Kazuki melanjutkan perjalanannya. Kalau mereka ingin mencapai Yokohama, maka jalan tercepat untuk sampai ke sana adalah melewati Jalan Tol Kamariya.

"Tunggu sebentar," kata Emma.

Kazuki menghentikan kendaraan.

"Polisi… Ini tidak baik," kata Kazuki.

"Apakah mereka sedang memburu kita?" kata Ryogo.

"Mungkin," kata Kazuki.

"Aku pikir kita bisa menerobos dengan trailer kita," kata Emma.

"Kita hindari pertikaian. Kita akan terobos," kata Kazuki.

"Kamu mau bermusuhan dengan polisi? Bukankah itu tidak keren?" kata Ryogo.

Bunyi mesin helikopter. Kazuki mendongak ke atas. Helikopter melancarkan tembakan ke trailer mereka.

"Helikopter JDF!" kata Kazuki.

"Mereka menemukan kita!" kata Emma.

"Disini masih ada rakyat sipil! Kenapa mereka menyerang?" kata Kazuki.

Dia harus bergegas ke wanzer untuk bertarung mempertahankan diri.

"Kita akan mati! Cepat!" kata Ryogo.

Mereka bertiga keluar dari trailer dengan wanzer. Trailer meledak.

"Berani sekali mereka memperlakukan kita. Aku akan ladeni mereka dengan wanzerku!" kata Kazuki.

Di depan terdapat dua wanzer Kyokei milik polisi dan tiga helikopter dari tiga penjuru. Wanzer polisi tidak dibuat untuk pertarungan agresif sehingga mereka bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah misil dari helikopter. Mereka harus dilumpuhkan segera. Tapi, tidak bisa karena jarak polisi yang lebih dekat. Mau tak mau Kazuki harus menyerang polisi. Lagipula dia sudah menjadi buronan. Polisi pun sudah pasti tidak melindungi hak dia. Tidak ada pilihan.

Kazuki dan Ryogo menghabisi kedua polisi dengan cepat meski di tengah pertarungan mereka mendapat serangan misil dari helikopter. Asalkan tidak ada bagian rusak. Kazuki melihat ke belakang. Kedua lengan Emma hancur. Gawat. Helikopter masih tersisa dua. Dia harus berlomba dengan waktu.

Dia menghampiri satu helikopter. Menembak. Satu helikopter yang sebelumnya diserang oleh Emma pun tumbang. Pertarungan tadi hampir membuat bagian tubuh wanzernya rusak total. Kazuki mesti berhati-hati.

Kazuki lanjut ke helikopter terakhir dimana Ryogo sedang bertarung untuk menghancurkannya. Emma sudah berada di luar wanzer. Gawat. Emma berada di posisi genting.

Helikopter melihat Emma yang sangat rentan terbang untuk menembaknya di tempat.

Kazuki menahan tembakan machine gun dari helikopter. Tembakannya menghancurkan tubuh mesin. Kazuki sekarang berada dalam bahaya. Dia harus keluar sebelum wanzernya meledak.

"Kazuki!" teriak Emma dan Ryogo bersamaan.

Jangan panik dan berdoa semoga emergency exit di wanzernya bekerja. Kazuki keluar juga dari wanzernya. Sesaat itu juga, wanzernya meledak.

Emma tak berhenti menangis.

Kazuki tidak tahu harus berbuat apa.

Hanya Ryogo harapan mereka sekarang.

Ryogo berhasil menumbangkan helikopter terakhir.

Kazuki lega. Dia berhutang nyawa pada Ryogo.

Ryogo datang menghampiri.

"Mereka benar-benar memakai segala cara untuk menghancurkan kita," kata Kazuki.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Trailer sudah hancur berkeping-keping," kata Ryogo.

Emma mengusap mata. "Sepertinya kita harus mencari lagi."

"Emma, maafkan aku sudah merusak wanzer pemberianmu," kata Kazuki.

"Tidak masalah. Aku tadi sudah menghubungi temanku. Mereka akan mengirimkan wanzer baru segera," kata Emma.

Selalu berkepala dingin. Tipikal Emma, pikir Kazuki.

Kazuki menoleh ke langit. "Kita harus berjalan dengan wanzer untuk sementara."