Setelah percakapan singkat itu, Kazuki ditemani oleh Ryogo naik kapal terbang dari Samudra Pasifik ke Benua Australia. Penerbangan memakan waktu tiga jam katanya. Kazuki memanfaatkan waktu untuk memejamkan mata.

Tiga jam berlalu. Pesawat terbang mendarat. Kazuki dibangunkan oleh Emma. Dia pun bangun menanjakkan kaki ke atas daratan Australia. Silau. Jingga. Jingga. Jingga. Semua daratan berwarna jingga. Tidak ada tumbuhan. Tidak ada kangguru. Tidak ada orang. Hanya gunung gersang. Namanya adalah Pegunungan Stanley.

"Apa yang kita lakukan di pegunungan ini?" kata Kazuki.

"Disana ada laboratorium besar OCU di padang gurun sana," kata Dennis.

"Dan itu dimana MIDAS berada?" kata Kazuki.

"Kita hanya menduga. Meski demikian, kita harusnya bisa mendapat informasi di sana," kata Emma.

"Oh, kita masuk ke pangkalan, kalau begitu!" kata Ryogo.

Antusiasme Ryogo disambut dingin oleh rombongan.

"Ryogo, apakah kamu bosan hidup? Misi ini hanyalah misi pengintaian," kata Emma.

"Ow, aku pikir kalian melakukan hal-hal menarik?" kata Ryogo.

"Hati-hati. Pemuda seperti kamu itu biasanya mati muda," kata Dennis.

Kazuki menyeringai. "Iya, dengarin itu Dennis. Seriuslah sedikit."

"Kamu juga Kazuki," kata Emma.

Kazuki menoleh. "Huh?"

"Kamu terlalu gampang terpancing untuk melakukan tindakan impulsif," kata Emma.

Kazuki terdiam.

Ryogo terkekeh. "Iya, dengerin itu."

"Oh, Diam!" kata Kazuki.

Percakapan terhenti. Mereka harus ke laboratorium OCU lewat kereta. Tidak ada yang istimewa. Hanya padang gurun.

"Laboratorium masih jauh di depan," kata Emma.

"Kita harus berhati-hati dari sini, kalau begitu," kata Kazuki.

"Tunggu sebentar. Kalian lihat dulu di sana." Dennis menunjuk kereta yang dikawal oleh wanzer di empat sisi.

"Apa itu?" kata Kazuki. Tidak pernah dia melihat kereta itu yang bentuknya seperti ulat.

"Kendaraan berlapis besi OCU? Mereka mengantarkan sesuatu," kata Dennis.

"Apakah itu MIDAS?" kata Emma.

"Aku tak tahu. Tapi cara mengantarkannya itu tidak normal," kata Dennis.

"Aku setuju. Pasti ada sesuatu yang cukup penting," kata Emma.

"Apakah kita perlu mengecek?" kata Kazuki.

"Kedengarannya bagus. Ayo kita lakukan," kata Emma.

"Hei, Aku pikir kita hanya mengintai?" Protes Ryogo.

"Hentikan obrolan dan bersiaplah!" bentak Emma.

"Ya, Bu!" kata Ryogo.

Kazuki maju ke rombongan musuh.

"Kazuki, jangan gegabah!" kata Emma.

Empat wanzer menodong machine gun ke arahnya. Keadaan tidak mendukung ditambah kereta ulat itu juga menembakkan misil. Ini. tidak. adil. Dia terperangkap.

Dia harus menghentikan kereta ulat itu. Sekarang juga. Kunci utama untuk menemukan adiknya.

Kazuki tidak berhenti menumbuk kereta ulat itu dengan melee.

Wanzer musuh tidak mau kalah tentunya. Mengeroyok Kazuki dengan tembakan. Kedua lengan wanzer Kazuki terputus. Kazuki dikepung oleh empat wanzer. Kereta sudah melarikan diri. Mungkin dia menemukan ajalnya. Melindungi adiknya saja tidak sanggup.

Wanzer di hadapannya meledak.

Wanzer Kyojun Ryogo di hadapannya.

"Kamu selalu gila kalau menyangkut Alisa," kata Ryogo.

"Terima kasih," kata Kazuki.

Lagi-lagi dia menerima pertolongan dari Ryogo. Padahal dulu dia yang selalu melindungi Ryogo dari bulian teman sekolah. Kazuki merasa tidak enak.

"Kazuki, kamu sudah melakukan bagianmu. Sekarang melindunglah. Biarkan kami mengurus sisanya," kata Emma.

Mereka pun mengalahkan wanzer yang tersisa.

"Bagaimana sekarang? Mereka sudah melarikan diri," kata Kazuki. Padahal tinggal sedikit lagi. Sekarang mereka kehilangan petunjuk penting. Kalau seandainya dia lebih kuat. Ini semua salahnya.

"Ini tidak baik. Mereka tahu kita berada di sini," kata Emma.

"Disini terlalu berbahaya. Mari kita kembali sekarang," kata Dennis.