Kazuki mengikuti Emma keluar dari ruangan rapat menjengkelkan ke lorong kapal induk. Dia tidak sabar untuk merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Seorang pria berperawakan tinggi berjalan mendekati rombongan. Padahal Kazuki termasuk orang tertinggi diantara teman sebaya dan juga di dalam rombongan.
Dennis tampak tegang. "Lukav."
"Apakah mereka agen yang kamu sewa?" kata Lukav. Matanya yang tajam men-scan Kazuki dan Ryogo. Bukan. Hanya Kazuki.
"Iya, mereka bagus. Bagaimana pencariannya?" kata Dennis.
"Purple Haze sedang mencari. MIDAS akan ditemukan," kata Lukav.
"Baiklah. Terima kasih," kata Dennis.
"Tidak apa-apa," kata Lukav.
Entah perasaan atau gimana, pandangan Lukav masih tertuju pada Kazuki seorang. Kazuki yakin tatapan itu tidak normal sekalipun dia orang Amerika. Bulu kuduk Kazuki merinding. "Apa lihat-lihat?" Bentak Kazuki.
Lukav masih memandang Kazuki dengan muka datar. "Kami mengandalkan kalian..." Berjalan melewati Kazuki memasuki ruang rapat.
Kazuki memeluk dirinya. "Siapa pria menyeramkan itu?"
"Dia Lukav Minaev. Top agen FAI. Tidak bersahabat, tapi cerdas," kata Dennis.
Ryogo tertawa. "Tidak bersahabat? Sama seperti kamu, Dennis."
Muka Dennis datar. "Itu tidak benar." Kemudian nyengir. "Aku punya lebih banyak teman daripada Lukav."
"Oke…" kata Ryogo dengan nada skeptis.
Dennis kembali serius. "Ada yang harus aku urus. Tunjukkan kamar mereka, Emma."
Emma mengangguk. "Tentu."
Setelah mengikuti Emma melewati lorong-lorong, Emma mengantarkan mereka pada pintu besi. "Ini kamar kalian." Emma membuka pintu.
"Ruangan ini sangat sempit! Bisakah kamu memberikan kamar pribadi untuk Kazuki?" kata Ryogo.
"Hentikan ocehanmu," kata Kazuki. Sendiri tidak puas, kenapa namanya dibawa-bawa. Tapi memang benar. Sempit.
Ryogo duduk di atas kasur. "Semuanya menjadi menarik, ya? Aku rasa kita harus menikmati perjalanan ini." Ryogo memainkan ponsel.
Kazuki duduk di atas kasur di sebelah Ryogo menatap Emma. "Jadi apa itu MIDAS?"
Perhatian Ryogo teralih ke Emma.
Emma menutup pintu. Duduk di kursi mengatupkan kedua tangan. "Sekarang kalian adalah bagian dari kami, karena itu aku bisa ceritakan sekarang." Emma menghela nafas. "MIDAS adalah bom."
"Bom? Bukannya kamu bilang itu alat penelitian?" kata Kazuki.
"Iya, tapi itu juga bisa dipakai sebagai bom. Bisa menghasilkan energi," kata Emma.
"Bagaimana bisa dibuat menjadi bom?" kata Kazuki.
"Ketika energi yang dihasilkan oleh alat itu menjadi tidak stabil, dia meledak, dan ini menyebabkan runtuhnya nukleus dan terjadi atomisasi," kata Emma. "Tapi tidak menghasilkan radiasi."
"Jadi itu yang terjadi di Pangkalan Yokosuka," kata Kazuki. Jadi itu penyebab laboratorium bawah tanah menguap tanpa puing.
"Ledakan di dalam Yokosuka itu disebabkan oleh duplikat buruk dari MIDAS," kata Emma seakan menjawab pikiran Kazuki. "Aslinya akan menghancurkan seluruh pangkalan."
Kalau benar maka Kazuki akan lenyap juga oleh ledakan.
Ryogo ber-o ria. "Jadi itu bom yang ramah lingkungan."
"Tidak ada bom yang ramah!" kata Kazuki. Bagaimana bisa Ryogo fokus pada hal itu?
"Itu poin utamanya. Bom atom tak bisa dipakai karena merusak lingkungan. MIDAS bisa dipakai tanpa resiko kerusakan lingkungan," kata Emma.
Oh, jadi Kazuki yang jadi orang bodoh. Tunggu sebentar... "Kamu mau bommu kembali, bukan? Kamu mau memonopoli itu!"
"Bukan. Kami USN tidak mencari MIDAS untuk kepentingan sendiri. MIDAS harus dihancurkan sebelum terlalu terlambat. Kita harus menghentikan produksi untuk selamanya," kata Emma.
Katakan itu pada kuburan adiknya. Gara-gara penelitian egois itu- Kazuki berdiri menunjuk Emma. "Kamu mau aku percaya omong kosong itu? Alisa menghilang karena MIDAS!"
Emma terdiam.
Ryogo berdiri menghadap Kazuki. "Hentikan Kazuki. Kamu sudah kelewatan."
Emma membungkukkan diri. "Tak apa. Ini salahku."
Kazuki menurunkan tangannya. Kenapa dia seemosional ini? Dia sudah mengucapkan kata kasar pada wanita. Dia merasa tidak enak. "Maafkan aku, Emma…"
Ryogo merangkul Kazuki dan Emma. "Kita ini setim! Ayo kita akur!"
Pintu terbuka.
"Emma! Kami mendapatkan lokasi MIDAS," kata Dennis.
Akhirnya...
Emma berdiri tegap. "Oke."
