Chapter 17 : The Queen Is Back {Season Two}

Hogwarts terkenal akan kisah para pendirinya yang hebat, menakjubkan, dan kebrilianan mereka dalam menciptakan atau melakukan sihir. Namun karena noda dari salah satu pendiri yang membenci muggle membuat hubungan mereka retak dan sang pendiri tersebut mendapatkan label buruk, hingga pergi dari kastel yang dinamakan Hogwarts. Dan sang pendiri tersebut adalah Salazar Slytherin yang namanya diabadikan menjadi nama asrama Slytherin yang berlambangkan ular dan berwarna hijau perak sebagai warna yang menjadi simbol nya.

Satu hal yang sejarah lupakan bahwa sesungguhnya para pendiri sendiri tidak saling membenci dan masih mengokohkan persahabatan mereka, namun karena sejarah terkenal dan darah buruk yang sudah mengakar menjadikan asrama ini berlabel jelek dan banyak prasangka yang dituai oleh mahasiswa yang masuk asrama tersebut. Seiringnya waktu berjalan semakin parah diskriminasi yang mereka dapatkan karena banyaknya melahirkan penyihir gelap namun brilian yang datang dari asrama tersebut. Sebut saja Voldemort yang sangat mewakilkan interpretasi dari Ular yang sempurna.

Oh dan mirisnya Ular adalah lambang loyalitas, totalitas, dan ajang panggung politik elit yang tangguh. Bahkan kecerdasan seorang Ravenclaw dapat bertekuk lutut dengan permainan licik sang ular. Percaya atau tidak bisa kita lihat pada anak buah Dark Lord Voldemort serta hirarki yang tidak mudah ditembus dan goyah.

"Death bukankah ini ironis hm?" ujar seorang gadis yang tengah duduk pada kursi tinggi berbantal empuk, dengan ukiran ular yang rumit bertahtakan batu permata alexandrite sebagai sisik dan zamrud gelap sebagai mata sang ular. Siku tangan kiri gadis tersebut bertumpu pada lengan kursi, sementara pipinya bersandar pada kepalan tangan yang menumpu pada lengan kursi dan tangan satunya asik membalik halaman buku tebal yang tengah ia pegang dengan santai. Mata serupa safir dingin menatap buku sejarah yang dibaca dengan bosan. Buku berjudul The Journey of Founders yang ditulis oleh cucu Salazar sendiri, namun buku itu dilarang entah dengan alasan apa oleh kementrian.

"Nona, manusia adalah hal yang rumit dan kacau dalam satu waktu. Pikiran mereka adalah senjata dan juga racun yang bisa membunuh diri sendiri" Death menjawab dengan nada monotonnya, namun tak pelak ia terhibur dengan sang nona kecil. Karena Phoenix adalah majikan yang unik, berbeda dari setiap manusia yang pernah ia layani.

"Kau benar, aku pun kadang bisa menjadi gila dan hampir menemukan diriku terbunuh secara mental" Phoenix tertawa getir mengingat apa yang pernah dilaluinya baik saat menjadi Harry Potter atau Phoenix Malfoy.

"Nona, kegilaan adalah bagian hidup dan ironi. Jika kau gila bukankah bagus?"

"Apa maksudmu?"

"Mungkin aku bisa menuai banyak jiwa yang malang dan tak berguna"

"Cih, daripada aku yang gila lebih baik aku saja yang menjadi malaikat maut."

"Oh tentu saja akan sangat diterima nona jika anda ingin magang dengan saya"

"Death, sejak kapan kau buka lowongan pekerjaan? Bahkan rekrut anak dibawah umur untuk magang?

"Sejak saat ini mistress"

Phoenix hanya memberikan stoic face dan berkata 'Enyah sana', gadis itu memijit kepalanya yang mendadak pening karena percakapan tadi.

~~~~~~~~Skip Time~~~~~

Setelah percakapan absurd dengan Death, Nix pergi ke ruang kerja ayahnya di lantai dua mansion bagian sayap barat. Ia harus menempuh jarak yang lumayan jauh karena Nix berada di ruang bawah tanah sayap timur, tempat favoritnya menenangkan diri bersama dengan Basilik kesayangannya yang sudah menetas, yang ia beri nama Akuma dalam bahasa Jepang bermakna iblis.

Bisa saja Nix ber-apparate, namun tentunya ia tidak ingin keluarganya heboh dan mulai mengurungnya kembali di kamar karena menggunakan sihir yang berlebihan menurut mereka, hal ini dikarenakan beberapa waktu yang lalu Nix sempat pingsan dan mimisan efek dari setres dan mimpi buruk mengenai kejadian pelecehan dengan Percy. Namun syukurlah sudah berlalu dan perlahan pulih.

Tanpa terasa gadis belia tersebut sudah sampai di depan kayu mahoni berukir rumit yang disebut pintu.

Tok Tok Tok

'Siapa?' terdengar sahutan dari dalam, yang diketahui Nix bahwa itu suara ayahnya

"Ini aku Phoenix, Father bolehkan aku masuk?" jawab Nix dengan sopan dan menunggu balasannya, gadis itu mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan 'cklek' suara pintu terbuka.

"Ada apa princess? Apa kau butuh sesuatu? Bukankah kau bisa meminta Dobby mengambilkan apapun untukmu? Apa kau masih merasa sakit? Sini biar Father obati." Lucius heboh dan mulai cerewet seraya menggendong putrinya dan berjalan menuju sofa, setelah duduk Nix tetap berada dipangkuan Lucius

Kepala keluarga Malfoy yang irit kata dan dingin itu kini tengah ooc dan Nix hanya memaklumi serta menikmati perlakuan sang ayah.

"Aku baik-baik saja, ya Dobby memang bisa mengambilkan apapun untukku tapi aku ingin bertemu ayah sendiri, Father terakhir kali mother meminta kau memperban Uncle Regulus, dalam sekejap uncle Reg menjadi mumi mesir"

Phoenix mengingatkan Lucius, seketika sang ayah menjadi pundung dan hampir secara imajiner menumbuhkan jamur di kepalanya, namun kembali ke wibawanya yang biasa.

"Kalau begitu ada apa?"

"Aku ingin kembali sekolah Father"

"Tidak"

"Ya"

"Tidak"

"Beri aku alasan dalam 3 kata"

"Ada Wesel disana"

"Alasan di tolak"

"Nak mengertilah, aku ingin yang terbaik untuk anak-anakku. Kau boleh meminta apapun padaku bahkan bila harus mengelilingi alam semesta ini untuk memenuhi keinginanmu"

Phoenix terdiam melihat wajah Lucius yang begitu memohon dan frustasi, di mata tua nya yang tajam tergurat kelelahan, kasih sayang, dan ketakutan. Gadis belia itu terenyuh dan hampir membatalkan keinginannya namun ia sudah bertekad. Dengan mantap ia menatap ayahnya dengan tegas dan kedua tangannya menangkup pipi Lucius

"Father, aku tidak bisa selamanya kau kurung atau bergantung pada keluargaku selalu. Ada waktu dimana aku harus mandiri, kejadian saat itu anggap saja sebagai salah satu pelajaran bagiku untuk menjadi lebih kuat dan waspada disekitar ku. Father aku yakin dengan kekuatanku dan juga orang-orang yang kucintai dan ku percaya pasti bisa membantuku dan menjadikanku kuat untuk melindungi apa yang menjadi milikku. Kita adalah keluarga Ular, ular saling melindungi, lambang ambisius dan kelicikan. Di darahku mengalir keluarga Black, Potter, Malfoy, bahkan Peverell, dan pendiri kita yang agung Salazar Slytherin, percaya padaku bahwa aku putrimu adalah Lady yang kuat dan layak dibanggakan bahkan ditakuti oleh bangsawan lain di Wizarding World"

Setelah pidato itu Nix menurunkan tangannya, namun masih menatap sang ayah. Lucius yang melihat keteguhan putrinya merasa memang harus mengalah dan mengakui bahwa putrinya adalah orang yang layak dan kuat. Bahkan di perhitungkan oleh Dark Lord sebagai calon penerus berikutnya dibandingkan dengan pengikut setianya yang lama dan berpengalaman untuk golongan tua.

"Ya Princess, ucapanmu benar dan aku bangga padamu. Namun berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu bahagia dan baik-baik saja. Katakan padaku apa yang kau butuhkan karena aku dan ibumu bahkan keluarga dark akan selalu menyambut dan membantumu Phoenix"

"Uhm, aku janji Father."

"Jangan ingkari janjimu nak, lakukan sesukamu bahkan ketika kau berdiri di meja Dumbles sambil menendang mangkuk permen bodohnya tidak akan ada yang berani menyentuhmu. Karena kau Malfoy"

Phoenix hanya terkikik dan akhirnya mengadakan minum teh dengah Lucius dan Narcissa yang kebetulan baru pulang dari acara pertemuan para Lady di kediaman Parkinson dan langsung pergi menemui suaminya.

Sementara itu anak Slytherin tengah menyeringai bahagia dengan terus menyiksa kawanan Gryffindor ataupun para penggosip yang menyebarkan desas-desus tidak enak mengenai Phoenix. Mereka tidak tertangkap karena antar asrama bekerja sama dalam mengatasi gosip atau kawanan tidak penting dari Gryffindor yang mencoba menjelekan-jelekan nama baik Nix.

Aku akan kembali pertengahan semester musim semi tahun depan. Tetaplah jadi yang terbaik para ular.

Phoenix Aquilla Malfoy.

Begitu surat yang dibacakan Marcus Flint pada penghuni asrama ular. Terlihat seseorang yang tidak senang dan berlalu dari ruang rekreasi, Marcus mengamatinya dan mencatat apa yang akan dilakukannya namun tidak ambil tindakkan bila belum terlalu bahaya. Ia hanya mengamatinya dulu saat ini

Tbc

Hai maaf baru update, aku sebenernya update ini pas masih uts wkwkw dan lagi jeda dulu.

Apa kabar kalian semua? Semoga pada sehat dan bahagia selalu. Kalau ada yang sakit semoga cepat sembuh dan yang sedih semoga cepet happy lagi :)

Btw gak ada yg bisa tebak authornya yah wkwkwk... berarti aku gak jadi bikin chara pm x readers wkwkwk.

Bye semua, aku mau lanjut ngerjain uts dulu, Sayang kalian semua. Love You All dari Hika dan Ka Aya :)