"'Tsumu-san?"
"Hmm?"
"Apa kalau apartemen udah saling nyaman, statusnya ganti jadi aparpacar?"
"PFFT!"
Miya Atsumu tersedak seteguk air yang tengah diminumnya. Ucapan polos Hinata Shoyo tercetus begitu saja tanpa rem dan filter bagaikan bersin. Setelah meredakan batuk-batuknya, Atsumu mencengkram pipi Hinata dengan satu tangan dan mengunyel-unyel pipi gembil kenyal itu dengan perasaan gemas bercampur jengkel.
"Akun receh apa yang meracuni explore instagrammu, hah?"
Fajrikyoya, proudly present:
Tag Team
Pair: Atsumu x Hinata , Osamu x Hinata
Rate: T
Disclaimer: Haikyuu © Furudate-sensei. Fanfic was made for fun.
Warning: AU skip 1 tahun. OOC. Shonen Ai setengah yaoi. Abal. Alay. Humor melempem. Nggak jelas. Tidak memenuhi Kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Romance gagal. Banyak menggunakan bahasa gaul milenial. Terdapat konten-konten menjurus dan bahasa vulgar. Dapat menyebabkan muak, bosan, gemas berkelanjutan, diabet virtual dan ke uwwu an digital. Membaca lebih lanjut diluar tanggung jawab author.
Miya Atsumu melakukan keputusan bombastis dalam hidupnya, kedua setelah cat rambut jadi pirang. Bundanya marah besar. Atsumu merana hidup dengan setengah uang jajan selama 2 bulan karena perkara cat rambut.
Yakni memacari Hinata Shoyo.
Bukan hanya mendapat laknat dari adik kembarnya, tapi juga dari Kageyama Tobio. Osamu ternyata juga suka Hinata, dan ia menuduh Atsumu sudah curi start duluan. Lucunya, Kageyama ternyata memendam perasaan yang sama. Karena tahu Hinata masih jomblo, tidak ada salahnya bagi Atsumu untuk tancap gas, bukan? Sekarang di pelatihan nasional, bahkan Tobio-kun cuma mau mengajaknya bicara kalau sedang di lapangan. Selebihnya ia dikira cuma angin muson. Sebetulnya Osamu duluan yang mendapatkan kontak Hinata, hasil stalking sosial media. Lalu Atsumu cuma minta. Tidak ada indikasi apa-apa. Salah Osamu sendiri bersikap dingin dan menjawab chat Hinata yang bertubi-tubi dan penuh stiker unyu-unyu gemay itu cuma dengan balasan singkat. Salah Tobio-kun sendiri bersikap tsundere dengan menyangkal keimutan Hinata. Atsumu cuma bersikap baik sewajarnya, yah nggak wajar sebetulnya karena ada modus dibalik sikap perhatiannya. Wajah tamvhan menawan rupawan jumpalitan memang nggak bisa disembunyikan. Yagimana, bakat.
Dan seperti menang lotere, Hinata justru bilang suka duluan pada Atsumu. Awalnya ia malu dan ragu, karena mereka berdua sama-sama cowok. Yang tentu saja seperti gayung bersambut, Atsumu tanpa ragu mengajaknya pacaran. Tetapi gayung bersambit baginya juga karena Osamu merasa kakak kembarnya main tikung, menusuk dari belakang. Tuduhan tidak manusiawi itu jelas membuat Atsumu jengkel. Khalayak warganet juga semuanya tahu kalau yang nusuk dari belakang tuh cuma younglek dan Atsumu tidak sudi disamakan dengan younglek. Osamu tuh kayak younglek!
Awalnya Atsumu sempat bingung bagaimana menyikapinya. Dimusuhi Osamu sangat tidak nyaman, kalau kata mas Anang Hermansyah seperti separuh jiwaku pergi. Maka dari itu, Atsumu sering menawarkan konten pemersatu bangsa: yakni foto-foto selfie Hinata yang didapatnya saat mereka berbalas chat. Atsumu suka kode-kode halus dengan mengirim pesan 'kangenku kronis, nggak ada obat. Pacarku jauh soalnya' dan Hinata dengan polosnya sering mengirim foto-foto wajahnya yang manis kenes itu. Entah buat apa Osamu menyimpan foto-foto Hinata. Di Hyogo sudah tidak ada dukun pelet, soalnya. Atau mungkin Osamu akan mencetak wajah Hinata di sarung bantal dan dijadikan teman tidur?
Wah, kalau betul kejadian Atsumu akan minta cetak juga! Sekalian saja poster dan seprai. Lumayan kan, untuk referensi halu.
"Jangan gitu, ah. Kan muka kita sama. Mau tukar sekali-kali kau yang kencan sama Shoyo-kun, 'Samu?" balas Atsumu jahil.
Osamu itu dingin-dingin air kolam pancing. Meski tawaran dari kembarannya itu menggiurkan, ia menolak dengan halus. Padahal dalam hati penasaran juga.
"Sakit mental, ih." Osamu mendecih.
"Eh, ini serius lho." Atsumu membujuk. "Musim panas nanti aku mau ke Sendai. Kita pesan hostel terpisah, terus ajak dia ngedate gantian. Seru, kan?"
"Gausah macam-macam deh, ah." Osamu membalas. "Kalau nanti dia tahu, dia bisa marah nanti."
"Ya kalau gitu jangan sampai dia tahu." Atsumu terkekeh. "Anggep aja tantangan kayak di Ninja Warrior. Yaaaaa, kalau nggak mau juga terserah. Pokoknya aku jadi mau ke Sendai. Aku mau temu kangen. Menjalin kasih. Begini begitu. Macam-macam."
Mendengar kata-kata ambigu yang diucapkan kembarannya, hidung Osamu kembang-kempis. Halusinasi penuh sensor mengambang di benaknya. Namun moral penuh kebajikan menahannya untuk menyetujui ajakan bejat itu. "Jangan melecehkan Hinata seperti itu, 'Tsumu."
"Melecehkan apa? Aku dan Shoyo-kun kan pacaran beneran. Kau berpikir yang cabul-cabul, pasti." Atsumu mencebik. "Memang kau nggak penasaran gitu? Kayak apa rasanya pacaran sama Hinata?"
"Penasaran, lah." Osamu membalas ketus. Tanpa sadar, keceplosan.
"Kalau gitu kita deal, ya?" Atsumu memeluk adik kembarnya dan bergelung manja. "Aku bilang bunda nih, kalau kita mau liburan berdua."
"...tapi..." Osamu bimbang sejenak, beringsut melepaskan diri dari pelukan kakaknya. "Kalau pas kita tukar dan Hinata ngajak aku macam-macam gimana?"
Atsumu tertegun.
Benar juga. Ia tidak pernah terpikir sampai sana. Ia cuma sekedar ingin buat prank dengan memanfaatkan kembaran identiknya. Pada awal pacaran, Hinata bahkan masih suka salah panggil Atsumu dengan 'Osamu' karena wajah mereka yang seperti copy-paste. Dia juga mau macam-macam sama Hinata, tetapi tidak saat ia dan Osamu sedang menjahilinya dengan bertukar! Kalau gitu, Osamu yang ditawarin begini-begitu sama Hinata?!
Enak aja!
"Kayaknya kita harus pasang rating, ya." Atsumi mengacungkan kelingkingnya di depan wajah Osamu. "Kalau masih cium-cium aku maafkan deh. Jangan ngelunjak."
"Pasti sebenarnya kau yang punya rencana mau macam-macam, 'Tsumu." Osamu menggamit kelingking kembarannya. "Deal."
Rencananya seperti ini:
Miya bersaudara akan berangkat dengan jadwal kereta yang hanya terpaut satu jam. Atsumu dapat giliran pertama, karena Hinata berjanji akan menjemputnya. Lalu, taruh barang dan check in di hostel yang sama namun terpisah 2 lantai. Selama 7 hari, Miya bersaudara akan bergantian mengencani Hinata dan pada hari terakhir pulang, mereka akan membongkar prank yang mereka lakukan. Ide yang benar-benar sinting. Atsumu bisa saja diputusin nantinya, namun dengan pede selangit ia bilang bahwa Hinata tidak mungkin melakukan hal itu. Kata Atsumu, Hinata itu kelewat pure, innocent dan bucin. Osamu sudah berdoa dalam hati kalau kembarannya diputusin, ia sudah siap menikung dibalik pengkolan sebagai ajang balas dendam. Gantian menghujani Atsumu dengan perasaan dengki karena memacari Hinata.
"Lagian, mau sampai kapan kau dan aku musuh-musuhan terus? Kita lahir barengan, lho. Ingat itu."
Mungkin Osamu tidak senang punya kembaran. Karena cuma Atsumu yang mengambil keuntungan dari indetiknya wajah mereka. Oh, dan demi penyamaran sempurna Osamu dipaksa mengecat ulang rambutnya menjadi pirang. Warna pirang mencolok di rambut Atsumu (honey blonde) berakhir menjadi pirang kusam (ash blonde) karena menimpa semiran Osamu yang sebelumnya. Namun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Osamu mengerenyit jijik ketika berkaca bersama Atsumu.
"Ih, ya ampun!" Atsumu bertepuk tangan senang. "Kayak difotokopi."
"Kan kata bunda kita lahir di kantor percetakan, bukan di rumah sakit." Balas Osamu sarkas. "Pokoknya kalau prank-nya berhasil—"
"Kuturuti apapun maumu." Atsumu membalas cepat.
"Kalau gitu, 'Tsumu..." Osamu menyisir poninya ke sisi lain agar semakin mirip dengan kembarannya. "Aku mau pacaran sama Hinata."
Atsumu terdiam. Ekspresinya seperti kehabisan kuota internet.
"Memang sudah saatnya aku berkarir sebagai anak tunggal." Atsumu membunyikan ruas-ruas jarinya.
"Oho, jadi persaudaraan sejak dari rahim bunda harus kandas karena rebutan uke? Menarik." Osamu membunyikan ruas-ruas lehernya. "Kalau kau harus mati di kereta ini, aku bakalan tidur di kasur atas, ya!"
"Minta yang lain lah, dasar bedebah!" Atsumu memberikan karate chop di kepala adik kembarnya. "Kurang ngelunjak apa sudah kutawarin ngedate sama Hinata, hah?!"
"Aduh! Habis tawaranmu kurang spesifik." Osamu mengusap kepalanya sendiri. "Kalau gitu, kalau rencanamu gagal aku mau ditraktir makan sampai mati kekenyangan."
"Ha. Ha. Ha. Ha. Memang sejak lahir 'Samu pernah merasa kenyang, apa?"
TING TONG TING TONG
Anda memasuki stasiun Sendai
Periksa kembali barang bawaan Anda.
Ini dia. Osamu dan Atsumu turun dan berpisah. Atsumu mengecek ponselnya, dan mendapati pesan katanya Hinata sudah sampai sejak 15 menit yang lalu. Pacarnya yang manis itu menunggu dengan tidak sabar di dekat konter ekiben. Ia berbalut kaos hitam berlengan pendek dan celana jeans panjang yang digulung sampai atas betis. Saat Atsumu memanggilnya, Hinata berlari menghampirinya dan menghambur. Adegan berpelukan sambil putar-putar seperti di film India berlangsung sebentar. Hinata jelas bertambah tinggi satu atau dua senti. Selebihnya tidak ada yang berubah.
"Selamat datang di Miyagi." Ucapnya senang. "Bagaimana perjalananmu, 'Tsumu-san?"
"Bosaaaan. Capek. Pegal." Atsumu membungkuk, lalu mendekatkan wajahnya pada Hinata. "Lalu semuanya hilang saat aku bertemu denganmu, Shoyo-kun."
Hinata bersemu, lalu mengalihkan pandangannya karena malu. Atsumu merogoh ponselnya dan merangkul mesra sang kekasih yang sudah jauh-jauh dikunjunginya.
"Aku mau fotomu yang banyak. Fotomu denganku, terutama." Atsumu mengedit genit. "Boleh?"
"Tentu saja."
"Sini..."
Dengan aba-aba hitung mundur dari ponsel pintar Atsumu, ia mengabadikan momen Hinata menjemputnya melalui foto selfie. Hinata suka sekali difoto, sebetulnya. Ia meminjam kacamata hitam Atsumu dan berpose lagi bersama pacarnya tersebut.
"Nginepnya dimana? Sudah ada tempat atau baru mau cari?" tanya Hinata. Ia mengambil satu tas Atsumu dan membantu membawakannya.
"Sudah ada. Jangan khawatir." Atsumu membelai rambut Hinata. "Aku juga mau kasih salam ke ibumu dan Natsu-chan, ya."
"Padahal besok juga bisa. 'Tsumu-san pasti capek kan, 10 jam duduk di kereta? Aku sih bisa gila." Hinata membalas.
"Ahaha. Nggak apa-apa."
"'Tsumu-san nginep dimana? Ayo, kuantar sampai tempatmu nginep!"
"Nggak mau nemenin aku bobo sekalian?" tanya Atsumu jahil.
"Pasti nggak boleh kalau dadakan." Hinata menggeleng. "Atau 'Tsumu-san mau makan malam dan nginep di rumahku? Kan bisa bobo sama aku."
Atsumu tersendat sambil memegangi dada. Uh lala, kesempatan emas untuk macam-macam itu, sih!
"'Tsumu-san?"
"Ya?" Atsumu tersenyum. Ia mengirimkan pada Hinata selebaran elektronik dari hostel tempatnya menginap. "Kau tahu tempatnya?"
"Tahu." Jawab Hinata santai. "Kalau dari stasiun sekali naik bus saja. Tapi kalau dari tempatku harus sekali naik kereta dan jalan dulu."
"Rumahmu jauh, ya?"
"Lumayan." Hinata terkekeh. "Rumahku ada di balik gunung. Jadi setiap hari pulang sekolah harus naik sepeda naik-turun gunung."
Senyuman Atsumu memudar. "Bercanda, ah."
"Nggak! Bahkan saking sejuknya, rumahku cuma pakai AC kalau musim panas!"
"Terus, setiap hari kau latihan voli juga?"
"Uhm. Nggak setiap hari, sih. Kalau lagi musim-musim ujian kami libur. Tapi dirumah aku juga latihan sendiri."
Aduh, staminanya di lapangan waktu bertanding saja sudah bikin ngeri. Ternyata lari-lari loncat-loncat seperti belalang padang rumput sepanjang hari bukan apa-apa dibanding keseharian pemuda mungil ini. Atsumu mulai menghitung berapa kardus 'banteng merah' yang harus dia minum kalau memang ia bertekad mau menjamah, mencelup, mencocol menggado dan menggoyang Hinata. Jika dia kalah stamina di ranjang, h,arga dirinya sebagai seme pasti runtuh.
Tenang, tenang. Santai.
Oh, iya. Biar tidak tegang sembari naik bus ada baiknya ia mengirim konten dulu ke saudara kembarnya.
[tsumtsum]
tsumtsum sent a picture.
NIH LIHAT!
Dengar laraku, suara hati ini memanggil 'samu~~ KARENA SEPARUH AKU, HINATA~~
MAMPUS KAU ADIK DURHAKA
tsumtsum sent a sticker.
Kirim.
Tidak lama, balasannya datang.
[miya osamu]
Mana ada separuh. Kalau Hinata mah seperempatmu aja nggak sampe.
Nggak usah sok-sok pakai lirik lagu. Dasar mental pantura.
Alamak, Osamu makin besar mulutnya makin pedas. Macam julidan tetangga aja.
Hari kedua, giliran Osamu yang maju. Kakaknya yang bawel dan agak bucin sudah memberikan banyak wejangan dan petuah segala rupa tentang apa yang tidak Hinata suka, dan apa yang dia suka juga. Entah kenapa, di dalam list itu nama Atsumu ada di urutan pertama. Urutan kedua adalah bakpao daging dan nasi telur. Lalu Hinata juga suka hewan-hewan lucu. Voli, sudah jelas. Sepedaan dan skateboard.
Jadwal kencan hari ini ke pasar besar yang ada di lembah. Jaraknya 7 km dari SMA Karasuno. Di pasar itu Hinata ingin mengajak Atsumu (yang hari ini mulai tukar menjadi Osamu) melihat-lihat. Disana ada banyak barang yang dijajakan bahkan hewan peliharaan juga ada. Kata Hinata ada satu jalanan besar khusus berisi toko hewan dan ada kliniknya juga.
Osamu sudah tarik nafas berkali-kali. Tentu saja gugup, ini kan kencan pertamanya dengan Hinata. Kalau dari awal langsung ketahuan gimana? Osamu menunggu dengan sabar di tempat yang sudah dijanjikan Hinata. Tidak lama, Hinata muncul. Osamu nyaris kena stroke dini karena penampilan pacar (kembaran)-nya yang uwwu maksimal—kaos buntung biru muda, celana pendek dan topi snapback. Sandal karetnya bahkan berbentuk karakter buaya kartun. Hinata kelihatan seperti anak SD, dan Osamu merasa seperti om-om pedofil.
"Apa 'Tsumu-san sudah menunggu lama?" tanya Hinata.
"Nggak. Baru sampai." Jawabnya gugup.
"Hmmmmm." Hinata menopang dagu. Wajahnya mengerut. "Kayaknya 'Tsumu-san agak beda hari ini."
Osamu memucat. Otaknya ngeblank, kelimpungan mencari alasan berkilah. "Ah, masa, sih?"
"Kau terlihat gugup sekali." Tangan mungil Hinata menggandengnya. "Ayo."
Biasanya cuma lihat di sosial media sebagai stalker. Terus sekarang pegangan tangan dan jalan bareng. Osamu tampaknya mulai senang dengan rencana prank yang dijalankan kembarannya. Pasar yang mereka kunjungi jauh lebih besar dari yang dikira. Ada banyak blok-blok dan petunjuknya juga tidak membingunkan seperti di Tokyo atau Kobe. Melewati area jajanan, Osamu mencium harum makanan dan tanpa berkata-kata langsung menggeret Hinata untuk menjelajah daerah itu.
"'Tsumu-san lapar?" tanya Hinata.
"Pilihannya banyak sekali." Osamu ternganga. "Aku harus mulai dari mana?"
"Yakisoba!" Hinata menyahut antusias. "Yakisoba di sini beda, lho! Mienya nggak lengket kayak yang pernah kumakan di Tokyo!"
"Oh, ya?"
Osamu menuruti semua saran Hinata. Alhasil, sepanjang jalan ia bertingkah bagaikan ulat bulu—jalan dan mengunyah. Ia bahkan masih dalam proses menghabiskan jajanan sebelumnya saat pesan jajanan lain. Hinata sampai kaget melihat (adik kembar) pacarnya makan selahap itu. Saat Osamu menawarinya jajanan, Hinata menolak dengan halus. Ia sudah makan dirumah, katanya. Hinata hanya menerima tawaran Osamu saat pemuda itu mentraktirnya eskrim.
"Hinata," Osamu merogoh ponselnya dengan susah payah. "Lihat sini."
JEPRET! JEPRET!
Hinata memang suka difoto, dan saat Osamu menawarinya kamera, tanpa ragu ia berpose. Ada yang sengaja imut, ada pose gokil, ada banyak sekali pose candid yang diambil diam-diam oleh Osamu saat Hinata tidak melihat.
"Eh, kita sudah sampai!"
Mereka akhirnya tiba di blok tempat hewan-hewan peliharaan dijual. Berbagai macam hewan dijual disana. Ada kucing, anjing, kura-kura, ikan, landak, kelinci, trenggiling, ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar-jalar selalu kian kemari~~. Osamu menggeleng-geleng, menepis beragam pikiran halu yang lewat di kepalanya.
"'Tsumu-san suka hewan apa?"
"Ah? Uhm..." Osamu berpikir keras. "Aku suka babi. Sapi. Ayam. Kelinci."
"Ihh! Hewan peliharaan, bukan buat dimakan!" Hinata memberengut ngambek.
"Oh," Osamu mengelak. Padahal semua itu hewan peliharaan kesukaannya, untuk dimakan. "Tapi kan kelinci itu enak."
"'Tsumu-san makan kelinci?!" Hinata berkaca-kaca. "Jahat!"
Osamu dibuat bersalah atas ekspresi sendu pacar (kakak)nya. Pasti Hinata belum pernah merasakan nikmatnya sate kelinci pakai bumbu kacang di atas gunung, makanya dia bilang begitu. Demi mengalihkan isu, ia menunjuk penjual hamster yang kebetulan tak jauh dari sana. Mereka berjalan kesana dan si penjual memperbolehkan Hinata memegang seekor hamster berbulu pirang-oranye, ginger seperti rambutnya.
"Tuh, lihat." Katanya. "Gembil kayak wajahmu."
"Aku kayak hamtaro, dong?" Hinata mendekatkan hamster itu ke pipinya. Dan tentu saja, Miya Osamu si stalker profesional tidak lupa menjepret momen kawaii tersebut.
"Hamtaro itu apa?" tanya Osamu polos.
"Itu, lho! Hamtaro. Kartun hamster pada jaman kita SD." Hinata bersungut-sungut. "Kan ada lagunya! Aku hafal sampai sekarang, lho."
"Coba nyanyi." Ucap Osamu jahil.
"Tuk kutuk, lewat lorong sempit~ Tuk kutuk, hamtaro berlari. Apa yaaaang paling dia senangiiiiiiiiiiii?"
Hinata mendekatkan wajahnya dan hamster itu ke hadapan Osamu. Wajahnya lucu, sih. Tapi pertanyaan dari lagunya sangat mengintimidasi. Waktu kecil Osamu nontonnya satria baja hitam, dan paling benci harus menunggu lagu wangi angin padang rumput di sore hari selesai sebelum serial kesukaannya tayang setelah itu. Hinata sudah berkomat-kamit pelan, mengindikasi ia ingin Osamu melanjutkan lagu itu biar kesannya romantis.
"Biji..."
Osamu mengerenyit dengan mulut setengah terbuka. Gerakan bibir Hinata sulit dibaca, karena setan dikepalanya malah berbisik sebaiknya cium saja Hinata-nya daripada meneruskan lagu terkutuk tentang hamster pemakan biji.
"...biji...peler...aki-aki..."
Hinata tertegun. Ekspresi wajahnya gelap. Ia menaruh kembali hamster tak berdosa itu ke kandangnya dan berbalik menahan malu.
"...'Tsumu-san mesum."
"Nee-chan, nee-chan! Bapakmu teknisi listrik, ya?"
"Kok tahu?"
"Karena tatapanmu sudah menyetrum-nyetrum hatiku."
"Basi tau gombalanmu. Dasar siluman buaya."
Osamu datang dan memporak-porandakan aksi gombal Atsumu pada si mbak resepsionis hostel. Wajah tembok yang biasanya adem-adem kipas angin itu tampak lebih bahagia. Rona wajahnya cerah. Atsumu sampai mau muntah melihatnya.
"Ada yang pulang ngedate, nih. Bahagia gitu, mukanya." Atsumu menggoda.
"Apaa, sih. Biasa aja." Osamu memalingkan mukanya.
"Senyumanmu cerah banget, lho." Atsumu meyakinkan dengan mata menyipit. "Mataku hampir berdarah melihatnya."
Seketika itu juga, senyuman si adik kembar sirna. Lalu tendangan melayang mendarat di pinggang kakaknya.
"ADUH! BAJING LONCAT, DASAR ADIK DURHAKA!" raung Atsumu kesal.
Osamu menjambak baju kembarannya dan menyeretnya masuk ke kamar si kakak yang kebetulan lebih dekat dan tidak terkunci.
"Berisik, ah. Aku dapat konten bagus, nih."
"Apa, apa?"
"Akun tiktoknya Hinata."
Si kembar Miya langsung masuk kamar. Memojok di sudut ruangan, layar mini ponsel Osamu dijadikan sarana nonton bareng konten pemersatu bangsa. Padahal Hinata dan Atsumu hampir setahun pacaran, kenapa ia bisa tidak tahu kalau Hinata punya akun tiktok? Video tiktok yang dibuat Hinata lumayan banyak. Dengan sabar, Atsumu memutar satu persatu koleksi video tersebut. Tidak disangka, Hinata banyak menyelesaikan challenge dance yang ngetrend di kalangan pengguna tiktok. Osamu menganga sampai tidak berkedip, sementara Atsumu bolak-balik menyeka iler karena wajah imut dan ekspresi manis Hinata tetap tidak pudar meskipun ia melakukan dance-dance susah.
"Eh, apaan, nih?" Atsumu menggeser layar lagi. "Joget sampai bawah challenge."
"Males, ah. Dia bikin videonya rame-rame." Osamu melengos, mendadak hilang selera karena di thumbnail videonya ada wajah Tanaka, Nishinoya dan Sugawara.
"One, two, three, four! Joget sampe bawah!"
"Eh, eh?! Kepencet!"
Karena jempol Atsumu mengalami technical error, video berjudul aneh itu tidak sengaja diputar. Seperti judulnya, isinya adalah video empat anggota bola voli putra SMA Karasuno melakukan twerking alias goyang-goyang pantat dengan gerakan naik turun bahkan sampai jongkok-jongkok. Sepertinya video ini dibuat cuma untuk ajang gokil-gokilan atau lucu-lucuan atau pelepas stress atau pereda kegilaan saja selepas latihan. Karena mereka semua masih pakai kaos latihan dan sepatu voli.
"WWOOOOHH! WOOOHH! HOOOH! SSSSSH! UUUUH!"
"OHH YESS! OOH YESS! OOH YESSS BABY! GOYANG SAMPE BAWAH! SAMPE BAWAH! GOYANG ABANG, DEK! GOYANG SAMPE BAWAH!"
Melihat Hinata twerking sampai jongkok-jongkok dan goyang-goyang pantat sambil naikin sebelah kaki ke kursi membuat otak Miya bersaudara konslet seketika. Aduhai, goyangannya Hinata lebih bahenol dari penyanyi dangdut pantura. Osamu cuma bisa huuh hahh huuh haaah sambil garuk-garuk kepala macam simpanse kepedesan. Sementara si pacar, Atsumu, malah lonjak-lonjak anarkis dengan lubang hidung megar dan wajah memerah. Tentu saja mereka sudah masa bodoh peduli setan melihat Nishinoya goyang kayang sampai limbo atau liukan pinggul Sugawara yang patah-patah. Mata mereka fokus ke Hinata.
Benar-benar konten berkualitas.
Usai video itu beres, Miya bersaudara menarik nafas panjang. Siapa yang sangka nonton video berdurasi 2 menit bisa bikin dagdigdug belalang kuncup.
"...'Samu?"
"Nnh?"
"Video-nya bisa disimpen, nggak?"
"Udah, kok. Nanti kukirimkan padamu."
"...'Samu?"
"Apa?"
"Ada yang tegak tapi bukan keadilan." Atsumu menunjuk-nunjuk jagoannya yang baru bangun tidur.
Osamu melempar sekotak tisu kepada kembarannya. "Bisa sendiri, kan?"
"Besok kalau ada konten joss lagi langsung kukasih, deh." Atsumu menyelinap ke toilet. "Otsukare, ototou."
B.A.N.G.S.A.T: (bacotan ngegas tapi santuy dari author)
.
.
Hai jagad raya khalayak fandom Haikyuu! Fajrikyoya desu!
Jadiiiiii dikarenakan wabah korona ini author dirumahkan (dan masih dibayar, ofcourse. Privilage kerja di negeri orang hahahaha) selama dua minggu. Dan karena kegabutan yang hqq ini akhirnya author memutuskan untuk bikin fanfic ini. Awalnya idenya mau dibikin oneshot. Tetapi hasil ngetik tanpa otak membuat fic ini jadi panjaaaaang sekali dan author memutuskan membaginya menjadi 3-4 chapter. Jangan khawatir, author janji akan update cepat, kok! Mumpung masih gabut but but~~
Di season 4 ini Author pindah haluan. Buat Kagehina shipper mohon aku jangan di bash di bully dan dikucilkan. Menurutku pribadi Atsuhina lebih gereget jos gandos kotos-kotos mledos. Why oh Why this couple is overly unyu unyuuuuh. Karena fic yang membahas pair ini masih sedikit dan author butuh asupan, yowes bikin sendiri. Siapa tahu disana ada shipper Atsuhina yang haus akan konten juga yekann yekaannn.
Owkay, sampai disini dulu bacotan author, ya! Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa RnR, ya! Fave and Follow juga boleh! See you in the next chapter!
Cheers,
Fajrikyoya.
