Chapter 01, Bertemu kembali.
Miku POV
"Ayo bermain bersamaku!"
"Aku menemukanmu! Kau yang jaga!"
"Kau lucu sekali kalau sedang cemberut. Hahahaha."
"Jangan menanangis, ada aku disini."
"Aku akan terus bersamamu, ...Ku-chan!"
"...Iku-chan!"
"Miku-chan!" Seru seorang gadis, ia sedang mengguncang-guncangkan tubuhku, membuatku sedikit tersentak. Aku menguap sembari mencoba untuk sepenuhnya bangun.
"Dasar tukang tidur. Cepatlah bangun, ini hari pertama sekolah bukan?" Ucap gadis berambut panjang itu, dia berusaha membantuku untuk duduk.
"Aku sedang berusaha." Jawabku malas, masih mengantuk. Lagipula kenapa harus membangunkanku sepagi ini sih?
Dahinya berkerut, dengan cepat ia mengangkat wajahku. "Lho, kenapa menangis? Mimpi buruk lagi?"
Eh? Apa? Aku menyentuh ekor mataku.
... Basah.
Tapi... Kenapa?
Ah iya, aku ingat, aku bermimpi tentang dia lagi. Aku tidak ingat bagaimana wajah ataupun namanya. Anak laki laki berambut panjang itu...
...Siapa?
Sebuah tepukan di bahuku membuyarkan lamunanku.
"Hei, kenapa malah melamun?" Aku menggeleng pelan, dengan cepat ku hapus jejak air mataku.
"Hanya mimpi yang sama, entah kenapa dia sering muncul dalam mimpiku. Anak laki laki berambut panjang itu... Aku merasa tidak pernah mengenalnya. Aku juga bingung, kenapa aku sampai menangis seperti ini, padahal dalam mimpi itu dia tidak menyakitiku sama sekali, sangat aneh."
Jelasku panjang lebar. Sedangkan gadis yang menjadi lawan bicaraku ini malah hanya menundukkan kepalanya, aku tidak bisa melihat ekspresi apa yang terbentuk di wajahnya karena tertutup rambut. Sedikit memiringkan kepala, aku mencoba untuk menatap wajahnya.
"Apa kau mendengarkanku?" Ia sedikit terkejut. Wajahnya terlihat murung.
"Tentu saja, tidak usah dipikirkan, mimpi hanyalah bunga tidur bukan? Sekarang cepat mandi, aku akan menunggu di meja makan." Aku hanya mengangguk pelan.
Tapi tetap saja aku terus memikirkannya, anak itu membuatku sangat penasaran! Andai saja aku bisa melihatnya dengan jelas, salahkan mimpinya yang hanya menampakkan siluet hitam dan putih!
"Ini sudah jam 8 pagi loh!"
"Apaa?!"
Dengan cepat aku bergegas turun dari ranjang dan menyambar handuk yang tergantung disebelah pintu kamar mandi.
"Bercanda."
Ucapnya di ikuti dengan kekehan pelan. Seketika aku menghentikan langkahku, kemudian berbalik ke arahnya dengan kesal.
"Wajahmu lucu kalau pucat begitu, hahahaha!"
Gadis ini... Aku sudah siap untuk melempar apa saja yang ada di dekatku ke wajahnya, tapi dengan cepat dia keluar dari kamarku dan menutup pintunya. Saat pintu belum benar benar tertutup, aku melihat tangannya mengepal, dia kenapa sih? Sikapnya itu sangat aneh.
"Dasar..."
Namaku Hatsune Miku, ini adalah hari pertamaku bersekolah di SMA Voca. Aku pindah ke kota ini bersama kakak sekitar 2 tahun yang lalu, saat itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP.
Semenjak kepindahanku ke sekolah baru, aku menjadi sangat tertutup. Tanpa kusadari aku telah membuat dinding pembatas antara aku dan teman-teman sekelasku.
"Sepertinya aku sudah terbisa dengan ini." Gumamku lirih.
Aku menghela napas, kemudian bersenandung sembari mengikat rambut panjangku menjadi kuncir dua. Kurasa memang sedikit kekanak-kanakan, mungkin banyak. Itu karena dulu ada seorang anak yang mengatakan kalau aku terlihat manis saat mengikat rambutku seperti ini, dan sejak saat itu setiap hari aku melakukannya dan menjadi kebiasaan sampai sekarang. Alasan yang sangat bodoh, memang.
Segera ku kencangkan ikatan tambutku lalu berdiri mengambil tas yang berada di atas meja belajar. Aku melihat ke luar jendela kamarku sejenak, sekedar untuk menghirup udara sejuk khas pagi hari, melihat beberapa burung bertengger di atas kabel-kabel listrik yang terhubung di sepanjang jalan. Dengan segera aku turun ke ruang makan untuk sarapan
"Selamat pagi, Luka-nee!" Ucapku dengan riang.
Luka-nee tersenyum lembut. "Selamat pagi, Miku-chan."
Dari jauh aku mencium aroma makanan favoritku, aku sedikit berlari untuk memastikannya.
"Wahh... terlihat enak!" Aku menggeser kursi dan duduk tepat di hadapan Luka-nee.
"Selamat makan." Ucap kami bersamaan.
Oh iya, gadis bersurai merah jambu yang ada di hadapanku ini adalah kakak ku, Megurine Luka. Dia seorang mahasiswi Universitas Crypton. Tentang perbedaan nama marga kami... sebenarnya, kami bukanlah saudara kandung, ibu kami bersaudara. Jadi lebih tepatnya, kami adalah saudara sepupu, tapi kami sudah terbiasa bersama dari kecil, saling melindungi satu sama lain, seperti saudara kandung. Bagiku, ia adalah sosok kakak yang sangat baik.
"Ah, iya." Luka-nee berdehem. "Bertemanlah dengan baik ya, memiliki satu atau dua teman tidak masalah kan?" Ia berkata dengan agak canggung.
Aku menghela napas. Sebuah topik yang benar-benar tidak ingin ku bicarakan saat ini terlontar dari mulut kakak ku.
"Jangan terlalu menghawatirkan hal yang tidak perlu Nee-chan, aku baik-baik saja." Jawabku dengan malas.
"Baiklah, tapi coba pertimbangkan lagi ya? Apa aku perlu mengantarmu?" Ujar Luka-nee.
Aku menatap tajam ke arahnya. "Kurasa tidak perlu, aku bukan anak kecil lagi tahu!"
"Ehh?! Tapi Miku-chan kan adik kecilku!"
Dengan tiba-tiba Luka-nee mengubah nada bicaranya lalu terkekeh pelan. Kelihatan sekali kalau ingin mengubah suana yang canggung ini.
"Hump! Aku berangkat!"
Aku setengah berlari menuju ke pintu. Dasar... Pagi pagi sudah menggodaku. Masih duduk di kursi makan, Luka-nee sedikit memiringkan badannya untuk melihatku.
"Tunggu dulu! Aku akan mengantarmu! Kalau nanti tersesat bagaimana?!" Ia teriak sembari menahan tawa.
"Mou! Luka-nee!" Pekik ku, Lalu terdengar suara tawa renyah dari dalam ruang makan.
Aku berjalan ke arah papan pengumuman, mencari namaku pada beberapa lembar kertas yang tertempel disana, pembagian kelas dilakukan secara acak.
Salah satu yang aku suka dari sekolah ini adalah pembagian kelasnya, tidak ada kelas favorit, dengan begini para siswa akan diperlakukan secara adil. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya aku menemukan namaku.
"Ah, ini dia." Gumamku pelan. "Kelas 1B."
Aku mengamati denah sekolah dan segera menuju kelas.
Pintu kelas terbuka, sudah ada beberapa siswa yang datang, cukup banyak. Mataku seketika menatap tempat kosong di dekat jendela, tempat favoritku. Dengan santai aku mendekati meja itu, mataku menangkap sepasang mata berwarna azure sedang mengawasi pergerakanku. Dia duduk tepat di belakang meja yang sedang ku tuju, ia hanya diam saja dengan dahi berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu, yah... aku tidak begitu perduli. Aku segera duduk di kursiku.
Terdengar suara decitan kursi yang bergesekan dengan lantai, kemudian seseorang menepuk bahuku.
"Kau... Hatsune Miku kan?" Ucap gadis beriris azure tadi.
Sekarang aku melihat sepasang mata azure lain yang sedang memperhatikan kami.
"..." Aku hanya terdiam.
"Benar, tidak salah lagi. Kau Hatsune Miku kan?"
Ia mengulangi pertanyaannya lagi. Aku hanya melihatnya dengan tatapan bingung.
"Aku Kagamine Rin, kau ingat aku?" Aku mengernyitkan dahi.
"Kagamine Rin?" Ucapku datar.
"Iya! Aku teman sekelasmu saat masih SD! Padahal dulu kita sering main bersama lho, ingat?"
Aku berusaha mengingatnya, Kagamine ya? Gadis yang setiap hari... membawa jeruk ke sekolah... 'kan?
"Jeruk?" Senyumnya mengembang.
"Bingo! Aku kangen!" Ia menghambur ke pelukanku.
Untuk sesaat aku merasa mengingat sesuatu yang aneh, ingatan tentang suatu hal yang seharusnya tidak pernah ku lupakan. Aku berusaha sebisa mungkin mengingatnya, tapi tetap saja ingatan itu tak mau muncul sedikitpun. Tapi perasaan apa ini? Rasanya... Hampa sekali.
"Ngomong-omong apa apaan itu? Jeruk? Apa itu yang kau katakan saat bertemu kembali dengan teman lamamu ini?! Beberapa tahun nggak bertemu saja sudah menjadi es begini." Ia mengeratkan pelukannya, aku hanya tersenyum canggung.
Tiba tiba ia melepas pelukannya, kemudian berlari kecil ke meja disamping tempat duduknya.
"Len! Lihat! Sifat dinginmu itu menular pada Miku-chan."
Rin menarik tangan pemuda bersurai honey blonde panjang itu. Rambutnya di ikat ponytile kecil. Ah iya, Rin punya kembaran kan? dia juga yang tadi memperhatikan kami.
"Jangan menggangguku, Rin." Ucapnya datar.
"Oh, ayolah Len!" Len hanya memalingkan muka. "Hmp! Dasar!"
Bel masuk berbunyi, Rin berpaling ke arahku.
"Miku-chan, nanti saat istirahat kita makan bersama ya?! Aku masih ingin mengobrol banyak denganmu. Len, kau juga ikut!"
"Aku-" Ucapku dan Len bersamaan.
"Tidak menerima penolakan." Dengan cepat Rin memotong perkataanku, ia mengarahkan masing-masing jari telunjuknya ke arahku dan Len.
"Ngomong-ngomong, kalian kompak sekali." Ucap Rin dengan nada menggoda.
Mataku dan mata Len sempat bertemu, kemudian saling membuang muka.
"Tuh kan, kompak sekali." Imbuhnya.
"Rin!" Pekikku dan Len besamaan lagi.
Rin tertawa kecil. Tiba-tiba aku teringat perkataan Luka-nee, sepertinya aku memang harus sedikit membuka diriku, tidak apa kan kalau memiliki satu atau dua teman? terlebih lagi dia adalah teman masa kecilku. aku tersenyum kecil sembari melihat keluar jendela.
Terdengar suara langkah kaki, entah kenapa suasana di kelas menjadi sedikit ramai, beberapa siswa terdengar saling berbisik.
'Kyaa... dia sangat tampan!'
'Dia wali kelas kita?'
'Kalau begini, aku tidak akan pernah bolos kelas!'
Aku tidak terlalu memperdulikannya dan lebih memilih sibuk dengan pikiranku sendiri. Sampai Kemudian seseorang berseru dengan semangat.
"Selamat pagi anak anak!"
Suara itu...
Seketika aku menoleh, bola mataku melebar melihat siapa yang sedang berdiri didepan kelas.
Dia kan...
To be Continued...
Hai.. Aku penulis baru disini
ini adalah fanfic pertamaku, jadi kalau ada kesalahan mohon reviewnya~
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
