Tiga wanzer setinggi lima setengah meter berjalan menuju pintu masuk Pangkalan Yokosuka. Matahari sudah terbit. Langit masih mendung berawan. Yang ada di depan mereka hanyalah bangunan dan jalan. Tidak ada wanzer yang berkeliaran. Hanya dua tank yang bertengger di dua sisi pintu gerbang dan dua wanzer Jinyo yang berpatroli.
"Keamanan tidak seketat yang aku kira," kata Kazuki.
"Kamu hanya meminta masalah dengan perkataanmu tadi," kata Ryogo.
"Di sana seharusnya ada trailer yang menunggu kita," kata Emma.
Tentara yang berada di dalam tank melihat wanzer menghubungkan komunikasi ke pihak pusat. "Di sini gerbang utama. Wanzer tak dikenal konfirmasi. Minta backup segera."
Dari dasar lantai di gerbang, mencuat tiga lapis logam tebal menutup pintu gerbang. Barikade.
"Tuh kan, kan sudah kubilang jangan minta yang enggak-engak," kata Ryogo.
"Oh, diam! Bala bantuan mungkin dalam perjalanan sekarang," kata Kazuki.
"Jangan khawatir, aku sudah mengatasinya. Aku telah meminta support dari luar," kata Emma.
"Kamu luar biasa, Emma," kata Ryogo.
"Jadi, apa yang harus 'kita' lakukan?" kata Kazuki.
"Aku telah memerintahkan mereka untuk menghancurkan barikade. Kita akan kabur setelah barikade hancur," kata Emma.
Kazuki dan Ryogo pergi mengepung satu wanzer Jinyo berwarna abu-abu sedangkan Emma memberi dukungan misil dari jarak jauh. Sejago apapun tentara, kalau dikepung oleh tiga orang amatir, sudah pasti akan kewalahan. Meski Kazuki curiga pada Emma yang katanya adalah saintis, tetapi tembakannya sangat jitu. Saintis tidak seatletis itu. Emma sudah jelas bukan amatir.
Tapi ada yang aneh. Kedua tentara JDF dan tank tidak seagresif yang dia kira. Malah terkesan melarikan diri. Apakah karena mereka merasa terdesak?
Kazuki mendengar dua wanzer baru berjalan ke arah mereka. "Bala bantuan?"
"Mana support kita?" sahut Ryogo.
Seakan menjawab pertanyaan Ryogo, puluhan granat turun dari atas langit menghancurkan barikade. Jalan keluar terbuka lebar.
Kazuki menerima sinyal radio dari Emma. "Kazuki, dengarkan aku baik-baik. Mulai dari sekarang kamu menentukan target area. Tapi amunisi kita terbatas, jangan sia-siakan."
"Baik," kata Kazuki.
Kazuki bingung mengapa Emma menyerahkan perintah menjatuhkan granat kepada dirinya. Dia hanya mahasiswa. Dia tidak ingin mendapat pidana pembunuhan karena kuasa baru ini. Tujuan utama Kazuki adalah kabur. Dia akan memakai granat ini untuk melumpuhkan wanzer yang mengejarnya.
Kazuki menghubungkan komunikasi kepada Ryogo dan Emma. "Ryogo, Emma, jangan lupa tujuan kita adalah kabur."
"Tentu saja, Sobat. Aku kaget perkataan seperti itu keluar dari mulutmu," kata Ryogo.
"Oh, diamlah," sahut Kazuki. Di saat seperti ini Ryogo masih saja bercanda. Hampir saja Kazuki menekan granat ke lokasi Ryogo.
"Baiklah," kata Emma.
Mereka berhasil keluar juga dari Pangkalan Yokosuka.
Tapi Kazuki tidak bisa berdiam diri. Bala bantuan akan dapat mengejar mereka segera.
"Dimana trailernya?" kata Kazuki.
"Harusnya dekat sini⦠ketemu. Ikut aku," kata Emma berjalan menuju truk yang sudah disiapkan oleh tim intelijen.
Kazuki melihat helikopter terbang melintasi mereka.
"Ada musuh lagi?" kata Ryogo.
"Helikopter angkut barang?" kata Kazuki.
Helikopter angkut barang sudah jauh meningalkan mereka.
"Setidaknya mereka tidak menyerang kita," kata Kazuki.
Keluar suara frekuensi tinggi memekakkan telinga. Sinyal dari Emma. "Apa yang kalian lakukan? Kita tidak punya waktu untuk bersantai-santai."
"Bukankah kamu sangat suka memimpin?" kata Ryogo.
"Ngomong apalah kamu? Kamu mau diteriakin lagi?" kata Kazuki mengusap telinga.
Kazuki dan Ryogo bergegas menaiki trailer yang disiapkan oleh Emma.
"Sudah siap," kata Kazuki menancapkan gas.
Trailer meninggalkan Pangkalan Yokosuka menyisakan dua Wanzer pasukan khusus berdiri di depan gerbang. Satu tentara pasukan khusus berkomunikasi terhadap atasannya berambut cepak hitam bernama Kuroi yang sempat bertengkar pada Kazuki pagi ini. "Di sini gerbang utama. Target sudah kabur lewat trailer."
"Kejar mereka! Tapi hindari pertempuran. Tangkap mereka sesudah mereka meninggalkan kota," kata Kuroi.
"Roger," kata tentara.
