Chapter 1 : Pulang kembali
Anime or Manga : Fairy Tail
Disclaimer : Hiro Mashima
Pairing : Natsu x Lucy, and more..
Genre : Action, Romance, School
Rated : T
Warning : AU, Gaje, OOC, Typo, dan sebagainya
Summary : Natsu, siswa SMP yang kalah taruhan setelah pertandingan sihir di sekolahnya dan harus keluar sekolah akibat taruhannya sendiri. Dia pun pergi ke negeri seberang untuk berlatih keras selama 3 tahun dan meninggalkan semua temannya. Setelah berlatih 3 tahun Natsu kembali ke tanah kelahirannya, tapi entah kenapa ia dianggap sudah mati. Apa yang sebenarnya terjadi?. ( gak pandai bikin summary...)
Suara pesawat lepas landas dan suara orang yang sedang meneriaki sebuah nama seseorang memenuhi telinga pemuda bersurai pink. Natsu Dragneel, nama dari pemuda bersurai pink itu. Ia berhenti sebentar setelah sampai di pintu gerbang penjemputan guna menghirup udara segar setelah mengalami perjalanan panjang, kemudian langkah kakinya bergerak lagi menuju jalanan bandara tempat taksi mencari penumpang, ia pun mencari kendaraan untuk menuju tempat tujuannya.
Natsu menemukan sebuah taksi dan memasukinya. "Menuju ke jalan Magnolia nomor 777," ucap Natsu. Supir taksi itu segera menghidupkan mesin dari mobil kuningnya itu dan melaju melewati jalan kota yang terbilang lenggang. Dalam perjalanannya Natsu hanya melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjadi ciri khas pemandangan kota. Kota itu terlihat berbeda dengan kota 3 tahun yang lalu.
"Nak, apa kau orang baru disini?" Tanya sopir taksi. "Tidak, aku hanya pulang merantau dari negeri seberang," jawab Natsu.
"Apa tujuanmu kembali dari perantauanmu ?"
"Hanya mencari suasana baru dan rindu dengan kota asalku," kata Natsu sambil menoleh ke luar jendela. Dalam waktu 1 jam Natsu sudah sampai di tujuannya.
"Terima kasih pak, ini uangnya." Natsu memberikan uang disertai senyuman. Sekarang Natsu berada di depan rumah yang dulunya ia dan kakaknya tinggali. Rumahnya cukup luas dan besar.
"Sudah 3 tahun kah? Tidak terasa sudah selama itu," gumam Natsu menatap rumahnya yang sudah ketinggalan zaman dari rumah sekarang ini. Saat ini Natsu berumur 17 tahun dan memulai perantauan atau bisa juga disebut latihan yang sangat keras pada umur 14 tahun. Natsu sekarang memiliki daya tarik yang cukup tinggi di kalangan gadis-gadis, yang dulunya Natsu mengenakan kacamata. Sekarang sudah tidak dan diganti dengan syal yang didapatkan dari latihannya.
Rumah Natsu tidak terawat dan kotor, bukan berarti selama 3 tahun itu rumahnya tidak dibersihkan sama sekali. Melainkan rumah itu tetap dibersihkan meskipun satu bulan sekali oleh petugas kebersihan yang disewa oleh kakaknya Natsu.
"Yosh, sepertinya aku harus bersih-bersih mulai dari sekarang." Natsu mulai bersemangat untuk bersih-bersih. Ia tidak menggunakan jasa bersih-bersih karena uangnya sekarang tinggal sedikit, sekitar 500.000 jewel untuk 1 bulan. Itu jumlah yang sedikit untuk pemuda bersyal kotak-kotak itu.
Dalam waktu 4 jam Natsu sudah berhasil membersihkan ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur dan sebagian yang penting. Yang tidak penting dibersihkan besok, karena Natsu sudah hampir mencapai batasnya dan perut Natsu mulai mengeluarkan alarm yang pertanda sudah waktunya makan.
"Aku harus membeli makanan dulu," gumam Natsu sambil mencari rumah makan yang sudah buka. "Sepertinya disitu enak." Natsu menuju ke rumah makan yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya.
Saat Natsu sudah dekat dengan rumah makan itu, ia melihat keributan dan mendekatinya. "Pergilah dari sini dasar gelandangan!" bentak pemilik rumah makan.
"Iya-iya, tidak perlu membentak pun aku sudah tau," Kata laki-laki berambut kuning itu sambil berdiri lalu pergi dengan memegangi perutnya yang kelaparan.
Natsu yang melihat itu merasa kasihan dan menyusul laki-laki tersebut. "Tunggu Nii-San, berapa hari kau belum makan?" Natsu bertanya seperti itu karena ia tahu rasa sakit belum makan 2 hari bahkan sampai 4 hari dikarenakan latihannya yang begitu keras.
"Sekitar 2 hari yang lalu."
"Bagaimana kalau makan bersamaku? Tenang saja, aku yang akan bayar."
"Baiklah aku terima tawaranmu dan terima kasih," ucap laki-laki itu dengan tersenyum. Selesai makan, Natsu membayar makanannya dan mulai berbicara dengan laki-laki itu. "Ngomong-ngomong namamu siapa dan apa kau penduduk asli disini?" tanya Natsu.
"Namaku Laxus dan ya, aku penduduk asli disini," jawab Laxus.
Otak Natsu mulai berpikir. 'Hari pertama sekolah kurang 4 hari, uangku tinggal 380.000 jewel, dan akhir bulan tinggal 10 hari lagi. Itu cukup.'
"Ne, Laxus-san kenapa kau bisa kehabisan uang di saat seperti ini?"
"Karena sekolah saat ini sedang mengalami libur panjang jadi aku tidak mendapatkan bayaran apapun dan kerja sambilanku mulai sepi."
"Oh, jadi kau adalah pengajar dan apa kerja sambilanmu?" Tanya Natsu.
"Aku bekerja sebagai tour guide di kota ini," balas Laxus.
Setelah mendengar jawaban Laxus, Natsu merasa senang karena orang yang dia cari-cari ada di depannya. "Sungguh keberuntungan yang menyenangkan," ucap Natsu tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Laxus bingung.
"Aku sedang mencari tour guide untuk mengenalkanku ke kota yang sudah lama aku tinggalkan." Jawaban Natsu membuat Laxus kaget. Laxus kira anak ini berasal dari sini, ternyata tidak.
"Hmm, baiklah. Kalau begitu kau tidak perlu membayarku. Cukup dengan mengajakku makan saat waktunya makan saja. Ngomong-ngomong namamu siapa dan apa maksud dengan kota yang sudah lama kau tinggalkan?" Pertanyaan Laxus membuat Natsu harus bercerita tentang masa lalunya.
"Namaku Natsu Dragneel dan membutuhkan waktu yang lama untuk menceritakan hal itu. Bagaimana kalau kita bicara di rumahku saja?" Jawaban Natsu membuat Laxus kaget.
'Nama yang sama seperti anak itu, mungkinkah...'
"Baiklah, lagipula ini hampir hujan," balas Laxus. Saat mereka tiba di rumah Natsu hujan pun mulai turun membasahi daerah di sekitar rumah Natsu.
"Tunggulah disini aku akan ambilkan camilan terlebih dulu dan anggap saja ini rumah sendiri," kata Natsu yang berjalan kebelakang meninggalkan Laxus yang sedang memperhatikan interior rumah kakak beradik Dragneel.
'Rumahnya besar dan apalagi rumah ini dulunya adalah rumah milik kakak beradik Dragneel,' Laxus mulai berpikir serius.
'Tunggu dulu... Tadi kata anak itu namanya Natsu dan tinggal disini, jangan-jangan... Tapi itu tidak mungkin karena dia sudah meninggal 1 tahun yang lalu. Mungkin aku harus bertanya.' Laxus tidak sanggup mencari titik terang dari pemikirannya sendiri sehingga ia harus memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Ini, silahkan dihabiskan," ucap Natsu sambil meletakkan teh hangat dan biskuit yang banyak.
"Ano, tadi kau bilang namamu Natsu Dragneel kan?" Tanya Laxus memastikan.
"Ya namaku Natsu Dragneel. Memangnya kenapa?" Balas Natsu dengan tatapan bingung.
"Dulu ada siswa yang namanya mirip dengan namamu, ia cukup berbakat untuk anak berusia 14 tahun dan menempati posisi pertama di angkatannya, tapi hal itu tidak berlangsung lama. Saat pertandingan tahun keduanya dia memasang taruhan saat pertandingan final-"
"Ano, maaf menyela." Natsu mengangkat tangan kanannya seperti orang yang bertanya. "Apa boleh taruhan saat pertandingan?" Lanjut Natsu.
"Bila saat final itu boleh saja dan taruhan anak itu adalah siswa yang kalah harus meninggalkan sekolah," jawab Laxus dengan pandangan mata yang menajam.
"Apa siswa itu menang?" Tanya Natsu penasaran.
"Tidak, siswa itu dikalahkan dan hampir kehilangan seluruh sihirnya, karena menggunakan sihir hitam yang belum sempat ia kuasai. Entah itu keinginannya sendiri atau tidak saat menggunakan sihir itu. Tapi menurutku, sihir itu keluar karena keinginan untuk mengalahkan lawannya," jelas Laxus.
"Apa siswa itu selamat?"
"Siswa itu selamat dan setelah itu dia harus keluar sekolah karena taruhannya sendiri. Tapi 2 tahun kemudian setelah pertandingan, ada kabar yang menyatakan bahwa siswa itu meninggal dunia karena terbunuh saat merantau di negeri orang."
"Lalu, apa kau percaya tentang berita itu?"
"Awalnya aku mau tidak percaya, bagaimana mungkin siswa sekuat itu bisa terbunuh. Tapi saat aku tahu bahwa negeri yang ia tinggali adalah negeri Alvarez, aku jadi percaya tentang kabar itu."
"Memangnya ada apa dengan negeri itu?"
"Negeri itu merupakan negeri yang sangat keras kehidupannya jadi tidak heran bila dia bisa terbunuh di negeri itu."
"Jadi, apa hubungan anak itu denganku?" Tanya Natsu.
"Maaf aku jadi menceritakan hal yang membosankan. Jadi pertanyaanku adalah, apakah kau Natsu Dragneel yang kalah dalam pertaruhan 3 tahun yang lalu?" Tanya Laxus dengan wajah serius.
"Bukan, aku hanya remaja yang kebetulan kembali ke kampung halamanku setelah 3 tahun dan bagaimana bisa seseorang bisa hidup lagi setelah mati," jawab Natsu santai.
"Benar juga, bagaimana bisa orang yang mati hidup lagi, tapi kukira kau Natsu Dragneel yang itu, ternyata bukan ya? Ya sudahlah," jawab kecewa Laxus. Lalu meminum teh yang diberikan Natsu karena tenggorakannya kering akibat terlalu lama bercerita.
"Maaf mengecewakan ekspetasimu ya Laxus-san," jawab Natsu dengan sedikit tertawa.
"Tenang saja, lagipula aku hanya penasaran," jawab Laxus sambil memakan camilan.
'Maaf Laxus-san aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya tentangku kepadamu karena aku sudah janji dengan kakakku.'
"Oh iya Laxus-san, mengapa kau berpikiran bahwa aku itu Natsu Dragneel yang itu?" Natsu mulai penasaran.
"Mungkin karena kalian mirip," jawab Laxus singkat dengan menyeruput tehnya.
"Mirip?" Tanya Natsu dengan wajah kebingungan.
"Iya, kalian cukup mirip. Aku masih bisa mengingatnya, anak itu mempunyai rambut berwarna pink, sorot mata yang tajam, aura sihir yang luar biasa, dan dia adalah dragon slayer."
"Dari penjelasanmu itu Laxus-san, darimana yang mirip denganku?" Tanya Natsu sweatdrop.
"Pertama yang membuat kalian mirip adalah Rambut. Kalian mempunyai warna rambut yang sama dan gaya rambut yang hampir sama, mana ada orang yang memiliki warna dan gaya rambut yang hampir mirip."
"Lalu, yang kedua adalah sorot mata. Sorot mata kalian sama tajamnya dan yang membedakanmu darinya adalah sihir, kau tidak memiliki sihir. Itulah yang aku rasakan saat melacak kapasitas sihirmu, sedangkan ia memiliki sihir Dragon Slayer. Oh iya dia dulunya memakai kacamata, dan yang terakhir dia juga tinggal disini dulunya." Bagaimana orang tidak mengira apabila Natsu yang ada di hadapan Laxus adalah Natsu Dragneel yang diberitakan mati 1 tahun yang lalu. Secara penampilan mereka memang hampir mirip, tapi bila digali lebih dalam kau akan mengetahui kalau dia tidak memiliki sihir sama sekali.
"Bagaimana bisa kau menempati rumah ini Dragneel-kun?" Satu pertanyaan terakhir.
"Aku membeli rumah ini dari sebuah situs jual beli rumah, aku memilih rumah ini karena harganya murah dan mirip dengan rumah impianku, oleh karena itu aku membelinya," jawab Natsu.
"Ternyata kau anaknya orang yang kaya ya," kata Laxus membenarkan tempat duduknya.
"Tidak, dari sejak aku kecil. Aku sudah mempunyai impian untuk membeli rumah sendiri sebelum umur 20 tahun," terang Natsu dan Laxus menggangguk saja. Tiba-tiba saja Laxus ingat kalau ada sesuatu yang ingin diceritakan Natsu.
"Maaf, aku malah membahas hal yang tidak penting. Jadi, apa yang mau kau ceritakan Dragneel-kun?"
"Panggil aku Natsu saja, hmm lain kali saja. Aku mau beristirahat," jawab Natsu disertai mulut yang menguap pertanda bahwa manusia itu sedang mengantuk atau bisa saja karena bosan.
"Baiklah, tapi sebelum itu Natsu, aku hanya bisa memandumu selama 2 hari. Jadi aku hanya bisa memandumu sampai lusa."
"Itu sudah cukup, Laxus-san. Terima kasih."
"Tidak Natsu, seharusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih Natsu dan silahkan beristirahat, aku mau pulang dulu dan panggil aku 'Laxus' saja," jawab Laxus sambil melenggangkan kakinya menuju pintu keluar.
"Baiklah Laxus, besok bertemu di rumah makan yang tadi saja. Jam 10 pagi, jangan lupa!" Teriak Natsu dari dalam rumahnya dan disahuti Laxus dengan lambaian tangan.
Esoknya mereka bertemu di tempat yang dijanjikan dan mulai berkeliling kota sampai malam. Dan hari ini atau hari terakhir memandu, Natsu dijanjikan Laxus bahwa di hari terakhir dia akan dibawa menuju pelosok kota Magnolia.
Saat ini mereka sudah sampai di kawasan yang cukup berbahaya di kota Magnolia. Meskipun kawasannya cukup berbahaya, hal itu tidak dapat melunturkan rasa penasaran Natsu. Karena tempat pelosok itu dulunya tempat Natsu bermain dan berlatih, sebelum tempat itu menjadi kawasan yang berbahaya di Magnolia.
"Kita sudah sampai Natsu, jangan lengah dan tetap dibelakangku. Dan satu hal lagi.." Laxus menggantung kalimatnya.
"Apa lagi, Laxus?" tanya Natsu sweatdrop. Karena dari tadi Laxus sudah berbicara banyak hal tentang daerah itu, entah itu berbahanya, bagusnya, dan apa saja yang ada disana. Natsu sudah muak mendengar hal itu.
"Silahkan menikmati hari wisata terakhirmu di tempat yang berbahaya," kata Laxus disertai senyuman. Natsu hanya menggangguk-angguk saja. Mereka pun berkeliling sampai sore di tempat tersebut karena kawasannya memang cukup luas.
"Natsu tunggu sebentar, aku mau membeli makanan untuk kita. Tunggulah disini." Perkataan Laxus hanya dijawab dengan anggukan oleh Natsu. Tidak lama seseorang datang….
"Cepat sekali, Laxus," kata Natsu. Saat ia menoleh ternyata itu adalah sekumpulan orang asing yang berjumlah 6 orang dengan aura sihir yang cukup besar. 'Sial, sepertinya aku harus meladeni mereka,' batin Natsu.
"Yo Nii-san, maukah kau ikut kami sebentar," ajak orang itu. Mau tidak mau Natsu harus menuruti orang itu dan ia pun dibawa ke tempat yang sepi dengan orang.
"Berikan semua uang dan barangmu jika kau tidak ingin terluka," perintah orang itu dengan menekan tubuh Natsu ke tembok.
"Uangku sudah habis dan barang yang kupunya hanyalah syal ini," kata Natsu sambil menunjukkan syalnya.
"Geledah dia, bila tidak ada apapun. Hajar saja dia," dijawab anggukan oleh teman-temannya.
"Tidak ada apapun bos," kata salah satu orang setelah menggeledah Natsu.
"Hajar dia!" Tidak lama setelah perintah itu turun, Natsu merasakan pukulan yang cukup keras di perutnya hingga membuat Natsu tersentak kebelakang. Setelah itu mereka menghajar Natsu habis-habisan.
'Sial, kalau begini terus aku akan mati. Tapi aku sudah janji dengan kakak tidak boleh menggunakan kekuatanku selama seminggu bila ditempat baru. Sial! Sial! Sial!' batin Natsu. Tiba-tiba semua serangan berhenti dan saat Natsu melihat, ada kekuatan sihir dikumpulkan menjadi satu dan membentuk sebuah bola.
'Maafkan aku kak, sepertinya aku harus melanggar janjiku sendiri.' Saat Natsu hampir mengeluarkan sihirnya. Tiba-tiba seseorang datang dengan kekuatan sihir yang menakutkan.
"Apa yang telah kalian lakukan hingga membuat turisku babak belur?" Tanya Laxus meskipun keadaan di TKP sudah jelas bahwa terjadi perampokan.
"Kami hanya bermain yang tidak punya apa-apa akan dihajar!" Orang itu melemparkan sihir berbentuk tombak dan dilemparkan ke Laxus, sedangkan Laxus hanya diam saja.
"Hahahaha, dasar orang bodoh," tawa orang yang melempar tombak.
"Siapa yang kau sebut orang bodoh?" Tatap Laxus dengan mata yang tajam.
"Tidak mungkin, padahal tadi kena telak," ucapnya sambil tidak percaya dengan yang dilihatnya.
"Sekarang giliranku" Laxus mengeluarkan sihir petir, lalu dijadikan sebuah tombak. "Terima ini!" Laxus melempar tombak petir itu, tapi saat hampir mengenai orang itu. Sihir Laxus tiba-tiba lenyap. "apa yang sebenarnya terjadi?"
Laxus mencoba mengeluarkan sihir tombak seperti sebelumnya namun tetap tidak bisa. Yang keluar hanya aura sihirnya saja. Terlebih lagi badan Laxus hampir tidak bisa digerakkan. "fiuuh, akhirnya selesai juga. Untung saja kalian paham situasi dan kau!" orang itu menunjuk Laxus.
"Kau mungkin bertanya-tanya apa yang terjadi. Bagaimana bisa sihirmu menghilang dan tubuh yang hampir tidak bisa digerakkan. Itu semua terjadi berkat anak buahku, 3 orang menggunakan sihir penyegel dan 2 orang menggunakan sihir mengunci pergerakan. Karena itulah kau tidak bisa menggerakkan tubuhmu dan tidak bisa mengeluarkan sihirmu," ucap sang pimpinan berandalan sembari berjalan mendekati Laxus.
"Dengan ini aku bisa menghajarmu sepuasku." Dia pun menghajar Laxus.
Bughh
1 pukulan di wajah
Buggh buggh
2 pukulan di perut
Bugh bugh
2 tendangan di dada bagian samping
Orang itu terus menghajar Laxus dengan girang hingga pria itu mulai tersungkur, Laxus tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa dia terjebak dengan trik murahan seperti ini. 'Sial! Aku tadi terbawa emosi jadi aku tidak bisa menganilisa keadaan, satu-satunya cara untuk selamat hanya menggunakan cara itu. Baiklah sepertinya tidak ada pilihan lain.' Laxus berpikir bagaimana mereka berdua bisa selamat dari hal ini.
"Aku tidak mungkin berakhir disini!" Laxus mengeluarkan kekuatan sihir yang dahsyat dan mulai bangkit, hingga membuat sang pimpinan berandalan berhenti menghajarnya.
"Oi! tingkatkan lagi sihirnya," perintah si pimpinan dan langsung direspon oleh anak buahnya.
Saat ini Laxus berdiri dengan mengeluarkan kekuatan sihir yang dahsyat. "Meskipun kau mengeluarkan kekuatan seperti itu, kau tidak akan bisa mengeluarkan serangan sihirmu. Dan terima ini!" Si bos berandalan mengeluarkan bola sihir berdiameter 1 meter.
Whuss… Doom….
Tercipta kepulan asap yang membumbung tinggi, tidak lama kepulan asap itu menghilang perlahan dan menampakkan siluet seorang bocah.
"Kenapa kau memberikan sihirmu ke orang yang baru kau kenal? Orang itu bisa saja menyalahgunakannya untuk berbuat kejahatan. Kenapa Laxus? Kenapa?" Teriak Natsu ke Laxus yang sudah terkapar tak berdaya di belakang Natsu.
"Aku tau kau itu anak yang baik dan sihir itu akan menghilang setelah kau pakai. Kecuali jika kau adalah dragon slayer maka itu akan menjadi kemampuanmu sendiri dan tidak akan menghilang," papar Laxus ditengah kondisinya yang kritis.
'Aku baru tau kalau dragon slayer mempunyai kemampuan seperti itu,' batin Natsu yang kaget dengan penjelasan Laxus.
"Apa yang terjadi?" Tanya boss berandalan yang mulai panik.
"Laxus memberikan sihirnya kepadaku sebelum bola sihirmu mengenainya, sesaat setelah aku menerima sihir itu, aku langsung ke Laxus untuk menghilangkan bola sihir itu. Tapi sialnya aku hanya bisa menghilangkan setengah kekuatan bola sihir itu….. Akan kuhajar kalian semua!" ucap Natsu dengan tatapan yang sangat tajam seakan bisa membunuh orang hanya dengan tatapannya dan dengan nada amat marah.
"Omong kosong, kau tidak mungkin bisa menghajar kami sem-," sebelum menyelesaikan kalimatnya, lutut Natsu sudah berada di depan wajahnya.
"Kau banyak bicara.." Kata Natsu lirih, lalu lutut Natsu dialiri petir dan menendang boss itu.
Darr...Whoossh…Doom….
Boss tersebut menghantam bangunan dibelakangnya hingga bangunan tersebut hancur. "Sialan kau!" teriak anak buahnya.
Natsu kembali mengaliri tubuhnya dengan petir dan mereka mulai maju ke arah Natsu. Melihat itu Natsu hanya mempertinggi tekanan sihirnya dengan harapan mereka akan menyerah. Tapi ternyata tidak, Natsu mulai menghajar mereka. Orang pertama maju menyerang Natsu, tapi bocah itu menghindarinya dengan mudah. Setelah Natsu menghidari serangan itu, ia menendang lengan orang pertama dengan sangat keras hingga seperti ada yang patah.
Lalu, Natsu melesat menuju ke orang kedua dan langsung memukul dagu orang itu hingga terlempar setinggi 3 meter. Saat hampir mencapai tanah, bocah berambut pink itu menendangnya ke arah orang ketiga yang sedang menyiapkan sihir, kedua orang itu bertabrakan lalu terpental jauh dan menghantam toko-tokoan.
Sedangkan sisanya sudah selesai menyiapkan sihir yang cukup kuat untuk membunuh orang biasa dan mengarahkan ke Natsu.
Doom..Darr…
"Apa berhasil?" Tanya satu sama lain.
"Tentu saja tidak." Natsu mengarahkan tangan kirinya selaras dari arah sihir itu, yang artinya dia sudah menahan serangan sihir itu dan tidak terluka sama sekali. Hanya tergores sedikit ditelapak tangannya.
Natsu langsung membentuk tangannya seperti pistol, lalu menembakan sihir petir Laxus mirip dengan peluru senapan. Ia menembakinya secara beruntun hingga mereka pingsan.
"Sepertinya sudah berakhir dan untung saja aku tidak menggunakan sihirku sendiri," ucap Natsu melihat ke langit, lalu berlari menuju Laxus.
"Sudah kuduga kau bukan anak biasa dan kau berhutang penjelasan tentang kemampuan bertarungmu itu serta penjelasan tentang siapa dirimu yang sebenarnya," ucap Laxus lalu pingsan.
"Baiklah akan kujelaskan semuanya tentang diriku ini," ucap Natsu pelan dan mulai membawa Laxus ke kediaman Dragneel.
To Be Continue...
Yo minna-san, aku balik lagi dengan chapter 1. Mungkin udah gak ada ya yang baca di fandom ini, tapi gapapalah. Pokoknya nulis dulu lah awkwkw. Kenapa aku update lagi chapter ini, karena aku pengen mengganti kosakata yang sulit dicerna, ya walaupun gak ada jaminan setelah aku 'Remake' gak bakalan ada kosakata atau kalimat yang susah dimengerti. Itu saja dan untuk chap 15 atau 16 akan segera di up, terima kasih.
[11-01-2020]
