Kazuki mengendarai trailer sampai di depan garasi Industri Kirishima di Yokosuka Utara. Kazuki menempelkan kartu identitas. Pintu pun terbuka. Trailer masuk ke dalam garasi. Garasi kosong.
"Apakah kita sudah aman?" kata Ryogo.
"Masih belum, kita tidak bisa berlama-lama di sini," kata Kazuki.
Ryogo menjambak rambutnya. "Ugh, dasar stalker."
Kazuki menatap wanita berambut pirang itu. Dia butuh kejelasan sekarang juga. "Emma, kita tidak punya waktu. Ceritakan kepada kami apa yang terjadi."
Emma terdiam untuk beberapa saat. Menghela napas. "Aku rasa kalian memiliki hak untuk mengetahui hal ini. Aku bekerja pada USN. Aku meneliti untuk militer."
Sudah kuduga, pikir Kazuki.
"Sebuah alat yang aku kembangkan dicuri. FAI [1] sudah membantuku untuk mencarinya. Kemudian, aku mendengar berita tentang ledakan di Yokosuka…" lanjut Emma.
"Apakah kecelakaan itu berhubungan dengan alatmu?" kata Kazuki. Masih menatap Emma.
Emma berpaling. "Hanya itu yang bisa aku sampaikan kepada kalian untuk sekarang."
Ryogo berkata,"Apakah JDF mencuri alat itu dari USN?"
Emma hanya terdiam.
Ryogo sepemikiran dengan Kazuki. "Kamu sendiri melihatnya. Sangat tidak normal. JDF sudah pasti menyembunyikan sesuatu dari kita," kata Kazuki.
"Iya, mereka bahkan berusaha untuk membunuh kita," kata Ryogo.
"Dan sekarang Alisa menghilang karena mereka!" Kazuki tidak tahu kenapa dia harus mengatakan nama adiknya di hadapan orang asing.
Emma menoleh. "… Alisa?"
Bukan itu reaksi yang diharapkan. Apakah Emma mengenal Alisa? Mengingat Alisa adalah saintis sama seperti Emma…
"Alisa adiknya. Mereka tidak sedarah sih," kata Ryogo.
"Oh diam!" kata Kazuki. Dasar mulut ember. Lagipula kenapa dia harus menekankan soal itu. Apakah Ryogo berpikir dia suka dengan Alisa. Tidak mungkin! Ah, bagaimana keadaannya sekarang. Tidak ada pesan darinya. Terakhir menelepon, Alisa masih berada di luar jangkauan.
"Kita tidak tahu apakah dia terluka. Jangan terlalu khawatir," kata Ryogo.
"Tapi dia ada di dalam pangkalan!" kata Kazuki. Dia masih tidak bisa menghubungi Alisa.
"Alisa baik-baik saja. Dia lebih pintar dari kamu," kata Ryogo.
Iya, jawaban yang sangat meyakinkan. Kazuki tidak tahu mau ngomong apa.
Ryogo menggaruk kepala. "Apakah kamu bisa meminta bantuan ayahmu?"
"Tidak, dia tidak akan pernah membantu aku," bentak Kazuki.
"Santai, Bro…" kata Ryogo.
"Kalau bisa dia bahkan sanggup membunuh keluarganya hanya untuk JDF. Mungkin dia dalang dari kecelakaan itu," kata Kazuki. Seperti waktu itu…
Ryogo mengangkat kedua tangan. "Oke, fine."
Emma menjernihkan tenggorokan. "Kita harus keluar dari sini. Kalian bisa ikut dengan aku, atau kalian bisa mencari jalan keluar sendiri."
"Tunggu sebentar, kamu mau meninggalkan kita?" kata Ryogo.
"Kami akan pergi dengan kamu. Lagipula kami masih memiliki banyak pertanyaan untuk kamu," kata Kazuki.
Ryogo mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan meninggalkan Yokosuka. Temanku menunggu di Honmokufuto, Yokohama," kata Emma.
"Baiklah," kata Kazuki.
"Mari lengkapi perlengkapan kalian sebelum kita pergi. Kalian dapat menyiapkan wanzer di sini," kata Emma.
"Kazuki, kamu payah soal wanzer. Suruh Emma ajarin kamu… Hei, kamu mau aku siapkan untukmu?" kata Ryogo.
"Oh, diamlah," kata Kazuki. Beraninya Ryogo mempermalukan dia di depan Emma.
Emma tersenyum.
Dan itu senyum pertamanya sejak pertama mereka bertemu. Kazuki terbengong.
"Aku akan mengajari kamu hal yang kamu tidak tahu. Siapkanlah sekarang," kata Emma.
[1] FAI: Aku nggak ketemu kepanjangannya. Bukan FBI, tapi mirip-mirip. XD
