Akhirnya sampai juga di Honmokufuto, tempat perjanjian antara Emma dan temannya. Setidaknya mereka akan sampai ke pesisir Yokohama dan naik kapal meninggalkan Jepang.
Kazuki mengernyit dahi. Wanzer hitam JDF menunggu di depan mereka. Tidak salah lagi. "Mereka lagi?"
"Heh, siapa peduli. Kita akan hancurkan mereka!" kata Ryogo.
Dia sudah bosan hidup.
"Tunggu, di sini sudah cukup!" kata Emma.
"Di sini? Pelabuhan masih jauh. Akan lebih baik kalau kita bergegas ke kapal!" kata Kazuki.
"Lakukan seperti yang aku katakan. Siapkan wanzer," kata Emma dengan suara otoriternya. Lagi.
Kazuki tidak habis pikir apa yang dipikirkan oleh Emma. Mau tak mau dia harus siapkan wanzer. "Kalau begini terus, mereka akan menutup rute keluar kita."
Nginggg.
Pintu gudang di sebelah kanan terbuka. Moncong pesawat terbang mencuat ke luar.
Apa lagi?
"Pesawat terbang?" kata Ryogo.
"Kalian menyembunyikan pesawat di sini?" kata salah satu antek.
"Tidak mungkin mereka lepas landas. Abaikan pesawat terbang!" kata antek yang lain.
Wanzer yang tak dikenal berjalan mendekati rombongan mereka. Menembak antek.
"Kamu terlambat Emma. Siapa mereka?" kata pria kaukasian dengan rambut hitam bergelombang.
Emma tersenyum. "Nanti, Dennis. Kita kedatangan tamu tidak diundang."
"Oh begitu..." kata Dennis. Seperti bukan hal yang baru.
Dua orang Amerika yang dingin, pikir Kazuki.
Dengan cepat mereka lumpuhkan musuh.
Dennis menghampiri mereka mengamati atas bawah. "Jadi siapa mereka?" kata Dennis.
"Kazuki dan Ryogo. Mereka membantuku. Jangan khawatir. Mereka bisa dipercaya," kata Emma.
Dennis mengangguk. "Oke kita akan masuk ke gudang. Aku akan jelaskan rencana pelarian kita."
Kazuki memasuki gudang. Terlihat tua. Ruangan yang gelap. Rantai besi berkarat menggantung. Cahaya matahari masuk melalui celah sempit di atas dinding gudang.
Dennis mengarahkan mereka untuk duduk di atas kursi kayu. Dennis duduk mengangkang memangku kedua tangan layaknya CEO. "Saya akan menjelaskan dengan singkat. Nama saya Dennis Vicarth, agen FAI. Kita akan meninggalkan Jepang dan akan bergabung dengan armada laut ketiga. Kalian tidak akan kembali ke Jepang untuk sementara."
"Tak apa. Bagaimana kita bisa lepas landas?" kata Kazuki. Pertanyaan sejuta yen.
"Tidak ada jalur lepas landas di sekitar ini," kata Ryogo menambahkan.
Dennis menghela nafas. "Kalian orang Jepang tidak punya imajinasi. Kita bisa memakai sesuatu yang lain sebagai jalur lepas landas."
Kazuki mengernyit dahi. "Apa itu?"
"Kalian tahu jembatan yang dibangun di dekat sini?" kata Dennis.
"Oh, jembatan Shin-Ohgishima?" kata Ryogo.
Apalah hidup itu. Apakah bisa jembatan yang belum selesai menanggung pesawat? Siapa yang memakai jembatan setengah jadi sebagai jalur lepas landas? "Kamu mau memakai jembatan itu sebagai jalur lepas landas?" kata Kazuki.
"Jembatan itu hampir selesai. Kita akan baik-baik saja," kata Dennis.
"Ya ampun…" Kazuki berpaling ke Emma. "Emma, apakah kita akan baik-baik saja?"
Emma tersenyum penuh keyakinan. "Tentu, jika dia bilang begitu."
Coret soal dua orang amerika yang dingin. Mereka gila. Terserah mereka bilang orang Jepang sangat tidak imajinatif. Orang Jepang lebih menghargai nyawa dibandingkan mereka.
"Itu saja. Kita harus pergi sekarang. Musuh akan datang," kata Dennis menutupi rapat singkat mereka.
