Five Minute is So Fatal
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, kepanjangan buat prolog, chapter, DazAtsu mendominasi di chapter 1, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta diikutkan pada event "time travel" untuk event bulanan di grup ffn addict.
"Aku menggunakan corruption karena percaya padamu."
Kalimat itu berhenti menghangatkan dada, semenjak eksistensinya ditangisi air mata yang tidak lagi tahu, kapan waktu terbaik untuk berhenti.
Dazai Osamu bertekuk lutut di hadapan ketakutan terbesarnya–adalah hari di mana Nakahara Chuuya meregang nyawa, karena keterlambatan Dazai menetralisasi corruption. Lima menit lalu, Dazai boleh saja dibuat bersinar oleh kepercayaan dirinya yang meyakini; ia kembali berhasil. Lima menit setelahnya dalam waktu sesingkat itu pula, Dazai justru dihancurkan berkeping-keping–dirinya tak mendapati apa pun, selain perpisahan dalam bisu.
TAP ... TAP ... TAP ...
Genggaman Dazai di pergelangan tangan Chuuya kian erat, kala telinganya menangkap suara langkah kaki. Jika pemuda atau pemudi itu adalah musuh, maka Dazai rela dibunuh demi menyusul Chuuya ke dunia lain. Andaikata hanya rekannya ... bisakah mereka berhenti mengucapkan omong kosong?
"Bunuh saja aku." Langkah tersebut terhenti usai diminta demikian. Rasa lelah menjadikan Dazai malas, untuk sekadar menengok dan memastikan siapa sosok di belakang punggungnya.
"Ini Atsushi, Dazai-san."
"Mau apa kamu kemari?"
"Tentu saja mengajakmu pulang. Kita harus kembali ke agensi." Tanpa memahami situasi Dazai si penjemput mengulurkan tangan. Namun, langsung ditepis sembari Dazai memperlihatkan wajah muak kepada Atsushi.
"Agensi apanya? Berhenti bercanda, Atsushi-kun."
"Tetapi rumah kita memang agensi."
"BANGUNAN YANG HANCUR LEBUR SEPERTI ITU BUKAN LAGI AGENSI!" Mereka kehilangan segalanya semenjak kehadiran 'buku'. Dunia terus mengulang tragedi demi merebut hal yang berharga dari orang-orang, tanpa pernah merasa puas sampai semua tinggal ketiadaan.
"Lalu kita mau ke mana? Yosano-sensei dan Saichou menunggu di sana."
"Pergi saja duluan. Aku ingin menemani Chuuya di sini."
"Nakahara-san bilang sesuatu padaku sebelum menggunakan corruption." Untuk yang satu itu Atsushi ingin meminta maaf. Harusnya ia lebih peka, karena Dazai dalam suasana berkabung.
"Apa katanya?"
"'Semua ini kulakukan demi Yokohama'. Begitu kata Nakahara-san." Ini adalah omong kosong yang Dazai maksud. Kenapa mereka selalu membahasnya, walau kota ini tidak melindungi siapa pun selain membiarkan warga-warganya terkapar?
Apa Yokohama adalah bangunan runtuh sejauh mata memandang? Mayat-mayat bergelimpangan di segala sudut? Ataukah teror yang menguasai seisi kota? Tidak ada Yokohama yang Chuuya cintai di sini. Semua telah mati entah itu senja di atap apartemen, keramaian pusat perbelanjaan, bahkan biru laut yang menjadi cinta pertama bagi para warga–kepala mereka hanya dipenuhi gundah, kesah dan resah tanpa memikirkan nyawa sendiri.
Chuuya mau melindungi apa dari kota yang tumbang ini? Kematiannya bukanlah wujud cinta terhadap Yokohama, melainkan kesia-siaan karena di akhir ia tidak mengubah apa pun.
"Yokohama apanya coba? Ini bukan kota yang kita kenal lagi ..." balas Dazai menggeleng. Tatapannya sudah mati rasa, membuat ia tak memikirkan apa pun mengenai keruntuhan di sekitar.
"Hancur sekalipun tempat ini tetap Yokohama, Dazai-san."
"Bagiku tidak, Atsushi-kun. Yokohama bukan lagi Yokohama, semenjak semua hal direbut dariku bahkan Chuuya. Bagaimana jika setelah ini adalah kamu, Yosano-sensei atau Saichou?"
"Soal itu–" GREP! Sisa tenaganya Dazai gunakan untuk mencengkeram bahu Atsushi. Pandangan mereka bertemu dengan cara yang tidak menyenangkan, dan Atsushi risau sehingga memalingkan wajah.
"Hey ... kita kabur saja dari sini, yuk."
"Ka-kabur? Dazai-san ini bicara apa? Yokohama membutuhkan kita. Masa pergi begitu saja?"
"Habisnya melindungi kota yang sudah hancur tidak berpengaruh apa pun. Memang Atsushi-kun tidak ingin hidup dengan damai? Kita bisa melakukannya kalau kabur."
"Kemudian Dazai-san mau menyia-nyiakan perjuangan teman-teman? Aku tidak mungkin membiarkannya. Nakahara-san akan kecewa juga, bukan?"
"Bukan hanya Yokohama yang ada di dunia ini. Kalau Atsushi-kun tidak mau, aku akan membawa Chuuya saja dan–"
BUMMM!
Ledakan besar terjadi di sekitar mereka. Reruntuhan gedung tinggal serpihan-serpihan kecil di atas tanah. Sebuah lubang bahkan tercipta, dan tampak menganga lebar sewaktu Dazai melihat dari kejauhan. Pemandangan tersebut perlahan lenyap, karena Atsushi menambah kecepatan lari. Air mata melindungi Dazai dengan membuat pandangannya mengabur. Tangisan itu amat pilu karena sangat diam–sudah kehilangan suara akibat terlalu terbiasa terluka.
"Chuuya ... Atsushi-kun ... kamu belum ... membawanya." Tangan kiri Dazai menggapai-gapai udara. Bagian kanannya buntung gara-gara ledakan bom, dan tertinggal bersama mayat Chuuya yang gosong.
"Setelah ini aku berjanji akan menguburnya. Dazai-san pulang, ya, ke agensi? Nanti kita ke rumah sakit."
Siapa yang membutuhkan rumah sakit? Meski anak-anak memiliki selotip, susternya pintar merangkai kata-kata mesra, dan dokter pandai merajut harapan dari omong kosong–semua itu tidaklah cukup untuk menutup lubang di hati Dazai.
(Hal yang bisa menutupnya adalah kematian itu sendiri)
Seminggu berlalu sejak kepergian Chuuya. Jumlah pertempuran meningkat drastis, begitupun kematian warga yang mayatnya dibakar besar-besaran–mengadakan pemakaman, menangisi tanah merah, dan berdoa kepada Maha Esa terlalu memberatkan mereka yang hari-harinya dihantui teror. Melahap air mata dari waktu ke waktu lebih dari cukup untuk mengenyangkan perut, serta membunuh hasrat berduka.
Kini bukan hanya kota yang mati, melainkan pula para warga karena mengembalikan harapan kepada mereka adalah kemustahilan.
TOK ... TOK ... TOK ...
Suara ketukan yang ragu-ragu diciptakan oleh seorang pengunjung. Pintu kamar 404 hanya dipandangi mata nilanya, tanpa keberanian untuk membesuk sang pasien.
"Dazai ... san ...? Aku masuk, ya."
Hening merespons ucapan tersebut. Si pembesuk yang merupakan anggota agensi, yakni Nakajima Atsushi meletakkan bunga liar ke dalam vas. Tatapannya memperhatikan Dazai dari ujung kepala hingga kaki -memastikan pemuda jangkung itu baik-baik saja. Ia mempertahankan posisi sebagai pengamat lima menit lamanya. Tak kunjung menarik kursi untuk diduduki, bahkan menyembunyikan kantong kresek berisi kotak nasi di belakang punggung.
"Dazai-san ... aku ..."
"Hn?" gumam Dazai yang masih sibuk menontoni jendela. Mungkin dengan menyaksikan putih awan, hatinya ikut cerah dan warna biru langit terlukis di matanya yang separuh hidup separuh mati.
"Maaf ... aku ... minta maaf." Perlahan-lahan kepala Dazai menengok pada Atsushi. Mata cokelat Dazai tampak pucat–memudar seolah-olah ia hidup dalam kematian, sementara jiwanya kosong melompong.
"Kemarin setelah mengantarmu ke rumah sakit. Aku langsung pergi mencari Nakahara-san. Namun, tidak ada di sekitar puing yang waktu itu meledak. Te-tentu saja aku juga berkeliling, tetapi sangat sulit karena ada banyak mayat."
"Oh."
"Apa Dazai-san marah?"
Menemukan jawabannya bukanlah keinginan Atsushi. Terserah Dazai untuk marah atau dendam, karena bocah harimau itu bersikeras melarikan diri. Kebaikan Atsushi yang selalu keterlaluan menjadikan dia memaklumi apa pun keputusan Dazai. Namun, Chuuya bukan tipikal seperti Atsushi. Jika ia tahu si idiot perban bertengkar dengan juniornya karena mayatnya, Chuuya pasti marah bahkan menjitak Dazai. Mungkin sangat kecewa, atau sedih bukan main.
Hidup Atsushi seharusnya lebih berharga, dibandingkan seseorang yang telah mati. Jika orang sebaik itu hadir di sekitar Dazai, ia tetap bisa menemukan kebahagiaan di dunia yang gersang oleh penderitaan ini, bukan?
"Ada yang mengganggumu?"
"..." Percakapan mereka belum bahkan mustahil bergerak. Atsushi harus memikirkan sesuatu agar Dazai tertarik membuka mulut.
"Apa soal Saichou dan Yosano-sensei?"
"Yosano-sensei sudah mati. Saichou kritis." Selama seminggu itu pula, Dazai dan Atsushi kehilangan seorang rekannya. Entah ketua agensi mereka–Fukuzawa Yukichi akan menyusul atau bertahan. Akan tetapi, memilih bernapas pun tidaklah berguna, bukan?
"Saichou pasti sembuh! Kita hanya perlu percaya padanya."
"Buat apa? Aku bahkan tidak memercayai diriku sendiri." Mustahil setelah Dazai gagal menyelamatkan Chuuya. Ini salahnya yang terlalu meremehkan waktu, sehingga lima menit dinilai sebelah mata.
"Aku yakin Nakahara-san tidak menyalahkan Dazai-san. Semua yang Nakahara-san lakukan telah dipikirkan matang-matang, dan ini demi Yokohama."
Sebenarnya bagaimana cara mereka mengenali puing-puing ini sebagai Yokohama? Dazai hilang gambaran akan kota itu. Semua hanya berwarna merah di kepalanya, karena Dazai terus menyaksikan kematian tanpa jeda.
"Jika aku datang lima menit lebih cepat Chuuya pasti masih hidup."
"Dazai-san juga manusia. Jangan memaksakan dirimu seperti itu."
"Siapa peduli aku manusia atau bukan? Chuuya selalu memercayaiku meski berkata ingin membunuhku. Tetapi, aku mengkhianatinya dua kali." Yang pertama adalah Dazai meninggalkan Port Mafia. Kali kedua tentu saja, saat ia gagal menyelamatkan Chuuya dari corruption.
"Baik Dazai-san maupun Nakahara-san sudah tahu, bukan, jika suatu saat Dazai-san bisa saja tidak tepat waktu?"
"TETAPI KENAPA HARUS SEKARANG?! CHUUYA SUSAH PAYAH BERTARUNG DEMI MELINDUNGI YOKOHAMA. NAMUN, KOTA INI TIDAK MELAKUKAN APA PUN! YOKOHAMA JUSTRU MEMBIARKAN CHUUYA MATI!"
"Tenangkan dirimu, Dazai–", "KOTA INI MEREBUT CHUUYA DARIKU! AKU JUGA GAGAL MELINDUNGINYA, MESKIPUN TAHU YOKOHAMA TAK DAPAT DIANDALKAN!" PLAKKK! Tanpa disengaja tangan Dazai menampar pipi Atsushi. Kantong kresek yang disembunyikan di belakang punggungnya terjatuh, akibat Atsushi terlalu kaget.
"APA SALAH JIKA AKU BILANG DIRIKU MEMBENCI YOKOHAMA?! KALAU AKU BERKATA ... semua ini sangat melelahkan ... meskipun aku ... penegak ... kebenaran?"
"Tidak apa-apa, Dazai-san. Lampiaskan saja semuanya."
Dibandingkan melanjutkan kenaifannya Atsushi memeluk Dazai. Kening sang senior dibenamkan pada dadanya, agar sehari itu saja Dazai terbebaskan dengan menjadi lemah. Atsushi selalu menyadari luka itu telah menumpuk, bahkan menebal dari jauh-jauh waktu. Rengkuhan ini bahkan tak menyentuh permukaan luka Dazai–hanya mengikis udara di sekitar Dazai yang tidak berarti apa pun, selain angin segar menumpang lewat.
(Namun, Atsushi ingin menemukan kebahagiaannya bersama Dazai. Sejak awal, ia selalu menyayangi sang senior meski–)
JLEB!
Meski Dazai kerap kali menyebalkan bahkan egois. Begitulah yang Atsushi pikirkan, dan itu terbukti benar.
"Dazai ... san ...?" UHUK! Mulutnya memuntahkan darah segar. Pandangan Atsushi berkunang-kunang. Ia nyaris ambruk jika Dazai melepas pelukan.
"Jika itu kamu pasti pergi ke surga, Atsushi-kun." Pisau buah yang sejak awal Dazai sembunyikan kini diperlihatkan. Ujungnya menembus perut Atsushi, membuat darah merembes dari sana.
"Apa yang Dazai-san ... lakukan ...?"
"Maaf. Aku harus melakukannya. Atsushi-kun pasti akan mengganggu." Selain pisau buah Dazai pun menyiapkan tali tambang. Namun, satu kali tusukan belumlah cukup sehingga Dazai melakukannya berkali-kali.
"Jangan meminta harimaumu untuk regenerasi, paham?" Dengan cepat lengan Atsushi disuntik. Obat bius itu Dazai minta dari seorang suster yang ia cuci otaknya–metode sejenis ini lumrah di mafia, dan untuk kali pertama Dazai berterima kasih pada Mori Ougai yang telah mengajarinya.
Susah payah Dazai mengikat tubuh dan tangan Atsushi, lantas menguncinya di kamar mandi. Teriakan tertahan memenuhi seisi kamar. Mati-matian pula Atsushi memukul pintu menggunakan kakinya, sementara Dazai menggantungkan tali di langit-langit kamar. Ia siap gantung diri, mumpung suster telah melakukan pengecekan.
"Tunggu aku, Chuuya. Kamu pasti di neraka, bukan?"
Orang yang bunuh diri pasti ke neraka, bukan? Dazai telah merelakan dirinya kepada maut, sekaligus melepaskan senyum terlebar yang membuang segala penyesalan.
Lorong panjang dan gelap adalah pemandangan yang pertama kali menyambut Dazai. Suara langkahnya tak bergema, walau di sini amat sepi. Selain menengok ke kiri atau kanan pula, Dazai mengubah arah jalannya menjadi berbelok. Namun, ia kembali lurus seolah-olah menegaskan; hanya terdapat satu jalur untuk selamat dari semua ini.
Ya. Dazai tidak peduli selama diizinkan menebus penyesalannya. Asalkan ujung lorong ini mempertemukan dia dengan Chuuya, berjalan sejauh apa pun bukan masalah.
"Tetapi lorong ini memang panjang banget, ya. Bagaimana kalau–"
DEG!
Pemikiran itu terputus karena dua hal. Pertama: Dazai justru mendengar debaran jantungnya sendiri, dan itu sangat keras hingga memekakkan telinga. Kedua; ia menemukan pintu kayu polos yang terdapat gantungan bertuliskan 'welcome'. Dazai tidak terlalu memikirkannya, sehingga pemuda jangkung itu melanjutkan perjalanan. Namun, Dazai malah kembali ke pintu tersebut, meski ia mencoba berlari sampai memejamkan mata.
"Mau bagaimana lagi~ Aku kehabisan pilihan."
TOK ... TOK ... TOK ...
Dengan santai Dazai mengetuk pintu, dan terbuka begitu saja tanpa seorang pun memutar kenop. Pandangannya disambut oleh rak buku yang membentang dari ujung ke ujung. Perpustakaan raksasa itu juga memiliki air mancur kecil di tengah ruangan. Cahaya tampak beterbangan dalam wujud peri, menjadikan tempat tersebut amat terang karena lampu turut menyala.
Namun, tangga di belakang air mancur paling menarik perhatian Dazai. Usai mengecek setiap rak buku pula, ia memutuskan naik karena tidak menemukan pintu rahasia.
"Sudah puas menggeledahnya, Tuan Dazai Osamu?" Sebelum tamu bersangkutan tiba di ujung tangga, penunggu perpustakaan lebih dulu menginterupsi langkahnya. Dazai segera naik, dan menghampiri meja bundar tempat seseorang duduk.
"Menyambut tamu harus dengan menatap wajahnya, dong~ Masa membelakangi?" Sekarang ini Dazai sebatas melihat punggungnya. Orang itu menggunakan gaun putih tanpa lengan, serta memiliki suara yang entah bagaimana familier dengan kenalan Dazai.
"Sebelumnya berjanjilah kamu tidak akan kaget."
"Maksudmu kaget akan kecantikanmu atau apa?"
"Ini melebihi kecantikan seorang wanita, Tuan Dazai Osamu."
Sewaktu mereka bertatapan, pandangan Dazai terbelalak dengan alasan tak terduga; wajah orang itu seratus persen menyerupai Nakahara Chuuya, begitupun suara yang didengarnya. Entah terjadi apa di sini. Atmosfer di sekitar mendadak berat membuat Dazai menggigil.
"Chuu ... ya ...?"
"Jangan salah paham dulu, Tuan Dazai Osamu. Aku hanya meminjam wujudnya, kok."
"Mau apa kau?" Sembarang meminjam wujud Chuuya. Orang itu mustahil melakukannya karena bosan, kurang pekerjaan atau sekadar iseng. Dazai tahu dari mata biru yang tidak menyiratkan rasa geli, melainkan terus menekannya dengan keseriusan.
"Hahaha ... ya ampun. Pelan-pelan saja, Tuan Dazai Osamu. Pertama-tama, silakan duduk terlebih dahulu." Hanya dengan memetik jari sebuah kursi tahu-tahu muncul. Dazai mengeceknya terlebih dahulu untuk berjaga-jaga, apabila orang itu memasang jebakan aneh.
"Karena Tuan Dazai Osamu sangat curiga padaku. Kamu kuizinkan bertanya apa pun, sebelum aku menjelaskan."
"Pertama-tama berhenti memanggilku 'Tuan Dazai Osamu', itu terlalu panjang. Pertanyaanku ada dua, yaitu, 'siapa kau?' dan 'kenapa aku bisa tiba di perpustakaan ini?'"
"Singkat saja, aku adalah seorang dewa. Tuan Dazai Osamu bisa tiba di sini, karena diriku memutuskan untuk memberimu kesempatan besar."
"Kesempatan besar?" Pembicaraan telah masuk pada inti. Memusingkan nama panggilan meski Dazai dibuat risi tidaklah penting, karena dia sadar dewa yang satu ini keras kepala.
"Aku sudah mengetahui riwayat hidupmu. Secara singkatnya, Tuan Dazai Osamu kehilangan Nakahara Chuuya seminggu lalu, karena kamu terlambat menetralkan kemampuannya. Setelah itu kamu memutuskan gantung diri sebagai bentuk penebusanmu."
"Ya. Kira-kira begitulah."
"Penebusanmu tidak seratus persen tulus, Tuan Dazai Osamu."
Dewa sinting itu mendekatkan wajahnya pada Dazai. Seringai ala Chuuya, dan ketawa gila macam sang eksekutif mafia menggunakan corruption memenuhi pendengarannya dengan rasa muak. Dazai akan muntah, jika si dewa sinting tidak menghentikannya lantas berdeham, guna meluruskan percakapan.
"Meski kau sangat ingin mati, aku tahu sekali ada sebuah keinginan tersirat di dalam dirimu. Kemauan yang sangat kuat, dibandingkan menyusul Nakahara Chuuya ke neraka."
"Lanjutkan."
"Tuan Dazai Osamu sangat ingin memutar waktu, untuk kembali pada lima menit yang lalu sebelum Nakahara Chuuya meninggal. Kehadiranku di sini adalah demi mewujudkan keinginanmu itu."
"Sayang sekali kau salah~ Aku tidak ingin kembali pada lima menit yang lalu, jika kesempatan seperti itu benar-benar ada."
"Mana mungkin dewa sepertiku gagal menebak manusia."
"Jika kesempatan seperti itu benar-benar ada, aku ingin melompati dibandingkan memutar waktu. Kau tahu? Misalnya seperti mencari sebuah garis dunia, di mana aku dan Chuuya hidup."
"Jadi Tuan Dazai Osamu ingin melompati waktu yang berbeda-beda, sampai kamu menemukan dunia di mana kalian berdua hidup?"
"Begitulah~ Bahkan jika aku bisa menyelamatkan Chuuya dengan tiba lima menit lebih cepat, dia bisa saja mati karena hal lain. Mungkin kalau melompati waktu, aku akan menemukan sebuah dunia yang bebas dari Port Mafia dan Agensi Detektif Bersenjata."
"Menarik sekali. Aku terima permintaanmu itu."
Suara petikan jari kembali terdengar. Kertas kontrak, pena bulu angsa, dan sekotak tinta hitam menggantikan buku-buku di atas meja. Isi perjanjiannya hanya tiga poin–dirangkum dengan singkat, padat, juga jelas, walau terdapat nilai minus di tulisan.
"Silakan tanda tangan di sini," ucap sang dewa menunjuk kolom yang dimaksud. Dazai tidak langsung melakukannya, karena ia curiga pada suatu hal.
"Aku hanya bisa melompati waktu sebanyak tiga kali. Kondisinya adalah apabila Chuuya meninggal dalam dunia yang kusinggahi. Penempatannya dilakukan secara acak, sehingga aku tidak tahu apakah langsung ketemu atau harus mengulang sampai kesempatanku habis."
"Namanya juga taruhan."
"Bagaimana jika aku tidak menemukan garis dunia di mana kami hidup bersama, setelah menggunakan tiga kesempatan?"
"Itu urusan belakangan, Tuan Dazai Osamu. Sekarang tanda tangan kontraknya, dan nikmati lompatan waktumu yang pertama."
Kontrak ditandatangani cepat. Semua mendadak putih, dan hal terakhir yang Dazai lihat adalah; seringai sang dewa seperti monster yang menari-nari di atas penderitaan korbannya.
Petualangan ini jelas tidak akan mudah.
Bersambung ...
A/N: Kalian ga salah baca kok, ini emang bersambung hehehe. aku bakal bikin ini jadi chapter dan ya, doakan bisa update seminggu sekali. buat yang nyari hint soukoku, tenang di next chapter bakalan bejibun. aku butuh DazAtsu buat prolog aja kok~ oke thx buat yang udah baca, fav, follow, review, aku menghargai apapun yang kalian berikan padaku meski cuma numpang lewat, ahay. see you in next chapter! dan buat yang mau gabung grup ffn addict, bisa kirim no wa lewat PM.
