Kembali lagi ke ruang rapat. Kini ruangan dipenuhi oleh banyak orang. Orang-orang dengan ras yang berbeda tapi memiliki satu kesamaan. Seragam serba ungu muda.

"Apa yang kita ketahui mengenai keberadaan MIDAS!?" kata Emma dengan tempo dua kali dari biasa.

"Tenanglah. Aku akan jelaskan," kata Lukav.

"Jangan khawatir, Emma. Kami sudah menginvestigasinya," kata pria berkulit hitam dengan bandana merah yang menyangga rambut pirang sebahu. Nama Joe terpampang di seragamnya.

"Siapa kumpulan periang ini?" kata Ryogo.

"Squad pribadi FAI, Purple Haze," kata Dennis.

"Huh. Nggak pernah dengar tentang mereka," kata Ryogo.

"Jadi, dimana MIDAS?" kata Emma.

Wanita pirang dengan ikat ekor kuda bernama Cindy berkata, "Kamu benar, Emma. Yang aslinya memang di Yokosuka. Tapi sudah dibawa ke Atsugi sesudah kecelakaan itu."

"Dibawa…" Kazuki menyerngit dahi. "Helikopter transport di pintu gerbang pangkalan itu! Dia yang membawa MIDAS."

Ternyata MIDAS pernah melewati kepalanya! Sedikit lagi...

Pria rambut pirang ikal membetulkan kaca mata. "Kita tidak tahu kemana mereka pergi setelah itu." Papan namanya tertulis 'Gastor'.

Joe terkekeh. "Ya, kita tidak tahu."

"Apa gunanya ceritakan ini?" kata Emma. Nadanya naik seoktaf dari biasa.

Kazuki merasa takut dengan Emma yang biasanya kalem menjadi galak.

"Tenanglah dulu, Emma. Lukav akan menjelaskan sisanya," kata Joe.

"Mencuri MIDAS adalah perbuatan JDF. OCU tidak terlibat. OCU mengetahui tentang MIDAS sesudah kecelakaan itu, dan meminta MIDAS untuk disita," kata Lukav.

Muka Emma kembali datar. "Jepang tidak ada pilihan selain mengembalikannya. MIDAS pasti disembunyikan di salah satu pangkalan OCU."

Ryogo tampak tidak sabar. "Terus terang aja! Dimana dia sekarang?"

"MIDAS tidak berada di Jepang. Kita harus mencari lagi," kata Dennis.

Kazuki menghela nafas. "Jadi kita tidak tahu dimana dia berada…"

"Tapi kita bisa membuat prediksi. Suatu tempat dimana sulit untuk diserbu, gampang untuk mereka lindungi," kata Emma.

"Pertama. Kita akan pergi ke pusat OCU di Australia," kata Dennis.

"Kita tidak boleh buang-buang waktu. Kita pergi sekarang. Kazuki, Ryogo, pergi ke geladak kapal ketika kalian sudah siap," kata Emma.

"Cindy, Gastor. Kita akan pergi juga, sesudah istirahat sebentar," kata Joe.

"Sisanya ada di pundak kalian," kata Lukav.

Kazuki menatap Emma yang tidak seperti biasanya.

"Apa? Kita tidak punya waktu untuk berbicara. Cepat siap-siap," kata Emma.

"Pesawat sudah siap. Pergi ke geladak kapal," kata Dennis.

Ryogo meregangkan kedua tangannya. "Tidak ada waktu untuk istirahat. Sebentar saja..."

Kazuki setuju. Mereka belum benar-benar istirahat. Mereka berjalan ke luar ruang rapat hendak menuju ke geladak kapal.

"Kembali lagi dari awal…" kata Kazuki melewati lorong.

"Purple Haze kelihatannya aja hebat, tapi kenyataannya mereka tidak ada apa-apanya," kata Ryogo.

Setelah melihat insiden Dennis dengan elevator, Kazuki diam-diam setuju.

"Yo, aku dengar itu," kata Cindy menyender pada dinding.

Ryogo mengumpat sangking terkejutnya.

Perawakan besar Cindy berjalan menghadap Ryogo yang pada dasarnya lebih slim. "Kamu mau mengulang lagi apa yang baru kamu katakan barusan?"

Ryogo mengalihkan pandangan. "Maaf. Aku tidak bermaksud…" Menatap Cindy dengan senyuman grogi. "Aku tidak begitu suka dengan cewek macho."

Kazuki menepok jidat.

"Kamu…!" Cindy mengepalkan tangan.

Joe tertawa. "Hentikan Cindy. Dia benar. Kita memang tidak bisa menemukan MIDAS." Joe nyengir. "Dan kamu benar-benar macho."

"Joe!" kata Cindy.

"Yah, cobalah untuk lebih anggun kalau kamu ingin mengajak aku nge-date," kata Ryogo.

"Brengsek…" Cindy membuang muka. Berjalan meninggalkan lorong.

Joe menepuk pundak Ryogo. "Kamu punya keberanian, mencari perkara dengan Cindy."

"Ngegombal adalah keahlianku," kata Ryogo.

Joe tertawa terpingkal-pingkal. "Kamu bikin aku ngakak, teman kecil. Good luck dengan Cindy.

"Jangan khawatir. Kami akan menolong kalian kalau kalian berada dalam bahaya."