"Ini kunci kamar kita, aku pergi dahulu ke rumah Jeon Jungkook..mungkin nanti malam baru akan kembali, kau istirahatlah dulu" Taehyung melempar kunci kamar hotel kepada Jimin yang baru saja sampai di Busan. Mereka memutuskan untuk menetap di hotel kecil dekat pedesaan itu. Jimin hanya bergumam dan kembali sibuk membereskan barang bawaannya, termasuk foto dirinya dan Yoongi semasa mereka mahasiswa dulu, Jimin memeluk erat foto tersebut sambil berdoa agar mereka bisa bersama kembali membangun keluarga harmonis seperti anggannya dahulu. Membayangkan hal itu membuat hati Jimin kembali menghangat, semoga saja keputusannya kali ini untuk memperjuangkan Yoongi membawa kebahagiaan bagi hidupnya.

"Aku tidak akan lari lagi Min Yoongi dan baby Park" gungam Jimin lembut.

*

"Duduklah..kita langsung bicara ke intinya saja, aku tahu kau juga tidak nyaman berlama-lama di sini bukan?" sinus Jungkook dengan tatapan dingin. Taehyung mematung dengan raut sedikit cemas karena ia sungguh-sungguh tidak bermaksud membuat Jungkook salah paham dan membuat situasi jadi semakin cangung. Taehyung duduk dan menunduk kaku, tidak berani menatap Jungkook karena hal itu hanya membuat dirinya semakin sakit hati.

"Keluarga Jeon salah satu pendiri dan keluarga terpandang di desa ini, sejak dahulu keluarga ini sudah memegang tradisi kuat seperti keluarga besar lainnya yang tinggal di desa ini, termasuk orang tua kita namun ibumu..ah, ibu kita tidak bisa menerima kenyataan saat diriku lahir cacat dan makin melemah dan seperti yang kau tahu menghancurkan hubungan di keluarga ini..sungguh menggelikan begitu aku tahu ternyata wanita itu yang dahulu ku sebut ibu ternyata tidak bisa menerima pengorbanan yang bahkan tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri" ucap Jungkook dengan nada getir dan luapan emosi jika teringat tentang ibunya dahulu dan pesan terakhir ayahnya. "Tapi..itu sudah berlalu, sekarang semuanya tergantung kepada keputusanmu sendiri hyung, aku tidak akan memaksa karena hanya akan mengulang kembali luka lama..asal kau tahu saja jika kau ingin kembali ke keluarga Jeon semua tradisi harus kau ikuti dan tidak akan ada jalan keluar jika kau sudah setuju" Jungkook menatap dalam dan serius kepada Taehyung sekarang. Taehyung menelan ludahnya pahit, ia memang masih ingin kembali menjadi bagian dari keluarga Jeon karena pada akhirnya hanya tinggal Jungkook lah yang tersisa dari keluarganya. Taehyung mulai dilema saat ini, terlebih ia juga belum tahu tentang tradisi yang Jungkook selalu katakan. Jungkook mengerutkan dahinya melihat reaksi Taehyung, mungkinkah hyungnya itu juga melupakan semua memorinya termasuk tradisi yang mereka bicarakan saat ini, "Kau lupa tentang tradisi keluarga Jeon..ah, maksudku seluruh keluarga terpandang di desa ini?" tanya Jungkook memastikan. Taehyung mengangguk pelan, karena ia masih binggung dan penuh pertanyaan sekarang. Jungkook menghela nafas panjang, " baiklah aku jelaskan dari awal, ibu dan ayah kita sebenarnya saudara dekat karena tradisi di keluarga ini yang mempertahankan keturunan murni demi menjaga kehormatan dan tentunya berkaitan dengan aset keluarga, mereka menikah...mungkin awalnya tidak ada masalah tapi kau tahu sendiri sebagai dokter akan ada keturunan yang menanggung 'akibat' dari hubungan antar saudara..lalu.. seperti yang ku ceritakan sebelumnya ibu tidak bisa menerima kondisiku dan memilih meninggalkan keluarga Jeon". Taehyung tertegun mendengar penuturan Jungkook, ia tidak menyangka jika hal ini begitu rumit.

"Dan.. sekarang giliran mu memilih hyung, kembali ke keluarga ini dengan menikahiku atau pergi mengejar kebebasanmu sendiri karena kau tidak akan bisa lepas atau menghindar dari tradisi ini termasuk meninggalkan semuanya dari dunia luar" Jungkook memberikan ultimatum dengan tatapan serius. Taehyung mengusap wajahnya, benaknya terus mengiangkan kata tidak mungkin karena semua informasi yang di terimanya begitu gila. Pikirannya seolah kacau dan dadanya terasa berat begitu mendengar pilihan yang di hadapkan padanya. Taehyung ingin kembali bersama Jungkook sebagai keluarga karena pada akhirnya hanya tinggal Jungkook yang tersisa dan menjadi bagian dari dirinya namun menikahi adiknya sendiri? terdengar amat gila.

"Aku tidak akan memaksakan semuanya kepadamu hyung..semua tergantung keputusanmu, yang pasti kita tidak akan bisa bertemu lagi jika memang kau memilih untuk tidak kembali ke keluarga ini..aku tidak bisa berbuat apapun kalau keluarga Min ikut campur" lirih Jungkook dengan senyum sedih. Hatinya masih bergejolak sakit namun mungkin memang yang terbaik jika Taehyung pergi dan bebas dari kegilaan ini.

"Aku..aku...butuh waktu untuk berpikir..." bisik Taehyung pelan, ia tidak bisa memutuskan hal ini secepat itu. Jungkook menghela nafas dan beranjak pergi dari ruangan sebelum mengatakan dengan dingin, "waktumu 1 minggu hyung.. karena setelah aboji Min kembali ke desa ini kau harus pergi secepatnya".

*

Taehyung menelusuri jalan yang remang dan sepi di sepanjang desa, pikirannya begitu kalut dengan perkataan Jungkook yang terus terngiang di benaknya. Pikirannya melayang jauh ke memori dirinya bersama dengan ibunya dulu, bagaimana ibunya terus menutupi kenangan masa lalu setelah dirinya hilang ingatan karena kecelakaan. Ia selalu percaya cerita ibunya yang mengatakan kalau ayah kandungnya dulu menelantarkan mereka dan tidak pernah perduli dengannya. Hal itu cukup mempengaruhi Taehyung yang skeptis dan selalu merasa kosong dengan figur ayah, walaupun setelah ibunya menikah kembali dengan tuan Kim, ayah tirinya dulu. Ibunya berusaha menyatukan dirinya dengan keluarga Kim tapi sia-sia saja karena sampai kapanpun Taehyung tidak bisa melihat tuan Kim sebagai sosok ayahnya dan terbukti juga kalau pria tua itu juga hanya memanfaatkan dirinya dan ibunya demi keuntungannya sendiri. Taehyung berpikir jika hidupnya amat rumit dan tidak menentu padahal yang jadi impiannya hanya memiliki keluarga yang utuh. Taehyung menghela nafas dalam dan menatap senja di tepi pantai ini, berusaha membuat dirinya relax dan berpikir lebih jernih atas keputusan yang akan di ambilnya nanti. Angin pantai menerpanya dengan lembut begitu juga suara ombak yang cukup menenangkan. Kegundahannya berganti menjadi perasaan sedih di kala ia teringat mimpinya tentang lelaki kecil manis yang tentu saja itu adalah Jungkook. Kehidupannya mungkin rumit tetapi bagaimana dengan Jungkook?Selama bertahun-tahun hanya sendirian berjuang untuk hidup bahkan ayah mereka memutuskan untuk pergi dan membebankan keluarga Jeon hanya padanya. Saat pertama kali Taehyung bertemu dengan lelaki manis itu, perasaan sendu terus menyelimuti dirinya. Pantas saja ia selalu merasakan koneksi dengan perasaan Jungkook, bagaimana kesepiannya lelaki manis itu menjalani hidupnya. Sekarang hanya tinggal mereka berdua yang masih memiliki hubungan darah, jika mereka kembali berpisah, masa depan apa yang menanti dirinya dan Jungkook?

*

"Jim.. temani aku minum Soju malam ini, pikiranku rasanya amat kacau sekarang" lirih Taehyung yang baru saja sampai di hotel dengan membawa 4 botol Soju di hadapan Jimin. Jimin mengerutkan keningnya heran tetapi setelah melihat wajah Taehyung yang terlihat kusut dan stress, tanpa banyak bicara ia mengambil gelas dan mulai menuangkan Soju bersama dengan Taehyung.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Tae?" tanya Jimin penasaran sambil meneguk ringan sojunya. Taehyung terdiam sesaat sambil meneguk sojunya cepat, rasanya ia tidak akan bisa mengatakan semua hal gila yang di alaminya sebelum dirinya mabuk. Jimin menghela nafas panjang sambil memandang langit malam yang sepi, desa ini seperti kota mati yang gelap dan tidak ada kehidupan padahal masih jam 8 malam. Taehyung terus meneguk sojunya hingga mukanya merah dan pandangannya mulai kabur, "Ini sangat konyol Jim... Jungkook..ia ternyata adik kandungku...hik" rancu Taehyung. Matanya menyorot kesedihan tetapi bibirnya di paksakan untuk tersenyum. Taehyung terlihat amat menyedihkan, terakhir kali Jimin melihat sahabatnya itu dengan kondisi seperti ini saat malam kematian ibunya. Saat itu Taehyung seperti orang linglung yang kehilangan arah. Hati Jimin sedikit berdenyut sakit melihatnya karena bagaimanapun juga hanya Taehyung sahabat yang selalu setia kepadanya. Jimin menepuk bahu Taehyung pelan, menyalurkan sedikit energi untuknya melanjutkan cerita. Taehyung mengusap matanya yang terasa mulai berembun karena air mata yang munyesak keluar.

"Kau tahu..betapa aku sangat memimpikan keluarga yang harmonis dan utuh kan?? selama ini aku merasa tidak pernah memiliki sesuatu yang bisa ku sebut 'rumah'..hik..Aku hanya ingin bahagia Jim.." lirih Taehyung meluapkan semua emosinya. Jimin mengangguk pelan, ia amat paham dengan impian dan harapan Taehyung sedari dulu juga bagaimana kesulitan yang di rasakan oleh sahabatnya itu. Begitu juga dengan dirinya, mereka menjadi sahabat yang saling memahami karena memiliki harapan dan perasaan yang sama tentang keluarga. Taehyung meneguk sojunya kasar, "Tapi... setelah sejauh ini..hik..aku..aku..tidak bisa bersama dengan Jungkook...karena..hik.. pilihan konyol" rancunya dengan ekspresi kusut dan amat sedih. Jimin menghela nafas dalam, ia pikir mungkin ini ada hubungannya juga dengan Keluarga Min yang mencoba menghalangi sahabatnya itu.

"Tae..jika ini tentang keluarga Min yang menghalangimu dan Jungkook.." belum selesai Jimin bicara, Taehyung menyela dengan keras "Bukan!!tapi.. bayangkan Jim! Aku harus menikahinya!Aku menikahi adik kandungku sendiri?!" teriak Taehyung frustasi. Jimin terdiam seribu bahasa, ia berharap apa yang di dengarnya dari Taehyung adalah kesalahan atau sahabatnya itu sedang bercanda. Tidak mungkin Jungkook meminta Taehyung untuk menikahinya bukan?ini sama sekali tidak benar.

"Kau..kau bercanda Tae...itu..tidak mungkin bukan??" ucap Jimin terbata-bata menatap wajah Taehyung dengan cemas dan pucat. Taehyung menatap dalam kepada sahabatnya itu, tidak ada kebohongan atau raut muka bercanda di sana. Semua yang di katakan dan dialaminya adalah kenyataan, "Akan lebih baik jika semua ini hanya candaan..hik..tapi tidak Jim, Jungkook serius dengan hal itu" lirih Taehyung pelan. Jimin menarik baju Taehyung dan berteriak emosi, "lalu apa yang akan kau lakukan??!!menuruti Jungkook?! Kalian sama-sama gila!" geram Jimin, wajahnya memerah dengan luapan kemarahan dan kebingungan di dalamnya. Taehyung memandang ke segala arah, dirinya tidak fokus karena sakit kepala yang kembali menghantam hebat.

"JAWAB AKU TAEHYUNG?!!!" teriak Jimin yang tidak menyadari tubuh Taehyung yang makin lemas.

"Jim.. lepaskan aku...aku tahu apa yang..harus..ku.. lakukan" bisik Taehyung sebelum matanya menutup karena tidak sanggup menahan kesadarannya lagi. Jimin memucat dan panik begitu menyadari sahabatnya itu pingsan. Ia buru-buru mengambil handphonenya untuk menelpon, namun gerakannya berhenti begitu menyadari kalau mereka tidak mengenal siapapun di desa kecil dan sepi ini, begitu juga rumah sakit atau klinik yang dekat dari sini.

"Sial!!apa yang harus kulakukan?!" geram Jimin sambil menyanggah Taehyung yang tak sadarkan diri. Ia harus mencari bantuan secepatnya sebelum sahabatnya itu makin parah.

*

TOK TOK TOK

Suara gedoran pintu yang kencang membuat Jungkook sedikit tersentakdari kegiatannya membaca di malam hari. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan suasana di rumah besar ini amat hening, Jungkook menggenggam erat buku yang ia pegang dan cemas karena siapa yang menggedor pintu malam-malam begini?. Jungkook ingin menyuruh pelayannya untuk mengecek namun baru ingat kalau ia izin untuk pulang ke mansion Min sampai besok pagi. Jungkook ingin mengabaikan suara ketukan itu tetapi makin lama, makin keras dan tidak berhenti. Jantungnya berdebar kencang dengan keringat dingin yang mengalir deras, takut Jungkook sangat takut kalau orang di balik pintu rumahnya adalah orang jahat yang siap mencelakai dirinya, terlebih ia sendirian saat ini dan kondisinya tidak memungkinkan untuk melawan. Jungkook memutar kursi rodanya ke depan pintu rumah dengan tangan kirinya memegang tongkat baseball siap untuk menghajar jika saja orang tersebut bermaksud menyerang dirinya. Jungkook sudah bersiap untuk memukul orang tersebut saat membukakan pintu namun pergerakannya terhenti saat melihat Jimin yang terlihat kelelahan bersama sosok Taehyung yang terlihat amat pucat dan tidak sadarkan diri. Jungkook hanya bisa tertegun melihat mereka yang begitu kacau sedangkan Jimin masuk ke dalam seenaknya dan menaruh Taehyung yang pingsan di sofa.

"HEI!!Kau tahu no dokter terdekat atau ada obat-obatan untuk meredakan sakit kepala?!" lantang Jimin, ia sudah tidak memikirkan sopan santun lagi yang terpenting saat ini memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Jungkook masih diam terpaku dan belum memproses apa yang terjadi. Jimin yang kesal menarik kursi roda Jungkook membuat lelaki manis itu tersentak dan kembali sadar dari lamunannya.

"HEII!!Kau dengar aku Jungkook?!" geram Jimin agak kasar tepat di hadapan Jungkook, "ah..maaf..tadi..apa yang kau inginkan??dokter?biar aku cari kontaknya dahulu" gugup Jungkook mengedarkan pandangannya seperti orang ling lung. Jimin mengusap wajahnya dan berusaha mengontrol emosinya, sahabatnya sedang sakit dan sekarang nafasnya jadi tidak beraturan, namun lelaki yang mengaku-ngaku sebagai adik dari Taehyung itu bertindak seperti orang bodoh. Jimin menatap Jungkook dengan serius dan sinis, "Dengarkan aku! Saat ini kita butuh beberapa obat untuk membuat kondisi Taehyung stabil setidaknya untuk malam ini.. kalau tidak pernafasannya akan semakin sulit dan melambat, jadi dengar perintahku dengan baik Jeon Jungkook!" tegasnya. Jungkook menelan ludah dan mengangguk pelan, biar bagaimanapun ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Taehyung. Jimin langsung melesat ke ruang obat-obatan yang di tunjukkan Jungkook dan mulai memilah berbagai obat yang cocok, ia berpikir keras bagaimana meredakan sakit sahabatnya itu, ia tahu benar jika Taehyung tidak di tangani sahabatnya itu bisa kembali koma seperti beberapa tahun lalu karena tekanan di otaknya yang begitu berat. Sementara itu Jungkook mengusap wajah Taehyung yang pucat dan penuh peluh, sambil menahan air matanya, sepertinya ia sudah terlalu banyak menekan Taehyung hingga seperti ini. Mungkin memang lebih baik jika Taehyung hidup bebas daripada terbelenggu dengan dirinya yang hanya menjadi beban bagi orang lain. Jungkook memang merasa sakit hati ketika harus melepaskan kakak satu-satunya itu namun melihat Taehyung yang menderita membuatnya lebih sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Jimin kembali dengan beberapa botol obat yang sudah di haluskan dan air putih, ia menopang tubuh sahabatnya yang tidak sadarkan diri dan membuktikan mulutnya, mencoba agar obat tersebut masuk kedalam Taehyung. Jungkook meremas dadanya kencang saat Taehyung memuntahkan obat-obatan tersebut.

"Ck..sialan!" bisik Jimin kesal karena sulitnya memasukan obat ke sahabatnya itu. Jungkook masih harap-harap cemas dan terus berdoa dalam hatinya agar Taehyung baik-baik saja, karena jika tidak ia tidak tahu lagi untuk apa dirinya hidup. Setelah 1 jam Jimin berjuang untuk memasukan obat ke sahabatnya itu, kondisi Taehyung sudah agak stabil walaupun masih tidak sadarkan diri. Jimin mengusap peluh di pelipisnya dan menghembuskan nafas lega. Berbeda dengan Jungkook yang masih pucat dan gemetaran karena rasa takut akan kehilangan lagi orang yang berharga baginya.

"Hei! Kau punya kamar tamu kan?? Tunjukkan dimana, biar Taehyung istirahat di sini sampai besok kita bawa ke rumah sakit" ucap Jimin yang terdengar seperti perintah. Jungkook agak terjegit kaget dan terbata-bata menanggapinya, "Ka-kamar tamu ada di samping ruang baca...A-aku nyalakan perapian dulu..agar hangat". Jimin memutar matanya kesal, "Sudah! kau tunjukkan saja ruangannya, biar aku yang urus sisanya" ujar Jimin cepat dan mengangkat tubuh Taehyung yang masih tidak sadarkan diri. Jungkook hanya terdiam dan mengantar mereka dengan kikuk, jujur saja ia masih sulit mencerna apa yang terjadi dan jantungnya masih berdebar cepat, tapi ia tidak boleh terlalu menampakkan kekhawatirannya di hadapan Jimin. Jimin langsung membaringkan sahabatnya itu dan menutup pintu dengan kasar tanpa mengatakan apapun pada Jungkook, membuat lelaki manis itu terdiam dan pergi menuju kamarnya sendiri. Percuma saja berusaha bicara kepada Jimin, karena sepertinya Taehyung sudah menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu dan pastinya Jimin tidak senang dengan hal itu.

*

Pagi ini Jungkook membawa manpan yg berisi sarapan dan mengetuk pintu kamar tamu tempat Taehyung dan Jimin menginap, sudah hampir 20 menit ia mengetuk dan menunggu di depan pintu seperti orang bodoh. Rasanya ingin mendobrak pintu itu saja tetapi Jungkook tidak masoh cemas akan keadaan Taehyung dan takut membuatnya terganggu lagipula tidak ia sudah muak untuk mencari masalah dengan Jimin yang masih bersikap ketus padanya.

"Ya.. tunggu sebentar!" seru Jimin setelah kesekian kali Jungkook mengetuk dan memanggil nama keduanya. Jungkook memutar bola matanya kesal, sungguh merusak moodnya di pagi hari. Jimin membuka pintu dan membiarkan Jungkook untuk masuk, Taehyung masih terlihat tidak sadarkan diri namun tidak sepucat kemarin. Jungkook memegang tangan lelaki itu dan memandangnya dengan tatapan sedih, sedangkan Jimin hanya memperhatikan sambil mengigit roti sarapannya.

"Aku sudah mendengar semuanya dari Taehyung dan kau tak perlu khawatir karena keadaannya sudah stabil..Dia hanya perlu sedikit istirahat" jelas Jimin yang cukup meredakan perasaan cemas Jungkook. Lelaki manis itu menghela nafas lega, setidaknya Taehyung sudah tidak apa-apa, namun permasalahan mereka belum selesai. Mungkin memang lebih baik jika Jungkook yang memutuskannya sekarang, ia tidak ingin lagi menjadi beban bagi orang lain terus-menerus.

"Aku ingin bicara denganmu..kita ke ruang tamu sekarang" lirih Jungkook setelah mereka terdiam beberapa menit. Jimin mengangguk pelan, ia tahu pasti ini berhubungan dengan Taehyung atau mungkin juga Yoongi. Masih banyak hal yang ingin Jimin tanyakan dan tentunya menyelesaikan semua masalah mereka bersama, setidaknya agar mereka bisa menjalani hidup dengan lebih tenang.

*

"To the point saja..Aku tidak bermaksud untuk menekan Taehyung hingga seperti ini karena memang realitanya tradisi aneh itu masih berjalan dan tidak mungkin aku hindari, jadi akan lebih baik jika Taehyung melanjutkan masa depannya mungkin tanpa diriku..aku tidak ingin menjadi beban bagi siapapun lagi" jelas Jungkook berusaha tenang walaupun sebenarnya pikirannya gundah dan cemas akan kehilangan Taehyung lagi. Jimin menatap Jungkook serius tanpa berkomentar, ia sebenarnya ingin sekali membawa pergi Taehyung saat ini juga dan sepertinya Jungkook sudah sadar akan kekonyolan dari tuntutannya itu namun kembali lagi semua tergantung keputusan sahabatnya itu.

"Aku mengerti tetapi akan lebih baik jika Taehyung yang memutuskan..lalu bisa kau ceritakan tentang tradisi aneh yang Keluarga ini lakukan? sebenarnya dulu Yoongi pernah mengatakan sesuatu tentang hal ini, tetapi saat itu aku kurang yakin" ucap Jimin pelan. Jungkook mengigit bibirnya sambil menimbang-nimbang dalam pikirannya untuk memberitahu atau tidak. Akan lebih baik jika Yoongi yang mengatakan langsung pada Jimin tapi saat ini keadaan tidak memungkinkan. Jimin bisa saja di usir paksa atau lebih parah di lenyapkan jika keluarga Min tahu kalau lelaki yang "merusak" Yoongi ada di sini.

"ehm.. seperti yang Taehyung ceritakan padamu, terdengar konyol tetapi inilah kenyataannya, orang-orang di sini begitu terobsesi untuk menjaga darah murni, bagi mereka inilah yang membuat semuanya stabil..tapi seperti yang kau tahu sebagai dokter, akan ada sesuatu yang di korbankan karena pernikahan sedarah, seperti diriku ini..Yoongi hyung tidak bisa menerima kenyataan saat adik yang di sayanginya meninggal karena penyakit bawaan karena itu ia sempat kabur dan aku ikut dengannya namun seperti yang terjadi, akhirnya ia kembali karena hamil tanpa ada yang bertanggung jawab..hal ini sangat tabu bagi keluarga Min, ah..lebih baik kau mendengarnya sendiri dari Yoongi hyung, dia akan menghubungimu dan berbicara langsung, namun..aku memperingatimu Jim akan lebih baik jika kau hanya menerima semuanya nanti daripada memaksakan kehendakmu sendiri, apapun itu" Jungkook amat serius dengan tatapan yang sedikit mengancam. Jimin menelan ludahnya tetapi berusaha menenangkan diri dan tidak menunjukkan ketakutannya di depan Jungkook.

"Apapun itu ini masalahku dengan Yoongi, terima kasih sudah membantuku menemukan Yoongi kembali, setelah ini aku akan menyelesaikan semuanya dan memulai kebahagiaanku sendiri" ujar Jimin dengan penuh percaya diri. Jungkook hanya mengangkat bahunya dan meletakkan surat pesan yang Yoongi titipkan padanya, "ini dari Yoongi, datang ke tempat dan waktu yang tertera jika ingin menemuinya". Jimin mengambil surat itu dengan cepat dan menyimpannya di kantung. Ia beranjak kembali ke kamar untuk memeriksa kondisi Taehyung sudah sadar atau belum, tentunya dengan Jungkook yang mengikuti.

tbc