Hyung, kau masih ingat denganku kan?ini aku Jeon Jungkook, pasien yang menjadi temanmu dulu..ah belum terlalu lama sih kita hanya berpisah sekitar 1 minggu mungkin, pasti kau merasa aneh dengan diriku yang tiba-tiba mengirim surat seperti ini, tapi percayalah kalau aku sebenarnya sangat merindukanmu dan perasaan bersalah juga terus menghantuiku karena aku pergi begitu saja tanpa pamit. Meninggalkan dirimu yang masih terpuruk setelah peninggalan ibumu, namun kau harus tahu hyung karena sebagian dari diriku juga terasa mati setelah di tinggalkan olehnya. Pertemuan kita memang terasa seperti kebetulan, tetapi bagiku itu adalah takdir bagi kita berdua karena pada kenyataannya aku terus menerus berharap dan berdoa untuk kita kembali bersama sampai 18 tahun berlalu. Awalnya aku sampai putus asa dan hendak menyerahkan diriku sendiri untuk beristirahat abadi saat musim dingin kala itu namun kau datang bagaikan malaikat yang melindungiku dan memberikan harapan. Semenjak itu aku terus memperhatikanmu, mencari tahu apa saja yang kau lakukan selama 18 tahun ini, berusaha makin mendekat dan memgenalmu lebih jauh hingga 1 tahun tanpa sadar terlewati oleh kita berdua. Kita melewati berbagai macam kejadian dan rintangan bersama-sama, beberapa hal terasa menyakitkan bagiku dan dirimu tetapi aku senang melewatinya karena kau tetap berada di sisiku. Kita berdua juga mulai menyadari kalau kita menyembunyikan kesepian dan kesedihan yang dalam, mungkin hal ini juga yang membuat kita semakin lama semakin dekat dan saling memahami tanpa banyak berkata-kata lagi, sampai aku menyadari ada perasaan lebih yang kurasakan kepadamu. Hyung, aku mencintaimu..aku tidak tahu apakah kau menyadarinya atau tidak, tetapi aku benar-benar ingin menggapai dirimu untuk selalu bersama denganku saling berbagi kasih. Aku bahkan mulai berandai-andai tentang masa depan, bagaimana kita kembali tinggal di rumah dekat pantai menikmati waktu bersama penuh dengan cinta dan kehangatan. Bahkan mungkin aku sudah tidak sadar akan pikiranku yang sudah tertuju untuk memilikimu segera dan seutuhnya, tanpa menyadari apa yang akan menjadi kuputusanmu sendiri. Aku telah jatuh pada obsesiku sendiri yang bahkan menutup semua indraku untuk mendengar dan melihat kenyataan yang di beberkan oleh orang lain juga oleh nuraniku sendiri karena bayangan hidup tanpamu seolah aku mati kembali kepada penderita batin tanpa ujung. Aku bahkan jatuh kedalam kelemahan dan kecemasanku sendiri karena peperangan antara perasaannya dan pikiranku yang selalu tertuju padamu. Sampai akhirnya awan kelam itu menghampiri kita berdua. Saat dirimu kehilangan pegangan hidup dan aku yang tertampar kenyataan bahwa selama ini hidupmu hanya bergantung kepada ibumu, bagaikan boneka hidup. Kala itu kita menagis histeris sepanjang malam karena dirimu yang kehilangan sosok yang selalu menjadi penopangmu, tujuanmu dan yang selalu berusaha kau lindungi sedangkan diriku yang tergunjang karena pada kenyataannya tindakanku tidak ada bedanya dengan sosok itu, padahal dulu aku sempat bersumpah untuk menjadi bahagiamu dan mendukungmu apapun langkah yang kau ambil di masa depan. Perasaanku sudah membutakan segalanya bahkan akal sehatku sendiri, karena itulah aku memutuskan untuk melepaskanmu dan membiarkan dirimu melangkah sesuai keinginanmu sendiri. Aku tidak tahu apa yang menanti di depanku setelah aku memutuskan hal seperti ini, mungkin kesepian dan hampa yang akan selalu di sisiku sepanjang hidup tetapi mungkin walaupun hanya dalam mimpi aku bisa membayangkan senyum kebahagiaanmu dalam menatap hari depan. Pada akhirnya yang terpenting untukku hanyalah melihat senyum dan kebahagiaanmu Kim Taehyung, lelaki yang menjadi cinta sepanjang hidupku.

salam,

Jeon Jungkook.

*

Taehyung memeluk surat itu sampai kusut dan membiarkan air matanya terus menuruni pipinya tanpa kendali. Setelah seminggu ia merasa mati rasa karena kenyataannya yang seakan menghinatinya, kali ini perasaan sakit dan kerinduan kembali membuncah di dada dan pikirannya. Ia ingin menggapai kembali tubuh ringkih dan rapuh itu lagi, karena hanya Jungkook yang bisa membuatnya tenang dan berbagi perasaan bersama, namun saat ini mereka sudah terpisah. Jungkook mengira kalau dirinya hanya beban yang akan menghambat langkahnya, walau kenyataannya Taehyung baru menyadari kalau ia membutuhkan lelaki manis itu saat ini dan untuk menjalani masa depan berdua bersama-sama.

"Tae...astaga! kenapa kau seperti ini?" seru Jimin kaget melihat kondisi sahabatnya yang meringkuk dan menangis keras di lantai apartemen yang kacau. Ia baru saja terbangun dan mendengar suara isakan, Jimin mengira sahabatnya itu sedih karena masih di tinggalkan oleh ibunya namun Taehyung terus terisak dan memanggil nama Jungkook lirih, membuatnya binggung.

"Hiks..aku.. sangat bodoh, Jim" lirih Taehyung membalas pelukan dari Jimin yang berusaha menenangkannya. Perasaan Jimin menjadi tidak enak dan cemas sekarang. Setelah beberapa saat Taehyung kembali tenang dan mulai menjelaskan semuanya termasuk mengenai surat yang Jungkook kirim. Jimin merasakan pergolakan batin sekarang karena pikirannya terus menolak untuk Taehyung bersama dengan Jungkook, karena terakhir kali ia bicara dengan lelaki manis itu amat terlihat kalau Jungkook sangat terobsesi dengan sahabatnya itu. Jimin takut kalau surat ini hanya pancingan agar Taehyung menyusul Jungkook ke Busan dan memutuskan untuk tinggal bersama, ia sadar kalau Taehyung sepanjang 1 tahun ini juga memiliki hubungan dekat dengan Jungkook tetapi bukan dalam hal bergantung satu sama lain secara mental. Surat Jungkook yang sudah Jimin baca dan teliti juga terdapat beberapa kejanggalan seakan ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Jungkook mengenai dirinya dan Taehyung.

"Tae..hmm.. setelah aku berpikir, apakah kau pernah ada hubungan dengan Jungkook sebelum kalian bertemu di rumah sakit?" tanya Jimin pelan dan hati-hati, ia tidak mau menyinggung Taehyung karena membicarakan masa lalunya terutama saat kecil. Taehyung mengerutkan keningnya tanda ia berpikir keras, berusaha menggali kembali memori yang terkubur dalam saat masa kecilnya namun semakin keras ia berusaha, semakin pusing dan terasa berdegung kepalanya sampai Taehyung tidak tahan dan meremas rambutnya untuk menghentikan sakit kepalanya.

"Sudah..hentikan! aku tidak akan menanyakannya lagi" tegur Jimin memegang tangan Taehyung untuk menghentikan sahabatnya itu menyakiti dirinya sendiri. Jimin menghela nafas pasrah, ia sendiri juga binggung harus bertindak seperti apa sekarang, karena nyatanya tidak ada petunjuk sekalipun tentang Jungkook, hanya lokasi lelaki manis itu yang saat ini di Busan, juga tidak ada kepastian kalau Jungkook masih di sana atau sudah pergi ke tempat lain.

"Aku... sebenarnya juga bingung dengan diriku sendiri..entah mengapa aku merasa amat dekat dengan Jungkook saat kami pertama kali bertemu..seolah ada sesuatu antara aku dengannya, namun aku tidak tahu apa itu dan seperti yang kau tahu Jim, aku tidak sempat menanyakan hal ini kepadanya..mungkin karena rasa pengecutku sendiri yang menutup rapat dari orang lain karena takut menyakiti dirinya dan diriku sendiri" gungam Taehyung lirih sambil mengamati pemandangan langit di jendela apartemen kecil mereka, awan hitam yang makin menjalar, membuat suasana pagi semakin suram. Jimin menundukkan kepalanya dengan mata yang berpedar menatap lantai, nyatanya ungkapan perasaan sahabatnya itu juga menusuk jantungnya, seolah ia sendiri di ingatkan mengenai masalahnya dengan Yoongi hingga saat ini belum selesai.

"Kau tahu Jim? sejujurnya aku masih merasa ragu dan takut..tapi..aku ingin menghadapi masalahku sekarang..aku mungkin akan menemui Jungkook ke Busan, mencari jawaban darinya dan masa laluku.. kuharap dengan ini aku bisa menata masa depanku dengan harapan baru" lirih Taehyung dengan mata sendu penuh harap kalau kali ini ia bisa bangkit dan menjadi dirinya sendiri. Jimin spontan menolehkan matanya kepada sahabatnya yang memancarkan keseriusan.

"Ba-bagaimana jika semuanya tidak sesuai harapanmu? Jungkook belum tentu ingin bertemu denganmu atau keluarga Min menghalangi kita?" tanya Jimin yang sebenarnya juga berusaha mencari jawaban akan keraguan dirinya sendiri, karena semuanya seperti berjalan di tengah lapisan es tipis tanpa kepastian, mungkin ia dan Taehyung bisa jatuh makin terpuruk setelah menemukan jawaban dan berusaha menyelesaikan masalah yang tertunda. Taehyung menatap mata sahabatnya itu dan tersenyum sendu, "Akan lebih baik jika aku mencobanya daripada berhenti di sini tanpa melakukan apapun, jika memang pada akhirnya aku menghadapi jalan buntu atau semua tidak sesuai harapanku...mungkin aku baru akan berusaha melepaskan semuanya" jelas Taehyung yakin, membuat Jimin terdiam dan mengangguk pelan. Memang sudah seharusnya mereka mulai melangkah dan menghadapi semuanya.

*

Jungkook menatap kosong pemandangan hamparan pasir dan laut tiada ujung yang terlihat di balik jendela kamarnya. Sudah 2 minggu ia kembali tinggal di mansion yang penuh kenangan masa kecilnya ini. Setiap hari hanya perasaan hampa dan suasana suram yang menyelimuti dirinya, Jungkook menghela nafas lelah rasanya setiap hari sia-sia saja ia bangun menatap hari yang baru karena baginya tidak ada lagi harapan yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup.

"Tuan Jungkook, aku sudah menyiapkan sarapan dan juga air hangat di bathtub.. anda ingin sarapan atau membasuh tubuh anda dulu?" tanya seorang pelayan wanita paruh baya. Pelayanan yang semenjak dulu mendedikasikan dirinya di keluarga Jeon sekaligus yang merawat mansion ini semenjak Jungkook pergi sampai kembali lagi. Jungkook hanya tersenyum lirih menanggapi pelayan itu, "Aku ingin sarapan dulu, antar aku ke teras belakang, aku ingin makan sambil menikmati angin pantai" perintah Jungkook, yang langsung di respon oleh pelayan itu dengan membantu dan mengantar tuannya dengan kursi roda. Jungkook menikmati sarapannya sendiri sambil memandang ombak yang beriak kecil seiring dengan angin sejuk yang menerpa wajahnya. Saat ini sudah memasuki musim gugur karena itu suasana pantai pun tidak terlalu cerah, seperti suasana hati Jungkook dari hari ke hari, kegiatan yang ia lakukan hanya makan, membaca buku, mengenang memori masa lalu, dan kembali tidur. Jungkook tidak lagi menjalani perawatan untuk sakitnya karena menurutnya percuma saja karena tidak ada lagi harapan dan tujuan yang menjadi alasannya untuk bangkit dan menjalani hidup, ia juga menutup dirinya dari siapapun termasuk keluarga Min dan hyungnya yang berkali-kali mengunjungi dirinya di mansion namun tidak pernah Jungkook hiraukan, baginya semua percuma dan sia-sia. Setiap hari yang Jungkook pikirkan hanya mengenang memori dahulu di setiap jengkal mansion, hari-hari manis di saat keluarga Jeon masih utuh dan penuh kebahagiaan walaupun Jungkook hanya merasakannya selama 5 tahun tapi itu cukup terukir jelas di ingatan dan sampai dasar hatinya. Terkadang ia juga berandai-andai tentang bagaimana kehidupan Taehyung setelah dirinya pergi, lelaki itu mungkin akan mengejar mimpinya dan menggapai masa depan yang penuh kebahagiaan, mungkin juga mendapat kekasih, menikah lalu memiliki keluarganya sendiri. Tanpa sadar air mata menetes deras dari pipi Jungkook begitu juga tangannya yang refleks memegang dadanya erat karena rasa nyeri yang menyebar dari hatinya.

"Kuatkan dirimu Jungkook..kau sudah berjanji untuk melepaskannya...ini semua demi kebahagiaannya" lirih Jungkook berusaha menenangkan rasa sakit hatinya yang tidak terkendali ketika mengingat kehidupan Taehyung yang mungkin lebih bahagia walau tanpa dirinya. Mungkin ini juga yang terbaik bagi mereka berdua, Jungkook juga tidak ingin Taehyung mengetahui segalanya lalu merasa bersalah hingga bersama dengannya hanya karena rasa kasihan. Sudah cukup bagi Jungkook melihat tatapan kasihan dan menyedihkan dari orang lain karena kondisinya ini, Jungkook tidak mau lagi mengalaminya lagi.

*

"Kau yakin dengan semua ini Tae??" tanya Jimin dengan nada cemas dan bingung karena sahabatnya itu benar-benar mengepak barang-barangnya dan sudah membeli tiket bus untuk ke Busan besok pagi. Perasaan Jimin tidak enak dan gugup sendiri, padahal bukan dirinya yang pergi. Taehyung mengangguk pelan dan kembali melanjutkan aktivitas berkemasnya. Entah apa yang akan di alaminya nanti, yang penting keputusannya saat ini sudah bulat, Taehyung ingin menemui Jungkook dan meminta penjelasan dari lelaki manis itu. Taehyung juga sudah mendengar cerita dari Jimin tentang perjanjian rahasia mereka saat di rumah sakit, yang membuatnya semakin yakin kalau Jungkook mengetahui sesuatu tentang masa lalunya atau mungkin mereka.

"Tidak ada gunanya juga jika aku terus menunda hal ini..aku tidak bisa hidup seolah tidak terjadi apa-apa sebelum aku setidaknya mengetahuinya cerita lengkap dari Jungkook, kau tahu sendiri semenjak aku kecelakaan dulu dan kehilangan beberapa memori, membuatku berubah..aku merasa ada yang hampa dari diriku sendiri Jim..dan sampai kapanpun itu tidak akan pernah hilang" jelas Taehyung berusaha menyakinkan sahabatnya itu.

"Selain itu.. bukanlah kau sendiri juga masih punya masalah yang belum selesai Jim?tidakah menurutmu ini waktu yang tepat untuk menyelesaikannya?" tanya Taehyung serius, karena sudah waktunya Jimin benar-benar menghadapi semuanya tanpa menghindar atau melarikan diri lagi. Jimin hanya terdiam mendengar pertanyaan sahabatnya itu, ia juga sudah sejak lama memikirkan bagaimana cara menghampiri Yoongi dan menyelesaikan masalah mereka, tapi sampai sekarang dirinya terus meragu dan membuat berbagai macam alasan untuk menghindar. Padahal yang Jimin butuhkan hanya keputusan dari dirinya sendiri untuk maju melangkah tanpa ragu akan hasil yang ia dapatkan nanti, karena bagaimanapun ia akan berusaha keras demi kekasihnya dan anak mereka.

"Kau benar..tapi bagaimana-" Jimin kembali membawa alasan-alasan yang membuat dirinya terasa lemah, namun Taehyung menghentikan perkataannya.

"Jimin yang aku kenal tidak pantang menyerah dan akan berusaha sebaik mungkin untuk menggapai sesuatu, terlepas dari rintangan yang kau akan hadapi..Jim, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah" Taehyung berusaha menyadarkan Jimin kalau ia masih punya tanggung jawab. Jimin hanya terdiam mendengarnya, benar yang di katakan Taehyung tetapi sampai sekarang ia masih meragu padahal mungkin sebentar lagi anaknya akan lahir. Membayangkan mahluk mungil yang memiliki paras mirip dengannya dan Yoongi membuat hatinya menghangat dan ingin segera memeluk mereka bersama. Mungkin ini memang saatnya, ia harus menghadapi semuanya termasuk rintangan dengan Yoongi dan keluarga Min yang pastinya tidak akan menyetujui mereka untuk bersama, namun jika tidak sekarang, ia akan terlambat.

"A-aku..aku akan berangkat bersamamu..mungkin mencoba mendapatkan kembali hati Yoongi" ucap Jimin, mungkin masih ada sedikit keraguan di sana tapi mendengarnya cukup membuat Taehyung senang dan lega akhirnya sahabatnya itu berani untuk melangkah.

*

Jungkook terdiam kaku dan terus memandangi sosok yang saat ini berdiri di depan pintu mansionya. Ia merasa dirinya masih bermimpi dan melayang di siang bolong karena tidak mungkin Taehyung ada di sini kan?di hadapannya.. tepat di mansion keluarga Jeon yang sudah hampir 15 tahun di tinggalkan olehnya.

"Hai..maaf datang tiba-tiba emmhh..a-aku ada.. sesuatu yang kita..bisa bicarakan?" ucap Taehyung ragu-ragu sambil menggaruk tengkuknya karena merasa amat canggung, Jungkook hanya berkedip beberapa kali dengan tubuh yang masih mematung tidak tahu harus bereaksi apa dengan keadaan mengejutkan ini. Sampai Taehyung menyentuh pundaknya dan membuat Jungkook kembali ke kenyataannya, ini semua benar-benar terjadi, Taehyung ada di hadapannya sekarang, Jungkook langsung berhamburan memeluk erat lelaki yang di cintainya itu dengan tangisan tersedu-sedu yang mengekspresikan rindu yang membuncah dan perasaan lega karena akhirnya mereka kembali bersama. Taehyung agak tersentak kaget dengan Jungkook yang tiba-tiba memeluk dirinya tetapi setelah beberapa saat ia membalas pelukan lelaki manis itu, memang aneh tapi Taehyung merasa kalau dirinya kembali ke "rumah" yang membuat perasaannya tenang.

Deru angin yang pelan membuat lonceng angin bergerak dan membuat suara germicik yang menenangkan begitu juga suara deru ombak dari kejauhan. Siang yang amat tenang dan damai di dalam mansion yang luas namun terasa nyaman ini. Taehyung mengarahkan pandangannya ke seluruh ruang tamu yang di penuhi ornamen dan beberapa foto-foto yang sepertinya milik keluarga Jeon, salah satu yang menarik perhatiannya adalah foto yang menampakkan 2 anak kecil yang saling menggandengkan tangan. Salah satu anak itu Taehyung ingat jelas, karena ia muncul dalam mimpinya, ya anak kecil manis bergigi kelinci. Taehyung mengusap foto tersebut sambil memperhatikan lamat-lamat, seolah menggali kembali informasi yang terkubur dalam dirinya, namun kembali dengungan dan sakit kepala hebat kembali menyerang dirinya hingga ia mundur dan terduduk lemas di salah satu sofa.

"Astaga..kau tidak apa-apa hyung?!" spontan Jungkook yang baru saja dari dapur untuk membuatkan teh bersama pembantunya. Jungkook memeluk erat Taehyung yang masih agak pucat dengan keringat dingin mengucur dari dahinya. Perasaan sedih dan cemas kembali merayapi Jungkook terutama melihat tangan kiri Taehyung yang sepertinya masih memegang salah satu foto yang dulu menjadi momen berharga untuknya.

"A..aku sudah tidak apa-apa" senyum Taehyung canggung walaupun tidak bisa di pungkiri sakit kepalanya masih cukup terasa, tapi bukan saatnya untuk membuat Jungkook khawatir saat ini. Jungkook mengerutkan keningnya tidak yakin namun tetap melepaskan pelukan mereka.

"Tolong ambilkan obat-obatan dan P3K sekarang" perintah Jungkook kepada pelayan di sampingnya.

"Aku sudah tidak apa-apa sungguh! tidak perlu obat atau semacamnya" cegah Taehyung cepat dan memengang tangan Jungkook agar perhatian lelaki manis itu kembali padanya serta meredakan suasana panik dan canggung di antara mereka. Taehyung benar-benar percaya akan firasatnya saat ini, memang Jungkook ada hubungannya dengan masa lalu dirinya. Mereka berdua terdiam dan menyelisik ke masing-masing kedalaman tatapan yang menggambarkan pikiran yang berbeda namun perasaan yang sama. Taehyung dengan teka-teki yang ingin di ketahuinya dan Jungkook yang juga terus bertanya-tanya apakah yang membuat lelaki itu jauh-jauh menemuinya saat ini, padahal ia sedang dalam proses melepaskan Taehyung agar lelaki itu bisa mendapatkan kebahagiaan, namun perasaan mereka tidak bisa di pungkiri, rindu yang membuncah dan keinginan untuk tidak berpisah kembali.

"Jeon Jungkook..aku datang ke sini sebenarnya memiliki suatu maksud, maaf mungkin kau akan merasa marah jika tahu aku mengejarmu sampai seperti ini..tapi..aku akan mencoba membuatmu paham, aku sejak kecil dulu sempat mengalami kecelakaan yang membuat diriku mengalami gangguan ingatan cukup parah bahkan hingga saat ini kepalaku terasa sakit dan berdegung jika berusaha mengingat sesuatu mengenai masa laluku, dulu ibu sempat memaksaku untuk melakukan pengobatan namun resiko untuk operasi terlalu besar.. dokter bilang karena pengaruh genetik juga, semenjak itu aku selalu merasa ada yang kurang dari diriku sendiri, aku selalu merasa kesepian dan iri dengan orang lain yang berbahagia hingga saat ibuku menikah lagi pun, aku masih merasa kosong dan sedih padahal keluargaku sudah lengkap seperti kata ibu.." jelas Taehyung dengan sorot sendu, Jungkook menggenggam tangan mereka erat, keringat dingin mulai menetes dari dahinya, perasaan sedih dan takut kembali menghantui dirinya, juga pertanyaan besar mengenai apakah Taehyung sudah sadar akan semuanya?lalu setelah ini apa yang akan terjadi, Jungkook hanya berharap Taehyung tidak akan membenci dirinya. Jungkook menghela nafas panjang sebelum mulai menceritakan semuanya.

"Kau tahu bukan aku hidup sebatang kara hanya keluarga Min yang cukup dekat dan memrawatku selama ini.. sebenarnya itu bukanlah seluruh kebenarannya, ya aku memang sendirian saat ini tapi bukan berarti aku tidak memiliki keluarga lagi, lebih tepatnya aku masih memiliki seorang kakak" lirih Jungkook dengan sorotan sedih, menceritakan kebenarannya kepada Taehyung sungguh berat bagi dirinya terutama karena tradisi sialan yang terus membelenggu orang-orang yang ada di daerah ini. Taehyung sedikit tersentak mendengarnya, pikirannya melayang dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Jungkook dan keluarganya serta mengapa jantungnya berdetak sangat kencang sekarang seolah dirinya akan menhetahui sesuatu yang mengejutkan.

"Dan kau tahu?orang itu..kakakku saat ini berada sangat dekat denganku selama 1 tahun ini, namun aku menyembunyikan fakta itu darinya sambil berusaha mendekatinya agar ia mau bersamaku kembali, tinggal bersama di rumah masa kecil kita dan membangun kembali keluarga Jeon seperti wasiat ayahku sebelum meninggal..namun karena suatu hal aku akhirnya sadar kalau diriku hanya penghalang bagi kehidupannya.. lagipula benar kata ibuku dulu, tidak ada yang mau merawat lelaki lemah dan cacat sepertiku dan menyia-nyiakan hidupnya hanya demi diriku yang tidak bisa memberi apa-apa" sendu Jungkook menundukkan kepalanya sedih, sedangkan Taehyung tanpa sadar sudah meneteskan air matanya, "itu..tidak benar..kau bukan seorang yang lemah atau beban Jungkook..kau sudah berjuang sampai saat ini". Jungkook hanya menggeleng lemah dan menarik tangannya dari genggaman Taehyung, baginya kata-kata itu hanyalah omong kosong yang sering ia dengar karena orang-orang kasihan padanya dan ia sudah amat muak dengan hal itu.

"Aku seorang yang lemah..bukan hanya fisikku, namun aku juga mudah menyerah itulah yang membuatku mudah kabur dan menyiksa diriku sendiri dengan penyesalan..kau tahu hal ini hyung, tidak perlu mengumbar kata-kata tidak penting hanya karena kau kasihan.. karena setelah ini kau pasti akan meninggalkanku sama seperti ibuku juga ayahku yang tidak sanggup menanggung penderitaan dan beban sepertiku" senyum Jungkook lirih dan ia mengambil foto yang sempat di pegang oleh Taehyung.

"Hyung..kau bahkan tidak ingat apapun tentang keluarga kita dulu bukan? melupakan semuanya tentang diriku yang bertahun-tahun mencarimu hingga saat ini.. Taehyung..kau adalah kakak kandungku, sebelum orang tua kita bercerai dulu" lirih Jungkook dengan senyum sendu, ia memang merasa takut ketika Taehyung mengetahui kebenarannya namun sebagian dirinya juga lega karena sudah mengungkapkan beban yang selama bertahun-tahun ia tanggung. Tidak bisa di pungkiri Jungkook merasa amat sakit hati saat Taehyung bertemu dengannya di rumah sakit tetapi tidak pernah sedikitpun ingat atau mengenali Jungkook sama sekali bahkan sampai saat inipun lelaki itu yang meminta penjelasan padanya, ia tidak tahu apa yang terjadi setelah mereka berpisah waktu kecil dulu dan mungkin memang sesuatu terjadi pada Taehyung namun kenyataannya jika hanya Jungkook seorang diri yang berjuang mendekati Taehyung dan berusaha menarik kembali agar mereka bersatu membuat goresan dalam di hatinya. Taehyung tersentak dan menatap dalam mata sedih Jungkook, tidak ada keraguan ataupun kebohongan di sana. Semua puzzle yang membuat Taehyung bertanya-tanya kini menyatu, pantas saja dirinya merasa dekat dengan Jungkook karena ikatan mereka begitu kuat. Taehyung merasa bahagia sudah menemukan jawaban sekaligus menautkan kembali ikatan yang terputus namun sebagian pikirannya merasa bersalah dan menyesal karena tidak mengingat apapun tentang Jungkook dan membuat lelaki manis itu menanggung penderitaannya sendiri. Ia juga merasa marah pada mendiang ibunya yang tidak pernah memberitahukan tentang Jungkook dan keluarganya dahulu, setiap kali bertanya ibunya hanya bilang jika mereka bercerai karena ayahnya dahulu adalah pria tidak bertanggung jawab terhadap keluarga walau kenyataannya ibunya lah yang membuang keluarganya termasuk Jungkook, karena ia terlahir cacat. Semua terasa amat cepat dan cukup berat untuk Taehyung terima dan membuat kepalanya kembali berdegung pusing, namun ia harus menyelesaikan semuanya saat ini juga karena bila di biarkan menggantung bisa-bisa Jungkook kembali kecewa dan menolak dirinya lagi.

"uhh.. Jungkook.. maafkan aku, bukannya aku tidak ingin mengigat tentang dirimu..tapi dulu aku sempat kecelakaan dan membuat ingatanku sedikit kacau bahkan hingga sekarang.." lirih Taehyung sambil beberapa kali menggeram karena sakit kepalanya semakin hebat, seolah menolak untuk kembali mengigat kenangannya dulu. Jungkook menyeritkan alisnya heran dan juga sedikit cemas karena wajah Taehyung makin terlihat pucat, juga keringat yang terus menetes dari dahinya.

"Kita lanjutkan pembicaraan kita besok.. beristirahatlah di kamar tamu jika kau tidak ada tempat untuk menginap" putus Jungkook karena menurutnya tidak akan efektif jika mereka masih terus memaksakan pembicaraan mereka ini. Taehyung menghela nafas berat, ia sebenarnya masih ingin melanjutkan namun sakit kepalanya serasa tidak bisa di tahan lagi karena itu ia hanya mengangguk lemah dan mengikuti pelayan rumah Jeon yang mengantarkannya ke kamar tamu. Jungkook menatap Taehyung dengan ekor matanya hingga lelaki itu menuju lantai atas. Jungkook menghela nafas lelah, rasanya kepalanya jadi ikut pusing memikirkan apa yang akan terjadi kepada mereka setelah ini, terutama bagaimana ia menjelaskan tradisi aneh yang sudah cukup mendarah daging di dalam desa ini.

*

Bunyi ketukan pintu cukup membuat Taehyung terbangun dan mengusap matanya pelan, ia sudah tidur kurang lebih 4 jam dan cukup meringankan sakit kepalanya.

"Ya masuk" Taehyung mempersilahkan pelayan keluarga Jeon yang membawa bubur untuk makan malam. Taehyung memperhatikan pelayan itu dengan seksama, ia agak heran karena rumah sebesar ini hanya di tinggali oleh Jungkook dan tampaknya hanya ada 1 pelayan ini saja yang berada di rumah ini. Pelayan itu terlihat sudah cukup berumur tetapi terlihat tubuhnya masih kuat dan gerakannya cukup gesit.

"Silahkan di makan tuan..jika ada sesuatu yang kau butuhkan silahkan pencet bel yang ada di samping tempat tidurmu, aku akan segera melayani kebutuhan anda" jelas pelayan itu sopan dengan gestur yang sedikit kaku. Pelayan itu hendak pergi dari ruangan namun Taehyung menginterupsinya, "Boleh aku tahu bagaimana keadaan Jungkook?apa dia baik-baik saja?" tanya Taehyung dengan nada sedikit cemas. Pelayan tersebut terdiam sesaat, seperti sedang menimbang sesuatu.

"Tuan Jungkook sedang pergi ke rumah keluarga besar Min, tuan Jungkook tidak memberitahu kapan ia kembali tetapi..Ia bilang untuk jangan menghawatirkannya dan istirahatlah sampai tuan merasa baikan" singkat pelayan tersebut sebelum meninggalkan ruangan. Taehyung mengigit bibirnya cukup keras, ia mulai merasa was-was mendengar Jungkook saat ini ada di tempat keluarga Min. Ia cukup tahu keluarga Min memilki hubungan dekat dengan Jungkook namun perasaan tidak enak saat ini, terutama jika ia teringat dengan Jimin. Sahabatnya itu saat ini sedang mengurus perceraiannya untuk terakhir kali sebelum menyusul ke sini. Jika memikirkan apa yang akan terjadi jika keluarga Min ikut campur dengan urusan mereka, membuat Taehyung semakin cemas karena ia tahu persis keluarga Min sangat berkuasa dan Jungkook masih memiliki hubungan dengan mereka. Taehyung menghela nafas lelah, sepertinya ini akan makin rumit.

*

"Lelaki itu ada di sini?!!Kau..astaga!!" Min Yoongi kehabisan kata-kata begitu Jungkook menceritakan segalanya tentang dirinya dan Taehyung yang saat ini masih ada di mansion Jeon. Yoongi menjatuhkan dirinya di sofa sambil memijat keningnya yang terasa pusing tiba-tiba, baru saja 4 hari lalu ia melahirkan dan sekarang sepupunya itu membawa masalah baru baginya. Ia sangat yakin sekali aboji Min tidak akan senang mendengar berita tentang Taehyung yang kembali menapaki kakinya kembali ke rumah keluarga Jeon karena setelah kepergian bibi Jeon dan Taehyung, keluarga Min bersumpah tidak akan menerima mereka kembali ke desa ini, apalagi sampai ingin kembali ke keluarga Jeon.

"Kau tahu kan..ini akan sangat rumit, tradisi kita sudah mengakar kuat kook, bahkan aku tidak bisa lari dari hal ini..bahkan setelah melahirkan anak dari luar klan kita sendiri" bisik Yoongi lirih sambil memandang nanar bayinya yang masih terlelap di kasur bayi. Jungkook tahu itu dan iapun tidak bisa lari dari hal yang sudah mengikatnya sejak kecil. Dulu Yoongi juga pernah bertindak bodoh dan berupaya kabur, berfikir kalau ia bisa lari jauh dan membebaskan dirinya dari keluarga Min dan tradisi sialan ini namun berakhir kembali ke keluarganya dengan hukuman dan tekanan berat dari keluarga Min setelah dirinya hamil.

"Aku... berpikir untuk tetap memberitahu semua kenyataannya hyung, jika memang Taehyung tidak bisa menerimanya..aku siap untuk melepaskan dirinya...toh, pada akhirnya aku hanya lelaki cacat yang tidak punya banyak pilihan" lirih Jungkook sambil mengusap air matanya kasar. Yoongi hanya bisa menggenggam tangan sepupunya itu, ia juga tidak bisa berbuat banyak karena pada kenyataannya mereka berada di posisi sulit yang sama. Yoongi menatap dalam sepupunya itu dan mengangguk pelan, ia sebenarnya cukup ragu dan ingin mengusir Taehyung sebelum semuanya menjadi lebih rumit, lagipula itu yang terbaik bagi mereka berdua namun Jungkook sepertinya sudah membulatkan tekadnya untuk memberitahu semua kenyataannya termasuk konsekuensi jika Taehyung memaksa kembali ke keluarga Jeon.

"Aku percaya padamu... mungkin tidak banyak yang bisa kulakukan, tapi aku akan berusaha membantumu untuk menghadapi aboji nantinya" pasrah Yoongi karena berusaha membujuk Jungkook atau mengusir Taehyung secara kasar juga sepertinya tidak akan menghasilkan apapun jadi untuk sekarang lebih baik ia mendukung sepupunya itu dulu.

"Terima kasih hyung..aku akan membalas kebaikanmu di kemudian hari" senyum Jungkook, setidaknya sedikit bebannya terasa lebih ringan. Jungkook berpikir jika memang Taehyung ingin memperbaiki keluarganya, ia pasti akan melakukan apapun terlepas dari rintangan berat yang mereka akan hadapi.

*

Jungkook menyeruput tehnya pelan sambil memakan kue coklat yang baru saja matang, aroma ini sungguh mengingatkannya akan masa-masa bahagia di keluarga ini dulu.

"Ah..kau sudah bangun hyung?apa sakit kepalamu tidak separah kemarin?" tanya Jungkook sedikit cemas ketika melihat Taehyung yang berjalan gontai dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur. Taehyung menguap lebar dan mengangguk pelan, istirahat kemarin cukup membuat tubuhnya sedikit lebih bugar.

"Aku sudah meminta pelayan untuk membuatkanmu bubur, jika kau masih sakit kita bisa ke klinik sekitar sini untuk memeriksa kondisimu" jelas Jungkook sambil menyeruput kembali tehnya, ia terlihat agak tenang namun masih ada sedikit rasa gugup, bukan karena sakit Taehyung tetapi hal lain.

"Aku sudah lebih baik, kau tidak perlu terlalu khwatir" ujar Taehyung pelan. Mereka berdua melanjutkan sarapan dengan suasana hening yang menyelimuti, masing-masing tenggelam dalam benak mereka. Jungkook yang masih mencari cara untuk menyampaikan semuanya kepada Taehyung tanpa membuat kesalahpahaman dan merusak hubungan mereka kembali, sedangkan Taehyung yang masih bertanya-tanya tentang masa lalunya dan perasaannya terhadap Jungkook setelah mengetahui kalau lelaki manis itu adalah adiknya sendiri.

"Ekhmm.. setelah kau selesai, aku ada sedikit urusan di rumah sakit untuk jadwal pemeriksaan mungkin sekitar jam 3 sore baru akan pulang..kita bisa melanjutkan pembicaraan kita nanti?jika hyung sudah baikan" jelas Jungkook memecah keheningan di antara mereka. Taehyung mentap dalam Jungkook, mengingat jika lelaki manis itu masih memerlukan perawatan. Perasaan bersalah kembali menyelimutinya, mengigat bagaimana sulitnya kehidupan Jungkook saat tidak ada seorangpun yang menopangnya namun lelaki manis itu tetap berusaha untuk tegar. Taehyung juga meruntuki dirinya yang tidak mengigat apapun bahkan setelah 1 tahun berada dekat dengan Jungkook, pantas saja ia selalu merasa ada suatu hubungan spesial saat Jungkook dan dirinya berada di rumah sakit. Taehyung mengangguk pelan sambil melanjutkan kembali sarapannya, namun dering handphone menghentikan kegiatannya. Ia mengerutkan dahi begitu melihat kontak Jimin yang menelponnya, Taehyung dengan segera menuju ruangan lain sebelum mengangkat telepon, ia tidak ingin Jungkook mengetahui perbincangannya dengan Jimin, takut Jungkook semakin cemas dan stress jika mengetahui masalah sahabatnya itu dengan Yoongi.

"Halo..Ada apa Jimin?" Taehyung memulai pembicaraan.

"Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Seulgi dan keluargaku..besok aku akan menyusul ke sana, lalu..hmm..bisa kau bantu aku untuk mencarikan hotel atau tempat singgah selama di Busan?". Taehyung mengigit bibirnya dan menimbang-nimbang sesuatu, ia sendiri tinggal di rumah Jeon sampai saat ini, dan jika mengajak Jimin untuk menginap sementara di sini mungkin akan merepotkan bagi Jungkook dan bukan hal yang baik juga jika keluarga Min sampai tahu. Mungkin lebih baik jika ia juga meminta ijin kepada Jungkook dan mencari penginapan bersama dengan Jimin karena walaupun ia sudah mengetahui kalau ia bagian dari keluarga Jeon, entah mengapa perasaannya masih tidak enak dan sulit menerima semuanya saat ini.

"Baiklah..saat ini aku masih singgah di rumah Jeon Jungkook, besok aku akan menjemputmu di stasiun dan kita tinggal di hotel dekat sini" putus Taehyung sebelum mengakhiri percakapan mereka.

"Apa itu Park Jimin?" tanya Jungkook, membuat Taehyung terjangkit kaget dan hampir saja menjatuhkan handphonenya karena Jungkook yang tiba-tiba ada di belakangnya. Jungkook menatap datar dan dingin kepadanya, perasaan kesal dan marah melingkupi dirinya lagi jika mengingat Park Jimin dan Yoongi sepupunya.

"Hmm..ya..di-dia bilang ada sesuatu di rumah sakit" jawab Taehyung terbata-bata, ia agak gugup karena ini pertama kalinya berbohong kepada Jungkook. Jungkook mengerutkan dahinya heran, namun ia hanya mengangguk percaya, walaupun ia sebenarnya sudah tahu kalau Taehyung dan Jimin sudah tidak bekerja di rumah sakit lagi. Untuk saat ini lebih baik Jungkook tidak memojokkan Taehyung terus dan membuat masalah makin rumit.

"Ah..lalu Jungkook sepertinya aku lebih baik menginap di hotel dekat sini saja, rasanya agak kurang nyaman jika merepot-" Taehyung mencari alasan namun melihat ekspresi Jungkook yang murung sepertinya ia salah mengambil keputusan.

"Kau sama sekali tidak merepotkan.. lagipula ini rumahmu juga..tapi, terserah kau saja!kita selesaikan masalah kita hari ini saja!aku tahu kau tidak mau berlama-lama berasama denganku yang merepotkan ini" sarkas Jungkook meluapkan kekecewaannya. Taehyung mehela nafas panjang, sepertinya ia membuat Jungkook semakin salah paham.

tbc