Naruto © Masashi Kishimoto

Story © vonnie winny

Saya tidak memperoleh keuntungan apapun dalam menulis fanfiksi ini. Semua semata-mata hanya untuk kesenangan pribadi.

[AU, OoC, typo, multichapter!]

[SasukexSakura/NarutoxHinata/SaixIno]

Enjoy it!

.

.

.

.

.

Hinata menepuk pelan punggung Sakura yang kini tengah memeluknya. Dia bisa merasakan separuh bajunya basah oleh airmata Sakura. Dibagian belakang pun kusut akibat remasannya. Gadis bersurai merah muda itu menangis dalam dekapan Hinata. Sudah sejak sejam yang lalu mereka diposisi begitu.

"Sudahlah, Sakura. Jangan menangis terus." ujarnya prihatin. Bagaimana tidak? Mata Sakura sampai bengkak dia lihat.

Sakura menjawab sambil masih terisak. "Aku sedang berusaha. Kau diamlah sebentar," ia lalu beberapa kali mengusap matanya dengan punggung tangan berharap bisa menghapus jejak-jejak airmata yang tak ada habis-habisnya keluar.

Bukannya berhenti, yang ada tangisan Sakura makin pecah.

Hinata menghela napas, ia tak tega melihat keadaan Sakura seperti ini. Jalan hidup Sakura baginya cukup rumit. Dan sebenarnya sudah bukan hal yang baru melihat temannya itu pulang ke asrama dalam keadaan tersedu-sedu, bahkan beberapa hari terakhir makin sering. Dan semua ini terjadi hanya karena urusan asmara, yang sangat amat tak bisa Hinata terima alasannya.

Hinata kadang berpikir, kepelikan hidup itu kenapa bisa menjadi pilihan Sakura. Hinata sering memperingati, memberikan masukan, namun tak pernah digubris barang sekalipun oleh Sakura.

"Bukankah kau sering mengatakannya padaku bahwa hubungan kalian sangatlah kuat. Tapi... kenapa yang kulihat ini malah sebaliknya." kata Hinata ditengah aktivitasnya menenangkan Sakura.

Sakura agak terkejut mendengar Hinata berkata begitu, ia pun menongak. "Apa maksudmu?"

"Maksudku... apakah setelah ini kau masih bisa berkata demikian; bilang kalau cintamu mampu bertahan, bilang cinta adalah anugerah terindah dalam hidup." ujar Hinata dengan lantangnya.

Sakura menatap malas teman sekamarnya itu dan melepas pelukan mereka. "Kau mulai lagi, Hinata. Kau selalu salah paham."

Hinata mendengus, "Apa menurutmu isak tangismu ini patut kau katakan sebagai tanda kesalahpahamku? Begitukah, Sakura?" Hinata jelas sekali menyindir.

Perlu diketahui, gadis bermarga Hyuuga ini punya pandangannya sendiri mengenai cinta. Penyakit abadi—katanya—yang ada semenjak zaman nenek moyang bahkan sampai ia mati kelak, memang tak akan bisa ia pahami.

"Hinata, tolong. Kau hanya terlalu banyak berpikiran yang negatif. Pertengkaran wajar dalam suatu hubungan. Semua orang pernah mengalaminya." jelas Sakura.

Disamping itu, sudah tak terhitung pula upaya Sakura dalam mencoba mengubah pola pikir Hinata perihal masalah hati yang satu ini, namun hebatnya Hinata juga selalu punya argumen kuat untuk menampik segala perkataan Sakura. Apalagi setelah melihat hidup kedua teman dekatnya itu. Membuat dia jadi punya alasan paling masuk akal hingga berani bersikap sejauh ini.

"Cinta, ya?" Hinata geleng-geleng kepala, "Aku tidak mengerti sama sekali kenapa semua orang begitu suka menyiksa dirinya. Definisi kalian mengenai cinta sangat tidak relevan dengan realita. Tapi kalian selalu bilang aku yang salah paham."

Sakura berhenti menangis, menyedot ingus lalu menatap lekat Hinata, "Bukan begitu, Hinata. Meski aku sendiri tidak terlalu yakin. Tapi aku percaya bahwa cinta sejati itu benar-benar ada. Memang untuk meraihnya tidaklah gampang, kau perlu beberapa kali terjatuh dan berdiri lagi selagi berjalan."

Hinata kemudian tertawa kecil, hampir tergelak. "Kau selalu percaya diri dengan pendapatmu itu, Sakura." ia beranjak dari kasur, membuka jendela, dan melewati Sakura yang terdiam melihat tingkahnya. Kemudian gadis itu melirik sedikit kepada Sakura yang berada dibalik punggungnya. "Aku penasaran. Apakah itu artinya kau juga percaya bahwa Gaara adalah takdirmu?"

Sakura membatu. Pertanyaan itu telak menghantamnya. Menusuk dihati. Bahan perlawanan yang ingin ia lancarkan menguap entah kemana. Dilain sisi, Hinata tersenyum miris mengetahui Sakura tak akan punya jawaban untuknya.

Brak!

"Sakura! Hinata!" seorang gadis berambut pirang tiba-tiba mendobrak masuk. "Gawat!" serunya.

"Aku punya tiga berita penting." ia mendekat, berkata sambil terengah-engah. Mengelus dada.

"Katakan."

"Yang pertama, aku melihat Gaara dan Karin berdua di halaman belakang sekolah dan mereka sedang..."

"... berciuman."

"APA KAU BILANG?"

"Kedua. Hinata. Aku tidak sengaja mendengarnya tadi diruang kepala sekolah bahwa orangtuamu berniat menikahkanmu. Mereka minta kau diberi izin berlibur selama seminggu bulan depan."

"HAH?!"

"Dan yang ketiga..." gadis itu nampak ragu mengatakannya, "Aku resmi berpacaran dengan Sai. Kami barusan jadian."

Sakura tak dapat berkata-kata lagi. Hinata hampir saja pingsan mendengar kabar tentangnya. Akan tetapi, yang membuat lutut bertambah lemas adalah berita terakhir.

Pacaran? Ino dengan si cassanova itu?

Demi Tuhan, lebih baik mati saja.

Lengkap sudah. Hinata makin tak suka dengan yang namanya cinta dan takdir!

.

.

.

.

.

TBC


Note : ide boleh mainstream, tapi plotnya diusahakan bakal ada yang beda. Tidak sesederhana kelihatannya. Semoga kalian suka. RnR? Menurut kalian ini patut dilanjut atau tidak? Terimakasih sebelumnya bagi yang sudah mampir. Salam kenal!