.
.
.
Detective Conan / Case Closed
DISCLAIMER : Aoyama Gosho
Songfic: Billie Eilish and Khalid - Lovely
by Arashi Kachigawa
PART II
—ONCE AGAIN, I BELIEVE IN YOU—
.
.
.
.
.
.
CAST : Shinichi.K/Shiho.M/Ran M. | Hurt/Comfort | Angst | AU | OOC, I guess
Halo semuanya! Maaf, setelah hampir tiga tahun tidak update, akhirnya saya bisa melanjutkan fanfiction ini, yang memang lanjutan dari fanfic sebelumnya: Chapter 8 – I Believe In You. Dua chapter yang saling bersambungan ini, merupakan kesatuan one-shot tetapi dibagi dalam dua part. Walaupun chapter sebelumnya mengimplikasikan ShinRan, namun endingnya tetap ShinShi. Saya minta maaf sebesar-besarnya baru update sekarang!
Happy reading!
VII.
Thought I found a way
Thought I found a way out (found)
But you never go away (never go away)
So I guess I gotta stay now
Sudah empat tahun berlalu sejak Shiho menghadiri wisuda kelulusan Shinichi di salah satu universitas ternama di Inggris. Tentunya, Shiho diminta hadir untuk menjadi orang yang mengabadikan kenangan Ran Mouri dan Shinichi Kudo. Sekarang, kenangan itu diabadikan dalam bentuk foto yang dipajang di meja kerja Shinichi Kudo. Setiap pagi hari saat memasuki ruang kerja Shinichi, mata Shiho selalu fokus ke foto-foto pasangan manis itu secara spontan. Bukan kesengajaannya. Itu memang menjadi emphasis tersendiri bagi siapapun yang memasuki ruang kerja ini.
Shiho masih menjadi partner setia Shinichi dan tentunya ia selalu berkomitmen terhadap permintaan Shinichi sebelas tahun lalu. Walaupun itu berarti cinta sepihak Shiho masih terus berlanjut hingga sekarang pula. Shiho tampak sudah ikhlas dan lebih tenang jika Shinichi diperhatikan oleh perempuan baik-baik.
Terdengar suara khas yang selalu terjadi setiap cakrawala datang dari sang detektif, "Pagi, Miyano." sapa Shinichi sembari menguap. "Pagi." balas Shiho seperti biasa. "Miyano, tadi aku baru dapat kabar kalau kita disuruh ke Amerika untuk menyelidiki kasus. Bisakah kamu mengatur itu, Miyano? Secepatnya, kalau bisa." ucap Shinichi yang seperti biasa selalu memberi tugas-tugas kepada partner—bisa pula asisten pribadinya.
"Oke, Ran diajak juga?" sahut Shiho. Seketika muka bantal Shinichi berubah menjadi penuh keraguan, "Hmm, Ran tidak usah diajak, dia baik-baik saja," balas Shinichi. Seperti biasa, Shiho menyipitkan mata sembari mengernyitkan dahi. "Tampaknya kita sudah sering berpergian terus dan berdua saja ke berbagai negara untuk menyelidiki kasus-kasus dalam satu tahun belakangan ini. Apa kamu sudah memperhatikan Ran?" tanya Shiho yang khawatir.
"Tenang, Ran akan mengerti dan baik-baik saja. Tidak usah dikhawatirkan," balas Shinichi menenangkan sambil senyum tipis. "Betulan, lho, ya? Ingat apa yang kamu pernah bilang waktu kelas 3 SMA, Kudo. Dan aku ingin menjaga hubungan pertemanan yang baik dengan Ran." Sahut Shiho sambil menghela pelan. Shiho merupakan orang yang sangat sensitif jika sudah dilabrak orang lain atau difitnah. Karena itu, Shiho berusaha menjaga jarak dengan mayat magnet hingga sekarang tetapi kasus-kasus besar tidak bisa membuat dua orang jenius menolak untuk datang berdua terus.
"Ah ya… satu lagi," Shinichi tiba-tiba teringat. "Apa kamu tahu kalau Sonoko dan Kyogoku akan menikah? Aku dikasih tahu tentang itu dari Ran." lanjut Shinichi. "Oh, ya. Beberapa hari lalu ada undangannya. Aku lupa kasih itu kepadamu, Kudo. Acaranya malam ini nanti. Berarti, kita kerja sampai sore saja. Sisanya kamu jemput Ran dalam pakaian yang sudah siap," koordinasi Shiho.
"Tentu. Terima kasih, Miyano. Kalau begitu aku mandi dulu," ujar Shinichi meninggalkan ruang kerjanya—yang bisa disebut laboratorium karena interiornya lebih mirip itu—sementara Shiho lanjut menganalisa kasus yang terjadi kemarin malam.
Waktu terus berputar, di balik jendela mulai terlihat matahari yang tenggelam dan membiaskan warna jingga ke dalam ruang kerja pribadi Shinichi dan Shiho. "Ah, sudah sore hari. Kita sudahi pekerjaan hari ini. Sudah hampir final ini, besok saja kita kabari ke Inspektur Megure dan akan kuurus keberangkatan ke Amerika," tutur Shiho sembari meletakkan kertas-kertas berisi data statistik dan penjelasan ilmiah dari perspektif kimia terhadap luka korban pembunuhan.
"Ah, ya. Terima kasih, seperti biasa kamu memang perencana yang terbaik." sahut Shinichi sambil memijat pundaknya yang pegal sehabis menyelidiki beberapa kasus yang terjadi di Jepang belakangan ini. Shinichi bangkit dari meja kerja dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Miyano, kamu juga pulanglah dulu ke rumahmu dan ganti pakaian. Aku akan jemput Ran sehabis ganti pakaian. Kita akan bertemu lagi di acara pernikahan Sonoko dan Kyogoku." lanjut Shinichi sebelum membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang kerja. Shiho merespons dengan anggukan kepala.
Malam itu, banyak orang dari kalangan elit datang menghadiri resepsi pernikahan Sonoko dan Kyogoku yang tampak mewah, karena membawa nama perusahaan raksasa Suzuki serta putri bungsu yang dimanjakan, ditambah Makoto Kyogoku yang terkenal sebagai pangeran bela diri. Walau begitu, Sonoko tetap mengundang teman-teman terbaiknya, termasuk Ran, Shinichi dan Shiho.
"Wah, akhirnya Sonoko bahagia dan bisa selalu berada di sisi Kyogoku. Mereka sudah melewati masa-masa hubungan spesial jarak jauh," tutur Ran sembari menggandeng tangan Shinichi. "Turut berbahagia untuk mereka. Memang lawak kalau ingat-ingat lagi masa lalu," sahut Shinichi. "Hei, Shinichi. Gaunku ini dikasih langsung sama Sonoko, lho. Kembaran dengan pengiring pengantin yang lainnya." ujar Ran sambil membuka kedua tangannya lebar-lebar ke arah gaunnya.
"Iya, tampak bagus dan cantik. Tadi aku sudah lihat di saat kamu di sebelah Sonoko sama yang lainnya. Ngomong-ngomong, Ran, lusa aku akan berangkat ke Amerika bersama Miyano untuk menyelidiki kasus besar di sana," sahut Shinichi. Senyum kecil Ran yang sempat berkembang, kini hilang. "Oh, oke, aku mengerti. Berapa lama?" tanya Ran. "Nggak tahu pastinya. Mungkin sampai kasus benar-benar tuntas, seperti biasa." balas Shinichi.
Sementara itu, Shiho, di tempat yang sama dengan mereka tetapi terpisah sendiri dan bersandar ke dinding di pojok ruangan itu. Ia hanya memandangi panggung mewah di mana Sonoko dan Kyogoku yang sibuk melayani tamu-tamu. Shiho hanya menghela nafas, kemudian meminum jus jeruk setelah mengarahkan pandangan ke Shinichi dan Ran. Tiba-tiba, seorang laki-laki yang tampak tampan dan berpakaian yang mewah, menghampiri Shiho.
"Hai, sendirian saja di sini?" tanya laki itu. Shiho hanya mengangguk dengan mata yang cukup tajam. Laki itu pun menelan ludahnya, tetapi ia mencoba bersikap sopan. "Kamu kenalan pengantin di situ?" tanyanya lagi. "Kalau iya, kenapa?" tanya balik Shiho yang makin judes. "Biar ada topik saja," jawab laki itu sembari ketawa basi.
"Memangnya kenapa nggak ngobrol sama kenalan lain kalau mau ada topik, bukan sama orang asing?" tanya Shiho dengan nada tinggi. "Aku nggak ada cewek yang bisa kugandeng. Karena itu aku hampiri kamu," goda laki itu.
Shiho kemudian tertawa kecil. "Huft, jangan pernah berharap sama aku. Sudah ada yang mengisi hatiku terlebih dahulu." sahutnya sembari menutup mata dan menghela nafas bersamaan.
Laki itu tersentak, dan hanya bisa membungkuk pelan kemudian meninggalkan Shiho dengan buru-buru. Shiho melihat laki aneh itu dari kejauhan dengan menyipitkan mata. Kemudian Shiho menghela nafas lagi, sekaligus membatin, "sudah hampir sebelas tahun, dan aku masih berharap padamu, Kudo. Orang macam apa kamu yang masih tidak bisa mengalahkan orang lain untuk singgah di hati sendiri ini?"
VIII.
Oh, I hope some day I'll make it out of here
Even if it takes all night or a hundred years
Need a place to hide, but I can't find one near
Wanna feel alive, outside I can't fight my fear
Kini Shiho dan Shinichi berada di Amerika. Untuk pertama kalinya, Shiho yang tidak pernah luput dari kesalahan apapun dalam membuat rencana perjalanan dengan Shinichi selama ini, sekarang dia harus berhadapan dengan kesalahan pertamanya. Di meja resepsionis dalam lobi hotel, tampak Shiho yang sedang berkomplain terhadap resepsionis. "Saya sudah memesan dua kamar, kenapa harus ada kesalahan seperti ini?!" begitu komplain Shiho.
"Saya minta maaf Nona, memang ada kesalahan sistem sebelumnya. Sebagai kompensasi atas kerugian tersebut, kami telah menyediakan kamar tipe Deluxe King Room. Kami akan memberikan layanan yang terbaik untuk Anda berdua, termasuk makanan berkualitas tinggi sebanyak tiga kali per hari sampai hari terakhir Anda berdua menginap di sini. Kami minta maaf sebesar-besarnya." sahut resepsionis tersebut sambil membungkuk berkali-kali, setelah mengetahui kebangsaan Shinichi dan Shiho.
Kemudian Shiho menggelengkan kepalanya pelan, lalu Shiho menghela nafas dengan lama. Shinichi menepuk pundak Shiho dari belakang, "Tidak apa-apa. Mereka sudah mengakui kesalahan mereka, yang penting kompensasinya sangat menguntungkan, bukan?" ungkap Shinichi sembari tersenyum menyeringai.
Sihho tidak memahami ekspresi Shinichi yang tiba-tiba melebarkan senyumnya itu. Shiho tidak mengerti. "Hei, Kudo—" protes Shiho yang belum sempat lanjut, dipotong dengan perkataan Shinichi berikutnya, "Sudahlah. Kita langsung ke kamarnya saja. Ayo, angkat koper-koper kita. Aku capek, hari sudah benar-benar larut sekarang. Ingin tidur."
Setelah Shinichi mendapatkan kunci kamar dari resepsionis, Kemudian Shinichi langsung menenteng kopernya dan menarik tangan Shiho, menyusuri koridor hotel dan masuk ke dalam lift. Lama kelamaan, Shiho merasa terjebak. Shiho merasa ada yang salah dengan Shinichi Kudo. Shiho merasa Shinichi berpaling kepada Shiho, walau perlahan.
"Tidak mungkin, tidak mungkin. Aku tidak bisa berpikir hal seperti itu. Aku harus segera keluar dari zona berbahaya ini. Walaupun butuh bertahun-tahun…" Shiho segera mengusik pikirannya yang penuh kecurigaan. Ia berusaha tidak mempercayai instingnya terhadap apa yang terjadi di antara Shinichi dan Ran. Tetapi, selama ini insting Shiho memang selalu tinggi dan akurat. Hal itu cukup menakutkan bagi Shiho saat ini.
Dengan posisi mereka berdua masih di dalam lift karena kamar yang mereka tumpangi berada di lantai yang paling tinggi di hotel itu, Shiho merasa sangat kebingungan. Ia tidak ingin tidur di kamar yang sama dengan pria maniak detektif satu ini. 'Shinichi Kudo sudah mempunyai kekasih. Ran Mouri. Tetapi sekarang, Shinichi harus tidur berdua dengan Shiho? Yang benar saja!'
Setelah pintu lift terbuka, Shinichi mengedarkan pandangannya untuk menemukan kamar yang dituju. Sementara itu Shiho yang mengekornya, masih menunduk, melihat karpet merah sepanjang lorong hotel tersebut, memikirkan seribu cara untuk tidak tidur berdua dengan Shinichi. Raut muka yang biasanya selalu ngantuk—sekarang tertekan dan stress, walaupun 'tidur bersama dengan orang yang disayanginya' termasuk hal yang sangat diinginkan oleh Shiho.
Akhirnya kamar yang dicari, ditemukan oleh Shinichi. Ia membuka kamar tersebut melalui kunci yang dikasih resepsionis tadi. Mereka berdua disambut oleh kasur berukuran king. Ya tentu saja, apa yang diharapkan dari kamar tipe Deluxe King Room?
Shiho mematung, sementara Shinichi menaruh kopernya dan mulai melepas satu per satu kancing kemejanya. "Ku—Kudo." ungkap Shiho yang terpotong-potong. "Ya?" Shinichi menoleh, menyahutnya.
"Aku… tidak bisa. Aku harus tidur di tempat lain. Maafkan aku—" lanjut Shiho sembari menggelengkan kepalanya, dengan panik. Ini sudah kelewatan batas. Ia tidak bisa melangkah lebih jauh dari ini lagi. Ia membutuhkan tempat yang bisa dipakai untuk bersembunyi.
Shinichi menghela nafas dalam-dalam, sembari menutup mata. Kemudian, ia membuka matanya sembari memanggilnya, "Miyano." dengan suara yang tegas. "Hal seperti ini… sudah lama kuinginkan." lanjut Shinichi dengan nada suara yang menunjukkan keinginan terdalamnya.
Shiho terkejut, apa yang barusan ia dengar?
IX.
Isn't it lovely, all alone
Heart made of glass, my mind of stone
Tear me to pieces, skin to bone
Hello, welcome home
"Tidak, Kudo! Ini sudah kelewatan batas! Kamu gila ya?! Kudo, kamu sudah punya kekasih! Aku tidak mau kekasihmu salah paham dengan apa yang terjadi di antara kita berdua!" teriak Shiho, berusaha mengendalikan akal sehatnya, tidak ingin dibutakan oleh cinta yang paling dalam di diri Shiho.
Shinichi memalingkan mukanya. "Miyano… sudah lama, sudah lama aku merasakan ada yang salah dengan perjalananku dan dia. Kupikir… aku tidak merasakan ikatan yang lebih dalam lagi dengan dia, Miyano." ucap Shinichi dengan pelan.
Shiho terkejut. "Yang benar saja, Kudo? Kamu sudah tujuh tahun berpacaran dengan Ran. Serius, Kudo!" sangkal Shiho. Ia tidak benar-benar mengerti apa yang dipikirkan detektif satu ini.
"Aku tahu. Tetapi setelah aku lulus wisuda dari Inggris, aku bekerja dengan kamu di Jepang sebagai partner berdua, aku tahu bahwa aku masih jalan dengan Ran karena Ran juga balik ke Jepang. Sepertinya… semakin banyak hari yang kita lalui… aku menyadari bahwa Ran bukanlah orang yang tepat untukku." tutur Shinichi yang sedari tadi berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaannya. Shinichi masih tampak kebingungan.
Tetap saja, Shiho menggelengkan kepalanya. "Kudo, apa kamu sadar, kamu masih dalam status dengan Ran? Aku bukan pelarian kamu. Kamu akan menyakiti hatiku, sekaligus hati Ran, jika kamu masih bimbang seperti itu. Aku benci sama hal ini." sangkal Shiho, yang sedari tadi berusaha menjaga akal sehatnya.
"Mungkin Ran yang menjadi pelarian bagiku." sangkal balik oleh Shinichi. Mata Shiho melebar, mendengar kata-kata tersebut.
Seketika, Shiho merasakan berada di dekat rumahnya. Rumah yang sudah lama ia inginkan, rumah di tengah padang rumput hijau dan langit biru kini terbentang luas di depannya. Rumah, adalah tempat yang nyaman bagi Shiho. Dengan sedikit langkah lagi, Shiho bisa mencapai rumah itu, sebagai tempat kepulangannya.
Tunggu. Pada saat yang sama, hati Shiho yang terbuat dari kaca, perlahan menjadi beling-beling. Beling lainnya, sudah lama Shiho ingin mendengar pernyataan seperti itu. Beling yang lain lagi, Shiho tidak ingin melukai perasaan Ran. Ironisnya, beling-beling tersebut melukai Shiho sendiri. Ya, Shiho sadar hal itu betul. Shiho segera mengubur perasaan terdalamnya, menjadikan logika sebagai tameng. Shiho tidak ingin prinsipnya, ideologinya, hancur lebur. Termasuk loyalitasnya sekalipun.
Shiho akhirnya mulai mengangkat masa lalu terhadap Shinichi, "Apa kamu tidak ingat? Delapan tahun lalu, ketika kamu sedang bahagia-bahagianya dapat beasiswa untuk kuliah di Inggris, kita sedang menyelidiki kasus perselingkuhan, kamu yang sendiri bilang bahwa kamu tidak mau menjadi laki-laki yang mengkhianati perempuannya." geram Shiho.
Shinichi terkejut mendengarnya. Shinichi sendiri tidak mengingat kejadian seperti itu pernah terjadi. Benar-benar, Shinichi tidak ingat pernah menyatakannya.
"Kamu bilang bahwa kamu akan selalu menjaga perasaan perempuan yang bersama kamu nanti. Kamu juga mengiyakan bahwa kamu akan selalu menjaga Ran, setelah kita bertemu kembali dan mengenalkan Ran kepada aku. Kamu pernah berkomitmen seperti itu, dan sekarang kamu seenaknya seperti itu? Aku tidak terima!" teriak Shiho.
Shinichi terdiam seribu bahasa, memutar memori-memori untuk memastikan apakah Shinichi pernah menyatakan hal-hal itu ke Shiho. Memori yang sangat lama… delapan tahun lalu.
Keheningan melanda mereka berdua. Gerak gerik tubuh Shiho yang cemas dari tadi, sesekali ia melihat kasur yang jelas tampak di depan mereka berdua, Shiho langsung kesal, ia sama sekali tidak ingin melangkah ke kasur itu untuk tidur berdua. Padahal Shiho terlalu capek hari itu. Shiho segera memikirkan solusi tentang ini. Shiho mampu menangani rasa cemburunya karena perlahan menerima keadaannya, tetapi Shiho tidak bisa membuat Ran merasakan hal yang sama dengannya. Shiho bisa melihat, bahwa Ran tidak bisa seperti Shiho. Beruntungnya Shiho, dianugerahkan logika yang dapat membungkam perasaan terdalamnya—yang padahal bisa saja Shiho memakai kesempatan ini untuk merenggut kebahagiaan Ran dari Shinichi—tapi, hal itu tidak akan dilakukan oleh Shiho.
"Oke, jadi begini saja. Aku harus pergi. Aku tidak bisa tidur denganmu. Kamu masih dalam status yang resmi, berpacaran dengan Ran. Aku ingin kita jaga jarak dulu. Untuk saat ini, kamu pecahkan kasus kriminalitas yang diminta, sendiri. Keadaan seperti ini tidak mendukungku untuk membantu kamu. Maafkan aku. Hanya satu saran dariku, kamu harus menyelesaikan masalahmu sendiri. Masalahnya ada di kamu sendiri, Kudo." Shiho segera bersiap-siap untuk menenteng kopernya.
"Jangan menambahkan masalah dengan lari dari masalahmu. Selesaikan semuanya sendiri. Mana yang kamu ingin pilih? Aku, atau Ran?" tegas Shiho sekali lagi, sebelum ia pergi meninggalkan Shinichi yang terdiam seribu bahasa.
X.
Walkin' out of town
Lookin' for a better place (lookin' for a better place)
Something's on my mind (mind)
Always in my head space
Shinichi sedari tadi tidak konsentrasi untuk memecahkan kasus. Shinichi terus berpikir. Langkah apa yang sebaiknya ia ambil? Apakah Shinichi melihat Ran sebagai pelariannya, atau justru melihat Shiho sebagai tempat tinggal yang seharusnya?
Shinichi terus memutar memori-memori yang dialaminya selama ini, di dalam kepalanya. Shinichi telah bersama dengan Shiho dari kelas sepuluh. Shinichi mampu membicarakan topik-topik yang bisa diterima oleh Shiho. Kerjaan Shinichi mampu diselesaikan oleh Shiho.
Intelektual Shiho yang tinggi, memikatnya terlalu dalam. Kesetiaan Shiho yang tinggi sebagai partner, membuatnya memikirkan Shiho terus, setiap hari. Hal itu membuat Shinichi tergoyahkan, ia tidak merasakan ikatan sedalam Shiho dengan Ran. Ya, Shinichi sudah merasakan ikatan yang paling dalam dengan Shiho dari SMA.
Shinichi bahkan mengajak Shiho untuk berkuliah sama-sama di Inggris, tetapi ditolak oleh Shiho. Penolakan itu menjadikan Shinichi menemui Ran sebagai pelariannya. Karena Shinichi terlalu kesepian tanpa Shiho di Inggris, pandangannya beralih pada Ran yang mampu mengisi hatinya… hanya untuk sementara.
Setelah Shinichi lulus dari universitas di Inggris, Shinichi pulang ke Jepang dengan Ran. Shinichi bertemu kembali dengan Shiho. Bertatapan muka kembali, bekerja setiap hari di laboratorium. Tentu saja, berjumpa kembali dengan seorang wanita yang pernah satu frekuensi dari SMA, membuat segalanya hidup penuh makna lagi. Membuat perasaan gejolak timbul di perut Shinichi lagi.
Kini Shinichi mengetahui jawabannya. Ia sangat membutuhkan Shiho. Tempat tinggalnya yang seharusnya.
"Benar. Aku harus menyelesaikan masalah." tutur Shinichi yang menarik perhatian sejumlah teman-teman kepolisian. "Ya, masalah kasus ini, Kudo?" balas salah satu polisi.
Shinichi tersentak, ia mundur dari pikirannya yang kalang kabut. "Maafkan aku! Mari kita fokus ke analisis kasus ini. Jadi, menurutku pemicu kejadian ini…" lanjut Shinichi yang kini berkonsentrasi kembali untuk memecahkan kasus, tanpa Shiho, dengan pacu jantung yang lebih kencang karena ia tidak sabar ingin menyelesaikan masalahnya sendiri, agar bisa dibantu Shiho lagi ke depannya.
XI.
But I know some day I'll make it out of here
Even if it takes all night or a hundred years
Need a place to hide, but I can't find one near
Wanna feel alive, outside I can't fight my fear
Smartphone Ran berdering, kemudian ia mengangkat telepon tersebut. Ia terhubung dengan Shinichi. "Ya, Shinichi? Bagaimana harimu di sana?" jawab Ran dengan tenang, seolah-olah… tidak berharap apapun lagi dari Shinichi.
"Ran, aku ingin berbicara sesuatu." pinta Shinichi dengan pelan. Nadanya lirih.
Keheningan melanda di antara mereka berdua. Ran tersenyum tipis, menahan untuk tidak menangis. "Shinichi, aku sudah tahu akan ke mana arah pembicaraan ini. Aku tahu semuanya." sahut Ran, dengan pelan. Perasaan yang sesak, mulai memenuhi dadanya. "Aku menunggu hari itu. Hari dimana… kamu meminta berpisah. Akhirnya tiba juga."
Shinichi terdiam sejenak. Kemudian ia menanggapi perkataannya, "Maafkan aku… Aku benar-benar minta maaf."
"Tujuh tahun. Sudah tujuh tahun kita menjalani bersama-sama. Selama tujuh tahun tersebut, aku tahu, aku tidak akan bisa memenuhi kebutuhanmu yang sebenarnya. Aku tahu, kamu lebih menginginkan Shiho. Iris matamu yang paling dalam, mengungkapkan segalanya." ungkap Ran yang berusaha tenang.
"Maafkan aku… Ran. Aku tidak sadar bahwa aku telah terpikat dengan Shiho sejak lama.." sahut Shinichi pelan.
"Tidak, tidak. Jangan lanjut lagi, Shinichi. Maafkan aku. Tetapi, kuhargai waktu yang telah kita jalani bersama selama ini, aku senang telah menjagamu untuk pulang ke Shiho lagi. Aku bisa melihat bahwa Shiho adalah wanita satu-satunya di hatimu, Shinichi. Aku berharap kamu bahagia selalu dengan Shiho setelah ini." tutur Ran pelan.
Shinichi hanya terdiam sedikit lama.
"Terima kasih sebanyak-banyaknya, Ran. Aku tidak menyangka bahwa kamu bisa sebijaksana ini, sepengertian ini. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu yang lebih pantas." balas Shinichi.
Ran tersenyum mendengarnya, akhirnya air matanya pecah. "Terima kasih kembali." balasnya, kemudian Ran menutup telepon tersebut sebelum suara isaknya jauh lebih terdengar oleh pria yang hanya melihatnya sebagai pelarian.
"Tujuh tahun… Ia tidak ingin menyentuhku sama sekali. Aku telah tahu, ada yang salah pada diri Shinichi Kudo." gumam Ran bernada purau, dengan air matanya yang kini mengucur deras. Ran yang berusaha untuk hidup penuh arti sebisa mungkin, tetapi akhirnya tidak bisa menghadapi ketakutannya sendiri. Tempat tinggal yang ia anggap untuk bisa pulang lagi, sebenarnya bukan pada Shinichi Kudo.
XII.
Isn't it lovely, all alone
Heart made of glass, my mind of stone
Tear me to pieces, skin to bone
Hello, welcome home
Shinichi menyelesaikan kasus di Amerika yang memakan waktu kurang lebih sebulan. Sepanjang waktu itu, Shiho tidak menghampirinya sama sekali. Tidak sama sekali. Walau begitu, Shinichi mendapatkan refleksi yang cukup dalam, selang seling dengan melaksanakan pekerjaannya agar tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan.
Sementara itu, Shiho meneguk kopi hitam di restoran. Tepatnya, restoran di dekat lokasi pekerjaan Shinichi. Walaupun Shiho tidak menemaninya, Shiho selalu mengawasi Shinichi dari jauh. Shiho tahu, Shinichi membutuhkan waktu sendiri untuk saat ini. Begitu pula dengan Shiho yang membutuhkan waktu sendiri, untuk merefleksikan segalanya.
Ran, di negara yang berbeda, bertemu dengan Sonoko. Di kediaman Sonoko, Ran mencurahkan segala perasaan yang mendesak dadanya selama ini. Ran tak kuasa menahannya lagi. Sonoko hanya mendengarkan curahannya. Sebagai sahabat yang menemani Ran dari kecil, sudah cukup bagi Ran, untuk membutuhkan setidaknya seorang yang mengerti Ran, walaupun itu bukan yang dimaksud oleh Ran selama ini.
Masing-masing pihak saling tersakiti. Hanya waktu akan menyembuhkan segalanya. Mendewasakan semua pihak. Menumbuhkan rasa kebijaksanaan di pihak masing-masing. Memberikan ruang untuk mencari jawaban yang sesungguhnya.
XIII.
Whoa, yeah
Yeah, ah
Whoa, whoa
Hello, welcome home
"Miyano, hubunganku dengan Ran sudah berakhir." Perkataan itu terlontarkan dari bibir Shinichi, sembari ia menatap iris Shiho dalam-dalam. Aah, wajah nan cantik yang ingin dilihatnya sehabis bangun tidur, setiap hari, selamanya kalau bisa, bagi Shinichi.
Shiho bergeming mendengarkannya. Kemudian ia mengambil cangkir kopinya, meneguknya. Saat ini, mereka berdua telah pulang ke Jepang setelah menyelesaikan kasus di Amerika—maksudnya, Shinichi yang menyelesaikan sendiri, namun tetap ditunggui oleh Shiho—dan sekarang dua orang yang sama-sama jenius itu, saling berhadapan, duduk di atas kursi kafe. Cahaya matahari yang hangat menyinari mereka berdua.
Shiho menaruh kembali cangkir kopinya, menghela nafas pelan. "Apakah kamu sudah menemukan jawaban dari masalahmu sendiri?" balas Shiho dengan tenang.
"Sudah. Dan jawabannya adalah… di depanku sendiri." jawab Shinichi, berusaha mati-matian untuk tidak senyum lebar. Ia tidak kuat melihat tatapan Shiho yang terlalu memukau. Terlalu cantik. Shiho hanya terdiam mendengarkan jawaban itu.
"Apakah Ran baik-baik saja?" tanya Shiho, sebelum lanjut mengutarakan keinginannya yang terpendam selama ini.
"Ran… sudah tahu tentang kita berdua. Ran sudah tahu bahwa aku lebih berpaling padamu, hanya saja aku tidak menyadarinya. Ran sudah tahu, aku sempat pergi ke dia untuk menjadikannya pelarian." balas Shinichi dengan pelan.
Shinichi mengambil nafas dalam-dalam, dan lanjut berkata lagi, "Ran mengatakan bahwa ia senang menjagaku untuk pulang lagi padamu, Miya… bukan, Shiho."
Akhirnya, Shiho tidak bisa menjaga sikap eksternalnya lagi. Perasaan aslinya, yang selama ini ia bungkam dengan rasionalitasnya, kini ia ekspresikan dengan sungguh-sungguh, "Ku—maksudku, Shinichi, aku telah mencintaimu selama sebelas tahun lebih, dan selalu mencintaimu, kedepannya. Awalnya aku ingin berpindah hati, tetapi tidak bisa…." tuturnya yang pelan, dengan jeda sebentar untuk memberikan ruang pada Shiho agar rasa bahagianya tidak terlalu meledak. Shinichi hanya terdiam mendengarkannya.
"Aku percaya. Aku percaya, Shinichi. kamu pasti berpaling padaku. Tak kusangka, ternyata hari ini tiba juga. Penantianku telah berakhir." lanjut Shiho yang sedang berbahagia.
Shinichi tersenyum, ikut bahagia melihat Shiho yang tak bisa membendung lagi rasa bahagianya. "Shiho, aku sangat berterima kasih… kamu menjaga prinsip yang sempat kulupakan… aku tidak ingin mengkhianati, dan akan selalu melindungi perempuan yang kusayangi. Dan kamulah orangnya. Aku tidak percaya— kamu menjaga prinsip itu, menggambarkan loyalitasmu yang begitu tinggi. Terima kasih banyak, Shiho." balasnya, jemari Shinichi bergerak untuk saling berkaitan dengan jemari Shiho.
Shiho menyungging senyum di raut wajahnya. Shiho bersyukur, semuanya terselesaikan baik-baik. Shinichi sudah keluar dari zona abu-abunya, Shiho yang berhasil membuat keputusan yang sulit, dan Ran yang mampu melihat cinta tulus mereka. Benar-benar, Shiho merasa sangat bersyukur, ia ternyata tidak melampaui batasnya untuk menyakiti pihak yang lain.
"Kita berdua selalu menjaga perasaan ini bersama-sama, selamanya." ungkap mereka berdua, dahi mereka kini bertemu. Jemari Shinichi yang semula berkaitan dengan jemari mungil Shiho, kini mengangkat dagu Shiho, kemudian jemarinya menjelajahi bibir mungil Shiho. Mereka menutup kelopak mata masing-masing, mereka merasakan kehangatan yang sudah lama mereka inginkan, melalui pertemuan kedua bibir mereka.
.
.
Kini mereka masing-masing sudah menemui tempat tinggalnya untuk saling pulang.
tempat tinggal yang mereka bisa pakai untuk saling bersandar.
tempat tinggal yang mereka bisa pakai untuk saling belajar, tumbuh, dan loyal.
tempat tinggal yang penuh cinta.
.
.
—Fin—
Akhirnya, part sebelumnya yang cukup memberikan cliffhanger selama tiga tahun, terjawabkan di part ini. Maafkan saya! Entah mengapa hanya satu-satunya fanfic ini yang masih tersisa di file saya, tapi fanfic lain (yang belum sempat di-publish di sini) hilang. Kayaknya hilang selamanya deh… :") padahal beberapa fanfic ShinShi nya ada yang ber-chapter (masih draft), tapi belum keburu publish disini. Sedih gak tuh. Tapi gapapa lah ya, ke depannya bakal ada fanfic one-shot tentang ShinShi kalau saya ada ide lagi. Terima kasih sudah membaca~ Terima kasih juga review-reviewnya! Sampai jumpa ^^
