Angin bersemilir, menyapu rambut pirang pendek dari si empunya yang tengah berlalu. Satu langkah ia tapakkan, tak berbunyi, lagi tak menyisakan sedikit pun jejak, sosok itu menghilang dari pandangan.

Hentakan kecil kembali terdengar, menyisakan sosok yang sama di atas dahan. Seketika angin pula menyambut kedatangannya dengar riuh, tetapi sedikit pun tak mengusik. Hanya saja dedaunan yang jatuh dari ranting sempat ikut beterbangan menghalangi pandangan.

Nun jauh, manik Pakunoda terpaku kepada sosok pirang yang tengah berdiri di cahaya yang temaram. Napasnya tentu menghela berujar lega seusai ia mendapati sosok tersebut.

Ya, yang tengah ia cari tak lebih dari seorang gadis dengan tubuh kurus yang terbalut terusan polos. Tapi percayalah, dia orang yang sudah cukup membuat kepala Pakunoda terpenggal jika saja wanita itu benar-benar kehilangan dirinya.

Manik Pakunoda berujar teduh, masih saja hendak berpuas diri dengan sosok cantik di sana. Sembari bersandar ke samping pohon, ia mendengkus geli memuji sosok gadis yang berkilauan diterpa cahaya matahari.

Sedikit tertarik hati Pakunoda mempertemukan punggung tangannya kepada helai-helai cahaya tipis tepat di hadapannya. Meski gerakan wanita vampir itu tampak ragu, ia tetap membulatkan hati dan segera menghampiri cahaya dengan punggung tangan.

Tepatnya jantung Pakunoda terlonjak tepat di kala ia merasakan panas menyengat punggung tangan. Cepat-cepat ia menarik kembali tangannya sebelum tangan pucat nan mulus tersebut terbakar. Sembari demikian, ia pandang kembali si gadis yang masih berdiri di tempat yang sama.

Pakunoda mendengkus. Iri tampak mulai merasuk ke dalam hati.

Agaknya dia beruntung. Begitu batinnya bergumam. Aku bahkan lupa bagaimana nikmatnya diterpa matahari pagi.

Sekali lagi ia memandangi punggung tangan yang melepuh. Perlahan kulit-kulit kembali beregenerasi. Tak membutuhkan waktu banyak luka tersebut sembuh dalam sekejap mata.

Manik Pakunoda berkedip sembari ia menurunkan tangan. Angin kembali berhembus, seolah turut mengundang agar ia mendongak. Secara kebetulan ia mendapati burung kecil bertumpang lewat di langit biru yang kontras.

Batang pohon baru saja menyampaikan sinyal langkah manusia; seketika sukses membuat Pakunoda mengerling waspada. Dia mengedarkan pandangan kepada bumi yang masih lengkap dengan rerumputan hijau.

Pakunoda memilih berjongkok di posisi kala ia mendapati tiga sosok orang berjubah putih.

Para tetua?

Lantas Pakunoda memutuskan untuk menghilang dari tempat; bermaksud berpindah mengawasi mereka dari jauh.

"Ah, lihat dia. Pertumbuhan yang amat sangat luar biasa. Persis seperti manusia," salah seorang dari mereka bertutur.

Memang sesuatu hal yang tak lazim bagi kaum mereka, seorang vampir benar-benar tumbuh layaknya manusia. Secara turun temurun, vampir terlahir dari manusia yang mendapatkan simbol di salah bagian tubuh tertentu. Simbol tersebut menandakan bahwa mereka layak memulai kehidupan baru, pula menjadi abadi.

Tapi tentu jika mereka benar-benar ingin. Kaum vampir sangat bermurah hati untuk itu. Namun, pada sejarah pembantaian, kaum manusia pilihan tersebut telah lenyap. Sebuah hal yang sangat disayangkan. Pun, oleh karena tragedi yang terjadi, mereka mulai berhenti mencari manusia pilihan.

Ya, merupakan sebuah alasan mengapa mereka melakukan ritual pembangkitan tahun lalu. Kini bahkan hasilnya sudah ada di depan mata—meskipun tak begitu dekat untuk dijangkau.

Para tetua memandangi gadis pirang tersebut. Masih takjub, tetapi tak sedikit pun berminat mengganggu si gadis melakukan rutinitas menyirami tubuhnya dengan tirai-tirai cahaya. Tatkala, si gadis mulai membuka kelopak mata yang sedari tadi menyembunyikan sepasang safir. Begitu indah, seolah berkilau diterpa sinar mentari.

Benar. Itulah Kurapika, si bayi yang tumbuh menjadi gadis belia dalam kurun waktu teramat singkat. Betapa tidak? Dalam dua belas purnama lamanya, seharusnya ia masih belajar berjalan mengelilingi mansion atau bermain bersama pelayan Kuroro.

Tapi toh, dia tak memerlukannya.

Si gadis secepat cahaya menghilang dari pandangan, sukses membuat para tetua yang tengah memerhatikan bergidik. Bahkan mata mereka yang tajam pun tak menemukan ke mana sosoknya pergi.

Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka menangkap suara geraman singa hutan. Tidak karena menunjukkan kuasa agaknya, tetapi justru geraman itu melaungkan rasa pedih tak terkira.

Para tetua tentu kaget, pula tertegun. Berbeda halnya dengan Pakunoda yang sudah terbiasa. Malah, ia menghela napas dalam-dalam seusai mendapati sekelebat bayangan yang melaju dari kejauhan. Begitu pandangannya teralih kepada posisi para tetua yang sudah lenyap, Pakunoda mendecih, ikut beranjak dari tempat.

Pakunoda berpijak pada sepetak lapangan yang lebih aman baginya. Namun, tetap saja ia menjaga jarak dari Kurapika. Safir telah tergantikan oleh rubin, berpendar bagai bulan merah lagi begitu dalam warnanya serupa darah. Terdapat sepasang pedang yang tak begitu jauh darinya. Satu berlumur darah, satu lagi utuh tertancap di dada singa.

Cairan merah segar nan kental terus mengalir dari singa hutan, selagi hidung empunya manik rubin melantunkan napas memburu. Kurapika melemparkan tatapan tajam kepada Pakunoda yang terus mengamati ia sedang menyesap tiap tetes darah dari leher singa hutan. Benar-benar tampak seperti seekor kucing yang takut kalau seekor musuhnya merebut makanan yang sedang ia nikmati.

"Kurapika."

Panggilan itu sukses menyentak si gadis, kontan ia menoleh ke sumber suara.

Ah, tentu saja. Sekelebat bayangan yang tertangkap penglihatan Pakunoda kala ia melesat cepat, tak lain dan bukan merupakan Kuroro. Bukan hal yang biasa memang, ia mendatangi Kurapika yang sedang berburu.

Tapi setidaknya ia datang di saat yang tepat. Darah singa hutan itu bahkan hampir habis, sementara makhluk malang tersebut terlanjur terkapar tak berdaya. Biasanya Kurapika akan mendesis jika dipanggil saat sedang menikmati makanan siang.

Tidak kali ini.

Gerakannya anggun dan perlahan saat bangkit dari posisi ia berlutut. Sembari demikian, Kurapika bergerak mengelap dagu yang bersimbah darah. Dia berbalik kepada Kuroro seiring warna rubin di maniknya surut.

Si pria bergerak sedikit menghindari diri dari sinar mentari, sedikit ia telengkan kepala sebagai bentuk protes atas gaun putih yang dikenakan oleh Kurapika sudah banyak menorehkan noda. Sosok yang tengah ditatap tak bereaksi apa-apa, tetapi ia begitu yakin tersirat permohonan maaf dari manik safir tersebut.

"Tidak apa-apa." Seolah Kuroro menjawab pertanyaan dari matanya. "Kau melukiskan abstrak yang indah di sana."

Kurapika tidak tahu apakah Kuroro bermaksud sarkastis, jadi ia berputar menghadap Pakunoda. Tentu saja, ia meminta pengakuan lebih dari wanita itu.

"Seperti menuangkan cat merah dengan asal ke atas kanvas kosong. Tapi tanpa sadar kau berhasil melukis bunga api di gaunmu." Pakunoda bahkan menarik sudut bibirnya dengan lembut kala bertutur. Dia turut berbahagia sebab kata-katanya mengundang senyum lebar di wajah si gadis.

Baru mundur selangkah, tahu-tahu punggung Kurapika sudah bertemu dengan empunya dada bidang. Kali ini ia tak ingin bersusah-susah berbalik lagi, lebih memilih untuk mendongak. Tapi tetap saja, tangan Kuroro tidak berminat untuk absen dari kegiatan membelai puncak kepala si pirang.

Dia tak mengumbar senyum seperti Pakunoda—memang amat jarang ia melakukannya. Maka ia sekadar bertanya, "Jadi apa yang membuatmu begitu lama berburu hari ini?"

"Bau orang-orang tua," jawab Kurapika sembari berpaling kepada singa hutan yang tak lagi bergerak.

Tangan Kuroro turun selagi ia melemparkan tatapan penuh tanya kepada Pakunoda.

Ya, pastilah ia dituntut untuk menjelaskan semua hal yang terjadi.


To Be Continued


Halo. Lama tak berjumpa. Waktu itu saya sudah mulai melakukan PKL dan menuntaskan TA. Lagi, saya mengikuti kompetisi marathon menulis. Karenanya fanfiction jarang tersentuh.

Saya tentu akan menyelesaikan ini. Mohon dukungannya! 'w')

Saatnya membalas review.

*Reply to NevMenevel

Ah, dia senpai yang saya temukan di Wattpad! Terima kasih sudah datang! OuO") Sebenernya gugup, tetep gugup HAHAHAHAHAHAHAHA. Kemaren bahkan dikasih beberapa koreksi. *bungkuk dalem-dalem* Makasih, Nev! Senang kamu suka!

*Reply to YuKillua-Kira

Senang kamu menyukainya! Saya akan melakukan beberapa penyeimbangan waktu menulis terlebih dahulu. Ternyata sulit untuk memegang tiga karya (dua di Wattpad, satu di sini) sekaligus. Terlebih, saya sudah masuk ke sebuah grup kepenulisan. Tapi saya akan berusaha menuntaskan A Kiss of The Vampire. Terima kasih sudah mampir!

*Reply to Kiraraa

Halo! Saya tidak menyangka kamu mampir. Terima kasih! Ya, kadang-kadang saya juga merindukan empunya manik arang itu hehe. Mohon tunggu chapter selanjutnya.

Baiklah. Sepertinya saya sudah membalas semuanya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!