Time Tunnel
Naruto by Masashi Kishimoto.
Melarikan diri dari Danzo, Shisui terluka dan tak sadarkan diri di sebuah gua. Namun saat sadar, seluruh klannya telah tewas dibantai Itachi, yang sedang diburu Sasuke untuk membalaskan dendam.
Dengan kebenaran yang diketahuinya, mampukah Shisui menyelamatkan klannya, sekaligus melindungi desa?
1. Escape
Lelaki berambut ikal itu mengedarkan padangannya dari atas pohon tempat ia berdiri.
Anak-anak dengan lambang uchiwa di punggung sedang bermain riang di sudut jalan. Seorang wanita muda sedang menggamit tangan anaknya. Beberapa kerabatnya mengobrol sambil tertawa.
Menyaksikan pemandangan sore itu membuatnya tersenyum tipis. Lalu ia memejamkan matanya sejenak.
"Itachi mungkin akan marah begitu tahu aku tidak melibatkannya. Tapi ini akan menjaga Itachi, Sasuke, dan orangtuanya sebagai sebuah keluarga. Itulah yang terpenting. Jadi, aku akan melakukan apapun untuk itu…"
Ia membuka kelopak matanya. Iris hitamnya tergantikan oleh warna merah, menyala dengan tiga tomoe yang berputar.
"Aku tidak akan menyesalinya. Ini keputusanku, apapun yang akan terjadi, aku siap. Aku akan menggunakan sharinganku untuk menghentikan kudeta…"
Lelaki berambut ikal itu mengambil ancang-ancang. Namun tiba-tiba, beberapa kunai menyerbu ke arahnya. Secara reflek, ia menghindar dengan melakukan shunshin. Kunai-kunai itu menancap di batang pohon.
Ia mendarat di batang pohon lain. Ia tahu serangan dadakan ini tidak akan berhenti begitu saja begitu mendengar suara gemerisik di balik pohon. Dengan sigap ia berbalik ke belakang, mengambil kunai, dan menangkis kunai sang penyerang.
Sesaat ia mengamati penyerangnya. Berjubah hitam, bertopeng dengan corak.
"ANBU?"
Sang penyerang melompat ke belakang begitu seorang berjubah hitam lain maju ke arahnya. Ia sadar kali ini ia tidak hanya diserang satu orang, melainkan beberapa ANBU sekaligus.
Lelaki berambut ikal itu mengelak, lalu melompat ke udara. Penyerang kedua mengikutinya, menodongkan kunai. Kunai mereka beradu sesaat, sebelum penyerang kedua menyingkir. Kemudian muncul penyerang ketiga dari bawah, kali ini ia berjubah putih.
Sang penyerang tak membiarkannya mendarat, adu kunai kembali terjadi. Kunai berdenting, gesekannya sedikit menimbulkan percikan api. Lelaki berambut ikal itu berhasil menepis serangan, lalu mendarat di batang pohon. Penyerang ketiga mundur.
"Apa-apan ini?"
Lelaki berambut ikal itu adalah mantan ANBU. Ia tahu, ANBU yang bekerja di bawah perintah hokage tidak akan menyerang dirinya tanpa alasan. Terlebih, di tengah-tengah rencananya seperti ini, ia mempunyai dugaan….
Dalam waktu yang singkat ia, mulai memahami pola serangan. Kali ini dari atas!
Kali ini yang berjubah hitam melemparkan kunai ke arahnya. Ia segera melakukan shunshin, menghindari kunai tersebut. Cepat atau lambat, ia tidak akan diuntungkan dengan lokasi bertarung di tengah hutan seperti ini. Terlebih, satu lawan lima. Lelaki berambut ikal itu tahu, kawanan berjubah itu pasti mengincar dirinya. Jadi, menarik mereka ke tempat yang lebih luas tentu akan membuatnya lebih mengenali penyerangnya.
Ia bergegas melompati pepohonan, menuju padang rumput di samping hutan. Benar saja, kawanan berjubah itu mengejar dirinya. Begitu mendarat, mereka membuka tudung jubah, memperlihatkan topeng yang menutupi wajah mereka.
"Ternyata benar, ini ulah Ne."
Ia memicingkan matanya. "Artinya orang dibalik ini adalah…."
"Cepatnya… Seperti yang diharapkan dari seorang Shunshin no Shisui."
Dari balik pepohonan, sosok itu melangkah keluar. Pria tetinggi desa yang selalu menyembunyikan mata dan tangan kanannya
"Danzo, apa maksud semua ini?" tanya Shisui geram. Kini, taka da lagi embel-embel hormat untuk pria di hadapannya.
"Kau tahu, Shisui. Aku tak bisa menyetujui rencanamu. Kupikir mengontrol Fugaku dengan kemampuan sharinganmu untuk menghentikan kudeta bukan ide yang bagus." Danzo memegang dagunya sembari menatap Shisui. "Sebagian besar anggota klan sudah condong pada kudeta. Menggulingkan pemimpinnya saat ini pun tetap akan sia-sia."
"Aku tidak akan mengetahui sebelum menco—"
"Aku telah melalui dua perang besar, dan harus kukatakan padamu, rencanamu akan gagal," Danzo membungkam perkataan Shisui. "Bahkan bila kau berhasil mengontrol Fugaku, membuatnya mengajukan penghentian aksi pada anggota klan, hingga menarik rencana kudeta, tidak aka nada yang berubah. Pihak radikal klan akan berpikir Fugaku berubah pikiran karena ia tidak muda lagi. Mereka akan mengambil pemimpin baru dan mengadakan kudeta lagi. Dengar, Shisui." Tetinggi desa itu menatap tajam Shisui yang terperangah, "Pemimpin selalu bisa berganti."
"Jangan mengatakannya seolah semua sudah terjadi!" seru Shisui. Auranya yang selalu tenang kini dipenuhi emosi.
"Mangekyo sharingan milikmu. Aku dapat menggunakannya lebih baik daripada dirimu." Danzo melambaikan tangan, memberikan isyarat pada anak buahnya. Para ANBU Ne kembali menyerang, melemparkan beberapa kunai dan shuriken.
Shisui menangkis beberapa serangan dengan sigap lalu mencoba melompat untuk mengindar. Namun ia tersadar, sesaat kemudian ia tak dapat menggerakkan kakinya.
"A-apa?" Shisui terperangah.
"Serangga adalah makhluk yang menarik," ujar Danzo sembari melangkah maju. "Ketika manusia digigit oleh serangga seperti nyamuk, rasa sakit yang ditimbulkan nyaris tidak terasa. Bahkan rasa gatal akan hilang begitu saja."
Ia semakin mendekati Shisui. "Namun racun dari laba-laba atau kalajengking, dapat membunuh jewan buas dengan mudah."
"Danzo! Apa yang kau lakukan?!" teriak Shisui, menuntut penjelasan.
Tanpa menjawab, Danzo melangkah lagi. Semakin dekat, semakin dekat, "Jika ada seekor serangga yang dapat mengigit seperti nyamuk, namun memiliki racun seperti kalajengking dalam gigitannya, tentu pasti akan jauh lebih menarik."
Shisui pun tersadar, ia telah masuk dalam perangkap Danzo.
"Berpikir. Tenanglah. Berpikir! Tena—"
Shisui menyadari ada salah satu ANBU Ne di belakangnya dengan topeng harimau. Dengan gemetar karena racun, Shisui menoleh ke arah ANBU tersebut. Ia menggertakkan giginya.
"Siapa panggilanmu saat ini?" tanya Danzo.
"Sugaru, Danzo-sama," ANBU bertopeng harimau itu menjawab. Ia menahan tubuh Shisui.
"Oh, benar." Danzo kini sudah berdiri di hadapan Shisui, menunjuk Sugaru dengan tongkatnya. "Dia adalah anggota klan Aburame. Shisui, tentu kau tak perlu penjelasan lebih lanjut, bukan?"
Shisui menggeram sambil menahan sakit. Ia menatap Danzo dengan tajam. Petinggi desa itu tersenyum culas.
"Tenang. Racun itu tidak akan membunuhmu langsung. Kau akan bertahan kira-kira hingga kedua matamu ada di tanganku." Sedikit lagi, Danzo tinggal mengangkat tangannya, dan dia akan menyentuh wajah Shisui. "Kau tahu Shisui. Ketika kedua bola matamu diambil saat kau masih hidup, mereka akan beradaptasi lebih cepat,"
"Danzo…. apa yang…."
"Kulakukan? Aku mengambil kedua matamu," jawab Danzo, seraya mengulurkan tangan kirinya ke wajah Shisui.
Begitu jari Danzo menyentuh wajah Isui, kedua matanya membulat seketika.
"ARGH!" Danzo berteriak kesakitan. Ia memegangi tubuh sebelah kanannya. Bagian yang selalu tertutup itu, kini tertancap kunai Sugaru. Darah mengalir dari luka tersebut.
"Danzo-sama!" Sugaru terkejut. Bagaimana bisa dia menancapkan kunai pada atasannya sendiri?
"Heh… Bahkan orang tua yang bertahan hidup dari dua perang besar…tidak bisa mengatasi trik sederhana seperti ini," Shisui terkekeh pelan. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia melempar bom asap. Seketika, kepulan asap menyeruak, menutupi padangan sekaligus menganggu penciuman.
Danzo meringis. Begitu kepulan asap menipis, Shisui sudah tidak ada di tempat. Anggota ANBU Ne segera mendekatinya.
"Danzo-sama!"
"Apa yang kau lakukan, Sugaru!"
Di balik topeng, wajah Sugaru memucat. Sugaru tidak sadar menyadari ia terkena genjutsu. Saat Shisui menoleh padanya, meski sedang gemetar karena racun, Shisui bisa menanamkan genjustu padanya.
"Maafkan aku! Maafkan aku! A..aku tidak menyadari dalam genjutsu!" Ia membungkuk dalam-dalam.
Sementara Danzo semakin murka. Ia mencabut kunai yang menancap di lengan kanannya. Dengan kasar, ia menarik jubah hitam, menunjukkan lengan kanan yang masih terbalut perban. Perlahan, darah yang menetes dari luka itu terhenti. Sel tubuh Hashirama memiliki kemampuan untuk regenerasi dengan cepat.
"Kau akan membayarnya." Danzo mendelikkan matanya pada Sugaru, "…dengan membawa Uchiha itu padaku! Cepat! Dia takkan bisa pergi jauh."
"Baik!" Kelima ANBU itu melesat pergi.
"Shisui Uchiha… Bahkan genjutsu biasa miliknya dapat menembus fuinjutsu ANBU. Aku harus mendapatkan matanya!"
Shisui terus berlari, melompati dahan demi dahan di hutan secepat yang ia bisa. Ia tidak bisa membiarkan Danzo mengambil matanya. Efek racun itu bekerja dengan hebat, meski ia masih dapat menahan rasa sakit yang ditimbulkan. Perlahan, pandangannya mulai kabur dan kecepatan larinya berkurang.
Sementara itu ANBU Ne semakin mendekat. Mereka melemparkan shuriken lagi. Shisui mencoba melompat untuk menghindarinya. Sekali, bidikan mereka meleset. Namun untuk serangan kedua, Shisui tak bisa menghindar. Ia terpaksa menangkis shuriken begitu salah satu ANBU melemparkan bom asap ke arahnya.
Shisui melakukan shunshin, namun saat mendarat, tubuhnya mulai limbung. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh ANBU Ne berjubah putih untuk melayangkan tendangan pada tubuhnya. Shisui tak sempat menghindar, tendangan itu telak melemparnya jatuh ke tanah.
Shisui meringis. Ia mencoba bangkit dengan napas yang makin tersengal-sengal. Peluh bercucuran di tubuhnya. Waktu yang ia miliki untuk bertahan semakin tipis. Kelima ANBU itu sudah mengelilinginya.
"Menyerahlah, Shisui Uchiha." Salah satu dari ANBU Ne berujar. Kemudian kelima ANBU Ne tersebut bersiap-siap melemparkan kunai dengan kertas bom.
Shisui makin tersengal-sengal, tubuhnya gemetaran karena racun. "Aku…."
"Arahkan pada kaki, jangan pada kepalanya." ANBU Ne berjubah putih itu berujar.
"Ya!" Kelima kunai itu melayang ke arah Shisui, namun lelaki itu belum kehilangan tekadnya.
"Masih ada hal yang harus kulakukan…!" Ketiga tomoe di mata Shisui berubah, menjadi kincir empat sudut berwarna hitam di atas iris merah menyala….
Dan, ledakan itu terjadi. Kepulan asap tebal menyeruak di tengah hutan. Para ANBU Ne Danzo melompat mundur. Mereka berpikir kunai mereka mengenai Shisui, meskipun dampak ledakan yang terjadi jauh lebih dahsyat daripada yang seharusnya. Tetapi mereka tidak punya waktu untuk memikirkan itu, ketika angin kencang bertiup dari arah ledakan yang perlahan membawa pergi asap.
Sebelum mereka dapat melihat apa yang terjadi, kumpulan pedang chakra berwajah hijau meluncur ke arah mereka. Empat ANBU Ne tak sempat menghindar, pedang chakra menghujam mereka tak sadarkan diri. Dua dari mereka berhasil mengindar, kunai di tangan, dan dalam kuda-kuda yang siap siaga.
Begitu asap sepenuhnya memudar, dengan jelas kedua ANBU Ne tersebut dapat melihat chakra raksasa berwarna hijau yang menyelimuti Shisui. Susano'o.
"A—apa itu?" Mereka berseru ketakutan. Ini pertama kalinya mereka berhadapan dengan raksasa seperti itu. Mereka menyadari kekuatan besar yang dimiliki Shisui Uchiha, ninja yang jauh lebih muda dari mereka. Tak heran Danzo sangat menginginkan matanya.
Di tangan kanan susano'o Shisui terbentuk sebuah pedang chakra hijau yang menghujam tanah. Tanah bergetar dan angin bertiup kencang. Kini ganti kaki kedua ANBU Ne itu yang goyah. Ketika pedang itu ditarik dan ditodongkan pada mereka, api menyembur. Kedua ANBU Ne terhempas jauh.
Susano'o Shisui memudar. Lelaki berambut ikal itu tersengal-sengal. Peluh membanjiri tubuhnya. Ia tak menyangka hingga harus menggunakan kekuatan yang selama ini ia sembunyikan. Dengan begini, kekuataan visualnya akan semakin diincar. Pilihan yang tersisa baginya tinggal melarikan diri atau menghilangkan jejak.
Waktunya tidak banyak. Cepat atau lambat, Danzo akan menyadari ia berhasil mengalahkan ANBU Ne dan akan mengirimkan pasukan untuk mengejarnya. Namun Shisui juga tidak bisa membiarkan klan Uchiha apalagi shinobi Konoha lain kalau Danzo telah menyerang dirinya. Kudeta Uchiha akan terkuak dan harga diri klannya akan jatuh. Dampak terburuk, perang sipil bisa timbul. Tentu ini tidak seperti apa yang ia dan Itachi rencanakan.
Shisui tidak bisa berpikir lebih lanjut tentang apa yang harus ia lakukan selain bersembunyi. Maka, Shisui mengandalkan sisa-sisa tenaga untuk menuju Sungai Naka, yang tak jauh dari hutan tersebut. Ada sebuah tempat di dekat Sungai Naka yang menjadi tempat di mana Shisui dan Itachi bermain saat masih kecil. Selain hutan kecil tempat mereka berlatih, ada sebuah gua di tebing sungai yang menjadi tempat rahasia Shisui. Belum lama ini ia menemukannya saat sedang sedang berlatih panjat tebing.
Dengan langkah tertatih-tatih, Shisui memasuki gua tersebut. Efek racun harus segera dinetralkan. Sambil menahan rasa sakit, tangan Shisui mencari-cari penawar racun yang ia simpan di celah gua untuk kondisi darurat. Ia menemukannya, sebuah tabung dengan cairan kuning.
Shisui tidak tahu apakah penawar ini cukup untuk menetralkan racun Sugaru. Tetapi prinsipnya adalah ia tidak akan tahu sebelum ia mencoba. Jadi Shisui memutuskan untuk berusaha terlebih dahulu.
Jemarinya yang gemetar membuka tutup tabung itu. Kedua kakinya sudah berlutut di lantai gua, tidak kuat berdiri lagi. Begitu jarum injeksi itu mulai mengalirkan penawar, perasaan lega sedikit menghampiri hatinya.
Namun sesaat kemudian, tubuh Shisui diserang rasa sakit yang makin menjadi-jadi. Ia panik. Reaksi tubuhnya tidak seperti yang ia duga.
"Apakah aku terlambat?"
Tubuhnya kejang-kejang. Napasnya makin tidak beraturan. Kepalanya diserang rasa sakit yang tak tertahankan, seperti ditekan oleh sesuatu yang tajam. Lalu pandangannya semakin menggelap….menggelap….menggelap, hingga akhirnya tubuh Shisui limbung dan menyentuh dasar gua.
"Itachi…maafkan…aku."
Kelopak mata lelaki itu perlahan menutup.
Shisui Uchiha tak sadarkan diri.
