau dokter lainnya akan ramah padaku. Tapi kalau aku masuk lewat pintu depan pasti—"
"—Tsunade-sama akan tahu, dan kau akan habis dibantainya," potong Sakura.
"Benar sekali! Karena itu kurasa menemuimu adalah pilihan yang terbaik." Ia tersenyum lebar..
"Naruto, ini sudah kali ketiganya lengan palsumu hancur. Dalam satu bulan! Sebenarnya apa yang kau lakukan? Apa Kakashi-sensei memberikan misi yang berat padamu? Atau kau sengaja menghancurkannya?" Sakura menerjang Naruto dengan berbagai pertanyaan begitu pertolongan pertama telah selesai.
Syukurlah tidak ada luka yang besar atau membahayakan di lengan asli Naruto. Sakura memiliki hipotesis, sahabat pirangnya terlalu memaksakan diri, sehingga lengan prosthetic itu tidak kuat menahan beban berakhir pada kerusakan.
"Mmm, aku hanya mengawal daimyo dengan Konohamaru. Tidak sulit sama sekali. Tapi saat perjalanan pulang tiba-tiba lenganku menjadi hancur seperti itu." Jawaban Naruto terdengar ambigu di telinga Sakura.
Sakura memicingkan mata. Begitu pandangan menyelidik-dan-tajamnya bertemu dengan Naruto, lelaki itu mengalihkan netranya. Sakura tahu sekarang, Naruto belum menceritakan kronologi dengan lengkap.
"Hehe. Mmm, jadi setelah mengantar daimyo kembali, aku dan Konohamaru mampir untuk latihan sebentar. Jadi kurasa itu memicu kerusakannya. Hehehe" Naruto terkekeh lagi, sambil menggaruk dagunya yang tidak gatal.
"Berapa lama kau berlatih dengan Konohamaru, Naruto?"
"Empat jam, hehehehe."
"Empat jam? Naruto, kau bodoh ya? Masih saja suka memaksakan diri!" Sakura mendesis. Ia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memukul sahabat bodohnya itu. Memukul Naruto bukanlah sebuah solusi. Ia dan Naruto bukan anak kecil lagi yang menggunakan fisik untuk meributkan hal-hal sepele.
"Seharusnya setelah misi penyelamataan Hanabi, kau memeriksakan tanganmu dulu ke Tsunade-sama!" Sakura menggerutu.
"Maafkan aku. Selanjutnya aku akan menuruti saranmu, Sakura-chan." Naruto mengangguk dengan penyesalan. Sakura menghembuskan napas, mencoba untuk mengendalikan emosinya.
Setelah terkendali, Naruto memberanikan diri untuk bertanya, "Omong-omong, kau masih menyimpan lengan cadangan untukku kan?"
Ia berharap Sakura masih memiliki lengan palsu cadangan yang dibuatkan oleh Tsunade. Tanpa lengan itu, Naruto tidak bisa menjalankan aktivitasnya dengan normal, apalagi menjalankan misi. Terkadang ia heran dengan Sasuke, bagaimana bisa lelaki Uchiha itu hidup dan berkelana hanya dengan satu lengan?
"Aku yakin masih memiliki satu lengan lagi." Sakura membuka lemari kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah gulungan. Ia memelototi Naruto.
"Naruto, dengar ya! Ini yang terakhir. Kalau kau merusaknya kembali, akan kupastikan kau tidak akan bisa menjalankan misi sampai Tsunade-sama membuatkan yang baru. Itu pun kalau beliau mau," ancam Sakura.
"Oke, oke! Aku janji tidak akan merusaknya lagi!" seru Naruto seraya mengacungkan jempol kirinya pada Sakura.
Sahabatnya itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Kalau beliau tidak mau, aku yang akan mengajukan diri untuk membuatnya." Sakura membentuk segel, lalu meletakkan tangannya di atas gulungan. Dengan fuuinjutsu, ia mengeluarkan cadangan terakhir.
"Pengembangan juga harus dilakukan pada model yang ini, berhubung ini sudah kali ketiganya kerusakan terjadi. Kupikir model ini juga belum cukup kuat menahan kekuatan milikmu," ujar Sakura sembari memasang yang baru pada lengan Naruto.
"Jadi kau akan melakukan semacam eksperimen begitu? Seperti Orochimaru?" Naruto bergedik ngeri.
"Riset dan eksperimen. Tetapi tidak perlu seperti Orochimaru. Dia terlalu ekstrim." Sakura tertawa untuk kali pertama setelah Naruto membuat darahnya mendidih.
Ia kembali melanjutkan, "Aku akan mengajukan proposal untuk riset pengembangan selanjutnya. Kalau berhasil, aku harap Sasuke-kun dapat menggunakannya juga."
"Ah, itu curang!" Naruto merajuk. "Sasuke-teme perlu berterima kasih padaku. Nanti ia tidak perlu kesusahan atau saat lengannya putus tiba-tiba."
Sakura memutar matanya bosan. Ia tidak ingin berdebat lagi Naruto. Padahal dalam hatinya, ia tahu Sasuke pasti lebih kesulitan dari Naruto, hanya memiliki satu lengan.
Omong-omong, Sasuke-kun ada di mana sekarang ya?
Setengah jam kemudian, Sakura telah memasangkan lengan kanan palsu yang baru pada Naruto. Ia pun meregangkan tangannya ke atas, berharap mampu mengusir rasa pegalnya. Padahal hari baru menginjak siang, namun ia sudah merasa agak lelah. Sakura berpikir dengan jalan-jalan ke luar sembari mencari makan siang akan memulihkan stamina dan kebugaran tubuhnya.
Pada saat yang bersamaan, Naruto sedang mencoba menggerakkan lengan barunya. Ketika perutnya berbunyi dengan keras, ia menyadari bahwa ia kelaparan dan belum makan sejak misi berakhir.
"Sakura-chan, ini sudah jam makan siangmu kan?" tanya Naruto.
Sakura mengangguk. "Mau makan siang bersama?" Sakura bertanya kembali pada sahabat pirangnya. Tiba-tiba raut wajah Naruto berubah cerah, "Tentu saja! Kali ini aku yang traktir!"
"Oh, tumben kau murah hati," gumam Sakura. Biasanya Naruto adalah orang yang ditraktir, bukan mentraktir.
Naruto terkekeh, "Aku rindu sekali denganmu, Sakura-chan. Ayo kita makan!"
Mereka pun segera meninggalkan rumah sakit.
Seperti dugaan Sakura, Ichiraku Ramen merupakan tempat makan siang pilihan Naruto. Tidak pernah berubah. Namun, kedai ramen itu kini juga telah menyediakan berbagai macam menu, tidak hanya ramen saja. Setidaknya, Sakura bisa memesan gyoza di sana. Selain itu, Ichiraku Ramen juga memperluas kedainya.
Sejak Naruto pulang dari perang sebagai pahlawan, kedai ramen itu juga makin populer dan dipadati pengunjung. Ternyata popularitas Naruto memiliki dampak signifikan pada hal-hal di sekelilingnya.
Sakura bertanya mengapa Naruto tidak mengajak Hinata makan bersama mereka. Tiga bulan lagi, Naruto akan menikah dengan Hinata dan Sakura tidak ingin membuat gosip dengan makan siang hanya berdua dengan Naruto. Meskipun begitu, Sakura tahu, dirinya dan Naruto adalah sahabat baik dan tidak ada hal lain yang lebih di antara mereka.
"Sayang sekali Hinata-chan sedang ada misi. Padahal, aku baru saja pulang." Begitu jawaban Naruto, "Tapi tenang saja, Sakura-chan. Sebelum mampir ke rumah sakit aku sempat bertemu Sai dan mengajaknya untuk makan siang. Mungkin dia sudah tiba duluan di kedai."
Sakura mengangguk. Sudah lama juga ia tidak bertemu Sai. Ia berpikir, sepertinya siang ini akan menyenangkan dengan teman lama.
Dugaan Sakura tepat, Sai sudah tiba terlebih dahulu serta melakukan reservasi untuk mereka. Setelah memesan menu pilihan mereka, percakapan antara mereka kembali dilakukan sembari menunggu makanan.
"Kukira bekerja di rumah sakit hanya akan membuatmu makan sayur, Sakura," celetuk Sai saat melirik pesanan Sakura. Naruto tertawa kecil, sementara Sakura mendengus.
"Yah, Naruto bilang akan mentraktirku. Apa aku punya pilihan?" Sakura mengangkat kedua bahunya. Ia mengambil sedotan bambu dan menyeruput jusnya. "Nah, coba ceritakan tentang kesibukan kalian saat ini."
Sudah lama anggota Tim Kakashi – Tim Yamato tidak mengobrol dan berkumpul seperti ini. Rindu sekali rasanya. Kakashi sudah menjadi Hokage (jelas sekali padat jadwalnya). Yamato mengawasi kegiatan Orochimaru di luar desa. Sasuke –entah di mana—sedang melakukan perjalanannya. Sai kini memiliki misi utama untuk mengawasi perbatasan desa. Naruto hanya menjalankan misi jangka pendek sambil menghadiri sesi privat dengan Iruka. Sementara Sakura memegang komando kedua di rumah sakit, menjadikan jadwalnya semakin padat. Tetapi sesekali masih bisa menyempatkan diri untuk bertemu dengan yang lain.
"Saat ini aku dan Shikamaru diberi tugas khusus oleh Hokage-sama," jawab Sai. "Setelah perang terakhir, banyak shinobi yang tidak kembali ke desanya. Kami berdua bertugas untuk mencari jejak mereka, terutama shinobi dari Konoha. Dalam penyelidikan terakhir, beberapa dari mereka pergi ke sebuah kastil."
Sai terdiam sesaat sebelum melanjutkan,
"Tetapi aku juga menemukan beberapa dari mereka telah menjadi pelarian, bahkan sebelum perang dimulai."
"Pasti mereka bekas anggota ANBU Ne," gumam Sakura.
Sebagai murid dari Hokage Kelima, Sakura cukup mengetahui intrik internal desa. ANBU Ne memang sudah lama dibubarkan, bahkan sejak zaman Hokage Ketiga masih memerintah. Tetapi Danzo bersikeras untuk menjalankan organisasi itu, memanfaatkan kuasanya sebagai salah satu penasihat desa.
Ketika ia mati, barulah organisasi itu berhenti bergerak karena kehilangan pemimpinnya. Beberapa anggota mereka dikabarkan telah diberikan pendampingan untuk menjadi Jounin maupun ANBU di bawah Hokage. Beberapa dari mereka tidak diketahui kabarnya, karena tidak ada yang mengetahui secara pasti data bekas anggota ANBU Ne.
Mengetahui arah pembicaraan ini tidak dapat didengar oleh umum, Sakura berinisiatif membuat segel untuk mengaktifkan genjutsu. Alhasil orang lain akan mengira mereka sedang membicarakan hal lain. Naruto memuji sahabatnya itu.
Sai mengangguk, kembali melanjutkan pembicaraan.
"Yeah. Karena aku mantan anggotanya, aku tahu tentang informasi tentang mereka. Karena itu pula Hokage-sama menugaskanku dalam misi ini, untuk menemukan keberadaan mereka."
Sai memiliki keahlian dalam mengumpulkan informasi dan melakukan penyelidikan. Ia adalah salah satu mantan anggota ANBU Ne yang terbaik di eranya. Tidak heran Kakashi memercayakan misi ini padanya.
"Kenapa mereka menjadi pelarian?" tanya Naruto heran.
"Aku dan Hokage-sama berasumsi mereka tidak puas dengan situasi saat ini. Baik Konoha maupun Aliansi Shinobi, tidak sesuai dengan ideologi mereka," sahut Sai.
"Aku tidak paham, sungguh," ujar Naruto, "Danzo telah tewas beberapa tahun silam, tapi ia masih menimbulkan masalah!"
"Secara tidak langsung, Naruto. Tidak bisa dipungkiri, sebagus apapun pemerintahan yang ada pasti ada pihak yang merasa tidak puas. Selalu ada pihak oposisi. Selain itu ideologi yang sudah ditanamkan pada benak orang tidak semudah itu dapat berubah. Kau pasti telah mempelajari itu dengan Iruka-sensei. Karenanya peran shinobi aktif seperti kita juga penting untuk menjaga kedamaian saat ini," jelas Sakura pada Naruto.
Lelaki berambut pirang itu menggumam, "Tetapi Sai adalah pengecualian dari ideologi gila itu."
"Sakura benar, Naruto. Dulu aku begitu percaya dengan kata-katanya, terlepas dari segel yang ia tanamkan pada bawahannya. Aku dulu berpikir hidup Ne memberikan dukungan besar pada kedamaian Konoha, membuatnya dapat menjulang tinggi seperti pohon yang ditopang akarnya. Kami melakukan segala pekerjaaan kotor demi kebaikan desa—"
Geram mendengarnya Naruto mengepalkan tangannya dan menggebrak meja. Untung saja tidak ada perlatan makan yang pecah.
"Jangan bercanda! Kebaikan apanya?" Naruto nyaris terpancing emosi, tetapi untunglah Sakura menepuk pundaknya agar menenangkan. Naruto menghabiskan ramennya dalam satu seruput, cepat. Kemudian ia menegak beberapa teguk air, meletakkan gelasnya –dengan sedikit kehebohan—di meja sebelum akhirnya melanjutnya. Dalam hati, Sakura bersyukur memasang genjutsu yang juga bermanfaat untuk menutupi kehebohan Naruto dan emosinya.
"Aku tahu itu." Sai tersenyum tipis, ikut menepuk bahu Naruto.
"Danzo melakukan segalanya demi kekuatan dan kekuasan, termasuk dengan cara keji sekalipun. Salah satunya adalah dengan menjadi otak di balik pembantaian klan Uchiha. Tidak heran Sasuke-kun sangat membencinya," sahut Sakura. Bahkan gurunya, Tsunade juga tidak menyukai orang itu.
Naruto menimpali perkataan Sakura, "Aku mendengar bahwa dia telah menargetkan klan Uchiha sejak awal. Dia berpikir Uchiha harus dihabisi karena adanya rencana kudeta. Padahal rencana kudeta itu tidak akan ada bila Konoha memperlakukan mereka dengan adil. Wajar saja mereka merasa tidak puas, desa sempat menganaktirikan mereka dengan Danzo sebagai dalangnya."
"Ini semua salah Danzo," gerutu Naruto, "Danzo bahkan menghentikan upaya sepupu Itachi untuk menghentikan kudeta dan mengambil sharingan miliknya!"
Sakura menyela, "Tunggu. Ada Uchiha selain Itachi yang menentang kudeta?"
Naruto mengangguk, "Dia Shisui, sepupu dan sahabat Itachi."
"Ah, Shunshin no Shisui," sahut Sai. Saat kedua sahabatnya melemparkan pandangan bertanya, ia segera menimpali, "Hanya pernah mendengar rumor saat di Ne. Ada anggota yang tewas karena 'pembalasan 'pembalasan untuk kematian Shunshin no Shisui'."
"Aku baru mendengar hal ini," gumam Sakura. Hal yang dia ketahui adalah hanya Itachi yang menjadi agen ganda dan bersikap loyal untuk desa.
"Itachi bilang Shisui berusaha menghentikan kudeta dengan menanamkan genjutsu agar klan membatalkan rencana kudeta dan bersikap loyal pada desa," ujar Naruto.
"Memangnya Uchiha bisa terkena genjutsu?" tanya Sai polos.
Naruto mengangkat kedua bahunya. Itachi tidak bercerita dengan sangat detil saat bertemu dengan Naruto di medan perang. "Itachi bilang itu genjutsu terkuat, kau tidak akan sadar kalau pikiranmu sedang dimanipulasi atau dikontrol."
"Mengerikan. Aku tak menyangka genjutsu seperti itu ada," komentar Sakura.
"Yeah tapi semua gagal begitu Danzo mengambil sebelah matanya! Dia memberikan sebelahnya lagi pada Itachi, mempercayakan tekadnya pada Itachi, lalu melompat ke sungai Naka…."
"Bunuh diri? Kenapa? Bukankah dia bisa menggunakan jutsu itu dengan sebelah matanya?" tanya Sai, mengingat dengan jelas bagaimana Kakashi menggunakan kamui dengan satu mata saja.
"Itachi bilang akan ada banyak orang yang mengincar kekuatan mata Shisui, seperti Danzo. Jadi lelaki itu mungkin melompat ke sungai untuk menghapus jejaknya, agar tidak ada yang mendapatkan informasi genetik dirinya," jelas Naruto sebelum menoleh, "Bukankah begitu, Sakura-chan?"
Sakura mengangguk, "Tepat sekali."
"Dan yang lebih menjijikan lagi, Danzo tidak hanya mencuri mata Shisui. Sasuke bilang dia melakukan implan sharingan pada sebelah lengannya untuk mengaktifkan teknik terlarang. Hiii, aku tidak bisa membayangkan bila melihatnya langsung!" Naruto bergidik ngeri. Dalam hati ia bersyukur telah menghabiskan ramennya sebelum nafsu makannya hilang.
Setelah penjelasan panjang itu selesai, Sai tersenyum pada Naruto.
"Wah, Naruto sudah cerdas sekarang," puji Sai tanpa dosa.
"Hei, apa maksudmu Sai?" Merasa tersindir, Naruto berusaha meninju bahu Sai. Namun dengan mudah, berhasil dihindarinya.
"KALIAN SUDAH CUKUP!" Sakura menjewer telinga Sai dan Naruto, sebelum mereka menghasilkan kekacauan lebih besar. Mereka berdua mengiris kesakitan.
"A-a-aduh. Sakit, ampun Sakura-chan!"
Naruto bersikeras mengantar Sakura kembali ke rumah sakit usai membayar pesanan mereka. Sementara Sai sudah pergi untuk mengikuti rapat misi selanjutnya.
"Kau yakin?" tanya Sakura kembali. Ia sempat meragukan Naruto bahkan belum memberi laporan misinya pada Kakashi.
"Tentu saja. Lagipula sebentar lagi mungkin aku tidak bisa menemanimu seperti ini," Naruto tersenyum simpul. Dengan Naruto yang akan segera menikah di musim gugur, tentu frekuensi kebersamaan mereka akan berkurang.
Pandangan Sakura menerawang, mengingat bahwa semua Rookie 12 sudah memiliki kehidupannya masing-masing. Mereka kini sudah berada di usia yang terbilang dewasa, meskipun setelah lulus dari akademi sebagai ninja mereka juga telah dituntut untuk itu. Perbedaannya, dulu mereka masih berada di bawah bimbingan Jounin sensei, sesekali sikap kekanakan mereka masih diwajari. Sekarang bahkan beberapa di antara mereka telah menjadi guru untuk tim genin atau memiliki tanggung jawab besar lain.
Waktu cepat sekali berlalu ya.
"Jadi, apalagi yang ingin kau bicarakan Naruto?" tanya Sakura, "Kelihatannya masih ada yang mengganjal di pikiranmu."
Sakura tahu benar Naruto. Sekalipun ia adalah shinobi yang penuh kejutan, sulit ditebak, tapi ternyata waktu kebersamaan sebagai satu tim tidak dapat membohongi.
Naruto tertawa sekilas, Sakura memang salah satu dari orang yang dapat memahaminya setelah Sasuke tentu saja. Tak lama kemudian, senyumnya padam, tergantikan dengan raut serius di wajahnya.
"Sakura-chan, apakah seseorang pasti akan mati bila terjun ke sungai?"
Pertanyaan itu sangat tidak terduga bagi Sakura. Ia kira Naruto akan bertanya soal hal yang lebih dekat dengannya, seperti 'Bagaimana cara menebak isi hati perempuan?' atau 'Bagaimana cara membuat perempuan bahagia?'. Entah hal-hal berbau pernikahan, wanita, atau soal Sasuke maupun tim Kakashi kesayangan mereka.
Mendengar itu, iris hijau Sakura melebar seketika. "Apa maksudmu?"
Naruto menghembuskan napas, lalu mengubah sedikit kalimatnya.
"Apakah mungkin…" ada jeda sejenak, "…seseorang selamat meski ia meloncat ke sungai?"
Sakura terdiam sejenak sebelum menjawab dengan hati-hati.
"Tergantung. Secara umum, orang menyimpulkan pasti akan mati bila terjun ke sungai. Tetapi aku pernah membaca tentang kasus orang yang tetap selamat. Ada beberapa faktor seperti ketinggian dan kedalaman sungai, serta takdir."
Mendengar penjelasan Sakura, Naruto menyipitkan matanya. Ia tampak berpikir keras. Tidak biasanya bagi shinobi pirang itu menunjukkan raut wajah seserius itu. Tiba-tiba, Naruto melontarkan kalimat yang membuat kening Sakura bertaut lagi.
"Sakura-chan, kurasa Sasuke bukanlah Uchiha yang terakhir."
"Hah?"
"Aah, Sakura-chan. Aku ingin menjelaskannya, tapi di sini ramai. Bisakah kau memasang genjutsu la—"
"Tidak bisa. Sore ini akan ada jadwal operasi dan aku membutuhkan chakra, Naruto." Sakura menggeleng.
Langkah Naruto terhenti. Ia hari ini harus mengalah. Berbicara di jalan utama sama saja dengan membiarkan satu Konoha tahu. Naruto memandang jalanan utama desa yang ramai, sebelum akhirnya memutar arahnya, menuju jalan kecil yang lebih sepi. Sakura mengikutinya tanpa berkomentar.
Setelah merasa lebih aman, Sakura dengan hati-hati berkata,
"Jadi, apakah ini ada hubungannya dengan pembicaraan di Ichiraku?"
Naruto mengangguk. "Tiba-tiba saja aku kepikiran. Meskipun Itachi dan desa mengasumsikan Shisui telah tewas, tapi aku rasa tidak begitu. Namanya tidak ada dalam daftar ninja yang dibangkitkan Edo Tensei Kabuto sewaktu perang –aku membaca laporannya. Memang ada dua kemungkinan, dia berhasil menghilangkan jejak kematiannya atau selamat dan menyembunyikan keberadaannya."
"Lalu, apa yang membuatmu berpikir akan kemungkinan kedua?" tanya Sakura penasaran. Ia belum pernah mendengar banyak tentang Uchiha yang lain selain yang pernah ia temui. Sakura berpikir, mungkin kapan-kapan ia akan menyelinap untuk membaca arsip shinobi milik Hokage.
Naruto menghela napas, "Saat perang, aku sempat merasakan chakra, tipis sekali. Hanya dengan mode sennin dan bantuan Kurama aku bisa mendeteksinya."
"Kau pernah bertemu dengan Shisui Uchiha?" tanya Sakura heran.
Kali ini Naruto menggeleng. "Secara utuh, tidak. Hanya bertemu dengan transplan matanya dalam gagak kuchiyose milik Itachi. Setelah Itachi menghancurkan gagak itu, beberapa jam kemudian, barulah aku merasakannya."
"Apa karena sharingan-nya masih aktif?"
"Mungkin. Danzo telah menghancurkan mata Shisui yang ia ambil. Jadi seharusnya, kalau dia sungguh-sungguh mati, saat itu aku tidak merasakannya. Seingatku rasanya sangat tipis dan lemah, mungkin karena jauh," jelas Naruto.
Sakura terdiam. Kalau Naruto bilang ia bisa merasakan chakranya, kemungkinan tersebut ada benarnya. Shisui Uchiha masih hidup, di suatu tempat. Tapi, mengapa ia tidak kembali ke desa sekalipun Danzo tewas atau perang telah berakhir?
Terlalu banyak fakta yang belum jelas, Sakura pikir. Sebaiknya ia tidak menyimpulkan terlebih dahulu dengan minimnya data atau kesaksian. Naruto tersenyum sembari melipat kedua tangannya di belakang kepala.
"Yeah, begitulah pemikiran randomku ini, Sakura-chan. Aku ingin menyelidikinya, tapi aku jadwalku sudah padat hingga bulan Oktober nanti," Naruto tersenyum lemah. Bagaimana tidak? Kelas dengan Iruka, berbagai misi yang disarankan Shikamaru, dan persiapan pernikahan.
Sakura mengejek, "Padahal biasanya kau akan langsung ke ruangan Hokage dan merengek!"
"Hei, aku tidak merengek!" protes Naruto.
"Kau selalu keras kepala, Naruto. Seenaknya meminta Hokage menuruti kemauanmu. Apalagi saat kita baru menjadi genin."
Sudut bibir Naruto terangkat, "Tapi itu kan dulu! Lihat, sekarang aku rajin belajar dan rajin melakukan misi, untuk menjadi Hokage selanjutnya!"
Sakura tertawa lagi. "Iya, iya!"
Langkah kaki mereka terhenti di depan rumah sakit. Tak terasa waktu mereka siang ini sudah habis. Saatnya untuk berpisah.
"Hm, Sakura-chan?"
"Ya?"
"Soal yang tadi, tidak usah dipikirkan, ya! Aku tadi terpikir seperti itu, juga karena berandai-andai. Kalau Sasuke masih memiliki keluarga dari Uchiha, mungkin dia akan lebih sering pulang ke desa." Naruto tersenyum simpul. Namun matanya menunjukkan sedikit kesedihan, mengingat Sasuke yang mengembara untuk menebus kesalahannya.
Sakura tertegun, lalu ia tersenyum tipis. Ternyata di balik ini semua, Naruto memikirkan Sasuke.
"Ya, kau benar. Setidaknya, Sasuke-kun akan memiliki lebih banyak alasan untuk pulang."
.
Sasuke-kun, di mana kau saat ini?
Sementara itu, amat jauh dari Konoha, seorang lelaki berjubah sedang berjalan melintasi derasnya hujan di sebuah jalan sempit –di antara gedung tinggi dan pertokoan. Ada suara langkah kaki yang tergesa-gesa, bercipratan dengan genangan air dari belakangnya. Lelaki itu menghentikan langkahnya begitu namanya dipanggil.
"Sasuke-san! Kau melupakan ini!" Anak laki-laki itu tersengal-sengal. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jas hujannya. Sebuah kantung dengan lambang klannya.
"Aku telah membungkusnya dengan plastik. Benda ini kan sangat penting, kalau kau terluka sewaktu-waktu. Kau tidak boleh meninggalkannya." Si bocah mengoceh panjang lebar.
Sasuke sedikit terkejut. Bagaimana ia bisa melupakannya? Seseorang yang penting di hidupnya membuatkan itu untuknya. Ia mengambil benda itu dari tangan si bocah dan memasukkannya ke dalam tas.
"Okaasan juga bilang kau pergi begitu saja sebelum mengisi perutmu. Ah, ayo! Pas sekali kita di depan kedai ramen. Katanya ini cabang dari kedai yang ada di desamu! Kau pasti rindu, kan?"
Bocah itu menarik Sasuke –yang masih terpaku dengan beberapa hal—masuk.
Tanpa si bocah sadari, pikiran Sasuke melayang jauh dari desa hujan tempatnya berpijak, ke desa dedaunan tempatnya berasal.
Naruto, Sakura…….
-end of chapter 1, to be continued-
Catatan penulis.
Hai semua! Aku membuat edit besar-besaran untuk cerita ini. Dua chapter awal aku gabung, dan beberapa adegan aku kurangi agar bisa lebih ke inti cerita. Semoga kalian suka!
Maaf sangat lama untuk update ini. Life has been rough for me these days. Aku mencoba untuk nulis lagi.
