Chapter ini banyak typo karna bikin di HP.
.
.
.
Pagi harinya Levi dibangunkan oleh suara bell pintu depan yang nyaring. Dengan enggan dia membuka mata. Pagi itu tubuhnya terasa sakit dan pegal-pegal. Kepalanya juga pusing. Dia terduduk ditempat tidur untuk beberapa saat mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin dan Oh otaknya masih lancar mengingat setiap detail kejadian bak mimpi buruk itu. Mengingat kejadian kemarin tampaknya lari maraton bukanlah keahlianya dan sangat tidak cocok dilakukan oleh pria berkepala tiga sepertinya. Menghela napas Levi beranjak bangun dari tempat tidur. Terseok-seok dengan tubuh lemas dan wajah suram dia membuka pintu kamarnya. Seekor anjing kecil berlari gembira kearah kakinya. Levi mengabaikan anjing itu dan segera menghampiri pintu depan dimana bell pintu tak henti-hentinya berbunyi nyaring.
"Hallo! Ohayou! Levi!" Sapa Hanji riang gembira.
"Hm." Gumam Levi sebagai balasan.
Hanji memperhatikan penampilan Levi yang sangat berantakan dan mengenaskan itu.
Pria itu memakai kemeja kemarin. Tapi kemejanya kotor sekali dan ada noda merah di bagian siku.
"Apa yang terjadi padamu!" Tanya Hanji shock.
"Aku baik-baik saja."
Hanji menggeleng dengan ekspresi dramatis yang menyebalkan. Dia meneliti Levi dengan seksama seolah-olah tidak mempercayai ucapan pria itu.
"Apa kau berkelahi?" Tanya hanji menyimpulkan.
Levi mendorong bahu wanita itu menjauh.
"Tidak seperti yang kau pikirkan."
"Lalu apa?!" Tuntut Hanji tajam. Dia sekarang terlihat marah dan tidak berniat melepaskan Levi sebelum mendapat jawaban yang masuk akal.
"Wof wof " tiba-tiba sebuah suara gonggongan diantara kaki Levi mengintrupsi keduanya. Bola mata Hanji melebar melihat gunpalan putih itu bergerak-gerak menggoyangkan ekornya didekat kaki Levi.
"Anjing siapa ini?" Tanya Hanji bingung.
Levi tidak menjawab tetapi berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Dia sangat haus sekali. Hanji membopong anjing kecil itu mengikuti Levi. Ekspresinya luar biasa gembira dan bangga.
"Anjing manis ini apakah punyamu? Apa sekarang kau suka hewan?" Tanya Hanji penasaran.
Levi meletakan gelasnya di meja dan menatap wanita itu dengan ekspresi sebal.
"Menurutmu?"
"Anjing ini sepertinya menyukaimu."
"Bawalah jika kau suka." Kata Levi acuh tak acuh.
"Eh mana bisa begitu!" Hanji cemberut.
"Aku berikan."
"Tidak mau." Tolak Hanji.
"Kenapa?"
"Jika aku ambil kau akab kesepian. Benar bukan?"
"Tidak." Elak Levi dengan nada dingin.
Hanji menghela napas. Meletakan anjing itu kembali ke lantai dan menarik kursi makan.
"Aku akan bersiap." Kata Levi hendak pergi tapi Hanji menarik tanganya.
"Apa kau terluka karena menyelamatkan anjing kecil itu?"
Levi tidak menjawab.
Hanji mengulas senyuman manisnya.
"Mandilah. Aku bantu obati lukamu."
"Levi melepaskan lengaya. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Aishhh keras sepala." Gerutu Hanji ketika Levi berjalan pergi.
Wanita itu kembali bermain dengan dengan anjing yang menurutnya lucu itu.
"Siapa namamu anjing kecil?"
"Woff..."
"Ahhh... pasti si cebol itu belum memberimu nama bukan?" Tanya Hanji berseri-seri.
"Woff...?" Anjing kecil itu memiringkan kepalanya dengan lucu.
Hanji menatapnya dengan perasaan gemas.
"Bagaimana kalau James? Esmeralda? Jackie? Hm... Apa ya..." Hanji berpikir keras sambil menyebutkan nama yang muncul dibenaknya.
Tanpa wanita itu sadari sesosok bocah memperhatikanya dari lantai 2. Eren sejak tadi memperhatikan Levi dan Hanji. Eren tidak suka wanita itu ingin memberi nama anjingnya Levi. Memangnya siapa dia! Sie Levilah yang seharusnya memberi nama anjing itu karena anjing itu kan milik sir Levi. Dengan perasaan kesal dan cemburu Eren menghampiri Hanji. Anjing kecil melihat Eren datan seketika menyalak dengsn gembira. Dia berlari-larian mengelilingi Eren seolah-olah sedang mengajaknya bermain.
"Hei... Kenapa kau berputar-putar seperti itu?" Tanya Hanji bingung.
"Jangan beri dia nama! Hanya sir Levi yang boleh memberi dia nama!" Kata Eren marah.
"Ah! Jangan-jangan kau berputar-putar seperti itu karena suka dengan nama yang aku berikan ya? Baiklah mulai sekarang aku akan memanggilmu Deodora!" Hanji menyimpulkan.
Eren melotot horror. Nama macam apa itu? Itu tidak cocok untuk anjing!
"Tidak jangan nama itu!" Teriak Eren protes. Tapi tentu saja Hanji yang tidak peka tidak dapat mendengarnya. Dia malah mengambil anjing kecil itu dan menggendongnya.
"Kyaaa! Kau lucu sekali sih!" Jerit Hanji memeluk anjing kecil itu dengan gemas.
Levi yang telah selesai bersiap-siap. Dia muncul dari kamarnya dengan pakaian lebih rapi dan bersih. Dia juga sudah membawa tas kerjanya.
"Ayo pergi." Kata Levi menghampiri Hanji.
Wanita berkacamata meletakan anjing dipelukanya dilantai dan menyeret paksa Levi untuk duduk di kursi.
"Apa yang kau lakukan?" Levi bertanya dengan nada jengkel.
Hanji menatap pria itu tajam dan dengan paksa menggulung kemeja Levi. Dia masih mencrmaskan lengan Levi yang terluka.
Wanita itu tampak tertegun melihat luka itu sudah dibalut kapas dan perban dengan rapi. Tampaknya Levi benar-benar melakukan perawatan pertama dengan baik. Dengan setengah hati Hanji melepaskan lengan pria itu dan berdiri dengan canggung.
"Baiklah sepertinya kau baik-baik saja jadi aku akan diam." Hanji berkata dengan setengah hati
Levi menghela napas merapikan kembali lengan kemejanya yg kusut dan menyeret Hanji segera pergi karena mereka sudah terlambat untuk kelas pagi Levi.
.
.
.
Levi telah selesai denga kelasnya. Dia keluar paling pertama dari ruangan dan anehnya hari itu untuk pertama kalinya dia tidak melihat Eren menunggunya di depan kelas. Pagi tadi Levi tidak memperhatikan karena yang ada dipikiranya adalah dia sudah terlambat untuk kelas pagi. Dia bahkan memaksa hanji untuk ngebut.
"Sir Levi kenapa?" Tanya seseorang yang keluar kelas setelah Levi.
Levi menoleh dan melihat mikasa.
"Tidak." Kata Levi. Mengabaikan gadis itu dia berjalan menuju kantornya. Petra sedang membaca sesuatu di komputernya ketika Levi datang.
"Selamat siang sir." Petra seketika berdiri dan membungkuk hormat.
"Hm." Gumam Levi sebagai balasan. Dia melangkah menuju kantornya baru hendak membuka pintu tapi petra bersuara.
"Hari ini Eren tidak datang?" Tanya Petra heran.
Levi berbalik mengedikkan bahu.
"Sepertinya dia telah berjanji padaku untuk tidak membuat masalah."
Petra tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu kebetulan ada hal yang ingin aku katakan pada sir Levi. Ini tentang Eren."
Levi menangguk. Dia memutar knop pintu ruanganya.
"Ayo bicarakan ini diruanganku." Kata Levi.
Perta mengikuti pria itu.
Levi mempersilakan petra duduk disofa nyaman diruanganya dan dia duduk beberapa meter dsri gadis itu.
"Jadi apa yang ingin kau katakan?"
Petra menghela napas.
"Sir apa kau ingin mengelamatkan Eren?"
Kening Levi mengernyit.
"Kenapa?"
"Untuk sekarang Eren memang hanyalah Roh. Tapi dia bukanlah roh orang mati. Tubuhnya ada disuatu tempat sekarang. Roh yang berpisah dengan tubuhnya tidaklah bisa bertahan lama. Jika dia tidak segera menemukan tubuh aslinya dia bisa mati."
Levi mendengarkan dengan raut berpikir untuk beberapa saat. Petra hanya mengamati pria itu dalam diam.
"Apa menurutmu dia punya keluarga yang menunggunya?"
Petra tersenyum mendengar pertanyaan yang terkesan polos itu.
"Mungkin saja?" Petra mengedikkan bahu.
.
.
.
"neee neee ojisan apa okaasan belum pulang?" Tanya Armin menarik lengan jas pelayan dirumahnya. Pria paruh baya yang ditanya hanya bisa memasang senyum profesionalnya.
"Belum tuan muda. Sepertinya beliau akan telat pulang."
Jawaban itu membuat Armin menggembungkan pipinya merajuk.
"Padahal okaasan sudah janji untuk mengajakku membeli peralatan lukis."
"Bagaimana jika pesan online saja tuan muda?" Tawar pelayan tua itu.
Tapi Armin menggeleng tegas .
"Tidak mau. Aku hanya mau membelinya bersama Mama."
Pelayan tua itu hanya membungkuk sebagai isyarat mengerti.
Armin menghela napas panjang dan berjalan ke halaman belakang.
Bocah itu duduk dibangku taman dengan wajah murung dan kepala menunduk dalam.
Suasana sekitarnya yang tenang membuatnya merasa semakin kesepian dan sedih. Kenapa sih ibunya harus membuatnya kecewa. Padahal Armin sangat menantikan hari ini. Semakin dia dewasa ibunya seolah tidak memperhatikanya lagi. Ibunya sering bekerja lembur dan pulang telat. Armin rindu saat ibunya hanya dirumah seperti saat Armin belum masuk sekolah.
Huftrttt... Armin menghela napas panjang. Dia mendongak untuk menatap rimbunya dedaunan pohon diatasnya dan silaunya sinar matahari diantara celah-celah daun yg hijau.
Tiba-tiba suara berisik datang dari semak-semak dibelakangnya. Armin refleks terkesiap dan mundur dengan ekspresi waspada.
Tapi suara itu mendadak hilang. Suasana hening lagi. Membuat bocah itu kebingungan sesaat. Dia takut tetapi penasaran dengan suara itu. Perlahan-lahan dia memantapkan diri untuk melihat apa kiranya asal suara berisik itu.
Bocah itu mengendap-endap sambil tetap menjaga jarak berjinjit untuk melongok ke belakang semak-semak.
Tapi keningnya mengernyit melihat seekor anjing berwarna hitam meringkuk dibelakang semak-semak dan kakinya tampak terluka.
Melihat itu Armin seketika menurunkan kewaspadaanya dan berjalan menghampiri anjing malang itu.
"Anjing malang. Apa yang terjadi padamu?" Armin mendekati anjing itu dengan sedih. Dia berjongkok dan mengelus bulu di kepala anjing hitam itu. Membuat mahluk itu membuka matanya perlahan.
Armin tiba-tiba membeku mendapati anjing itu bermata merah. Anjing yang aneh. Arminpun mundur perlahan sampai tubuhnya menabrak pagar belakang. Anjing hitam yg terluka itu perlahan-lahan bangkit dan yang membuat armin gemetaran adalah melihat ukuranya yang sekarang sangat tinggi dan besar. Mahluk itu seolah dapat memakan Armin dengan satu kali gigitan utuh.
Armin ingin menjerit meminta tolong tapi anjing itu dengan cepat melompat kearahnya sebelum Armin membuat suara apapun
.
.
.
Levi tiba dirumahnya agak larut karena dia harus mampir dulu ke toko hewan peliharaan untuk membeli makanan anjing. Kepribadian perfeksionisnya membuat dia ekstra hati-hati membaca satu demi satu kemasan makanan anjing membuatnya menghabiskan banyak waktu. Tapi dia tidak menyesal karena sepertinya anjing kecil yang dipungutnya sangat menyukai makanan yang dia berikan. Anjing kecil itu memakan lahap pakan anjing basah itu.
"Wah... Sepertinya dia sangat menyukainya." Komen sebuah suara kekananakan.
Levi menatap Eren yang berbinar-binar melihat anjing kecil itu makan. Bocah itu berjongkol disebelah Levi dan mengamati anjing kecil yg sedang makan itu sambil tersenyum-senyum.
"Sir akan memberinya nama apa?"
"Kau bisa memberinya nama jika kau ingin."
"Benarkah?" Eren menatap Levi tak percaya.
"Terserah."
"Karena dia berwarna putih aku akan memberinya nama shiro. Bagaimana?"
"Aku tidak peduli." Kata Levi kemudian berjalan pergi. Eren mengekori pria itu.
"Jika sir Levi tidak menyukainya aku bisa mencari nama lain." Kata Eren bersemangat.
"Kalau begitu teruslah berpikir." Katanya cuek. Dia berjalan kekamarnya dan mendapati ponselnya bergetar ditempat tidur. Ada nama hanji yg terpampang jelas dilayar. Dengan hati ringan tanpa curiga Levi menerima panggilan itu.
"Ya?"
"Levi? Apa Armin ada disitu?" Tanya Hanji terdengar resah.
"Tidak. Kenapa?"
"Sejak tadi sore sampai sekarang dia belum pulang!"
"Jelaskan kronologinya."
"Intinya armin hilang. Kami tidak bisa menemukan dia dimanapun. Aku sudah mencarinya disekitar rumah. Pelayan bilang dia sudah pulang dan bermain dihalaman belakang. Tai ternyata tidak ada disana. Aku mencoba mencarinya ke sekolah siapa tau dia kembali kesana. Tetapi guru mereka bilang bahwa Armin sudah pulang. Tidak ada yg tau dimana dia. Huhu... levi bagaimana ini." Hanji terdengar menangis.
Levi kehilangan kata-katanya.
"Aku akan membantu mencarinya. Kau sudah telepon polisi kan?"
"Polisi tidak bisa membantu karena dia hilang belum 24 jam. Aku takut dia kenapa-napa."
"Baik aku mengerti. Aku akan ikut bantu mencarinya. Akan aku telepon jika sudah menemukanya."
"Tolong ya."
Bip.
Selepas itu Levi meraih jaketnya dan tergesa-gesa berjalan melewati Eren. Bocah itu menatap Levi dengan kebingungan.
"Sir Levi mau kemana? Ini sudah larut." Kata Eren.
Levi mengacuhkan bocah itu dan berjalan ke pintu depan. Eren tidak menyerah dan menarik lengan jaket pria itu membuatnya berhenti tiba-tiba.
"Sir Levi jangan keluar. Apa anda tidak ingat insiden kemarin? Monster itu masih ada diluar sana. Diluar berbahaya."
"Lepaskan Eren."
"Tidak. Sir Levi tidak boleh keluar."
"Berhenti bersikap menyebalkan."
"Tidakkkk pokoknya sir Levi tidak boleh pergi."
"Kau ini-"
"Tok tok tok."
Suara ketukan pintu menghentikan pertikaian keduanya. Levi menghempaskan lenganya kuat-kuas hingga tangan Eren terlepas dan membuka pintu. Tubuhnya membeku melihat sosok bocah mungil dengan surai kuning berdiri didepan pintu.
"Armin!" Kata Levi terkejut.
"Konnichiwa." Kata Armin dengan ekspresi kosong.
Levi menghela napas panjang.
"Kemana saja kau dari tadi? Hanji mencarimu."
"Ah? Maaf aku hanya bermain sebentar kok. Lalu mampir kesini."
"Masuklah biar aku telepon hanji."
"Ehm." Armin mengangguk dan masuk dengan patuh.
Eren mengamati bocah pirang itu masuk dan terkesiap ketika Armin menatapnya dan tiba_tiba menyeringai menyeramkan. Eren seketika punya perasaan buruk.
"Sir Levi! Jangan biarkan dia masuk! Dia jahat!" Teriak Eren menunjuk-nunjuk Armin.
Levi menatap bocah itu tak suka.
"Sir Levi. Dia itu aneh. Sir Levi harus percaya padaku!"kata Eren lagi. Tapi Levi mengabaikanya. Pria itu malah sibuk dengan ponselnya dan menelepon Hanji.
Sedangkan Eren menatap Armin yg masih berdiri didepan pintu dengan ekspresi kosong tak suka.
Selang beberapa menit Levi selesai menelepon.
"Armin kau bisa menginap disini. Aku sudah bilang ke hanji dan dia setuju. Besok baru aku antarkan pulang."
"Hai." Jawab armin dengan senyuman.
Levi tampak puas dan meminta bocah itu untuk membersihkan diri kekamar mandi sedangkan dia membuat makan malam. Levi memasak sekitar 30 menit. Tetapi Armin belum juga kembali. Merasa janggal. Levi mencari bocah itu. Ternyata Armin sedang dikamarnya. Bocah itu duduk dilantai tanpa alas dan memungungi Levi.
"Armin? Makan malam sudah siap!" Kata Levi memberitahu.
Tapi Armin tidak merespon. Dia hanya diam diposisinya semula dan bahunya bergetar naik turun.
Levi berjalan menghampiri bocah itu untuk melihatnya lebih jelas. Tapi betapa terkejutnya dia melihat tangan bocah itu belepotan oleh darah merah kental. Mulut dan dagunya jg kotor oleh darah. Sebelum levi bisa bertanya darah apa itu. Dia segera mendappat jawaban tatkala melihat kepala berbulu kecil didekat kaki Armin. Anjingnya.
"Armin! Apa yg kau lakukan?!" Bentak Levi shock melihat sedang memakan anjingnya.
.
.
.
TBC
