Huhtttt.

Hufttttt.

Fuihhhh.

Suhhhhh.

Hmmmm.

Hufffffft.

Untuk kesekian kalinya dengan bersahut-sahutan Luhan dan Baekhyun saling menghelakan nafasnya seperti sedang melakukan lomba tarik nafas. Yang membuat wajah pelayan dibelakangnya datar sedatar trotoar.

Sudah sangat jengah menunggu. Dua remaja ini sejak tadi cuma duduk dan berulang kali minta air putih yang gratis tanpa memesan lainnya. Setiap ditanya mau pesan apa, jawabannya. Tunggu lima menit, aku ingin menghela nafas dulu. Tapi sampai hampir setengah jam berlalu tidak kunjung juga mereka memesan. Malah cuma minta tambah air terus.

Kan menjengkelkan, dikira kafe ini punya neneknya, atau tidak ada pelanggan lain yang harus di layani. Sumpah mengesalkan. Mau ditinggal nanti dikomplain manager. Ditunggu kayak babi. Dasar dua bocah setan. Batin si pelayan misuh-misuh.

"Jadi penggan- nim...

"Aku mau pulang sajalah. Sebab mau dipikirkan berapa kalipun aku tidak akan menemukan jawabannya" keluh Luhan duluan yang sudah merasa kepalanya panas sekali siap meledak kapan saja. Sekaligus menyela pelayan yang wajahnya tidak kalah berkeruh dan juga siap meledak dengan segera.

"Tapi kalau pulang dan bertemu, kepalaku makin ruwet. Mau biasa saja tidak bisa tapi kesal juga tidak bisa" Baekhyun juga mengeluh, ikut membenturkan kepalanya di meja seperti apa yang dilakukan sahabatnya.

"AH, NAE INSAENG NEOMU HIMDEULDA(Ah, hidupku sangat berat)"

" EOTTOKHAJI(Bagaimana ini)"

Hidup ini benar-benar berat. Bagaimana ini. Huaaaaaaaa. Batin si pelayan yang juga ikut frustasi menghadapi pelanggan ini. Apa dosanya sampai bertemu mereka berdua. Ya tuhan.

.

.

EXO Fanfiction

By

Moonbabee

.

.

Kim Minseok duduk termenung diruang tamu apartemennya setelah selesai membersihkan rumah. Hari ini Luhan sedang keluar dengan Baekhyun dan itu sedikit menguntungkan baginya karena jadi dia bisa dengan cepat menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan. Tidak seperti kalau bocah itu ada dirumah.

Sebentar-sebentar Minseok-ah.

Minseok-ah mau ini.

Minseok-ah mau itu.

Minseok-ah disini.

Minseok-ah, dimana?

Minseok-ah habis ini ini ya.

Minseok-ah habis ini itu ya.

Dan mulutnya baru akan berhenti mengoceh kalau pria itu sudah membanting alat kebersihan – apapun yang dipegangnya lalu menatap sinis pada si remaja. Barulah dia tutup mulut tidak berkutik duduk disofa saja dalam diam tanpa berani melakukan apapun. Menjengkelkan, menyebalkan dan semua jenis tidak menyenangkan.

Dan sekarang Luhan tidak ada, rumah sepi membuatnya dengan mudah larut pada pemikiran diri sendiri. Lamunan bercabang yang mengantarkan dia pada flash flash back yang menyesakan dada.

Mimpinya tadi pagi itu adalah jenis mimpi paling buruk sepanjang ia hidup. Dulu ketika pertama kali bersama dengan Luhan prasaannya memang tidak sedalam ini. Ia masih merasa asing pada sosok bayi mungil yang bisanya cuma menangis dan menyusu. Sehingga Minseok sebisa mungkin mencoba menemukan orangtua anak itu.

Siapa kiranya yang telah membuang bayi merah seperti itu di dekat tong sampah dan membuatnya menangis karena kedinginan. Namun sekarang kalau seandainya ia dipisahkan dengan Luhan entah bagaimana kehidupannya akan berjalan.

Ia menyayangi Luhan, mencintai Luhan dan tidak akan perna sanggup kalau harus dipisahkan. Baginya Luhan adalah segalanya. Bukan karena anak itu telah memberikan kehidupan nyaman untuknya dengan bergelimang harta seperti ini. Namun karena murni. Hatinya menginginkan Luhan. Semenyebalkan apapun anak itu Luhan tetaplah permata hatinya.

Luhan adalah anaknya, temannya, adiknya, kakaknya, prianya dan jantungnya yang berdetak diluar tubuh. Ia tidak sanggup kalau harus dipisahkan dengan Luhan.

Tapi bagaimana kalau seandainya orangtuanya memang benar-benar muncul dan memintanya. Mengambil kembali buah hati mereka yang telah lama hilang dari jangkauan mata. Minseok berhak atas Luhan karena dia yang merawat dan membesarkan anak itu, tapi mereka juga berhak karena biar bagaimanapun Luhan adala anak mereka. Darah mereka mengalir dalam diri Luhan.

"Kenapa memikirkannya saja bisa sesakit ini" dadanya terasa sesak. Padahal itu hanya pikiran seandainya yang berasal dari mimpi. Bukannya sungguhan ada orang tiba-tiba datang mengaku sebagai orangtua Luhan.

Kim Minseok, kau berlebihan. Kalau anak itu tahu dia pasti besar kepala. Batinnya.

Ting nung. "Oh kamjjagia(Oh, kaget)" kejut Minseok yang terlonjak dari sofa kala medengar bel apartemnnya berbunyi. Siapa? Tamu?

Tidak mungkin Luhan atau Baekhyun karena anaknya kan tahu password rumah ini. Tidak mungkin juga Kyungsoo. Dia pasti akan mengabari dulu kalau mau datang. Pikirannya was-was. Tapi tetap mengambil langkah untuk berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

.

.

KIDJJANG adalah nama perusahaan yang didirikan oleh Luhan dengan merk dagang utamannya adalah kendaraan roda empat – mobil, logonya adalah kepala rusa yang menurut Baekhyun cocok sekali dengan anak itu. Yang kalau dia marah tanduknya akan keluar tapi lebih panjang dari tanduk rusa – setan lah lebih spesifiknya. Luhan yang seperti setan. Begitu penggambran Baekhyun.

Dan nampaknya disetujui juga oleh karyawan karena setiap kali anak itu datang ke kantor dan Baekhyun ikut, pasti wajah karyawannya selalu pucat dan tegang padahal anak itu cuma lewat. Sungguh berbanding terbalik dengan tempat kerja milik Baekhyun yang selalu ceria dan menyenangkan.

"Ya?, wajahmu terlalu menakutkan. Biasa saja. Jangan sok keren" bisik Baekhyun pada sahabatnya. Sesekali dia menyapa ramah namun tidak mendapat respon yang dia inginkan karena sepertinya wajah muram Luhan begitu menyita perhatian.

"Apa kau akan bisa sesantai itu kalau karyawanmu menangani hal kecil saja tidak becus" hardik Luhan pada Baekhyun. Namun tidak membuat remaja lainnya takut malah hanya berdecak.

"Jangan berlebihan. Kau hanya sedang sensitif" kembali Baekhyun berucap.

"Kau brisik. Sana duduk diluar aku mau meeting" katanya ketus sembari mendorong Baekhyun yang siap akan mengikuti masuk keruang pertemuan.

"Aku ikut masuk sajalah, tidak akan menganggu. Aku janji"

"Tidak kami akan membahas rahasia perusahaan"

Cih. Baekhyun mendecih dengan jawaban tersebut lalu menuruti si sahabat dengan duduk disofa yang ada disana. Luhan kalau sedang sensitif itu sangat menyebalkan sekali. Apalagi sekarang.

Dihari libur, di telepon perusahaan karena ada masalah dan diminta datang keprusahaan pula. Sudah pasti akan marah-marah.

"Masa begitu saja harus aku yang menangani sih!" nah benar kan perkataan Baekhyun. "Tidak malu masalahnnya ditangani anak kecil? Dasar." Terdengarlah umpatan-umpatan lain yang membuat anak satunya lagi menggeleng heran.

Temperamental sekali. Mudah tepancing emosi dan sangat pemarah. Hih, seram.

Rasanya ingin mengumat saja sepanjang hari. Sudah tidak punya quality time dengan Minseok. Bertemu Baekhyun malah pikirannya semakin penuh sesak. Sekarang malah harus terjebak di kantor brsama tumpukan dokumen dan proposal.

"Arghhhh. Menyebalkan" erangnya kesal.

"Kenapa?" tiba-tiba dari arah pintu, sosok Baekhyun muncul di kedua tangannya penuh sesak isi cemilan dan minuman dingin. Woah, enak sekali bocah ini. Dia sedang menderita begini anak itu malah kenakan menikmati jajanan ringan. Baekhyun memang pandai memanfaatkan statusnya sebagai teman Luhan.

"Kau ini mudah sekali terbawa emosi." Komentarnya seraya duduk di sofa diruangan Luhan.

"Ngomong itu gampang." Desisnya kesal. Kembali meraih map yang tadi sudah ia lempar.

Baekhyun berdecak " Don't fight the feeling bro. Dinginkan kepalamu, nanti jadi kau mudah berfikir"

Padahal tadi sepertinya Baekhyun yang lebih frustasi. Tapi kenapa sekarang malah Luhan yang terlihat bagaikan gunung merapi yang akan meledak.

.

.

" Annyeonghaseyo"

Bukan sepasang orangtua, bukan orang yang aneh, bukan pula orang mencurigakan. Tapi dia adalah Oh Sehun – si siswa pindahan dari China yang rupawan dan menawan.

Berdiri dihadapannya, di depan rumahnya sambil tesenyum dan tangannya membawa bingkisan. Apakah anak ini berkunjung kerumahnya? Menemuinya? Atau menemui Luhan?

"Sehun?"

" Ne, akhirnya aku menemukan rumahmu" anak itu mengangguk lalu mengulurkan bingkisannya pada Minseok yang semakin membuat lelaki itu terheran.

"Kau mencari rumahku? Mencariku atau...

"Iya saem. Maaf sudah lancang tapi apa aku boleh masuk?"

"Oh ya. Tentu. Silahkan masuk" segera Minseok mempersilahkan Sehun untuk masuk dan pemuda itu duduk di sofa ruang tamu.

"Ada apa Sehun?"

"Aku meminta alamatmu dari Park saem."

"Park Chanyeol?"

"Iya, aku ingin berkonsultasi tentang seni musik dan seni tari, karena aku baru pindah jadi aku belum terlalu paham dimana tempat les seperti itu. Aku minta pendapatnya tapi kata Park saem mungkin kau leih cocok karena kau juga mendalaminya ketika kuliah"

Oh. Anak ini bermaksud menemuinya dan memintanya dari Park Chanyeol. Kupikir untuk menemui Luhan dan ingin belajar bersama. Batin Minseok seraya mengangguk-angguk.

Terselip dalam benak Minseok perasaan kagum. Anak ini nampak begitu polos namun juga terlihat cerdas. Selain itu dia juga sepertinya tipe anak yang sangat suka belajar. Bahkan baru pindah sekolah sudah mau langsung mencari tempat les.

Berbeda sekali dengan Luhan yang suka bermalas-maasan. Luhan itu sebenarnya juga anak yang cerdas kan. Tapi kecerdasannya ia anggurkan. Padahal Baekhyun itu rajin sekali, tapi kenapa anak itu punya sifat yang bertentangan. Sedihnya kan.

.

.

Luhan pulang kerumah dengan wajah lelah. Dia seharian sudah berkutat di kantor dengan pekerjaan yang menggila dan bahkan sampai harus dibantu Baekhyun untuk urusan periklanan. Entahlah kalau tadi tidak ada Baekhyun mungkin Luhan sudah meledak dan ngamuk. Kalau sedang punya banyak pikiran seperti ini dia jadi mudah sekali marah.

"Aku pulang" salamnya dan kemudian terdengar sahutan Minseok dari arah dapur.

"Mandi segera ya Luhan-ah. Habis itu kita makan"

"Eunggggg"

Yeah. Dia memang ingin segera mandi dan makan. Menyegarkan tubuhnya dan kembali mengisi tenaga yang sudah terkuras habis.

Sementara Luhan yang memasuki kamar dengan lesu, Minseok yang melihat dari pintu dapur terheran. Sepertinya anak itu lesu sekali. Tadi siang dia dapat SMS dari kantor kalau Luhan sedang ada disana mengurus beberapa masalah. Apa masalahnya sangat serius sampai membuatnya kelelahan begitu?

Aduh, kalau memang iya mendadak Minseok jadi merasa bersalah. Tadi pagi dia sudah mendebat Luhan sampai mereka cekcok. Anak itu jadi kabur dengan Baekhyun tapi malah dipanggil ke kantor. Kasihan sekali. Sementara dia malah enak-enakan dirumah sambil menikmati obrolan meyenangkan dengan Sehun.

"Apa tadi siang dia makan? Biasanya kalau sudah urusan kantor dia lupa makan" gumamnya khawatir. Luhan itu kan suka ceroboh kalau tidak diperhatikan. Ckck.

Tidak berapa lama setelah itu Luhan muncul di dapur dengan handuk kecil menangkup di kepalanya. Sudah terlihat lebih segar walau gurat lelahnya masih nampak.

"Kau kelihatan lelah sekali, tadi siang makan tidak?" Minnseok bertanya setelah menyiapkan makanan untuk Luhan lalu mengambil alih handuk di tangan dan dia mulai mengeringkan rambut anak itu.

"Beberapa cemilan dan minuman saja. Tidak sempat" keluhnya dengan suara manja. "Mendadak orang di kantor menyebalkan. Pekerjaan menumpuk dan bahkan tidak memberitahuku kalau onderdil yang dibutuhkan sudah datang." Lagi dia mengeluh sembari memasukan berbagai jenis makanan kemulutnya.

"Onderdil?"

"Iya, aku berencana memperbaiki kualitas mobil keluaran lama dan menjadikannya tren kembali tapi mereka malah tidak memberi tahuku. Tidak ada laporan untuk promosi bahkan proposl iklan tidak memuaskan. Memusingkan. Kepalaku rasanya mau pecah"

Minseok tidak tahu apa yang sedang dibicarakan anak ini. Dia tidak paham bisnis, otomotif apalagi soal marketing bisnis. Meskipun katanya dulu dia mahasiswa cerdas tapi kecerdasannya di bidang seni makanya dia diam saja sambil mendengarkan ocehan Luhan.

"Aku tidak mau mengakui ini tapi aku bersyukur Baekhyun membantuku hari ini. Dia punya ide yang segar. Lebih baik daripada para staf. Aku jadi mau mempekerjakannya."

Kali ini baru Minseok bereaksi, dia berdecak pelan. "Dia sudah kaya dan lebih cerdas darimu, untuk apa dia jadi bawahan mu"

Luhan melirik Minseok datar lalu mendesis dan kemudian kembali melahab makanannya dengan sedikit brutal. Sebagai bentuk protes karena Minseok malah memuji Baekhyun dan bukannya memberinya semangat. Ah, pria tua ini.

Setelah makan malam selesai, keduanya lalu beranjak untuk duduk di ruang tengah. Luhan kembali fokus pada pekerjaan yang tadi sengaja dibawanya sementara Minseok membersihkan dapur dan mengupas buah. Baru setelah itu menghampiri Luhan.

Terlihat pekerjaannya memang banyak sekali. Woah, kalau begini dia terlihat dewasa sekali. Seperti bukan remaja tujuh belas tahun. Berbeda sekali dengan Luhan yang biasanya. Seperti remaja bodoh tanpa masa depan. Nilai ulangan bobrok, hobi buat onar, mesum pula. Haduh.

"Lelah sekali" keluhnya sembari menjatuhkan wajahnya diceruk leher Minseok dan tidak butuh waktu lama tubuh keduanya sudah merapat. Nah kan? Baru juga dibilang kalau dia mesum. Sudah mulai.

"Istirahatlah. Kau bisa lanjutkan besok. Tidak sekolah juga tidak apa"

Luhan berdecak. Kalau biasanya dia senang mendengar perkataan seperti itu namun kali ini dia tidak senang. Faktanya nanti Minseok tidak dirumah dan pria itu malah ada disekolahnya.

"NO! Enak saja, kau disekolah dan aku dirumah. Tidak mau nanti kau genit disana."

"Aku tidak akan genit, lagian kalau kau tidak percaya kan ada Baekhyun"

Kembali Luhan berdecak "Kau pikir anak itu bisa dipercaya? Kau mungkin tidak di geniti orang lain tapi bisa saja nanti Baekhyun yang main mata denganmu. Dia kan kadar kemesumannya sudah overdosis"

"Tidak bercermin" hardik Minseok sembari menyumpel mulut Luhan dengan potongan buah apel.

"Ish, itu kan memang benar" kata Luhan tidak terlalu jelas karena sedang mengunyah. Lalu setelah mengunyah ia kembali mengambil potongan lainnya, mengunyah lagi lalu mengambbil lagi. Sampai piring kosong. Setelah itu dia meneguk air putih yang tinggal setengah milik MInseok, lalu setelah itu baru dia melayangkan aksi mesumnya.

Dia sengaja melahab makanan dan buah-buahannya dengan cepat karena dia menginginkan buah yang lain.

Buah ceri yang menempel di bibir Minseok, buah kembar di dadanya dan buah peach yang menempel di pantatnya.

"Luhan" pekik Minseok terlambat kala tubuhnya sudah terdorong kebelakang dan terlentang diatas karpet berbulu. Untung sudah ia bersihkan, kalau tidak Minseok akan menggampar Luhan karena membuatnya berbaring di tempat kotor.

"Aku lelah sekali, aku ingin kerumah" bisiknya seduktif dan Minseok langsung paham begitu Luhan mengatakan rumah.

"Istirahat kalau lelah"

" Dirumah" rajuknya manja, bibirnya mulai bergerilya disekujur lehernya hingga berakhir di bibirnya.

Minseok tidak menolak, selain karena dia memang merindukan penghuni rumahnya dia juga merasa Luhan sedang sangat frustasi. Entah kenapa ia melihat kali ini sepertinya beban Luhan sangat berat. Kalau dia menolaknya pasti Luhan sedih dan ia sedang tidak ingin melihat wajah sedih anak itu.

Ia ingin menikmati masa kebersaman mereka sebanyak yang ia bisa. Karena ia tidak tahu apakah akan terus bersama atau tidak. Ia sama sekali tidak berharap akan perpisahan. Tapi mimpi itu mempengaruhinya dengan sangat. Apalagi fakta kalau dia pernah melihat sosok yang mirip dengan orang yang ia lihat tujuh belas tahun lalu. Membuatnya cemas dan takut.

"Kau milikku Luhan" bisik Minseok tepat di telinga Luhan saat tubuhnya di sentak oleh benda tumpul yang keras dan kaku.

.

.

TBC/END?

.

.

Aku sedang punya banyak waktu luang. Jadi ku gunakan untuk menulis sebanyak-banyaknya. Kurindu Xiuhan, Rindu sekali. Sangat rindu sekali. Huhu.