Berjalan dan berjalan. Panas. Sumpek. Jalan yang tiada berujung. Mengendarai wanzer sudah pasti bukan pilihan yang baik. Tidak seperti mobil. Kursi mobil empuk. AC-nya adem. Tidak ada fasilitas mewah di wanzer kecuali senjata yang dipegangnya. Tampak jembatan bypass. Tinggal lewati satu jembatan bypass maka pintu keluar jalan tol sudah sampai.

"Pintu tol ada di depan," kata Kazuki meyakinkan dirinya.

"Wohoo, tinggal sedikit lagi kita akan sampai ke kota!" kata Ryogo.

Uh-oh. Dua wanzer JDF berjalan di atas jembatan bypass.

"Akhirnya aku menemukan kalian, tikus-tikus kecil. Sekarang kalian sudah mengetahui kebenaran di balik ledakan itu. Kalian tidak akan lolos.

"Kalau mereka menolak untuk ditangkap, bunuh mereka di tempat. Jangan biarkan mereka lewati jalan ini," kata Kuroi.

"Siap Mayor!" kata tentara JDF.

"Pengejar? Mereka menghadang jalan kita," kata Kazuki.

"Model itu… Pasukan khusus JDF!" kata Emma.

"Bertarung lagi? Apa lagi? Mereka datang dari belakang! Kita dikepung!" kata Ryogo.

Benar, satu wanzer polisi dan satu tank berada di belakang.

"Tidak ada jalan lain, kalahkan mereka. Ayo, Ryogo!" kata Kazuki.

Kazuki mendongak ke atas. Dua tentara wanzer berlengkapan misil. Kazuki berada di posisi tidak menguntungkan. Dia harus berjalan mendekati wanzer misil.

Misil dari Emma melumpuhkan Kuroi.

Perhatian Kazuki beralih ke wanzer misil lain.

Ryogo sekarang berada di ketinggian menembak tank yang berada di bawah. Ryogo berada di posisi menguntungkan. Jadi Kazuki tidak begitu menghiraukan Ryogo.

Dengan mudahnya, semua wanzer dihancurkan oleh mereka. Untuk sekarang, mereka bisa menghadapi tentara JDF dalam jumlah kecil, tapi cepat atau lambat mereka akan kewalahan kalau dikepung oleh seluruh tentara JDF. Mereka harus keluar dari Jepang segera.

Kazuki menghela nafas. "Mereka tidak akan pernah menyerah bukan?"

"Mungkin mereka naksir sama kamu?" kata Ryogo.

"Ngaco," kata Kazuki. Bulu kuduknya merinding.

"Aku rasa merepotkan berjalan dengan wanzer ini," kata Emma.

"Kita akan mencapai Yokohama sesudah kita melewati jalan tol ini," kata Kazuki.

"Mencari trailer di Yokohama seharusnya mudah," kata Ryogo.

"Aku hanya bisa berharap," kata Emma.

"Hei, ini aku. Aku sudah menyiapkan semuanya," kata Ryogo meniru suara Emma.

Kazuki heran. Dari mana energi Ryogo untuk bisa bercanda di waktu seperti ini.