Chapter 3:

The Goddess


"Psst, itu dia!"

"Siapa?"

"Sepupunya Marcus Flint! Lihat, cantik sekali, 'kan?"

"Astaga, benar-benar. Apa dia keturunan dewa?"

"Matanya jernih sekali."

"Rambut ash-nya luar biasa."

"Kau yakin dia bukan jelmaan Dewi Aphrodite?"

"Dia bidadari."

Bisik-bisik kagum tak henti-hentinya menelisik telinga Giselle seiring dengan langkah kakinya melewati koridor-koridor ataupun tangga. Tak sedikit anak laki-laki yang hampir terjatuh karena melangkahi dua sampai tiga anak tangga sekaligus saking fokusnya menatap Giselle. Yang lainnya bahkan sampai tak sadar telah menumpahkan tinta yang dipegangnya ke lantai, membuat Argus Filch si penjaga sekolah marah-marah.

Perjalanan Giselle menuju kelas Transfigurasi jadi terasa begitu panjang. Sudah cukup ia menerima fakta kalau kastil Hogwarts adalah bangunan yang luas dan kompleks sehingga menemukan satu kelas pun sulitnya tiada banding. Perlakuan anak-anak itu hanya membuat kepalanya semakin pening saja.

Tapi untunglah Giselle bersama dengan kedua teman seasramanya: Angelina dan Alicia, yang dipaksanya untuk terus berceloteh tentang Quidditch sehingga ia bisa mengabaikan semua tatap dan bisik-bisik itu.

"Ah, kakiku sakit sekali," Alicia mengerang setelah setidaknya mereka menaiki seratus dua belas buah anak tangga. Lima meter di depan adalah ruangan yang mereka yakini Kelas Transfigurasi—terlihat dari sembulan rambut merah Fred dan George di dalam sana.

"Untuk apa sih para Profesor menempatkan ruang kelas setinggi ini!?"

Angelina tergelak, "Ayolah, Al. Kau ini mau jadi Keeper tapi menaiki tangga saja sudah selelah ini."

"Tak ada hubungannya menjadi Keeper dengan menaiki tangga, Nona Angelina! Mereka naik sapu!"

"Ayo, teman-teman, kita harus masuk sebelum terlambat," kata Giselle sedikit terburu. Anak-anak Slytherin kelas lima yang baru saja lewat menyeringai padanya, dan itu sudah cukup menjadi pelengkap daftar hal-hal yang ingin dihindarinya saat ini.

Ruang kelas Transfigurasi berada di menara yang berseberangan dengan asrama Gryffindor. Giselle berasumsi bahwa teman-temannya amat sangat rajin setelah sadar bahwa mereka bertiga adalah anak Gryffindor terakhir yang memasuki kelas, padahal ia yakin sudah berangkat dari asrama pagi-pagi sekali. Dua meja di pojok kanan paling depan adalah satu-satunya yang belum terisi.

Selain Gryffindor, bangku-bangku di ruangan itu telah diisi anak-anak dengan jubah bercorak warna kuning dan lambang musang di dada sebelah kanan. Hufflepuff, Giselle mengangguk-angguk.

"Kalian berdua di depan saja, aku di sini," kata Giselle.

"Tak apa kau duduk sendirian?" tanya Angelina, sedikit tak enak.

"Tak usah khawatir, Angela! Giselle bersama kami!"

Mereka bertiga menoleh ke belakang. Rupanya George yang menjawab. Ada kumis panjang bertengger di atas bibirnya, sementara Fred tertawa terpingkal-pingkal dengan tongkat sihir di tangan.

Giselle terkikik melihat Angelina memutar bola mata. Seingatnya temannya itu sudah sangat jengkel dipanggil Angela oleh si kembar. Percy bilang Angela adalah nama nenek buyut keluarga Weasley, dan juga nenek buyut favoritnya sepanjang masa karena satu-satunya yang selalu memukul bokong George dan Fred dengan sikat botol tiap kali mereka berbuat onar.

"Jangan buat nenek semakin marah, Tuan Weasley," canda Alicia, berlagak marah sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajah si kembar.

Angelina tampak kesal sekali.

Giselle segera mengambil tempat duduk seiring tawa teman-temannya yang kembali meledak.

"Pagimu baik, Dewi Aphrodite?" sapa Fred dari belakang. Mungkin merasa belum puas menyindir teman-temannya satu persatu.

"Oh, diamlah Fred..." desis Giselle, menyimpan tas. Tidak ada pagi yang baik untuknya hari ini.

"Bagaimana kumis George menurutmu?" tanya Fred lagi. "Kami berencana menggunakannya pada anak-anak Slytherin kelas lima sepulang sekolah."

"Apa?"

"Kami penasaran melihat ketiak mereka menjadi sarang bulu yang lebat," kata George seraya tergelak, "kau tahu, Giselle? Kami sudah berusaha mempelajari ini dari Charlie. Dia yang menyuruh kami."

"Oh ya? Charlie yang menyuruhmu begitu?" Alis Giselle berkedut, agaknya tak percaya seorang Kapten Quidditch Gryffindor seperti Charlie menyuruh kedua adiknya berbuat onar.

"Tentu saja. Katanya dia belum sempat membalas Beater Slytherin yang mematahkan tulang keringnya waktu itu."

Ah, seperti itu... Giselle mengerjap. Masuk akal, tapi, ah. Ayolah, dasar Weasley.

"Hebat," komentar Giselle akhirnya. "Kau punya mantra kontranya, 'kan?"

Tanpa berkata, Giselle segera tahu jawabannya karena sesaat setelah itu Fred buru-buru melayangkan tongkat ke wajah kembarannya. George kembali bebas-kumis.

Rupanya seorang guru wanita bertampang galak baru saja masuk. Ruang kelas seketika sunyi-senyap dengan kehadiran sang profesor.

"Selamat datang di kelas transfigurasi," katanya dengan nada yang terdengar khas bagi siapapun. Serupa sekali dengan pertama kali ia menyambut anak-anak kelas satu di Hogwarts malam kemarin.

"Cukup baik kalian mengawali pagi pertama di sini dengan transfigurasi," lanjutnya, "Sebagai perkenalan, aku memperingatkan kalian bahwa transfigurasi bukanlah ilmu yang sederhana dan main-main. Ini bukanlah sekadar ilmu sihir untuk mengubah udara di bawah hidung saudaramu menjadi bulu-bulu hitam lebat," dia mengerling lewat sudut kacamatanya. Punggung George dan Fred langsung tegak.

"Transfigurasi, lebih dari itu, diciptakan dan dipelajari unt—"

Profesor McGonagall berhenti. Suara pintu terbuka menginterupsi atensinya dan otomatis seisi kelas menoleh ke belakang.

Seorang anak laki-laki berdiri kikuk dengan nafas memburu. Wajahnya merah seakan baru berlari ratusan mil jauhnya. Dia menutup pintu gelagapan, sambil terus terengah-engah. Bulir-bulir kecil keringat menghiasi dahinya.

"M-maaf... a-aku terlambat," katanya, hampir seperti cicitan.

Profesor McGonagall sudah lebih dulu menatap tajam dengan kedua alis terangkat. "Tersesat, Mr Diggory?"

Anak itu bergelagat seperti akan mengatakan sesuatu, tapi tak jadi. Mungkin suaranya tercekat di tenggorokan dan tergantikan oleh nafas yang keluar saling memburu.

"Aku takkan memotong angka Hufflepuff karena kita belum memulai pelajaran, jadi tak perlu khawatir, Mr Diggory," lanjut Profesor McGonagall, nada bicaranya terdengar cukup sarkas, "tapi lain kali pastikan dirimu tidak terlambat lagi, apapun alasannya. Duduklah."

Anak itu menyeret kakinya menuju tempat duduk kedua di jajaran paling kanan—di sebelah Giselle. Satu-satunya kursi yang tersisa.

Giselle seketika merasakan hawa panas sesaat setelah anak itu menghempaskan badannya ke atas kursi. Tangannya terlihat pasrah sekali ketika melepas selendang tas dari bahu.

Tak heran, mengingat betapa jauhnya asrama Hufflepuff, pikir Giselle, kemudian menggeleng tak peduli. Dia memutuskan untuk tidak berbicara pada anak itu.

Setelah selesai dengan pidato pembukanya, Profesor McGonagall memberi masing-masing muridnya sebuah kancing baju untuk diubah menjadi koin Knut. Cukup mudah dalam bayangan, tetapi praktiknya ternyata sangat jauh dari itu.

"Konsentrasi adalah kuncinya, rasakan jiwamu pada kancing itu, anak-anak," ujar Profesor McGonagall sembari berkeliling mengawasi pekerjaan para muridnya.

Giselle sudah sekeras mungkin berkonsentrasi dan melambaikan tongkat sihirnya, tapi kancing itu tak bergerak barang sedikit pun. Beberapa anak menyerah karena kancing-kancing mereka tidak kunjung berubah menjadi koin—justru terlempar ke sana kemari sehingga Profesor McGonagall harus menggantinya berkali-kali.

Alicia sudah berteriak-teriak saking kesalnya. Lain lagi dengan Fred yang malah membuat kancing bajunya menjadi sebuah batu pirus.

"Menakjubkan, Mr Weasley. Kau jelas punya bakat," pujian Profesor McGonagall menimbulkan cengiran riang di wajah Fred. Namun langsung tergantikan dengan kernyitan jelek ketika sang Profesor melanjutkan, "Tapi tujuannya membuat kancing ini jadi koin. Jangan pikirkan hal lain, Mr Weasley. Fokuslah."

Sementara itu, Giselle tak tahan untuk merasa heran melihat anak laki-laki di sebelahnya tak kunjung melambaikan tongkat sihir. Kancing bajunya tak ia sentuh sama sekali. Sejak diberi tahu kalau teori mengubah kancing jadi koin bisa dipelajari di buku halaman 5, dia terus berkutat dengan itu.

"Uhm... kau tak mencoba mantranya, Diggory?" tanya Giselle pada akhirnya. Anak itu bergeming, Giselle jadi salah tingkah. Namanya Diggory, 'kan? Ia jelas mendengar Profesor McGonagall menyebutkannya dua kali. Atau jangan-jangan bukan Diggory makanya anak itu tak menoleh?

"Ouh, emm... maaf kalau... kalau aku sok akrab padamu, dan k-kalau aku salah sebut namamu."

Tak ada reaksi apapun yang diterima Giselle. Ia mulai merasakan wajahnya memanas. Bukan, bukan karena marah. Hanya saja ketidak-acuhan anak itu membuatnya malu dan bingung harus berbuat apa.

Menghela nafas, Giselle fokus kembali ke kancing miliknya sendiri. Beberapa saat kemudian, lewat sudut matanya, Giselle bisa melihat (orang yang ia anggap) Diggory mencabut tongkat sihir dari balik jubahnya lalu merapal mantra dengan sangat halus ke arah kancing di atas meja.

"Tactus metallum," suaranya tenang sekali.

Dalam satu kedipan mata, kancing itu berubah warna menjadi perunggu dan muncul gambar uang Knut.

Giselle mengerjap. Kancing itu telah berubah sepenuhnya menjadi keping Knut. Sempurna sekali.

Profesor McGonagall mengapresiasi pekerjaan itu dengan memberi Hufflepuff sepuluh angka. Pelajaran Transfigurasi berakhir dengan itu.

Seperti menghindari pertanyaan yang hendak diluncurkan padanya, si anak Hufflepuff segera keluar dari kelas tanpa berniat mengucapkan apapun.

"Astaga, astaga!" Giselle terlonjak saat Alicia tiba-tiba memekik. "Aku tak percaya, aku benar-benar tak percaya kalau DIA BARU SAJA DUDUK DI BELAKANGKU SELAMA DUA JAM PELAJARAN!"

Giselle berkeriut, "Apa? Dia siapa? Maksudmu anak Hufflepuff sombong yang duduk di sebelahku!?"

"Giselle, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya duduk di sebelah pangeran seperti dia?" Kini Angelina yang berseru kegirangan. "Bukankah dia tampan? Bukankah dia keren? Bagaimana aroma tubuhnya?"

"Demi Merlin, dia bahkan tak berbicara sepatah kata pun, bagaimana bisa kalian menganggapnya keren!?" sergah Giselle, sama sekali tak terima melihat tatapan kagum yang dilayangkan kedua temannya.

"Dia tampan, Giselle. Kau tahu? T A M P A N!"

Giselle memutar bola mata. "Ya, ya, dan mungkin juga punya gangguan telinga."

Setelah itu, setiap mereka keluar dari kelas—mulai dari Ramuan, Mantra, sampai Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam—Angelina dan Alicia terus membombardir Giselle dengan pertanyaan-pertanyaan tentang si anak Hufflepuff.

"Astaga, demi Godric Gryffindor memangnya dia itu siapa sih!?"

"CEDRIC DIGGORY!"

Telinga Giselle rasa-rasanya hampir kehilangan fungsi begitu pekikan kedua temannya menyerangnya keras sekali.

Siapa itu Cedric Diggory... Giselle meringis.

~oOo~

Jelas sekali kalau waktu makan siang adalah yang paling ditunggu-tunggu. Ramai sekali siang itu, berbagai makanan beraroma menggoda berjejer di tiap meja panjang asrama.

Beberapa detik setelah batang hidungnya memasuki Aula Besar, tatapan orang-orang kembali mengarah pada Giselle. Ah, apalagi sekarang? Seorang anak Ravenclaw menjatuhkan puding labu dari mulutnya? Benar. Oh, lihat, bahkan salah satu dari mereka memakan perkamennya sendiri.

"Wow, mereka menatapmu terus, Gis," kata Angelina. "Aku jadi... kau tahu, tak enak jika dipandang banyak orang saat makan begini."

"Aku juga tak mau mereka bersikap begitu, Angie. Tapi mereka terus melakukannya..."

"Coba kau makan paha ayam ini dua sekaligus," Alicia tiba-tiba menyodorkan dua potong paha ayam.

Giselle berjengit, "Buat apa? Itu jorok sekali, kau tahu?"

"Itulah, Gis. Orang-orang tidak suka melihat orang jorok."

Itu ide bagus, tapi Giselle tetap tak mau melakukannya. Selama ini ia hidup dengan tata krama makan yang sempurna di rumahnya dan ia sudah terlalu terbiasa dengan itu.

"Abaikan saja. Nanti juga mereka capek sendiri," final Giselle.

Benar saja, segera semua perhatian itu teralihkan begitu puluhan burung hantu menerobos masuk Aula Besar. Pos datang. Para burung hantu itu mengitari meja-meja asrama dan menjatuhkan kiriman dari cakarnya ke pemilik mereka.

Francis, seekor burung hantu betina milik keluarga Flint terbang merendah ke arah Giselle dan mendarat dengan begitu cantik. Terselip secarik amplop dengan stempel keluarga Flint di paruhnya.

Seakan baru saja dikirimi granat yang siap meledak, Giselle meneguk ludah dalam-dalam. Hal yang begitu ditakutkannya selama ini akhirnya tiba juga. Surat dari orangtuanya. Persis di depan mata.

Dia menarik surat itu dari paruh Francis sebelum burung itu kembali terbang. Tangannya gemetaran.

Raut wajah Giselle selanjutnya menjadi horor sekali, begitu yang ditangkap Alicia dan Angelina.

Kedua gadis itu tidak serta-merta memberanikan bertanya ada apa, terlebih ketika seorang anak Slytherin bertubuh tinggi dengan gigi-gigi yang tidak rata menghampiri meja mereka. Seringaiannya sudah cukup membuat Giselle kehilangan selera makan.

"Tak punya keberanian untuk membuka suratnya, Dewi Gryffindor?" semburnya. "Kenapa, huh? Sepupuku yang cantik ini rupanya takut dianggap pengkhianat oleh keluarganya sendiri, ya?"

Giselle tak berkutik. Sedang Angelina dan Alicia sudah terbelalak.

"Tak heran. Orangtuamu mungkin akan sedikit kaget mengetahui asrama apa yang diterima putri kesayangannya. Bukan begitu?"

"Jangan kasar-kasar padanya, Marcus. Lihatlah, dia akan menangis sebentar lagi." Lucian Bole, anak kelas dua yang merupakan salah satu kroni Marcus Flint, memasang tampang iba ke arah Giselle, jelas sekali kalau itu ditujukan untuk meledek.

"Oh ayolah, Giselle, kami akan dengan senang hati mendengar suara indah milik Bibi Teressa," tambah Marcus.

Giselle sama sekali tak menggubris apapun yang keluar dari mulut lelaki itu. Rasa takut melandanya lebih cepat dari Snitch. Ia terlalu takut untuk dicap sebagai seorang pengkhianat hanya karena Topi Seleksi itu tidak menempatkannya di asrama yang diinginkan keluarganya. Akankah nasibnya berakhir sama dengan Sirius Black si Darah Murni yang membelot itu?

Fokus Giselle belum kembali sepenuhnya sesaat ketika tangan Marcus meraih amplop surat yang ada di genggamannya. Gadis itu terkesiap dan sontak berdiri untuk merebut suratnya kembali. Marcus mengacungkannya tinggi sekali.

"Kembalikan padaku, Marcus!" teriak Giselle, meskipun ia yakin sangat bodoh kalau Marcus akan menurutinya.

"Baiklah, mari kita sama-sama menyapa bibiku tersayang dan kata-katanya yang manis siang ini."

Lelaki bergigi tidak rapi itu perlahan menggerakkan jarinya untuk melepas bagian penutup surat dari cap stempelnya, tapi seseorang keburu merapalkan mantra pemanggil.

"Accio, surat!"

Dalam waktu sepersekian detik, surat itu tiba-tiba terlepas dari tangan Marcus. Berpindah pada seseorang yang tengah duduk di ujung kursi jajaran Gryffindor.

Marcus menoleh, kemudian menggertakkan giginya geram tatkala mendapati siapa pelakunya. "Kau… lagi-lagi."

"Kupikir kaum Darah Murni diajarkan cara menghargai privasi orang lain, sekalipun itu keluargamu sendiri. Bukan begitu, Flint?" Lelaki itu, Oliver Wood, berjalan menghampiri kerumunan dan memberikan surat itu pada Giselle.

Aula Besar mendadak dipenuhi aura ketegangan dari dua pemuda yang tengah berhadap-hadapan itu. Setiap orang tahu tak ada kata "akur" dalam kamus sejarah Tim Quidditch Slytherin dan Gryffindor, baik di dalam maupun di luar lapangan.

"Jangan sok mengajariku, Wood, ajari dirimu terlebih dulu untuk tidak mencampuri urusan orang lain," ujar Marcus. Tangannya terkepal, bersiap untuk meninju wajah Oliver kapan saja.

"Oh ya? Ada baiknya kau melihat di meja mana kau sekarang berulah, Flint. Sepupumu ada di Gryffindor dan Gryffindor adalah asramaku, jadi jelas ini urusanku," balas Oliver tak kalah sengit.

Giselle semakin was-was ketika kaki Marcus bergerak selangkah menuju Oliver.

Ia dan semua orang di Aula Besar baru bisa menghela nafasnya lega ketika seorang profesor berbaju serba hitam datang melerai kerumunan—meskipun beberapa kecewa karena harus melewatkan perseteruan terbesar abad ini.

Sayang Giselle tak tahu kalau kedatangan profesor satu ini berarti mengatasi masalah dengan masalah.

"Tak ada yang memberimu wewenang untuk mengubah jam makan siang menjadi waktu duel, Mr Wood," tegur sang profesor sembari menatap tajam Oliver. Giselle tak melihat mulutnya bergerak saat berbicara.

Oliver tak berkutik, seperti tahu bahwa pembelaan apapun tak akan menyelamatkannya dari jerat tuduhan Profesor Severus Snape, si Kepala Asrama Slytherin.

Profesor berambut lusuh itu kemudian menoleh cepat ke arah Giselle. "Sudah puas mendapat segala perhatian yang kauinginkan, Tuan Putri Pemberani?"

Giselle berjengit, ada goresan tak terlihat menerobos jantungnya tatkala kata-kata itu diproses gendang telinganya.

Belum sempat Giselle mengatakan sesuatu, Profesor Snape kembali bernarasi dengan intonasi datar yang entah bagaimana sangat mengganggu. "Kau memang persis seperti Black dan temannya si Potter itu. Suka membuat keributan, mencari perhatian dengan tampang sok memiliki segalanya. Aku yakin orangtuamu takkan senang melihat ini untuk kedua kalinya, Miss Flint."

"Tapi bukan aku yang memulainya, Profesor!" Giselle berseru, menepis semua rasa bingung bercampur ketakutannya, "Marcus yang tiba-tiba datang dan merebut suratku—"

"Enough!" sela Profesor Snape penuh penekanan.

Giselle meneguk ludah.

"Dua puluh angka dipotong dari Gryffindor. Lain kali berpikirlah lebih rasional sebelum bertindak sesuatu, anak-anak idiot," tegasnya, menatap jijik ke arah Oliver dan Giselle bergantian.

Dan dengan kalimat final itu, Profesor Snape pergi meninggalkan Giselle dan anak-anak di meja Gryffindor yang kini tengah meneriakkan seruan-seruan keberatan.

Marcus Flint dan kroni-kroninya juga pergi dengan senyum kemenangan yang sangat menjengkelkan terpatri pada wajahnya. Beberapa dengan sengaja menubrukkan bahu pada Oliver.

Sementara Giselle hanya bisa berdiri mematung di tempat, menatap punggung Snape menghilang di balik pintu Aula Besar. Ia menghela nafas seiring tangan Angelina bertengger di pundaknya.

Hari pertamanya kacau sekali.

~oOo~