BBB hanya milik ANIMONSTA
Selalu tersedia disana, Cake kecil dengan kotak kado. Diletakkan tepat di atas meja di sebelah ranjang tidurnya, Keberadaan dua benda mini itu sangat ketara di ruang kamar yang notabene minim hiasan dan warna monoton abu dan biru gelap. Bagi Kaizo, keberadaan dua benda asing itu seperti memanggil-manggil, warnanya yang mencolok seperti memaksa perhatiannya untuk selalu tertuju padanya.
Tahun ini kue mini itu berwana merah dengan krim putih dan buah berry hitam. Kaizo tidak yakin terbuat dari apa dan bagaimana rasanya, tapi kaizo yakin dia akan menyukainya, sedangkan kotak kecil itu selalu berwarna biru muda setiap tahunnya. Kaizo melirik ke layar televisinya, televisi yang ukurannya nyaris memenuhi dinding itu tidak pernah dinyalakan dan beralih fungsi sebagai penunjuk waktu dan tanggal.
Senin 4 November
Pukul 10.30 P.M
Begitu rupanya, Kaizo tidak menyadari hari ini sudah datang lagi. Tanpa melihat lebih selidik pada kedua benda mini itu, Kaizo menanggalkan seragamnya, pergi membasuh tubuhnya di pancuran kamar mandi, tubuhnya terasa lengket akibat sesi kejar-kejaran dan adu kekuatan, aroma keringat bercampur darah lawannya membuat Kaizo merasa sangat tidak nyaman.
Dia baru saja menyelesaikan tugasnya mengejar buronan perakit ulang power sphera, sindikat mereka biasa mengumpulkan power sphera untuk di bongkar ulang dan dirakit kembali, tujuan utama mereka adalah membuat senjata illegal dengan daya penghancur sekelas bom nuklir, mereka biasa menggabungkan mekanisme power sphere agar kekuatan yang dikandung oleh power sphera dapat digunakan secara bersamaan dengan daya hancur yang sangat fantastis.
Tepat sekali Laksamana Tarung mengirim Kaizo untuk memburu mereka, entah dia sadar atau tidak namun sindikat senjata illegal itu merupakan salah satu penyebab kehancuran planet asalnya, mendengar namanya saja cukup untuk membangunkan kemarahan di dalam diri Kaizo. Dibahan bakari dengan kemarahan akibat masa lalunya, melacak dan menghabisi salah satu cabang sindikat itu terasa mudah.
Saat menemukan mereka, Kaizo seperti biasa, sangat mentaati dan menjalankan tugasnya sesuai dengan protokol Tapops, dia akan menawarkan kesepakatan terlebih dahulu, dengan pilihan yang tersedia ialah : satu, jika mereka segera menyerahkan diri secara sukarela, maka Kaizo dapat menjamin tubuh mereka akan tetap utuh hingga sidang pengadilan, dan dua, jika mereka berusaha melawan maka mereka akan merasakan tubuh mereka dicabik olehnya sebelum dilemparkan kepengadilan antariksa, sayangnya mereka memilih pilihan kedua.
Hatinya membara oleh kemarahan, dan rasa itu belum padam walaupun dia telah berhasil menangkap dan menyeret mereka masuk ke dalam markas penjara Tapops. Tangannya masih gatal ingin menghajar sesuatu, Kaizo berniat untuk pergi ke ruang latihan setelah dirinya membersihkan diri di ruangannya, namun kemarahannya dengan cepat surut saat matanya menangkap dua benda mungil itu di ruangannya.
Fang selalu mengingat ulang tahunnya, yang bahkan Kaizo tidak ingat sama sekali. Apa yang membuat anak itu selalu mengingat ulang tahunnya? Membuat Kaizo sangat keheranan.
Selesai membersihkan diri, dia kembali mengenakan celana seragam bersihnya, posisinya sebagai kapten di Tapops mengharuskan dia harus siap dengan panggilan kapan pun, maka dari itu untuk mempersingkat waktu dia selalu mengenakan celana seragamnnya dengan atasan berupa kaos singlet tanpa lengan
Kaizo nyaris tidak membutuhkan jenis pakaian lain, seingatnya, lemari Kaizo didominasi oleh seragam kerja, pakaian di luar seragamnya hanya ada secuil kecil. Tapi itu tidak masalah untuknya, lagipula dia juga jarang mengenakan pakaian di luar seragamnya, Kaizo tidak mengenal kata liburan, dan hari-hari dia mendapatkan jatah cutinya biasa dia habiskan di ruang kendali atau meja kerjanya untuk mengerjakan laporan dan berkas-berkas penting.
Kaizo menoleh ke arah hadiah ulang tahunnya. Dia mengambil kado kecil itu dan membukanya untuk menemukan sepasang sarung tangan baru. Sarung tangan kulit berwarna hitam, dengan merk kesukaannya. Kaizo segera mencoba sarung tangan barunya, kedua benda itu pas melapisi tangannya, tidak kekecilan ataupun kebesaran. Tidak mengherankan, Fang yang memilihkannya, tentu saja pasti pas.
Adiknya itu selalu menyiapkan cake dan hadiah yang berbeda setiap tahunnya. Fang sangat mengerti dengan selera Kaizo yang enggan dengan makanan manis, maka dari itu walaupun dia memberikan cake untuk Kaizo, cake yang dibuatnya tidak pernah terasa manis, rasa yang dikandungnya selalu didominasi dengan rasa pahit yang digemari Kaizo. Dan Kaizo selalu menemukan dirinya menyukai rasa cake yang disiapkan oleh adiknya.
Sudah lama sekali pikir Kaizo.
Dulu saat mereka masih bersama dengan orangtua mereka, tidak pernah ada ulang tahun yang terlewat atau terlupakan, mereka akan merayakannya di ruang tamu, pesta kecil yang hanya diisi oleh mereka berempat.
Namun semenjak perang, pesta ulang tahun itu tidak pernah ada lagi.
Kaizo ingat adiknya selalu berusaha untuk merayakan ulang tahunnya lagi dan lagi, namun pemikiran dan perasaan Kaizo telah berubah dikarenakan perang, baginya pesta ulang tahun adalah hal yang tidak berguna, maka dari itu dia menolaknya dan berharap Fang juga tidak terlalu menganggap hal itu sebagai hal penting.
Jadi entah apa yang merasuki adiknya sehingga tidak mau melakukannya, dia selalu menyiapkan dua benda itu di setiap ulang tahunnya. Dia selalu menyiapkan tepat disaat ulang tahunnya, Fang tidak mengenal kesibukkannya sendiri, bahkan saat Fang menjalankan misi, dia tetap memastikan pos antariksa untuk mengirimkan hadiah ulang tahun Kaizo sampai tepat pada tanggalnya.
Apa yang begitu membuat anak itu bersikukuh merayakan ulang tahunnya tepat pada waktunya?
Fang selalu memberikanya barang yang dia butuhkan, barang-barang yang pasti dia perlukan, bukan hanya semata-mata barang indah yang dapat dipajang dan dibiarkan berdebu, Kaizo selalu bingung bagaimana adiknya dapat menebak apa yang perlu diberikan padanya.
Bila diingat-ingat, Kaizo tidak dapat melakukan persis dengan apa yang dilakukan adiknya.
Keraguan adalah hal yang bukan lain lagi setara kematian di ranah kerjanya. Kaizo bukan peragu. Dia terlatih dalam berbagai kondisi dan dengan undang-undang antariksa dan kebijakan tapops yang kaizo ingat dan kuasai. Baik dalam pengambilan keputusan ataupun pengkalkulasian tindakan atau rencana, dapat kaizo lakukan dengan cepat dan tepat.
Namun untuk bagaimana bersikap kepada adik semata wayangnya terlebih lagi jika harus berhadapan dengan apa yang harus dia lakukan atau katakan untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Fang, kepala Kaizo sudah pasti akan mengalami system error. Tiap kali Kaizo mencoba menunjukkan kasih sayangnya pada Fang, dengan apa yang dipikirkannnya dan apa yang akan keluar dari mulutnya tidak pernah sinkron. Kaizo merasa tombol autopilot untuk mendidik dan mendisiplinkan Fang di dalam dirinya sudah aktif permanen.
Kaizo mengambil kartu kecil di dalam kotak kadonya, membuka kertas itu, jelas sekali tulisan adiknya, jenis tulisan Fang selalu memiliki ekor di ujung hurufnya, rapi dan artistik.
"Selamat ulang tahun"
Aku menemukan resep baru untuk kue tahun ini, rasanya adalah campuran dari buah dikruts dari planet xofiloin dan campuran kopi dari planet bumi. Rasanya enak. Aku janji abang tidak akan sakit perut.
Semoga tahun ini pekerjaan abang selalu lancar dan abang selalu sehat.
Fang sayang abang.
Kaizo menutup kartu ucapan itu, membuka laci mejanya untuk mengambil jurnalnya, Kaizo menyelipkan kartu ucapan itu bersama dengan kartu ucapan dari tahun-tahun sebelumnya.
Kaizo memejamkan mata, berusaha mengingat kapan terakhir kali panggilan abang keluar dari bibir adiknya, dia melarang Fang untuk memanggilnya abang setelah Kaizo dilantik menjadi kapten, itu semua bukan karena Kaizo gila kehormatan, dia ingin melatih Fang untuk menempatkan diri, dan membedakan ranah pekerjaan dengan urusan pribadi.
Kaizo merasa kacau, masalahnya semenjak dia menempati posisi kapten, baik dirinya dan Fang tidak memiliki waktu bersama lagi, tidak pernah ada kesempatan untuk Fang dapat memanggil Kaizo sebagai abang lagi, jadwal mereka kerap berbenturan. Mereka hampir tidak pernah mendapatkan cuti di saat yang bersamaan dan kalaupun iya, dikarenakan kebiasaan dan keadaan Kaizo yang selalu berada di ruang kendali, Fang selalu memanggilnya kapten.
Sejak kapan tepatnya, Kaizo mulai mengalami kesulitan untuk menampilkan perasaannya? Dia tidak yakin sejak kapan, dia sadar dulu dia tidak seperti ini. Apa semua ini dikarenakan perang yang menghancurkan planet mereka? Semenjak perang itu membinasahkan orangtua mereka? Sepertinya iya.
Hatinya terasa tidak nyaman, adiknya terlihat ingin membangunkan sosok lama Kaizo, sosok Kaizo yang menemani Fang di masa kecilnya, tapi sayangnya Kaizo tidak dapat membiarkan hal itu terjadi, Kaizo ingin adiknya mandiri, kuat untuk melindungi dirinya sendiri, andaikan saja Kaizo itu abadi dan andaikan saja Fang itu sekecil peri yang dapat dia bawa kemana-mana dan dapat disembunyikan di balik jasnya, Kaizo yakin sosok dirinya yang dulu tidak akan dia kubur.
Terkadang hatinya terasa perih hanya karena memikirkan bagaimana Fang menyikapi sikap Kaizo, apa adiknya sadar tujuan di balik dingin sikapnya, apa adiknya menyalahartikan sikapnya sebagai kebencian? Kaizo tanpa sanggahan apapun mengakui dia sangat menyayangi Fang, namun keadaannya sekarang membuat Kaizo sulit untuk menampilkannya secara langsung.
Berbeda dengan adiknya yang selalu menyiapkan benda berbeda untuk kado ulang tahunnya, hadiah yang diberikan Kaizo pada Fang selalu sama. Biasanya Kaizo akan mengirimkan kartu dengan sejumlah uang didalamnya, Kaizo akan membiarkan Fang menentukan apa yang diinginkannya, Kaizo seringkali ragu memilihkan sesuatu untuk adiknya, takut dengan kemungkinan adiknya tidak akan menyukai pemberiannya.
Dulu sempat dia menananyakan pada Laksamana Amato, hubungannya dengan putranya tidak lain lagi dipenuhi dengan kasih sayang, dia tidak ragu-ragu untuk menunjukkannya tanpa ketakutan hal itu dapat membuat putranya lemah, Kaizo menanyakan pendapatnya tentang hadiah apa yang harus dia berikan untuk Fang sementara dia sendiri tidak tahu tentang kesukaan adiknya, Kaizo kira Amato akan dapat setidaknya membaca apa yang menjadi kesukaan anak 14 tahun karena melihat kondisi putranya pun seumuran dengan Fang, namun jawaban Amato di luar pemikiran Kaizo.
"Kenapa kau tidak coba memberikan apa yang kau sukai." jawab Amato
Kaizo menaikkan sebelah alis "Hadiah ini untuk adik saya, kenapa saya harus memberikan sesuatu yang saya sukai?"
Laksamana Amato tertawa kecil "Kau tahu, putraku sendiri sangat penasaran dan tertarik dengan apapun yang kugemari, terkadang mencoba sesuatu yang disukai oleh orang yang kita sayangi bukanlah ide yang buruk bukan? membuat kita dapat mengenal lebih dalam."
Kaizo saat itu sangsi, namun jika dipikir-pikir lagi, ada benarnya, Kaizo pernah begitu penasaran apa yang membuat Fang selalu menggunakan kacamata, padahal mata Fang sangat sehat, lalu kenapa anak itu memutuskan untuk menggunakan kacamata? Kaizo begitu penasaran sampai-sampai dia pernah mencoba membeli satu dan mengenakannya selama satu jam di ruang kerjanya, walaupun dia masih belum menemukan jawabannya, Kaizo tidak menyanggah dia memang terdorong untuk mencobanya hanya karena Fang menyukainya.
Mungkin. Di ulang tahun Fang berikutnya, dia akan mencoba memberikan sesuatu yang baru.
.
.
.
.
Apa yang sebenarnya kuharapkan? batin Fang.
Fang merasa hatinya perih sekali, dia selalu berhasil menyembunyikannya dari tatapan orang sehingga tidak ada yang menyadarinya, jika ditanya pun dia tidak akan mengakuinya, tapi di dalam kepalanya dia tidak akan menyangkal bahwa dirinya sangat iri pada Boboiboy. Nyatanya Boboiboy memiliki apa yang dia tidak punya, dia juga dengan mudahnya mendapatkan apa yang selama ini Fang idam-idamkan.
Fang melakukan segalanya yang dia bisa, hanya semata-mata demi melihat abangnya bahagia, Fang selalu merasa kalau abangnya selalu menderita, ekspresi yang selalu dia tunjukan padanya selalu dipenuhi raut penyesalan, apa yang membuat abangnya menampilkan raut kepedihan itu hanya padanya?
Fang bahkan menggali-gali memorinya hingga kepalanya terasa sakit untuk menemukan hal yang setidaknya dapat membuat abangnya tersenyum kembali, memori tentang masa lalunya tidak tersisa banyak, dan sebentar lagi Fang yakin akan perlahan terlupakan walaupun sekuat apapun Fang mencoba mengingatnya. Namun begitu dia berhasil mengingat satu hal, dan Fang dibuat bingung, dia tidak mengerti kenapa abangnya sekarang menolak perayaan ulang tahunnya sendiri, bukankah dulu perayaan itu yang membuatnya tersenyum-senyum bahagia.
Semenjak perang yang menghancurkan planet dan membunuh kedua orangtuanya, memori Fang seperti tidak pernah terisi oleh kebahagiaan bersama dengan abangnya lagi, kebanyakan memorinya diisi dengan gemblengan abangnya agar dirinya dapat bertahan hidup seorang diri. Padahal dia punya abang, tapi abangnya terus-terusan melatih dirinya untuk bertahan seorang diri seperti abangnya hendak membuangnya.
Tidak apa-apa pikir Fang, lagipula menurut Fang, Kebahagiaannya sendiri bukanlah hal yang penting, menurut Fang sekarang, kebahagian Kaizo adalah hal yang terpenting, menjadi penyesalan terbesar Fang tidak pernah lagi menyaksikan senyuman abangnya. Sejauh yang Fang ingat, setelah perang itu, dia tidak pernah melihat abangnya tersenyum sedikitpun.
Sekuat apapun Fang mencoba melakukan hal yang disenangi Kaizo, abangnya tidak pernah menampilkan senyuman untuknya. Kenapa? Kenapa begitu sulit melihat senyumannya? Fang berusaha sangat kuat, dia melaksanakan misinya dengan sempurna, dia selalu mengikuti peraturan tanpa sekalipun melanggar, dia menapaki karir dengan pencapaian yang serupa dengan abangnya, namun tidak ada satupun dari hal itu yang terlihat dapat memuaskannya.
Fang kira dengan terus mengirimi Kaizo hadiah di ulang tahunnya, tindakan itu dapat meluluhkan abangnya, dia kira dengan begitu Fang akan dapat mendapatkan jawabannya dari pertanyaan yang selalu berterbangan di kepalanya, namun tahun-tahun berlalu tanpa dirinya menerima jawabannya yang dia inginkan.
Memori Fang semakin membuyar, dia masih mengingat perayaan ulang tahun abangnya yang terakhir kali saat dirinya lima tahun sebelum serangan perang itu terjadi, di ruang tamu dengan kue bulat rasa coklat, lilin biru yang menunjukkan angka 15, abangnya tersenyum dengan pipinya yang memerah, senyumnya akan berubah menjadi tawa saat orangtuanya mengecup kedua pipinya bersamaan.
Fang menyentuh dadanya, perih rasanya, mengingat abangnya mendapatkan kecupan itu sementara Fang tidak mengingat kecupan yang diberikan untuknya, tapi jika abangnya mendapatkannya bukankah berarti dia juga mendapatkannya? Dia yakin dia mendapatkannya, dia hanya tidak mengingatnya, kalau Fang ingin, dia hanya perlu mengganti sosok abangnya dengan dirinya, dan Fang akan mendapatkan kecupan itu.
Fang menghela napas, membaringkan dirinya di dalam selimut, seharusnya dia tidur, besok dia akan menjalankan misi, seharusnya dia mengisi tenaganya untuk besok, tapi Fang masih menunggu-nunggu sesuatu.
Tidak apa-apa pikir Fang, dia bisa menunggunya hingga pagi, tidak masalah, sudah biasa bukan, mungkin saja tahun ini Fang akan mendapatkannya.
Lagipula Fang sedang enggan untuk tidur, jika Fang memejamkan matanya, ingatan yang tidak ingin ia ingat justru berlarian dikepalamya.
Ingatannya di pesta ulang tahun seseorang, di bumi beberapa bulan lalu, sebuah pesta kecil yang hanya dihadiri oleh dirinya, Ying, Yaya dan Gopal, pesta ulang tahun ke 14 Boboiboy. Hari itu Fang menyaksikan bagaimana kebahagian yang dimiliki Boboiboy tidak akan pernah dapat dia rasakan.
Hari itu Boboiboy mendapatkan hadiah sebuah busur dan panah dari ayahnya, seni memanah bukanlah hobi Boboiboy namun Boboiboy menerimanya dengan gembira, tentu saja pikir Fang, dia pun akan begitu, ayahnya bilang dia memberikan busur dan panah itu karena ayahnya sendiri menaruh minat pada seni memanah, dia ingin mengajak Boboiboy turut serta dalam minatnya.
Menyenangkan sekali pikir Fang.
Siapa yang tidak senang, mengetahui kegemaran dari sosok yang disayang terlebih lagi dapat mencobanya bersama, yang berarti menghabiskan waktu bersama, membuat sebuah memori indah bersama.
Fang ingat bagaimana suara Boboiboy yang terdengar sangat riang dan bersemangat saat menerimanya, rasanya masih berdengung-dengung di telinga Fang.
"Terima kasih ayah, aku sayang ayah."
Setelah mengucapkan itu, dia memeluk ayahnya dengan ringan, yang dibalas dengan pelukan erat.
Fang memejamkan matanya, dia tidak ingat rasanya mengucapkan kata ayah ataupun ibu, seingat Fang, dia memanggil orangtuanya dengan sebutan ayah dan bunda.
Ayah dan bunda huh? batin Fang
Fang terus mengulang-ulang memanggil kata ayah dan bunda di dalam kepalanya hingga keberanian terkumpul didadanya untuk mengucapkan kedua kata itu.
"Ayah" ucapnya pelan, terasa janggal di telinganya "Bunda" ucap Fang lagi mencoba merasakan kembali mengucapkan kata itu, walaupun tidak ditujukan untuk siapapun dan pastinya tidak akan ada yang menjawab, dia hanya ingin merasakannya.
Dia tersenyum masam, Boboiboy dengan mudahnya memanggil Laksamana Amato dengan panggilan ayah, di manapun, kapanpun mereka bertemu, di situasi apapun, Boboiboy selalu memanggilnya ayah.
Abangnya menyuruhnya untuk memanggilnya Kapten, jika Fang tidak sengaja memanggilnya abang, Fang akan menerima bentakan.
Fang mencoba memejamkan mata, yang membuatnya menyesal tatkala melihat kembali memori ulang tahun Boboiboy.
"Terima kasih ayah, aku sayang ayah."
"Ayah senang kau suka, ayah juga sayang Boboiboy."
Perih di dadanya kembali, tampilan mereka yang dengan mudah memberi dan menerima kasih sayang, Laksamana Amato juga ikut muncul di kepalanya. Suara Amato begitu lembut saat membalas ucapan putranya. Dia juga tersenyum bahagia.
Dan apa yang biasa keluar dari bibir abangnya? Selain bentakan, teguran dan perintah, Fang rasa hanya itu.
Fang rasa, semua kasih sayang itu yang membuat Boboiboy sangat kuat, mereka sering menjalani misi bersama, Fang menjadi saksi bagaimana Boboiboy sangat mudah jatuh dibandingkan Fang, namun saat dia jatuh dia selalu punya kekuatan untuk bangkit, sedangkan Fang, sekali dia jatuh maka dia akan terus berada di tanah.
Boboiboy punya alasan untuk bangkit, karena dia merasa tidak boleh kalah karena seseorang menunggunya, ayahnya menunggunya, ibunya menunggunya, kakeknya menunggunya. Dia yakin mereka tidak akan merelakan jika sesuatu terjadi padanya, maka dari itu Boboiboy selalu punya alasan untuk bangkit. Karena dia tahu seseorang menunggunya kembali dari misi.
Lalu apakah Kaizo menunggu Fang?
Fang tidak tahu, sulit sekali mencari tahu jawaban yang satu itu, untuk mencari tahu apa yang disukai abangnya saja dia harus mati-matian teliti memperhatikan gerak gerik abangnya.
Dan pernah Fang merasakan hatinya ditikam saat memperhatikan abangnya diam-diam, abangnya yang tidak pernah tersenyum kepadanya, abangnya yang tidak pernah terlihat puas dengan pencapaiannya tengah tersenyum dan memuji Boboiboy atas kelihaiannya mengendalikan kuasa tahap dua.
Fang tidak pernah tahu dadanya dapat terasa seperti ditikam pasak hanya karena melihat senyuman yang dia nantikan justru diberikan ke orang lain.
Tidak mungkin abangnya benci padanya bukan? Fang adalah keluarga terakhir Kaizo, Fang yakin dia harta karun Kaizo, abangnya hanya tidak menunjukkannya bukan? Dia pasti sayang padanya bukan?
Atau jangan-jangan penyebab kesedihan di wajah abangnya adalah karena dirinya? Apa jangan-jangan selama ini Fang hanya mengingatkan Kaizo dengan masa kelam mereka? Apa selama ini Fang hanya penghambat Kaizo untuk membuka lembaran baru pasca perang yang mehancurkan planet mereka? Karena itukah abangnya menggemblengnya untuk dapat bertahan hidup sendiri karena dia memang berniat meninggalkan Fang seorang diri?.
Tidak, abangnya sayang padanya, buktinya, setiap tahun Fang juga akan menerima hadiah ulang tahun, walaupun selalu sama dan tanpa kartu ucapan. Di hari ulang tahunnya jika Fang menemukan selembar amplop berisi kartu di kamarnya, kartu yang selalu terisi dengan sejumlah uang, kartu itu berarti adalah hadiah ulang tahun dari Kaizo untuknya, yang sebenarnya adalah jenis hadiah yang sangat tidak dia butuhkan.
Fang tidak mengerti kenapa abangnya memberikannya uang, Fang tidak memerlukan uang lagi, seharusnya abangnya juga tahu, dengan kesuksesannya menjalankan misi tanpa diberi oleh abangnya pun Fang sudah mempunyai lebih dari cukup. Kenapa abangnya tidak pernah mau mencoba untuk setidaknya memberikannya sebuah lolipop? Hanya lolipop saja rasanya akan lebih menyenangkan daripada amplop dengan uang.
Fang merasa, abangnya salah mengartikan bahwa satu-satunya cara Fang memberi tahu kalau dirinya menyayangi abangnya hanya semata-mata suapan yang mengartikan Fang ingin uang.
Fang mencengkram bantalnya, melemparnya ke dinding dengan kesal, ya dia sangat kesal, dia benar-benar sangat kesal.
Fang menggerang frustasi, dia tidak ingin mengakuinya tapi entah kenapa dia yakin tahun ini akan berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya, abangnya tidak akan repot-repot menghubunginya untuk mengucapkan balasan. Fang selamanya tidak akan mendengar ucapan itu keluar dari mulut abangnya.
Kaizo tidak akan pernah mengatakan dirinya menyayangi Fang, tidak pernah! dan tidak akan!. Karena Kaizo memang tidak pernah menyayanginya.
TO BE COTINUE
Tanggal 4 November itu ulang tahun Kaizo jadi saya berniat membuat fanfic dengan memasukkan ulang tahun kaizo, fanfic ini akan memiliki beberapa chapter dan akan mendraaaaaaaamaaaaa...
Semoga terhibur
