Berita yang beredar, bapak polisi yang merupakan suaminya telah berselingkuh, bermain belakang tanpa bilang-bilang. Lah iya lah tanpa bilang, kalau bilang dulu namanya lagi eek. Mahhhh, udahhhh!

Sakura memasang wajah malasnya begitu mendengar cerita Karin hari ini. Ibu-ibu kompleks di sekitaran mereka akhir-akhir ini terus menerus menyebar gosip sampah. Kasihan Sakura, padahal baru satu bulan ini dirinya berhenti dari dunia permodelan dan memilih menjadi istri rumahan yang penurut, dua puluh empat jam siap sedia.

"Gue nggak bisa bayangin kalau suami lo beneran selingkuh Sak, gue nggak nyangka."

Kalau pun benar, Sakura sudah begitu siap menendang bokong suaminya agar segera pergi dari rumah ini. Lagi pula, Sakura yang memiliki wewenang penuh.

Karin merupakan tetangga sebelah, Ibu satu anak. Sejak awal kepindahan Sakura ke rumah ini, dia sudah menyambutnya dengan senyum hangat, sering menemaninya yang saat itu tengah hamil, bahkan membantunya ketika akan melahirkan si kembar.

"Sak, lo harus tanya ke suami lo yang sebenar-benarnya sebelum semua terlambat."

Mantan model, cantik, tubuh aduhay, tapi kok diselingkuhi? Kasihan.

"Ya biarin aja sih mau dia selingkuh atau enggak, yang penting gue masih dinafkahin lahir batin."

Goblok!

Sudah mendengar berita buruk, dengan santainya bisa cengengesan. Karin memandang ngeri Sakura yang kini tengah memasukkan cemilan ke mulutnya. Tapi tidak berapa lama setelahnya, ekspresi wajah wanita itu langsung berubah begitu melihat ke pintu depan yang terbuka. Dua anak laki-laki kembar identik baru saja masuk dengan wajah lelah, loyo sehabis seharian bersekolah. Karin kembali menatap Sakura, dari matanya mengisyaratkan untuk diam, tidak lagi memperpanjang obrolan mereka.

"Aduh, anak Mama sudah pulang. Kok nggak bilang salam nih?"

"Salam." Beneran badmood.

"Gue pulang dulu deh Sak, takutnya Kaka juga pulang." Alasan, tadi dia mengatakan sendiri anaknya sedang ada les. "Bye Mars, Yupi."

Yupiter. Bukan Yupi yang yummy gummy itu.

Sakura tidak begitu mengerti perasaan putranya, tiba-tiba Mars berlari dan langsung memeluknya ketika Karin telah pergi. "Loh, ada apa nih?"

"Mama, Mars mau ngomong sesuatu tapi Mars takut Mama sedih."

Uuh, menggemaskan sekali.

Pipi Mars begitu tembam dan kemerahan, Sakura ingin mencubitnya tapi tidak tega. "Ada apa memangnya?"

"Tapi nanti Mama sedih."

Kali ini Yupiter ikut berujar.

Anak kelas satu sekolah dasar yang masih lugu-lugunya, di usia mereka sekarang Mars dan Yupiter sudah terbiasa pulang pergi ke sekolah berdua. "Mama, Mars nggak mau punya Mama baru!"

"Yupi juga!"

Bangsat! Ibu-ibu mulut rombeng itu belum tahu rasanya ditampar menggunakan linggis.

"Siapa yang bilang begitu sayang?"

Keduanya spontan menggeleng kompak. "Tante Matsuri, Ibunya Ryota bilang begitu sama teman-temannya."

"Katanya, kasihan Mama."

"Dia ngasih tahu kalian seperti itu?"

"Enggak." Loh? "Aku sama Yupi-nii nggak sengaja dengar."

Dengan kata lain, kedua anaknya menguping.

Sakura terpaksa tersenyum akhirnya, mengelus poni si kembar dengan sayang. "Dengarin Mama. Sampai kapan pun Mama kalian cuma satu, cuma Mama Sakura seorang."

"Tapi kata Tante Matsuri..."

"Tante Matsuri hanya mengada-ngada, tidak tahu yang sebenarnya seperti apa." Finalnya sampai di sini. "Sudah ya, sekarang kalian ganti baju dulu terus makan."

"Ashiappp." Meniru kelakuan Atta Halilintar.

Mars dan Yupiter berlarian menuju kamar begitu Sakura melepaskan pelukannya. Setan si Sasuke! Akibat terlalu tampan akhirnya jadi bahan gunjingan orang-orang.

Sakura menarik napas sembari memasang wajah sombong, merapikan baju atasannya dan kembali memakan camilan.

Lihat saja nanti, jika berita yang beredar itu benar. Tak potong-potong anunya!


To be continue...


Cuma mau bilang makasih untuk yang sudah menfavorit, menfollow, bahkan ngasih komentar di ff Annoying Vibes. Maaf juga karena nggak bisa balas satu2. Saya terbilang baru di ffn ini, tapi untuk nulis sih sudah lumayan lama sebenarnya. Omong2, mampir juga ke akun wattpad saya @yyohei. Hehe