…Mungkin, tak akan pernah ada tanah yang mampu menghindari tatapan jenuhnya. Mungkin.
.
.
.
Disclaimer: Harvest Moon: A Wonderful Life © 2004 by Victor Interactive Software and Marucome; Harvest Moon: DS © 2006 by Marvelous Interactive.
Notes: third person POV, AU.
Malam sunyi—yang tak kalah dingin dari napas alam penusuk kulit—mulai memberi pesona sementara ragunya bertahan dengan sengit, perlahan-lahan menciptakan ruang kalbu dalam batin; melilitkan jutaan tali yang terpilin, mendesak setiap latar yang membayangi.
Dan memperkaya kontras, kecantikan sang dewi kini menggeser posisi sekumpulan kejora; tidak mengetahui usaha keras mereka untuk merebut tempat di mimbar kanvas dari sang surya, tanpa memelas pun menembakkan serangan sekilas.
Dan dalam nuansa kosong tersebut, sekali lagi, tapak kaki seorang remaja berambut merah dengan dinginnya meninggalkan tanah yang sempat ia pijak selama beberapa bulan.
Kedua permata kebiruannya kini tampak lebih gelap dan dalam, layaknya lukisan awan yang terbungkus langit hitam; pertanda bahwa dirinya tak lagi bisa mencintai panorama alam di hadapannya: figura retak yang hanya tinggal menunggu detik ia akan tenggelam.
Sambil mendongak ke arah langit, sang gadis pun mulai mengira-ngira rupa tujuan perjalanan panjang berikutnya mengingat kehidupannya yang nomaden.
Dibalikkannya tubuh dan melangkah maju, membiarkan kota kecil itu menurunkan hujan; entah sebagai hadiah perpisahan, sekadar menjalankan tugas untuk melahap daratan, atau mungkin menyumbang bidang lukisan dengan jari sebagai kuasnya.
Namun, sorot matanya sama sekali tak berubah, bahkan setelah mendapat guyuran penuh dendam yang terus-menerus turun hingga cermin pijakan mampu tergambar dengan jelas.
…Mungkin, tak akan pernah ada tanah yang mampu menghindari tatapan jenuhnya.
Mungkin.
.
.
.
-(halaman satu)-
Pemikiran manusia memang tak pernah terbatas pada satu teori yang telah beradaptasi sejak istilah tersebut tersaji di muka bumi.
Imajinasi.
Banyak orang menganggapnya sebagai semacam fenomena ajaib penghasil jutaan tanya dari mana ia tercipta, beserta jawaban yang kerap kali tertuju pada Sang Pencipta; dengan hasil yang tidak melupakan kemahiran dan kemauan seseorang dalam menggunakannya, juga kacamata apa yang tengah bertengger di pelupuk mata.
Terkadang, saat melihat lautan yang begitu tenang, sekumpulan orang akan segera teringat akan permadani berwarna sama yang terpampang di angkasa.
Bagaimana jika awan dibayangkan bagai ombak menggulung atau mendung bagai kapal yang berlayar di atasnya; di mana kadang ia berlalu namun jauh lebih sering tertelan hingga cucur darahnya mengalir membasahi dunia bawah?
Ah, sama sekali tidak masuk akal.
Langit adalah langit, laut adalah laut. Jangan berani mempersatukan keduanya dalam bidang apa pun. Peganglah seluruh bukti yang telah terjamah dan jauhkan diri dari melodi sumbang pengoyak keteguhan. Demikianlah keyakinan yang dimiliki oleh seorang pemudi yang telah lama berkelana.
Dan sebuah pertanyaan singkat pun sudah boleh melintas.
Pantaskah teori ini menjatuhkan cercaan semesta?
"Ya, memang sudah sepantasnya begitu," ucap sosok yang tengah mengamati arus air yang tak tentu, berusaha mengosongkan pikirannya yang semula penuh.
"Sepantasnya begitu?"
Pribadi yang semula termakan oleh lamunannya itu tersentak. Dengan cepat, sepasang permata biru miliknya melonjak anggun seraya penyangga rupa mengalahkan putaran angin yang berlawanan, hingga tergambarlah sesosok pria berambut hitam dengan postur yang sedikit tambun.
Lelaki tersebut menangkap pandangan serius remaja di seberangnya, lalu kembali berbicara, "Hahahaha! Maaf! Aku hanya kebetulan saja mendengar ucapanmu! Namaku Tim, ngomong-ngomong."
Tawa masih mengerumuni untuk beberapa waktu. Ketika ia lenyap, barulah pria itu melanjutkan, "Jadi, siapa namamu?"
Diam selama beberapa waktu.
Sampai akhirnya, balasan datang bersama sketsa wajah yang ingin menjauh.
"…Nami."
"Hm, Nami? Nama yang sangat bagus." Hanya sebuah lantun pujian yang dibalas dengan penebaran pandangan atas sudut yang lebih kontras; tanda ketidakpedulian atas tumpukan lirik tangga lagu teratas.
Dan tak terlalu menyadari bahwa pemudi itu terganggu oleh pembicaraan yang ia mulai, sang pemilik rambut hitam pun mengajukan pertanyaan lagi, "Jadi, apa kau sering bepergian?"
Nami hanya mengangguk pelan, lalu kembali ke dalam posisi saat dinding penghalang membangun diri sekokoh mungkin pada sela kedua penangkap lagu; membiarkan paraunya kosakata lamban menyuntik kotak tempat ia berasal—sebuah derita yang muncul akibat tak diacuhkan.
Apa pentingnya mendengar ocehan dari seseorang yang baru saja kaukenal?
Ya. Ia bahkan tak mengerti, lebih tepatnya tak tertarik dengan apa-apa yang ia katakan.
Pikirnya, untuk apa bersikap manis jika kelak kau akan tertusuk oleh duri-duri berkecamuk? Dan, untuk apa mengundang timbal balik pada bunyi tarikan pelatuk pistol pencipta suntuk?
Tak ada yang bisa kaupercayai selain dirimu sendiri.
Karena itulah, dirinya pun membiarkan tirai mata menutup sesaat dan menyetujui seluruh keteguhan batin yang tengah bergema, tak sedikit pun berpikir untuk mengubah pandangan hidup yang memang menurutnya tidak pernah salah.
Sampai… sebaris kalimat datang dan mengiris bingkai persegi.
"Apa kau tak merasa kesepian?"
Remaja itu menengok dengan alis yang hendak menyatu selagi lelaki yang jauh lebih tua darinya melanjutkan, "Kau mengerti, kan? Maksudku… bepergian sendiri. Tentu kau merasa kesepian, bukan?"
Sebuah interupsi bodoh.
Setidaknya bagi Nami: remaja yang lagi-lagi membiarkan telinganya menutup dan membatin.
Bagaimana mungkin seseorang dapat menulis biografi dari sosok yang tak pernah mengulur apalagi menyatukan tangan? Bukankah… semua itu adalah bukti dari keramahan yang berlebihan?
Tak mendapatkan reaksi yang berarti, Tim akhirnya menyadari apa yang tengah mengganggu pikiran lawan bicaranya. Dan sedikit merasa bersalah atas ucapannya barusan, ia pun perlahan mendekati sang gadis yang kembali menatap ombak.
Dibungkukkannya badan beserta gerakan dari kedua tangan yang mulai membentuk perlindungan bagi para pengumpul citra. Persis seperti apa yang tengah dilakukan remaja dingin di sampingnya.
"Haha, ternyata menatap ombak menyenangkan juga, ya. Aku mengerti mengapa kau begitu menikmatinya," candanya, menghias kecanggungan.
Nami meliriknya sinis lalu kembali berpikir dengan kerut yang belum melarikan diri.
…Sebenarnya apa yang orang ini inginkan?
Kepal sang gadis semakin menguat, meski entah mengapa suara hatinya redup-remang hingga menggema begitu keras, memaksanya untuk menyimak dialog sang pria setengah baya: sesuatu yang masih ia anggap tidak berguna.
Bagaimanapun, dari situ, ia mulai membuka kedua lubang pendengarnya dengan ragu-ragu; hingga akhirnya suara dapat terdengar jelas, bertepatan dengan sebuah kalimat.
"—sebenarnya, dulu aku juga sering bepergian seperti dirimu."
…Orang ini juga sering bepergian?
Dialog terus berjalan, "Ah, lebih tepatnya aku dan istriku. Kami berkeliling dunia berdua." Sang pria berambut hitam tersenyum seakan memendam sebuah lelucon kecil. "Lalu, kau harus percaya ini, dulu tubuhku lebih kurus dari sekarang. Jauh lebih kurus. Hahahaha!"
…Apa orang ini serius?
"Ahahaha… Ahaha… hah… hah…" Wajah lelaki itu kini memerah, terlihat begitu terhibur dengan humor yang baru saja ia lepas ke awan. "Hah? Maaf. Sampai di mana kita tadi? Oh, tentang aku dan istriku, ya?"
Menutup mata sesaat, Tim kini mengalihkan pandangan ke arah mentari yang hendak tenggelam. Nami menatapnya lekat namun tetap mengangkat sebelah alis sebagai tanda bahwa akalnya tak menyambung dengan kondisi yang tengah berjalan.
Ya. Kondisi yang aneh. Seperti berada dalam lukisan air yang mengapung di antara kobaran api penyapu.
Semuanya terasa begitu…
Hening.
Setidaknya hingga sebuah suara kembali berdering.
"Dulu, kami bepergian ke berbagai tempat, menjelajahi dunia. Dan satu hal yang tidak pernah kami lewatkan adalah saat-saat di mana matahari terbenam seperti sekarang. Setiap kota, setiap perjalanan, kami tak melewatkan momen indah ini sama sekali." Kedua layar kacanya memantulkan bayangan penuh kejora sementara seulas senyum perlahan-lahan tampil dalam raut wajah. "Hanya sekali."
Bulir tangis melintasi pipi, "Hanya sekali itu saja kami melewatkannya…"
Nami menatap pria itu sayu, lalu memberanikan diri untuk berbicara meskipun tidak dengan volume besar, bahkan mungkin nyaris tak terdengar, "…Kau menyesalinya?"
"Haha, tentu saja tidak." Diusapnya air mata yang semakin mengucur. "Hari itu, kami justru menemukan sesuatu yang lebih indah dari matahari terbenam, sesosok matahari lainnya—
…Matahari yang bersinar begitu terang."
Sang bocah pengelana memandangnya dengan kekaguman yang muncul perlahan.
Sebelumnya, dirinya tak pernah peduli bahkan mengerti akan dialog singkat dari sekumpulan pemain sandiwara dengan topeng utuh yang mereka kenakan—orang-orang yang berlalu-lalang dalam kasak-kusuk yang selalu dilupakannya.
Tetapi… kali ini berbeda.
Ia menyadari bahwa apa yang ada dalam diri pria tersebut sama sekali berbeda dengan impresi pertama yang dibuatnya. Di dalam dirinya, ia justru melihat suatu hal yang baru.
Dan hal tersebut… bukanlah hal yang dapat membuatnya menduduki singgasana semesta ataupun menginjak karpet merah bersiram permata.
Melainkan sesuatu yang tak mudah dimengerti; sesuatu yang abstrak.
Kala ia berkata-kata, warna alam serasa berpadu dengan pribadinya yang menyala bagai lentera di tengah, menjadikannya penghapus monotonitas kelabu yang menghuni lensa sang remaja sejak lama.
Pasti, kelembutan simfoninya takkan lagi sepenuhnya menusuk telinga, melainkan menyampaikan melodi lembut pada sang pencipta nuansa.
Dan saat bening bola keemasan memancar dalam keredupan tubuh samudra, dua manusia nampak mengedarkan potret lensa seluas mungkin demi menangkap panorama mempesona tersebut, terlebih lagi pribadi yang lebih muda.
Warna… Sudah lama ia tak melihatnya.
Warna… Kini menghias dirinya lewat rintik-rintik noda yang menyatu dengan nada.
Memang, belum semua warna dapat dilihatnya dengan jelas.
Tetapi, paling tidak, ia sudah bertemu dengan orang yang mampu mengenalkan indahnya jingga matahari senja.
Isikan air dalam botol yang penuh.
Bisikkan bulir salam penyentuh.
Pernah mencoba menuang mimpi.
Melarang hati, menyisir sunyi.
Untuk kali ini, biarkanlah saja…
Sinar-sinar jingga menyapa sepi laut senja.
Author's notes:
Daftar kata sulit: 1) nomaden: berpindah-pindah. 2) interupsi: gangguan. 3) impresi: pandangan terhadap sesuatu. 4) abstrak: gambaran, suatu hal yang tidak memiliki definisi pasti. 5) monoton: sama dan berulang-ulang.
Halo, teman-teman. Terima kasih banyak sudah membaca chapter awal (semacam) prolog ini. Sudah lama banget ingin menulis tentang Nami karena bisa dibilang salah satu karakter favorit saya dari seri Harvest Moon. Mudah-mudahan bisa dinikmati, ya. :)
Terima kasih lagi, semuanya. Sampai jumpa di chapter berikutnya dan selamat tahun baru!
*edited. thanks for the comments.
