Tiga wanzer bersenjata penuh berjalan di jalan tol kosong. Setelah jalan kaki selama berjam-jam, akhirnya sampai juga di gerbang akhir jalan tol.

"Blokade…" kata Kazuki.

"Mereka tidak bodoh pastinya," kata Ryogo.

Tidak mengherankan. Mau tak mau mereka harus keluar juga dari jalan tol. Menunggu di pintu gerbang jalan tol adalah pilihan pintar.

"Apa yang harus kita lakukan Emma? Apakah kita harus memutar untuk menghindari pertarungan?" kata Kazuki.

"Tunggu! Lihat baik-baik." Emma menunjuk pada trailer yang berada di balik pintu gerbang jalan tol. "Kita bisa pergi ke kota dengan truk itu."

"Mencuri truk orang? Aku tidak tahu mengenai hal itu…" kata Kazuki. Mudah saja bagi orang asing seperti Emma untuk berpikir seperti itu. Jepang bukan tempat tinggalnya. Tapi Kazuki adalah orang Jepang dan akan tetap tinggal di Jepang.

"Kita tidak mencuri… hanya meminjam. Ini darurat. Aku rasa mereka akan mengerti," kata Ryogo.

Itulah perkataan klise tiap kriminal kelas teri. Apakah sekarang Kazuki harus merendah serendah ini?

"Aku setuju dengan Ryogo. Kita harus fokus melarikan diri," kata Emma.

Sekarang memang nyawanya lebih berharga. Kalau seandainya dia mati di sini, dia tidak akan bisa menolong Alisa. Tak apa dia masuk penjara asalkan bisa pastikan kalau Alisa selamat. "Baiklah, kita hancurkan barikade. Terobos masuk."

Misil meluncur ke hadapan Kazuki dari arah jam dua. Klang. Badannya terkena.

Untuk sementara abaikan dulu wanzer misil. Kazuki berjalan ke arah jam 11. Wanzer machine gun di hadapannya. Kazuki tidak sendiri. Dia di-support oleh machine gun Ryogo dan misil Emma. Kazuki menembakkan shotgun menghancurkan lengan yang memegang machine gun. Musuh meninju kembali dengan lengan yang tersisa. Tinjuan musuh mengaktifkan emergency exit sehingga pintu wanzer terbuka dan nonaktif untuk sementara. Wanzer payah. Meski emergency exit sempat menyelamatkan dia di pertarungan sebelumnya, sekarang malah membahayakan nyawanya.

Ryogo melumpuhkan wanzer machine gun. Pilot dari wanzer itu melarikan diri. Syukurlah.

Suara misil. Misil menuju ke arahnya. Waduh, gawat. Kazuki menatap wanzernya. Ayo, cepat aktif.

Ryogo menembak misil meski seperti menembak angin.

Ayo, cepat aktif.

"Loading terkonfirmasi. Silakan masukkan data pilot."

Oh, syukurlah! Kazuki memasuki wanzer. Misil menubruk wanzer Kazuki. Setidaknya wanzernya lebih tahan misil dibandingkan dia.

Kazuki melihat status wanzer. Masih bisa bekerja. Ketahanan tubuh dan kaki tinggal separuh. Masih bisa untuk melumpuhkan wanzer misil.

Wanzer misil sudah hampir dilumpuhkan oleh Ryogo dan Emma. Kazuki menembakkan shotgun. Wanzer misil rusak total.

Ryogo menghancurkan barikade. "Baiklah, ayo kita ambil truk itu." Ryogo berjalan ke hadapan truk. "Hmm… supirnya sudah melarikan diri."

"Bagus, kita pergi ke Yokohama sebelum mereka menemukan kita," kata Emma.

"Tapi, kalau kita tetap lari seperti ini, cepat atau lambat mereka akan mengejar kita," kata Kazuki.

"Kamu benar kecuali kalau kita sampai ke kota. JDF tidak akan menyerbu kita di kota," kata Emma.

"Ah, aku punya tempat yang bagus di Yokohama. Aku punya kenalan yang punya bengkel di sana. Kita bisa bersembunyi dari JDF sampai keadaan lebih mereda," kata Ryogo.

"Iya Emma, kamu pasti lelah dari pertarungan ini. Kita butuh istirahat," kata Kazuki. Sebuah keajaiban dia dan Ryogo masih bisa terjaga sampai sekarang. Mereka belum tidur karena dikejar terus oleh JDF.

"Jangan pedulikan aku. Kita harus bergegas," kata Emma.

"Baiklah kalau begitu, ladies and gentlemen, kita berangkat," kata Ryogo.