Jujutsu Kaisen belongs to Gege Akutami

! Warning !

Mengandung konten BxB, OkkoIta, harem Yuji, semua orang suka Yuji, 18+, noncon, dubcon, NFSW, sedikit BDSM, yandere Yuta Okkotsu, possessive Yuta Okkotsu, pokoknya Yuta Okkotsu serem, maybe OOC, disini mereka anak sekolah biasa, gak ada kutukan, bottom Yuji, konten agak morally questionable, tolong jangan lanjut baca kalau anti sama hal-hal di atas ya.


Yuji Itadori.

Murid kelas satu SMA Jujutsu yang namanya mendadak populer di hari pertamanya bersekolah. Anak yang selalu tersenyum manis dan haik hati itu memang rajin menyapa orang-orang dan membantu mereka, tidak pilih kasih mau itu muda atau tua, guru atau murid, laki-laki atau perempuan. Ia sangat ramah pada semua orang. Belum lagi auranya yang positif dan wajahnya yang imut membuat semua orang ingin melindunginya.

Ia sangat populer, tak heran saat tanggal 14 Februari ia selalu mendapat cokelat, bahkan pernyataan cinta entah itu dari laki-laki atau perempuan.

Biarpun memiliki wajah yang manis, Yuji Itadori sangat kuat. Tenaganya lebih kuat 10 kali lipat dari manusia biasa. Ia bisa meninju dinding hingga bolong, ia bisa melempar bola sejauh 2 meter. Tak heran Yuji menjadi murid kebanggaan Pak Geto, guru olahraganya.

Benar-benar idaman.

Hanya saja, Yuji punya satu kelemahan.

Kebaikannya.

Ya, kebaikannya adalah kelemahannya.

.

.

.

Pagi itu, cuaca sedang mendung. Langit berwarna abu-abu, menunjukkan tanda-tanda sebentar lagi akan turun hujan. Angin yang dingin pun terasa menusuk kulit. Untunglah hari ini Yuji memakai jaket tebal, jadi ia tidak terlalu merasa kedinginan.

"Pagi, Itadori."

Yuji yang sedang membuka loker sepatunya menengok. "Pagi, Fushiguro." Balasnya sambil tersenyum lebar. Dilihatnya Megumi Fushiguro yang memakai jaket hitam berdiri di sampingnya.

Megumi terdiam, namun pipinya memerah dan ia merasa jantungnya berdegup agak kencang. "Hari ini kamu ada acara?"

"Acara?" Yuji menempelkan telunjuknya di pelipis, berpikir. "Enggak sih. Hari ini eskul libur gara-gara Pak Geto sakit."

"Nanti mau pulang bareng, kalau gitu?" Ajak Megumi.

"Tapi nanti aku ada ujian perbaikan bareng Pak Gojo..." Belum sempat menyelesaikan omongannya, Megumi langsung menyela.

"Nggak papa kok. Aku bisa nunggu."

"Oke! Nanti ketemu di depan gerbang ya!" Yuji memegang kedua tangan Megumi erat, yang tanpa ia sadari, membuat yang dipegang salah tingkah.

"Sampai nanti!"

Yuji berlari ke lorong sekolah sambil melambaikan tangannya pada Megumi, yang hanya dibalas senyum tipis.

Bruk!

"Aduh, maaf!"

"Yuji! Maaf, kakak nggak fokus! Kamu nggak papa?"

Yuji mendongak, menatap orang yang baru saja ia tabrak. Kak Choso, kakak kelasnya yang sangat dekat dengan Yuji, bahkan sampai menganggapnya adik.

"Aku nggak papa, maaf juga ya kak, aku tadi nggak hati-hati." Yuji menatap lekat-lekat kakak kelasnya sambil tersenyum, membuat Choso memalingkan wajahnya, bersikap seolah senyuman Yuji sangat menyilaukan.

"Ng?"

"Kenapa?"

"Kakak..." Yuji secara reflek memegang wajah Choso, membuatnya terkejut. "Kurang tidur ya? Matanya agak merah."

"I... Iya, belakangan ini kakak banyak tugas dan ulangan. Jadi waktu tidurnya kurang."

"Jaga kesehatan ya kak. Kalau ada apa-apa yang bisa kubantu, bilang aja, oke?"

Pipi Choso memerah. "... Oke."

Senyum Yuji melebar, ia memeluk Choso dan berkata, "Aku ke kelas duluan kalau gitu! Sampai nanti!"

Choso menatap punggung Yuji yang mulai menjauh.

"Adikku... Sudah dewasa..." Bisiknya dramatis.

.

.

.

Jam pertama adalah matematika yang diajarkan oleh Pak Gojo Satoru, guru paling menyebalkan (kata Nobara Kugisaki), paling aneh (kata Megumi Fushiguro) dan paling ingin dihajar (kata guru musik, Bu Utahime Iori). Tapi biarpun dia agak aneh, bagi Yuji Itadori, Pak Gojo tetap guru yang baik. Terakhir kali Yuji berkata begitu di depan Pak Gojo, guru itu mendapat benjol di kepala karena nyaris memeluk Yuji namun dipukul oleh Nobara.

Ngomong-ngomong soal Pak Gojo, entah kenapa dia belum masuk kelas juga, padahal sudah pukul delapan lebih. Sedangkan kelas akan berakhir pukul 9.15. Yuji bertopang dagu. Nobara sedang tertidur di mejanya sedangkan Megumi sedang sibuk mengajari anak-anak yang menanyakan materi.

"Eh, tau nggak? Katanya ada murid baru, loh."

Indra pendengaran Yuji menangkap murid perempuan yang sedang bergosip.

"Iyakah? Kelas berapa?"

"Katanya sih kakak kelas. Berarti dia kelas 2."

"Laki-laki? Siapa namanya?"

"Iya, laki-laki. Aku dengar dari kakakku sih dia ganteng loh. Tapi kantung matanya parah. Auranya juga... Agak serem."

Murid perempuan yang lain tertawa. "Ah, aura apaan? Emangnya dukun?"

"Aku nggak bohong. Ini kakakku yang bilang, dia sekelas sama anak baru itu. Terus anaknya juga misterius, seperti nggak bisa ditebak pikirannya." Ia menjeda kata-katanya sejenak. "Eh tapi kata kakakku dia pintar. Soalnya hari pertama sekolah, ulangan, langsung dapat 100."

"Wahh..." Terdengar suara kagum dari para murid perempuan yang bergosip.

"Ah. Kamu belum jawab pertanyaanku."

"Apa?"

"Siapa namanya?"

"Oh... Kalau nggak salah..."

.

.

.

"Yuta Okkotsu?"

Yuji membaca sebuah kartu pelajar di tangannya, yang ia pungut dari depan pintu kamar mandi. Terpampang wajah tampan seorang pria berambut raven dengan ekspresi datar yang bagi Yuji agak menyeramkan.

Perasaanku nggak enak. Kayaknya harus cepat-cepat kasih ini ke tempat barang hilang terus pergi.

Saat Yuji hendak pergi, seseorang berseragam putih dengan celana hitam menghadangnya. Yuji menatap orang itu.

Pria berambut segelap malam, dengan kantung mata yang cukup mengenaskan, tersenyum manis.

Mirip seperti pria di foto kartu pelajar yang ada di genggaman tangan Yuji.

Hening menyelimuti keduanya, sampai Yuji duluan yang memecah keheningan tersebut. "Oh, apa ini kartu pelajar punya kakak?"

"Betul." Ia menjawab sambil tetap mempertahankan senyum manisnya (yang entah kenapa Yuji tidak nyaman melihatnya).

"Oke, Kak Okkotsu, betul? Lain kali hati-hati ya!" Menepis segala pemikiran negatif, Yuji mengeluarkan senyum cerahnya, lalu menyerahkan kartu tersebut pada Yuta.

"Aku duluan ya kak!"

Yuji berjalan melewati Yuta setelah berpamitan. Yuta masih terdiam di tempat, tidak berbalik sama sekali. Ia menggam kartu pelajarnya dengan erat di dada.

"Yuji... Menyebut namaku." Ia berbisik, namun ada nada senang dibaliknya.

Lain kali, aku akan membuatmu menyebut nama depanku, Yuji.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N

... Saya bingung, intinya ini fanfic dibuat untuk memenuhi janji kalau tugas saya berhasil. Kalau gitu see u next chapter. Jika berkenan silahkan review, terimakasihh^^