Disclaimer: All characters are not mine.

Naruto [Masashi Kishimoto] High School DxD [Ichiei Ishibumi] Mobile Legends Bang Bang [MOONTON] Amagi Brilliant Park [Shoji Gatoh] Date a Live [Koshi Tachibana] Akame ga Kill [Takahiro]

Warning or Note: Ini fanfiksi Multi-crossover!


~Opening: Clattanoia by OxT~


Chapter: Murid Baru dan 88 Rasi Bintang.

Hari ini, di kelas 2B kedatangan murid baru. Semua siswa-siswi di kelas tersebut terdiam.

Di depan kelas mereka, berdiri seorang gadis memiliki ciri-ciri berambut hitam pendek dengan gaya Twintail dan bermata hitam. Dialah murid baru tersebut. Namanya.

"Namaku, Kurome Yuhi. Salam kenal semuanya," kata gadis itu sambil tersenyum. Semua siswi disana berkedip beberapa kali. Sedangkan, tiga siswa disana terdiam dengan mulut menganga.

"Kawaiii!!!" teriak trio mesum.

"Apa ada yang ingin ditanyakan kepada Yuhi-san, anak-anak?" tanya guru wanita di kelas tersebut.

"Saya, sensei!"

"Iya, Hyoudo-kun."

"Apa Yuhi-san sudah punya pacar??" tanya Issei dengan wajah berharap. Kurome tersenyum.

"Belum. Aku masih jomblo, kok," katanya.

"Yess!"

"Apa ada lagi yang ingin bertanya?"

Seisi kelas diam. "Tidak ada? Baiklah."

"Um, sepertinya tidak ada tempat duduk yang tersisa. Apa ada yang ingin berbagi tempat duduk dengan Yuhi-san?" tanya guru kepada seisi kelas.

"Saya, sensei." Seorang siswi berkacamata mengangkat tangan. Aika Kiryuu.

"Baiklah. Terima kasih, Kiryuu-san."

"Kamu tidak keberatan, Yuhi-san?"

Kurome menoleh. "Saya tidak keberatan, sensei."

"Kalo begitu, silakan duduk Yuhi-san. Sensei akan memulai pelajaran," kata guru wanita tersebut.

"Ha'i, sensei," kata Kurome sambil membungkuk pelan. Lalu setelah itu, ia berjalan ke tempat duduk siswi berkacamata bernama, Aika Kiryuu. Kurome tersenyum kepadanya. "Mohon kerja samanya, Kiryuu-san."

"Dengan senang hati, Yuhi-san," sahut Kiryuu.

Dan, pelajaran di kelas 2B pun dimulai. Hari ini pelajarannya, Bahasa Inggris. Guru yang mengajar mulai menjelaskan materi yang akan dipelajari. Terlihat semua siswa-siswi menyimak. Disisi Kurome. Ia sejenak melirik kebelakang. Pandangannya tertuju ke siswi bersurai pirang yang duduk di belakang Issei.

Kurome tersenyum tipis. "Akhirnya kita bertemu, Hime-sama," katanya dalam hati.


Matahari bersinar di puncaknya.

Di suatu hutan. Terdapat sebuah rumah besar berdiri disana. Di sekeliling rumah tersebut, dilindungi oleh sebuah kekkai tak kasat mata yang membuat orang luar tidak bisa melihat rumah besar tersebut. Namikaze Mansion.

Kini pandangan berubah, kesisi hutan satunya.

Kretak! Suara ranting retak.

"Umh, apa kau yakin merasakannya, Roger?" Seorang gadis baru saja bersuara. Di sebelah gadis tersebut. Seorang pria dewasa berjalan sambil menghisap cerutunya. "Iya."

"Walau agak samar-samar sih," lanjut si pria membuat sang gadis mendelik ke arahnya.

"Uhh, sudah kuduga kau pasti berkata seperti itu," keluh si gadis berkerudung merah.

Fuhhh~

"Jangan berkata seperti itu, Ruby. Disini bukan aku seorang yang merasakannya" Roger melirik sebentar gadis disebelahnya. "Kau juga merasakan auranya 'kan?"

Gadis yang memiliki dua kepribadian itu, menekukan kepala kebawah. "Iya memang. Dan, aku tidak bisa menyangkalnya. Hanya saja aku masih meragukannya."

"Lagipula, untuk apa Yang Mulia berada disini?"

"Kita akan tahu, setelah bertemu dengan beliau," ujar Roger.

Keduanya pun mulai berjalan kembali. Dan, sudah selama 20 menit berlalu, mereka bisa merasakan tempat yang mereka tuju semakin dekat. Tapi, mereka tidak bisa menemukannya.

"Hmn?" guman Roger berhenti. Begitu juga dengan Ruby. Keduanya menghentikan langkah saat merasakan auranya sudah sangat dekat.

"Disana, kah?" Kata Roger menatap ke arah depan. Disana terlihat beberapa batu besar tersusun rapi terbagi menjadi dua bagian, disisi kiri dan disisi kanan. Seperti sebuah gerbang.

Roger dan Ruby mulai berjalan ke depan. Begitu cukup dekat, Roger mencoba mengangkat tangan kanannya ke depan. Dan yang terjadi adalah tangan kanannya menghilang.

"Sebuah kekkai?" ujar Ruby.

"Begitu. Jadi kekkai ini yang menghalangi auranya." Roger menarik kembali tangan kanannya. "Ayo, Ruby. Kita masuk. Kemungkinan Yang Mulia sedang menunggu kita disana."

Ucapan Roger dijawab anggukan oleh Ruby.

Pemandangan hutan berubah ketika melewati kekkainya. Keduanya bisa melihat sebuah rumah besar di depan mereka.

"Selamat datang di Namikaze Mansion, Roger-san, Ruby-san," sambut seorang perempuan berambut hitam yang kini menundukan badannya. Dia mengenakan pakaian maid.

"Akame, lama tidak bertemu," sapa Roger.

"Hm, lama tidak bertemu, Akame." Ruby juga ikut menyapa.

Akame mengangguk. "Lama tidak bertemu. Ayo, ikuti saya. Yang Mulia, Naruto-sama sudah menunggu kalian," ucap Akame berbalik diikuti Roger dan Ruby di belakangnya.

Rasa gugup menyelimuti hati gadis berkerudung merah begitu sampai di ruang tamu. Ruangan yang sangat mewah. Terdapat empat buah sofa—satu diantaranya kini diduduki olehnya dan Roger—dan satu meja kayu besar di tengah.

Puk!

"Jangan tegang seperti itu, Ruby," kata Roger disebelahnya. Ruby hanya mengangguk.

Tak lama, orang yang ditunggu akhirnya datang. Seorang pemuda bersurai pirang emas mengenakan pakaian santainya—kaos berwarna oranye dan celana hitam pendek.

"Apa kalian menungguku lama?" kata pemuda itu yang memiliki nama lengkap, Namikaze Naruto.

"Ti-Tidak masalah, Yang Mulia. Ka-Kami juga ba-baru saja sampai," kata Ruby dengan suara agak terbata-bata. Rasa gugup telah membuat bicaranya agak berantakan.

Naruto tersenyum. Ia melirik Akame di sebelahnya. "Akame bisa siapkan makanan dan minuman untuk mereka berdua?" Roger tampak biasa saja, berbeda dengan Ruby yang terlihat agak keberatan. "Ya-Yang Mulia..."

Tapi, Ruby tidak memiliki kuasa untuk menolak.

"Ha'i, akan saya siapkan," kata Akame lalu berlalu ke arah dapur. Ruby sedikit meliriknya.

"A-ah, aku akan membantumu, Akame."

Roger menghela napas melihat kegugupan rekannya. Ruby sedikit lain dari biasanya. Ketika bertarung, sifatnya berubah menjadi sadis. Ketika tidak bertarung, dia lebih tenang dan pendiam. Tapi sekarang, di hadapan-Nya. Ruby terkesan seperti orang pemalu pada umumnya. Mungkin karena orang yang dihadapan mereka saat ini adalah seorang raja.

Roger menatap Naruto dengan pandangan gemetar ketika merasakan aura kharisma nya yang begitu kuat. "Ya-Yang Mulia..."

"Jangan formal seperti itu, Roger. Kita saat ini tidak ada di Sanctuary. Kau bisa memanggilku, Naruto saja," ucap Naruto tenang.

"Ha-Ha'i, Naruto-sama."

Tak lama kemudian. Akame dan Ruby telah kembali dari dapur. Akame membawa makanan. Dan Ruby membawa minumannya. Mereka berdua lalu meletakannya di atas meja.

"Si-silakan dinikmati," ujar Ruby.

"Kenapa kamu berdiri disana, Ruby? Ayo duduk dan nikmati makanannya," kata Naruto bingung melihat gadis berkerudung itu yang tampak berdiam diri di sebelah Akame sambil membawa nampan.

"I-Iie, saya rasa disini saja Yang Mulia. Biar Roger saja. Saya merasa tidak pantas berada disini," jelas Ruby tersenyum kikuk. Roger mendelik "Sialan kau, Ruby!" batin Roger kesal.

"Jadi, kenapa Anda ada disini, Naruto-sama? Bukannya, Anda seharusnya ada di Sanctuary?" tanya Roger. Sedangkan Akame dan Ruby diam menyimak. Naruto tersenyum.

"Saat ini, Sanctuary sudah kupercayakan pada para Guardian dan Kaguya. Sedangkan aku disini untuk menjemput adikku," jelas Naruto.

"Maksud Anda, Naruko-hime?" tanya Roger memastikan dan dijawab anggukan oleh Naruto.

"Iya."

"Tapi sepertinya ia lupa ingatan. Jadi aku tidak akan membawanya sekarang. Akan kutunggu sampai ingatannya pulih kembali," kata Naruto.

Naruto tersenyum. "Selain itu. Aku akan menikmati waktuku di dunia ini."

"O-oh, begitu."

"Apa hanya kalian yang mengawasi wilayah ini?" tanya Naruto menatap Roger dan Ruby bergantian. "Ha'i." Roger dan Ruby mengangguk.

"Yang lainnya sudah berpencar ke tempat lain."

"Oh, souka?"

—Yang dibicarakan oleh Naruto adalah tentang keberadaan para Ksatria Bintang yang sudah ia utus untuk mengawasi keadaan dunia. Ada 88 Ksatria Bintang. Tapi, 12 diantaranya adalah para Guardian. Jadi ada 76 Ksatria Bintang di dunia.

Roger, Ksatria Bintang dari Konstelasi Canes Venatici—si Anjing Pemburu. Lalu, Ruby Ksatria Bintang dari Konstelasi Lupus—si Serigala.

Naruto mengangguk "Baiklah."

"Bisa kalian memberitahu ku tentang wilayah ini? Seperti; siapa penguasanya? Dan siapa saja yang menghuni willayah ini?" tanya Naruto.

"Akan saya jelaskan," jawab Roger.

"Wilayah ini bernama kota Kuoh. Kota yang dikuasai oleh dua Iblis Kelas Atas dari Underworld, Iblis Gremory dan Iblis Sitri."

"Apa mereka penguasanya?" tanya Naruto.

Roger menggeleng. "Mereka bukan penguasa sesungguhnya. Penguasa dari Kota Kuoh adalah para Dewa-dewi dari Mitologi Shinto. Para iblis hanya meminjamnya setelah mereka diberi izin oleh para penguasa tanah Jepang."

Naruto menyipitkan matanya saat mendengar nama Mitologi Shinto. Apakah mereka? Setelah Naruto sampai disini. Belakangan ini ia merasa tempat tinggalnya saat ini tengah diawasi.

Mungkin kah dari Iblis?

"Apa menurutmu, para Iblis penguasa Kota Kuoh ini bisa menemukan tempat ini?" tanya Naruto memastikan.

"Sepertinya tidak, Naruto-sama. Walau saya menjelaskan mereka itu Iblis Kelas Atas, tapi mereka hanya para Iblis pemula yang baru mengenal dunia. Jadi, saya rasa tidak bisa. Kecuali, mereka memiliki insting yang tajam," jelas Roger menguatkan asumsi Naruto.

"Hanya dari Mitologi Shinto yang memungkinan mampu menemukan tempat ini, hm tapi saya rasa masih ada satu orang lagi," kata Roger menarik perhatian Naruto. "Siapa?"

"Azazel. Dia adalah Pemimpin dari Malaikat Jatuh. Dia seorang veteran perang ketika Great War. Saat ini dia ada di Kuoh. Kemungkinan dia juga bisa menemukan tempat ini," jelas Roger.

Azazel? Naruto memegang dagunya. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Naruto sedikit berpikir, hingga ia mengingat seseorang. Seorang Guardian yang menempati Lantai Ketujuh.

"Lunox?" panggil Naruto.

"Ha'i, Naruto-sama?"

Roger, Ruby, dan Akame memandang Naruto bingung. Karena Naruto tampak diam sambil memandang meja. "Naruto-sama?" Roger berusaha memanggil Naruto, tapi tak dijawab olehnya. Karena saat ini Naruto sedang berkomunikasi dengan Lunox lewat telepati.

"Apa kamu mengenal, Azazel?" tanya Naruto.

"Hm, Azazel. Ya saya mengenalnya. Dia adalah orang yang saya minta untuk melindungi Naruko-hime. Ano, Naruto-sama. Bukankah saya sudah pernah menceritakan ini sebelumnya?"

"Hehehe, aku lupa," jawab Naruto.

"Ha'i, apa hanya itu saja yang ingin anda tanyakan?" ucap Lunox bertanya.

"Hm? Oh iya, iya hanya itu saja. Terima kasih, Lunox," kata Naruto. Lunox tertawa kecil.

"Hihihi, mendengar anda berterima kasih. Membuat saya malu, Naruto-sama. Tapi disisi lain, saya juga merasa senang karena bisa membantu anda," ungkap Lunox.

"Hm, senang mendengarnya," ujar Naruto.

Pembicaraan pun usai. Ketika Naruto memutus telepatinya dengan Lunox. Saat ini sudah kembali. Ia sadar beberapa pasang mata memandangnya bingung. Naruto tersenyum.

"Roger."

"Ha'i, Naruto-sama."

"Dimana kita bisa menemui, Azazel?" tanya Naruto. Sebuah ide terlintas dibenaknya.

"Yang saya tahu. Azazel selalu menyendiri sambil memancing di tepi sungai," jawab Roger.

Bingo! Naruto tersenyum.

Tepat, seperti yang pernah diceritakan oleh Lunox. Sepertinya ia berencana untuk menemui si pemimpin Malaikat Jatuh. Naruto memandang Roger dan Ruby secara bergantian.

"Roger, Ruby." Naruto memanggil keduanya. "Aku memiliki tugas untuk kalian."

"Ha'i!"

Naruto menyeringai. "Tugas kalian adalah ..

... menyerang, Azazel si Malaikat Jatuh."


Teng! Tong! Teng!

Kuoh High School.

03 : 00 PM.

Bel berbunyi. Menandakan jam pelajaran telah usai. Ada yang bersorak ria. Terutama dari kaum laki-laki yang paling banyak berharap untuk pulang. Eh, pulang? Yap, bel tadi adalah bunyi berakhirnya jam sekolah. Dan waktu untuk para siswa-siswi untuk pulang.

Di kelas 2B. Tiga orang laki-laki—Hanya mereka saja laki-laki di kelas itu—tampak terburu-buru memasukan alat pelajaran mereka. "Ayo, cepat. Matsuda, Issei. Aku ingin cepat-cepat ingin pulang dan nonton bokep sepuasnya."

Sebagian siswi menatap tajam Motohama setelah mendengar ucapannya.

"Sabar dikit, mamang! Ini juga aku sudah cepat. Oi, Issei cepatlah. Kau ingin ikut nonton apa tidak?! tanya Matsuda yang melihat Issei cukup lama memasukan alat-alat pelajarannya.

Issei tersentak.

"Etto, gimana, ya? Tadi buchou sudah memanggilku. Tapi, aku juga ingin ikut nonton bokep," kata Issei sedang berpikir. Ia lalu menjambak rambutnya. "Arghhh, sial!"

"Baiklah, aku ikut!" Issei lalu menatap gadis pirang di belakangnya. "Asia, Hari ini aku tidak bisa ikut ke ruang klub. Beritahu buchou, aku tidak bisa datang karena ada masa depan sedang menungguku. Oke?" kata Issei.

"E-eh, ta-tapi—

Kata-kata Asia terpotong. Ketika.

"Kumohon." Issei memohon dengan wajah memelas.

"Ba-baiklah, kalo begitu," kata Asia menyerah.

"Arigatou. Teman-teman! Ayo kita pergi!" teriak Iseei kepada Matsuda dan Motohama. "Yeah!" Ketiga laki-laki itu pun berlari keluar dari kelas.

"Mou, Issei-san." Asia cemberut.

"Mereka semangat sekali."

Asia terkejut. Dia lalu melihat teman sekelas berjalan ke arahnya. "Yuhi-san!?"

Kurome tersenyum. "Jangan panggil aku gitu, dong. Panggil aku Kurome, Oke?"

"Ha-Ha'i, Ku-Kurome-san," ujar Asia.

"Bagus. Dan aku akan memanggilmu, Asia." Kurome tersenyum manis. "Ngomong-ngomong, apa setelah ini kamu ada waktu? Kita jalan-jalan, yuk?"

"Se-setelah ini a-aku harus pergi ke ruang klub. Ma-maaf, Kurome-san," jelas Asia dengan nada gugup lalu membungkukan badannya.

"Oh, begitu ya. Ya, sudah ga apa-apa. Mungkin lain kali saja," kata Kurome menampakan ekspresi kecewa. Asia lalu meminta maaf untuk kedua kalinya dan mulai melangkah keluar kelas.

"Sa-sampai jumpa besok, Kurome-san."

"Ya, sampai jumpa lagi besok, Asia-hime," ucap Kurome dengan sengaja menambahkan suffiks-hime di akhir nama Asia. Si gadis pirang tampak menghentikan langkah di depan pintu kelas. Asia berbalik dengan wajah merona malu.

"Ja-jangan memamanggilku seperti itu," katanya lalu beranjak pergi meninggalkan kelas.

Kurome tersenyum tipis. "Sifat Hime-sama tidak pernah berubah. Pemalu, sama seperti dulu," kata Kurome spontan. Untung semua teman kelasnya sudah pulang. Bisa gawat jika ada yang tahu, kalau dirinya mengenal Asia.

Kurome lalu mengambil tas di mejanya dan mulai melangkah keluar. Tapi, langkahnya terhenti ketika Tuannya memanggilnya lewat telepati.

"Hai'i, Naruto-sama?"

Kurome terdiam sambil mendengarkan pesan Tuannya. Ia menyimak dengan baik. Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas. Dia tersenyum lalu setelahnya Kurome menyeringai.

"Ha'i, sesuai perintah anda, Naruto-sama."


Meanwhile.

Seorang pria dengan ciri-ciri rambut berwarna hitam berponi kuning sedang duduk di tepi sungai. Kedua tangannya memegang erat alat pancingannya. Setetes keringat mulai jatuh di pelipis. Sedari tadi, bulu kuduknya pria itu menegang ketika merasakan aura tidak mengenakan dibelakangnya. Nama pria itu, Azazel.

Azazel menengadah langit. Cahaya matahari mulai menghilang. Kini hari sudah mulai berganti malam. "Ada apa dengan hari ini?" ujarnya.

Azazel menengok kebelakang. Pandangan matanya menangkap empat sosok berdiri disana. Seorang pria membawa pistol besar, gadis berkerudung merah membawa sabit, perempuan berambut hitam bersenjata pedang, dan terakhir gadis menyeringai sambil membawa pedang.

"Siapa kalian?" ucap Azazel bertanya.

Tapi tidak mendapat jawaban. Dan setelahnya kegelapan memenuhi indera penglihatannya.

To Be Continued


~Ending: L.L.L. by Myth and Roid~


"Let it go! Let it go! Can't hold you back anymore! Let it go! Let it go! Turn my back and slam the door! And here I stand! And here I'll stay! Let it go! Let it go! The cold never bothered me anyway!"

Author Note: Wah, akhirnya aku balik lagi melanjutkan fanfiksi ini. Rasanya lega sekaligus senang. Lega, karena aku kembali ke penulisan biasaku. Setelah kemarin membuat fanfiksi dengan penulisan amburadul. Tahukah kalian? Jiwa perveksionis ku kambuh dan menyuruhku kembali ke penulisan biasaku. Rapi.

Lalu, senang. Karena di chapter kali ini bisa membuat word 2k tanpa beban sama sekali. Ya, kecuali kelelahan tentunya. Hahahaha.

Disini, ga banyak yang bisa dibahas. Di atas sudah dijelaskan beberapa. Seperti; Kemunculan dua karakter baru, Roger dan Ruby yang diambil dari game moba yang cukup populer di Indonesia, Mobile Legends Bang Bang. Lalu, tentang 88 Ksatria Bintang. Untuk siapa saja, aku akan ambil beberapa karakter game ML.

Di chapter depan sudah ada bayangannya 'kan?

Ah, terakhir. Terkait keinginanku di chapter sebelumnya. Membagi word dari 2k menjadi 1k itu sepertinya akan aku pikirkan ulang. Ini baru kemungkinan sih, jadi bisa tetap atau bisa saja berubah. Tergantung mood nya nanti, sih.

Oke, cukup segitu aja. Kalo ada yang berkomentar, mereview, berbicara, atau yang lain sebagainya. Aku berterima kasih. Itu berarti aku tidak sendirian di fanfiksi ini. Alright!

Terima kasih sudah membaca!